Minggu, 02 November 2014

Ketika Ibu Cuci Muka Dengan Darah Nifas Putrinya (Kisah Nyata)

Sebuah kisah nyata yang membuat kita miris saat membacanya. Seorang wanita yang mulai tumbuh dewasa, akhirnya mendaftarkan diri menjadi seorang mahasiswa di salah satu kampus disalah satu kota. Sebagai orangtua, tentu saja berbahagia atas apa yang dicapai oleh putri tercintanya. Khususnya sang Ibu, selalu memberikan yang terbaik untuk putra-putrinya.

Sang Ibu-pun memulai memberikan pesan-pesan moral kepada putrinya agar senantiasa menjaga diri. Kewajiban orangtua adalah selalu memberikan bekal materi, nasehat dan do’a. Salah satu pesan seorang Ibu kepada putri tercintanya adalah, jangan keluar malam, belajar sungguh-sungguh, jangan berpacaran. Karena yang demikian itu sama dengan menyakiti dan melukai hati kedua orangtua, serta melanggar ajaran Rosulullah SAW. Mendengar petuah sang Ibu, mahasiswi itu manggut-manggut, sebagai bukti bakti seorang anak kepada kedua orangtua. Orangtua memang memiliki hak penuh atas anak-anaknya. Wajar, jika kemudian seorang Ibu berpesan demikian kepada putrinya, serta anak-anaknya.

Di jaman Rasulullah SAW juga ada seorang pemuda mengadukan ayahnya kepada Nabi SAW terkait dengan hak orangtua atas anaknya, Karena si ayah mengambil telah harta milik anaknya itu. Rasulullah SAW lantas memerintahkan anak lelaki itu agar supaya memanggil ayahnya. Ketika berada di hadapan Rasulullah SAW, ditanyakanlah hal itu.

Kemudian Rosulullah SAW bertanya kepadanya : “Mengapa engkau mengambil harta anakmu,” ?.

Kemudian lelaki itu menjawab dengan agak kesal:“Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah!. Kemudian orangtuanya sedikit memberikan penjelasan:’’Sebab, uang itu saya nafkahkan untuk saudara-saudaranya, paman-pamannya dan bibinya,”jawab orang tua itu.

Rasulullah SAW kemudian bertanya lagi:, “Ceritakanlah apa yang ada dalam hatimu dan tidak didengar oleh telingamu.”

Maka berceritalah si ayah ini.“Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah lantaran sakit dan deritamu. Aku tak bisa tidur dan resah, bagaikan akulah yang sakit dan bukan kau yang menderita. Lalu air mataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut. Padahal aku tahu, ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa dan berhasil mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman. Seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang, kau tak mampu penuhi hak ayahmu. Kau perlakukan aku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu, seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.”

Mendengar hal ini, maka Rasulullah SAW langsung memerintahkan kepada si anak, untuk memberikan hak orang tuanya. Hadis di atas menceritakan betapa besar pengorbanan orangtua, sehingga orangtua memiliki hak mutlak atas anak-anaknya. Seandainya, semua jiwa raga sang anak dikorbankan untuk orang tuanya, tidak akan cukup untuk membalas kebaikan dan pengorbanan seorang ayah dan ibu terhadap anaknya.

Masih terkait dengan perilaku sang mahasiswi terhadap ibunya. Ketika sudah menjadi mahasiswi, dimana kehidupan dunia kampus begitu panas dengan dunia cinta-cinta dan pacaran. Lelaki dan wanita sudah biasa bersama-sama, walaupun belum menikah. Bahkan, berdua-duaan sampai larut malam tidak menjadi masalah, walaupun mereka tahu kalau hal itu dilarang agama dan juga melukai hati kedua orangtuanya.

Ketika diingatkan orangtuanya, atau saudara-saudaranya mahasiswi itu selalu menjawab:’’aku tidak pacaran, aku cuma teman biasa…! Padahal semua orang tahu, kalau dirinya itu berpacaran dan telah menodai agama dan petuah orangtuanya.

