Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Sabtu, 30 Juni 2012

dikabulkannya Do'a seorang Ibu

Nabi Musa AS bermunajat kepada Allah SWT, “Ya Allah, tunjukkanlah siapa yang akan menjadi kawanku kelak di syurga?” Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Musa, “Wahai Musa, orang pertama yang melewati engkau di jalan ini dialah kawanmu di syurga”.
 
Tidak lama selepas itu, seorang pemuda melintas di depan Nabi Musa, maka beliau mengikutinya untuk mengetahui apa amalan pemuda tadi sehingga dia mendapat kedudukan mulia di syurga, berdampingan dengan para Nabi.
 
Beberapa langkah berlalu, kemudian si pemuda memasuki sebuah rumah, dia duduk bersimpuh di depan seorang wanita tua, lalu mengeluarkan sepotong daging dan memanggangnya, kemudian setelah cukup masak dia menyuapi wanita tua itu dengan perlahan dan penuh kasih sayang. Setelah selesai dia menuangkan air ke mulut wanita itu dan keluar.
 
     Nabi Musa bertanya, “Demi Kebesaran Allah, siapakah wanita ini?”, si pemuda yang belum tahu siapa yang bertanya ini menjawab, “dia adalah ibuku”. Nabi Musa bertanya lagi, “Apakah dia tidak mendoakan kamu?”, “Ya, dia selalu mendoakan saya setiap hari dengan satu doa, tidak pernah diganti dengan doa yang lain”, jawab pemuda itu.
 
“Apa doa yang dipanjatkannya?”, Tanya Nabi Musa lebih lanjut. Dia menjawab, “Ibuku itu berdoa, Ya Allah jadikanlah anakku ini bersama Musa bin ‘Imran di syurga”.
 
Nabi Musa senang dengan doa ini dan terlihat kegembiraan menyelimuti wajah beliau, lalu berkata, “Wahai pemuda, bergembiralah, Allah telah mengabulkan doa ibumu, akulah Musa bin ‘Imran”.
 
dikutip dari arifsttdimmymeanismyidea.blogspot.com

Jumat, 29 Juni 2012

Balotelli : Dua Gol Itu untuk Ibu Saya

Penyerang Italia Mario Balotelli mendedikasikan dua golnya ke gawang Jerman pada laga semifinal Piala Eropa 2012 kepada ibunda tercintanya. Ia menyebut pertandingan yang berakhir dengan skor 2-1 untuk Azzurri itu sebagai ‘malam terindah’ sepanjang kariernya.

“Saya mendedikasikan gol-gol itu untuk Ibu saya. Dia sudah lanjut usia tapi masih menyempatkan diri datang ke stadion malam ini. Saya sangat gembira karena saya ingin mencetak gol untuknya,” kata ujung tombak Manchester City itu kepada Rai Sport, Jumat (29/6).

Pemain 21 tahun itu juga mengungkapkan hasratnya untuk kembali mencetak gol di laga final melawan Spanyol. Apalagi, ayahnya juga berencana akan datang ke Stadion Olimpiade Kiev tempat dihelatnya laga puncak supremasi sepakbola benua biru itu, Ahad (1/7) waktu setempat.

“Saya harap bisa tampil lebih baik lagi Ahad besok. Ayah saya juga akan datang ke sini. Karena itu saya ingin mencetak gol lagi,” ujar mantan punggawa Inter Milan itu. 

Dua gol Balotelli di babak pertama membuat Italia tampil percaya diri menghadapi pasukan Der Panzer. Meski sempat dibalas oleh penalti Mesut Ozil jelang peluit panjang, dua gol itu cukup mengantarkan Azzurri ke final. salut untuk Mario Balotelli  !

dikutip dari republika.co.id

Rabu, 27 Juni 2012

Di Penghujung Penantian seorang Ibu

Hari itu…
“ALLAHuakbar.. ALLAHuakbar.. ALLAHuakbar..” gema takbir terdengar di sela-sela dengungan mesin mobil yang berlalu lalang. Saat itu pula bulan baru berganti menjadi  syawal, dan sang mentari masih malu-malu  menampakkan dirinya.  Dua buah mobil mewah berhenti di pekarangan rumah yang cukup tua, di rumah yang sepertinya sudah tak berpenghuni lagi. Dari salah satu mobil itu turun seorang lelaki muda yang terlihat gagah, dan dari mobil lain keluar seorang perempuan muda yang tampak cantik. Sepi, sunyi, dan penuh kesedihan, itulah suasana yang merasuki hati lelaki muda itu  saat ia mengetuk dan mulai masuk ke dalam rumah tua itu. Perlahan tapi pasti lelaki itu berjalan menuju meja yang berada di sudut ruangan itu dengan perempuan muda yang mengikuti langkahnya dari belakang. Sesaat sebelumnya dia mengamati dan memperhatikan ruangan yang sudah berdebu dan kumuh itu, dan tiba-tiba matanya terhenti pada sepucuk surat yang tergeletak di atas meja kecil. Dengan kecemasan dan keraguan yang jelas tergambar dari wajah dan tingkah laku yang di tunjukkan oleh lelaki itu, dia mulai membuka surat itu, lalu membacanya.

Assalamualaikum wr.wb.
Untuk abang dan ade, anak ibu yang sangat ibu rindukan, sangat ibu tunggu-tunggu kedatangannya, dan sangat ibu sayangi. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, kini anak-anak ibu sudah tumbuh besar. Tapi ibu masih suka mengingat masa kecil kalian, saat kalian masih senang bermain, bermain dokter-dokteran. Sampai-sampai corong air ibu di pakai juga buat main kalian,  ibu jadi tambah rindu kalian kalau ingat saat-saat itu. Ibu juga ingat saat ibu, abang, dan ade sedang bermain bersama di padang rumput nan hijau. Berlarian, bercanda, tertawa riang, Sungguh, hati ibu sangat senang nak, dan pada saat ade terjatuh di padang rumput itu, dan ade menangis karena kesakitan dengan luka di kaki ade, ibu lah yang ngobatin ade. Meski kita tidak bisa ke dokter karena jauh dari tempat tinggal tapi ibu selalu siap menjadi dokter bagi abang dan ade kala sedang sakit. Ibu ikhlas mengobati kalian, ibu tak pernah meminta balasan dari kalian. Ade pernah membuat hati ibu terenyuh dangan kata-kata ade. “ ibu..ibu.. ade mau belajar yang rajin agar bisa menjadi dokter. Nanti kalau ibu sakit, biar ade yang ngobatin. Boleeh yaa bu..”. Aduuh ibu sangat senang mendengarnya, tapi ibu juga kasian pada ade dan abang karena ibu sudah mendesak kalian untuk belajar dengan keras. Itu ibu lakukan karena ibu takut, ibu sangat takut nasib kalian seperti ibu  yang serba kekurangan ini. Ibu minta maaf yaa nak telah memaksa kalian. Ibu sungguh-sungguh minta maaf pada kalian. Ibu juga terkadang tak tega saat melihat ade yang rajin belajar sampai –sampai tak kenal waktu demi meraih cita-cita ade. Begitu pula dengan abang yang selalu mengeluh dan berputus asa dengan hasil lukisannya sendiri. Abang selalu menghina  lukisan abang. Abang selalu berkata kalau lukisan abang itu sangat jelek, tapi ibu selalu berusaha untuk menghibur abang dengan selalu berkata kalau lukisan abang adalah lukisan terindah yang pernah ibu lihat. Sehingga abang bertekad untuk menjadi fotografer, dan abang  berkata, “ kalau abang sudah jadi fotografer sukses, abang akan selalu memotret keluarga kita, dan akan menggantikan lukisan keluarga kita ini”. Ibu selalu berfikir, akankah mimpi kalian dapat terwujud? Akankah kalian menjadi orang yang sukses, seperti yang kalian inginkan? Ibu hanya bisa berdoa untuk kalian nak. tapi… tak terasa waktu berjalan begitu cepat, ibu sungguh tak menyangka kalau kalian akan menjadi orang yang sukses. Yaa.. kini kalian sudah menjadi orang yang sukses. Abang kini sudah menjadi fotografer  hebat, sampai-sampai abang menjadi sibuk. Padahal ibu selalu menantikkan abang pulang untuk memotret keluarga kita di rumah, tapi nyatanya hanya ada lukisan abang  yang terpajang di dinding kamar ibu. Begitu juga dengan ade, ade pun tak pernah pulang, padahal ibu saaaaangat rindu dengan kalian berdua. Karena rindu, ibu selalu mencoba untuk hubungi kalian, tapi semua anak ibu sedang sibuk. Ibu sangat sedih kala itu, tapi ibu selalu coba untuk mengerti. Ibu pun sering di katain orang sperti orang tak waras. Karena setiap waktu kerjaan ibu hanya menunggu di balik jendela untuk menunggu kedatangan kalian berdua. Abang, ade, taukah kalian? ibu sering sekali mendengar kalau telepon rumah bordering, tapi ternyata itu hanya imajinasi ibu saja. Mungkin ibu terlalu ridu dengan kalian. abang, ade. Ibu kesepian, ibu ingin berjumpa dengan kalian, atau tidak ibu hanya ingin berbincang-bincang dengan kalian meski hanya lewat telepon. Tapi hingga kini rindu ibu pun tak kunjung terbalas., hingga pada akhirnya ibu terserang penyakit dan itu cukup parah, dan ibu pun semakin tua. Hari-hari ibu hanya di temani oleh pohon yang bergoyang-goyang, dan rasa rindu yang terus menyerang. Akhirnya ibu putuskan untuk menghubungi abang di kota, tapi abang masih tetap sibuk dengan pekerjaannya. Ibu hanya bisa pasrah, kini anak-anak ibu sudah lupa dengan janjinya dulu. Sampai suatu saat, sakit ibu makin parah, Ibu sudah tidak tahan lagi untuk menahannya. Dan yang ibu ingat saat ibu sakit  adalah ade yang sudah berhasil menjadi dokter, tapi saat ibu hubungi ade…  taka da balasan dari ade, ibu hanya pasrah, menahan rasa kecewa ibu. Ternyata ade lebih memperdulikan pasian dari pada ibu. Asstagfirullahaladzim…. Tetes air mata selalu menghiasi setiap sujud ibu. Ibu selalu berdoa agar allah memberikan kesempatan kepada ibu untuk bisa meliahat anak-anak ibu untuk yang terakhiir kalinya. Tapi ibu benar-benar tak sanggup lagi untuk menunggu kedatangan kalian, dan pada akhirnya ibu putuskan untuk menuis surat ini. Abang, ade. Ibu minta maaf, mungkin lebaran tahun ini ibu tidak bisa menemani kalian berdua. Mungkin saat kalian datang mengunjungi ibu, dan membaca surat ini kalian sudah tidak akan menemukan ibu lagi. Sekali lagi, ibu sangat minta maaf. Dan boleh kalian ingat dalam benak kalian, ibu sayang sekali dengan kalian, dan ibu akan menunggu kalian di surga abadi, kelak.
Wassalamualaikum wr. Wb.
Salam rindu penuh kasih sayanng
                                                                                                                       Ibu                                                                                                                Diam seribu bahasa, itu lah yang  di lakukan oleh lelaki itu. Sedangkan perempuan yang di belakangnya sudah menangis hingga tersungkur ke lantai, tak kuasa menahan kesedihan dan rasa penyesalan yang menusuk hatinya. Tapi kini mereka tidak bisa melakukan apa pun untuk sang ibu , mereka tidak bisa memaksa waktu untuk mengulang kembali masa di mana ibunya masih hidup. Satu-satunya cara adalah dengan memohon ampun kepada allah dan selalu mengirimkan doa, doa anak salih. “roobighfirlii waliwaa lidayya warhamhuma kama robbayanii soghiiroo…” ya ALLAH ampunkanlah kesalah ku dan kesalahan kedua orang tua ku, dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil. Amiin..

