Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Senin, 30 Juli 2012

Kisah Wafatnya Maryam Ibunda Nabi Isa Alaihissalam


Cerita ini dari Wahab bin Munabbih, neneknya Idris, dia mengatakan,"Saya telah menemukan sebagian kitabnya Isa Al Masih. Beliau berkata kepada Ibunya.

"Ibu......sesungguhnya dunia ini adalah kampung yang akan punah, kampung yang akan hilang melayang. Sesungguhnya akherat itulah kampung yang langgeng. Untuk itu wahai Ibuku tercinta, marilah pergi bersama saya....

Kemudian Ibu dan Anak itu pergi ke gunung Libanon. Digunung keduanya berpuasa di siang hari dan malam harinya menegakkan shalat malam. Mereka hanya makan dari dedaunan pepohonan dan minum air hujan saja, dan disana mereka tinggal sangat lama.

Suatu hari Nabi Isa turun gunung menuju salah satu jurang mencari daun-daunan untuk berbuka puasa bersama. Nabi Isa turun gunung meninggalkan Ibunya, ternyata Ibunya didatangi malaikat maut (yang sebelumnya Maryam tidak tahu kalau sesosok itu malaikat maut). Malaikat maut itu mendekati seraya berkata salam.

"Assalamu`alaika wahai Maryam....orang yang patuh puasa dan shalat pada malam harinya."

"Siapa engkau!" jawab Maryam. "Sungguh sekujur badan sangat gemetar karena takut mendengar suaramu dan kewibawaanmu."

"Saya adalah malaikat maut." jawab Malaikat. "Saya tidak mengenal kasihan terhadap anak-anak karena kecilnya, tidak mengenal kata memuliakan terhadap mereka yang sudah tua atau mengenal karena kebesaran dia. Sebab Sayalah yang bertugas mencabut roh."

"Wahai Malaikat Maut.....engkau disini untuk berkunjung saja atau memangnya untuk mencabut roh saya!"

"Bersiap-siaplah engkau mati, wahai Maryam!" tegas Malaikat. "Apakah engkau tidak mengizinkanku, supaya menunggu sampai kedatangan anak kesayanganku, yang menjadi buah hatiku dan penawar atas segala kesusahanku!"

"Saya tidak diperintahkan untuk itu." tegas Malaikat maut. Dan Saya sebatas hamba yang takluk kepada perintah ALLAH. Demi ALLAH, saya tidak akan mampu mencabut nyawa seekor nyamukpun, kecuali saya sudah diperintahkan oleh ALLAH. Hal ini supaya Saya tidak menyianyiakan waktu sedetikpun, sehingga saya mencabut rohmu di tempat ini juga!"

"Wahai malaikat maut." Jawab Maryam. "Kalau engkau sudah menerima perintah dari ALLAH ta`ala, maka tunaikan saja perintah itu. "Maka Malaikat Maut mendekati dia tatkala duduk beribadah, lalu roh Maryam di cabut dan mati. Nabi Isa Al Masih terlambat datang tidak seperti biasanya. Bahkan ia kembali sampai masuk waktu ashar akhir (mendekati magrib). Dia membawa sayur mayur sekaligus kubis. Setelah meletakkan sayur mayur, kemudian Nabi Isa as ikut shalat di samping Ibunya sampai larut malam.

Tengah malam sunyi senyam, waktunya berbuka bagi Nabi Isa Al Masih. Dia memanggil halus kepada Ibundanya.

"Assalamu`alaika wahai ibu! Sesungguhnya telah masuk waktu malam, waktunya berbuka puasa bagi orang yang berpuasa, serta waktu tegaknya orang-orang beribadah kepada ALLAH. Mengapa ibu tidak jua berdiri beribadah kepada ALLAH Tuhan yang Maha Pengasih!"

(tetapi ibu itu tetap diam dalam duduknya yang disangka terduduk karena shalat yang ketiduran). Nabi Isa Al Masih lantas mengulang perkataan terhadap ibunda.

"Ibu, sesungguhnya dalam tidur memang ada kenikmatan......." Nabi Isa pun lantas berdiri menghadap kiblat beribadah, tidak berbuka karena tidak bersama ibu, tidak berbuka kecuali bersama-sama ibunda.

Mulai timbul keresahan kegelisahan dalam ibadat Nabi Isa Al Masih. Dalam keadaan berdiri dan resah gelisah, dia tetap memanggil ibunya.

"Assalamu`alaika, wahai ibunda," Lirih Nabi Isa Al Masih, (karena tidak ada sahutan) dia lantas melanjutkan ibadah sampai terbit fajar pagi. Pagi yang agak kelam ini, ia meletakkan pipinya ke pipi ibunya, sambil ia berseru memanggil ibunda disertai tangisan keras kerena ibu disangka tidak beribadah sama sekali. Dia menyeru keras :

"Assalamu'alaika, wahai ibunda! Sungguh malam telah habis dan disambut oleh pagi. Adalah waktu untuk menunaikan kewajiban terhadap Tuhan Yang Maha Pengasih."

Seketika itu menangislah seluruh malaikat langit, jin-jin disekitarnya, gunung-gunungpun bergoncang, (sebab kerasnya tangis Nabi Isa yang tidak mengetahui ibunda telah meninggal).

Kemudian Allah ta'ala mewahyukan kepada malaikat, bertanya :

"Apakah sebab yang membuat kalian menangis!"

"Tuhan kami, Engkau sangat Maha Mengetahui...(apa-apa sebab yang kami tangiskan)".

"Ya, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui dan Aku Maha Kasih dan Sayang."

Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba ada suara yang berseru kepada Nabi Isa Al Masih.
"Wahai Isa, angkatlah wajahmu. Sesungguhnya Ibundamu itu sudah meninggal dunia dan ALLAH ta'ala sudah melipatgandakan pahalamu."

Wajah yang masih terangkat kemudian menangis tersedu-sedu sambil merintih sangat dalam....

"Lalu siapa lagi kawanku di saat sunyi! Saat aku sendiri! Serta siapa lagi teman saya bertukar pikiran!

Bersendagurau dalam perantauanku! Dan siapa lagi yang membantu aku dalam ibadahku!"

Keadaan seperti ini ALLAH berfirman kepada gunung "Wahai gunung, berilah Isa nasehat!"
gunungpun memberikan nasehat kepada Isa, "Wahai Isa, apa arti kesusahanmu ini! Ataukah ALLAH,
engkau menghendaki agar dia menjadi pendamping yang menggembirakanmu!"

berangkat dari nasehat itu, kemudian nabi Isa turun gunung, singgah dari desa kedesa untuk mencari dari kalangan tempat tinggal kalangan bani Isra'il."

Nabi Isa berkata kepada Bani Isra'il di sana, "Assalamu'alaikum wahai Bani Isra'il."

"Kamu ini siapa!". Jawab mereka. "Sungguh bagus wajahmu sampai-sampai menyinari terang rumah-rumah kami."

"Saya adalah Ruhul ALLAH, Nabi Isa Al Masih. Dimana ibu telah meninggal dunia dalam perjalanan, tolonglah saya untuk memandikan, mengkhafani dan memakamkan. Dia sekarang ada di gunung sana."

Mereka Bani Isra'il menjawab," Wahai Roh ALLAH, sesungguhnya digunung tersebut banyak sekali ular-ular yang besar dan hewan ganas lainnya, yang sama sekali belum pernah dilalui oleh nenek moyang kami atau ayah kami sejak 300 tahun yang lalu."

Nabi Isa Al masih memaklumi keadaan mereka.Diapun lantas kembali naik ke gunung tanpa hasil sesuai kehendaknya. (Atas kehendak ALLAH ta'ala) beliau berjumpa dengan dua orang pemuda yang gagah-gagah. Isa bersalaman kepada mereka, lalu menyampaikan maksudnya tadi yang tadi gagal.

"Sesungguhnya Ibu telah meninggal dunia dalam perjalanan di gunung ini. Untuk itu tolonglah saya membantu persiapkan pemakaman.". Salah satu seorang diantara laki-laki gagah ternyata menjelaskan :

"Ini adalah malaikat Mikail, dan saya sendiri malaikat Jibril. Dan ini obat pengawet tubuh serta kain kafan dari Tuhanmu."

"Sesaat para bidadari cantik jelita dari surga turun serta membantu memandikan dan mengkafani (jenazah Maryam). malaikat Jibril menggali kubur di puncak gunung, dan kemudian mereka bertiga menshalati dan mengubur disana.

kemudian Isa Al Masih berdoa kepada ALLAH ta'ala : "Wahai ALLAH, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar perkataanku dan maha Mengetahui dimana tempatku. Sedikitpun tidak ada urusanku yang tersembunyi di hadapan-Mu. Ibu telah meninggal dunia dan saya tidak mengetahui, di saat ia meninggal dunia, maka izinkanlah dia berkata kepada saya."

ALLAH mewahyukan kepada Isa : "Sungguh Aku memberikan izin untukmu".

Nabi Isa Al Masih pergi ke pengkuburan Ibundanya. berdiri dekat tumpukan tanah, lantas berkata kepada ibundanya dengan suara lembut sopan.

"Assalamu'alaika, wahai ibunda tercinta...."

Dalam kubur dijawab oleh Ibunya, "Wahai anakku tercinta. kesayanganku dan sebagai biji mataku."

Isa kembali bertanya, "Ibunda, bagaimana engkau dapat menemukan tempat pembaringanmu, dan bagaimana pula keadaan kehadiranmu kepada Tuhanmu!"

Jawab ibunda, "Tempat pembaringanku adalah sebaik-baik tempat pembaringan, tempat kembaliku adalah sebaik-baik tempat kembali. Dan masalah aku datang menghadap Tuhanku, yang aku tau bahwa Dia menerima dengan rela tanpa ada marah."

"Ibunda..." tanya Nabi Isa. "Bagaimana engkau merasakan sakratul maut?"

"Demi ALLAH...!" Jawab ibunda. "Ialah Dzat yang mengutusmu sebagai Nabi dengan sebenar-benarnya, belum hilang rasa sakratul maut dari tenggorokanku, demikian juga kewibawaan menakutkan dari malaikat maut belum sirna dari pelupuk mataku."

(Setelah itu tidak ada lagi yang tercatat dalam percakapan antara ibunda dan anak. Diakhiri oleh Ibunda...)

"Aalaikassalam wahai kesayanganku, sampai jumpa pada hari kiamat kelak"


dikutip dari notes/iman-kuat

Minggu, 29 Juli 2012

Islam Dan Semua Memuliakan Ibu

Sejarah tidak pernah mengenal agama atau aturan apa pun yang memuliakan dan mengangkat derajat serta kedudukan perempuan sebagai seorang ibu sedemikian tinggi, selain Islam. Perintah Allah untuk berbuat baik kepada ibu datang segera setelah perintah-Nya untuk bertauhid dan menyembah-Nya. Islam mejadikan berbakti kepada ibu sebagai salah satu pangkal pokok kebaikan dan menjadikan hak ibu lebih besar ketimbang bapak. Hak ibu lebih besar daripada bapak karena ibu menanggung beban berat saat mengandung, melahirkan, menyusui dan mendidik anak. Hal ini ditegaskan al-Qur`an dan diulanginya pada lebih dari satu surat agar para anak memerhatikan dan mencamkannya di jiwa dan hati mereka.

Firman-Nya:
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (QS Luqmân/31: 14).

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan (QS al-Ahqâf/46: 15).

Seorang laki-laki datang menemui Nabi Saw. dan bertanya:

“Ya Rasulullah,
siapakah yang paling berhak mendapat perlakuan baikku?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi:
“Lalu siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi:
“Lalu siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi:
“Lalu siapa?” Beliau menjawab: “Bapakmu” (HR Bukhârî).

Berbuat baik pada ibu meliputi antara lain memperlakukannya dengan baik, menghormati, merendahkan diri, menaati selain dalam maksiat, dan meminta ridhanya dalam segala urusan. Bahkan dalam berjihad, jika jihadnya fardu kifayah, haruslah atas seizin ibu. Berbakti pada ibu juga merupakan jihad.