Setiap hari, mahasiswi ini selalu menampakkan sikap yang tidak patuh kepada Ibunya. Padahal sang Ibu pontang panting mencari duit untuk biaya kuliah dan uang saku. Ratusan juta sudah dikeluarkan untuk mengantarkan putrinya meraih cita-citanya. pengornanan kedua orang tua diibaratkan ’’kepala di jadikan kaki, kaki dijadikan kepala demi masa depan anak-anaknya’’.

Tetapi, karena dunia kampus begitu keras dan panas dengan segala persaingan cinta. Maka, nasehat orangtua seringkali ditinggalkan, bahkan tidak pernah diduga sama sekali. Sebab, cinta itu telah membutakan dirinya. Bahkan semakin hari hubungan dengan lawan jenisnya semakin akrab, sehingga nyaris membahayakan sebagai seorang wanita muslimah. Tidak ada cara lain bagi orangtuanya, kecuali segera menikahkan keduanya dari pada harus menderita setiap menyaksikan putri dan lelaki itu selalu berdua kemana-mana tanpa ikatan nikah.

Akhirnya, menikahlah kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara itu. Setelah menikah, keduanya terlihat bahagia, karena kedua merasakan bahwa pasangannya adalah pilihan tuhan. Memang benar begitu. Tetapi, keduanya tidak merasa bahwa selama ini telah menyakiti hati kedua orangtua yang selama ini mengorbankan jiwa dan raga atas kelahirannya serta menyekolahkan dengan biaya yang cukup mahal.

Setahun kemudian, sang putri hamil. Ketika melahirkan, terjadi pendarahan yang begitu hebat. Berbagai cara telah dokter lakukan untuk menyelamatkan putrinya. Ternyata darah tetap deras mengalir. Orangtua terus menerus beristighfar kepada ALLAH SWT, memohonkan ampun kepada ALLAH SWT atas kesalahan-kesalahan yang selama ini dilakukan oleh putrinya. Tetapi, darah itu tetap saja mengalir deras, seolah-olah tidak mau berhenti.

Sang Ibu yang selama ini sering dikecewakan oleh putrinya, akhirnya melakukan cara aneh, unik, tergolong nekad. Karena cara ini tak lazim dilakukan. Betapa terkejut anak dan menantunya, darah yang mengalir di ambil dan membasuhkan ke mukanya berkali-kali. Sambil berlinang air mata, ibu itu terus membasuhkan dara nifas sang putri ke mukanya. Dengan ijin ALLAH SWT, tiba-tiba darah nifas itu berhenti (mampet). Orangtua mau melakuan ini demi putrinya, sementara sang putri masih belum merasakan kalau dirinya telah melukai hati sang Ibu salama ini.

Lagi-lagi, keajaiban muncul. Keikhlasan dan ketulusan seorang Ibu di dalam mengorbankan dirinya tidak ada batasan. Adakah kalimat yang lebih indah dan pantas untuk diucapkan kepada orangtua? Ketulusan Ibu dan ayah mampu menggegerkan penduduk langit. Para malaikat pun mengucapkan amin, ketika ayah ibu berdoa untuk anak-anaknya. Kemudian, adakah pengorbanan anak yang lebih besar melebihi pengorbanan ayah bunda?


dikutip dari http://abufahry.wordpress.com

Sabtu, 16 Agustus 2014

kasih sayang besar dari Ibu yang berjiwa besar

Xu Yuehua, seorang wanita tanpa kaki yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat sebuah yatim piatu di China, sungguh perkerjaan yang luar biasa. Dulunya Xu Yuehua adalah seorang gadis kecil yang normal seperti teman-temannya. Sampai pada suatu saat, waktu mengumpulkan batubara di rel kereta api. dan sebuah kecelakaan kereta api membuat Xu kehilangan kedua kakinya pada usia 13 tahun. Tidak ada kaki di usia yang sangat muda mungkin bagai dunia telah berakhir bagi Xu yuenhua. Apalagi Xu Yuehua saat itu adalah yatim piatu. Tidak semua orang bisa menghadapi kenyataan hidup ini.

