Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Rabu, 05 Oktober 2016

Memuliakan Ibu

Orang beriman mesti memuliakan kedua orang tua, khususnya ibu. Dalam hadis disebutkan, Abu Hurairah bercerita: Ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah SAW, lalu bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya pergauli dengan sebaik-baiknya?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapakah?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Orang itu sekali lagi bertanya, “Kemudian siapakah?” Beliau menjawab lagi, “Ibumu.” Orang tadi bertanya pula, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ayahmu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Bahkan, andai kata sang ibu adalah orang yang berbeda agama (non-Muslim) dan keyakinan, kita tetap harus memuliakan mereka dan tidak boleh memutus hubungan dengannya.
Dalam hadis disebutkan, Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq bercerita: Ibuku datang ke tempatku sedang dia adalah seorang musyrik di zaman Rasulullah SAW, yaitu di saat berlangsungnya perjanjian Hudaibiyah antara beliau dan kaum musyrikin. Kemudian saya meminta fatwa kepada Rasulullah, “Ibuku datang padaku dan ia ingin meminta sesuatu, apakah boleh saya hubungi ibuku itu, padahal ia musyrik?” Beliau bersabda, “Ya, hubungilah ibumu” (HR Bukhari dan Muslim).

Para sahabat Nabi SAW disebutkan sangat memuliakan ibunya. Abu Hurairah, misalnya, setiap akan pergi keluar rumah dan pulang ke rumah, selalu menemui ibunya dan mendoakannya. Dalam kitab Adab Al-Mufrad karya Al-Bukhari disebutkan, Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang lain.

Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, ia berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya berkata, “Semoga keselamatan untukmu, wahai ibuku, juga rahmat Allah serta berkah-Nya.” Ibunya menjawab, “Semoga untukmu juga keselamatan, rahmat Allah dan berkah-Nya, wahai anakku.

Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun menjawab, “Semoga Allah juga merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut.

Sahabat lainnya, Ibnu Mas’ud, acap kali disuruh ibunya untuk mengambilkan air minum, dan ia selalu melaksanakannya. Suatu ketika, saat membawa air minum yang diminta ibunya, ia mendapati ibunya tertidur pulas. Karena memuliakan sang ibu, Ibnu Mas’ud tidak berani membangunkannya.

Dalam kitab Birrul Walidain karya Ibnul Jauzi disebutkan, Anas bin Nadzr Al-Asyja’i bercerita, suatu malam Ibu Ibnu Mas’ud meminta air minum kepadanya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala Ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi hari.”

Sahabat lainnya lagi, Usamah bin Zaid, disebutkan tidak pernah menolak permintaan Ibunya. Dalam kitab Shifah Ash-Shafwah karya Ibnul Jauzi disebutkan, Muhammad bin Sirin mengatakan, pada masa pemerintahan Usman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamar-nya (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma).

Jamar tersebut lantas ia suguhkan kepada Ibunya. Melihat tindakan Usamah, banyak orang bertanya-tanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Usamah menjawab, “Karena Ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah Ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa kuberikan pasti kuberikan.

Ibu memang sosok yang harus dimuliakan. Kita lahir ke dunia melalui dirinya. Sehebat atau sesukses apa pun seseorang dalam hidupnya, pasti dilahirkan dari rahim seorang Ibu. Selain itu, sebelum kita lahir, Ibu mengandung kita di dalam perutnya selama lebih kurang sembilan bulan, waktu yang tidak sebentar. Saat melahirkan, Ibu juga yang merasakan sakit tak terkira. Jadi, tidak ada alasan apa pun untuk mendurhakai Ibu atau memutus hubungan dengannya, apa pun keadaannya. Wallahu a’lam.


dikutip dari republika.co.id

Sabtu, 13 Agustus 2016

Ibumu, yang mempertaruhkan nyawanya untuk membawamu ke dunia.

Sembilan bulan lamanya, Ibu mengandungmu di janin kecilnya, membawamu kemana-mana dengan tubuh kecilnya tersebut. Terkadang, tanpa disadari kamu bergerak dan menendang-nendang didalam, yang membuat Ibu terkadang merasa kesakitan, namun beliau tahan dan tetap menyayangimu, bahkan dengan rutin mengelus perutnya sendiri dan mengajakmu ngobrol.

