Jumat, 11 April 2014

Kasih Sayangmu Ibu

Ibu…Maafkan aku…sejak  lahir hingga  kudewasa
Selalu menyusahkan hidupmu
Tak kan pernah bisa kubalas jasa – jasamu
Tak akan bisa Ibu

Meskipun ku berikan rumah mewah untukmu …
Takkan bisa menggantikan kenyamanan rahimmu,
saat aku menginap di sana selama 9 bulan

Hari demi hari,minggu demi minggu dan bulan demi bulan
bertambah berat dan nakalnya tendanganku di dalam rahimmu,
Tidak membuatmu enggan membawaku kemanapun kau pergi
Kau tidak mau kehilangan aku
Sampai sekarang…tidak pernah kau tagih uang sewa rahimmu padaku

Ibu …Takkan bisa kubayar pengorbanan nyawamu sewaktu melahirkanku
Nafasmu bisa saja berhenti sewaktu – sewaktu dan untuk selamanya
Tetapi itu semua kau
Itu semua demi aku
Demi anakmu untuk bisa melihat terangnya dunia
Demi anakmu untuk bisa menggapai harapan yang terbentang

Setelah lahir…. belum puas aku merepotkanmu
Selama setahun atau dua tahun...

Bahkan aku lupa ibu
Setiap malam selalu kuganggu  jam tidurmu dengan tangisan cengengku
Maafkan aku ibu…aku haus tetapi aku tidak bisa bilang,
aku cuma bisa menangis
Oh ibu …betapa halus hatimu sehingga bisa mengerti bahasa dan keinginanku

Dinginnya malam tak membuatmu enggan secepatnya bangkit meraihku
Kau dekap aku dan kau beri apa keinginanku
Belaian dan dekapanmu memberikan kehangatan di dalam hatiku
Senyum tulus yang terpancar dari wajah kuyumu, memberikan ketenangan dan kedamaian
di dalam keresahanku

Dan sampai sekarang… tidak pernah kau beri aku tagihan bon ASI
Tidak pernah ada perhitungan kasih sayang yang kau tagihkan
Ibu…sekarang aku sudah dewasa
Tetapi…kenapa aku tidak puas menyusahkanmu
Dinginnya pagi tidak membuatmu surut untuk menyiapkan sarapan pagi yang bergizi
Harapanmu hanya…supaya aku bisa konsentrasi belajar, pintar
Dan bisa meraih cita – cita yang kuinginkan

Tetapi kenapa aku tidak pernah menyadarinya
Kubantah selalu perintahmu,
kuabaikan selalu nasehatmu
Tetapi tidak pernah ada di dalam kamusmu
untuk merancang strategi pembalasan yang jahat padaku
Senyummu, ketulusan cinta itulah balasanmu

Aku tak heran ibu,
jika ada yang bertanya,
“Siapakah orang yang kau hormati?”
Lalu dijawab “ Ibumu,ibumu, ibumu lalu ayahmu”
Namamu disebut tiga kali dibandingkan dengan ayah, ibu
Betapa dimuliakannya dirimu
karena ketulusan kasih sayangmu
Meskipun kau tak mengharapkannya tetapi engkau layak mendapatkannya

Ibu…hanya doa yang bisa kuberikan padamu
Kupanjatkan setiap hari untuk kebahagiaan dan keselamatanmu
di dunia dan akhirat
Dan terimakasih atas kasih sayangmu padaku