Di saat-saat rasa frustasi menyelimutinya, Xu Yuehua segera sadar untuk menjadikan hidup dan tubuhnya berguna untuk sesama selama dia diberi kesempatan hidup di dunia. Ia telah merasakan waktu kecil sebagai yatim piatu dulu, dan dengan mengandalkan dua kursi kayu pendek untuk menyangga tubuhnya dan untuk berjalan, Xu melanjutkan hidupnya dengan tujuan dan semangat yang mulia, yaitu mengasuh dan membesarkan anak-anak yatim piatu .

Di Xiangtan Social Welfare House yang membantunya melalui masa-masa sulit ini Xu menemukan panggilannya. Saat ini, Xu telah menjalani 37 tahun merawat anak-anak yatim piatu di lembaga kemanusiaan ini. Dengan keterbatasannya, sudah 130 anak yang dibesarkan Xu. Memang tidak mudah untuk berpindah dari ranjang yang satu ke ranjang lain menggunakan bangku pendek. Belum lagi saat harus menyusui, meredakan tangisan bayi yang rewel dan mengajak mereka bermain. Namun wanita yang disebut ‘The Stool Mama” ini melakukan semua hal dengan sebaik-baiknya.

Dengan melakukan yang terbaik, satu per satu kekhawatiran dalam kehidupan Xu Yuehua seakan dijawab oleh Yang Maha Kuasa. Pada tahun 1987, Xu menikah dengan Lai Ziyuan, seorang petani sayur di panti asuhan yang sama dan melahirkan anak laki-laki, Lai Mingzhi, tiga tahun kemudian. Xu mengaku sangat bahagia dengan hidup dan pengabdiannya.

Dalam benaknya, cacat fisik bukanlah menjadi batasan ataupun halangan seseorang untuk melakukan sesuatu dan berbagi demi mengurusi orang lain. Bahkan dengan kerendahan hatinya yang sangat tulus, perempuan tersebut mengatakan, dirinya bukanlah orang hebat. Apa yang dilakukannya semata-mata hanya untuk memberikan kasih sayang seorang ibu. Untuk anak-anak yang nasibnya kurang beruntung, karena telah kehilangan orang tua.

Ia telah merasakan kehilangan kedua orangtuanya sejak masih kecil. Mulai saat itulah, dirinya dirawat di Rumah Yatim Piatu Xiantan. Dengan menggunakan kursi kecil untuk menggantikan kedua kakinya tersebut, Xu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Seperti memberi makan, mencuci, mengganti selimut, bahkan kadang membuatkan sepatu untuk 130 anak yatim asuhannya.

Mengasuh dengan Sepenuh Hati

Sheng Li, salah seorang anak asuh Xu Yueahua menuturkan, bahwa Xu merupakan pahlawan di mata anak-anak penghuni rumah panti asuhan Xiantan. “Tanpa Ibu Besar (panggilan untuk Xu Yuehua), mungkin saya sudah meninggal sejak lama. Suara kursi kecil yang menjadi tanda datangnya Ibu Besar merupakan suara yang terindah yang pernah saya dengar hingga saat ini,” ungkap Sheng Li.

Meski telah memiliki keluarga sendiri Xu tetap merawat anak-anak di panti asuhan di tempat dirinya dulu dibesarkan. “Saya bukanlah orang hebat. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, yaitu memberikan kasih sayang seorang ibu untuk anak-anak malang itu,” ucap Xu merendah.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga, bahwa kebahagiaan selalu ada dalam setiap orang yang selalu berpikir positif, berpikir maju dan tidak berkubang dalam penderitaannya.


dikutip dari http://tercerahkan.com

Senin, 14 Juli 2014

pengorbanan Ibu tak terbalas

Seorang ibu mengintip dari celah pintu di dekat dapur. Mencoba menahan air matanya yang sudah terkumpul di matanya yang sudah mulai keriput. Hatinya sakit, setetes air mata yang ia tahanpun akhirnya jatuh membasahi pipi.

Ia terharu melihat keberhasilan anaknya, yang baru saja naik pangkat di Perusahaan tempat anaknya bekerja. Tapi layaknya seorang ibu, ia seharusnya berada di samping anaknya untuk ikut merasakan kebahagiaan. Dalam hati Ia membatin, “Selamat yaa Nak... Ibu juga bahagia jika melihat kau bahagia“, Sebuah kalimat yang tulus dari lubuk hati paling dalam dari seorang Ibu. Air matanya menyiratkan kebahagiaan, tapi miris melihat kenyataan yang ada.

Tiba-tiba ia teringat perkataan anaknya, Pokoknya, kalau teman- teman dan atasanku datang, Ibu tidak boleh ikut merayakan bersama kami di ruangan itu dan jangan pernah bertemu dengan teman atau atasanku“ kata anaknya dengan lantang, “dan Aku tidak mau mereka tahu kalau aku punya ibu dengan satu mata dan penyakitan. Jadi Ibu lebih baik di dapur saja yaa“, Anaknya mengucapkan kata-kata itu dengan enteng, tanpa memikirkan perasaan ibunya. “Iya Nak“, Sebuah jawaban yang begitu tulus dari mulut seorang ibu.

Anaknya yang lupa diri itu menikmati semua masakan bersama teman- temannya, semua makanan disiapkan oleh ibunya. Kemudian salah satu atasannya bertanya, “masakan siapa ini ? enak sekali“, - “Itu masakan Ibu saya, Pak“ jawab si anak itu, “Wah, masakannya enak sekali. Sampaikan salamku untuk Ibumu ya, katakan padanya bahwa saya menyukai masakannya yang lezat ini“, tutur atasannya terkagum-kagum , - “Baik pak!“ Jawab anak muda itu.

Beberapa waktu kemudian, si anak itu kembali naik jabatan, untuk merayakannya ia kembali mengadakan acara makan-makan di rumah bersama teman-teman dan atasannya. Dan seperti sebelumnya, sang Ibu hanya ikut merayakan keberhasilan anaknya itu di dapur dan bersedih. Teman- teman dan atasan si anak muda itu sangat menikmati masakan lezat sang Ibu. Masakan yang benar-benar lezat. Kemudian atasannya berkata, “pasti ini masakan ibumu, kan?“ , - “Iya, Pak“. “Di mana beliau sekarang?“ Sang anak kebingungan menjawab pertanyaan atasannya itu, ia mencoba mencari alasan agar mereka tidak tahu keadaan Ibunya.

Tapi tiba-tiba atasannya melihat seorang ibu-ibu tua berada di dapur. Iapun segera menghampiri ibu itu dan berkata, Ibu yang memasak semua masakan ini,kan? Ibu itu sedikit ragu dan menjawab “ii.iii...iiya, Pak“ - “Wah masakan Ibu enak sekali. Saya sangat menikmatinya. Tapi mengapa Ibu tidak ikut makan bersama kami?“ Pertanyaan atasan anak ibu itu membuat sang ibu terdiam.

Tiba-tiba si anak menghampiri Ibunya itu dengan menyeret ibunya dengan cara kasar ke belakang, “Kan aku sudah bilang, Ibu tidak boleh bertemu dengan atasan atau teman-temanku, Aku malu, bu!“ si anak sangat marah. “Maafkan Ibu, Nak...“. Ibu itu mencoba meminta maaf kepada anaknya. Lalu anak itu berkata “cukup Bu !!! mulai sekarang Ibu tidak boleh tinggal bersamaku lagi“. Sambil menangis, Ibu itu terus meminta maaf kepada anaknya. Tapi anak itu seperti berusaha tidak memperdulikan ibunya.