Terbayangkah betapa sakitnya saat Ibu sedang berada dalam proses melahirkan? Sakitnya tak terkira! Bahkan, Ibu tahu bahwa dirinya bisa mati hanya karena melahirkanmu ke dunia, namun beliau sama sekali tidak peduli. Semua pengorbanan tersebut hanya Ibu lakukan hanya untukmu seorang, anak kesayangannya, meski terkadang tak ia ucapkan dengan kata-kata.

Pertanyaannya sekarang, sudahkah menyayangi Ibu hari ini? Jika belum, tunjukkanlah rasa cintamu pada Ibu, pahlawan tanpa tanda jasa milikmu satu-satunya dan yang sebenarnya, yang selalu kamu acuhkan selama ini. Sebelum semuanya terlambat dan kamu menyesal, katakanlah Ibu, terima kasih, dan maaf, kemudian peluklah dia sejenak.


dikutip dari idntimes.com

Selasa, 30 Juni 2015

Melukai Ibumu, Murkalah Tuhanmu.


Seorang ibu tua yang tinggal di kampung memiliki seorang anak pria yang hidup sukses di kota. Anak tersebut menikah dengan seorang wanita karier dan dikarunia seorang anak yang pintar.
Merasa kesepian, sang ibu yang tinggal di kampung berkirim surat kepada anaknya bahwa dua minggu lagi ia akan pergi ke kota menjumpai anak cucunya dan tinggal di sana demi mengusir rasa sepi.Saat menerima surat dari ibunya, sang anak berdiskusi dengan istrinya tentang bagaimana menyikapi kehadiran sang ibu di tengah mereka. Sang istri berkata, “Mas, engkau bekerja seharian penuh hingga larut malam, demikian pula aku. Aku akan merasa risih bila ibumu tinggal di rumah ini sebab ia akan mencibirku dan mengatakan bahwa aku adalah ibu yang tidak pandai mengurus anak sendiri.”
Sang istri melanjutkan, “Aku pun tak tega bila menyuruhmu untuk menaruh beliau di panti jompo. Nah, bagaimana kalau kita buatkan saja sebuah saung dari bambu di halaman belakang rumah. Lalu kita tempatkan ibumu di sana. Ia akan bebas melakukan apa saja. Sementara kita dengan kesibukan yang ada tidak akan pernah merasa terusik.”
Sang suami mengangguk tanda setuju atas usul istrinya. Maka dibuatkanlah sebuah saung bambu di belakang rumah untuk sang ibu. Begitu ibunya datang, anak dan menantu tersebut menerimanya dengan penuh kehangatan, namun sayang mereka menempatkan sang ibu di saung bambu di halaman belakang rumah.
Dan kami berwasiat kepada manusia tentang kedua orangtuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. (kami berwasiat kepadanya). ’bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu, karena hanya kepada-Ku-Lah kembalimu ( Qs. Lukman 31 : 14 )
Ibu yang datang ke kota demi mengusir kesepian di desa, malah merasa terisolasi di tengah anak cucunya sendiri.
“Ma, jangan lupa untuk mengirimkan makan tiga kali sehari untuk ibu ya!” Itulah kalimat yang diucapkan sang suami kepada istrinya setiap kali ia hendak berangkat bekerja. Sang istri pun lalu menyampaikan lagi pesan ini kepada pembantunya untuk melakukan hal yang diminta suaminya. Maka, tiga kali sehari makanan diantar oleh pembantu tersebut ke dalam saung.
Namun karena kesibukan mereka berdua, keduanya kerap lupa untuk mengingatkan pembantu tersebut untuk mengantarkan makanan kepada orangtuanya.
Tadinya tiga kali sehari, terkadang hanya dua kali atau satu kali. Setelah berbulan-bulan tinggal di dalam saung, pesan untuk mengirimkan makanan sudah tidak mereka ingat lagi sehingga pembantunya pun ikut lalai mengirimkan padanya makanan.
ALLAH Swt sungguh murka terhadap anak yang melalaikan hidup orangtuanya!
Piring kotor masih teronggok di pinggir saung. Sudah lama tidak diambil oleh pembantu yang biasa mengantarnya. Karena cahaya yang redup di dalam saung, sang nenek tanpa sengaja menginjak piring itu hingga akhirnya pecah. Tidak ada lagi makanan yang dikirimkan oleh anaknya. Nenek itu lapar. Ia pun pergi ke warung untuk beli makanan untuk sekadar mengganjal rasa lapar. Makanan telah terbeli, lalu dengan apa ia harus meletakkan, sebab tiada lagi alas.
Lalu sang nenek pergi mencari alas untuk makanannya. Tiada yang ia temui selain sebuah batok kelapa. Ia cuci dan bersihkan batok tersebut. Usai dibersihkan, batok itu menjadi teman setia nenek untuk makan. Demikianlah kebiasaan makan yang dilakukan nenek, hingga suatu hari ALLAH berkenan untuk memberlakukan kehendaknya!!
Di suatu pagi, lepas dari pengawasan baby sitter, seorang bocah lelaki berusia sekitar lima tahun pergi ke halaman belakang. Sudah lama ia tidak bermain ke halaman tersebut. Bocah itu bengong, terperangah saat ia melihat ada sebuah saung bambu di sana. Anak itu pergi menghampiri. Ia dorong pintunya hingga terbuka. Anak tersebut memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ia pun masuk ke dalamnya. “Eh… ada pangeran kecil rupanya!” suara nenek terdengar mengguratkan senyum di bibir.
“Nenek siapa ya?” Tanya sang bocah polos.
“Aku ini adalah nenekmu. Ibu dari ayahmu!” Nenek itu mencoba menjelaskan.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah menjalin kehangatan. Kehangatan tali persaudaraan. Persaudaraan antara seorang nenek dengan cucunya, yang tidak bisa dipisahkan oleh jarak apa pun. Keduanya membaur tak ubahnya darah dan daging.
Sejak itu, sang bocah sering mengunjungi neneknya meski kedua orangtuanya tak tahu apa yang dilakukan anaknya selama ini. Ketika si bocah melihat sebuah benda aneh di pojok saung, ia bertanya, “Itu benda apa, Nek?” si cucu menunjuk ke sebuah benda dengan perasaan ingin tahu. Si nenek melempar pandangan ke arah yang ditunjuk cucunya. Ia tahu bahwa yang dimaksud cucunya adalah batok kelapa.
“Oh… itu piring nenek. Tempat makan nenek. Lucu ya…?!” Nenek menjawab dengan wajah tersenyum.
“Iya, Nek! Ini bagus sekali,” sambut sang cucu. Sang cucu merekam kejadian itu.
Dalam sebuah liburan akhir pekan, bocah ini diajak tamasya ke luar kota oleh papa dan mamanya. Mereka pergi membawa mobil ke tempat wisata. Sesampainya di sebuah taman wisata yang begitu rimbun, teduh dan indah, mereka pun berbagi tawa dan kebahagiaan. Mereka berlari, berkejaran, berjalan dan melompat. Hari itu penuh keceriaan bagi mereka bertiga.
“Haaaap!” sang papa melompat sambil berteriak. Diikuti suara dan lompatan yang sama dari sang mama. Rupanya keduanya telah melompat melintasi bibir selokan kecil di sana. “Ayo Nak… lompati selokan itu. Kamu pasti bisa!” Teriak keduanya berseru kepada anak mereka.
Sang anak berdiri terdiam di seberang. Ia melemparkan pandangan ke dalam selokan. Ia tak mau melompat, namun malah berujar, “Pa… Ma…, tolong ambilkan benda itu dong!” Papanya melihat ke arah benda yang ditunjuk anaknya, ia tahu benda yang dimaksud adalah ‘batok kelapa’ dalam selokan.
“Apa sih, Nak? Nggak usah diambil. Itu kotor!” kata Si papa. Sang mama menimpali dengan kalimat serupa. Namun si anak tetap bersikeras, merengek dan mengancam bahwa dirinya tidak mau meneruskan tamasya bila mama atau papanya tidak mau mengambilkan benda tersebut.
Keduanya mengalah. Diangkatlah ‘batok kelapa’ yang telah baunya busuk dari selokan. Keduanya repot mencari keran air untuk mencucinya. Setelah agak bersih, batok itu pun diberikan kepada sang anak. Keduanya merasa heran melihat sang anak begitu hangat memeluk batok kelapa tersebut.
Dalam perjalanan kembali ke rumah. Ketiganya masih berada di dalam mobil. Tak sabar dan penuh rasa ingin tahu, sang mama bertanya kepada anaknya, “Mama jadi bingung sama kamu. Sebenarnya untuk apa sih batok kelapa itu, Nak.?!”
Si anak masih memeluk batok itu. Ia angkat kepalanya lalu berkata, “Aku mau kasih kejutan ke mama!” Dengan kepolosannya ia melanjutkan, “Kalau sampai di rumah, benda ini akan aku cuci sampai bersih. Setelah itu akan aku beri bungkus yang rapih. Bila sudah rapi, aku akan berikan ini untuk mama sebagai alas untuk makan.”
“Untuk makan?!” Mama bertanya keheranan dengan rasa jijik. “Iya, untuk makan. Aku lihat nenek di saung belakang rumah, ia makan dengan ini. Papa dan Mama yang berikan itu untuk Nenek kan?!” Tanyanya polos.
Keduanya bergidik. ALLAH Swt sungguh telah menegur mereka berdua lewat lidah anak mereka sendiri. Selama ini, sungguh mereka telah menyia-nyiakan orangtua sendiri. Hingga harus makan dengan alas dari sesuatu yang menjijikkan bagi mereka, yaitu batok kelapa. Apakah Anda masih menyia-nyiakan hidup orangtua Anda?!