dikutip dari http://family-writing.com

Kamis, 10 April 2014

7 Perjuangan Paling Mulia Seorang Ibu Dalam Hidup Kita

Pertama, Ibunda adalah orang pertama yang berani memberikan nyawanya untuk kita. Tahukah kita bahwa ibu merupakan satu satunya orang yang terbukti mau mempertaruhkan segenap hidupnya demi kebahagiaan kita. Saat kita berada dalam kandungan maka tiap langkahnya begitu hati-hati, kata-katanya dijaga dan ada berjuta perlakuan istimewa lainnya. Saat hari kelahiran telah mendekat, ibunda makin kepayahan dan hampir saja tak bisa bergerak, siang malam yang ada dalam pikirannya hanyalah kita…! Beliau tak pernah memikirkan dirinya, yang dipikirkan cuma keselamatan dan kebahagiaan calon buah hati yang telah diamanatkan oleh ALLAH SWT.
Ketika saat untuk melahirkan datang… ia pun bertekad untuk melakukan hal terbaik, ia rela meninggalkan dunia ini asal sang buah hati bisa lahir dengan selamat. Segenap hidup dan matinya telah dipasrahkan kepada ALLAH SWT, baginya dirinya tak begitu penting asal janin yang dikandungnya kelak bisa bahagia di dunia ini. Sungguh perjuangan dan saat-saat ibu mengalami hal ini tak pernah boleh kita lupakan, karena belum ada manusia lain yang bisa melakukan ini selain ibu kita.

Kedua, Mengasuh anak dengan penuh cinta dan kasih sayang. Jika kita kehilangan inspirasi atau motivasi dalam mencintai seseorang maka belajarlah pada sang ibunda tercinta. Ibu adalah sosok teladan yang bisa kita jadikan sebagai sumber kekuatan dalam membina ketulusan cinta. Apa yang ibunda lakukan bukan karena harta, tetapi beliau memberikan cinta hanya karena kita ingin bahagia, sukses dan selalu berdaya dalam menghadapi segala situasi. Dengan bekal cinta dan kasih bunda yang tulus maka seorang anak akan berkembang dan maju sebagai manusia yang kuat dan berguna bagi orang lain. Anak-anak yang dibesarkan dengan rasa cinta akan punya toleransi yang tinggi dan jauh dari sikap angkuh, tidak sombong dan tak banyak mengeluh ketika menghadapi kesulitan.

Ketiga, Ibunda rela tinggal digubug derita asal sang anak bisa hidup layak. Kita sering mendapati bagaimana orang yang sangat sukses tetapi begitu rendah hati. Ia sangat pandai menghargai semua orang, bahkan kepada pengemis pun dia begitu baik sikapnya. Kita pasti bisa membayangkan betapa baiknya orang tadi, kalau pada peminta-minta saja sangat santun maka kita tak perlu bertanya bagaimana sikap dia ke sesama. Suatu hari sebagian orang pun bertanya mengapa ia bisa melakukan hal ini? Maka dengan nada rendah hati ia menjawab jika hal itu terinspirasi dari sang ibunda, bagaimana dulu orang tuanya hidup dalam kekurangan secara ekonomi, tetapi mereka tak pernah lupa untuk menyiapkan hal-hal penting hingga dirinya bisa tinggal di istana dan mencapai kesuksesan seperti sekarang.

Keempat, Ibunda rela menjadi budak sang anak… Tampaknya hal ini kadang kita lupakan, kita kadang tak sadar kalau terlalu sering memerintah kepada ibu yang telah melahirkan kita dengan taruhan nyawanya. Seberat apapun perintah itu selalu dijalankan oleh ibunda, beliau melakukan dengan hati yang ikhlas karena rasa cintanya yang demikian tinggi kepada anak-anaknya. Hal-hal seerti ini memang kadang baru disadari oleh sang anak ketika beliau telah pergi untuk selama-lamanya. Apakah ibunda mengeluh ketika mendapat perintah dari anaknya ? Ternyata tidak, beliau menanggapinya dengan senyuman, menjalankan perintah itu dengan semangat dan ketika semua perintah telah dijalankan beliau pun tidak kecewa karena tak pernah mendapat ucapan terima kasih dari kita. Sungguh…hal-hal ini jangan pernah kita lupakan…, catat baik-baik dalam hati dan pikiran kita , karena itu akan sangat berguna dalam hidup kita.

