Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Rabu, 21 Desember 2011

mengasuh dengan cinta, belajar dari ibu hee ah lee


aku terlahir hanya dengan empat jari tangan dan kaki sebatas lutut,
tetapi aku mahir memainkan piano,
dari karya mozart sampai chopin,
karena aku punya seorang ibu yang luar biasa,
yang membuatku mampu melampaui keterbatasanku.

Ia berasal dari Korea Selatan. Namanya Hee Ah Lee ( 22 ). Di kedua telapak tangannya hanya ada 4 jari. Dua jari di kanan, du jari di kiri. Gadis istimewa ini menderita lobster claw syndrome. Kakinya pun hanya sampai lutut. Bukan hanya itu, gadis ini juga menderita keterbelakangan mental. Ketika ia lahir, semua keluarga besarnya menjauh. Hanya sang Ibu yang tak menyurutkan kasih sayang dan cintanya pada Ah Lee.

Apa yang istimewa dari He Ah Lee? Dalam usia muda ia sudah menjadi pianis hebat kelas dunia. Konsisten dengan arti namanya “sukacita yang terus tumbuh”, Lee tetap bersuka cita dengan segala keterbatasannya hingga akhirnya menjadi pianis top. Anak seorang perawat ini telah mengeluarkan album bertitel “ Hee-ah a pianist with four finger.” Ia juga sudah melakukan konser di berbagai Negara : Amerika Serikat, Inggris, Jepang, China, Singapura dan tentu saja Indonesia. Lee yang selalu didampingi ibunya ini juga telah diangkat sebagai warga kehormatan Seoul.

Sebagian besar dari kita pasti memiliki anak yang lebih sehat dan normal dibandingkan Hee Ah Lee. Mestinya prestasi yang diraih putra- putri kita tak boleh kalah dengan gadis Korea itu. Itu hanya bias terjadi jika si buah hati memperolah perhatian sepenuh cinta.

Dengan mendidik anak sepenuh cinta setidaknya kita sudah melakukan 5 hal. Pertama, membantu anak menemukan kekuatan dalam dirinya. Kedua, menunjukkan apa yang mampu ia raih. Ketiga, turut membangun kepercayaan dirinya. Keempat , memberikan dukungan dan semangat. Kelima ,menjadi orang yang paling dipercaya karena selalu ada ketika ia membutuhkan.

Setiap anak terlahir dengan kelebihannya masing-masing. Setiap anak unik. Kita harus membantu mereka menemukan keunikan yang ada dalam dirinya. Keunikan itu bukan tak mungkin menjelma menjadi kekuatannya. Ibunda Hee Ah Lee, tentu tahu keterbatasan dan kekurangan yang dimiliki anaknya. Tapi ia bisa melihat ada satu kelebihan yang dimiliki oleh anaknya, yakni kesukaannya bermain piano. Kelebihan itulah yang kemudian terus diasah. Dia mendatangkan guru piano sesuai dengan kebutuhan anaknya. Lima guru piano yang berbeda – beda pernah mendampingi Hee Ah Lee.

Dengan kelebihan yang dimilikinya, anak akan mampu meraih banyak hal. Tunjukkan apa- apa yang mampu ia raih dan gapai. Selain itu, hadapkan juga berbagai pilihan dan gambaran tentang masa depan kepadanya. Sebagai orang tua kita harus mampu menunjukkan berbagai alternative yang mampu anak raih dalam perjalanan hidupnya.

Kepercayaan diri anak kita juga dapat tumbuh luar biasa jika kita memberinya kepercayaan disertai tanggung jawab sesuai dengan tingkatan usianya. Lalu memberi pujian jika ia berhasil melakukan sesuatu meskipun tampak sepele di mata kita. Jangan lupa, jangan pernah mencela jika ia “gagal” melakukan sesuatu. Sebagai orangtua kita tidak boleh memberikan banyak larangan dan batasan karena ini akan menghambat kepercayaan dirinya. Biarkan saja anak kita berkreasi seluas-luasnya selama tidak melanggar norma – norma dari Sang Maha Tahu.

