Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Senin, 02 Juli 2012

belajar dari Ibunda Musa A.S.

Alkisah di suatu negeri yang penguasanya sangat lalim, hiduplah seorang ibu dari kalangan bawah masyarakat yang sedang mengandung. Kala itu penguasa yang lalim tersebut mengeluarkan sebuah titah untuk membunuh siapapun bayi laki-laki yang lahir. Sehingga sangat khawatirlah ibu tersebut terhadap kondisi kandungannya. “Bagaimana jika yang lahir ini anak laki-laki!?” bisiknya dalam cemas. Ternyata ALLAH berkehendak menjadikan bayi dari ibu tersebut adalah laki-laki!! Sehingga semakin cemaslah ibu tersebut. Hingga ALLAH mengilhamkan padanya, untuk mengalirkan anaknya itu ke sungai.

Dari sini, kisah yang mengharukan ini mulai direkam dalam buku abadi yang tiada keraguan di dalamnya, Al-Quran. Pengusa, ibu, dan bayi  itu adalah Fir’aun, ibunda musa, dan musa.

Mari kita simak pelajaran dari Al-Quran dan mencoba mengambil hikmah sedalam-dalamnya, menguntai pelajaran seluas-luasnya.

Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari para rasul (Q.S 28 ; 7)

dari ayat ini kita belajar, bahwa naluri seorang ibu adalah menyusui bayinya. Memberikan air susu Ibu  kepada bayi, bukan hanya masalah asupan gizi. Di dalamnya terdapat ikatan emosi yang tidak bisa dikatakan. Dan seorang ibu seharusnya merasa khawatir ketika menyadari bahwa dirinya tidak bisa menyusui bayinya. Maha Suci ALLAH yang telah memerintahkan para ibu untuk menyusui  selama 2 tahun. Akan tetapi sayang, saat ini banyak para ibu yang tidak mau melakukannya.

“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hati- nya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji ALLAH)” (Q.S. 28 ;10)

Yah, seperti itulah perasaan seorang ibu ketika ditinggal pergi oleh anaknya. Dipenjelasan ayatnya dijelaskan, ” Setelah ibu Musa menghanyutkan Musa di sungai Nil, maka timbullah penyesalan dan kesangsian hatinya lantaran kekhawatiran atas keselamatan Musa bahkan hampir-hampir ia berteriak meminta tolong kepada orang untuk mengambil anaknya itu kembali, yang akan mengakibatkan terbukanya rahasia bahwa Musa adalah anaknya sendiri”.

Khas naluri seorang ibu. Maka akan sangat heranlah zaman kita ini, menyaksikan para ibu, yang dengan entengnya keluar untuk bekerja, dan meninggalkan anaknya dalam asuhan baby sitter dan asupan susu formula.


“dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?. Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. ” (Q.S. 28; 12-13)

akan tetapi Allah tahu kecenderungan itu. Sehingga Ia kemudian mengilhamkan kepada Musa untuk tidak meminum air susu, kecuali dari ibunya. Dan dikembalikanlah ia kepada ibunya. ALLAH membuat senang ibu musa dengan karuniaNya yang sangat besar itu; Menyusui sendiri bayinya.

Buat para ibu dan calon ibu, ayo belajar menjadi ibu yang baik dari ibu nabi Musa. Sadarilah, menjadi ibu adalah karunia ALLAH yang sangat besar. Yang keimanan pun belum menjadi jaminan akan disandangnya gelar mulia itu. Dan menyusui bayi adalah karunia lainya yang tidak kalah besarnya. Dengan segala kemulian inilah yang membuat syurga sampai berada di bawah telapak kaki ibu.

Buat semua anak yang mempunyai ibu, sadarilah kekhawatiran beliau, ketika engkau tidak lagi berada dalam dekapannya. Bukan! bukan hanya ketika engkau kecil, kekhawatiran itu justru semakin memuncak ketika engkau telah dewasa. Karena bagi beliau, engkau tetap saja “anak kecil”nya. Ia rela mengorbankan apapun untuk kebahagiaanmu. Lihatlah ibunda nabi musa yang sedemikian gembira ketika dipersatukan kembali dengan anaknya.

Mari kita belajar menjadi ibu dan anak yang baik dari kisah Ibunda musa...

dikutip dari http://taufiqsuryo.wordpress.com

1 komentar: