Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Kamis, 31 Mei 2012

kemuliaan Ibunda Imam Syafi'i

Imam an-Nawawi pernah menceritakan bagaimana peran orangtua perempuan di belakang penguasaan Imam Syafi‘i terhadap fiqh. Ibu Imam Syafi’i adalah seorang wanita berkecerdasan tinggi tapi miskin. Namun bisa dikatakan kesetiaannya berada di belakang sang anaklah yang menjadikan Imam Syafi’i menjadi ilmuwan sejati hingga saat ini.
Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, meski hidup tanpa suami, sang ibu telah sukses menerjemahkan visi jangka panjang untuk membawa nama harum sang anak ke hadapan Allahuta’ala. Sekalipun hidup dalam sebatang kara, hal itu tidak menghalangi sang ibu untuk menempatkan anaknya dalam kultur pendidikan agama yang terbaik di Mekkah.
Sang ibu sadar, ia tidak memiliki banyak uang, namun kecintaananya terhadap Allah dan buah hatinya, sang ibu meluluhkan hati sang guru untuk rela mengajar Imam Syafi’i meski tanpa bayaran.
Sekalipun hidup dalam kemiskinan, kecintaan Imam Syafi’i tak sama sekali membuatnya pantang menyerah dalam mencintai Islam dan menimba ilmu. Beliau sampai harus mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta semata-mata demi kecintaannya dalam menulis Islam. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi.
Hingga pada usia sebelum beranjak ke 15 tahun, Imam Syafi’i menceritakan hasratnya kepada sang ibu yang sangat dikasihinya tentang sebuah keinginan seorang anak untuk menambah ilmu diluar Mekkah. Mulanya sang bunda menolak. Berat baginya melepaskan Syafi’i, dalam sebuah kondisi dimana beliau berharap kelak Imam Syafi’i tetap berada bersamanya untuk menjaganya di hari tua.
Namun demi ketaatan dan kecintaan Syafi’i kepada Ibundanya, maka mulanya beliau terpaksa membatalkan keinginannya itu. Meskipun demikian akhirnya sang ibunda mengizinkan Imam Syafi’i untuk memenuhi hajatnya untuk menambah Ilmu Pengetahuan ke luar kota.
Sebelum melepaskan Syafi’i berangkat, ibunda Imam Syafi’i menjatuhkan doa ditengah rasa haru orangtua kandung memiliki anak yang telah jatuh hati pada ilmu,
“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh Alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut Ilmu Pengetahuan peninggalan Pesuruhmu. Oleh karena itu aku bermohon kepadaMu ya Allah permudahkanlah urusannya. Peliharakanlah keselamatanNya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan Ilmu Pengetahuan yang berguna, amin!”
Setelah usai berdo’a, sang ibu memeluk Syafi’i kecil dengan penuh kasih sayang bersama linangan air mata membanjiri jilbabnya. Ia sangat sedih betapa sang anak akan segera berpisah dengannya. Sambil mengelap air mata dari wajahnya, sang ibu berpesan,
“Pergilah anakku. Allah bersamamu. Insya-Allah engkau akan menjadi bintang Ilmu yang paling gemerlapan dikemudian hari. Pergilah sekarang karena ibu telah ridha melepasmu. Ingatlah bahwa Allah itulah sebaik-baik tempat untuk memohon perlindungan!” Subhanallah
Selepas mendengar doa itu, Imam Syafi’i mencium tangan sang ibu dan mengucapkan selamat tinggal kepada ibunya. Sambil meninggalkan wanita paling tegar dalam hidupnya itu, Imam Syafi’i melambaikan tangan mengucapkan salam perpisahan. Ia berharap ibundanya senantiasa mendo’akan untuk kesejahteraan dan keberhasilannya dalam menuntut Ilmu.
Imam Syafi’i tak sanggup menahan sedihnya, ia pergi dengan lelehan airmata membanjiri wajahnya. Wajah yang mengingatkan pada seorang ibu yang telah memolesnya menuju seorang bergelar ulama besar. Ya ulama besar yang akan kenang sampai kiamat menjelang.
Itulah peran yang ditopang seorang ibu yang selalu memasrahkan buah hatinya kepada Allah berserta kekuatan tauhid yang menyala-nyala. Inilah karakter sejati seorang ibu yang telah menyerahkan jiwa raga anaknya hanya kepada ilmu. Menyerahkan segala aktivitasnya dalam rangka pengabdian kepada Allah. Dari mulai ia melahirkan, mengasuhnya tanpa suami, membesarkannya, hingga mengantar Syafi’i menjadi Imam Besar Umat Islam hingga kini.