Hee Ah Lee pernah mogok tidak mau berlatih piano. Ia merasa tidak mampu memainkan piano dengan baik. Namun sang ibu terus mendampinginya dengan penuh kesabaran. Sang ibu tetap mengajak ia bicara walau mungkin Hee Ah Lee tidak mengerti apa yang dimaksud ibunya. Ibunya tak ingin sang buah hati frustasi dan patah semangat. Ibunda Hee Ah Lee menunjukkan cintanya dengan tulus, salh satunya dengan terus menerus membangun kepercayaan diri Hee Ah Lee.

dikutip dari rumahpintar-kembar.com

Senin, 17 Oktober 2011

Kasih Ibu Tiada Tara


Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering meratapi nasibnya memikirkan anaknya yang mempunyai tabiat sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mabuk, dan melakukan tindakan-tindakan negatif lainnya. Ia selalu berdoa memohon, "Tuhan, tolong sadarkan anak yang kusayangi ini, supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati." Tetapi, si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya.

Suatu hari, dia dibawa kehadapan raja untuk diadili setelah tertangkap lagi saat mencuri dan melakukan kekerasan di rumah penduduk desa. Perbuatan jahat yang telah dilakukan berkali-kali, membawanya dijatuhi hukuman pancung. Diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan di depan rakyat desa keesokan harinya, tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.

Berita hukuman itu membuat si ibu menangis sedih. Doa pengampunan terus dikumandangkannya sambil dengan langkah tertatih dia mendatangi raja untuk memohon anaknya jangan dihukum mati. Tapi keputusan tidak bisa dirubah! Dengan hati hancur, ibu tua kembali ke rumah.

Keesokan harinya, di tempat yang sudah ditentukan, rakyat telah berkumpul di lapangan pancung. Sang algojo tampak bersiap dan si anak pun pasrah menyesali nasib dan menangis saat terbayang wajah ibunya yang sudah tua.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Namun setelah lewat lima menit dari pukul 06.00, lonceng belum berdentang. Suasana pun mulai berisik. Petugas lonceng pun kebingungan karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada. Saat mereka semua sedang bingung, tibatiba dari tali lonceng itu mengalir darah. Seluruh hadirin berdebar-debar menanti, apa gerangan yang terjadi? Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul dan menggantikannya dengan kepalanya membentur di dinding lonceng.

Si ibu mengorbankan diri untuk anaknya. Malam harinya dia bersusah payah memanjat dan mengikatkan dirinya ke bandul di dalam lonceng, agar lonceng tidak pernah berdentang demi menghindari hukuman pancung anaknya.

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung-raung menyaksikan tubuh ibunya terbujur bersimbah darah. Penyesalan selalu datang terlambat!

Pembaca yang budiman,

Kasih ibu kepada anaknya sungguh tiada taranya. Betapun jahat si anak, seorang ibu rela berkorban dan akan tetap mengasihi sepenuh hidupnya. Maka selagi ibu kita masih hidup, kita layak melayani, menghormati, mengasihi, dan mencintainya. Perlu kita sadari pula suatu hari nanti, kitapun akan menjadi orang tua dari anak-anak kita, yang pasti kita pun ingin dihormati, dicintai dan dilayani sebagaimana layaknya sebagai orang tua.

Bila hidup diantara keluarga ataupun sebagai sesama manusia jika kita bisa saling menghargai, menyayangi, mencintai, dan melayani, niscaya hidup ini akan terasa lebih indah dan membahagiakan.


dikutip dari andriewongso.com

Selasa, 12 Juli 2011

ibu yang berkorban nyawa demi anaknya






tragedi gempa 7,9 skala richter yang mengguncang daratan China? Hampir 10 ribu jiwa akibat peristiwa yang terjadi bulan Mei 2008 itu. Berikut adalah cerita seorang ibu yang tewas saat melindungi bayinya.12 Mei 2008 Wen Chuan, salah satu daerah yang paling parah terkena gempa. Sukarelawan yang bertugas saat itu menemukan pemandangan yang memilukan."Lihat itu, ada seorang wanita di sana"Dari balik reruntuhan tampak jenazah seorang wanita, dan ada sesuatu di bawahnya, seorang bayi.Ibu itu tampak berlutut dengan sikap sempurnanya kepada Tuhan memohon dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir untuk diberi kekuatan melindungi bayinya.. Tubuhnya tampak seperti berdoa dengan sangat khusuk. Sang anak tidak terluka sama sekali Di bawah selimut bayi itu, para sukarelawan menemukan ponsel dengan sebuah tulisan di layarnya " Anakku tersayang, bila kau hidup, ingatlah ini, mama akan selalu mencintaimu" Sang bayi kehilangan ibunya. Tapi dengan seluruh hidupnya, dia akan ingat bagaimana cinta seorang ibu adalah cinta terhebat di dunia

Jumat, 24 Juni 2011

malaikat itu adalah....