dikutip dari azkaswonderstory.blogspot.com

Senin, 25 Juni 2012

sungguh banyak pengorbananmu Ibu !

pengorbanan seseorang yang tidak akan pernah tergantikan adalah pengorbanan seorang ibu. Ibu adalah seseorang yang memiliki kekuatan cinta dan kasih sayang yang begitu dahsyat. Ibu yang rela mengorbankan apapun yang terbaik untuk anak-anaknya. Pengorbanan itu telah ditunjukkan sejak pertama kali zigot tertanam di endometrium (dinding rahim), hingga sembilan bulan kemudian zigot tersebut tumbuh menjadi seorang bayi yang dirindukan kehadirannya, terutama oleh seorang ibu. Siapa yang mampu menggantikan beratnya perjuangan dan besarnya perhatian selama sembilan bulan proses perkembangan janin hingga menjadi bayi yang sempurna, selain dari seorang ibu. 


Pengorbanan seorang ibu terus berlanjut. Ketika sang anak dalam masa balita, belum mampu memenuhi kebutuhan sendiri, hingga apapun yang ia butuhkan selalu meminta ibu untuk memenuhinya. Permintaan yang terkadang sulit untuk diwujudkan dan tidak jarang disertai dengan tangisan rewel. Namun, dengan senyuman yang tulus, seorang ibu tetap berusaha memenuhi permintaan tersebut. Ketika sang anak sakit, ibu adalah orang yang paling cemas dan berusaha memberikan perawatan terbaik demi kesembuhan anaknya. Ketika anak berada dalam bahaya, ibu adalah orang yang pertama kali maju ke depan, rela menjadi tameng untuk melindungi anaknya.


Ketika remaja, berbagai kenakalan yang dilakukan sang anak tidak pernah membuat seorang ibu lelah dan menyerah dalam memberikan nasihat agar sang anak bisa menjadi lebih baik. Meskipun tak jarang nasihat tersebut diabaikan.


Hingga sang anak tumbuh menjadi dewasa, pengorbanan ibu tetap belum berakhir. Ketika sang anak jatuh bangun dalam berjuang menjadi seseorang di dunia kerja, ibu adalah orang yang selalu memberikan semangat dan dukungan terbaik. Ibu adalah orang yang paling bahagia ketika anaknya telah menjadi seseorang yang sukses sehingga dengan kesuksesannya tersebut ia bisa memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat di sekitarnya. Karena memang itulah harapan dari seorang ibu.


Ketika tiba saatnya sang anak membina rumah tangga dengan seseorang yang menjadi pilihannya, ibu tidak serta merta memutuskan perhatian dan penjagaan yang sebelumnya selalu ia berikan. Ibu akan menjadi orang yang setiap saat siap memberikan bantuan ketika sang anak menemui suatu kesulitan dalam perjalanannya membina rumah tangga, karena sang anak menyadari bahwa ibu adalah sosok yang bisa dijadikan sebagai panutan.


Itulah ibu. Seseorang yang pengorbanannya tidak cukup direpresentasikan dengan sebutan sebagai pahlawan. Gelar kepahlawanan diberikan kepada seseorang karena satu pengorbanan yang ia berikan. Seorang ibu, bukan hanya satu pengorbanan, tetapi pengorbanan yang tulus sepanjang masa yang ia berikan. Tidak ada gelar atau sebutan apapun yang bisa diberikan kepada seorang ibu sebagai penghargaan atas pengorbanan yang ia lakukan. Namun, pengorbanan seorang ibu akan tetap menjadi hal yang paling berharga yang tidak akan pernah tergantikan. Pengorbanan seorang ibu akan tetap dikenang. Ada dan tiada dirinya, seorang ibu akan selalu ada di hati anak-anak yang menyayanginya.

 Ibu rela kehujanan demi anaknya..!

 Ibu rela membawa beban berat demi kebahagiaanmu

Ibu selalu mengajarimu untuk taat pada ALLAH

dan..Ibu telah bertaruh nyawa saat melahirkanmu

masikah layak kita mengkhianati semua pengorbanannya, sungguh kita harus menyadari Ibu adalah milik kita yang begitu bernilai dihidup ini, saatnya sekarang dan untuk selamanya tidak lagi menyia-nyiakan pengorbanan Ibu..!

dikutip dari kampus.okezone.com dengan sedikit tambahan

Minggu, 24 Juni 2012

Menggapai Ridha Ibu dan Bapak

Seorang anak, meskipun telah berkeluarga, tetap wajib berbakti kepada kedua orang tuanya. Kewajiban ini tidaklah gugur bila seseorang telah berkeluarga. Namun sangat disayangkan, betapa banyak orang yang sudah berkeluarga lalu mereka meninggalkan kewajiban ini.

Jalan yang haq dalam menggapai ridha ALLAH ‘Azza wa Jalla melalui orang tua adalah birrul walidain. Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) merupakan salah satu masalah penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, setelah memerintahkan manusia untuk bertauhid, ALLAH ‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk berbakti kepada orang tua.