sumbar eramuslim.com
dikutip dari mejapojok.wordpress.com

Rabu, 30 Mei 2012

Cinta Ibu Sungguh Tulus

Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu.
Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam.
Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.
Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.
Saat kau berumur 3 tahun, memasakkan semua makananmu dengan kasih
sayang.
Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.
Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna
Sebagai balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan
Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang
mahal dan indah.
Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur
dekat rumah
Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi kesekolah.
Sebagai balasannya, kau berteriak.”NGGAK MAU!!”
Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola.
Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga.
Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim.
Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.
Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus pianomu. Sebagai
balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah  berlatih.
Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam
renang hingga pesta ulang tahun
Sebagai balasannya, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam.
Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke  bioskop.
Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain
Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV
khusus orang dewasa.
Sebagai balasannya, kau tunggu dia sampai di keluar rumah
Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut,
karena sudah waktunya
Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.
Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu selama
sebulan liburan.
Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya..
Saat kau berumur 15 tahun, pulang kerja ingin memelukmu
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.
Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa
peduli kepentingannya.
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.
Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan
mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang
agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.
Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, “Dari mana saja seharian  ini?”
Sebagai balasannya, kau jawab,”Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu
urusan orang!”
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus
untuk karirmu di masa depan.
Sebagai balasannya, kau katakan,”Aku tidak ingin seperti Ibu.”
Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus
perguruan tinggi
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.
Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furnitur untuk
rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya
furnitur itu.
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya
tentang rencananya di masa depan
Sebagai balasannya, kau mengeluh,”Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok
bertanya seperti itu?”
Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai penikahanmu
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari
500km.
Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana
merawat bayimu.
Sebagai balasannya, kau katakan padanya,”Bu, sekarang jamannya sudah
berbeda!”
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta
ulang tahun salah seorang kerabat.
Sebagai balasannya, kau jawab,”Bu, saya sibuk sekali, nggak ada
waktu.”.
Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan
perawatanmu
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang
menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang.
Dan tiba-tiba kau teringat banyak hal yang belum pernah kau lakukan
untuk dia.
Perasaan bersalah datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam,
tanpa akhir.
*JIKA BELIAU MASIH ADA, JANGAN LUPA MEMBERIKAN KASIH *
SAYANGMU HARUS LEBIH DARI YANG PERNAH KAU BERIKAN SELAMA INI.
[DAN JIKA BELIAU SUDAH TIADA, INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA  YANG
TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU?]
Semuanya belum terlambat jika kita mau untuk memperbaikinya.