Apabila seorang bayi akan segera dilahirkan ke dunia, ia bertanya pada Tuhan, “Wahai Tuhanku, para malaikat yang ada di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan menempatkan aku di dunia. Lalu, bagaimanakah caraku hidup di sana, sementara aku begitu kecil dan lemah?”
Tuhan menjawab, ”Aku telah memilihkan satu malaikat untukmu. Dia yang akan menjaga dan mengasihimu.”
“Tapi di sini, di dalam surga, aku sudah bisa bernyanyi dan tertawa. Bagiku, ini sudah sangat membahagiakanku,” kata bayi itu lagi.
Tuhan berkata, “Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu di setiap harinya. Kamu akan merasakan kehangatan cintanya, yang dapat membuatmu merasa lebih bahagia.”
“Lalu, bagaimana aku bisa mengerti ketika orang-orang berbicara kepadaku, sedangkan aku tidak memahami bahasa mereka?” tanya bayi itu lagi.
“Ketahuilah, malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa terindah yang pernah kamu dengar. Dengan penuh kesabaran dan perhatian, ia akan mengajarimu cara berbicara.”
“Wahai Tuhanku, apa yang harus kulakukan ketika aku merasa rindu untuk berbicara kepada-Mu?”
“Malaikatmu akan mengajarimu cara kamu berdoa kepada-Ku,” jawab Tuhan.
“Ya Tuhan, aku mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat. Siapakah nanti yang akan melindungiku dari kejahatan mereka?”
“Wahai hamba-Ku, malaikatmu akan melindungimu, sekalipun itu dapat mengancam jiwanya sendiri.”
“Tapi, ya Tuhan, aku pasti akan merasa sangat sedih, karena tidak dapat melihat-Mu lagi,” bisik sang bayi.
“Janganlah engkau terlalu bersedih. Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku. Ia akan mengajarimu cara agar kamu bisa kembali kepada-Ku, meski sesungguhnya Aku akan selalu berada di sisimu.”
Saat itu surga begitu tenang, sehingga suara dari bumi dapat terdengar. Sang bayi kemudian bertanya secara perlahan, “Tuhanku, jika aku harus pergi saat ini, dapatkah Engkau memberitahukan kepadaku nama malaikat yang baik hati itu?”
Tuhan menjawab, ”Engkau akan memanggil malaikatmu, Ibu…”
Ingatlah selalu kasih sayang ibu, berdoalah untuknya, dan cintailah ia sepanjang masa.