Perintah birrul walidain tercantum dalam surat An-Nisa:36, ALLAH berfirman:
"Dan sembahlah ALLAH dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya, sesungguhnya ALLAH tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri"


Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua dan Pahalanya

1. Adalah amal yang paling utama, sesuai sabda Rosulullah SAW :

"Aku bertanya kepada Nabi tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai ALLAH. Nabi menjawab, pertama sholat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan sholat di awal waktu), kedua berbakti kepada kedua orang tua Ibu dan Bapak, ketiga jihad di jalan ALLAH (HR. Bukhori I/134, Muslim no 85)"


2. Ridho ALLAH tergantung kepada ridho kedua orang tua Ibu dan Bapak, sesuai sabda Rosululloh SAW :

"Ridho ALLAH tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka ALLAH tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)

3. Berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami, yaitu dengan cara bertawasul dengan amal sholeh. Dalilnya adalah hadits riwayat dari Ibnu Umar mengenai kisah tiga orang yang terjebak dalam gua, dan salah seorangnya bertawasul dengan bakti kepada ibu bapaknya. (HR Bukhori dalam Fathul Bari 4/449 no 2272, Muslim (2473)(100))

4. Akan diluaskan rizki dan dipanjangkan umur kita, sesuai sabda Nabi:

"Barangsiapa yang ingin diluaskan rizki dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturrohmi" (HR Bukhori 7/7, Musilim 2557, Abu Dawud 1693)

5. Akan dimasukkan surga (jannah) oleh ALLAH
Subhanahu Wa Ta’ala. Dosa-dosa yang ALLAH segerakan adzabnya di dunia di antaranya adalah berbuat zalim dan durhaka kepada orang tua.


Apakah yang harus dilakukan sebagi bakti kepada Orang Tua?

1. Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi saw disebutkan bahwa memberi kegembiraan kepada seseorang mukmin termasuk shodaqoh, lebih utama lagi kalau memberi kegembiraan kepada kedua orang tua Ibu bapak kita

2. Berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya dibedakan berbicara kepada kedua orang tua dengan kepada anak, teman atau dengan yang lain.

3. Tawadhu (rendah diri). Tidak boleh kibr (sombong) apabila sudah meraih sukses atau memenuhi jabatan di dunia.

4. Memberi infaq (shodaqoh) kepada kedua orang tua. Semua harta kita adalah milik orang tua.

5. Mendoakan kedua orang tua. Sebagaimana ayat: (artinya) Wahai robb-ku, kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku sewaktu kecil. Seandainya orang tua masih berbuat syirik serta bid’ah, kita tetap harus berlaku lemah lembut kepada keduanya.

Apabila kedua orang tua telah meninggal, maka yang pertama kita lakukan adalah meminta ampun kepada ALLAH Ta’ala dengan taubat nasuha (benar) bila kita pernah berbuat durhaka kepada keduanya di waktu mereka masih hidup, yang kedua adalah menshalatkannya, ketiga adalah selalu meminta ampunan untuk keduanya, yang keempat membayarkan hutang-hutangnya, yang kelima melaksanakan wasiat sesuai dengan syari’at dan yang keenam menyambung tali silaturrohim kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya (diringkas dari beberapa hadits yang shohih).



dikutip dari http://nezha.abatasa.com

Sabtu, 23 Juni 2012

kelebihan Do'a dan derajat Ibu

sungguh wanita itu hamba ALLAH yang begitu istimewa dengan perannya menjadi seorang Ibu yang diberi kedudukan dan derajat yang tinggi mengungguli beberapa kaum pria namun wanita dan Ibu yang seperti apa yang memiliki kemuliaan sedemikian berikut beberapa diantaranya :
1. Doa wanita lebih makbul daripada lelaki sebab sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah S.A.W. akan hal tersebut, jawab baginda: “Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”
2. Wanita yang salehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang lelaki yang soleh.
3. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis karena takut pada Allah S.W.T. dan orang yang takut pada Allah S.W.T. akan diharamkan api neraka.
4. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada
keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barang siapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail A.S.
5. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah S.A.W.) di dalam syurga.
6. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya adalah syurga.
7. Dari Aisyah r.a. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.
8. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.
9. Apabila engkau dipanggil dua orang ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.
10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
11. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya dan direkannya (serta menjaga sembahyang dan puasanya).
12. Aisyah r.a. berkata “Aku bertanya kepada Rasulullah S.A.W., siapakah yang lebih besar haknya
terhadap wanita? Jawab baginda, “Suaminya.” “Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah
S.A.W.”Ibunya.”
13. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa sebulan Ramadan, memelihara kehormatannya serta taat pada suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang dia kehendaki.
14. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah S.W.T. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).
15. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah S.W.T. mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.
16. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah S.W.T. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah S.W.T.
17. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
18. Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.
19. Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah S.W.T. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah S.W.T.
20. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 orang lelaki Saleh.
21. Seorang wanita yang jahat adalah lebih buruk daripada 1,000 lelaki yang jahat.
22. 2 rakaat shalat dari wanita yang hamil adalah lebih baik daripada 80 rakaat solat wanita yang tidak hamil.
23. Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya dari badannya (susu badan) akan dapat satu pahala dari tiap-tiap titik susu yang diberikannya.
24. Wanita yang melayani dengan baik suami yang pulang ke rumah di dalam keadaan letih akan mendapat pahala jihad.
25. Wanita yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suami yang melihat isterinya dengan kasih sayang akan dipandang Allah dengan penuh rahmat.
26. Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumah tangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal daripada suaminya, akan menjadi ketua 70,000 malaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat dari yakut.
27. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari karena menjaga anak yang sakit akan diampuni oleh Allah seluruh dosanya dan bila dia hibur hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadat.
28. Wanita yang memerah susu binatang dengan “bismillah” akan didoakan oleh binatang itu dengan doa keberkatan.
29. Wanita yang menguli tepung gandum dengan “bismillah”, Allah akan berkatkan rezekinya.
30. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti meyapu lantai di baitullah.
31. Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.
32. Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadat pada malam hari.
33. Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa dan setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengaruniakan satu pahala haji.
34. Sekiranya wanita mati dalam waktu 40 hari sehabis bersalin, dia akan dinilai sebagai mati syahid.
35. Jika wanita melayani suami tanpa khianat akan mendapat pahala 12 tahun solat.
36. Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempoh (2 1/2 tahun), maka malaikat-malaikat di langit akan khabarkan berita bahwa syurga wajib baginya.
37. Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah akan memberi pahala satu tahun solat dan puasa.
38. Jika wanita memijit suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tola emas dan jika wanita memijit suami bila disuruh akan mendapat pahala 7 tola perak.
39. Wanita yang meninggal dunia dengan keredhaan suaminya akan memasuki syurga.
40. Jika suami mengajarkan isterinya satu masalah akan mendapat pahala 80 tahun ibadat.
41. Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akhirat, tetapi Allah akan datang sendiri kepada wanita yang memberati auratnya yaitu memakai hijab dan purdah di dunia ini dengan istiqamah.