Pada akhirnya, anak muda tersebut membelikan sebuah rumah kecil untuk ditinggali ibunya. Hal itu ia lakukan agar tak ada yang tahu keadaan ibunya. Kasihan sekali ibunya, sudah sakit-sakitan dan dicampakan anaknya.

Kemudian sang anak kembali naik jabatan, kali ini adalah jabatan tertinggi. Sebuah acara yang lebih besar telah ia persiapkan. Tanpa Ibunya untuk menyiapkan hidangan seperti biasanya. Ibunya mengetahui kabar suka cita itu dan si ibu menitipkan sebuah surat kepada seseorang untuk di berikan kepada anaknya. Dalam surat itu tertulis :

“Untuk Anakku tersayang....., Selamat atas keberhasilanmu, Nak... Ibu sangat bahagia. Maaf Ibu tidak bisa datang, karena Ibu tahu kamu tidak menginginkan kedatangan Ibu. Ibu tahu kamu malu dengan keadaan Ibu, seorang Ibu yang hanya punya satu mata dan penyakitan pula. Tapi perlu kamu ketahui Nak! salah satu mata ini kuberikan padamu, ketika kamu mengalami kecelakaan waktu kecil. Ibu rela Nak.. Ibu rela... Asalkan kamu bahagia......“


dikutip dari papareyhanz.com dengan sedikit penyesuaian

Sabtu, 12 Juli 2014

Kisah Pengorbanan Seorang Ibu

Selama bertahun-tahun Stacie Crimm mengira dirinya tidak subur karena sulit punya anak. Hingga akhirnya ia bisa hamil saat berusia 41 tahun. Namun selama hamil ia terkena kanker kepala dan leher stadium lanjut. Demi menyelamatkan nyawa sang bayi yang sangat diinginkannya Stacie menolak kemoterapi. Stacie tak ingin efek negatif kemoterapi berimbas ke bayi yang dikandungnya. Tapi akibat menolak kemoterapi, tubuhnya menjadi sangat lemah selama masa kehamilan.

Stacie merasakan ada kondisi yang serius di tubuhnya setelah beberapa minggu kehamilannya. Ia mulai merasakan kekhawatiran serius karena sering mengalami sakit kepala parah, penglihatan ganda dan juga tremor yang melanda setiap inci tubuhnya.

Akhirnya pada bulan Juli ia memeriksakan diri ke dokter dan hasil CT scan menunjukkan ia menderita kanker kepala dan leher stadium lanjut. Saat itu ia harus memutuskan untuk memilih antara hidupnya atau bayi yang dikandungnya. Saat itu ia menolak melakukan perawatan kemoterapi agar bayinya tetap hidup.
“Ia mulai menceritakan kekhawatirannya pada saya, ia bilang khawatir tentang bayi ini, tapi berharap bisa hidup cukup lama untuk memiliki bayi ini. Jika terjadi sesuatu padanya maka rawatlah anak ini,” ujar Ray Phillips, kakak Stacie seperti dikutip dari Dailymail.

Sebulan setelah didiagnosa kanker, Stacie ambruk dan langsung dibawa ke OU Medical Center di Oklahoma City. Dokter mengatakan tumor telah membungkus sekitar batang otaknya. Dua hari kemudian detak jantung bayi yang dikandungnya mulai menurun dan jantung Stacie berhenti berdetak.

Dokter dan para perawat memutuskan untuk melakukan operasi caesar agar bisa menyelamatkan nyawa sang bayi. Stacie mampu bertahan 5 bulan sejak dinyatakan kanker sebelum akhirnya dipaksa untuk melahirkan bayinya secara prematur melalui caesar. Bayi itu diberi nama Dottie Mae yang memiliki berat 0,93 Kg.

Bayi Dottie Mae akhirnya selamat dilahirkan dengan berat badan lebih rendah dibandingkan rata-rata berat bayi lainnya sehingga harus ditempatkan ke ruang khusus perawatan intensif neonatal. Sedangkan Stacie yang kondisinya makin melemah harus dibawa ke ruang perawatan intensif lainnya.