dikutip dari  http://whira06.wordpress.com

Jumat, 25 Mei 2012

Sebuah Kisah anak berbakti kepada sang IBU

ini adalah kisah anak yang berbakti pada ibunya yang pernah terjadi disalahsatu pengadilan saudi arabia berikut kisahnya :
Di salah satu pengadilan Qasim, berdiri Hizan al Fuhaidi dengan air mata yang bercucuran sehingga membasahi janggutnya,,!! Kenapa? Karena ia kalah terhadap perseteruannya dengan saudara kandungnya!!
Tentang apakah perseteruannya dengan saudaranya?? Tentang tanah kah?? atau warisan yg mereka saling perebutkan kah??
Bukan karena itu semua!! Ia kalah terhadap saudaranya terkait pemeliharaan ibunya yang sudah tua renta & bahkan hanya memakai sebuah cincin timah di jarinya yang telah keriput,,
Seumur hidupnya, beliau tinggal dengan Hizan yang selama ini menjaganya,,
Tatkala beliau telah manula, datanglah adiknya yang tinggal di kota lain, untuk mengambil ibunya agar tinggal bersamanya, dengan alasan, fasilitas kesehatan dll di kota jauh lebih lengkap daripada di desa,,
Namun Hizan menolak dengan alasan, selama ini ia mampu untuk menjaga ibunya. Perseteruan ini tidak berhenti sampai di sini, hingga berlanjut ke pengadilan!!
Sidang demi sidang dilalui,, hingga sang hakim pun meminta agar sang ibu dihadirkan di majelis..
Kedua bersaudara ini membopong ibunya yang sudah tua renta yang beratnya sudah tidak sampai 40 Kg!!
Sang Hakim bertanya kepadanya, siapa yang lebih berhak tinggal bersamanya. Sang ibu memahami pertanyaan sang hakim, ia pun menjawab , sambil menunjuk ke Hizan, “Ini mata kananku!” kemudian menunjuk ke adiknya sambil berkata, “Ini mata kiriku!!
Sang Hakim berpikir sejenak kemudian memutuskan hak kepada adik Hizan, berdasar kemaslahatan bagi si ibu!!
Betapa mulia air mata yang dikucurkan oleh Hizan!!
Air mata penyesalan karena tidak bisa memelihara ibunya tatkala beliau telah menginjak usia lanjutnya!!
Dan, betapa terhormat dan agungnya sang IBU!! yang DIPEREBUTKAN oleh anak-anaknya hingga seperti ini!
Andaikata kita bisa memahami, bagaimana sang ibu mendidik kedua putranya hingga ia menjadi RATU DAN MUTIARA TERMAHAL bagi Putra-putrinya..
Ini adalah pelajaran mahal tentang berbakti, tatkala durhaka sudah menjadi budaya..
“Ya ALLAH.. Anugerahkan kepada kami keridhoan IBU kami dan berilah kami kekuatan agar BISA SELALU BERBAKTI.

dikutip dari  http://kawanlama95.wordpress.com

Kamis, 24 Mei 2012

saat ini, hanya ini baktiku padamu IBU.

setiap kali saya bertanya pada ibu apa yang bisa membahagiakanmu ibu, dia akan selalu menjawab setiap yang membuatmu bisa bahagia dunia dan akhirat, yang membuatmu selamat dunia akhirat, itulah yang membuatku bahagia nak.

ya..jujur seperti itulah selalu jawaban ibu saya setiap waktu setiap saat tanpa keinginan lainnya.

dimanapun berada yang dia tanyakan hanyalah tetek bengek kehidupan yang sederhana keseharian kita sebagai seorang yang jauh dari orang tua, seperti, apa kamu sehat-sehat saja nak ditempat orang ?, apa kamu sudah makan dan lainnya yang diri kita sendiri tidak memperhatikannya namun ibulah yang lebih paham keadaan anak-anaknya melebihi perhatian kita pada diri sendiri, itulah ibu.

namun ada satu yang membuatku selalu heran mengapa ibu selalu bisa pahami keadaanku meski sadar jarak yang jauh memisahkan dan setiap kali aku bertanya mengapa ibu bisa selalu paham keadaanku meski kita berada berjauhan, ibu akan selalu menjawab bukankah kamu itu ada dalam kandungan ibu dulu, bukankah kita itu satu pada awalnya, bukankah kau ada dirahimku dulu sebelum kamu lahir kedunia ini, ya..itulah jawaban ibu setiap kali bisa "menebak" keadaanku dirantau yang jauh ini baik serta buruknya dan jujur ibu selalu benar adanya. sungguh seperti itulah firasat seorang ibu.