dikutip dari noenkcahyana.blogspot.com

Jumat, 22 Juni 2012

Surat Ibu Kepada Anaknya yang durhaka

Wahai Anakku!
Inilah surat dari ibumu yang lemah, yang ditulis dengan penuh rasa malu setelah lama mengalami keraguan dan kebimbangan. Ibu pegang penanya berkali-kali lantas terhenti, dan ibu letakkan lagi pena itu karena air mata berlinang berkali-kali yang disusul dengan rintihan hati.
Wahai Anakku!
Sesudah perjalanan waktu yang panjang, ibu rasa engkau sudah dewasa dan memiliki akal sempurna maupun jiwa yang matang. Sedangkan ibu punya hak atas dirimu, maka bacalah sepucuk surat ini; dan jika tidak berkenan robek-robeklah sebagaimana engkau telah merobek-robek hati ibu.
Wahai Anakku!
Dua puluh lima tahun yang lalu adalah hari yang begitu membahagiakan hidup ibu. Ketika dokter memberitahu ibu, ibu sedang mengandung. Semua ibu tentu mengetahui makna ungkapan itu, yakni terhimpunnya kebahagiaan dan kegembiraan, serta awal perjuangan seiring dengan adanya berbagai perubahan fisik maupun psikis. Sesudah berita gembira itu ibu peroleh, dengan senang hati, ibu mengandungmu selama sembilan bulan.
Camkanlah wahai Anakku!
Ketuaan mulai nampak dalam belahan rambutmu. Tahun demi tahun akan berlalu, dan engkau akan menjadi tua renta, sedangkan setiap perbuatan pasti akan dibalas setimpal. Engkau akan menulis surat kepada setiap anak-anakmu dengan cucuran air mata, sebagaimana yang ibu tulis untukmu. Dan di sisi Allah, akan bertemu orang-orang yang berselisih, hai Anakku. Maka bertakwalah engkau kepada Allah terhadap ibumu. Usaplah air matanya dan hiburlah agar kesedihannya sirna.
Robek-robeklah surat ini setelah engkau membacanya. Namun ketahuilah, siapa saja yang beramal shaleh, maka keshalehan itu buat dirinya sendiri, dan siapa yang berbuat jahat, maka balasan buruk bakal menimpanya.
"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa berbuat jahat, maka (dosanya) menjadi tanggungannya sendiri. Dan Rabbmu sekali-kali tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya." (QS. Fushshilat: 46).
Ibu berdiri, tidur, makan dan bernafas dengan susah payah. Namun itu semua tidak menyebabkan surutnya cinta ibu padamu dan kebahagiaan ibu menyambut kehadiranmu. Bahkan rasa cinta dan kerinduan ibu padamu tumbuh subur dan berkembang hari demi hari. Ibu mengandungmu dalam kondisi yang lemah dan bertambah lemah, payah dan bertambah payah. Ibu sangat bahagia meski bobotmu semakin berat, padahal kehamilan itu sangat berat bagi ibu.
Itulah perjuangan yang akan disusul dengan cahaya fajar kebahagiaan setelah berlalunya malam panjang, yang membuat ibu tidak bisa tidur dan kelopak mata ibu tak bisa terpejam. Ibu merasakan derita yang sangat, rasa takut dan cemas yang tak bisa dilukiskan dengan pena dan tak sanggup diungkapkan dengan retorika lisan. Ibu telah berkali-kali melihat kematian dengan mata kepala ibu sendiri, sehingga akhirnya engkau lahir ke dunia ini. Air mata tangismu yang bercampur dengan air mata kegembiraan ibu telah menghapus seluruh derita dan luka yang ibu rasakan.
Wahai Anakku!
Telah berlalu tahun demi tahun dari usiamu, dan dirimu selalu ibu bawa dalam hati ibu. Ibu memandikanmu dengan kedua tangan ibu. Pangkuan ibu sebagai bantalmu. Dada ibu sebagai makananmu. Ibu berjaga semalaman agar engkau bisa tidur. Ibu susuri siang hari dengan keletihan demi kebahagiaanmu. Dambaan ibu tiap hari adalah melihatmu tersenyum. Dan idaman ibu setiap saat adalah engkau meminta sesuatu yang ibu sanggup lakukan untukmu. Itulah puncak kebahagiaan ibu.
Itulah hari-hari dan malam yang ibu lalui sebagai pelayan yang tak pernah menyia-nyiakanmu sedikit pun. Sebagai wanita yang menyusuimu tiada henti, dan sebagai pekerja yang tak pernah putus hingga engkau tumbuh dan menjadi seorang remaja. Dan mulailah nampak tanda-tanda kedewasaanmu. Ketika itu pula, ibu kesana kemari mencarikan calon istri yang kau inginkan. Lalu tibalah saat pernikahanmu. Denyut jantung ibu terasa berhenti dan air mata ibu deras bercucuran karena gembira melihat hidup barumu dan karena sedih berpisah denganmu.
Saat-saat yang begitu berat telah lewat. Namun engkau seolah bukan lagi anak ibu, seperti yang ibu kenal selama ini. Sungguh engkau telah mengabaikan diri ibu dan tidak mempedulikan hak-hak ibu. Hari-hari berlalu dan ibu tidak lagi melihatmu dan tidak pula mendengar suaramu. Engkau masa bodoh kepada ibu yang selama ini menjadi pelayan yang mengurusimu.
Wahai Anakku!
Ibu tidak meminta apa pun selain posisikanlah diri ibu ini seperti kawan-kawanmu yang terdekat denganmu. Jadikanlah ibu sebagai salah satu terminal hidupmu sehari-hari, sehingga ibu dapat melihatmu meskipun sekejap.
Wahai Anakku!
Punggung ibu telah bongkok. Anggota tubuh ibu telah gemetaran. Beragam penyakit telah membuat ibu semakin ringkih. Rasa sakit senantiasa mendera ibu. Ibu sudah susah untuk berdiri maupun duduk, namun hati ibu masih sayang padamu.
Andaikan ada seseorang yang memuliakanmu sehari, tentu engkau akan memuji kebaikannya dan keelokan budinya. Padahal, ibumu ini telah benar-benar berbuat baik kepadamu, namun engkau tak melihatnya dan tak mau membalas kebaikannya. Ibumu telah menjadi pelayanmu dan telah mengurusmu bertahun-tahun. Lantas manakah balas budi dan hak ibu yang harus engkau tunaikan? Sekeras itukah hatimu? Apakah hari-hari sibukmu telah menyita seluruh waktumu?
Wahai Anakku!
Ibu merasakan kebahagiaan dan kegembiraan bertambah saat melihatmu hidup bahagia, karena engkau adalah buah hati ibu. Apa salah ibu sehingga engkau memusuhi ibu, tak suka melihat ibu, dan engkau merasa berat untuk mengunjungi ibu? Apakah ibu pernah berbuat salah padamu atau pelayanan ibu kurang memuaskanmu?
Jadikanlah ibu seperti pelayan-pelayanmu yang engkau beri upah. Curahkanlah setitik kasih sayangmu. Renungkanlah jasa ibu dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah amat menyukai orang-orang yang berbuat baik.
Wahai Anakku!
Ibu sangat berharap bisa bersua denganmu. Ibu tak ingin apapun selain itu. Biarkanlah ibu melihat muramnya wajahmu dan episode-episode kemarahanmu.
Wahai Anakku!
Sisakan peluang di hatimu untuk berlembut-lembut dengan seorang wanita renta, yang diliputi kerinduan dan dirundung kesedihan ini. Yang menjadikan kedukaan sebagai makanannya dan kesedihan sebagai selimutnya. Engkau cucurkan air matanya. Engkau membuat sedih hatinya dan engkau memutuskan hubungan dengannya.
Ibu tidak mengeluhkan kepedihan dan kesedihan ibu kehadirat-Nya, karena jika ibu adukan perkara ini ke atas awan dan ke pintu gerbang langit sana, ibu khawatir hukuman akan menimpamu, dan musibah akan terjadi dalam rumah tanggamu, lantaran kedurhakaanmu. 


dikuti dari judinfals.xtgem.com 

Kamis, 21 Juni 2012

Ibu " Bidadari Surga yang Disegerakan "

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash Radhiyallahu ‘Anhu seorang lelaki mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Aku berjanji setia kepadamu wahai Rasulullah untuk berhijrah. Tetapi aku meninggalkan orang tuaku dalam keadaan terus menangis.” Ucap lelaki itu. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Pulanglah kepada keduanya. Buatlah keduanya tertawa, sebagaimana kau telah membuatnya menangis.( HR. Muslim )


Ibu, adalah representasi bidadari surga yang paling terang. Hatinya adalah oase cinta kehidupan yang menyejukkan, airnya bening dan tak pernah menemui kekeringan. Kasih sayang dan pelukannya adalah hembus angin kedamaian. Jasa-jasanya takkan pernah dapat terbilang, sekalipun dengan formula-formula canggih matematika atau fisika modern.

Imam Bukhari dalam Shahih Al Adabul Mufrad No.9 meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa suatu hari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma melihat seorang menggendong Ibunya untuk tawaf di Ka’bah dan ke mana saja sang Ibu menginginkan. Kemudian orang tersebut bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?”, “Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu” Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.

Pada kisah lain yang diceritakan Abul Faraj Rahimahullahu. Sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Umar lalu berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai ibu yang sudah tua renta. Dia tidak menunaikan keperluannya kecuali punggungku yang menjadi tanggungannya. Apakah aku sudah membuatnya ridha dan bisa berpaling darinya? Apakah aku sudah menunaikan kewajiban kepadanya?” Umar Radhiyallahu ‘Anhu menjawab, “Belum”. “Bukankah aku telah membawanya dengan punggungku dan aku merelakan hal itu untuknya.” tukas lelaki itu. “Tapi, dia telah melakukannya dan dia berharap agar engkau hidup dan tetap berada di pangkuannya. Sebaliknya, engkau melakukannya dan berharap untuk segera berpisah dengannya,” tegas Umar Radhiyallahu ‘Anhu, sehingga membuat orang itu tak lagi sanggup mengeluarkan kata-kata.

Sebesar apapun pengorbanan yang kita berikan pada Ibu, se-zarah pun tak akan dapat menggantikan pengorbanan yang diberikan ibu kepada kita. Dengan memahami bahwa bakti dan pengorbanan kita tak akan pernah bisa membalas kebaikan ibu, semoga bisa menyadarkan kita untuk selalu memahami dan menyelami keinginannya.

Di dunia ini, tak akan pernah kita temukan cinta kasih seindah cinta kasih seorang Ibu. Tentang hal ini dengan apik Imam Adz Dzahabi rahimahullahu menguraikan, “Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan yang serasa sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dia telah menyusuimu dengan air susunya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dia bersihkan kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikanmu semua kebaikan, dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan kesedihan yang panjang. Dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu, dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka ia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras. Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlaq yang tidak baik. Dia selalu mendoakanmu agar mendapat petunjuk, baik di dalam sunyi maupun ditempat terbuka. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan ia haus. Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat. Begitu berat rasanya bagimu memeliharanya, padahal itu urusan yang mudah…”

Ibu, benar-benar bidadari Surga yang Allah turunkan dengan segera. Maka, sampaikanlah kepadanya betapa kita mencintainya, dan berterima kasihlah atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya kepada kita. Semoga Allah mengampuni dosanya, memberkahi usianya, dan mengumpulkan kita kembali dalam surgaNya. amin..

dikutip dari kartanom.blogspot.com

Selasa, 19 Juni 2012

Senyum Anak, Kekuatan Natural Ibu

Mau tahu rahasia kekuatan seorang ibu? Sebuah penelitian membuktikan, vitamin yang paling jitu memulihkan kekuatan seorang ibu adalah senyum seorang anak.

