Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Minggu, 29 April 2012

Kasih Ibu Takkan Terbalas

 
Seseorang datang ke Rasulullah SAW. Ia bercerita telah menggendong ibunya di pundaknya sendirian selama menjalani seluruh rukun dan wajib haji.
Ia ingin mengetahui apakah perbuatannya itu telah dapat membalas kebaikan yang selama ini ditunjukkan ibunya di masa kanak-kanak. Rasulullah SAW menjawab, ”Tidak, semua yang telah kau kerjakan itu belum dapat membalas satu kali rasa sakit karena kontraksi rahim ketika ibumu melahirkanmu ke dunia.
Tanpa disadari, seringkali seorang anak berbuat maksiat kepada orang tuanya. Padahal, keberadaannya di dunia tak lepas dari keikhlasan kasih sayang keduanya, terlebih sang ibu yang telah mempertaruhkan nyawa dalam persalinan.


Tak jarang anak menuntut sesuatu yang meniadakan cinta dan pengorbanan mereka, walaupun sekadar ucapan ”… ah,” kepada ibunya. Allah SWT dalam QS Al-Israa’: 23 dengan tegas melarang seorang anak mengatakan itu. Ya..berkata “ah..” pada Ibu saja sudah dilarang apalagi menyakiti perasaan Ibu.
Lambat laun, hari bertambah hari, bulan berganti, usia Ibu kita menua. Kulit-kulit di wajah dan sekujur tubuhnya mulai keriput. Giginya mulai keropos. Mungkin entah esok, lusa, atau detik ini juga Ibu kita akan menemui Rabb kekasihnya.
Ibu tidak akan meminta balasan apa pun dari kita. Namun, kita sebagai seorang anak wajib menyayangi dan mengasihi ibu kita, buat selalu ibu kita tersenyum saat kita hadir di hadapannya.
Lakukan hal terbaik untuk Ibu kita.
Sesuatu akan terasa berharga manakala kita telah kehilangan

Sertakan selalu do’a untuk Ibu kita setiap selesai sholat.

Selasa, 10 April 2012

Ibu, "saya rela jadi tongkatnya ibu selamanya"

bakti-Li Yuanyuan-kepada-ibunya

Ada kisah mengharukan dari Tiongkok China, dimana seorang anak yang membalas jasa ibu dengan merawat penuh kasih sayang selama 21 tahun, bahkan saat sudah menikah dan punya anak sekalipun, dia tidak lupa sosok ibunya dan selalu merawatnya tanpa ada penolakan dan keberatan.
“Hawa udara di Changchun, Tiongkok, sangatlah dingin. Li Yuanyuan memanggul sang ibu yang lumpuh kedua kakinya sambil menggendong putrinya yang berusia dua tahun buru-buru ke rumah sakit karena sang ibu terkena serangan jantung lagi. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan memandang mereka bertiga dengan mata terbelalak, semua takjub melihat seorang wanita yang kelihatannya kurus lemah justru memiliki tenaga untuk memanggul satu orang sambil menggendong satu lagi…”
Menurut laporan “City Evening Post”, di pagi buta, 13 Pebruari 2008, Li Yuanyuan telah memakaikan baju bagi anak dan sang ibu yang baru sembuh dari sakitnya. Jam 10 pagi, Yuanyuan berjongkok di depan sang ibu, meletakkan kedua kaki ibu di pinggangnya lalu memanggul sang ibu, kemudian menggendong putrinya yang berdiri di atas tempat tidur.
Kedua tangan Yuanyuan dipakai untuk menyangga sang ibu, sedangkan sang ibu membantu merangkul cucunya mengitari leher Yuanyuan. Dengan cara inilah tiga orang tersebut saling berangkulan dengan susah payah keluar dari rumah sakit. Sang ibu telah lumpuh selama 21 tahun, selama 21 tahun itu pulalah Yuanyuan terbiasa memanggul sang ibu keluar masuk rumah sakit.
Ketika Yuanyuan berusia 7 tahun terjadilah sebuah kecelakaan lalu lintas yang benar-benar telah merubah kehidupannya. Karena kecelakaan ini ibunda mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang diperparah dengan menghilangnya sang ayah.

