Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Kamis, 30 Agustus 2012

Ibunda Meng Zi yang Bijaksana

Di negeri China pernah hidup seorang filsuf besar bernama Meng Zi. Kebijaksanaan dan hikmahnya membuat sebagian orang China hampir menyejajarkan kualitas Meng Zi dengan Kong Zi, karena itu mereka sering menyebut kedua filsuf itu dengan sebutan "Khong Meng". Meng Zi merupakan murid Kong Zi.

Pada waktu Meng Zi masih kanak-kanak, ayahnya meninggal dunia. Ibunya membesarkannya dengan kondisi yang sangat sulit. Karena ia mencintai mendiang suaminya, Ibu Meng Zi pindah rumah ke dekat makam suaminya. Karena dekat, dari rumah mereka sering terdengar orang meratap sambil memukul-mukulkan tangannya kebenda-benda terdekat.

Melihat didekat rumahnya ada pemandangan seperti itu, Meng Zi sering berada di dekat orang-orang yang sedang meratap. Ia pun berpura-pura menangis tersedu-sedu mengikuti orang yang sedang meratap. Baginya ikut-ikutan sedih seperti permainan yang mengasikan. Ibunya sering memperhatikan anaknya itu. Ia berpikir bahwa ini tempat yang kurang baik bagi pertumbuhan anaknya, maka ia membawa Meng Zi pindah ke kota.

Di kota banyak sekali pedagang. Para pedagang suka berteriak menawarkan dagangannya dan suka minum bir bersama serta sering mengucapkan janji-janji palsu dalam menawarkan barang dagangannya. Bagi Meng Zi hal tersebut menarik, karena itu ia mulai belajar minum bir, berteriak menawarkan dagangan dan mengucapkan janji-janji gombal ala pedagang. Ibu Meng Zi resah dan berpikir tempat ini tidak terlalu baik bagi perkembangan moral dan perkembangan pengetahuan anak. 

Setelah berpikir matang soal tempat yang paling ideal untuk anaknya, ia memutuskan untuk pindah ke dekat sekolah.Dari sekolah tersebut bisa terdengar suara guru yang sedang mengajar dan di sekolah itu ada perpustakaan sehingga ia berharap anaknya bisa belajar banyak hal yang berguna untuk hidupnya. Di situ juga banyak murid sekolah sehingga diharapkan Meng Zi akan terdorong untuk bersekolah dan rajin belajar. Meng Zi pun terpengaruh. Tiap hari ia selalu berusaha mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Di tempat itu ia belajar membaca.Setelah bisa membaca ia mulai rajin membaca buku. Banyak buku kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan dipelajarinya dengan tekun. Ia juga berdiskusi dengan murid-murid yang ada di sekolah itu. Hari demi hari, tahun demi tahun, Ibu Meng Zi gembira melihat anaknya begitu suka pada belajar-mengajar. Dalam hatinya ia berkata, "Ini memang tempat yang tepat untuk anak saya bertumbuh !" Karena kesukaanya belajar, berdiskusi, dan membaca buku, Meng Zi berkembang menjadi orang yang sangat dikagumi kepintaran dan hikmahnya. Bahkan ia dikenal sebagai seorang filsuf besar negeri China.

ada banyak pelajaran dari kisah seorang Meng Zi dan sifat Bijaksana Ibunya yang dengan berbagai cara dilakukan seorang Ibu agar anaknya selalu berada dilingkungan yang bisa membuat karakter seorang anak senantiasa berada dalam kebaikan, janganlah menjadi seorang Ibu yang tidak peduli dengan lingkungan anak kita bertumbuh sebab lingkungan itu akan membentuk watak dan karakter seorang anak dalam hidupnya, jikalau semua Ibu dalam sebuah negara mampu menjadi Ibu yang bijaksana lagi solehah dan beriman maka generasi negeri itu akan terlahir anak-anak yang membanggakan bagi bangsanya, dan benarlah kalimat bahwa wanita ataupun seorang Ibu itu adalah tiang negara sebab merekalah penentu seberapa mulia generasi negara itu, kita butuh banyak Ibu yang beriman, solehah lagi bijaksana dalam mendidik anak-anaknya.


dikutip dari meandconfucius.com dengan sedikit tambahan

Selasa, 28 Agustus 2012

hak kedua Orangtua Ibu Bapak bagi seorang anak

Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibn Abbas r.a. berkata: "Tiada seorang mukmin mempunyai kedua ibu bapak lalu pagi-pagi ia taat dan baik pada keduanya melainkan ALLAH s.w.t. membukakan untuknya daun pintu syurga, dan tidak mungkin ALLAH s.w.t. ridho padanya jika salah satu ibu atau bapaknya murka kepadanya sehingga mendapat ridho dari keduanya. Ditanya: Meskipun orang tua itu zalim? Jawabnya: Meskipun zalim. Dan didalam hadis marfu' ada tambahan: Dan tiada pagi-pagi ia durhaka (menyakiti hati) orang tuanya melainkan ALLAH s.w.t. membukakan baginya dua pintu neraka dan jika hanya satu maka satu."

Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Atha' berkata: "Nabi Musa a.s. berdoa: "ya Tuhan, pesanlah kepadaku." Firman ALLAH s.w.t.: "Aku wasiat supaya tetap dengan Aku." Nabi Musa a.s. berkata lagi: "Ya Tuhan, pesanlah kepadaku." Firman ALLAH s.w.t.: "Aku pesan kepadamu, taatlah kepada ibumu." Kemudian berkata Nabi Musa a.s. lagi: "Ya Tuhan, pesanlah kepadaku." Jawab ALLAH s.w.t.: Aku pesan supaya taat kepada ibumu." Musa a.s. berkata: "Wasiat kepadaku." ALLAH s.w.t. berfirman: Aku wasiat kepadamu, taatlah kepada ayahmu."
                        
Abdullah bin Umar r.a. berkata: "Seorang datang kepada Nabi Muhammad s.a.w dan berkata: "Saya ingin berjihad (perang fisabilillah)." Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: "Apakah kedua ibu bapakmu masih hidup?" Jawabnya: "Ya, kedua-duanya." Sabda Rasulullah s.a.w.: "Didalam melayani keduanya harus berjihad."
                        
Hadis ini menunjukkan bahawa taat bakti kepada orang tua itu lebih besar daripada jihad fisabilillah, sebab menyuruh orang itu berbakti kepada orang tua dan berjihad. Karena itu maka seseorang tidak boleh keluar untuk jihad jika tidak diizinkan oleh kedua orang tuanya selama panggilan jihad itu tidak umum, maka tetap taat kepada orang tua lebih afdhal dari jihad fisabilillah.
                        
Bahz bin Hakim dari ayahnya dari neneknya berkata: "Saya tanya kepada Rasulullah s.a.w.: "Ya Rasulullah, siapakah yang harus saya taati ?" Jawab Rasulullah s.a.w.: "Ibumu." Kemudian siapakah? tanya saya lagi. Jawab Rasulullah s.a.w.: "Ibumu." Saya bertanya sekali lagi dan Rasulullah s.a.w. menjawab: "Ibumu." "Kemudian siapa?" tanya saya lagi." Rasulullah s.a.w. menjawab: "Ayahmu, kemudian yang terdekat dan yang dari kerabat."
                        
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Zaid bin Ali dari ayahnya dari neneknya berkata Rasulullah saw bersabda: "Andaikan ada khalimah yang lebih ringan dari kata uf (cih) untuk dijadikan dasar serendah-rendahnya durhaka pada orang tua niscaya akan dilarang oleh ALLAH s.w.t. untuk mengatakannya, kerana itu seorang yang durhaka pada orang tuanya boleh berbuat apa yang diperbuat maka ia tidak akan masuk syurga, sebaliknya seorang yang berbakti pada orang tuanya boleh berbuat apa saja maka tidak akan masuk neraka."
                        
Abul-Laits berkata: "Andaikan ALLAH s.w.t. tidak menyebut kewajiban berbakti kepada kedua orang tua itu dalam al-quran, dan tidak ditekankan niscaya dapat dimengerti oleh akal bahwa taat kepada kedua orang tua itu wajib, karena itu diwajibkan seorang yang berakal harus mengerti kewajibannya terhadap kedua orang tuanya, lebih-lebih ALLAH s.w.t. telah menekankan dalam semua kitab yang diturunkan iaitu Taurat, Injil, Zabur dan Al-Quran, juga telah diwahyukan kepada semua Nabi, Rasul bahwa ridho ALLAH s.w.t. tergantung pada ridho kedua orang tua dan murka ALLAH s.w.t. tergantung pada murka kedua ayah bunda."
                        
Ada penjelasan bahwa tiga ayat turun bergandengan dan ALLAH s.w.t. tidak menerima yang satu tanpa gandengannya yaitu seperti firman ALLAH s.w.t. (Yang berbunyi):
  • Tegakkan sembahyang dan keluarkan zakat, maka siapa solat tanpa zakat tidak akan diterima oleh ALLAH s.w.t.
  • Taatlah kepada ALLAH dan taatlah kepada Rasulullah, maka tidak akan diterima taat kepada ALLAH s.w.t. jika tidak taat kepada Rasulullah s.a.w.
  • Syukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibu bapakmu, maka siapa yang syukur kepada ALLAH s.w.t. dan tidak syukur kepada kedua orang tua tidak diterima.
      Dan dalilnya ialah Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya kutukan kedua orang tua itu memutuskan asal anak itu jika anak itu durhakai keduanya. Maka siapa merelakan kedua ayah bundanya berarti telah merelakan Tuhannya dan siapa mendapatkan kedua ayah bundanya atau salah satunya, lalu tidak taat kepada keduanya sehingga masuk neraka berarti telah dijauhkan oleh Allah s.w.t."   
                        
Dan ketika Rasulullah s.a.w. ditanya: "Apakah amal yang utama?" Jawab Rasulullah s.a.w.: "Sembahyang pada waktunya, kemudian taat kepada kedua ibu bapak kemudian jihad fisabilillah."
                        
Farqad Assinji berkata saya telah membaca didalam kitab: "Bahwa anak tidak boleh berbicara dimuka orang tuanya kecuali dengan izinnya dan tidak boleh jalan dimukanya atau dikanan kirinya kecuali jika dipanggil maka ia harus menyambut dan harus berjalan dibelakang keduanya sebagaimana hamba sahaya dibelakang majikannya."
                       