Sebuah penelitian dilakukan di Universitas Baylor, Houston, Amerika Serikat. Para peneliti yang diketuai Dr. Lane Strathearn, menguji gelombang otak pada 28 ibu muda yang baru melahirkan. Mereka diminta untuk melihat foto bayi mereka yang telah berumur 5-10 bulan.

Foto-foto itu beragam, ada ekspresi saat sang bayi tersenyum, ada pula saat menangis. Dikutip dari Reuters Health, ada perbedaan pengaruh akivitas otak saat melihat ekspresi bayi dalam foto-foto tersebut.

Aktivitas otak itu kemudian berpengaruh pada rangsangan sang ibu untuk mengontrol emosi, berpikir dan bertindak. Penelitian tersebut juga membuktikan, aktivitas otak paling maksimal adalah ketika sang ibu melihat foto anaknya yang sedang tersenyum.

Yang unik lagi reaksi otak itu berbeda ketika sang ibu melihat foto bayi yang bukan anaknya. Para peneliti pun menyimpulkan bahwa hal ini dapat membuktikan bahwa hubungan batin antara ibu dan anak yang dikandungnya memang ada.

hubungan batin seorang Ibu dan anak ibarat ikatan tali yang begitu kuat sehingga dengan kuatnya hubungan itu seorang Ibu akan mampu merasakan berbagai keadaan hati seorang anak walau tanpa ia ucapkan, sedih dan bahagianya seorang anak akan terasa di hati Ibu yang pernah mengandungnya, itulah keajaiban hati seorang manusia mulia, Ibu...

dikutip dari eocommunity.com dengan sedikit tambahan.

Senin, 18 Juni 2012

Sepasang Daun Telinga dan Keikhlasan Ibu

Rasulullah saw. bersabda,"Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik; dan jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpul daging itu adalah hati." (Muttafaqun 'alaihi).

"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. dokter yang menungguinya segera berbalik memandang kearah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan kurang menarik. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu, yang tak mampu menahan tangisnya. Sang ibu tahu hidup anak lelakinya itu kurang meggembirakan Anak lelakinya itu terisak-isak berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, "aku ini makhluk aneh."

Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, "Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya. Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuk anaknya. "Saya yakin saya mampu memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter.

Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkan untuk anaknya. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah. Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahir dengan cukup sempurna. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.

Beberapa tahun kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya". Ayahnya menjawab,"Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu" Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan," Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti tahun. Kedua orang tua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di pinggir jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah istrinya yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah......... bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. "Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, bukan? "

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat . Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apayang telah dikerjakan namun tidak diketahui.

Subhaanallah, Betapa dahsyatnya karya dan pekerjaan orang-orang yang ikhlas. Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya : Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, "Orang yang riya (lawan dari ikhlas) memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika dihadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela."

Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, "Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah." (HR Ibnu Majah).

Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang dai yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya. Para dai yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun amal jama'i (kebersamaa) dalam dakwahnya. Senantiasa menghidupkan syuro dan mengokohkan perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesarkan diri sendiri atau kelompoknya semata.
 
dikutip dari http://as-salafiyyah.blogspot.com 

nasehat Ibu yang bijaksana kepada putrinya

berikut ini beberapa nasehat dari ibu yang bijaksana kepada putrinya. Sang ibu berkata:

Wahai putriku, engkau telah meninggalkan rumah tempat engkau tumbuh di dalamnya, berpindah ke rumah seorang pria yang belum kau akrabi. Maka jadilah engkau sebagai budak baginya niscaya ia akan menjadi budak bagimu.

Jagalah sepuluh perangai untuknya, niscaya ia menjadi dasar berpijak dan peringatan bagimu.

Pertama dan kedua; Tunduk pada suami dan qana’ah, mendengar dengan baik dan taat.

Ketiga dan keempat; Jagalah penglihatan dan penciumannya. Jangan sekali-kali pandangan matanya jatuh pada sesuatu yang jelek dari dirimu dan jangan sampai ia mencium dari dirimu kecuali aroma wewangian.

Kelima dan keenam; Perhatikanlah waktu tidurnya dan waktu makannya. Karena panasnya rasa lapar yang begitu membakar dan kurangnya tidur memicu kemarahan.

Ketujuh dan kedelapan; Menjaga hartanya, belas kasih dan sayang pada sanak saudara dan keluarganya. Landasan menjaga harta adalah membuat perhitungan yang baik dan landasan menjaga keluarga adalah baik dalam mengatur.

Kesembilan dan kesepuluh; Jangan engkau durhaka kepadanya dan jangan sebarkan rahasianya. Karena jika engkau menyelisihi perintahnya atau menyalakan amarahnya, dan engkau sebarkan rahasianya, engkau tidak akan aman dari pengkhianatannya.

Kemudian, hindarilah wahai anakku, bersuka cita di hadapan kepedihannya, dan jangan bersedih di hadapan suka citanya.

Dinukil dari Buku “RUMAH TANGGA TANPA PROBLEMA” hal. 83-84.
Diterjemahkan oleh Ummu Ishaq Zulfa Bintu Husein. Penerbit: Pustaka Al Haura’ Yogyakarta.
dikutip dari http://kautsarku.wordpress.com 

Minggu, 17 Juni 2012

ketauladanan Ibunda Imam Ahmad RAHIMAHULLAH

Inilah kisah ketauladanan ibunda Imam Ahmad yang telah ditinggal mati sang ayah sejak Imam Ahmad masih kecil. Jadi, ibundanyalah yang mendidik Imam Ahmad.

Imam Ahmad bercerita, “Ibundakulah yang telah menuntun diriku hingga aku hafal al Qur’an ketika masih berusia sepuluh  tahun. Dia selalu membangunkan aku jauh lebih awal sebelum waktu shalat subuh tiba, memanaskan air untukku karena cuaca di Baghdad sangat dingin, lalu memakaikan baju dan kamipun menunaikan shalat semampu kami.”

Usai menunaikan shalat malam, sang ibu pergi ke masjid dengan mengenakan cadar untuk menunaikan shalat shubuh bersama Imam Ahmad semenjak beliau masih berumur sepuluh tahun. Sejak pagi hingga tengah hari, Imam Ahmad terus diajari ilmu pengetahuan oleh sang ibundanya.

Imam Ahmad juga menuturkan, “Anakku, pergilah untuk menuntut ilmu Hadis karena hal itu adalah salah satu bentuk hijrah di jalan Allah!”

Sang ibu mengemas seluruh keperluan sang anak dalam perjalanan, kemudian berkata, “Sesungguhnya Allah jika dititipi sesuatu, Dia akan selalu menjaga titipan tersebut. Jadi, aku titipkan dirimu kepada Allah yang tidak akan membiarkan titipannya terlantar begitu saja.’

Sejak itulah, Imam Ahmad pergi dari sisi sang ibunda tercinta menuju kota Madinah, Makkah dan Shan’a’. Akhirnya, beliau kembali dengan menyandang gelar Sang Imam. Imam Ahmad juga telah memberikan berbagai pengetahuan yang diperlukan umat Islam.

Merekalah yang layak disebut suri tauladan-suri tauladan dari generasi terdahulu, bukan para penari dan artis-artis kenamaan sekarang. Alangkah baiknya Anda dapat mencontoh dan meniti jalan kehidupan seperti mereka! Semoga Allah berkenan menjadikan kita sebagai salah seorang yang dikumpulkan dengan suri tauladan-suri tauladan tersebut di Surga dan telaga-telaganya sebagai tempat kembali di sisi Dzat Raja Diraja lagi Maha Perkasa. [Rasaail Ila Mu'minah, Muhammad bin Riyadh Ahmad]

Semoga Allah mencurahkan kasih sayang kepada sang penyair yang melantunkan bait-bait berikut,

Seandainya kaum wanita sekarang seperti mereka
Pasti mereka lebih unggul dari pada kaum pria
Silahkan Anda pikir bersama!
Matahari dianggap jenis wanita
Bukan berarti hal yang nista
Bulan dianggap jenis pria
Bukan berarti hal yang mulia

dari Buku “Mekarlah Indah Wahai Bunga-Bunga Sejarah”, Dr.Hassan Washfi Syamsi, Penerbit Sukses Publishing dikutip dari http://kisahislam.net

ketabahan seorang Ibu

Suatu ketika si ibu melakukan perjalanan dengan menumpang perahu layar dari daratan tempat kediamannya menyeberangi lautan menuju suatu daerah dimana anaknya sedang menuntut ilmu.

