Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Senin, 21 Mei 2012

Kasih Ibu Sepanjang Hayat

Kisah berikut ini diceritakan oleh Ustadz Arifin Ilham,  yang 'mengilhami' hidup banyak orang untuk bersyukur dan berdzikir sepanjang waktu. Ustadz yang pernah dipatuk ular hingga lumpuh seluruh badan, namun diberi kesembuhan karena kegigihannya ke mesjid setiap sholat lima waktu dengan merangkak (ngesot) hingga mampu berjalan.
Ustadz Arifin mengaku mendengar cerita menyentuh ini dari gurunya, Ustadz Didiek. Menurut sang Guru, pada suatu hari, seorang pengusaha sukses menceritakan kisah hidupnya sambil berlinangan air mata. Inilah yang dia tuturkan:
Dulu ibuku hanya memiliki satu mata. Karena itu aku membencinya. Keadaan tersebut menjadikanku selalu dalam kesulitan. Dia bekerja sebagai tukang masak di sekolah tempatku belajar, untuk membantu kehidupan keluargaku.
Suatu hari, saat aku duduk di bangku SD, ibu pernah menghampiriku untuk sekedar menghibur. Saat itu saya merasa begitu tidak nyaman. Saya memandangnya dengan penuh kebencian.

Keesokan harinya, seorang temanku bertanya, "Ibumu cuma mempunyai satu mata?" Ooooh... Sungguh saat itu aku ingin mengubur diriku, menjauhkan ibuku dari kehidupanku.
Lalu kutemui ibu, dan kumaki dia, "Engkau telah menjadikanku bahan tertawaan. Mengapa engkau tidak mati saja?" Tapi Ia hanya diam tidak menjawab. Aku mengatakan hal itu tanpa ragu sedikitpun, dan tidak memikirkan isinya. Sebab, waktu aku marah sekali.

Aku tidak pernah peduli dengan perasaan ibu. Aku ingin sekali meninggalkan rumah yang kutempati bersama ibuku. Oleh karenanya aku belajar dengan giat sekali, sehingga mendapatkan beasiswa ke Singapura.

Akupun berangkat ke Singapura dan belajar dengan giat. Setelah lulus S1 dan S2 dengan predikat cumlaude, aku pun mendapat pekerjaan bagus dan meretas karier di Jakarta.

Tak lama kemudian aku menikah dan membeli sebuah rumah yang besar. Kami dikaruniahi dua orang anak, satu anak perempuan yang cantik, satu lagi anak lelaki yang taman. Sungguh hidupku amat bahagia.

Suatu hari ibuku datang mngunjungiku. Sudah lama sekali Ia tidak melihatku, dan sama sekali belum pernah melihat cucu-cucunya. Begitu melihat ibuku, anak-anakku menjerit ketakutan. Akupun berteriak, "beraninya engkau datang ke sini dan membuat anak-anakku ketakutan. Cepat keluar!"

Saat itu Ia menjawab, "Maaf, sepertinya saya salah alamat". Ia pun pergi meninggalkan kami. Kejadian itu pun akhirnya terlupakan oleh keluarga kami. Tapi tidak akan terlupakan bagi ibuku.

Suatu hari, sepucuk surat mampir ke rumahku. Rupanya itu surat ajakan reuni SD. Aku berbohong pada istriku. Kubilang ada tugas yang harus aku tunaikan. Setelah pertemuan kangen-kangenan, aku pergi ke rumahku dulu, untuk sekedar menengok saja. Para tetangga memberitahuku bahwa ibuku telah meninggal.

Tak ada satu butirpun airmata yang jatuh dari kelopak mataku, sampai tetanggaku berdiri mnyerahkan kepadaku sepucuk surat dari ibu. Aku baca surat itu perlahan-lahan.

Wahai anakku, ibu selalu merasa bersalah tatkala mengunjungimu di Jakarta. Aku menyesal telah mengganggumu dan  membuat anak-anakmu merasa ketakutan.

Ibu amat bahagia saat mendengar engkau akan datang dalam pertemuan reuni di sekolahmu. Namun ibu khawatir tidak bisa menemuimu karena tidak bisa bangkit dari tempat tidur akibat kanker yang memggerogoti ibu selama bertahun-tahun.

Melalui surat ini ibu meminta maaf, karena telah mengganggumu dari waktu ke waktu. Tahukah engkau bahwa sewaktu kecil kamu pernah mngalami kecelakaan yang merenggut satu matamu. Ibu tidak tega jika engkau dewasa hanya dengan satu mata. Oleh karena itu, ibu berikan bola mataku kepadamu.

Betapa bahagianya ibu karena kamu akhirnya tetap bisa mlihat keindahan dunia, lengkap dengan dua mata. Betapa bahagianya ibu melihat kamu sukses dalam pendidikan dan karir. Betapa bahagianya ibu.... Meskipun ibu tidak bisa mendekatimu dan keluargamu.

Wahai anakku, kutulis surat ini untukmu dengan penuh cinta dan kasih.


--------

Nabi Muhammad, Rasulullah bersabda, "Wail!... Wail!... Wail!... (Celaka!... Celaka!... Celaka!...)".
"Siapa yang celaka ya Rasulullah?" tanya seorang sahabat.
Rasulullaah pun menjawab, "Orang tuanya masih hidup, tetapi Ia masuk neraka karena durhaka".

Semoga kita tidak termasuk orang yang celaka!

dikutip dari berbagai sumber

1 komentar:

  1. cerita yang sangat menginspirasi...alhamdulillah dapat ilmu baru dari cerita ini..terima kasih.

    BalasHapus