Seorang datang kepada Rasulullah s.a.w. dan berkata: "Ya Rasulullah, ibuku kini mengigau ditempatku, maka sayalah yang memberi makan minum dengan tanganku juga mewudhu'kannya, dan mengangkat diatas bahuku, apakah yang demikian itu berarti aku telah membalas jasanya?" Jawab Rasulullah s.a.w.: "Belum, belum satupun dari jasa-jasanya dari jasa-jasanya tetapi engkau telah berbuat baik dan ALLAH s.w.t. akan memberi pahala kepadamu yang besar dan banyak terhadap amalanmu yang sedikit."
                        
Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari neneknya berkata: "Tertulis didalam hikmat: "Terkutuk orang yang mengutuk ayahnya, terkutuk orang yang mengutuk ibunya, mal'un (terkutuk) siapa yang merintangi agama ALLAH s.w.t., terkutuk siapa yang menyesatkan orang buta dari jalanan, terkutuk siapa yang menyembelih menyebut nama selain nama ALLAH s.w.t., terkutuk siapa yang merusak tanda-tanda dijalan bumi ini atau batas-batas tanah."
                         
Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya sebesar-besar dosa ialah memaki ayah ibunya." Ketika ditanya: "Bagaimanakah seorang memaki ayah ibunya?" Jawab Rasulullah s.a.w.: "Memaki ayah lain orang lalu dibalas maki ayahnya atau memaki ibunya, maka dibalas dimaki ibunya."
                        
Abban dari Anas r.a. berkata: "Ada seorang pemuda bernama Alqomah dimasa Rasulullah s.a.w. Pemuda ini rajin ibadah dan banyak sedekah, tiba-tiba ia sakit dan sangat berat sakitnya, maka isterinya menyuruh orang memanggil Rasulullah s.a.w. dan menyatakan bahwa suaminya sakit keras didalam keadaan nazak sakaratal maut dan saya ingin menerangkan kepadamu keadaannya. Maka Rasulullah s.a.w. menyuruh Bilal, Ali, Salman dan Ammar r.a. supaya pergi ketempat Alqomah dan memperhatikan bagaimana keadaannya dan ketika telah sampai kerumah Alqomah mereka langsung masuk kepada Alqomah dan menuntunnya supaya membaca: Laa ilaha illallah, tetapi lidah Alqomah bagaikan terkunci, tidak dapat mengucap dua kalimah syahadah itu, ketika para sahabat itu merasa bahawa Alqomah pasti akan mati, mereka menyuruh Bilal supaya pergi memberutahu hal itu kepada Rasulullah s.a.w.
                         
Rasulullah s.a.w. langsung bertanya: "Apakah ia masih mempunyai ibu dan ayah?" Jawabnya: "Ayahnya telah meninggal, sedang ibunya masih hidup tetapi terlalu tua." Rasulullah s.a.w. bersabda kepada Bilal: "Ya Bilal, pergilah kepada ibu Alqomah dan sampaikan kepadanya salamku, dan katakan kepadanya: JIka kau dapat berjalan pergi kepada Rasulullah s.a.w.,  dan jika tidak dapat maka Rasulullah s.a.w. akan datang kesini." Jawab ibu Alqomah: "Sayalah yang lebih layak pergi kepada Rasulullah s.a.w. Lalu ia mengambil tongkat dan berjalan hingga masuk kerumah Rasulullah s.a.w. dan sesudah memberi salam ia duduk didepan Rasulullah s.a.w. Maka Rasulullah s.a.w. bertanya: "Beritakan yang benar-benar kepadaku, jika kau dusta kepada ku niscaya akan turun wahyu memberitahu kepadaku, bagaimanakah keadaan Alqomah?" Jawab ibu Alqomah: "Alqomah rajin ibadah Shalat, puasa dan sedekah sebanyak-banyaknya sehingga tidak diketahui berapa banyaknya." Rasulullah s.a.w. bertanya lagi: "Lalu bagaimana hubunganmu dengan dia?" Jawab ibu Alqomah: "Saya murka kepadanya." Rasulullah s.a.w. bertanya: "Mengapa?" Jawab ibu Alqomah: "Karena ia mengutamakan isterinya lebih daripadaku dan menurut isterinya kepadaku dan menentangku."
                       
Maka Rasulullah s.a.w. bersabda: ""Murka ibunya, itulah yang mengunci (menutup) lidahnya untuk mengucap dua kalimah syahadah." Kemudian Rasulullah s.a.w. menyuruh Bilal supaya mengumpul kayu sebanyak-banyaknya untuk membakar Alqomah dengan api itu. Ibu Alqomah bertanya: "Ya Rasulullah s.a.w., puteraku, buah hatiku akan kau bakar dengan api didepanku? bagaimana akan dapat menerima hatiku?" Rasulullah s.a.w. bersabda: " "Hai ibu Alqomah, siksaan ALLAH s.w.t. lebih berat dan kekal, karena itu jika kau ingin ALLAH s.w.t. mengampuni dosanya, maka relakan ia (kau harus ridho padanya), demi ALLAH s.w.t. yang jiwaku ada ditanganNya tidak akan berguna sembahyang, sedekahnya selama engkau murka kepadanya." Lalu ibu Alqomah mengangkat kedua tangan dan berkata: "Ya Rasulullah, saya mempersaksikan kepada ALLAH s.w.t. dilangit dan kau ya Rasulullah, dan siapa yang hadir ditempat ini bahwa saya telah ridho kepadanya."
                        