Sejak saat itu, Yuanyuan menjadi tulang punggung rumah tangga. Karena tidak ada penghasilan Yuanyuan menghidupi keluarga dengan menjadi pemulung, uang hasil kerja kerasnya habis terpakai untuk mengurus sang ibu.
Rasa bakti Yuanyuan kepada orang tua sangat menyentuh hati para tetangga, banyak tetangga yang dengan sukarela memberi bantuan kepada sang ibu dan putrinya ini. Karena sepanjang tahun hanya mampu berebahan, otot kaki sang ibu sering kejang, sakitnya tak tertahankan.
Ada seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang dokter tradisional tua, setiap hari membantunya memberikan terapi akupunktur terhadap ibu Yuan-yuan, bahkan mengajarnya menggunakan teknik akupunktur sederhana. Sejak berusia 11 tahun sampai sekarang, Yuanyuan sudah dapat menggunakan teknik akupunktur untuk meringankan rasa sakit ibunya.

Tiga tahun yang lalu, Yuan-yuan menikah, setahun kemudian, Yuanyuan melahirkan seorang putri. Namun di mana pun dan kapan pun, Yuanyuan tidak pernah meninggalkan sang ibu, dia dan suaminya bersama-sama memikul tanggung jawab mengurus sang ibu.

Meskipun rumah tangganya tidak terbilang kaya, mereka sangatlah puas. Sang ibu berkata, terkenang masa 21 tahun ini meskipun penuh penderitaan, namun dia sangat puas, dia merasa diri-nya sama dengan orang tua lain yang juga telah menikmati kehangatan keluarga.
Bagi Yuanyuan, selama 21 tahun ini, dia merasa dirinya sangat bahagia, karena dia adalah seorang anak yang masih memiliki seorang ibu.
Sungguh suatu rasa bakti yang sangat luar biasa dari anak kepada seorang Ibu, semoga kisah tersebut kita dapat memetik hikmah di dalamnya.

Minggu, 08 April 2012

" Bunga Untuk Seorang Ibu "


Pagi itu, seorang pria tampak turun dari mobil mewahnya. Ia bermaksud untuk membeli sebuah kado di kompleks pertokoan itu. Besok adalah hari Ibu, dan ia bermaksud untuk membeli lalu mengirimkan sebuah hadiah lewat pos untuk ibunya di kampung. Seorang Ibu yang pernah ia tinggal pergi beberapa tahun lalu untuk kuliah, mencari nafkah, dan mengejar kesuksesan di kota besar ini. Langkah-langkah pria itu terhenti di depan sebuah toko bunga. Ia melihat seorang gadis cantik. Ternyata, gadis itu adalah adik tingkatnya semasa kuliah dulu. Gadis itu terlihat sedang memandangi lesu rangkaian bunga-bunga indah di etalase. Matanya terlihat dengan jelas tengah berkaca-kaca, air mata nya hendak meleleh, seperti akan menangis.

Setelah cerita cerita lalu dilantunkan, pria itu lalu bertanya Ada apa denganmu ? Ada apa dengan bunga-bunga itu ?

Aku ingin memberi salah satu rangkaian bunga mawar ini untuk ibu saya, gadis cantik itu melanjutkan, Seumur hidup, saya belum pernah memberikan bunga seindah ini untuk ibu.

Kenapa tidak kau beli saja ? Ini bagus, kok. Cerita pria tersebut sambil turut mengamati salah satu karangan bunga.

Uang saya tidak cukup.

Ya sudah, pilih saja salah satu, aku yang akan membayarnya. Pria itu menawarkan diri sambil tersenyum.

Akhirnya gadis itu mengambil salah satu karangan bunga. Dengan ditemani sang pria, gadis itu lalu menuju kasir. Pria itu juga menawarkan diri mengantar si gadis pulang ke rumah untuk memberikan bunga itu kepada ibunya. Gadis itu pun bersedia.

Dua orang itu lalu melaju menggunakan mobil menuju ke sebuah tempat yang ditunjukkan oleh si gadis. Hati pria itu terperanjat ketika gadis cantik itu ternyata mengajaknya ke sebuah kompleks pemakaman umum.

Setelah memarkir mobil, pria itu lalu mengikuti langkah-langkah si gadis. Dengan sangat terharu gadis itu lalu meletakkan karangan bunga itu ke makam ibunya. Seorang ibu yang memang belum pernah dilihat gadis itu seumur hidupnya. Ibu itu dulu meninggal saat melahirkan gadis itu.

Melihat kejadian itu, setelah mengantarkan gadis itu pulang ke rumah, sang pria membatalkan niatnya untuk membeli dan mengirimkan kado bagi ibunya.

Siang itu juga, pemuda itu langsung memacu mobilnya . . . pulang ke kampungnya . . . untuk melihat wajah ibu yang dia rindukan selama ini . . . untuk mencium kakinya dan memeluk erat tubuh dan hati lembutnya . . .