dikutip dari galihyudhi.wordpress.com/2011/05/31/malaikat-itu-bernama

Jumat, 17 Juni 2011

DAUN TELINGA SANG IBU



Ada seorang Ibu yang baru melahirkan di sebuah rumah sakit Bersalin. Namun Ibu tersebut sangat terkejut ketika melihat bayi laki-lakinya yang baru dilahirkannya itu tidak memiliki daun telinga. Untunglah, bayi itu masih memiliki fungsi pendengaran yang sempurna. Tidak ada yang dapat dilakukan orangtua si bayi selain menerima takdir bahwa anak mereka yang pertama tidak memiliki kedua daun telinganya. Sang dokter pihak rumah sakit tersebut berusaha menghibur dan membesarkan hati sang orangtua tersebut, khususnya sang Ibu yang sangat shock.
“Bersabarlah Bapak dan Ibu, anak yang dilahirkan ini adalah titipan dan anugerah yang sangat besar dari Yang Maha Kuasa. Saya yakin kelak anak ini memberikan kebahagian dan kesejukan hati kepada Bapak dan Ibu. Jagalah dan besarkanlah anak ini dengan penuh kasih sayang dari kalian berdua”
Sang Ibu akhirnya dapat tenang dan bersikap tabah menerima apa yang ditakdirkan oleh Tuhan kepadanya. Perkataan sang dokter tersebut telah mendorong sang ibu untuk mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada si anak.
Hari berganti hari, waktu terus bergulir, si anak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang mampu bergaul dengan teman sebayanya. Pelajaran di sekolah pun tidak menjadi masalah diikutinya. Namun satu hal yang mengganggu diri si anak. Dia mendapatkan sindiran dari teman-temannya. Teman-temanya ada yang mengatakan bahwa dia adalah manuasia planet, ada lagi yang mengatakan dia adalah titisan sang dewa langit karena tidak bertelinga, ada juga yang mengatakan kalau dirinya keturunan iblis yang muncul ke bumi, bahkan ada yang melecehkannya supaya besar nanti bekerja di star trek saja. Sindiran-sindiran itu jelas menyakiti hati sang anak. Tidak jarang dia pulang ke rumah dalam keadaan menangis dan masuk dalam pelukan ibunya. Sang Ibu dengan ketabahan yang luar biasa terus memotivasi si anak untuk mengembangkan potensinya dan meraih prestasi yang gemilang hingga duduk di bangku Perguruan Tinggi.
Hingga suatu hari, seorang dokter yang dikenal oleh keluarga itu mengatakan bahwa si anak yang sudah tumbuh dewasa ini dapat menerima cangkok daun telinga dari orang lain, dan cangkokan ini sudah ada disimpan beberapa waktu lamanya dari seorang donor. Mendengar berita ini giranglah hati si anak, meskipun menyisakan pertanyaan siapa yang telah mendonorkan telinganya untuk dirinya. Operasi cangkok pun berjalan lancar, dan suatu perubahan penampilan dalam diri anak ini terjadi, rasa percaya dirinya semakin meningkat seiring dengan prestasi yang ia raih. Hal ini sekaligus mempercepat penyelesaian studi dan pencarian kerja bagi si anak.
Setelah ia menyelesaikan studi dan bekerja sebagai diplomat serta membangun keluarga yang kemudian dikarunia 2 orang anak, ternyata rasa penasaran tentang siapa pemberi daun telinga kepadanya belum juga terjawab. Kepada sang Ayah hal ini sering ia tanyakan namun sang Ayah tetap mengatakan “Suatu saat kau akan tahu, nak! ”
Hingga suatu saat yang paling menyedihkan menimpa keluarga ini, sang Ibunda tercinta meninggal dunia karena sakit. Rasa kehilangan yang tidak terhingga dirasakan oleh sang anak tunggal ini, masih terbayang dalam dirinya ketika di diejek oleh rekan-rekannya, ibunyalah yang menguatkannya. Sang Ibu pula yang selalu mendorong dirinya untuk selalu menunjukkan prestasi gemilang dengan tidak melupakan berbagi pada sesama dan tetap bergantung pada ke-Maha Kuasa-an Sang Pencipta. Namun, kenangan itu tinggal kenangan, sang Ibu tercinta telah pergi untuk selama-lamanya. Saat akan memberikan ciuman terkhir pada jasad sang Ibu, dengan didampingi sang Ayah, si anak sempat terkesima ketika menyibakkan rambut ibunya. Ternyata ibunya tidak memiliki daun telinga lagi. Akhirnya teka-teki yang selama ini mengganjal di dalam batinnya pun terjawab sudah. Pantaslah, jika bertahun-tahun belakangan ini sang Ibu selalu berkata bahwa ia lebih suka memanjangkan rambutnya. Rupanya, ia tidak ingin si anak tahu jika yang mendonorkan daun telinga itu adalah ibunya sendiri. Sang anak pun menangis di samping jasad ibunya. Ia menangis sambil terus mecium dan memeluk jasad ibunya. Betapa terkejutnya si anak ketika mengetahui sang ibunyalah yang mendonorkan daun telinga kepada dirinya. Dari hati kecil yang paling dalam, sang anak merasakan betapa besar kasih sayang dan pengorbanan ibunya kepada dirinya. Kasih sayang dan pengorbanan ibunyalah yang menjadikan sang anak tetap tegar dan tabah menjalani kehidupan. Padahal dirinya belum dapat memberikan dan menggantikan kasih sayang dan pengorbanan sang ibu kepada dirinya.


dikutip dari edukasi.kompasiana.com/2010/12/26/daun-telinga-sang-ibu-kisah-kasih-sayang-dan-pengorbanan-seorang-ibu/

Sabtu, 11 Juni 2011

Tiga Karung Beras



Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang.
Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.
Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.
Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.
Dan kemudian berkata kepada ibunya: ” Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah”. Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : “Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana”.
Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya.
Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.
Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.
Pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : ” Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran”. Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.
Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: “Masih dengan beras yang sama”. Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : “Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya” .
Sang ibu sedikit takut dan berkata : “Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : “Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras”. Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.
Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: “Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !”.
Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: “Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis”. Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.
Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: “Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi.”
Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya. Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan kesekolah.
Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: “Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu.” Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: “Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini.”
Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point.
Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.
Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.
Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : “Inilah sang ibu dalam cerita tadi.”
Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik keatas mimbar.
Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: “Oh Mamaku…… ……… …
Moral of Story :
Pepatah mengatakan: “Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan” Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya. Mulai sekarang, katakanlah kepada mama dimanapun mama kita berada dengan satu kalimat: ” Terimakasih Mama.. Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu. .. selamanya”