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata:

“Ya Rasulullah, aku ingin berperang. Aku datang untuk meminta nasihatmu.” Beliau bertanya: “Kamu masih punya ibu?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Berbaktilah kepadanya. Sesungguhnya surga berada di kedua kakinya” (HR al-Nasâ`î).

Beberapa ajaran pra-Islam mengabaikan posisi dan kemuliaan ibu. Lalu Islam datang dengan seperangkat ajaran yang memuliakan serta menjunjung tinggi martabat dan kedudukan ibu. Bukan hanya ibu; bibi—baik bibi dari pihak ayah maupun dari pihak ibu—pun dimuliakan Islam begitu rupa. Seorang laki-laki mendatangi Nabi Saw. dan berkata:

“Aku telah melakukan dosa besar. Adakah kesempatan bagiku bertobat?” Nabi Saw. bersabda: “Apakah kamu masih punya ibu?” Ia menjawab: “Tidak.” Nabi bertanya lagi: “Apakah kamu masih punya khâlah (bibi dari pihak ibu)?” Ia menjawab: “Ya.” Nabi bersabda: “Maka berbuat baiklah kepadanya” (HR. Tirmidzî).

Dalam hal ini, di antara ajaran Islam paling mengagumkan adalah bahwa Islam tetap menyuruh berbuat baik kepada ibu walaupun ia seorang musyrik. Asmâ` bint Abi Bakr bertanya kepada Nabi Saw. tentang bagaimana ia berhubungan dengan ibunya yang musyrik. Nabi Saw. berkata padanya:

“Ya, tetaplah berhubungan dengan ibumu” (HR Muslim).

Di antara perhatian serta penghargaan Islam terhadap ibu dan hak-haknya adalah bahwa ia menjadikan ibu lebih berhak atas pengasuhan anak-anaknya daripada ayah. Seorang perempuan berkata kepada Rasulullah Saw.:

“Ya Rasulullah, sesungguhnya anakku ini, dulu di perutku ia hidup, dari payudaraku ia menetek, dan di punggungku ia kugendong. Kemudian bapaknya menceraikanku dan bermaksud merebutnya dariku.” Nabi Saw. berkata padanya: “Kamu lebih berhak atas anakmu itu selama kamu belum menikah”
(HR Abû Dâwud).   

‘Umar dan istri yang diceraikannya mengadu kepada Abû Bakar tentang anak mereka, ‘Âshim. Abû Bakar pun memutuskan bahwa ‘Âshim jatuh ke tangan ibunya. Kepada ‘Umar, Abû Bakar berkata: “Aroma mantan isterimu, penciumannya, dan kata-katanya lebih baik untuk anakmu daripada kamu.” Kekerabatan ibu lebih dekat dan lebih utama dari bapak dalam hal kepengasuhan anak.

Al-Qur`an mengabadikan beberapa nama ibu salehah sebagai pelajaran dan arahan bagi kaum Mukmin. Bagi pembinaan iman, kisah mereka memiliki pengaruh yang cukup signifikan.

Ada ibunda Nabi Mûsâ yang memenuhi petunjuk Allah lewat ilham untuk menghanyutkan anaknya, belahan jiwanya, ke sungai Nil. Ia yakin seutuhnya akan janji Tuhan yang akan mengembalikan anaknya.

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul” (QS al-Qashash/28: 7).

Ada ibunda Siti Maryam yang menazarkan janin di rahimnya untuk Allah. Dia berdoa setulus hati kepada Allah supaya Dia menerima nazanya:

“Terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Âli ‘Imrân/3: 35).

Ketika bayi yang lahir ternyata perempuan—tidak seperti yang dia angankan—ibunda Maryam tetap menunaikan nazarnya seraya memohon kepada Allah untuk menjaga anaknya (Maryam) dari segala keburukan:

“Aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk” (QS Âli ‘Imrân/3: 36).

Kemudian Maryam puteri ‘Imrân, ibunda ‘Îsâ al-Masîh. Al-Qur`an menjadikannya ikon kesucian, pengabdian kepada Allah dan keyakinan akan ayat-ayat-Nya:

Dan Maryam puteri ‘Imrân yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat (QS al-Tahrîm/66: 12).

Islam tidak mengkhususkan tanggal tertentu untuk merayakan hari ibu, sebab Islam memuliakan ibu sepanjang hayatnya, bahkan setelah kematiannya. Adalah kewajiban para anak untuk memuliakan, berbuat baik, dan menjaga ibu mereka setiap saat, setiap waktu. Ibulah yang mengandung, melahirkan, mengasuh, mendidik, berjuang, berkorban, dan menanggung banyak beban demi kebahagiaan anak-anaknya. Ibu selalu menjaga nikmat yang dianugerahkan Allah, yakni nikmat umûmah (keibuan), membimbing dan meluruskan anak-anaknya agar mereka tumbuh menjadi generasi yang unggul berbekal iman, kasih-sayang, kebaikan, kemurahan hati, dan kesetiaan yang total terhadap kebenaran. Seorang ibu begitu berharga dan mulia, selamanya. Tidak ada pilihan selain memuliakan dan berbuat baik kepadanya, setiap saat—baik selagi ia masih hidup maupun setelah meninggal.

Kata-kata berikut kiranya dapat menggambarkan sosok ibu:

Ibu: Perasaan yang lembut, batin yang halus, jiwa yang peka, air mata bahagia, keindahan, ketegaran, dan ketangguhan.

Ibu: Padanan kehidupan, tempat mengadu, tiang pancang tegaknya banyak urusan, penentu damainya rumah, dan kunci kesuksesan.

Ibu: Kebeningan hati, kesucian batin, kesetiaan, ketulusan, kasih-sayang, kebaikan, kesungguhan, pengorbanan, dan ketulusan.

Ibu: Makhluk paling tegar, jiwanya paling berharga, perasaannya paling halus, kakinya paling tangguh, pribadinya paling mandiri, tekadnya paling teguh, tangannya paling pemurah, dan dadanya paling lapang.

Ibu: Teman terbaik di kala susah, sahabat terdekat di saat senang.

Ibu: Sumber kasih-sayang, perhatian, dan kebaikan tanpa batas; penunjuk jalan iman dan ketenangan jiwa, sumber ketenangan dan rasa aman, cahaya kehidupan, dan cinta tak berbatas.

Kata-kata sepanjang apa pun dan lembaran-lembaran sebanyak apa pun, tidak akan cukup untuk menghitung keutamaan ibu serta semua haknya untuk mendapatkan penghormatan, pemuliaan, perlakuan baik dan pengabdian. Namun mungkin kita bisa menyimpulkan sosok ibu dalam kata-kata singkat ini:

“Ketulusan dan pengorbanan dalam keseluruhan bentuk dan maknanya.” Al-Qur`an memberikan perhatian khusus terhadap ibu dan menyuruh manusia untuk memerhatikannya. Perhatian khusus itu diberikan terutama karena ibu telah menanggung banyak beban demi kelangsungan dan kebahagiaan hidup anak-anaknya. Allah telah memerintahkan berbakti kepada ibu, melarang mendurhakainya, dan mengaitkan ridha-Nya dengan ridha ibu. Nabi Saw. pun mewanti-wantikan tentang hak ibu. Dibanding ayah, ibu lebih berhak untuk mendapatkan budi baik dari anak-anaknya. Dalam hal ini, keutamaan ibu atas ayah dikarenakan dua hal:  

Pertama, ibu menanggung beban mengandung anak, melahirkan, menyusui, mengurus, mengasuh, dan mendidiknya. QS Luqmân/31: 14 menegaskan hal ini.

Kedua, fithrah kasih sayang, kelembutan, cinta, dan perhatian ibu lebih besar dari ayah.

Di antara bukti betapa besarnya kasih sayang ibu adalah bahwa betapa pun durhakanya seorang anak kepada ibunya, ibu akan melupakan kedurhakaan anaknya itu ketika sang anak tertimpa musibah atau mendapat kesulitan hidup. Tidak ada seorang pun yang mampu menghitung atau menakar hak orang tua atas anak-anaknya. Di antara dua orang tua, ibulah yang lebih berhak atas segala pengabdian, budi baik, pemuliaan dan penghormatan anak.

Islam sangat menjunjung tinggi dan mensucikan hubungan atau ikatan dengan ibu. Untuk menjaga kesucian ini, Islam mengharamkan menikah dengan ibu:

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu (QS al-Nisâ`/4: 23).

Dengan tegas Islam menyatakan bahwa ikatan suami-istri tidak akan pernah berubah menjadi ikatan anak-ibu. Sangat jauh perbedaan antara keduanya:

Dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu (QS al-Ahzâb/33: 4).

Ada baiknya di sini ditampilkan kata-kata para tokoh dan sebagai seorang anak tentang sosok ibu :

“Keibuan adalah anugerah terbesar yang Tuhan peruntukkan bagi kaum perempuan” (Marry Hopkins).

“Tidak ada di dunia ini bantal yang lebih lembut dari pangkuan ibu” (Shakespear).

“Aku tidak akan menamaimu wanita. Aku akan menamaimu segalanya” (Mahmûd Darwîsy).

“Ibu adalah segalanya dalam hidup ini. Dia adalah pelipur lara dalam kesedihan, pembawa harapan dalam keputusasaan, dan kekuatan dalam kelemahan” (Kahlil Gibran).

“Tanpa ibu, umat tidak akan ada. Karena ibulah umat ada” (Khalil Mathran).

“Jika dunia ada di tangan yang satu dan ibu di tangan satunya lagi, pastilah aku pilih tangan di mana ibu berada” (Jean Jaques Rouseou).

“Ibulah yang menggoyang ayunan dengan tangan kanannya dan mengoyang (mengguncang) dunia dengan tangan kirinya” (Napoleon Bonaparte).

“Di dunia, hanya satu yang lebih baik dari istri; ibu” (Syafir).

“Tidak ada dalam hidup ini seorang perempuan yang menghibahkan seluruh hidup, kasih sayang dan cintanya tanpa meminta imbalan, selain ibu. Maka berilah ia, ya Tuhan, umur yang lebih panjang dari umur manusia” (Schuber).

“Satu-satunya tempat di mana aku dapat menyandarkan kepala padanya dan tidur di dalamnya dengan tenang dan nyaman, adalah pangkuan ibu” (Voltaire).

“Ketika aku menunduk mencium tanganmu, mencucurkan airmata di dadamu, dan menangkap tanda rela dari sorot matamu; hanya ketika itu aku merasakan kesempurnaan diri sebagai seorang laki-laki” (Islam Syamsuddîn).

“Tak ada sesuatu pun di dunia yang lebih manis dari hati ibu” (Martin Luther).

“Anda boleh melupakan segala hal tentangku, kecuali apa yang telah diajarkan ibu kepadaku” (Nixon).

“Ibu selalu mencintai dan hanya mengetahui cinta” (Cyrus).

“Seandainya seluruh semesta menjadi kecil, maka ibu akan tetap besar” (Victor Hugo).

“Segala yang dikerahkan oleh para bapak tidak akan sebanding dengan satu kasih sayang saja dari kasih sayang ibu yang tanpa batas” (Voltaire).

“Lantunan terlembut dan senandung terindah hanya dapat diberikan oleh hati ibu” (Bethoven).

“Saat paling bahagia bagi seorang wanita; saat dimana ia merasakan kesejatian dan keabadian dirinya sebagai wanita serta sebagai ibu, adalah saat ia melahirkan” (‘Abbâs Mahmûd al-‘Aqqâd).

dikutip dari http://abualitya.wordpress.com

Sabtu, 28 Juli 2012

Khadijah, Ibu Yang Suci


Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ,”sebaik-baik wanita surga Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, & Asiyah binti Muzahim.”.

Khadijah yang juga seorang yang cerdas, mengenai ketertarikannya kepada Muhammad S.A.W ia mengatakan, “Jika segala kenikmatan hidup diserahkan kepadaku, dunia dan kekuasaan para raja Persia dan Romawi diberikan kepadaku, tetapi aku tidak hidup bersamamu, maka semua itu bagiku tak lebih berharga daripada sebelah sayap seekor nyamuk.

Silsilah keturunannya

Khadijah binti Khuwailid’ ( Khadijah al-Kubra) merupakan isteri pertama Nabi Muhammad Saw. lengkapnya adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. Khadijah al-Kubra, anak perempuan dari Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti Za’idah berasal dari kabilah Bani Asad dari suku Quraisy. Ia merupakan wanita as-sabiquna awwalun.

Wanita pertama masuk islam

Adapun Khadijah adalah seorang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang pertama kali masuk Islam. Beliau adalah seorang istri yang mencintai suaminya dan juga beriman, berdiri mendampingi Nabi suami yang dicintainya untuk menolong, menguatkan dan membantunya, serta menolong beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman, sehingga dengan hal itulah Allah meringankan beban Nabi-Nya. Tidaklah beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan beliau kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya bila beliau kembali kerumahnya. Beliau (Khadijah) meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya dan mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada beliau. Dan ayat-ayat al Quran juga meneguhkan Rasulullah.

Khadijah dilahirkan pada tahun 68 sebelum Hijriyah, di sebuah keluarga yang mulia dan terhormat. Dia tumbuh dalam suasana yang dipenuhi dengan perilaku terpuji. Ulet, cerdas dan penyayang merupakan karakter khusus kepribadiannya. Sehingga masyarakat di zaman Jahiliyah menjulukinya sebagai At-Thahirah (seorang wanita yang suci). Selain itu, Khadijah juga berprofesi sebagai pedagang yang mempunyai modal sehingga bisa mengupah orang untuk menjalankan usahanya. Kemudian Khadijah akan membagi keuntungan dari perolehan usaha tersebut. Rombongan dagang miliknya juga seperti umumnya rombongan dagang kaum Quraisy lainnya.
Lalu, suatu saat dia mendengar tentang Rasulullah SAW, sesuatu yang menarik perhatian Khadijah tentang kejujuran, amanah, dan kemuliaan akhlak beliau. Pada saat itu, Abu Thalib berkata pada keponakannya, Muhammad SAW, “Aku adalah orang yang tidak mempunyai harta sedangkan kebutuhan zaman semakin hari semakin mendesak. Umur telah kita lalui dengan sia-sia tanpa ada harta dan perniagaan. Lihatlah Khadijah, dia mampu mengutus beberapa orang untuk menjalankan niaganya, sehingga mereka mendapatkan hasil dari barang yang diniagakan. Andai engkau datang kepadanya (untuk menjalankan niaganya) dengan keutamaanmu dibandingkan yang lainnya, tentu tidak akan ada yang menyaingimu, terutama sekali dengan 
kesucianmu.”

Kemudian Khadijah memberikan pekerjaan kepada Rasulullah agar menjalankan barang dagangannya ke negeri Syam dengan ditemani anak bernama Maisarah. Beliau diberi modal yang cukup besar dibandingkan lainnya. Rasulullah menerima pekerjaan tersebut dan disertai Maisarah menuju kota Syam. Sesampainya di negeri tersebut beliau mulai menjual barang dagangannya, dan kemudian hasil dari penjualan tersebut beliau gunakan membeli barang lagi untuk dijual di Makkah. Setelah misi dagangnya selesai, beliau bergabung dengan kafilah kembali ke Makkah bersama Maisarah. Keuntungan yang didapatkan Rasulullah sungguh berlipat ganda, sehingga Khadijah menambahkan bonus untuk beliau dari hasil penjualan tersebut.

Sesampainya di Makkah, Maisarah menceritakan perilaku baik Rasulullah yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri. Khadijah merasa tertarik dengan cerita tersebut dan segera mengutus Maisarah untuk datang pada Rasulullah. Dan menyampaikan pesannya untuk beliau. “Wahai anak pamanku, aku senang kepadamu karena kekerabatan, kekuasaan terhadap kaummu, amanahmu, kepribadianmu yang baik, dan kejujuran perkataanmu.” Kemudian Khadijah menawarkan dirinya kepada Rasulullah. Rasulullah menceritakan perihal ini kepada para pamannya. Tidak lama kemudian Hamzah bin Abdul Muthalib bersama Rasulullah datang pada Khuwailid bin Asad, bermaksud meminang putrinya itu untuk Rasulullah. Kemudian Khuwailid berkata, “Dia itu kuda yang tidak dicocok hidungnya.” (Maksudnya, seorang yang mulia). Rasulullah kemudian menikahi Khadijah dan memberinya dua puluh unta muda. Saat itu Khadijah berumur 40 tahun dan Rasulullah berumur 25 tahun. Dialah perempuan pertama yang dinikahi Nabi SAW dan beliau tidak menikah dengan siapa pun kecuali setelah Khadijah meninggal dunia. Dari Khadijah lahirlah Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah.

Bersama dakwah Rasul dalam suka dan duka

Saat menerima risalah kenabian, Khadijah merupakan orang pertama yang percaya kepada Allah dan Rasul beserta ajaran-ajaran-Nya. Nabi Muhammad pun tidak menghiraukan berbagai ancaman dan propaganda yang datangnya dari kaum musyrikin. Karena disampingnya terdapat sang kekasih pilihan Allah yang dengan setia mendampingi dan memperkuat aktifitas dakwahnya, sehingga terasa ringan beban yang diemban dan ringan pula menghadapi cobaan apa pun yang dilakukan oleh kaumnya. Setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Rasulullah kembali ke rumah dengan perasaan takut seraya berkata kepada Khadijah, ”Selimuti aku! Selimuti aku!” Maka Khadijah menyelimutinya hingga hilang perasaan takutnya itu. Beliau menceritakan semua yang telah terjadi. “Aku khawatir pada diriku,” kata Rasulullah. Khadijah menjawab, “Tidak perlu khawatir, Allah tidak akan pernah menghinakanmu, sesungguhnya engkau orang yang menjaga tali silaturrahmi, senantiasa mengemban amanah, berusaha memperoleh sesuatu yang tiada, selalu menghormati tamu dan membantu orang-orang yang berhak untuk dibantu.” Khadijah mengajak suaminya menemui Waraqah bin Naufal, sepupunya yang memeluk agama Nasrani di zaman Jahiliyah dan menulis buku Injil dengan bahasa Ibrani. “Dengarkan sepupuku, kata-kata dari keponakanmu ini!” kata Khadijah. “Wahai keponakanku, apa yang engkau lihat?” tanya Waraqah pada Muhammad SAW. Rasulullah menceritakan tentang apa yang telah dilihatnya. Waraqah berkata, “Ini adalah Malaikat yang telah Allah turunkan kepada Nabi Musa. Andai aku dapat bertahan, aku berharap masih hidup ketika kaummu mengusirmu.” Rasulullah bertanya, “Kenapa mereka mengusirku?”

“Tidak seorang pun yang datang dengan sesuatu sebagaimana yang kau emban ini kecuali dimusuhi oleh kaumnya. Jika aku masih hidup sampai pada harimu, tentu aku akan menolongmu dengan sungguh-sungguh,” jawabnya. Waraqah tidak sempat terlibat dalam aktifitas dakwah Nabi, karena keburu meninggal dunia dan tidak sempat mendengarkan ajaran wahyu yang diturunkan pada Muhammad SAW. Rasulullah dan Khadijah tetap berdiam di Makkah dan melakukan shalat secara rahasia dengan kehendak Allah. Khadijah memang sangat dicintai dan dihormati oleh Rasulullah. Beliau juga tidak pernah berselisih dengan apa yang dikatakan Khadijah pada beliau, terutama pada saat sebelum wahyu turun.

Aisyah cemburu terhadapnya

Bahkan walau Khadijah telah tiada, Rasulullah selalu menyebut-nyebutnya dalam setiap kesempatan, dan tidak bosan-bosan memujinya. Sehingga Aisyah, Ummul Mukminin, merasa cemburu. Sampai suatu saat, Aisyah berkata pada Rasulullah, “Allah telah mengganti wanita tua itu.” Tentu saja Rasulullah tersinggung dengan ucapan Aisyah ini, hingga ia berkata pada dirinya, “Ya Allah, hilangkanlah perasaan marah Rasulullah terhadapku dan aku berjanji untuk tidak lagi menjelek-jelekkan Khajidah.” Aisyah pernah berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada istri-isrti Rasulullah kecuali pada Khadijah. Walaupun aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Rasulullah sering menyebutnya setiap saat. Ketika beliau memotong kambing, tak lupa beliau sisihkan dari sebagian daging tersebut untuk kerabat-kerabat Khadijah. Ketika aku katakan, seakan-akan tidak ada wanita di dunia ini selain Khadijah. Beliau berkata, sesungguhnya dia telah tiada dan dari rahimnya aku dapat keturunan.”

Aisyah berkata, “Dulu Rasulullah SAW setiap keluar rumah, hampir selalu menyebut Khadijah dan memujinya. Pernah suatu hari beliau menyebutnya sehingga aku merasa cemburu. Aku berkata, ‘Apakah tiada orang lagi selain wanita tua itu. Bukankah Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik?’ Lalu, Rasulullah marah hingga bergetar rambut depannya karena amarah dan berkata, ‘Tidak, demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik darinya. Dia percaya padaku di saat semua orang ingkar, dan membenarkanku di kala orang-orang mendustakanku, menghiburku dengan hartanya ketika manusia telah mengharamkan harta untukku. Dan Allah telah mengaruniaiku dari rahimnya beberapa anak di saat istri-istriku tidak membuahkan keturunan.’ Kemudian Aisyah berkata, ‘Aku bergumam pada diriku bahwa aku tidak akan menjelek-jelekannya lagi selamanya.”

Khadijah, seorang tangan kanan Rasulullah yang senantiasa membantu beliau dalam menjalankan dakwah dan menyebarkan ajaran-ajarannya, meninggal pada tahun ke-3 sebelum Hijrah di kota Makkah pada usia 65 tahun. Di saat ajal menjemputnya, Rasulullah menghampiri Khadijah sembari berkata, “Engkau pasti tidak menyukai apa yang aku lihat saat ini, sedangkan Allah telah menjadikan dalam sesuatu yang tidak engkau kehendaki itu sebagai kebaikan.”

Saat pemakamannya, Rasulullah turun ke liang lahat dan dengan tangannya sendiri memasukkan jenazah Khadijah. Wafatnya Khadijah merupakan musibah besar, di mana setelahnya diikuti berbagai musibah dan peristiwa yang datangnya secara beruntun. Rasulullah SAW memikul beban dengan penuh ketabahan dan kesabaran demi mencapai ridha ALLAH SWT.

dikutip dari http://pksaceh.net

Senin, 23 Juli 2012

Ibu yang Mulia melahirkan generasi Mulia


Suatu malam yang tenang dan hening. Semua orang telah beranjak ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Menarik selimut hingga terlindungi dari hawa dingin yang melingkupi cakrawala Madinah. Namun, seorang laki-laki yang disadarkan oleh rasa tanggung jawab sebagai pemimpin menyingkap selimutnya. Dia keluar menyusuri lorong-lorong Madinah yang mencekam. Merayapi jalan-jalan yang sepi dari tapak kaki manusia.

Dia keluar seorang diri menembus kegelapan malam. Barangkali ia menjumpai musafir yang tidak menemukan tempat bermalam. Atau orang yang merintih kesakitan. Atau orang lapar yang belum menemukan sesuap makanan untuk mengganjal perutnya. Barangkali ada urusan rakyatnya yang luput dari pengawasannya. Atau mungkin ada domba yang tersesat jauh di pinggir sungai Eufrat. Allah akan menanyakannya dan menghisabnya kelak.

Jangan heran! Lelaki tersebut adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab RA.

Setelah sekian lama mengitari Madinah dan mulai merasakan lelah pada sendi-sendinya, Umar bersandar pada salah satu dinding rumah kecil di pinggiran kota Madinah. Dia beristirahat sejenak sebelum melanjutkan langkahnya menuju masjid.
Kala itu, sayup-sayup terdengar olehnya suara dua orang wanita dari dalam rumah kecil tempat ia bersandar. Percakapan seorang ibu dengan putrinya. Percakapan dimana sang putri menolak untuk mencampur susu perah dengan air putih.
Sang ibu berkata, “Campurlah susu itu dengan air!”

Sang putri menjawab, “Sesungguhnya, Amirul Mukminin telah melarang kita untuk mencampur susu dengan air. Tidakkah Ibu mendengar juru bicaranya menyampaikan larangan tersebut?”

“Umar tidak melihat kita. Dia tidak akan tahu apa yang kita lakukan di saat-saat terakhir malam ini.” Jawab ibunya.
Putrinya pun menjawab seketika, “Wahai Ibuku, walaupun Umar tidak melihat namun Tuhan Umar melihat kita. Demi Allah, saya tidak akan melakukan apa yang dilarang-Nya.”

Ucapan putri tadi menyejukkan hati Umar. Jawaban yang menggambarkan kejujuran dan keimanan.
Akhirnya Umar menikahkan putranya, Ashim, dengan gadis yang baik itu. Gadis itu bernama Ummu Ammarah binti Sufyan bin Abdullah bin Rabi’ah Ats-Tsaqafi. Kelak ia akan melahirkan dua anak gadis yang diberi nama Laila dan Hafshah. Laila kemudian dikenal dengan panggilan Ummu Ashim.

Ummu Ashim kemudian menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan, seorang gubernur Bani Marwan. Dari pernikahan yang suci ini lahirnya seorang khalifah yang mulia, Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz yang berjuluk Khalifah Kelima adalah pemimpin yang sangat sederhana nan bersahaja. Tingkat keimanannya tidak perlu diragukan lagi. Umar hafal Quran sejak kecil. Matanya selalu banjir air mata karena rasa takutnya pada Allah.

Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, tidak ada yang menjadi mustahik. Tidak ada orang yang berhak menerima zakat. Rakyatnya hidup makmur dan sejahtera. Sementara Umar hidup sangat sederhana.
Apa yang menjadikan Umar memiliki pribadi yang begitu luar biasa? Ummu Ashim, ibunda Umar, mendidiknya sejak kecil dengan penuh kasih sayang. Mengajarkan Umar Quran dan cinta pada Allah. Ia selalu menjaga dan mengawasi putranya.
Ummu Ashim juga dikenal sebagai wanita yang sangat dermawan dan menyayangi orang-orang yang lemah. Ummu Ashim mewakili gambaran ideal tentang sosok seorang ibu. Demikian juga ibunda dari Ummu Ashim. Rasa takutnya pada Allah menjadikannya pribadi yang unggul.

Keteladanan wanita-wanita tersebut menjadi bukti vitalnya seorang ibu dalam membentuk sebuah generasi. Seorang penyair mengungkapkan bahwa ibu adalah sebuah sekolah. Apabila dipersiapkan dengan baik, berarti telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.

Tidak berlebihan tentu saja. Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan wadah yang mengajarkan dan mendidik berbagai macam ilmu dalam kehidupan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pendidik awal, ibulah yang pertama kali meletakkan fondasi dasar –terutama dalam aspek keimanan- kepada anak dalam proses pendewasaan mental dan pematangan jiwa.

“Tugas keibuan adalah pekerjaan yang paling terhormat dan membutuhkan keterampilan di dunia ini. Dan terlaksananya tugas ini sangat penting bagi pemeliharaan dan perlindungan anak terutama di masa-masa awal pertumbuhannya. Tak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya. Dan tak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersebut.”

Namun, begitu banyak muslimah yang kurang bahkan tidak memahami pentingnya peran seorang ibu. Peran yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Menjadi ibu full time dianggap hanya ‘pekerjaan’ tidak penting. Tidak perlu sekolah yang tinggi, tidak perlu pintar untuk menjadi seorang ibu. Salah! Anda justru harus menjadi muslimah yang sangat cerdas untuk bisa memenuhi peran keibuan.

Islam telah mengajarkan kemuliaan seorang ibu. Sejarah telah mencatat banyak orang hebat yang lahir dari seorang ibu yang juga hebat. Tak pernah ada cacat pada peran keibuan. Tak pernah ada cela pada predikat seorang ibu. Maka tak berlebihan bila ada ungkapan bahwa surga ada di telapak kaki ibu.

Ibu adalah simpul penting sebuah sambungan peradaban. Dialah yang akan mencetak sebuah generasi. Ibu adalah tiang yang akan mengibarkan kembali bendera kejayaan Islam lewat pendidikannya terhadap keluarga. ibu, tak pernah bermakna kecil. Karena Allah lah yang menjadikannya begitu mulia.

dikutip dari dakwatuna.com

Minggu, 22 Juli 2012

pelajaran Tawakkal dari Siti Hajar, Ibunda Nabi Ismai'l a.s

 

Kalimat tawakkal (dalam berbagai bentuknya) beberapa kali disebut dalam  al-Qur'an. Dan menariknya lagi, kata ini selalu dipakai dalam pernyataan  yang indah. Maksud indah disini adalah ungkapan yang tidak berkaitan dengan ancaman-ancaman Allah Subhanahu wa ta'ala. Jadi kalau tawakkal disebut maka disana disebut juga masalah rizki yang banyak, karakter orang yang beriman dan lain sebagainya. Kaitannya dengan tawakkal, maka al-Qur'an pun juga menuturkan tentang kisah refleksi hidup orang-orang yang tawakkal. Sangat menarik dan  menakjubkan. Sampai-sampai sikap ketawakkalan mereka diabadikan dalam al-Qur'an. Salah satu darinya adalah kisah tawakkalnya Hajar, ibunda Nabi Isma'il Alaihi salam.

Kisah ini berawal dari perjalanan Nabi Ibrahim as yang hendak meninggalkan salah satu istri dan anaknya di sebuah lembah yang gersang, kering kerontang. Tempat itu yang hari ini lebih dikenal dengan nama Makkah. Makkah saat itu tentu tidak seramai hari ini. Disana tak ada kehidupan. Tak ada orang. Tak ada tanaman. Tak ada mata air. Kalaupun ada barangkali adalah binatang buas padang pasir. Nabi Ibarahim sendiri sadar betul dengan apa yang dilakukannya kepada anak dan istrinya. Dan ia juga paham betul di tempat seperti apa ia hendak meninggalkan mereka. Diantara munajat Nabi Ibrahim sebelum meninggalkan anak dan istrinya adalah:
   
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya Aku telah menempatkan keturunanku di  lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati" (QS. Ibrahim: 37).

Sebagai seorang istri, yang harus mengasuh anaknya yang masih sangat  kecil sendirian, di tempat yang sangat asing bahkan ganas, tentunya wajar saja jika ketika itu Hajar sempat bimbang. Hingga akhirnya, ia putuskan untuk bertanya kepada suaminya, 
   
"Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini semua?"
 
"Iya!" jawab Nabi Ibrahim.
 
"Kalau begitu, pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kita!" sambut Hajar dengan mantap dan yakin.
 
Ungkapan terakhir seorang Hajar inilah yang hendak kita jadikan inspirasi dalam sikap tawakkal. Ini adalah kalimat yang agung yang penuh makna dan bertenaga. Menariknya lagi, kalimat ini terucap dari lisan seorang wanita dalam segala keterbatasan kondisinya. Intinya hanyalah satu, jika suatu perkara memang telah menjadi perintah Allah yang harus ia ta'ati, maka pasti akan berujung pada kebaikan dan keberkahan yang melimpah, pasti akan berujung pada keajaiban-keajaiban hidup yang luar biasa. Sekalipun secara logika tidak masuk. Sekalipun secara hitung-hitungan manusia terkesan mustahil.
 
Namun perintah Allah tetaplah perintah yang harus dilaksanakan. Masalah nanti yang terjadi bagaimana itu urusan Allah. Urusan seorang hamba hanyalah menaati dan melaksanakan segala titah-Nya. Dan sikap tawakkal Hajar ternyata tidaklah sia-sia. Anak keturunannya menjadi kabilah nomor wahid di Arab. Lembah Makkah berubah menjadi tempat persinggahan para kabilah dagang dan saudagar. Kota yang dulunya sepi, tak ada apa-apa selain hamparan padang pasir yang kejam kini berubah menjadi ramai dan pusat perhatian ummat manusia, khususnya ummat Islam sampai hari ini. Lebih dari itu semua, Allah Subhanahu wa ta'ala menjadikan salah satu dari keturunannya menjadi pemimpin sekaligus penutup para nabi dan rasul. Dialah nabi akhir zaman, Muhammad bin Abdullah Shallalahu alaihi wa sallam.

Itu semua merupakan keberkahan sikap tawakkal seorang Hajar, istri Nabi Ibrahim Alaihi salam.

dikutip dari eramuslim.com 

Sabtu, 21 Juli 2012

Chairul Tanjung : Ibu Adalah Segalanya


Chairul Tanjung seorang pengusaha sukses di Indonesia saat ini adalah contoh sukses seorang pengusaha yang memulai semua kisah suksesnya dari bawah, tiada apa-apa menjadi seorang yang bisa bermanfaat bagi banyak orang yang ada disekitarnya, Padahal, Chairul Tanjung dulunya adalah anak yang dijuluki “Anak Singkong” atau anak yang hidup dalam serba sulit.


Chairul besar dari Gang Labu, gang sempit di pedalaman Jakarta, tempat Chairul kecil dibesarkan hingga pria kelahiran tahun 1962 ini dapat meraih kesuksesan dengan menjadi CEO sekaligus Chairman Trans Corp. Chairul kecil sudah terbiasa berusaha mencari uang atas jerih payah sendiri mulai dari berjualan es mambo hingga bekerja jadi tukang fotokopi ketika kuliah.

Oleh teman-teman masa kecilnya dia pernah dijuluki Si Anak Singkong, karena merupakan anak kampung dari keluarga yang cukup sederhana.

Chairul mengakui peran ibunya Halimah Tanjunglah yang sangat besar atas kesuksesan yang ia capai selama ini.  “Ibu sampai menjual kain halusnya supaya saya bisa kuliah,”  ujar Chairul Tanjung. Selain itu, lanjut Chairul, Ibunyalah yang meletakan landasan moral dan nilai-nilai kerja keras. ”Jadi Ibu adalah segalanya,” ujar Chairul Tanjung.

kisah lengkap perjalanan sukses seorang Chairul Tanjung bisa kita baca dibuku " Chairul Tanjung si Anak Singkong " banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik dari kisah hidup seorang Chairul Tanjung, jujur sayapun sangat mengidolakan seorang Chairul Tanjung yang memiliki pribadi sederhana meski punyai segudang kelebihan, setiap orang-orang sukses biasanya begitu dipengaruhi dan banyak terinspirasi oleh orang-orang disekitarnya seperti Chairul Tanjung yang menempatkan Ibunya adalah segala-galanya hingga bisa mencapai titik suksesnya saat ini, layak dicontoh.., semoga.


dikutip dari http://suarapengusaha.com dengan sedikit tambahan

Jumat, 20 Juli 2012

Bahagiakan Ibu, Bahagialah Anda


Seorang anak tidak akan mampu dan tidak akan sampai bisa mengganti apa yang telah diberikan ibu dan ayahnya, meskipun ia telah memberikan semua umurnya hanya untuk itu.


Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepada-Ku ( ALLAH ) dan kepada dua ibu-bapakmu ( Qs - 31 : 14)

Disadari atau tidak, kita sering kali mengabaikan keberadaan ibu kita. Interaksi kita dengan dunia luar membuat kita sengaja atau tidak lupa bahwa ada surga di rumah kita yaitu ibu.

Rasulullah berpesan,

“Ridha Allah itu tergantung pada keridhaan orang tua kita”


Tips Untuk bisa mengutamakan Ibu :

• Posisikan diri Anda sebagai seorang ibu yang hidup mati berjuang mulai proses kelahiran hingga tumbuh besar, tetapi kemudian anak Anda tidak menghormati dan menghargai Anda.

• Tanpa ada ayat atau hadist yang memerintahkan untuk mengutamakan ibu, misalnya, sudah cukup bagi anda untuk tidak menyakiti hati ibu, apalagi menyakiti fisiknya.

• Orang yang membunuh ibunya sama dengan orang yang membunuh dirinya sendiri. Orang yang menyakiti ibunya sama dengan orang yang menyakiti dirinya sendiri. Orang yang memaki ibunya sama dengan orang yang memaki dirinya sendiri.

• Menghormati ibu orang lain sama dengan menghormati ibu sendiri. Mencaci ibu orang lain sama dengan mencaci ibu sendiri.

• Bahagiakan Ibu , Bahagialah Anda..

dikutip dari http://syaikhoni.blogspot.com

Kamis, 19 Juli 2012

Kerinduan Seorang Ibu Pada Anaknya


Merupakan hal yang wajar apabila seorang ibu merindukan anaknya ketika mereka berdua terpisahkan oleh jarak dan waktu yang begitu jauh. Sekuat apapun, setegar apapun, mereka berdua adalah satu darah dan satu daging yang tak dapat terpisahkan satu sama lain. Seorang ibu akan merindukan anaknya yang sedang bepergian jauh. Demikian pula si anak akan merasa rindu dengan ibunya.


Namun, yang terpenting dari semua itu adalah bagaimana mereka berdua menyikapi sebuah kerinduan. Seorang ibu yang bijak tentu akan memahami kondisi anaknya yang sedang merantau untuk suatu tujuan mulia. Ia paham bahwa anaknya sedang pergi jauh untuk kemudian pulang kembali membawa sesuatu yang bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi umat. Oleh karena itu, ia akan merelakan kepergian anaknya dan selalu mengiringi setiap langkahnya dengan doa yang tulus.

Demikianlah yang semestinya dilakukan oleh para ibu yang memiliki anak yang sedang merantau untuk suatu tujuan mulia.


Imam Ali Al Madini, Guru Besar Imam Bukhari, ketika merantau selama kurang lebih tiga tahun di Yaman untuk menuntut ilmu, ibunya merasa rindu, ingin berjumpa kembali dengan buah hatinya.
Berikut ini penuturan beliau:


Saya pergi dari Basrah untuk merantau ke Yaman selama tiga tahun, sedangkan ibu saya saat itu masih hidup. Ketika saya pulang ke rumah, beliau berkata kepada saya, “Putraku, si fulan itu benar-benar kawanmu, sedangkan si fulan adalah musuhmu.”

Saya bertanya, “Dari mana Ibu mengetahui hal itu?”

Beliau menjawab, “Kemarin si fulan dan si fulan –sambil menyebutkan satu persatu nama-nama mereka, di antaranya Yahya bin Sa’id– datang ke sini untuk menjengukku. Mereka mengatakan: Bersabarlah, Bu. Kalau nanti dia sudah datang, Ibu pasti akan merasa gembira. Dari situ aku mengerti bahwa mereka adalah kawan-kawan sejatimu dan orang-orang yang memang mencintaimu. Sedangkan si fulan dan si fulan –sambil menyebutkan nama-nama mereka–, mereka datang lalu mengatakan: Tulislah surat untuknya, desaklah ia, suruhlah ia segera pulang.”


Itulah contoh seorang ibu yang bijak. Kerinduannya terhadap anaknya tidak sampai mengalahkan kerinduannya akan keberhasilan anaknya. Karena keberhasilan anaknya merupakan keberhasilan dirinya pula yang telah mendidiknya sejak kecil. Ia harus rela bersabar menunggu anaknya kembali dengan menggenggam piala cita-cita yang selama ini didamba.

Itulah sepenggal kisah dari Imam Ali Al Madini dan ibunya. Kini, nama beliau senantiasa dikenang dalam sejarah Islam karena beliau merupakan Guru Besar Imam Bukhari, sang pionir pembawa panji Hadis Nabi SAW, sehingga siapapun yang membaca kitab Sahih Bukhari pasti akan berkali-kali berjumpa dengan nama Ali bin Al Madini. 

dikutip dari t4fsir.wordpress.com

Rabu, 18 Juli 2012

Ucapan Seorang Ibu

Ada seorang ulama terkenal bernama Zamakhsyari, beliau penulis terkenal tafsir al-Khassyaf yang hanya memiliki satu kaki. Baliau sendiri mengatakan bahwa memiliki satu kaki karena ucapan ibunya. menurut beliau pernah waktu masih kecil, dirinya naik keatas dinding untuk membantu mengeluarkan anak burung dari sarangnya.

Anak burung itu berusaha lari dari cengkeraman Zamakhsyari, karena dia menahan kaki sebelahnya sehingga menyebabkan kaki burung itu terputus. Zamakhsyari yang masih anak-anak itu berlari menemui ibunya dan menunjukkan burung itu kepada ibunya karena terkejut dan marah ibu mengatakan, 'Ya Alloh, Engkau akan kehilangan satu kaki.'

Dikemudian hari ketika dewasa beliau mengalami sebuah tragedi yang menyebabkan kehilangan satu kakinya.

Itulah gambaran ucapan seorang ibu adalah doa bagi anak-anaknya. Sebaiknya apapun yang diucapkan seorang ibu kepada anaknya dipikirkan terlebih dahulu daripada menyesal dikemudian hari. Sekecil apapun kesalahan atas kelakuan anak kita, memaklumi dan memaafkan jauh lebih baik untuk anak kita.
--
Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu anhu, dia menceritakan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam telah bersabda, 'Janganlah kalian menyumpahi diri kalian, dan jangan pula menyumpahi anak-anak kalian dan harta kalian, kalian tidak mengetahui saat ucapan (do'a) dikabulkan sehingga Allah akan mengabulkan sumpah itu' (HR.Muslim).

dikutip dari gendonpro.blogspot.com

Selasa, 17 Juli 2012

kisah bakti Abu Hurairah kepada Ibunya


Abu Hurairah adalah seorang sahabat Nabi yang mulia. ia memiliki seorang Ibu yang masih kafir, namun ia tetap sabar berbakti kepada Ibunya sambil mengajaknya memeluk Islam.


kisah bakti Abu Hurairah terekam dalam kitab Adabul Mufrad karya Imam Bukhari sebagai berikut. suatu hari Abu Hurairah menceritakan, " aku mendakwahi Ibuku dan mengajaknya untuk memeluk Islam. akan tetapi ia berbicara tentang Rasulullah Saw., sesuatu yang tidak saya sukai. kemudian saya datang menemui Rasulullah Saw., untuk menyampaikan apa yang telah saya alami, sambil menangis aku berkata, " wahai Rasulullah, saya sedang mengajak Ibuku memeluk Agama Islam, akan tetapi ia justru berbicara tentang engkau sesuatu yang tidak aku sukai. Do'akanlah wahai Rasulullah agar ia mendapatkan Hidayah. "

Rasulullah Saw., bersabda, " ya ALLAH, berikanlah petunjuk pada Ibu Abu Hurairah. " aku pulang dengan perasaan gembira karena Rasulullah Saw., telah menDo'akan Ibuku. ketika aku datang dan hendak menuju ke pintu, ternyata pintu itu tertutup. Ibuku mendengar langkah kakiku, lalu ia berkata, " tetaplah ditempatmu wahai Abu Hurairah. " aku mendengar suara gemercik air. kemudian Ibuku keluar dengan mengenakan jilbab untuk membukakan pintu untukku seraya berkata " wahai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali ALLAH Swt., dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Saw adalah utusan  ALLAH. " Abu Hurairah melanjutkan ceritanya, " kemudian saya kembali menemui Rasulullah Saw., dan menceritakan kejadian tersebut. " akhirnya Rasulullah Saw., mengucapkan Tahmid kepada ALLAH Swt.

sungguh Abu Hurairah telah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang anak kepada orang tuanya dengan memohonkan agar Ibunya diberi Hidayah oleh ALLAH Swt lewat Do'a Rasulullah Saw yang akan selalu dikabulakan oleh ALLAH Swt, inilah cinta teragung seorang anak yang begitu menginginkan agar Ibunya pun bisa memasuki kebahagiaan abadi Syurga ALLAH Swt yang telah dijanjikan bagi hamba-hambanya yang beriman, semoga.

dikutip dari buku - keajaiban berbakti kepada orangtua, dengan sedikit tambahan.

Senin, 16 Juli 2012

seorang anak dan Ibunya Yang Bijaksana


Seorang anak bertanya kepada Ibunya : "Ibu, ibunya temanku membiarkan nyamuk menggigit tangannya sampai kenyang supaya tidak menggigit anaknya. Apakah Ibu juga akan melakukan hal yang sama?".

Sang Ibu tertawa : "Tidak. Tapi Ibu akan mengejar setiap nyamuk sepanjang malam, supaya mereka tidak sempat menggigit kamu".

"Oh iya. Ku baca tentang seorang Ibu yang rela tidak makan supaya anak-anaknya bisa makan kenyang. Akankah Ibu lakukan hal yang sama?", si anak kembali bertanya.

Dengan tegas Ibunya menjawab, "Ibu akan bekerja keras agar kita semua bisa makan kenyang, dan kamu tidak harus sulit menelan karena melihat ibumu menahan lapar."

Sang anak tersenyum, "Apakah Aku bisa selalu bersandar padamu Ibu?"

Sambil memeluk anaknya, si Ibu berkata "Tidak Nak! Tapi aku akan mengajarimu berdiri kokoh di atas kakimu sendiri, agar kau tidak harus jatuh tersungkur ketika aku harus pergi meninggalkanmu".

Pesan Moral:

"Seorang Ibu yang bijak bukan hanya menjadikan dirinya tempat bersandar, tetapi yang bisa membuat sandaran tersebut tidak lagi diperlukan."



dikutip dari http://ezineticle.blogspot.com

Minggu, 15 Juli 2012

Petuah Seorang Ibu kepada Anak Gadisnya


Suatu Hari.. Seorang anak wanita yang ingin menggenapkan Din-nya / Agamanya,  bertanya kepada Ibunya, “ Ibu, ajarkan anakmu ini untuk memilih pendamping hidup ! “

Sang ibu tersenyum, dan dengan bijak menjawab, “ Anakku , jangan kau menikahi seorang laki-laki hanya karena ketampanannya, kelak akan kecewa, karena ia pasti menua. Nak, jangan pula memilihnya hanya ia di kagumi banyak wanita, karena kau belum tahu apa kekurangannya. Tidak pula karena kekayaan atau karena nasabnya , Karena kekayaan tidak pernah kekal, nasab tidak menjamin kemuliaan dirinya. “

“Nak, Pilihlah Ia karena akhlaknya yang mulia ….Pilihlah ia karena kasihnya ke sesama….. Pilihlah ia karena imannya tiada dua” Tambah sang ibu

“Bu, lalu bagaimana aku tahu dirinya akan membuatku bahagia, padahal belum tentu ia kaya, tampan, terkenal ? tanya sang anak“

“Nak ketampanan dan kecantikan ada pada hati yang merasa. Kaya ada pada hati yang Qonaah. Terkenal di hadapan manusia belum tentu mulia di hadapan-Nya.”

“Perbaikilah akhlakmu, perbaharuilah niatmu, kuatkan imanmu, perbanyak amalmu… Lalu jika hari itu tiba…

Terimalah sosok yang berani melamarmu. Setidaknya dia berniat baik kepadamu, bukan menebar pesonanya, namun karena keinginannya menjaga kesucian cinta. Kau tentu boleh memilih…..namun ingatlah Jika kau alihkan cintamu pada harta, ketenaran, ketampanan, juga nasabnya, maka kau pasti akan kecewa. Karena boleh jadi itu hanya topeng darinya. “

“ Istikharahlah……

Dan…Jika pilihanmu mantap padanya… Menikahlah nak…..karna itu adalah sebaik-baik penawar fitnah…. kau akan rasakan kebahagiaan karena melibatkan ALLAH dalam pilihanmu…

Rajutlah Cinta bersamanya…
Kelebihannya membuatmu tersenyum bahagia…
Kekuranganya akan menjadi bumbu-bumbu cinta diantara kalian..
Karena kalian tercipta untuk saling mengisi…
Saling memperbaiki akhlak…
Semangati langkahnya, kokohkan semangat juangnya.
Arung bahtera rumah tangga dengan senyum ceria
Kelak didiklah anak-anakmu untuk menjadi pejuang yang setia pada cinta yang Mulia..

Lahirkan keturunan yang kuat tauhidnya, 
mulia akhlaqnya, 
kokoh azzamnya.

Dan…..

Kelak, ibumu ini akan bahagia menimang cucu seorang pejuang sejati.. “

~Salam Penuh Cinta dan kesucian

dikutip dari salehstainjusi.blogspot.com

Sabtu, 14 Juli 2012

Fakta Bahwa Tingkat Kecerdasan Anak Warisan seorang Ibu


Pernahkah Anda mendengar anjuran “carilah istri yang cerdas supaya bisa mempunyai anak yang cerdas karena kecerdasan itu diturunkan dari seorang Ibu”. Namun, Anda pasti bingung dan bertanya-tanya, yaitu bagaimana kecerdasan itu diturunkan dari Ibu? apakah kecerdasan itu bisa ditingkatkan ? dan apa saja yang mempengaruhi kecerdasan ?

Apakah Kecerdasan Diturunkan ?

Menjelang akhir tahun 1997, seorang ilmuwan mengumumkan bahwa ia telah menemukan satu gen kecerdasan di kromosom 6. Orang kebanyakan memiliki urutan tertentu pada gen tsb, tapi anak-anak cerdas dengan IQ 160 yang diteliti olehnya memiliki urutan agak berbeda pada gen IGF2R tsb. Penemuan Robert Plomin ini segera mengundang kontroversi. Tak banyak perdebatan dalam sejarah sains yang berlangsung seseru perdebatan seputar kecerdasan. Parameter uji kecerdasan dengan IQ sendiri merupakan kontroversi. Di akhir 1990-an, banyak ilmuwan memperkenalkan kecerdasan yang lain : emotional, spiritual, adversity quotience, dll. Seorang pakar, Howard Gardner, bahkan telah mendefinisikan 9 jenis kecerdasan yang berbeda, di antaranya kecerdasan visual, kecerdasan verbal, kecerdasan musik, bahkan kecerdasan atletik. Penelitian yang terakhir ini rasanya lebih adil. Mengatakan Mozart, Hemingway, atau Zidane lebih bodoh daripada Newton, kini sangat bisa diperdebatkan.

Penelitian lain dilakukan Thomas Bouchard. Dimulai th 1979, ia mengumpulkan pasangan-pasangan kembar terpisah dari seluruh dunia dan menguji kepribadian dan IQ mereka. Hasil yang diluar dugaan dari penelitian ini adalah korelasi antara anak-anak adopsi yang dibesarkan bersama ternyata nol. Artinya, tidak ada pengaruh asuhan keluarga terhadap IQ. Jika bukan asuhan keluarga, lalu apa yang menentukan IQ ? Jawabnya adalah peran penting rahim seorang Ibu ! Menurut studi lain, pengaruh peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kandungan terhadap kecerdasan tiga kali lebih besar dibanding apapun yang diperbuat oleh orangtua sesudah bayi lahir.

Kesimpulan yang dapat diambil dari studi tadi adalah, kali ini menurut Ridley, bahwa kira-kira separuh IQ kita dapatkan melalui pewarisan, dan kurang dari 20% berasal dari asuhan keluarga. Sisanya berasal dari kandungan, sekolah, dan teman sepergaulan. Sifat pewarisan IQ sewaktu anak-anak porsinya kurang lebih 45%, sedangkan pada masa akhir remaja naik menjadi 75%. Sejalan dengan pertumbuhan, anak secara berangsur mengekspresikan kecerdasan bawaan dan meninggalkan pengaruh-pengaruh sebelumnya yang ditanamkan orang lain. Akhirnya, meskipun terbukti sahih bahwa kecerdasan diwariskan, sifat pewarisan bukan berarti tidak dapat berubah. Kecerdasan bawaan sangat berperan, sebagaimana pengaruh lingkungan asuhan tak dapat disepelekan. Ambillah orok dari sepasang suami-istri profesor mekanika kuantum dan doktor biologi molekuler, lalu besarkanlah ia di Nusa Tenggara Timur, tempat dimana anak-anak menderita marasmus. Tujuh belas tahun kemudian kita akan membuktikan kesimpulan Ridley.

Siapa yang Lebih Berperan dalam Mewariskan Kecerdasan pada Anak ?

Faktor genetik seorang Ibu seangat berpengaruh terhadap kecerdasan anak. Menurut ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands Dr Ben Hamel “Pengaruh itu sedemikian besar karena tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibu”.

Karena itu, ibu yang cerdas berpotensi besar melahirkan anak yang cerdas pula. “Dengan demikian, lebih baik memiliki ibu yang cerdas daripada ayah yang cerdas,” ujar Hamel. Namun, kelainan genetika dari seorang ibu juga dapat diturunkan kepada anak-anaknya, termasuk di antaranya retardasi mental.

Dalam keadaan normal, setiap manusia memiliki 23 pasang kromosom yang terdiri atas 22 pasang kromosom autosom dan sepasang kromosom seks. Ada 23 kromosom berasal dari ibu yang disebut kromosom XX dan 23 pasang lagi berasal dari ayah yang disebut kromosom XY.

Kromosom dari ayah dan ibu akan bergabung saat terjadinya fertilisasi, yaitu pertemuan antara sel sperma dan sel telur yang akan menghasilkan zigot. Dalam keadaan normal, zigot akan melakukan pembelahan sel secara mitosis sehingga setiap sel dalam tubuh manusia akan membawa informasi genetik yang sama.

Otak dikatakan berfungsi optimal jika memiliki kemampuan berfikir kreativ dan innovative pada saat yang tepat. Untuk mendapatkan sel otak yang bisa berfungsi maksimal, selain factor genetic, juga dipengaruhi oleh asupan gizi, dan ransangan luar.

Genetik diturunkan dari kedua orang tua, asupan gizi dan ransangan dari luar tergantung dari bagaimana kita memenuhi kebutuhan gizi anak, dan melayani anak, apakah permainan, interaksi orang tua dan anak. Permainan edukatif dan yang banyak mengundang kreativitas anak tentu akan lebih baik untuk perkembangan otak yang sempurna. Sehingga kecerdasan yang sebenarnya itu adalah akumulasi dari genetic, supply gizi dan ransangan. Dengan artian walaupun orang tua mempunyai genetic yang baik, tapi anak tidak diberi makanan yang baik dan tanpa diransang justeru kecerdasan itu tidak akan muncul sempurna.

Bagaimana Seorang Ibu Berperan Penting dalam Pewarisan Kecerdasan Anak ?

Bagaimana bisa seorang ibu menjadi penentu kecerdasan anak-anaknya? Mungkin pertanyaan ini akan terdengar kurang indah ditelinga kaum laki-laki karena pada dasarnya seorang anak terlahir dari pertemuan antara sperma (laki-laki) dan ovum (perempuan) melalui proses fertilisasi dimana setelah terjadi proses fertilisasi tersebut, kedua sel gamet itu akan melebur menjadi satu dan membentuk zygot kemudian membelah menjadi morula, blastula, gastrula, dan berdiferensiasi menjadi makhluk hidup kecil di dalam rahim yg disebut dengan fetus (janin).

Ovum merupakan sel gamet yang terdiri dari inti sel dan sitoplasma lengkap dengan organel-organel yang akan berperan dalam proses pembelahan dan perbanyakan sel. Sperma merupakan sel gamet yang terdiri atas kepala dengan inti sel dan ekor yang mengandung mitokondria sebagai pemberi energi bagi pergerakan sperma. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa 14 jam setelah proses fertilisasi maka ekor sperma yang mengandung mitokondria akan dilepas dan dibuang, inti sel ovum dan sperma akan melebur menjadi satu sehingga terbentuklah sel baru (zygot) 2n. Inti zigot merupakan gabungan antara inti sperma dan ovum sedangkan sitoplasma dan organel-organel sel berasal dari organel sel ovum. Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa prosentase peran ovum lebih besar daripada sperma dalam aktivitas pembelahan sel selanjutnya.

Di sinilah awal peran Ibu dalam menentukan kecerdasan, yaitu melalui mitokondria. Yang menarik, mitokondria ini hanya diwariskan oleh ibu, tidak oleh ayah. Sebab, mitokondria berasal dari sel telur bukan dari sel sperma (sebagaimana penjelasan sebelumnya). Dalam setiap sel manusia ada sebuah organela yang sangat strategis fungsinya. Organela ini dinamakan mitokondria. Organelnya berongga berbentuk bulat lonjong, selaputnya terdiri dari dua lapis membran, membran dalam bertonjolan ke dalam rongga (matriks), serta mengandung banyak enzim pernapasan. Tugas utama mitokondria adalah memproduksi kimia tubuh bernama ATP (adenosin tri phosphat). Energi hasil reaksi dari ATP inilah yang menjadi sumber energi bagi manusia. Mitokondria bersifat semiotonom karena 40 persen kebutuhan protein dan enzimnya dihasilkan sendiri oleh gennya. Mitokondria adalah salah-satu bagian sel yang punya DNA sendiri, selebihnya dihasilkan gen di inti sel. Itulah sebabnya investasi seorang ibu dalam diri anak mencapai 75 persen.

Keseimpulannya, berdasarkan uraian 3 pertanayaan di atas. Secara teori, kecerdasan anak mungkin sangat dipengaruhi oleh kecerdasan seorang ibu. Namun, fenotip (penampakan) yang kita lihat bukanlah melulu hasil dari faktor genetik melainkan hasil interaksi dengan lingkungan juga.

Apakah Anda tertarik untuk mencari calon istri yang cerdas dengan harapan anak-anak Anda juga cerdas di kemudian hari. Tapi yang terpenting adalah bagaimana nantinya cara Anda mendidik anak-anak hingga memiliki akhlak dan budi pekerti yang mulia. Bukankah itu hal yang lebih utama

tidaklah mengherankan jikalau peran Ibu sebagai pemberi warisan sifat dan kecerdasan pada anak-anaknya lebih besar daripada seorang Ayah sebab kita sudah mahfum bersama bahwa Ibulah yang mengandung, merasakan lelahnya memiliki seorang anak, merasakan sakitnya melahirkan dan tentunya merasakan bahagia yang luar biasa tatkala anaknya sudah lahir kedunia ini, namun kecerdasan sungguh sangat banyak macamnya dan tentunya puncak dari semua kecerdasan adalah kecerdasan seorang hamba mengenal sang penciptanya, kecerdasan yang berlaku selamanya, mencari seorang istri untuk menjadi Ibu bagi anak-anak kita adalah wajib tidak boleh asal-asalan perlu kriteria terbaik, carilah mereka yang cerdas Imannya, cerdas Akalnya, cerdas Akhlaknya dan tentunya bukan pembangkang dihadapan suami kecuali yang bertentangan dengan aturan-aturan ALLAH.

dikutip dari tulisan-wahyu.web.id dengan sedikit tambahan

Jumat, 13 Juli 2012

inspirasi kesabaran seorang Ibu



Seorang dokter berkisah tentang seorang ibu yang 15 tahun tak kunjung mempunyai anak. Akhirnya, anugrah itu pun terwujud. Namun belum genap 2 tahun usia anaknya, si ibu harus menerima kenyataan bahwa anaknya mengalami sakit jantung dan harus di operasi.