dikisahkan oleh Ustadz Bobby Herwibowo di eramuslim.com

Kamis, 18 Juni 2015

Peran Ibu Dibalik Gen Halilintar

Keluarga Gen Halilintar adalah Keluarga Muslim yang sangat Inspiratif, yang mengagumkan dari keluarga ini adalah mereka adalah keluarga luar biasa, keluarga yang unik. anak-anak dari Gen Halilintar berjumlah 11 orang, dan memiliki kelebihan masing-masing, keluarga yang sangat menyenangi bepergian, Traveling keliling dunia, anak-anak mereka lahir di negara yang berbeda-beda. mereka selalu bersama-sama dan tidak terpisahkan.

Apa gerangan yang membuat keluarga Gen Halilintar begitu menginspirasi, jawabannya adalah tentu ini semua adalah berkat didikan kedua orang tua yang luar biasa, kedua orang tua 11 anak Gen Halilintar telah berhasil mendidik anak-anak mereka menjadi anak yang soleh solehah. Taat pada ALLAH dan menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tuanya.

kunci dari kesuksesan keluarga Gen Halilintar tentu tidak bisa dilepaskan dari peran seorang Ibu didalamnya, kita bisa melihat peran Ibu dalam keluarga Gen Halilintar begitu menentukan. sang Ibu yang bernama Lenggogeni Faruk, adalah seorang Ibu yang telah berhasil menjadi pemimpin bagi ke Sebelas anak-anaknya, seorang Ibulah sosok sentral dalam keluarga, Ibu adalah pusat kasih sayang dalam sebuah keluarga, sekaligus sukses menjadi pendamping terbaik bagi sang Suami yang juga Ayah dari 11 anak Gen Halilintar.

menjadi Ibu yang bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya bukanlah perkara yang mudah dicapai, seorang Ibu yang berhasil mendidik anak-anaknya adalah buah dari didikan Agama yang juga sangat baik dalam keluarganya, didikan keluarga yang menitik beratkan pada keimanan yang teguh kepada ALLAH Subhanahu Wataala.

kita bisa menjumpai keluarga-keluarga yang mengagumkan disekeliling kita, mereka semua adalah keluarga yang sangat teguh berpegang pada keimanan, tentu keluarga hebat tidak melulu diukur dari kesuksesan dalam perolehan dunia yang banyak, pendidikan yang tinggi, tapi jauh dari semua lebel duniawi itu, keimanan dan keistiqamahan dalam ketaatan pada ALLAH adalah ukuran yang tertinggi, keimanan mereka bersinar terang jauh melebihi terangnya perhiasan duniawi dan tingginya pendidikan yang mereka miliki. mereka adalah keluarga-keluarga yang telah sukses bercermin pada keluarga baginda Rasulullah Muhaammad Sallallahu Alaihi Wasallam, keluarga yang senantiasa sibuk mencari Ridha ALLAH.