Kelima, kesabaran tanpa batas seorang ibunda yang dibentak anaknya. Memang keterlaluan jika anak yang telah dikandung, diasuh dan dibesarkan berani membentak ibundanya. Cuek bebek dan main kasar dengan ibunda merupakan cermin hati yang keras, meski ibunda sakit mendapat perlakuan yang tak semestinya tetapi beliau tetap mau memaafkan kesalahan anak-anaknya. Rasa sakitnya hanya sementara, ia anggap itu hanya luka kecil yang akan sembuh dengan sendirinya. Kalau diibaratkan maka kesabaran sang bunda itu bagaikan samudera yang luas, sementara tindakan anak yang kejam kepada bunda laksana bangkai-bangkai berbau busuk yang dilempar ke tengah lautan, namun kita tahu bangkai itu tak akan membuat samudera hati bunda berbau busuk, justeru bangkai itu lama kelamaan akan lenyap dengan sendirinya lewat doa tulus sang ibunda.

Keenam, Doa tulus sang Ibunda yang tak pernah berhenti. Mungkin harus kita akui jika seorang anak sering lupa untuk mendoakan ibundanya, namun tidak demikian dengan ibunda, beliau selalu berdoa untuk kebaikan kita, senakal apapun dan sekejam apapun maka ibunda tetap menggantungkan harapan baik kepada kita. Beliau tak pernah lelah dan tak pernah bosan untuk menasehati kita, mungkin kelak kita akan sangat menyesal ketika kita ingat bagaimana kita selalu membantah tiap nasehat baik yang diberikan oleh ibunda. Kita akan rindu saat saat dinasehati oleh sang bunda, kita pun mengejar bayang-bayang sang bunda, namun sayang bayang-bayang itu tak mungkin lagi kembali dalam hidup ini..

Ketujuh,… Kita adalah hasil perjuangan ibunda. Mungkin kini kita begitu gagah, teramat hebat di depan orang lain hingga tak ada satupun yang bisa mengalahkan kita, tetapi jangan pernah lupa masih ada yang lebih hebat dari kita. Beliau mungkin saja tak bisa membaca, tidak lebih pintar dari kita, atau mungkin tak secantik puteri dunia, tetapi beliau inilah yang telah diberi kepercayaan oleh ALLAH SWT untuk menjadikan kita hingga seperti sekarang. Dialah Ibunda kita… yang akan meningggalkan kita atau kini bisa saja telah tiada. Bagi kita yang kini masih hidup bersama ibunda maka mari kita perbaiki bersama sikap-sikap yang tak semestinya, karena jika tidak maka kita pasti akan menjadi orang-orang yang paling menyesal dikemudian hari. Insya ALLAH kita semua bisa menjadi orang yang lebih baik dan lebih lembut sikapnya kepada ibunda kita tercinta. Amin..


dikutip dari http://blogterselubung.blogdetik.com

Selasa, 08 April 2014

Kisah Cinta Kasih Ibu Dan Anak

Dia adalah seorang anak susah yang terlahir dalam keluarga miskin, ayahnya wafat pada saat usianya tiga tahun, ibunya mencari nafkah dengan mencuci pakaian orang. Maka dia sadar kalau dirinya harus bekerja keras.

Pada usia 18 tahun, dia berhasil masuk perguruan tinggi dengan nilai yang tinggi. Demi mencukupi biaya sekolahnya, ibunya pernah menjual darah, namun dia berpura-pura tidak tahu, sebab takut melukai hati ibunya.

Dia sendiri pernah menjual darah secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui ibunya, mengangkut batu sampai tangannya berdarah, juga menjual koran, demi sedikit meringankan beban ibunya.