saat ini bapak dan ibu tinggal dirumah tanpa saya dan adik perempuanku yang sudah berkeluarga sebab hanya kamilah berdua anak-anaknya, seakan saya selalu merasa tidak menjadi anak yang berbakti meninggalkan mereka berdua yang dalam pikiranku sungguh merasa sangat bersalah dan sungguh jauh dari predikat anak yang berbakti, setiap pulang saya akan selalu menyempatkan diri untuk mencium kaki ibu dan tangan bapak namun sesungguhnya bagiku itu hanyalah sebuah pengabdian yang belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mereka yang berpredikat anak yang berbakti yang sesungguhnya.

saat ini dengan jarak yang jauh dipisahkan oleh lautan luas hanya ini yang bisa aku berikan sebagai seorang anak, ya..hanya menemuimu sesekali dan DO'A semoga IBU dan BAPAK saat ini selalu diberi kesehatan dan umur panjang yang penuh dengan IMAN, hanya itu yang bisa kulakukan, selebihnya saat ini saya belum mampu IBU, sungguh hanya inilah baktiku IBU, sungguh ini bakti yang jauh dari sempurna.

Senin, 21 Mei 2012

Kasih Ibu Sepanjang Hayat

Kisah berikut ini diceritakan oleh Ustadz Arifin Ilham,  yang 'mengilhami' hidup banyak orang untuk bersyukur dan berdzikir sepanjang waktu. Ustadz yang pernah dipatuk ular hingga lumpuh seluruh badan, namun diberi kesembuhan karena kegigihannya ke mesjid setiap sholat lima waktu dengan merangkak (ngesot) hingga mampu berjalan.
Ustadz Arifin mengaku mendengar cerita menyentuh ini dari gurunya, Ustadz Didiek. Menurut sang Guru, pada suatu hari, seorang pengusaha sukses menceritakan kisah hidupnya sambil berlinangan air mata. Inilah yang dia tuturkan:
Dulu ibuku hanya memiliki satu mata. Karena itu aku membencinya. Keadaan tersebut menjadikanku selalu dalam kesulitan. Dia bekerja sebagai tukang masak di sekolah tempatku belajar, untuk membantu kehidupan keluargaku.
Suatu hari, saat aku duduk di bangku SD, ibu pernah menghampiriku untuk sekedar menghibur. Saat itu saya merasa begitu tidak nyaman. Saya memandangnya dengan penuh kebencian.

Keesokan harinya, seorang temanku bertanya, "Ibumu cuma mempunyai satu mata?" Ooooh... Sungguh saat itu aku ingin mengubur diriku, menjauhkan ibuku dari kehidupanku.
Lalu kutemui ibu, dan kumaki dia, "Engkau telah menjadikanku bahan tertawaan. Mengapa engkau tidak mati saja?" Tapi Ia hanya diam tidak menjawab. Aku mengatakan hal itu tanpa ragu sedikitpun, dan tidak memikirkan isinya. Sebab, waktu aku marah sekali.

Aku tidak pernah peduli dengan perasaan ibu. Aku ingin sekali meninggalkan rumah yang kutempati bersama ibuku. Oleh karenanya aku belajar dengan giat sekali, sehingga mendapatkan beasiswa ke Singapura.

Akupun berangkat ke Singapura dan belajar dengan giat. Setelah lulus S1 dan S2 dengan predikat cumlaude, aku pun mendapat pekerjaan bagus dan meretas karier di Jakarta.

Tak lama kemudian aku menikah dan membeli sebuah rumah yang besar. Kami dikaruniahi dua orang anak, satu anak perempuan yang cantik, satu lagi anak lelaki yang taman. Sungguh hidupku amat bahagia.

Suatu hari ibuku datang mngunjungiku. Sudah lama sekali Ia tidak melihatku, dan sama sekali belum pernah melihat cucu-cucunya. Begitu melihat ibuku, anak-anakku menjerit ketakutan. Akupun berteriak, "beraninya engkau datang ke sini dan membuat anak-anakku ketakutan. Cepat keluar!"