“Suster mengatakan bahwa Stacie sedang sekarat, napasnya terengah-engah dan tubuhnya sedang melawan kematian,” ungkap Ray.

Stacie harus berjuang agar bisa tetap hidup dengan bantuan ventilator dan obat penenang selama beberapa hari. Saat itu masih ada harapan baginya untuk hidup. Namun kanker yang diderita telah membuat salah satu matanya makin sulit melihat dan menghancurkan otot.

Kanker itu juga telah melumpuhkan tenggorokannya sehingga jika ia berbicara, kata-katanya tidak bisa dimengerti. Tumornya juga telah menyebar ke otak yang membuat ia sering tidak sadar dan bahkan tidak mampu menandatangani akte kelahiran Dottie Mae.

Saat itu Stacie sangat lemah untuk bisa menemui bayinya di ruang perawatan khusus. Dan sang bayi pun terlalu lemah untuk dibawa ke ruang perawatan ibunya karena masih menggunakan alat-alat perawatan neonatal. Kedua kondisi ini tidak memungkinkan bagi keduanya untuk bertemu.

“Saya merasa tidak berdaya, saya ingin sekali membantunya dan melakukan apapun agar ia bisa bertemu dengan bayinya. Tapi mereka mengatakan tidak mungkin baginya untuk melihat sang buah hatinya,” ujar Ray.

jantung Stacie berhenti bernapas tapi ia berhasil hidup kembali. Staf rumah sakit mengatakan pada keluarga bahwa ia sudah sangat dekat dengan kematian. Tapi Stacie belum sekalipun menatap mata biru bayi kecilnya dan mencium bayi yang berhasil diselamatkannya.

Hingga akhirnya perawat Agi Beo meminta tim medical centre’s neonatal transport untuk menggunakan perawatan bayi yang bisa dipindahkan agar bisa mendekatkan bayi Dottie ke ibunya. Kereta perawatan bayi Dottie kemudian dibawa ke ruangan ibunya dengan begitu jika dikeluarkan sebentar bayi Dottie bisa langsung dikembalikan ke kotak bayinya.

Ketika bayi Dottie didekatkan, mata Stacie terbuka dan ia mulai melihat sekitarnya untuk menemukan sang buah hati. Para perawat dengan segera meletakkan bayi Dottie di dada kanan ibunya. Keduanya saling menatap satu sama lain selama beberapa menit.

“Tidak ada yang mengatakan apa-apa pada saat itu. Saya bilang pada adikku bahwa ia telah melakukan suatu hal yang indah dan ini adalah momen yang sempurna,” ungkap Ray.

Setelah melihat dan menggendong bayinya, 3 hari kemudian Stacie meninggal dunia karena kondisinya memburuk. Saat ini bayi Dottie tinggal dengan Ray bersama istrinya Jennifer dan keempat anaknya di Oklahoma City.

betapa besar pengorbanan seorang ibu bagi anaknya.. demi anaknya ibu ini rela meski harus kehilangan nyawanya…


dikutip dari http://revarius.blogdetik.com

Jumat, 11 Juli 2014

Innalillahi...Demi Lindungi Anak, Seorang Ibu Muda di Gaza Wafat

Serangan Israel terhadap warga Gaza terus menerus terjadi. Tindakan membabi buta di tanah Gaza ini menyebabkan korban jiwa terus berjatuhan. 

Bahkan, dalam serangan roket Israel ini, seorang ibu berusia 25 tahun, Suha Hamad, rela mengorbankan nyawanya demi melindungi keempat buah hatinya. Keempat anaknya berhasil selamat dalam serangan ini, namun seorang anak balitanya masih dirawat di ICU. 

Ibu muda ini menghadap Sang Khalik ketika sebuah rudal Israel menghantam rumahnya sekitar pukul 11 malam waktu setempat. Pada Selasa malam, Suha membawa ketiga anaknya untuk tidur di sebuah ruangan di rumahnya. Ia mengira ruangan tersebut merupakan ruangan teraman di rumahnya.