Pada masa liburan musim dingin tahun kedua, dia pulang ke rumah dan melihat ibunya sedang mencuci pakaian orang dalam cuaca sangat dingin, kedua tangan ibunya sampai pecah-pecah karena kedinginan. Ibunya berkata: “Pekerjaan lain sulit ditemukan, jadi hanya bisa mencuci pakaian, sehelai pakaian upahnya satu dolar, semua ini adalah pakaian orang kaya, mereka takut pakaiannya rusak kalau mempergunakan mesin cuci. ”Hari itu, ibunya menerima upah kerjanya dan berkata dengan gembira: “Anakku, ibu mendapatkan upah 200 dolar.” Sambil berkata ibunya merogoh kocek, siapa tahu di dalam koceknya hanya tersisa selembar uang kertas pecahan 100 dolar saja. Seketika ibunya menjadi panik: “Ibu kehilangan 100 dolar.” 

Tanpa berkata banyak, ibunya dengan tergesa-gesa ke luar rumah. Di luar rumah sungguh gelap, angin juga kencang dan turun salju, ibu menelusuri jalan pulang tadi untuk mencari uangnya. Dapat dilihat kalau 100 dolar itu adalah sangat penting baginya.
Itu adalah biaya hidup ibunya selama sebulan, itu adalah uang makannya selama sebulan. 

Ibunya sudah ke luar rumah, dia juga mengikuti ibunya ke luar rumah. Di luar sangat gelap, ibunya mempergunakan lampu senter untuk mencari uangnya. Tanpa terasa air matanya mengalir turun.

Benar! Itu adalah upah ibunya mencuci 100 helai pakaian. Dia mencari di halaman rumah, juga mencari di jalan, tetapi tetap saja tidak ditemukan. Jika pun ada, mungkin sudah pun dari tadi dipungut orang lain.

Ibunya bolak balik tiga kali untuk mencari uangnya. Dia berkata kepada ibunya dengan hati pilu: “Ibu, tidak usah cari lagi, nanti sesudah hari terang baru kita cari lagi.”

Namun ibunya tetap bersikeras ingin mencari, cahaya dari lampu senter di kegelapan malam seakan menikam lubuk hatinya dan membuat rasa sakit tiada terhingga.

Dia lalu mengambil 100 dolar dari uang biaya hidup yang diberikan ibunya dan meletakkannya di halaman rumah. Dia beranggapan kalau ini adalah jalan terbaik untuk membebaskan ibunya dari kegalauan.
Ternyata dia mendengar ibunya berkata dengan senang: “Anakku, uang sudah ditemukan.”

Dia berlari ke luar dan ikut bergembira bersama ibunya. Dengan gembira ibu dan anak kembali ke dalam rumah. Ibunya berkata: “Anggap saja tidak ditemukan. Mari, ini untukmu! Kamu harus makan yang lebih baik, lihat! Kamu terlalu kurus.”

Beberapa tahun kemudian, dia tamat kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Dia lalu menjemput ibunya untuk tinggal bersama di kota, sejak itu ibunya tidak perlu lagi mencuci pakaian orang.

Uang kertas pecahan seratus dolar itu, dia tidak pernah merasa rela untuk mempergunakan dan terus disimpannya. Itu adalah uang kertas pecahan seratus dolar yang dicari ibunya semalaman, melambangkan kehangatan dan perasaan penuh kemantapan.

Setelah beberapa tahun kemudian, dia mengungkit hal ini dalam suatu kesempatan, sambil tersenyum berkata kepada ibunya: “Ibu, saya yang menaruh uang kertas pecahan seratus dolar itu di sana.” Namun yang mengejutkannya adalah jawaban ibunya: “Ibu tahu”.

Dengan heran dia bertanya: “Bagaimana ibu bisa tahu?” Ibunya menjawab: “Uang yang ibu dapatkan selalu diberi tanda, ada tulisan 1, 2, 3 di atasnya, sedangkan uang kertas itu tidak ada tanda, apalagi ditemukan di halaman rumah. Ibu tahu kalau itu adalah uang yang kamu taruh karena takut ibu galau. Dalam hati ibu berpikir, karena anak ibu demikian sayang pada ibu, maka ibu tidak boleh mencari lagi, jikalau sudah hilang dan tidak akan ditemukan lagi, kenapa tidak membuat anak ibu tenang hati saja?”