Dua jam setelah operasi anak tersebut mengalami pendarahan pada saluran nafasnya. Hal itu menyebabkan si anak mengalami sesak dan jantungnya sempat berhenti bekerja. Ketika hal tersebut di kabarkan pada sang ibu, ibunya hanya berucap “ hasbiyallahu wani’mal wakil  (cukuplah ALLAH bagiku dan Dia adalah sebaik-baik pelindung)”. Kemudian di lihatlah anak tersebut sambil membaca Al-Quran. Dua minggu kemudian keadaan si anak membaik. 
Namun, dua hari berikutnya kembali si anak mengalami pendarahan. Tiap kali kondisinya membaik dia mengalami pendarahan lagi. Namun, tidak ada kata yang terucap dari mulut sang ibu selain “hasbiyallohu wani’mal wakil”.
Setelah pendarahan berhasil diatasi dan kondisi anak membaik, tiba-tiba ia terkena kebocoran otak yang hampir merenggut nyawanya. Setelah kebocoran berhasil diatasi si anak malah mengalami keracunan di seluruh tubuh sekaligus kegagalan ginjal sehingga kondisinya sangat mengkhawatirkan. setelah agak membaik, ia mengalami radang selaput pembungkus jantung dan sekitar tulang rongga dada yang mengharuskannya kembali menjalani operasi.
Sepanjang menemani anaknya menjalani perawatan, sang ibu selalu membaca “hasbiyallohu wani’mal wakildan juga selalu berdoa ,
”ya ALLAH...sembuhkanlah anakku jika kesembuhan adalah yang terbaik untuknya”.
Enam bulan lamanya si anak terbaring di ruang pemulihan, kemudian di pindahkan ke bagian bedah jantung khusus anak dalam keadaan yang mengenaskan, tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa berjalan, dengan dada terbuka.
Akan tetapi sang ibu sangatlah tegar dan penuh harap kepada ALLAH. Ia terus membaca Al-Quran di sisi anaknya. Tiga bulan berlalu, anak itu keluar dengan kondisi bisa melihat, mendengar, berbicara dan berjalan sendiri seolah tidak pernah terjadi apa-apa.    
                                           
Sungguh ALLAH maha besar, semua terjadi karena pertolongan ALLAH.

dikutip dari qy2.blogspot.com

Rabu, 11 Juli 2012

Do'a Ibu untuk anak




Ya Ghaffar, ya Rahim
Kau letakkan di rahim kami anak-anak keturunan kami
Kau amanatkan diri-diri mereka pada lindungan kasih-sayang kami
kau percayakan jiwa-jiwa mereka pada bimbingan ruhani kami
Kau hangatkan tubuh-tubuh mereka dengan dekapan cinta kami
Kau besarkan badan-badan mereka dengan aliran air susu kami

Tuhan kami, kami telah sia-siakan kepercayaan-Mu
kesibukan telah menyebabkan kami melupakan amanat-Mu
hawa nafsu telah menyeret kami untuk menelantarkan buah hati kami
tidak sempat kami gerakkan bibir-bibir mereka untuk berzikir kepada-Mu
tidak sempat kami tuntun mereka untuk membesarkan asma-Mu
tidak sempat kami tanamkan dalam hati mereka kecintaan kepada Nabi-Mu

Kami berlomba mengejar status dan kebanggaan
meninggalkan anak-anak kami dalam kekosongan dan kesepian

Kami memoles wajah-wajah kami dengan kepalsuan
membiarkan anak-anak kami meronta dalam kebisuan

Kami terlena memburu kesenangan
sehingga tak kami dengar lagi mereka menangis manja
sambil memandang kami dengan pandangan cinta
seperti dulu, ketika mereka mengeringkan air mata mereka
dalam kehangatan dada-dada kami

Dosa-dosa kami telah membuat anak-anak kami
menjadi pemberang, pembangkang, dan penentang-Mu

Dosa-dosa kami telah membuat hati mereka
keras, kasar, kejam, dan tidak tahu berterima kasih

Sebelum Engkau ampuni mereka, Ya Allah
ampunilah lebih dahulu dosa-dosa kami

Ya Allah, berilah kami peluang untuk mendekap tubuh mereka
dengan dekapan kasih sayang kami
berilah kami waktu untuk melantunkan pada telinga mereka
ayat-ayat Alquran dan Sunnah Nabi-Mu

Berilah kami kesempatan untuk sering menghadap-Mu
dan memohon kepada-Mu seusai salat kami
untuk keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan anak-anak kami

Bangunkan kami di tengah malam untuk merintih kepada-Mu
mengadukan derita dan petaka yang menimpa anak-anak negeri ini.
Izinkan kami membasahi tempat sujud kami
dengan air mata penyesalan akan kelalaian kami




dikutip dari http://newyorkermen.multiply.com

Selasa, 10 Juli 2012

kisah bakti Ibnu Hasan At-Tamimi kepada Ibunya

Ibnu Hasan At-Tamimi adalah seorang yang gemar beribadah dan termasuk pemuka dari orang-orang yang saleh didaerahnya. dalam semalam dia mampu menunaikan Shalat malam sebanyak seratus rakaat. jika dia bosan menunaikan Shalat diapun berkata kepada dirinya, " bangkitlah engkau, wahai tempat keburukan. demi ALLAH, keburukan memang tidak akan meridhaimu menghadap ALLAH walau sedikit pun. "

At-Tamimi juga termasuk orang-orang yang terkenal karena baktinya kepada Ibundanya. dalam kitab Haliyah Al-Awliyah diceritakan bahwa suatu hari At-Tamimi melihat seekor kalajengking dirumahnya, dia pun berniat membunuh atau menangkapnya. sayangnya, kalajengking itu lebih dahulu masuk kedalam lubangnya. At-Tamimi kemudian memasukkan tangannya kedalam lubang kalajengking itu untuk menangkapnya.

alih-alih dapat menangkapnya, kalajengking itu justru menyengatnya sampai dia mengalami sakit yang amat parah. ketika ditanyakan kepadanya kenapa melakukan tindakan ' bodoh ' tersebut, ia menjawab, " demi ALLAH dan demi Muhammad, aku melakukan hal ini karena takut kalajengking itu keluar dari lubangnya, kemudian menyengat Ibuku. "

At-Tamimi adalah sosok anak yang sangat menyayangi Ibunya. ia tidak mau Ibunya tersakiti sedikit pun. dia mengurus Ibunya dengan penuh perhatian melebihi perhatian yang ia berikan kepada dirinya sendiri. semasa hidupnya, At-Tamimi bekerja di tempat penjualan batu alam dengan upah harian sebesar sepertiga dirham. jika sore hari tiba, upah itu dia gunakan untuk membeli buah-buahan yang akan dipersembahkan untuk Ibunya.

At-Tamimi memang anak yang sangat berbakti kepada Ibundanya. dia selalu membersihkan rumah dan melayani Ibundanya sampai wafat dipangkuannya. setelah Ibunya wafat, At-Tamimi pindah ke mekah sampai meninggal dunia disana. diceritakan bahwa ketika At-Tamimi meninggal dunia, dari tubuhnya keluar bau wangi yang sangat menyengat dan bisa tercium dari jarak 100 meter. ALLAHUAKBAR, sungguh mulia kehidupan dan kematian At-Tamimi.


 dikutip dari buku - keajaiban berbakti kepada Orangtua

Senin, 09 Juli 2012

Hadiah untuk Ibu-ku, Kisah yang Terinspirasi dari Pendiri Bakrie

“Aku melihat kain salung ibuku yang sudah ditambal dimana-mana dikenakan saat tahun baru dan merasa sedih ketika ia memakainya karena itulah satu-satunya pakaian terbaik yang ia miliki sejak menikah dengan ayah. Aku pun bertekad memberikanya kain salung, ketika aku berhasil memberikannya salung kain baru, ia menitihkan air mata dan itu membuatku terharu.”


Tahun 1916. Desaku kaliandra, lampung penuh dengan sawah yang subur. Setiap hari ketika matahari belum terbit ayahku sudah pagi-pagi pergi bertani, aku selalu menyertainya hingga dapat melihat matahari terbit nan indah setiap pagi bersama kakakku. Aku selalu ingat kalimat yang diucapkan oleh ayahku,

” untuk menjadi orang besar kelak aku harus sekolah dan mengenyam pendidikan tinggi ”.

Tapi kami hanya dari keluarga petani miskin dan untuk mencapai impian itu orang tuaku harus mengencangkan perutnya setiap harinya dari rasa lapar. Orang tuaku tidak pernah mengeluh walau hanya makan nasi dengan sedikit garam atau sedang mujur bersama ikan asin. Mereka rela berkorban hanya untuk memiliki satu tujuan kelak agar aku dan kakakku menjadi orang besar dan merubah nasib kami yang seorang petani miskin.

Tidak akan pernah kulupakan masa-masa kecilku yang begitu terasa indah saat aku bangun pagi. biasanya aku bangun pukul 5 subuh untuk ikut ayahku ke sawah setelah sampai aku langsung membajak sawah dengan kerbau yang besar dan kuat. Setelah matahari mulai terlihat, aku berpamitan kepada ayahku untuk menempuh jarak sekiranya 5 km untuk mencapai sekolahku di Holandsch Inlandsche school dengan hanya beralaskan kaki penuh lumpur. Teman-temanku banyak yang hidupnya lebih baik dariku, walau demikian aku bersyukur setidaknya aku masih bisa sekolah walau hanya dengan pakaian kusam dan bau keringat yang setiap datang selalu membasahi tubuhku yang hitam mungil sehingga banyak yang melihatku dengan sekilas mata.

Hal yang kusukai ketika bersekolah adalah belajar menulis, menghitung dan membaca sejarah. Pada masa itu, Sumatra masih dipimpin oleh ratu Belanda, kami mengalami masa-masa sulit ketika sistem tanam paksa berlaku di setiap tanah jajahan. Setiap pulang sekolah sambil mengingat-ingat apa yang kupelajari, aku langsung kembali ke sawah untuk membantu ayahku, terkadang aku tertidur diatas kerbau dan kalau sudah begitu ayahku akan membangunkanku untuk tidur di rumah sawah yang hangat sambil menunggu ibuku membawa makan.

Walau kami hidup dalam kesulitan, kami sangat bahagia atas apa yang kami miliki dan bersyukur diberikan kesehatan yang maha baik oleh ALLAH. Itulah ajaran ibuku yang selalu kutanam dalam-dalam tentang bagaimana mensyukuri kehidupan dalam kondisi apapun. Keluargaku bukanlah keluarga pedagang, dan tidak memiliki darah mahir berdagang, tapi aku pernah mempelajari bagaimana berhitung mencari keuntungan di sekolahku dan bermimpi kelak bisa mewujubkan impianku memiliki sedikit uang agar bisa memberi baju baru serta sepatu untuk sekolah.

Semua itu mulai terwujub ketika usiaku 7 tahun dan pulang dari sekolah, tiba-tiba hujan datang dan aku melihat seorang ibu sedang menjajahkan kue di depan warungnya yang kecil. Aku berteduh di warungnya dengan meminta izin, lalu melihat kue yang ia jajahkan rasanya perutku langsung berbunyi. Tidak mungkin bagiku untuk membeli kue itu karena sepeser sen pun aku tidak punya uang. Ibu yang baik itu melihat aku begitu kelaparan lalu menawarkan aku rotinya;
“ Kamu lapar nak?” tanyanya dan aku menganggukan kepala.
“ Siapa namamu?”
“ Namaku Achmad.. Achmad Bakrie..”
“ Pilihlah satu kue yang kamu suka dan habiskanlah”
“ Tapi aku tidak punya uang untuk membayar kue ibu..”
“ Kamu tidak perlu membayarnya, itu ibu berikan Cuma- Cuma. Ayo ambil.. jangan malu-malu” paksanya dan aku tidak akan lagi malu-malu.

Ketika hujan telah usai, aku bermaksud untuk berpamitan dari ibu yang baik itu dan beliau juga sedang membereskan dagangannya karena hendak pulang, dengan wajah penuh kesedihan ia berkata padaku.
“ Hari ini dagangan ibu tidak begitu laku, semoga besok cuaca cukup bersahabat dan banyak orang yang akan membeli kue ibu.”