Kemudian, ketika ia kembali untuk mengambil anak balitanya yang berusia empat bulan, tiba-tiba sebuah rudal menghantam.

Mahdi Hamad, ayah Suha, mengatakan tak ada satupun yang telah memperingatkan mereka untuk evakuasi dan tak ada anggota yang melawan di sekitar rumahnya. ''Kaca pecah di belakang anak-anak dan sejumlah pria jatuh dan berlumuran darah,'' katanya. 

''Dengan siapa mereka harus hidup ketika mereka kehilangan ayah dan ibunya,'' kata ibu Suha yang tampak sangat berduka. ''Kejahatan apa yang anak-anak ini telah lakukan sehingga dihukum seperti ini,'' tambahnya.

Israel telah menargetkan rumah keluarga Hamad dan menewaskan enam anggota keluarganya. Yakni, Ibrahim Muhammad Hamad (26), Mahdi Muhammad Hamad (46), Fawziyeh Khalil Hamad (62), Dunia Mahdi Hamad, (16), dan Suha Hamad (25).

Pesawat tempur Israel mengembom rumah tersebut pada Selasa malam dan membunuh pejuang Jihad Islam senior serta lima anggota keluarganya. Juru bicara menteri kesehatan Gaza, Ashraf al-Qidra mengatakan serangan tersebut menewaskan Hafiz Hamad dan lima anggota keluarganya.

Lanjutnya, ia membenarkan kematian enam kerabatnya dalam serangan di rumah keluarga Hamad di Beit Hanoun di utara Jalur Gaza. Ia menyebutkan para korban tersebut adalah Hafiz Mohammed Hamad (30), Ibrahim Mamedhmed (26), Mahdi Mohammed Hamad (46), Fawzia Khalil Hamad (62), Mehdi Hamad (16), dan Suha Hamad (25).


dikutip dari  republika.co.id

Kamis, 10 Juli 2014

kesabaran anak dan kesabaran Ibu

Aisyah memiliki seorang anak gadis yang sangat pintar bernama Sabila. Kini Sabila lulus dari sebuah universitas terkemuka. Aisyah sungguh bangga kepadanya dan selalu berharap Sabila segera pulang ke rumah. Aisyah sangat merindukan Sabila. 
 
Hari kedatangan Sabila tiba. Aisyah menunggunya di depan pintu rumah dengan senyum tulus. Setelah melepas rindu dengan memeluk Sabila, mereka duduk santai di depan rumah. 
 
Aisyah yang beranjak tua, kagum dengan kecerdasan Sabila. Sabila bercerita tentang masa kuliahnya yang menarik. Sebenarnya, Aisyah tidak begitu memahami apa yang diceritakan Sabila. 
 
"Jadi, apa gelar yang sekarang kaumiliki?" tanya Aisyah.
"Sarjana."
 
Aisyah mengangguk-angguk kemudian mengulangi pertanyaan yang sama. 
Sabila menganggap ibunya tidak mendengar jawabannya. Lalu, dia mengatakannya kembali dengan suara lebih keras, "Gelarku sarjana, Ibu!" 
 
Aisyah kembali mengangguk-angguk. Sabila kembali bercerita dengan riang. Tak lama kemudian, sang ibu bertanya lagi. 
 
"Jadi, apa gelar yang sekarang kaumiliki, Anakku?" 
 
Sabila menatap ibunya. "Sarjana, Bu!!" 
 
"Ooh...," kata Aisyah membulatkan mulutnya. 
 
Mereka lalu mengobrol kembali.
"Nah, Anakku, Ibu ingin tahu gelar apa yang kaumiliki sekarang?" tanya Aisyah. 
 
Sabila mendelik ke arah ibunya dan hilang kesabaran, lalu menjawab pertanyaan Aisyah sambil membentak, ’Ya ampun, Ibu, sarjana!!!" 
 