Dia lalu maju memeluk ibunya dengan mata berkaca-kaca.

Sungguh ibu dan anak yang bertautan hati, mereka selalu meninggalkan cinta kasih terhangat kepada pihak lain. Benar sekali, walau pun miskin, namun dengan adanya cinta kasih, maka mereka merupakan orang paling kaya di dunia ini.

Pencarian sehelai uang kertas pecahan seratus dolar ini melambangkan dalamnya kasih sayang antara ibu dan anak.


dikutip dari http://sasakala80.wordpress.com

Jumat, 04 April 2014

selamat dalam pelukan sang Ibu

Cecilia Chan seorang Gadis berusia 29 tahun pernah mengalami Peristiwa Naas Kecelakaan Pesawat saat dia berumur 4 tahun bersama Ibu dan Kakaknya. Cerita bermula saat 16 Agustus 1987 ketika dia kembali dari liburan bersama Ayah, Ibu (Paula) dan Kakaknya David, 6 tahun.

Mereka kembali ke Phonix, Arizona dari Michigan setelah merayakan Ulang tahun Paula di rumah Orangtuanya (Nenek Cecilia). Saat Pesawat lepas landas di Bandara Detroit 3 C dengan ketinggian baru 500 meter pesawat oleng dan terjatuh ke jalan raya hingga menabrak Jembatan dan banyak Kendaraan Mobil Tertimpa dan Terbakar.

Dalam Kecelakaan itu 156 Awak dan Penumpang Pesawat dinyatakan Tewas, belum termasuk jumlah korban dari pengendara Mobil. Sebuah penyelidikan menemukan bahwa Kecelakaan tersebut akibat Kelalaian Pilot Pesawat John R.Maus yang tidak mengkonfigurasi take off Pesawat dengan benar.

Cecilia Chan menjadi satu-satunya Korban yang selamat dari musibah itu. Cecilia yang saat itu berusia 4 tahun ditemukan oleh Team Pemadam kebakaran dengan Kondisi kritis dalam pelukan Ibunya. Menurut salah satu Team penyelamat saat mengevakuasi Korban kecelakaan, dirinya mendengar suara tangisan Boneka Bayi.

Dan setelah mencari sumber suara tersebut, dirinya menemukan Cecilia yang berada di sebelah boneka bayi bersama Ibunya. Dengan segera dirinya melepaskan Cecilia dari pelukan Ibunya yang Tewas dengan kondisi tubuh setengah terbakar. Cecilia mengalami patah kaki, tengkorak retak dan Luka bakar.

Dia menjalani empat cangkok kulit untuk luka bakar di lengan dan kakinya. Dan setelah proses pemulihan dirinya sudah dapat berjalan kembali. Untuk selalu mengenang peristiwa itu, Cecilia membuat sebuah Tatto Pesawat di Lengan Kirinya. tapi dari keajaiban peristiwa kecelakaan pesawat tersebut kita bisa menemukan bahwa betapa hebatnya perlindungan dan pelukan seorang Ibu pada anaknya.


dikutip dari anehdankonyol.com dengan sedikit tambahan

Sabtu, 25 Januari 2014

Kekuatan Do'a Seorang Ibu

Pada suatu ketika, Musa A.S bertanya kepada ALLAH Azza wa Jalla, “Ya ALLAH, siapa yang akan menjadi sahabatku di surga?”

ALLAH menjawab “Seorang tukang daging.”

Musa pun terkejut mendengarnya! “Kenapa seorang tukang daging menjadi sahabatku di surga?”

Kemudian dia bertanya kepada ALLAH “Dimana aku bisa menemukan orang ini?”

ALLAH memberitahunya bahwa orang ini ada di tempat demikian dan demikian. Dan Musa A.S. pergi menemui tukang daging ini. Sesampainya disana, ternyata dia sedang memotong daging dagangannya. Musa A.S. berpikir “Apa yang begitu spesial tentang orang ini?” Ketika senja tiba dan dia selesai menjual daging-dagingnya, pria ini memungut sepotong daging dan membawanya pulang.