Jumat, 06 April 2012

sayangi ibu kita


Seorang Ibu duduk di kursi rodanya suatu sore di tepi danau,
ditemani anaknya yang sudah mapan dan berkeluarga.
Si ibu bertanya " Itu burung apa yg berdiri disana ?"
"Bangau mama" anaknya menjawab dengan sopan.
Tak lama kemudian si mama bertanya lagi.
"Itu yang warna putih burung apa?"
Sedikit kesal anaknya menjawab " Ya Bangau mama"
Kemudian ibunya kembali bertanya " Lantas itu burung apa ?" Ibunya menunjuk burung Bangau tadi yang sedang terbang. Dengan nada kesal si anak menjawab "ya Bangau mama.
Kan sama saja!..memangnya mama gak liat dia terbang ?"

Air menetes dari sudut mata si ibu sambil berkata pelan "Dulu 35 tahun yang lalu aku memangkumu dan menjawab pertanyaan yang sama untukmu sebanyak 10 kali. Saat ini aku hanya bertanya 3 kali, tetapi kau membentakku 2 kali "
Si anak terdiam dan memeluk ibunya.

Pernahkah kita memikirkan apa yang telah diajarkan oleh seorang mama/ibu
kepada kita? Sayangilah ibu kita dengan sungguh-sungguh karena surga berada di telapak kaki Ibu.

Segerakan memohon ampun jika kita pernah menyakiti hati Ibu sebelum segalanya terlambat.


dikutip dari http://dhammacitta.org

Kisah Pohon Apel Dan Seorang Anak Kecil


Suatu ketika hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. ” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah .” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. ” “Oooh, bagus sekali.. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua… Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.


dikutip dari http://tanbihun.com

Senin, 02 April 2012

balasan bagi ibu yang baik


Dari Anas bin Malik r.a.: Seorang perempuan menemui ‘A’isyah r.a.. kemudian ‘A’isyah memberinya tiga buah kurma. Lalu perempuan itu memberikan kurma kepada dua anaknya, masing-masing satu buah kurma. Ia sendiri memegang sebuah kurma untuk dirinya. Setelah kedua anak itu menghabiskan kurma masing-masing, mereka-memandang kepada ibunya. Perempuan itu membelah kurma yang ada ditangannya dan membagikannya kepada kedua anaknya.

Kemudian Rasulullah Saw datang dan ‘A’isyah memberitahukan hal tersebut kepadanya. Rasulullah Saw. bersabda : ”Apa yang membuatmu kagum terhadap hal itu ? ALLAH telah merahmatinya karena kasih sayangnya kepada anak-anaknya.” (HR. Al-Bukhari)

Seorang ibu adalah lambang belas kasih, pengorbanan dan kebesaran hati. Ibu menanggung sendiri semua beban sejak mengandung, melahirkan, menyusui hingga menyapih.

Kontribusi ibu selama periode ini – utamanya dalam mempertaruhkan nyawa pada situasi kritis – seperti kontribusi pejuang atau mujahid dijalan ALLAH. Jika ibu meninggal dalam masa itu (melahirkan) ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mati syahid.

Seorang ibu dengan segala perhatian dan kasih sayangnya, selalu menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang saleh. Untuk itu ia menjaga dan mendidik mereka sesuai dg nilai-nilai Islam yang benar.

Dengan cara seperti itu, ibu seperti menanam sebatang pohon yang kuat dan baik di taman Islam. Menanamkan cinta jihad dan dakwah untuk Islam.

Seorang ibu menyuburkan tanaman Islam dalam jiwa anak-anaknya dengan membiasakan shalat, mengaji, mengajari mereka berpuasa dan segala kebaikan dg penuh kasih sayang. Harapannya agar buah hatinya mempunyai akhlak yang luhur dan mulia.

Seorang ibu berusaha menjadikan dirinya suri teladan yang baik bagi anak-anaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang ibu akan bersabar dalam menghadapi segala ujian serta berteguh hati menjalankan tugas yang telah dianugerahkan dan diamanahkan ALLAH SWT kepadanya dengan tulus dan ikhlas.

Sebagai penghargaan atas peran besar dan kasih sayang ibu bagi kehidupan anak-anak, ALLAH membalasnya dengan menempatkannya sebagai sosok paling berhak mendapatkan perlakuan istimewa dari anak-anaknya.

ALLAH juga menjadikan surga berada dibawah telapak kakinya…

Wallahu a’lam.