Maka langsung Rasulullah s.a.w. menyuruh Bilal pergi melihat keadaan Alqomah, apakah sudah mengucap Laa ilaha illallah atau tidak, khawatir kalau-kalau ibu Alqomah mengucapkan itu hanya karena malu pada Rasulullah s.a.w. dan tidak pada hatinya. Apabila Bilal sampai dipintu rumah Alqomah tiba-tiba terdengat suara Alqomah membaca Laa ilaha illallah. Lalu Bilal masuk dan berkata: "Hai orang-orang, sesungguhnya murka ibu Alqomah itu yang menutup lidahnya untuk mengucap dua kalimah syahadah dan ridhonya kini melepaskan lidahnya, maka matilah Alqomah pada hari ini." Maka datanglah Rasulullah s.a.w. dan menyuruh supaya segera dimandikan dan dikafankan, lalu disembahyangkan oleh Rasulullah s.a.w. Dan sesudah dikuburkan Rasulullah s.a.w. berdiri diatas tepi kubur sambil berkata: "Hai sahabat Muhajir dan Anshar, siapa yang mengutamakan isterinya daripada ibunya maka ia terkena kutukan (laknat) Allah s.w.t. dan tidak diterima daripadanya ibadat fardhu dan sunatnya."
                        
Ibnu Abbas r.a. ketika mengartikan ayat (Yang berbunyi): Wa qodho rabbuka alla ta buda illa iyyaahu, wabil walidaini ihsana, imma yablughanna indakal kibara ahaduhuma au kilahuma fala taqul lahuma uf wala tanharhuma waqul lahuma qoulan karima. (Surah Al Isra ayat 23) (Yang bermaksud) Tuhanmu telah menyuruh supaya kamu jangan menyembah (mengesakan) selain padaNya. Dan terhadap kedua ibu bapak harus berbakti (taat dan baik) apabila telah tua salah satunya atau keduanya disisimu, maka jangan menunjukkan sikat atau sikap jemu atau berkata: Cih, kepada keduanya, umpama jika kau samapi membuang kencing atau najis ibu atau bapa, maka jangan kau tutup hidungmu dan jangan muram mukamu sebab keduanya telah mengerjakan semua itu dimasa kecilmu, dan jangan membentak keduanya dan berkatalah dengan lemah lembut, sopan santun, ramah tamah dan hormat.
                         
Ibnu Abbas r.a. ketika mengartikan ayat (Yang berbunyi): Wakh fidh lahuma janahadzdzulli minarrahmati, waqul Robbir hamhuma kama robbayani shorghira. (Surah Al Isra ayat 24) (Yang bermaksud) Dan rendahkan dirimu kepada keduanya serendah-rendahnya dan doakan keduanya: "Ya Tuhan, Kasihanilah kedua ibu bapaku sebagaimana keduanya telah memeliharaku dimasa kecil.
                        
Mengenai kewajiban terhadap keduanya dimasa hidup hingga mati, dengan selalu mendoakan untuk keduanya sesudah matinya. Seorang ulama tabi'in berkata: "Siapa yang mendoakan kedua ibu bapaknya tiap hari lima kali berarti telah menunaikan kewajibannya terhadap kedua ibu bapaknya." Sebab ALLAH s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): "An usy kurli wali walidaika, ilayyal mashir. (Yang bermaksud): "Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibu bapakmu, kepadaKu kau akan kembali.
                        
Bersyukur kepada ALLAH s.w.t. dan mengerjakan sembahyang lima waktu tiap hari, maka syukur terhadap ibu bapak juga harus lima kali tiap hari. Firman ALLAH s.w.t. (Yang berbunyi): " Robbukum a'lamu bima fi nufusikum in takunu shalihina fa innahu kana lil awwabina ghafura. (Yang bermaksud): "Tuhanmu lebih mengetahui apa yang didalam hatimu, jika kamu benar-benar baik (solih) maka sesungguhnya Tuhan itu terhadap orang yang salah lalu kembali taubat, ia maha penganmpun. (Surah Ali-Isra ayat 25)
                        
Hak yang harus dilaksanakan oleh anak terhadap ibu dan ayah ada sepuluh yaitu:
  • Jika orang tua berhajat kepada makan harus diberi makan
  • Jika berhajat pada pakaian harus diberi pakaian. Rasulullah s.a.w. ketika menerangkan ayat (Yang berbunyi): "Wa sha hib huma fiddunnya ma'rufa. (Yang bermaksud): "Bantulah kedua orang tua didunia dengan baik, yakni supaya diberi makan jika lapar dan pakaian jika tidak berpakaian.
  • Jika berhajat bantuan harus dibantu
  • Menyambut panggilannya
  • Mentaati semua perintahnya asalakan tidak menyuruh berbuat maksiat dan ghibah (Kasari orang)
  • Jika berbicara kepada keduanya harus lunak, lemah lembut dan sopan
  • Tidak boleh memanggil nama kecilnya (gelaran)
  • Jika berjalan harus dibelakangnya
  • Suka untuk orang tuanya apa yang ia suka bagi dirinya sendiri, dan membenci bagi keduanya apa yang tidak suka bagi dirinya sendiri
  • Mendoakan keduanya supaya mendapat pengampunan Allah s.w.t. dan rahmatNya Sebagaimana doa Nabi Nuh a.s. dan Nabi Ibrahim a.s. (Yang berbunyi): "Robbigh fir li waliwalidayya robbanagh fir li waliwalidayya wa lil muminin wal mu'minati yauma yaqumul hisab. (Yang bermaksud): "Ya Tuhan kami, ampunkan kami dan kedua ibu bapak kami dan semua kaum muslimin pada hari perhintungan hisab/hari kiamat.
                        
Seorang sahabat berkata: "Tidak suka mendoakan kedua orang tua itu mungkin menyebabkan kesulitan penghidupan anak." "Dan apakah mungkin memuaskan orang tua yang telah mati?" beliau ditanya. Jawabnya: " Ya, dengan tiga macam iaitu:
  • Dia sendiri menjadi orang soleh sebab menyenangkan kedua orang tuanya
  • Menghubungkan keluarga dan sahabat-sahabat kedua orang tuanya
  • Membaca istighfar dan mendoakan serta bersedekah untuk kedua orang tuanya itu.
                         
Al-Ala' bin Abdirrahman dari ayahnya dari Abuhurairah r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: " Jika mati anak Adam putus (terhenti) semua amal perbuatan (kegiatannya), kecuali tiga macam iaitu:

Sedekah jariah yang berjalan terus (wakaf-wakarnya)Ilmu yang berguna (yang diajarkan sehingga orang-orang melakukan ajarannya) Anak yang soleh yang selalu mendoakan pengampunan untuknya

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: " Jangan memutus hubungan pada orang yang dahulu kawan baik pada orang tuamu, niscaya akan padam nur cahayamu." Seorang dari suku Bani Saliman datang kepada Rasulullah s.a.w. dan bertanya: "Kedua orang tuaku telah mati, apakah ada jalan untuk berbakti pada keduanya sesudah mati itu?" Jawab Nabi muhammad s.a.w.: "Ya, membaca istighfar untuk keduanya dan melaksanakan wasiat keduanya dan menghormati sahabat-sahabat keduanya dan menghubungkan hubungan kekeluargaan dari keduanya."

 

dikutip dari http://tanbihul_ghafilin.tripod.com 

Minggu, 26 Agustus 2012

Nasehat dan Mutiara hidup seorang Ibu pada anaknya

anakku.. bila Ibu boleh memilih apakah Ibu berbadan lansing atau berbadan besar karena mengandungmu maka Ibu akan memilih mengandungmu.. karena dalam mengandungmu Ibu merasakan keajaiban dan kebesaran ALLAH. sembilan bulan nak.. engkau hidup diperut Ibu engkau ikut kemanapun Ibu pergi, engkau ikut merasakan ketika jantung Ibu berdetak karena kebahagiaan, engkau menendang rahim Ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena Ibu kecewa dan berurai air mata..

anakku.. bila Ibu boleh memilih apakah Ibu harus operasi caesar atau Ibu harus berjuang melahirkanmu, maka Ibu memilih berjuang melahirkanmu, karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga, karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan keluar ke dunia sangat Ibu rasakan. dan saat itulah kebesaran ALLAH menyelimuti kita berdua, Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit, yang tak pernah bisa Ibu ceritakan pada siapapun.

dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia dan saat itulah.. saat paling membahagiakan, segala sakit dan derita sirna melihat dirimu yang merah, mendengarkan ayahmu mengumandangkan Adzan, kalimat Syahadat kebesaran ALLAH dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah Saw ditelinga mungilmu.

anakku.. bila Ibu boleh memilih apakah Ibu berdada indah atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu, maka Ibu akan memilih menyusuimu, karena dengan menyusuimu Ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan-tegukan yang sangat berharga. merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada Ibu dalam kantuk Ibu adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan.

anakku.. bila Ibu boleh memilih duduk belama-lama diruang rapat atau duduk dilantai menemanimu menempelkan puzzle, maka Ibu lebih memilih bermain puzzle denganmu.

tetapi anakku.. hidup memang pilihan.. jika dengan pilihan Ibu, engkau merasa sepi dan merana maka maafkanlah nak.. maafkan Ibu.. maafkan Ibu.. percayalah nak.. Ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,  agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang percayalah nak.. sepi dan meranamu adalah juga duka Ibu. percayalah nak.. engkau akan selalu menjadi belahan nyawa Ibu

sebuah nasehat singkat akan masa lalu

banyak orang keluar masuk dalam hidup kita. ada yang melintas dalam segmen singkat namun membekas keras. ada yang telah lama berjalan beriringan, tetapi tidak disadari arti kehadirannya, ada pula yang begitu jauh dimata sedangkan mereka begitu dekat dihati. ada yang datang dan pergi begitu saja seolah tak pernah ada.

semua orang yang pernah singgah dalam hidup kita bagaikan manik-manik pembentuk mozaik catatan sejarah. gambaran itu sebenarnya telah terbentuk hanya saja tak pernah selesai atau kita salah dalam melihat sehingga seringkali tidak bisa dinikmati keindahan karyanya. ambillah waktu sejenak untuk mengenang mereka yang pernah hadir dalam hidup kita dan kenanglah seluruh kebaikan mereka serta kebaikan yang mungkin tersembunyi dibalik tabir kekecewaan.

mereka adalah Ibu Bapak kita, Guru kita, Sanak dan Kerabat kita, Teman serta Sahabat. juga tiada salahnya mengenang mereka yang kita anggap musuh dan pengkhianat. atau yang tak pernah anda tahu nama dan wajahnya. bagaimanapun mereka telah turut " memahat " pribadi anda, menyapukan tinta pada lukisan hidup anda. menyirami tanaman bunga dalam jiwa anda.

kenanglah dalam genangan cinta yang tak bertepi. hanya dalam tatapan cintalah anda bisa memandang indahnya kehidupan ini. karena tiada secuilpun hidup yang perlu disesali, maka hanya cinta dan kasih sayang andalah jawabannya.

diantara semua kenangan hidup kita yang telah terlewat mungkin ada banyak yang begitu berharga, misalkan berbagai kisah bersama Ibunda kita tercinta, Beliau adalah manusia yang paling menginginkan kebahagiaan dan kesuksesan hidup kita dunia akhirat, bawalah mereka semua yang anda cintai dalam Do'a-Do'a Indah dalam Shalat dan Sujud kita, mohonkanlah ampunan dan kebaikan yang berlimpah kepada ALLAH untuk mereka semua yang anda cintai dalam hidup ini, sebab mengenang semua kisah-kisah terbaik dalam perjalanan hidup kita adalah salah satu bentuk rasa syukur pada ALLAH yang telah membuat hidup kita hambanya selalu penuh dengan warna dan keindahan, sebab hamba ALLAH yang pandai bersyukur akan mendapatkan berkah dan tambahan nikmat yang terbaik darinya, amin..


dikutip dari http://melia168.blogspot.com dengan sedikit tambahan

Kamis, 16 Agustus 2012

Karamah Seorang Ibu

Karamah berasal dari bahasa Arab, karuma-yakrumu-karamatan. Sebagai kata, artinya mulia, murah hati, atau dermawan. Sedang sebagai istilah, karamah ialah kejadian luar biasa atau sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan yang hanya bisa didekati dengan keimanan dan hanya diberikan kepada wali.

Wali juga berasal dari bahasa Arab, waliya-yali. Sebagai kata, artinya orang yang amat dekat. Sedang sebagai istilah, maknanya adalah mukmin yang shalih, bertaqwa, taat kepada perintah ALLAH yang ketaatannya terus-menerus tanpa diselang-selingi perbuatan maksiat.

Adapun menurut Yusuf bin Ismail An-Nabhani dalam kitabnya Jaami’u Karaamatil Aulia, wali artinya orang yang dekat kepada ALLAH, disebabkan ketaatan, istiqamah, dan keikhlasannya, maka ALLAH pun akan dekat kepadanya dengan melimpahkan rahmat, kebajikan, dan kurnia-Nya, dan diberikan kepadanya segala kemudahan. Pada saat itu terjadilah perwalian, yakni orang itu dinamakan “wali”, atau ALLAH senantiasa melindunginya, sehingga terhadap dirinya tidak perlu ada kekhawatiran. Dan ALLAH memberikan kepadanya berbagai kelebihan yang tidak diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang lain, berupa kejadian atau peristiwa luar biasa yang menyimpang dari kebiasaan, atau doa yang mustajab.

Dalam kehidupan, orang banyak mencari para wali, baik mereka masih hidup maupun sudah meninggal dunia. Mereka memohon kepada ALLAH, melalui keberkahan para wali, agar kehidupan mereka menjadi lebih baik, lebih lancar, dan sukses. Bahkan mereka rela datang dari tempat yang jauh dengan perjalanan berhari-hari.

Tapi sayang, ada satu karamah yang banyak dilupakan orang, yakni karamah seorang Ibu. Dialah yang dimuliakan ALLAH tiga kali lipat dibanding kemuliaan Ayah. Dialah karamah di atas segala karamah yang ada di muka bumi. Dialah figur yang digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai sosok manusia yang memiliki doa yang sangat mustajab melebihi dari doa-doa makhluk lainya. Nabi SAW bersabda, "Doa orangtua kepada anaknya seperti doa nabi kepada umatnya."

Dikisahkan, ada seorang sahabat yang ingin ikut berperang dengan Rasulullah. Ia memiliki seorang ibu yang telah tua. Maka dikatakan Nabi SAW kepadanya, “Pulanglah, berbaktilah kepada Ibumu, sesungguhnya surga berada di bawah telapak kakinya.” Hadits ini membuktikan bahwa berbakti kepada orangtua sebanding dengan para pejuang yang berjihad di medan perang. 