Kamis, 21 April 2011

Chen Yurong, Berjalan kaki sejauh 200 km Demi Selamatkan Anaknya

Wuhan - Meskipun usianya telah mencapai 55 tahun, seorang perempuan di China tengah berjalan kaki 10 kilometer setiap hari selama tujuh bulan agar bisa menurunkan berat badan dan menyelamatkan nyawa putranya.
Chen Yurong berjalan kaki lebih dari 2.000 kilometer secara keseluruhan setelah diberitahu bahwa putranya, yang berusia 31 tahun, Ye Haibin, memerlukan cangkok liver, tapi livernya sendiri tak cocok karena telah tertimbun sangat banyak lemak, kata beberapa dokter kepadanya pada Februari.
Dalam upaya membuat livernya "siap untuk pencangkokan", Chen berjalan di sepanjang tanggul sungai di dekat rumahnya di Kabupaten Jiang`an, Provinsi Hubei, setiap hari. Ia juga menjalani diet, dan hanya makan nasi serta sayuran. Akhirnya ia kehilangan 8 kilogram.
Pada 19 Oktober, para dokter mengatakan liver Chen telah mencapai standard bagi pencangkokan.
Dalam operasi selama 14 jam di Rumah Sakit Tongji di bawah Universitas Sains dan Teknologi Huazhong di Wuhan, ibu kota provinsi tersebut, pada Selasa (3/11), Chen memberikan sebagian livernya kepada putranya.
Chen telah memutuskan pada Desember tahun lalu untuk mendonorkan livernya kepada putranya, yang selama 18 tahun telah menderita penyakit Wilson, penyimpangan gen yang disebabkan oleh penimbunan tembaga secara berlebihan di dalam tubuh, yang dapat mengakibatkan kemerosotan fungsi liver.
"Operasi tersebut berjalan lancar," kata ahli bedah Chen Xiaoping, ahli pencangkokan organ tubuh. "Kami meninggalkan sebagian liver Ye, yang akan berfungsi bersama dengan bagian yang dicangkokkan."
"Secara teori, hidup Ye dapat diperpanjang untuk waktu yang lama," katanya. "Chen adalah ibu yang luar biasa."
Chen dan putranya diagambarkan berada dalam kondisi stabil di rumah sakit. Rumah sakit itu memutuskan untuk membebaskan ibu dan anak tersebut dari biaya operasi.


sumber :(ANTARA/Xinhua-OANA) dan indoslide.blogspot.com

Kasih Sayang Seorang Ibu

Seorang anak menghampiri ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia mengulurkan sekeping kertas yang bertuliskan sesuatu. Si Ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang diulurkan oleh si anak dan membacanya.

Ongkos upah membantu ibu :
1) Membantu pergi Ke warung Rp 20.000
2) Menjaga adik Rp 20.000
3) Membuang sampah Rp 5.000
4) Membereskan tempat tidur Rp 10.000
5) menyiram bunga Rp 15.000
6) Menyapu halaman Rp 15.000

Jumlah : Rp 85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar. Si Ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.

1) Ongkos mengandungmu selama 9 bulan – GRATIS
2) Ongkos berjaga malam karena menjagamu – GRATIS
3) Ongkos air mata yang menetes karenamu – GRATIS
4) Ongkos Khawatir karena selalu memikirkan keadaanmu – GRATIS
5) Ongkos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu – GRATIS

Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku – GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, “Aku Sayang Ibu”. Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu di depan surat yang ditulisnya : “TELAH DIBAYAR LUNAS”.

Diriwayatkan seorang telah bertemu Rasul Allah Muhammad SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak mendapatkan layanan istimewa dariku ?”. Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Kemudian ???, Rasulullah menjawab, “Ibumu..” Kemudian ???, Rasulullah menjawab, “Ibumu..”. Kemudian Rasulullah menjawab, “Baru Kemudian Ayahmu dan setelah itu saudara-saudara terdekatmu”.

Maka, sebelum semuanya terlambat, dan sebelum kita menyesal, sebelum mereka tiada, sayangi dan perlakukan ibu kita sebaik mungkin yang bisa kita lakukan, karena sebesar apapun kekayaan yang kita berikan padanya, tidak akan bisa membayar keihlasan atas segala jerih payahnya membesarkan kita. Percayalah, jika kita berbuat yang kurang baik terhadap ibu kita, dampaknya akan terlihat di dunia ini. Memang benar, “surga itu ada di telapak kaki ibu“.

dikutip dari blog.isdaryanto.com