Karena ibu itu begitu baik, aku langsung menawarkan kepada ibu itu.
“ Ibu, di desaku pasti akan banyak yang suka kue ibu, bagaimana kalau aku menjualnya di sana?”
Ibu itu tersenyum.

” Baiklah aku akan sangat senang bila kamu bisa menjualnya, kuberikan 10 kue ini, jualah dengan harga 3 sen, aku akan membagimu 1 sen setiap kue itu terjual ”

Aku tidak pernah berdagang sebelumnya tapi aku percaya, bahwa bila aku mau mencobanya tidak akan ada salahnya, toh ibu itu tidak akan marah bila dagangannya tidak habis. Kami sepakat untuk bertemu besok dan aku akan membayarkan hasil jualanku. Aku terharu karena ibu itu percaya padaku yang masih berusia 7 tahun. Dengan semangat aku menjajahkan kue-kue itu di setiap rumah-rumah di desaku, aku begitu bahagia ketika satu kueku terjual hingga terpeleset ke lumpur, beruntung hanya satu kue yang tercebur. aku melanjutkan daganganku dan sungguh sulit dipercaya hari itu aku bisa menjual 9 dari 10 kue itu.

Aku pulang dengan penuh senyum yang disambut ibuku dengan berpikir aku sakit demam panas karena kehujangan. Lalu kuceritakan semua kejadian hari ini pada orang tuaku, mereka hanya bisa tersenyum manyut melihat sekiranya aku memiliki 9 sen dari hasil penjualanku hari ini. Saat itu aku jadi berpikirdan merenung sepanjang malam untuk meminta izin kepada ayahku agar tidak bertani dan membiarkanku berjualan saja. Ayah setuju dan tugasku akan digantikan oleh kakakku. Keesokan harinya, aku mendatangi ibu yang baik hati itu sambil menyerahkan kue yang sudah kujual dan tersisa satu.

Ia terkejut dan merasa kaget, awalnya ia hanya berpikir kue itu hendak ia berikan kepadaku sebagai oleh-oleh tangan karena toh akan basi bila ia simpang di rumah, ternyata aku malah menjualnya. Aku ceritakan kepadanya tentang sisa 1 yang tak bisa kujual karena terjatuh di tanah berlumpur. Ia tersenyum dan menghargai kejujuran yang kumiliki. ketika aku menawarkan diri untuk membantunya berdagang dengan sistem bagi hasil, Ia sepakat. Tanpa tending aling-aling ia langsung memberikan aku sebuah tampah dan kue miliknya sebagai modal pertamaku. sejak saat itu jadilah aku seorang pedagang kue cilik di sekitar desaku dengan panggilan bocah penjual kue.
Aku berdagang setiap pulang sekolah dengan berjalan kaki sambil membaca buku dibawah terik matahari panas. lalu aku mengetuk satu persatu rumah di desa terdekat sambil menjual kue. Ada yang membeli dan ada pula yang hanya melihat-lihat. Penjualanku tidak pasti, kalau sedang baik aku bisa menjual habis dalam waktu beberapa jam. Tapi kadang ketika sedang buruk, hingga sorepun aku hanya menjual setengahnya. Aku tidak menyerah, kulangkahkan kakiku ke desa-desa pelosok untuk menjual kue ini hingga terkadang pulang larut malam.
Ibuku cukup cemas bila melihatku pulang malam, tapi ia bersyukur bila aku pulang dengan keadaan baik-baik saja, biasanya sebelum tidur malam, aku membaca-baca kembali pelajaran yang kudapat hari ini sebagai tanggung jawab pengorbanan orangtuaku agar aku bisa sekolah. Dari hasil menjual kue itu, akhirnya aku mampu menabung dan membantu keluargaku. Pernah suatu ketika, ketika setiap tahun baru tiba, ibu akan memakai salung batik terbaiknya, ia tidak mampu membeli yang baru sehingga usia kain batik yang ia pakai saat menikah dengan ayahku itu, terus ia simpan hingga menua dan robek dimana-mana, ia harus menambalkan benang agar tertutupi.  

aku tau, ibu bukan tidak ingin membeli pakain terbaik untuknya, tapi ia menahan dirinya untuk kehidupan anak-anaknya agar dapat makan dan bersekolah, sehingga ia rela menerima keadaan pakaian yang selalu ia syukuri sebagai hadiah pernikahan terindahnya. Aku merasa sedih karenanya, dan bertekad untuk memberikan kain salung baru untuk ibu bila aku memiliki uang.

Aku menabung sedikit demi sedikit jeripayahku berdagang kue untuk memberikan salung batik untuk ibuku di hari ulangtahunnya yang akan datang beberapa saat lagi, saat uangku terkumpul, aku memberi kain salung itu dari nona china di kota berjalan tanpa lelah hingga pulang kemudian membangunkan ibuku yang sedang tertidur dengan sebuah hadiah kecilku. Ibu menitihkan air mata menerima kado kecilku dan aku terharu bisa memberikan hadiah itu sambil mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Kami berpelukan dan mengucap syukur atas apa yang diberikan ALLAH walau masa sulit kemiskinan masih bergelut bersama kami.
ibu mengatakan padaku sambil berbisik sebelum kami tidur.

” Setiap apa yang kamu dapatkan dan kamu tabung, jadikanlah itu berarti bagi orang  lain setidaknya bagi orang-orang yang mencintai kamu “

aku mengingat kalimat itu dalam-dalam di hatiku dan berharap kelak bisa melakukan apa yang ibu inginkan.
***
Ternyata dari berdagang kue, banyak orang yang mulai mengenalku dan itu adalah sebuah harapan di masa depanku. Aku mulai berpikir untuk mencoba menjual makanan lain selain kue yang kupunya dan terlintas olehku untuk membantu menjual sayur mayur kepada ibu-ibu di kampung yang akan memasak di pagi hari, karena kebanyakan pembeliku adalah ibu-ibu rumah tangga. Kebetulan ketika aku duduk di kelas 4 saat itu, sekolahku menjadi masuk pukul 10 pagi, dan sekali lagi aku meminta izin kepada ayahku untuk tidak ikut membantu dia pagi-pagi di sawah dan ingin menjual kue sekaligus sayur mayur.

Ayah tidak menolak keinginanku asal aku harus bisa membagi waktuku dengan sekolah, gayung bersambut, aku pun mulai mencari tau bagaimana mencari sayur mayur segar. Ternyata aku harus bangun pukul 4 subuh dan menuju pasar sayur dekat desa terdekat. Kebetulan aku pernah menjual kue padanya dan ia percaya padaku. Hingga akhirnya aku pun resmi menjadi padagang sayur keliling ke rumah-rumah dengan kue bersertanya. Dengan sebuah tongkat yang kujinjing di punggung, lalu di kedua ujungnya kuikatkan tampan, aku berkeliling ke desa-desa sambil berteriak
“ Sayur segar, kue masih segar dan hangat.. ayo dibeli..” teriaku setiap pagi.
***

Dari berdagang kue dan sayur yang kujalani hingga akhirnya aku lulus sekolah dasar. lalu aku ingin memutuskan menjadi pedagang sungguhan, tapi sayangnya karena kekurangan modal maka aku memutuskan untuk berkerja di sebuah perusahaan belanda menjadi perantara lada dan kopi dekat TelukBetung sembari menabung setiap sen gajiku. Aku berkerja di sana hingga keluar saat usiaku 20 tahun, setelah memiliki cukup modal untuk menjadi pedagang perantara kopi, karet dan lada di desaku Kaliandra. Semua yang aku lakukan untuk menjadi seorang pedagang ternyata tidak berjalan dengan baik, keadaan ekonomi yang buruk membuatku mengalami kegagalan dalam berusaha hingga akhirnya memutuskan untuk melihat kota Batavia yang sedang maju pesat saat itu sebagai kota perdagangan.

Dengan penuh kesedihan dan air mata, aku meninggalkan keluargaku. Di Batavia berkat bantuan seorang teman, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan sebagai “Training Salesman” setelah perusahaan itu melihat pontesiku dalam berdagang lewat sejarah hidupku. Aku memegang pelatihan untuk area lampung, Bengkulu, Palembang dan jambi. Disinilah kondisiku keuanganku membaik dan aku mulai menabung sedikit demi sedikit untuk masa depanku. Berkerja di Jakarta membuatku rindu dengan keluarga, Tuhan mendengarkan jawabku ketika akhirnya sebuah pekerjaan ditawarkan kepadaku untuk menjadi salesman di sebuah apotek besar di sumatra yang tak jauh dari desaku.

Dari berdagang keliling obat itulah akhirnya aku belajar bagaimana menjadi seorang pedagang yang cerdik dan pandai melihat keadaan. Di radio dan mulut ke mulut terdengar kalau Jepang telah mengusai Singapura dan sesaat lagi akan mengambil daerah Sumatra, sehingga Belanda akan menyerah. Pada saat itu aku mengerti benar kalau jepang tidak akan suka produk obat-obatan eropa ada di tanah jajahanya, instingku benar, ketika jepang masuk ke Sumatra, Belanda hengkang. Banyak orang-orang eropa yang pindah keluar negeri dan secara otomatis banyak obat-obatan yang berhenti berproduksi.

Aku membeli semua produk obat-obatan eropa dengan harga murah dari pedagang yang tak ingin menjadi sasaran Jepang dan menimbunya dirumahku. Karena kebutuhan akan obat-obat Eropa begitu tinggi saat itu dari masyarakat, aku mendapatkan keuntungan berlipat ganda ketika menjualnya. Dari situlah aku mendapaktan laba yang banyak hingga akhirnya dari keuntungan itu kuputuskan untuk mencoba mengenang masa kecilku dengan menjadi pedagang perantara karet, lada dan kopi yang tetap menjadi komoditi penting di daerahku.

Tahun 1942, bersamaku kakakku, aku mendirikan perusahaan Bakrie & Brother General Mechant and Commission Agent untuk daerah teluk betung, Lampung. Sayang perusahaan itu harus berganti nama karena Jepang tidak suka berbau barat, sambil memikirkan kedepannya aku terus berjuang terhadap perusahaanku. Walau memiliki perusahaan, aku harus tetap bangung jam 1 pagi untuk memastikan hasil daganganku sampai ke kota yang memesannya di kereta api. Setelah itu aku baru bisa tenang menatap pagi hari. Setelah Jepang kalah dalam perang dunia ke dua, Aku memutuskan untuk pindah kembali ke Batavia yang telah berubah menjadi Jakarta setelah menutup perusahaan di lampung.

Disinilah aku berharap kelak impianku menjadi lebih baik dan sukses dimulai. Aku mengganti perusahaanku menjadi Jasumi Shokai untuk mempermudah izin oleh pemerintah jepang. Setelah Jepang meninggalkan Indonesia aku mendapatkan kesempatan untuk memberi perusahaan lain yang akan bangkrut bernama CV Kawat. Dan saat itulah impianku untuk menjadi orang sukses berjalan dengan perlahan-lahan hingga 14 tahun lamanya akhirnya Tuhan memberikan karunia yang tinggi kepadaku untuk menjadi pedagang yang tidak hanya menjelajahi tanah air tapi hingga ke Negara lain.

Aku menikah dengan seorang perempuan yang kucintai bernama Roosniah dan melahirkan 3 putra dan 1 putri. Kelahiran anak-anakku membuatku mendapatkan bintang keberutungan dan memiliki segalanya dalam hidup, walau terkadang aku masih mengingat masa-masa sulit kecilku. Tapi aku percaya bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini dengan sebuah ketekunan dan bersikap baik serta jujur.

satu hal yang akan kutanamkan kepada anak-anakku seperti yang ibu tanamkan padaku tetaplah kalimat yang sama selalu kukenang 

“ Setiap apa yang kamu dapatkan dan kamu tabung, jadikanlah itu berarti bagi orang  lain setidaknya bagi orang-orang yang mencintai kamu “

 dikutip dari keripiku.blogspot.com