Sabila marah dan merasa ibunya tidak mengerti apa yang dikatakannya. 
 
"Apa, Nak?" 
 
"Ibu!! Barangkali Ibu memang tidak mengerti apa yang aku katakan, ya? Aku sudah menjawabnya berulang kali dan Ibu tetap bertanya. Apakah Ibu ingin aku kembali mengatakannya? Sarjana! S-a-r-j-a-n-a," kata Sabila dengan marah. Dia merasa obrolannya terus terpotong oleh pertanyaan ibunya. 
 
Aisyah menunduk, lalu beranjak dari duduk dan meninggalkan Sabila. Tak berapa lama, Aisyah kembali dan menggenggam sesuatu di tangannya. Dia lalu menyerahkan benda itu pada Sabila yang masih marah. 
 
"Bacalah, Anakku. Di dalamnya, Ibu menulis tentangmu semasa kecil," kata Aisyah lembut. 
 
Sabila membacanya.
"Setiap hari, Sabila kecilku selalu bertanya tentang apa saja yang dia lihat. Aku bangga padanya.
Suatu kali, dia bertanya tentang suatu benda di depan rumah hingga berkali-kali. Dia terus bertanya hal yang sama, tetapi aku tetap menjawabnya dengan sabar. Bahkan ketika kuhitung dia bertanya lebih dari 30 kali tentang benda itu. Aku menjawab mengenai hal itu dengan penuh kasih sayang dan semoga jawabanku yang akan membawanya menjadi manusia yang penuh dengan ilmu. 
 
Aku berharap, dia akan menjadi anak yang pintar dan kelak jika aku tua, aku bisa bertanya padanya tentang hal yang tidak aku ketahui. Ya, karena ketika dia besar, zaman kami sudah berbeda dan saat itu akulah yang akan belajar pada anakku." 
 
Setelah membaca buku itu, Sabila menatap Aisyah yang menunjukkan wajah sedih. 
 
"Sungguh Anakku, aku tidak menyadari bahwa pertanyaanku akan membuatmu marah, walau Ibu hanya menanyakan hal itu sebanyak 5 kali," kata Aisyah sambil menitikkan air mata. 
 
"Seorang sahabat bertanya, ’Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku,’ Nabi saw. menjawab, "Ibumu... ibumu... ibumu, kemudian ayahmu, dan kemudian yang lebih dekat kepadamu, dan yang lebih dekat kepadamu.’" 
 

dikutip dari  http://kolom.abatasa.co.id

Selasa, 01 Juli 2014

Membalas Jasa Ibu

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,
"Ibu lebih diutamakan karena keletihan, curahan perhatian dan pengabdiannya. Terutama di saat hamil, melahirkan, menyusui dan mendidik anak hingga dewasa…" (Syarh Shahih Muslim)

Mampukah kita membalas jasa ibu…?

Tidak, Walau Satu Helaan Pun.
Tatkala ada seorang penduduk Yaman thawaf di sekitar kabah sembari menggendong ibu di punggungnya.
Lalu orang itu bertanya, Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi ibu…? 

Ibnu Umar menjawab,
Belum, walau satu helaan nafas ibumu saat melahirkanmu (Shahih, al-Adabul Mufrad: 11 al-Bukhari)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
Seorang anak tidak akan mampu membalas jasa kedua orang tuanya kecuali bila ia mendapatkan orang tua dalam keadaan menjadi budak, kemudian ia membelinya dan membebaskan….(Shahih, al-Adabul Mufrad: 10 al-Bukhari, Irwaul Ghalil: 1737 Al-Albani)

Saat ini, kita…
Tidak menggendong, tidak pula membebaskan ibunda dari perbudakan.
Yang ada…
Kerap dititipi mengasuh cucu, menjaga rumah, dan tambahan pekerjaan lainnya…
Bila pun kita tak mampu membuat bunda tersenyum, jangan jadikan ia menangis…


dikutip dari http://albashirah.com