Dari kebesaran kewalian seorang Ibu, Rasulullah SAW telah berpesan kepada Umar dan Ali RA untuk meminta doa dari seorang wali yang shalih, taat, dan berbakti kepada Ibunya, yakni Uais Al-Qarni. Ia sangat cinta kepada ibunya yang lumpuh. Ia rela berkorban segala-galanya demi mendapatkan keridhaan Ibunya.

Rasulullah berpesan, “Nanti, pada zamanmu, akan lahir seorang manusia yang doanya sangat mustajab. Pergi dan carilah dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Kalau kamu berdua berjumpa dengannya, mintalah doa darinya untuk kamu berdua.”

Umar dan Ali RA bertanya, “Apa yang patut kami minta dari Uais Al-Qarni, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Mintalah kepadanya agar ALLAH menghapuskan dosa-dosa kalian.”

Itulah Uais Al-qarni, yang rela memangku ibunya yang lumpuh dengan kedua tangannya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah di saat melakukan ibadah haji, memangkunya di saat mengerjakan thawaf, sai, dan wukuf di Padang Arafah. Dan juga ia rela memangku ibunya dengan kedua tangannya berjalan kaki di saat kembali dari Makkah ke Yaman.

Sayyidina Ali dan Umar RA termasuk sepuluh sahabat nabi yang dijamin masuk surga. Mereka diperintahkan untuk meminta doa kepada Uais Al-Qarni, yang taat dan patuh kepada Ibunya. Sahabat Nabi SAW adalah manusia-manusia mulia dan dimuliakan Allah. Sahabat Nabi SAW adalah mereka yang hidup di zaman Nabi SAW, mengenal dan melihat langsung beliau, membantu perjuangan beliau dan meninggal dalam keadaan beriman. Jumlah sahabat Nabi SAW sangat banyak dan tak terhitung.

Dalam kitab Rijal Haula Ar-Rasul, oleh Khalid Muhammad Khalid disebutkan bahwa para sahabat Nabi SAW yang paling utama jumlahnya lebih dari 60, yakni mereka yang sangat dekat dengan Nabi SAW. Mereka disebut pengikut atau murid yang dekat dengan Nabi SAW. Mereka mempunyai status atau kedudukan yang penting dalam dunia Islam, karena mereka adalah pengikut Nabi yang banyak memberi andil dalam dakwah Nabi SAW. 

Derajat sahabat Nabi SAW menurut para ulama terbagi dalam beberapa tingkatan. Pertama, para sahabat yang masuk Islam di Makkah sebelum melakukan hijrah, seperti Khulafaur Rasyidin, yaitu empat khalifah: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali RA. Kedua, sahabat yang dijamin masuk surga. Ketiga, para sahabat yang ikut serta pada Perang Badar. Keempat, para sahabat yang ikut serta pada Perang Uhud. Kelima, para sahabat yang ikut serta pada Bai’at Ridhwan. Dan keenam, sahabat-sahabat lainnya yang jumlah mereka tidak sedikit.

Kepastian sepuluh sahabat nabi SAW masuk surga banyak sekali disebut dalam hadits shahih. Semua hadits itu wajib diimani. Di antaranya hadits dari Abdurrahman bin ‘Auf RA, ia berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’d bin Abi Waqqash di surga, Said bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail di surga, dan Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah di surga.” (HR At-Tirmizy dan Al-Baghawi dalam Al-Mashabih fil Hisan).

Wallahu 'alam.


dikutip dari http://majalah-alkisah.com

Rabu, 15 Agustus 2012

Senyum Semesta Ibunda

Saat bisik dedaunan di taman belakang rumah menyapa mentari sore, seorang anak berlari kecil melintasi jalan setapak. Saat kupu-kupu mengepakkan sayapnya dari bunga ke bunga, anak kecil itu mendekat ke bangku kayu samping rumah, menghampiri sosok yang ia sayangi. Ibu.

“Ibu…” anak itu menggelayut manja di tangan ibunya. Mata bulatnya jatuh pada senyum ibu yang terkembang tulus. “Bu, nanda boleh tanya?” katanya penuh semangat. Ibu menganggukkan kepala. “Tentu nak, ada apa?” Nanda mengedipkan mata, lalu melirik ke pepohonan di cakrawala. Sejenak hening mewujud, seperti Nanda hendak mengusir ragu lenyap dari benak, ketika kemudian ia dengan mantap bertanya. “Kenapa Allah ciptakan jin dan manusia untuk menyembah? Apakah kalau begitu Allah butuh manusia?”

Ibu mengembangkan senyum ke wajah Nanda, saat sehelai daun kering terbang tertiup angin melintasi ruang waktu hangat di antara rerumputan, senyum ibu tertangkap semesta keabadian. Ia mengusap rambut nanda, dan mengangkatnya ke pangkuan. Sambil memegangi tangan nanda, ibu bisikkan nasihat ini kepadanya.

“Nak, lihatlah alam di sekitar kita. Indah bukan? Itu tandanya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang. Ar Rahman, Ar Rahim. Pastilah ia memiliki semua hal di dunia ini. Allah Maha Kaya, dan tidak membutuhkan apapun dari kita…”

Nanda terdiam, nafasnya teratur seperti angin semilir sore itu.