Saat itu Ia menjawab, "Maaf, sepertinya saya salah alamat". Ia pun pergi meninggalkan kami. Kejadian itu pun akhirnya terlupakan oleh keluarga kami. Tapi tidak akan terlupakan bagi ibuku.

Suatu hari, sepucuk surat mampir ke rumahku. Rupanya itu surat ajakan reuni SD. Aku berbohong pada istriku. Kubilang ada tugas yang harus aku tunaikan. Setelah pertemuan kangen-kangenan, aku pergi ke rumahku dulu, untuk sekedar menengok saja. Para tetangga memberitahuku bahwa ibuku telah meninggal.

Tak ada satu butirpun airmata yang jatuh dari kelopak mataku, sampai tetanggaku berdiri mnyerahkan kepadaku sepucuk surat dari ibu. Aku baca surat itu perlahan-lahan.

Wahai anakku, ibu selalu merasa bersalah tatkala mengunjungimu di Jakarta. Aku menyesal telah mengganggumu dan  membuat anak-anakmu merasa ketakutan.

Ibu amat bahagia saat mendengar engkau akan datang dalam pertemuan reuni di sekolahmu. Namun ibu khawatir tidak bisa menemuimu karena tidak bisa bangkit dari tempat tidur akibat kanker yang memggerogoti ibu selama bertahun-tahun.

Melalui surat ini ibu meminta maaf, karena telah mengganggumu dari waktu ke waktu. Tahukah engkau bahwa sewaktu kecil kamu pernah mngalami kecelakaan yang merenggut satu matamu. Ibu tidak tega jika engkau dewasa hanya dengan satu mata. Oleh karena itu, ibu berikan bola mataku kepadamu.

Betapa bahagianya ibu karena kamu akhirnya tetap bisa mlihat keindahan dunia, lengkap dengan dua mata. Betapa bahagianya ibu melihat kamu sukses dalam pendidikan dan karir. Betapa bahagianya ibu.... Meskipun ibu tidak bisa mendekatimu dan keluargamu.

Wahai anakku, kutulis surat ini untukmu dengan penuh cinta dan kasih.


--------

Nabi Muhammad, Rasulullah bersabda, "Wail!... Wail!... Wail!... (Celaka!... Celaka!... Celaka!...)".
"Siapa yang celaka ya Rasulullah?" tanya seorang sahabat.
Rasulullaah pun menjawab, "Orang tuanya masih hidup, tetapi Ia masuk neraka karena durhaka".

Semoga kita tidak termasuk orang yang celaka!

dikutip dari berbagai sumber

Selasa, 15 Mei 2012

sayangi ibu..


Ketika mengandung ibu sabar menahan segala rasa, dari mual hingga sakit kepala.
Setiap hari  ibu mengelus dan  mengajak bicara, walau kita belum lahir kedunia.
Saat melahirkan tiba, ibu meregang nyawa menahan sakit yg berjuta rasa.
Semua hilang sirna berganti bahagia, mendengar tangis pertama kita.

Jelang remaja tanpa lelah ibu menasihati agar pandai menjaga diri
Sesudah dewasa dan mandiri , seakan ibu kita tak penting lagi.
Jika ibu rindu ingin berjumpa, alasan kita banyak sekali
Sehari tak bertemu kekasih, hati gelisah setengah mati.

Sesudah menikah ibu tinggal bersama , kita jadikan ibu pengasuh anak kita.
ibu terus saja memberikan kasih sayangnya seperti yang dulu-dulu kala.
Ketika ibu mulai tua dan tak berdaya, rumah jompo pilihan kita.
Inikah balasan pada ibu yg mengasihi kita tanpa pamrih? 

Sebelum terlambat, minta maaflah pada ibu, karena hari esok kita tak tahu.
Ingatlah selalu surga ada di telapak kaki ibu.


dikutip dari  http://sosbud.kompasiana.com dengan sedikit tambahan.