Keluarga Gen Halilintar

Rabu, 17 Juni 2015

Ramadhan Bersama Ibu


Ramadhan selalu jadi musim tersendiri di sebuah bangunan rumah orang muslim. Betapa kehadirannya, akan merubah begitu banyak jadwal dan laku hidup yang sering didendangkan. Ramadhan benar-benar tamu istimewa diantara bulan-bulan lain yang dijalani. Menyebut namanya saja, sudah mendesir angin dan aroma yang bersetubuh dengan bulan itu. Ramadhan benar-benar hadir dalam nuansa yang khas dan istimewa. Maka sebelum kaki-kaki ini menginjak ke garis awalnya, sudah terlabih dahulu jiwa ini merumput di sana. Membaui kedatangannya dengan suka cita, seperti penantian panjang bagi kerbat dekat yang terpisahkan. Itulah penggalan awal rasa yang selalu menggelayutkan jiwaku ketika mengingatnya. Namun melongok masa lalu sepertinya lebih indah dituangkan dalam catatan kecil. Nostalgi masa kecil bersama ramadhan adalah madrasah bagi jiwa menyelam lebih jauh lagi ke dasarannya. Sebagai peneguh iman, bahwa inilah saatnya kami yang kecil harus mulai menjalankan ibadah ini.
Ibu hanya berpesan, bila tidak kuat bolehlah melepasnya untuk melanjutkan perjuangan itu hari esok. Hingga rasa kering di tenggorokan serasa siksa yang mendera. Ibu dengan bijak mengajarkan kepada kami untuk membagi waktu puasa menjadi dua. Tepat ketika beduk kumandang adzan dhuhur menjadi peristirahatan pertama. Kami boleh menenggak air putih lalu dilanjutkan dengan makan secukupnya. Tidak boleh berlama-lama atas waktu yang ada. Jika sudah cukup, maka minuman yang kedua menjadi awal bagi separuh yang kedua. Perjuangan itupun lebih terasa ringan karena tinggal menyempurnakannya hingga adzan magrib berkumandang. Dengan mata berbinar-binar, ibu akan mendekap kami, memberi ucapan atas perjuangan kami hingga mampu menempuh perjuangan suci ini.
setelah berhasil melampauinya, ibu kembali berpesan kepada kami. Jika kami masih mampu menahan rasa itu untuk tak menyentuh makanan dan minuman ketika beduk dhuhur, maka itu lebih baik. Tuhan akan memberi pahala yang berlebih atas perjuangan kami. Namun ibu tidak memaksa, hanya memberi kami pilihan dengan membubuhinya dengan sanjungan yang membesarkan. Dan sungguh, kenikmatan dan rasa bahagia itu rasanya berlebih ketika kami berhasil menyentuh garis batas seperti orang-orang dewasa lainnya. Ada kepuasan batin yang tak terkatakan. Bahkan lidah kami merasa lebih nikmat ketika menyentuh air pertama yang menggelontor bersama awal buka. Satu hal yang mungkin tidak akan pernah dinikmati oleh mereka yang tak menjalankannya.
Ibu mengucapkan rasa bangganya kepada kami. Sudut matanya penuh air yang hendak menetes, namun segera diusapnya. Melihat anak-anak, akhirnya bisa menjalankan ibadah ini bersama-sama. Bersyukur ketika di luar sana, justru orang-orang yang sudah berkewajiban atas perintah itu lebih bangga untuk tidak menjalankannya. Tentu perjuangan seorang ibu untuk membimbing kami kepada jalan yang lurus ini, menjadi perjuangan yang butuh kesabaran.
Ketika siang hari, kami sering mengumpulkan banyak makanan dari buah-buahan yang kami dapatkan dari alam sekitar. Buah jambu, papaya, mangga dan masih banyak lagi yang bisa kami kumpulkan bersama teman-teman. Harapannya adalah, semua itu bisa kami lahap ketika waktunya tiba. lapar jiwa ini melebihi lapar yang sesungguhnya. jiwa rakus yang bersemayam justru pada saat kami harus belajar untuk melupakan syahwat perut. Mengumpulkanya di meja makan setelah benar-benar tercuci bersih. Ibu hanya tersenyum melihat tingkah kami. Tak sedikitpun kecewa mengingat ibu sudah berlimpah menyiapkan segalanya untuk kami.
Dan benar saja, seteguk air manis yang ibu buat rasa sudah mengenyangkan rasa dahaga ini. makanan-makanan yang tersaji justru membingungkan selera kami. Baru menikmati beberapa saja, perut kami rasanya sudah penuh. Inilah bukti bahwa sesungguhnya, jiwa rakus itu benar-benar memperdaya. Ukuran perut tak akan sebesar setan yang bercokol di khayalan atas semua menu itu. hanya butuh beberapa kali saja nikmat itu mampir, selanjutnya hilang bersama rasa penat yang tak tertahankan bila harus terus duduk di meja makan. Apalagi tugas selanjutnya membutuhkan kondisi tubuh yang nyaman untuk sholat tarawih. Ibu tak pernah melarang untuk itu, kami sendiri yang segera sadar diri bahwa perlombaan atas mulut dan perut hanya berumur menit. Kenikmatan hakiki adalah ketika jiwa ini benar-benar terbasuh amalan-amalan yang diperintahkan.
Itulah sekelumit kisah ramadhanku yang selalu kurindu. Meski kini, ramadahan bersama ibu sudah tak mungkin lagi karena batas jarak yang memisahkan. Paling tidak ramadhan akan segera di susul dengan Lebaran. Momen perjumapaan yang sama indahnya seperti ramadhan kecilku. Ya, Ramadhan menjadi bulan nostalgi bagi siapaun yang pernah mendekapnya. Bulan yang selalu hadir untuk meniti jalan lurus yang di sana menawarkan keindahan dan kenikmatan hakiki.
dikutip dari kompasiana.com

Minggu, 02 November 2014

Ketika Ibu Cuci Muka Dengan Darah Nifas Putrinya (Kisah Nyata)

Sebuah kisah nyata yang membuat kita miris saat membacanya. Seorang wanita yang mulai tumbuh dewasa, akhirnya mendaftarkan diri menjadi seorang mahasiswa di salah satu kampus disalah satu kota. Sebagai orangtua, tentu saja berbahagia atas apa yang dicapai oleh putri tercintanya. Khususnya sang Ibu, selalu memberikan yang terbaik untuk putra-putrinya.

Sang Ibu-pun memulai memberikan pesan-pesan moral kepada putrinya agar senantiasa menjaga diri. Kewajiban orangtua adalah selalu memberikan bekal materi, nasehat dan do’a. Salah satu pesan seorang Ibu kepada putri tercintanya adalah, jangan keluar malam, belajar sungguh-sungguh, jangan berpacaran. Karena yang demikian itu sama dengan menyakiti dan melukai hati kedua orangtua, serta melanggar ajaran Rosulullah SAW. Mendengar petuah sang Ibu, mahasiswi itu manggut-manggut, sebagai bukti bakti seorang anak kepada kedua orangtua. Orangtua memang memiliki hak penuh atas anak-anaknya. Wajar, jika kemudian seorang Ibu berpesan demikian kepada putrinya, serta anak-anaknya.

Di jaman Rasulullah SAW juga ada seorang pemuda mengadukan ayahnya kepada Nabi SAW terkait dengan hak orangtua atas anaknya, Karena si ayah mengambil telah harta milik anaknya itu. Rasulullah SAW lantas memerintahkan anak lelaki itu agar supaya memanggil ayahnya. Ketika berada di hadapan Rasulullah SAW, ditanyakanlah hal itu.

Kemudian Rosulullah SAW bertanya kepadanya : “Mengapa engkau mengambil harta anakmu,” ?.

Kemudian lelaki itu menjawab dengan agak kesal:“Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah!. Kemudian orangtuanya sedikit memberikan penjelasan:’’Sebab, uang itu saya nafkahkan untuk saudara-saudaranya, paman-pamannya dan bibinya,”jawab orang tua itu.

Rasulullah SAW kemudian bertanya lagi:, “Ceritakanlah apa yang ada dalam hatimu dan tidak didengar oleh telingamu.”

Maka berceritalah si ayah ini.“Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah lantaran sakit dan deritamu. Aku tak bisa tidur dan resah, bagaikan akulah yang sakit dan bukan kau yang menderita. Lalu air mataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut. Padahal aku tahu, ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa dan berhasil mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman. Seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang, kau tak mampu penuhi hak ayahmu. Kau perlakukan aku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu, seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.”

Mendengar hal ini, maka Rasulullah SAW langsung memerintahkan kepada si anak, untuk memberikan hak orang tuanya. Hadis di atas menceritakan betapa besar pengorbanan orangtua, sehingga orangtua memiliki hak mutlak atas anak-anaknya. Seandainya, semua jiwa raga sang anak dikorbankan untuk orang tuanya, tidak akan cukup untuk membalas kebaikan dan pengorbanan seorang ayah dan ibu terhadap anaknya.