Musa A.S. mulai mengikuti pria ini sampai ke rumahnya dan berkata padanya “Aku seorang pengelana. Akankah kau menerimaku sebagai tamu?” Orang itu berkata “Silahkan masuk.”

Jadi dia mempersilahkan Musa A.S. ke dalam rumahnya, dan Musa A.S.mulai mengamati pria ini. Dia melihat pria ini mengambil sepotong daging yang dia bawa, kemudian mencuci dan memotongnya,  memasaknya, dan menempatkannya di atas piring.

Dan dari rak yang tinggi di ruangan itu, dia mengambil sebuah keranjang dan menurunkannya. Kemudian dia mengambil kain yang basah, dan dari dalam keranjang itu ternyata ada seorang wanita tua. Kemudian dia menggendong wanita tua itu, bagaikan seseorang menggendong bayi.

Kemudian dia mengambil daging yang telah dimasaknya, dan menyuapi wanita tua itu (dalam riwayat yang lain dikatakan dia mengunyah dagingnya baru menyuapi wanita tua itu).

Dan setiap kali wanita itu selesai mengunyah, dia mengambil kain yang basah dan menyeka bersih mulut wanita itu, begitu seterusnya. Ketika makanannya sudah habis, dia membersihkan mulut wanita itu, menaruhnya kembali ke dalam keranjang, dan menaruh keranjang itu kembali di rak yang tinggi.

Musa A.S. menyadari bahwa setiap kali pria itu menyuapinya, wanita itu membisikinya sesuatu.

Jadi dia bertanya padanya "Siapakah wanita tua itu dan apa yang dibisikkannya padamu, saudaraku?"

Pria itu berkata “Dia ibuku. Aku sangat miskin sehingga tidak dapat membeli makanan untuk dimasak di rumah. Jadi aku mengambil sisa-sisa daging di tempat kerja dan membawanya ke rumah untuk dimasak Dan karena ibuku sangat tua dan lemah, sedangkan aku tidak punya uang untuk membeli budak/pembantu, jadi aku melakukannya seorang diri.”

Kemudian Musa A.S. bertanya “Jadi apa yang dibisikkannya kepadamu setiap kali kau menyuapinya?”

Pria itu berkata “Dia berdo’a untukku: ‘Ya ALLAH, jadikan anakku menjadi sahabat Musa di surga.’"

Subhanallah, karena do’a dari ibunya, maka ALLAH mengabulkannya. Inilah kekuatan do’a seorang ibu.


dikutip dari lampuislam.blogspot.com

Kamis, 23 Januari 2014

Ibu, Kasih Tulus Sepanjang Hidup

kita sebut Ibu sebagai pahlawan nomor satu. Tidak bisa dipungkiri ibulah orang nomer satu dalam hidup kita. Tanpa ibu kita tak akan lahir di dunia.

Setelah payah mengandung kita selama sembilan bulan, belum selesai payah yang dirasakan beliau. Ingatkah kita saat kita dilahirkan? Ibu menanggung sakit, bahkan ibu mempertaruhkan nyawanya demi kelahiran kita.
Belum selesai sampai di situ perjuangan ibu dalam memperjuangkan kehidupan kita. Ketika kecil kita rewel, membuat ibu terjaga siang bahkan malam hari. Siang malam ibu menjaga dan menyusui kita. Apakah beliau mengeluh dengan aktivitas beliau menjaga kita sepanjang hari? Jawabnya adalah tidak. kita sering melihat ibu-ibu yang tetap menyunggingkan senyum penuh kebahagiaan ketika bersama dengan buah hatinnya yang masih kecil. Subhanallah sungguh beliau makhluk ALLAH yang penuh ketulusan.

Ketika kita telah besar, kasih sayang beliau tetap terasa, doa-doa beliau tetap mengalir. Sungguh kasih sayang beliau tak ada ujungnya. Ketika kita lama tidak pulang ke rumah, beliau telepon kita sekadar menghilangkan kerinduan beliau, tapi kita sering tak mengingat beliau ketika kita sibuk dengan aktivitas diri kita.