Ditengah perjalanan, perahu tiba- tiba datang badai dan ombak yang sangat ganas menghempaskan perahu, sehingga perahu layar tersebut berjalan tak tentu arah terbawa ombak.

Melihat kejadian tersebut, semua penumpang kecuali ibu ini, berteriak-teriak histeris karena ketakutan, ada yang mencari pelampung, ada yang saling berpelukan dengan anggota keluarga dan teman seperjalanan dan ada juga yang sudah meloncat ke air untuk berusaha berenang mencari pantai dilautan yang tidak kelihatan tepiannya.

Sang nakhoda tetap berusaha mengendalikan perahu layar tersebut semampunya dengan harapan jangan sampai perahu itu terbalik dan tenggelam.

Dalam keadaan yang sudah kacau balau tersebut, si ibu tetap duduk dengan tenang sambil sesekali menengadahkan wajah dan tangannya ke atas dengan bibir komat-kamit.

Seorang awak kapal ternyata memperhatikan si ibu tua itu dan kemudian ia mendekati
seraya berkata :" Ibu... apa yang sedang engkau lakukan, mengapa ibu diam saja dan tidak berusaha untuk menyelamatkan diri"?

Lalu sang ibu memandang awak kapal itu dengan senyum yang sangat ikhlas dan tenang, lalu dia berkata :" apakah yang dapat aku lakukan disaat seperti ini.."?

Awak kapal menjawab :" pergilah cari pelampung atau masuklah ke sekoci bersama dengan penumpang yang lain

" Si ibu kembali bertanya.." apakah dengan kondisiku yang sedemikian ini akan mampu berebut pelampung atau mampu bertahan untuk saling mendorong di dalam sekoci yang sekecil itu..?

apakah kapal ini tidak lebih besar dari sekoci itu untuk tempat berteduh dan berlindung.."? lalu sang awak kapal menjawab :" ibu, kapal ini akan tenggelam karena sudah terlalu banyak air laut yang masuk"

Kemudian si ibu menjawab :" aku sangat berbahagia untuk tetap tinggal di kapal ini, karena sekoci dan pelampung itu tidak akan pernah sampai ke daratan yang akan kita tuju,

karena mereka tidak akan kuasa menentukan arahnya, sementara Jikalau Tuhan mengijinkan kapal ini bertahan, maka akan sampailah kita ke daratan tujuan kita dan aku akan bertemu dengan anakku yang kucintai yang sedang menungguku disana".

Si awak kapal bingung dan kembali bertanya :" bagaimana sekiranya kita tidak mampu untuk meneruskan perjalanan dan kita putar haluan untuk kembali..?"

si ibu menjawab :" aku juga akan berbahagia, karena aku akan kembali berkumpul dengan suamiku yang sedang menunggu ku di rumah.."

Lalu si awak kapal kembali bertanya:"Bagaimana kalau kapal ini tenggelam dan kita akan mati ditelan ombak badai..?"

si ibu kembali menjawab dengan tenang dan senyum :" aku juga akan tetap berbahagia, karena aku akan bertemu dengan anakku yang telah lama pergi menghadap Sang Penciptanya".

Seketika itu sang awak kapal baru tersadar..,
ternyata ketabahan ibu ini sungguh luar biasa, lalu dengan tangan yang lembut ia menuntun ibu tua itu untuk masuk menuju ruang awak kapal serta berkata "

Terimakasih Ibu, engkau telah memberiku pelajaran yang sangat berharga, bahwa hidup harus dihadapi dengan ketenangan jiwa dan terutama penyerahan diri kepada ALLAH Sang maha Pencipta"

dikutip dari seno.web.id

Sabtu, 16 Juni 2012

Ibu, Sehelai Rambutmu Lebih Mulia Dari Jubah Ulama

Suatu hari Imam bin Hanbal dikunjungi seorang wanita yang ingin mengadu.

“Ustadz, saya adalah seorang ibu rumah tangga yang sudah lama ditinggal mati suami. Saya ini sangat miskin, sehingga untuk menghidupi anak-anak saya, saya merajut benang di malam hari, sementara siang hari saya gunakan untuk mengurus anak-anak saya dan menyambi sebagai buruh kasar di sela waktu yang ada.

Karena saya tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan merajut itu saya lakukan apabila sedang terang bulan.”

Imam Ahmad menyimak dengan serius penuturan ibu tadi. Perasaannya miris mendengar ceritanya yang memprihatinkan.

Dia adalah seorang ulama besar yang kaya raya dan dermawan. Sebenarnya hatinya telah tergerak untuk memberi sedekah kepada wanita itu, namun ia urungkan dahulu karena wanita itu melanjutkan pengaduannya.

“Pada suatu hari, ada rombongan pejabat negara berkemah di depan rumah saya. Mereka menyalakan lampu yang jumlahnya amat banyak sehingga sinarnya terang benderang. Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera merajut benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu.

Tetapi setelah selesai saya sulam, saya bimbang, apakah hasilnya halal atau haram kalau saya jual?

Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu?
Sebab, saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara, dan tentu saja itu tidak lain adalah uang rakyat.”

Imam Ahmad terpesona dengan kemuliaan jiwa wanita itu. Ia begitu jujur, di tengah masyarakat yang bobrok akhlaknya dan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tanpa peduli halal haram lagi.
Padahal jelas, wanita ini begitu miskin dan papa.

Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad bertanya, “Ibu, sebenarnya engkau ini siapa?”

Dengan suara serak karena penderitaannya yang berkepanjangan, wanita ini mengaku, “Saya ini adik perempuan Basyar Al-Hafi.”

Imam Ahmad makin terkejut. Almarhum Basyar Al-Hafi adalah Gubernur yang terkenal sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya. Rupanya, jabatannya yg tinggi tidak disalahgunakannya untuk kepentingan keluarga dan kerabatnya. Sampai-sampai adik kandungnya pun hidup dalam keadaan miskin.

Dengan menghela nafas berat, Imam Ahmad berkata,
“Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk memupuk kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menggerogoti uang negara dan menipu serta membebani rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita terhormat seperti engkau, ibu. Sungguh, sehelai rambutmu yang terurai dari sela-sela jilbabmu jauh lebih mulia dibanding dengan berlapis-lapis serban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para ulama.

Subhanallah, sungguh mulianya engkau, hasil rajutan itu engkau haramkan? Padahal bagi kami itu tidak apa-apa, sebab yang engkau lakukan itu tidak merugikan keuangan negara...”

Kemudian Imam Ahmad melanjutkan, “Ibu, izinkan aku memberi penghormatan untukmu. Silahkan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku, niscaya akan kuberikan kepada wanita semulia engkau...”

dikutip dari ronywijaya.web.id

Jumat, 15 Juni 2012

Hadiah Untuk Ibu dan Ayah

Hadits riwayat Bukhari bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih berhak untuk saya berbuat baik?” Baginda menjawab: ”Ibumu.” Dia berkata: “kemudian siapa?” ”Ibumu,” jawab beliau. “Kemudian siapa?” lelaki itu bertanya untuk yang ketiga kali. “Ibumu,” sama jawaban beliau seperti yang sebelumnya. “Kemudian siapa?” dia masih bertanya dengan pertanyaan serupa. Akhirnya, barulah Nabi SAW menjawab, “Kemudian ayahmu.”
Selain menghadiahkan ayah dan ibu kasih sayang, baik rasanya memberikan yang terindah untuk mereka berupa untaian doa di setiap selesai shalat kita. Doa adalah hadiah terindah yang akan sampai kapan pun dan dimana jua mereka berada. Doa yang menghubungkan hati, dan menautkan kita selalu pada Sang Pemilik hidup dan cinta. Agar Allah juga mencintai mereka.
Iringan doa: “Ya Allah, Ampunilah kedua orang tuaku. Anugerahkan mereka, kesehatan, kekuatan, kesejahteraan dan tidak mudah lupa. Agar mereka dapat menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang Engkau perintahkan. Aku mohon perlindungan-Mu terhadap mereka agar mereka terhindar dari siksa kubur dan siksa api neraka.” Aamiin.
Boleh jadi setiap keindahan dan kenikmatan yang kita rasakan saat ini adalah wujud dari terkabulkannya doa orang tua kita. Betapa mulianya posisi orang tua kita dengan segala perjuangannya. Ridho Allah adalah ridha mereka. Sekarang bagaimana kita menempatkan diri?
Seorang anak selamat dari marabahaya, dimudahkan segala urusan dan banyak kenikmatan yang dirasakan. Semua itu adalah wujud keridhaan dan kasih sayang mereka agar anak selalu dalam lindungan Allah SWT.
Kita bayangkan betapa semasa menunggu kelahiran kita dahulu, ayah dan ibu sibuk menyediakan berbagai hadiah untuk kita. Mereka ingin berikan yang terbaik untuk kita. Mereka tidak ada kata malas berjuang demi anaknya. Tetes keringat, air mata dan darah yang mereka korbankan tidak mengenal kata balas jasa. Mereka hanya inginkan kita tetap terjaga, sehat dan selalu bahagia.
Saat kita telah dewasa, mereka amat sabar dengan semua perangai kita. Mereka korbankan harta, jiwa dan semua yang mereka miliki untuk kita. Dan mereka tiada enggan memberikan yang terbaik untuk kita. Nasihat, usaha dan doa mereka selalu ada untuk kita.
Allah sangat suka kepada mereka yang berdoa. Doa adalah wujud kelemahan kita, penghambaan kita dan permohonan seorang hamba kepada Tuhan-nya. Doa yang di tuturkan dengan baik, penuh adab, meletakkan harapan penuh kepada Allah semata. Maka Allah akan Mendengar dan Mengabulkan setiap doa.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah: sesungguhnya Aku sangat dekat, Aku perkenankan setiap doa seseorang yang berdoa apabila dia meminta kepada-Ku.” Q.S. Al Baqarah 186.
Oleh karena itu, tidakkah kita ingin persembahkan yang terbaik untuk mereka. Memberikan kesenangan dan doa yang terindah untuk mereka. Dalam riwayat at-Tirmidzi dan al-Hakim, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Keridhaan Allah terletak pada keridhaan ibu dan ayah, dan kemurkaan Allah terletak pada kemarahan ibu ayah.”
Untuk itu kita berusaha, sebelum terlambat. Sebelum kita berada di garis “finish” kehidupan kita. Untuk mengabdi dan senantiasa ingat untuk selalu hidup dalam keislaman. Selalu meletakkan al-Quran dan hadits.
Bakti yang dapat kita rujuk dari Al-Qur’an dan Hadits:
  • Firman Allah SWT dalam surah al-Isra’ ayat 23-24 bermaksud: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibumu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu di antara keduanya atau kedua-duanya sampai lanjut usia dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan ucapkan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangi dan mengasihiku sewaktu kecil.”
  • Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan daripada Ibn Mas’ud RA, beliau berkata yang bermaksud: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Apakah amalan yang paling dicintai Allah?’ baginda menjawab,’Sholat pada waktu (utama)nya. Aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Baginda menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya, ‘Kemudian apalagi?’ Baginda menjawab, ‘Berjihad fi sabilillah.’”
  • Muslim meriwayatkan daripada Abu Hurairah RA, dari Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Celakalah…celakalah…dan celakalah! Yaitu orang yang mempunyai ibu bapak yang sudah tua sama ada seorang atau kedua mereka tetapi dia tidak berhak masuk surga, karena dia tidak berbuat baik kepada ibu bapaknya.”
  • Muslim meriwayatkan daripada Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “sesungguhnya kebaikan yang paling utama adalah seseorang memelihara hubungan baik dengan orang tuanya.
Saat kita mampu berbakti dan berbuat baik kepada orang tua kita, itulah contoh yang kita berikan kepada anak-anak kita. Kita menginginkan agar kelak mereka juga mampu menjadi yang terbaik untuk bekal kita.
Saat kematian datang tiada amalan yang akan mampu menemani kita selain 3 hal: amal shalih kita, anak yang shalih dan shalihah dan dari ilmu kita yang bermanfaat. Semua tidak dapat kita lakukan lagi, tapi setidaknya kita memiliki deposito yang akan kita rasakan di alam kubur nanti.

dikutip dari dakwatuna.com

Dahsyatnya Do’a Ibu

Apa jadinya kalau ibu menuntut “uang jasa” atas keberadaan kita selama sembilan bulan lebih di rahimnya? Berapa banyak uang yang harus kita bayar untuk mengganti biaya persalinan, biaya pemeliharaan serta biaya ASI? Tampaknya daftar tagihan akan makin panjang jika ibu memasukkan biaya pengasuhan, biaya pendidikan, kesehatan, sandang, pangan, tempat tinggal, bahkan sampai biaya pernikahan.
Alhamdulillah, ibu kita mewarisi sifat Rahmân dan Rahîm-Nya Allah Swt. Tak terpikir oleh mereka membuat tagihan untuk anak-anaknya. Yang ada justru keinginan memberi dan terus memberi. Seperti halnya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, cinta mereka—dalam kapasitasnya sebagai manusia—adalah “cinta tak bersyarat” atau unconditional love. Cinta mereka adalah “cinta walaupun” bukan “cinta karena”. Mereka mencintai anak-anaknya, “walaupun” anaknya tidak tahu terima kasih, “walaupun” anaknya sering menyakiti, dsb.
Demikian besarnya jasa seorang ibu, Rasulullah saw. sampai menegaskan bahwa apa pun yang diberikan seorang anak kepada orangtuanya tidak akan pernah cukup membalas budi baiknya. Betapa hebatnya pengorbanan Uways Qarni yang ratusan mil menggendong ibunya, sehingga dari jauh Rasulullah saw. dapat mencium bau kemuliaannya. Namun, apa yang dikatakan Rasul? Walau Uways menggendong ibunya lebih jauh lagi, ia tidak akan pernah mampu membalas budi baiknya.
Itulah mengapa bakti seorang anak kepada orangtua harus mencapai derajat ihsan. Ihsan ini lebih tinggi derajatnya daripada adil. Yaitu “hanya” memperlakukan orangtua seperti memperlakukan diri. Ihsan kepada orangtua artinya memperlakukan mereka lebih baik dari memperlakukan diri sendiri, memberi lebih banyak daripada apa yang harusnya kita beri, dan mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya kita ambil. Dalam Al Qur’an, tidak kurang dari lima kali Allah Swt. memerintahkan kita berlaku ihsan kepada orangtua (QS 2:83, 4:36, 6:151, 17:23, 46:15). Padahal, dalam Al Qur’an kata ihsan hanya disebutkan enam kali saja.
Tampaknya, tidak seorang pun di antara kita yang menyangkal bahwa peran ibu teramat luar biasa dalam hidup kita. Namun, apakah kita tahu bahwa ibu-lah yang mewariskan terangnya dunia serta indahnya nada-nada bagi kita? Teori terdahulu menyebutkan karakteristik dan sifat-sifat bawaan seorang anak diwariskan dari ibu bapaknya dalam proporsi 50-50. Namun penelitian biologi molekuler terbaru menemukan bahwa seorang ibu mewariskan 75 persen unsur genetikanya kepada anak. Sedangkan bapak hanya 25 persen. Karena itu, sifat baik, kecerdasan serta keshalihan seorang anak sangat ditentukan oleh sifat baik, kecerdasan serta keshalihan ibunya. Apa yang disabdakan Rasulullah saw. ternyata memiliki korelasi dengan fakta ini. Ketika seorang sahabat bertanya, mana yang harus diprioritaskan seorang anak, beliau pun menjawab, “Ibumu, ibumu, ibumu …. lalu bapakmu”.
Dalam setiap sel manusia ada sebuah organela yang sangat strategis fungsinya. Organela ini dinamakan mitokondria. Organelnya berongga berbentuk bulat lonjong, selaputnya terdiri dari dua lapis membran, membran dalam bertonjolan ke dalam rongga (matriks), serta mengandung banyak enzim pernapasan. Tugas utama mitokondria adalah memproduksi kimia tubuh bernama ATP (adenosin tri phosphat). Energi hasil reaksi dari ATP inilah yang menjadi sumber energi bagi manusia.
Mitokondria bersifat semiotonom karena 40 persen kebutuhan protein dan enzimnya dihasilkan sendiri oleh gennya. Mitokondria adalah salah-satu bagian sel yang punya DNA sendiri, selebihnya dihasilkan gen di inti sel. Yang menarik, mitokondria ini hanya diwariskan oleh ibu, tidak oleh ayah. Sebab, mitokondria berasal dari sel telur bukan dari sel sperma. Itulah sebabnya investasi seorang ibu dalam diri anak mencapai 75 persen.
Kita dapat berkata, inilah organela cinta seorang ibu yang menghubungkan kita dengan Allah Azza wa Jalla dan kesemestaan. Tanpa mitokondria, hidup manusia menjadi hampa, tidak ada energi yang mampu menggelorakan semangat hidup, sehingga tidak akan ada perabadan manusia yang tercipta. Tanpa mitokondria kita tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, hingga akhirnya tidak bisa membaca. Allah Swt. berfirman, ”Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (QS As Sajdah, 32: 9). Tanpa adanya mitokondria di mata, kita akan buta. Tanpa adanya mitokondria di telinga, kita akan tuli. Tanpa adanya mitokondria di kulit, kita mati rasa. Tanpa adanya mitokondria di hidung, kita buta aroma. Sesungguhnya, kita menjadi ”buta”, ”tuli”, dan ”tak berperasaan”, boleh jadi karena ibu tidak ridha mewariskannya. Bukankah ridha seorang ibu adalah syarat datangnya kebahagiaan?
Itulah mengapa kontak batin antara ibu dan anaknya, walau terhalang jarak sejauh apa pun, begitu kuat dan intens. Hal ini memperlihatkan adanya energi cinta yang menembus dimensi. Sebenarnya, teori superstring yang kita ambil dari ilmu Fisika sedikit bisa menjelaskan hal ini. Beberapa tahun lalu, para ilmuwan MIT yang tergabung dalam Kelompok 18, menemukan sebuah supersimetri, yaitu sebuah persamaan matematika yang menciptakan ruang di alam semesta yang terdiri dari 57 bentuk di 248 dimensi. Konsep supersimetri menyebutkan, andai dunia ini dibagi-bagi seperti apa pun, sebenarnya hanya satu titik. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan baru menemukan bahwa jarak itu tidak bisa membatasi jiwa dan ruh yang bersemayam di titik yang sama.
Kalau kita menggunakan konsep ini, maka di mana pun berada, hati seorang ibu selalu berada di titik yang sama. Karena itu, apa yang dirasakan anak dan apa yang dirasakan ibu, bioelektriknya berada di titik yang sama. Mitokondrianya sama sehingga titik pertemuannya pun sama. Dengan kata lain, perasaan seorang ibu kepada anaknya bagaikan perasaan ia terhadap dirinya sendiri. Anak menderita, ibu pun ikut menderita. Anak sakit, ibu pun ikut sakit. Anak bahagia, ibu pun ikut bahagia. Begitulah ibu kita. Itulah mengapa, doa seorang ibu kepada buah hatinya senantiasa tepat, jarang meleset, dan efeknya begitu cepat.
Di sini kita dapat membayangkan, betapa perjuangan seorang ibu tidak hanya sebatas hamil, melahir, menyusui, merawat, serta membesarkan anak-anaknya. Ibu pun harus mewariskan fungsi biologis yang sempurna agar kita dapat merasakan indahnya dunia. Sudahkah kita membalas cinta ibu? Atau, kita malah membalasnya dengan sumpah serapah, suara ketus, bentakan, tatapan mata menghina, tidak mempedulikan nasihatnya, atau sekadar membiarkannya kesepian karena kita terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak punya waktu sekadar untuk ”say hello” via SMS kepadanya!
Ada doa yang sangat menyentuh yang diungkapkan oleh Syaikh Muhammad Al Hadhrami, “Bacaan apa pun yang kami baca dan Engkau sucikan, shalat apa pun yang kami dirikan dan Engkau terima, zakat dan sedekah apa pun yang kami keluarkan dan Engkau sucikan serta kembangkan, amal saleh apa pun yang kami kerjakan dan Engkau ridhai, maka mohon kiranya ganjaran mereka lebih besar dari ganjaran yang Engkau anugerahkan kepada kami, bagian mereka hendaknya lebih banyak dari yang Engkau limpahkan kepada kami, serta perolehan mereka lebih berlipat ganda dari perolehan kami. Karena Engkau, ya Allah, telah berwasiat agar kami berbakti kepada mereka, dan memerintahkan kami mensyukuri mereka, sedangkan Engkau lebih utama berbuat kebajikan dari semua makhluk yang berbuat kebajikan, serta lebih wajar memberi dibanding siapa pun yang diperintahkan memberi …”.

”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ’ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
— QS Al Isrâ’, 17: 23 —

Dari buku : 114 kisah Nyata Doa-Doa Terkabul Penulis : Tauhid Nur Azhar & Sulaiman A
dikutip dari syaamilquran.com


Kamis, 14 Juni 2012

Ibu, mengapa Ibu menangis ?

tiba-tiba seorang anak bertanya kepada Ibunya, " Ibu, mengapa Ibu menangis ? "

Ibunya pun menjawab, " sebab Ibu adalah seorang wanita nak. " anak itupun tidak terlalu mengerti. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. " nak, kamu memang tidak akan pernah mengerti..."

kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. " ayah, mengapa Ibu menangis ? sepertinya Ibu menangis tanpa sebab yang aku mengerti ? "

sang ayah pun menjawab, " semua wanita memang menangis tanpa ada alasan. " hanya itu jawaban yang bisa diberikan oleh ayahnya.

lalu waktu berjalan dan anak itu sudah tumbuh menjadi remaja dan terus bertanya-tanya mengapa wanita menangis.

pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan. " ya Tuhan, mengapa wanita mudah sekali menangis ? "

dalam mimpinya Tuhan menjawab :

" saat kuciptakan wanita, aku membuatnya menjadi sangat utama. kuciptakan bahunya agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, termasuk membuat nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur. "

kalimat itupun berlanjut...

" kuberikan wanita kekuatan untuk melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya. walau sering kali pula ia kerap berulang kali menerima cercaan dari anaknya. "

" pada wanita kuberikan kesabaran. untuk merawat keluarganya walaupun letih, walau sakit, lelah, semua tanpa keluh kesah. "

" kuberikan wanita keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, dimana semua orang sudah putus asa. "

" kuberikan pula wanita perasaan peka dan kasih sayang. untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi apapun dan dalam situasi apapun. walau tak jarang juga anak-anaknya itu melukai perasaannya, juga melukai hatinya. "

" perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya. "

" kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya. sebab, bukankah tulang rusuknya yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak ? "

" kuberikan padanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan penyadaran dan pengertian, bahwa suami yang baik adalah yang tidak pernah melukai hati istrinya. walau sering kali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi. "

" dan akhirnya, kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. inilah yang khusus kuberikan kepada wanita agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walau sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan. "

ketika anak itu terbangun dari mimpinya matanya telah berurai. anak itu teringat semua kebaikan Ibunya dan ia belum mengucapkan terima kasih secara sungguh-sungguh kepadanya.

sudahkah kita melakukannya ?

dikutip dari buku - surat dari Tuhan.

Selasa, 12 Juni 2012

kata ‘Ibu’ Begitu indah

Kata ‘ibu’ begitu indah bagi para perindu Ilahi. Kata bertuah bagi mereka yang memiliki hati. Ibu adalah sosok manusia kuat nan tangguh. Walau derita dan maut datang merapat, tak pernah ibu mau menggugat.


Selama sembilan bulan, ibu tampil sebagai penjaga paling perkasa. Saat sang bayi lahir, apakah bayi tadi mengalami de javu, mendengar detak jantung, semburat alam rahim terulang kembali. Oh ibu, sungguh di kakimu ada surga. Di hatimu ada cahaya dan dalam setiap desah nafasmu yang kudengar hanyalah cinta.

Ketika Allah menyebut dirinya Ar Rahim maka hanya ibu yang memperoleh nama itu. Seakan-akan, siapa saja manusia yang menghinakan wanita, sesungguhnya ia telah melukai Allah Ar Rahim. Siapa saja anak yang menggoreskan luka di hati ibunya, walau hanya berkata ”ah”, niscaya pintu-pintu neraka bergetar haus rindu melahapnya.
Suatu ketika, seorang pemuda bernama Thalhah As Sulami datang menghadap Rasulullah SAW. Dia berkata, ”Ya Rasulullah, sesungguhnya aku ingin sekali ikut berjihad di jalan Allah.” Rasul bertanya, ”Apakah ibumu masih hidup?” Jawabnya, ”Ya, beliau masih hidup.” Kemudian, Rasulullah bersabda, ”Bersimpuhlah kamu di kakinya. Di sana, tempat surga berada.”
Ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang siapakah orang yang paling berhak dimuliakan dan dilayani, Rasulullah menjawab tiga kali, ”Ibumu… Ibumu… Ibumu.”
Bersimpuhlah di kaki kedua orang tuamu. Tatap mata hatinya dan bisikkan dendang harapan merajut restu. Jangankan ucapannya, getaran hatinya saja adalah doa.
Ketika di hadapan orang tuamu jadilah ‘penghibur sejati’, karena kalbu keduanya bisa menjadikan anak-anaknya ahli surga atau neraka. Hidup menjulang atau menjadi pecundang. Dengarkanlah, betapa Allah telah berfirman, ”Dan, ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan, rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.” (17: 23-24).
Seandainya kita berjalan kaki sambil menggendong ibu, kemudian mendaki dari lembah paling dalam menuju puncak gunung menjulang, sungguh takkan pernah akan mampu mengembalikan darah dan air susu ibu yang telah tumpah. Maka, dengan rasa haru, ukirlah di hati sebuah kata paling indah, Ibu!
Berbahagialah bila orang tua memanggil atau menyuruh kita mengerjakan sesuatu. Karena sesungguhnya, mereka sedang membuka pintu-pintu keberkahan Ilahi yang akan dikucurkan dari arah yang tak terduga.

Oleh KH Toto Tasmara – Republika Online
dikutip dari deltapapa.wordpress.com