Masih terkait dengan perilaku sang mahasiswi terhadap ibunya. Ketika sudah menjadi mahasiswi, dimana kehidupan dunia kampus begitu panas dengan dunia cinta-cinta dan pacaran. Lelaki dan wanita sudah biasa bersama-sama, walaupun belum menikah. Bahkan, berdua-duaan sampai larut malam tidak menjadi masalah, walaupun mereka tahu kalau hal itu dilarang agama dan juga melukai hati kedua orangtuanya.

Ketika diingatkan orangtuanya, atau saudara-saudaranya mahasiswi itu selalu menjawab:’’aku tidak pacaran, aku cuma teman biasa…! Padahal semua orang tahu, kalau dirinya itu berpacaran dan telah menodai agama dan petuah orangtuanya.

Setiap hari, mahasiswi ini selalu menampakkan sikap yang tidak patuh kepada Ibunya. Padahal sang Ibu pontang panting mencari duit untuk biaya kuliah dan uang saku. Ratusan juta sudah dikeluarkan untuk mengantarkan putrinya meraih cita-citanya. pengornanan kedua orang tua diibaratkan ’’kepala di jadikan kaki, kaki dijadikan kepala demi masa depan anak-anaknya’’.

Tetapi, karena dunia kampus begitu keras dan panas dengan segala persaingan cinta. Maka, nasehat orangtua seringkali ditinggalkan, bahkan tidak pernah diduga sama sekali. Sebab, cinta itu telah membutakan dirinya. Bahkan semakin hari hubungan dengan lawan jenisnya semakin akrab, sehingga nyaris membahayakan sebagai seorang wanita muslimah. Tidak ada cara lain bagi orangtuanya, kecuali segera menikahkan keduanya dari pada harus menderita setiap menyaksikan putri dan lelaki itu selalu berdua kemana-mana tanpa ikatan nikah.

Akhirnya, menikahlah kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara itu. Setelah menikah, keduanya terlihat bahagia, karena kedua merasakan bahwa pasangannya adalah pilihan tuhan. Memang benar begitu. Tetapi, keduanya tidak merasa bahwa selama ini telah menyakiti hati kedua orangtua yang selama ini mengorbankan jiwa dan raga atas kelahirannya serta menyekolahkan dengan biaya yang cukup mahal.

Setahun kemudian, sang putri hamil. Ketika melahirkan, terjadi pendarahan yang begitu hebat. Berbagai cara telah dokter lakukan untuk menyelamatkan putrinya. Ternyata darah tetap deras mengalir. Orangtua terus menerus beristighfar kepada ALLAH SWT, memohonkan ampun kepada ALLAH SWT atas kesalahan-kesalahan yang selama ini dilakukan oleh putrinya. Tetapi, darah itu tetap saja mengalir deras, seolah-olah tidak mau berhenti.

Sang Ibu yang selama ini sering dikecewakan oleh putrinya, akhirnya melakukan cara aneh, unik, tergolong nekad. Karena cara ini tak lazim dilakukan. Betapa terkejut anak dan menantunya, darah yang mengalir di ambil dan membasuhkan ke mukanya berkali-kali. Sambil berlinang air mata, ibu itu terus membasuhkan dara nifas sang putri ke mukanya. Dengan ijin ALLAH SWT, tiba-tiba darah nifas itu berhenti (mampet). Orangtua mau melakuan ini demi putrinya, sementara sang putri masih belum merasakan kalau dirinya telah melukai hati sang Ibu salama ini.

Lagi-lagi, keajaiban muncul. Keikhlasan dan ketulusan seorang Ibu di dalam mengorbankan dirinya tidak ada batasan. Adakah kalimat yang lebih indah dan pantas untuk diucapkan kepada orangtua? Ketulusan Ibu dan ayah mampu menggegerkan penduduk langit. Para malaikat pun mengucapkan amin, ketika ayah ibu berdoa untuk anak-anaknya. Kemudian, adakah pengorbanan anak yang lebih besar melebihi pengorbanan ayah bunda?