Saat kita pulang dari bumi perantauan tholabul ‘ilmi beliau dekap penuh kehangatan, beliau cium kita dengan penuh kasih sayang. Begitu besarlah kasih sayang seorang ibu. Semoga kita dapat menjadi anak yang berbakti pada Ibu. Aamiin.


dikutip dari http://infokampus.web.id dengan sedikit penyesuaian

Kisah Salman Al Farisi, pengabdian anak pada Ibunya.

Setiap orang yang sehat pasti menyangi dan mencintai Ibunya..
Dan ini adalah kisah pengabdian seorang anak pada Ibunya..

Suatu waktu Nabi Muhammad ditanya oleh sahabatnya.Ya, Rasulullah… adakah orang yang paling disayangi oleh ALLAH SWT selain Engkau.? Nabi Menjawab: Ada, yaitu Salman al Farisi. Lalu sahabat bertanya kembali: kenapa. ya, Rasulallah dia begitu disayang ALLAH.? Kemudian Nabi bercerita bahwa Salman al-Farisi adalah orang yang berasal dari keluarga miskin, sementara Ibunya sangat ingin naik haji, tetapi untuk berjalanpun dia tidak bisa. Demikian juga uang untuk pergi ke Tanah Suci tidak punya. Salman al-Farisi begitu bingung menghadapi kondisi itu. Namun akhirnya, Salman al-Farisi memutuskan untuk mengantar Ibunya naik haji dengan cara menggendong Ibunya dari suatu tempat yang begitu jauh dari Mekkah. Di perlukan waktu berhari-hari untuk melaksanakan perjalanan itu sehingga tanpa terasa punggung Salman al-Farisi sampai terkelupas kulitnya.”

Kisah panjangnya paling tidak seperti ini.

Suatu hari ada seorang anak sholeh yang mengendong Ibunya yang tercinta. dikisahkan Ibunya sedang sakit dan tidak memungkinkan untuk berjalan sendiri.

saat perjalanan dari kota Madinah menuju kota Mekah dalam rangka melaksanakan ibadah Haji . Bisa dibayangkan panasnya terik matahari ketika siang dan dinginnya malam hari serta beratnya gendongan yang ada di pundaknya bukan? Betapa berbaktinya anak ini kepada Ibunya, ingin membahagiakan Ibunya yang sedang sakit dengan mengantarkanya menuju rumah Tuhan bahkan dengan menggendongnya, betapa besar pengorbanan dan usahanya.

Ketika akhirnya mereka sampai di kota Mekah untuk melaksanakan ibadah Haji mereka bertemu dengan Rasulullah. Bahagia sekali sang anak beserta Ibunya ini ketika mereka bertemu denga Utusan Tuhan yang sangat mereka cintai dan mereka rindukan.

Terjadilah percakapan yang kurang lebih seperti ini
Sang anak bertanya kepada Rasul, “Ya Rasul..apakah saya sudah berbakti kepada orang tua saya? Saya menggendong Ibu saya di pundak saya berjalan dari Madinah sampai Kota Mekah untuk melaksanakan ibadah haji”.

Seketika itu pula Rasul menangis, Kemudian Rasul menjawab dengan diiringi tangisnya yang tersedu-sedu “Wahai Saudaraku, engkau sungguh anak yang luar biasa, engkau benar-benar anak sholeh, tapi maaf…..(sambil tetap menangis) apapun yang kamu lakukan di dunia ini untuk membahagiakan orang tuamu…. apapun usaha kerasmu untuk menyenangkan orang tuamu …. tidak akan pernah bisa membalas jasa orang tuamu yang telah membesarkanmu”

semoga kisah ini dapat membuat kita semua menjadi anak yang lebih baik. Amin..


dikutip dari agussalimchaniago.wordpress.com