dikutip dari http://abufahry.wordpress.com

Sabtu, 16 Agustus 2014

kasih sayang besar dari Ibu yang berjiwa besar

Xu Yuehua, seorang wanita tanpa kaki yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat sebuah yatim piatu di China, sungguh perkerjaan yang luar biasa. Dulunya Xu Yuehua adalah seorang gadis kecil yang normal seperti teman-temannya. Sampai pada suatu saat, waktu mengumpulkan batubara di rel kereta api. dan sebuah kecelakaan kereta api membuat Xu kehilangan kedua kakinya pada usia 13 tahun. Tidak ada kaki di usia yang sangat muda mungkin bagai dunia telah berakhir bagi Xu yuenhua. Apalagi Xu Yuehua saat itu adalah yatim piatu. Tidak semua orang bisa menghadapi kenyataan hidup ini.

Di saat-saat rasa frustasi menyelimutinya, Xu Yuehua segera sadar untuk menjadikan hidup dan tubuhnya berguna untuk sesama selama dia diberi kesempatan hidup di dunia. Ia telah merasakan waktu kecil sebagai yatim piatu dulu, dan dengan mengandalkan dua kursi kayu pendek untuk menyangga tubuhnya dan untuk berjalan, Xu melanjutkan hidupnya dengan tujuan dan semangat yang mulia, yaitu mengasuh dan membesarkan anak-anak yatim piatu .

Di Xiangtan Social Welfare House yang membantunya melalui masa-masa sulit ini Xu menemukan panggilannya. Saat ini, Xu telah menjalani 37 tahun merawat anak-anak yatim piatu di lembaga kemanusiaan ini. Dengan keterbatasannya, sudah 130 anak yang dibesarkan Xu. Memang tidak mudah untuk berpindah dari ranjang yang satu ke ranjang lain menggunakan bangku pendek. Belum lagi saat harus menyusui, meredakan tangisan bayi yang rewel dan mengajak mereka bermain. Namun wanita yang disebut ‘The Stool Mama” ini melakukan semua hal dengan sebaik-baiknya.

Dengan melakukan yang terbaik, satu per satu kekhawatiran dalam kehidupan Xu Yuehua seakan dijawab oleh Yang Maha Kuasa. Pada tahun 1987, Xu menikah dengan Lai Ziyuan, seorang petani sayur di panti asuhan yang sama dan melahirkan anak laki-laki, Lai Mingzhi, tiga tahun kemudian. Xu mengaku sangat bahagia dengan hidup dan pengabdiannya.

Dalam benaknya, cacat fisik bukanlah menjadi batasan ataupun halangan seseorang untuk melakukan sesuatu dan berbagi demi mengurusi orang lain. Bahkan dengan kerendahan hatinya yang sangat tulus, perempuan tersebut mengatakan, dirinya bukanlah orang hebat. Apa yang dilakukannya semata-mata hanya untuk memberikan kasih sayang seorang ibu. Untuk anak-anak yang nasibnya kurang beruntung, karena telah kehilangan orang tua.

Ia telah merasakan kehilangan kedua orangtuanya sejak masih kecil. Mulai saat itulah, dirinya dirawat di Rumah Yatim Piatu Xiantan. Dengan menggunakan kursi kecil untuk menggantikan kedua kakinya tersebut, Xu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Seperti memberi makan, mencuci, mengganti selimut, bahkan kadang membuatkan sepatu untuk 130 anak yatim asuhannya.

Mengasuh dengan Sepenuh Hati

Sheng Li, salah seorang anak asuh Xu Yueahua menuturkan, bahwa Xu merupakan pahlawan di mata anak-anak penghuni rumah panti asuhan Xiantan. “Tanpa Ibu Besar (panggilan untuk Xu Yuehua), mungkin saya sudah meninggal sejak lama. Suara kursi kecil yang menjadi tanda datangnya Ibu Besar merupakan suara yang terindah yang pernah saya dengar hingga saat ini,” ungkap Sheng Li.

Meski telah memiliki keluarga sendiri Xu tetap merawat anak-anak di panti asuhan di tempat dirinya dulu dibesarkan. “Saya bukanlah orang hebat. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, yaitu memberikan kasih sayang seorang ibu untuk anak-anak malang itu,” ucap Xu merendah.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga, bahwa kebahagiaan selalu ada dalam setiap orang yang selalu berpikir positif, berpikir maju dan tidak berkubang dalam penderitaannya.


dikutip dari http://tercerahkan.com