“Nak, bagaimana jika suatu hari ada orang yang mengajak kita pergi berwisata, seseorang yang sangat pemurah, Ia memberi kita pilihan untuk pergi ke daerah-daerah yang indah, dan tanpa membayar, semua biaya perjalanan, tempat tinggal dan makan gratis. Apakah kau mau anakku?”

Nanda menatap mata ibunya. “Benarkah bu? Tentu saja nanda mau.”

“Iya nak, dengarkan perandaian ini… Di tempat berkunjung yang indah itu, ada tempat berbahaya dan ada pula perbuatan-perbuatan yang mengancam kita kalau tidak hati-hati, juga ada hal-hal yang harus kita lakukan supaya keselamatan kita di sana tetap terpelihara. Kita harus jaga perbuatan-perbuatan itu demi kepentingan kita. Dan orang pemurah itu memberi kita petunjuk supaya kita selamat, tanpa sedikitpun ia menginginkan sesuatu dari kita, ia hanya ingin kita selamat di perjalanan wisata nak. Bukankah itu merupakan kemurahan?

Nanda terdiam, sejenak kerut mengukir dahinya, kemudian Ia mengangguk dalam. “Iya bu. Orang itu pasti sangat baik” katanya.

“Iya. Ia sangat pemurah nak… Lalu, jika kita mengikuti petunjuk-petunjuk itu, bukan saja kita senang dan berbahagia tinggal di daerah wisata itu, tapi saat kelak kita kembali ke rumah, masih ia janjikan berbagai hadiah yang menarik.”

Nanda meluruskan duduknya dan menatap ibu. “Iya bu, Nanda ingin sekali bertemu orang baik seperti itu, lalu apa jawaban pertanyaan Nanda tadi?”

Ibu tersenyum. Diusapnya dahi anak itu dengan lembut.

“Nak, tempat wisata itu adalah bumi kita, tempat tinggal dan makanan gratis adalah rezeki Allah yang dihamparkan di bumi, sedangkan larangan dan perintah-perintah selama perjalanan wisata adalah agama dan ibadah kita kepadaNya. Semuanya untuk kepentingan dan kenyamanan hidup kita di bumi ini. Sedangkan janji berbagai hadiah bila kita mengindahkan petunjuk-petunjuk itu adalah surga yang dijanjikan Allah bagi yang taat.”

Kicau burung di dahan-dahan pohon terdengar sayup-sayup. Dan mentari sore berkelindan dengan angin dan dedaunan dalam cakrawala taman penuh bunga.

“Coba kau renungi ayat ini nak…”

Lalu ibu membacakan dengan khusyu surat Al Baqarah ayat 29. dan menyampaikan artinya.

“Dialah ALLAH, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Nanda tersenyum. Matanya berbinar penuh kebahagiaan. Dikecupnya pipi ibu yang belum lagi usai membacakan arti surat tersebut,

“Aku sayang ibu…” ucapnya polos

Dan ibu tersenyum penuh arti. Senyum Abadi, yang terukir selalu di tiap sudut waktu, melintasi sejarah, budaya, benua, dan seluruh alam raya empiris dan metafisika. Ah, senyum itu indah, seperti indahnya Islam yang universal…

Ibu memeluk nanda. Erat.

“Ibu juga sayang Nanda, nak…”


dikutip dari dakwatuna.com cerpen oleh Asrif Aminulloh

Senin, 13 Agustus 2012

Pengorbanan Sang Ibu Sampai Kaki Terpotong

Pengorbanan seorang ibu memang tiada duanya. Ia selalu bersedia berkorban demi kehidupan anaknya apa pun risiko yang harus dihadapi. Contoh terbaru adalah Stephanie Decker, dari Indiana, Amerika Serikat.

Awal Maret 2012 Indiana diterjang tornado dahsyat. Stephanie dan kedua anaknya tak sempat mencari perlindungan ketika angin itu mengarah ke rumah mereka.

"Saya pikir posisi kami sudah aman, tak tahunya angin menderu dari belakang. Itu seperti suara kereta yang menghampiri kami," kata Stephanie. Deru angin menakutkan itu membuat kedua anaknya, Dominic (8 tahun) dan Reese (5 tahun), menangis ketakutan.

"Mami, aku tak mau mati. Tolong, jangan biarkan aku mati," kata Stephanie menirukan anak-anaknya. "Kalian tidak akan mati," katanya membesarkan hati kedua anaknya.

Lalu ia membawa anaknya ke lantai bawah rumahnya sambil berpikir apa yang harus dilakukan. Namun tornado terlanjur cepat tiba. Stephanie mengambil selimut tebal lalu menutupi kedua anaknya dengan selimut sambil ia peluk erat-erat. "Tiba-tiba aneka benda menimpa punggung saya, dan saya berusaha bertahan," katanya. Bahkan ia tetap bertahan ketika kedua kakinya tertimpa benda berat.

Setelah tornado berlalu, giliran anaknya yang jadi pahlawan. Dominic tahu ibunya terluka, karena itu ia buru-buru keluar dari pelukan ibunya dan pergi mencari tetangganya untuk menyelamatkan ibunya. Menurut Stephanie, ketika Dominic pergi itulah ia menyadari kedua kakinya tak bisa digerakkan.

Stephanie kemudian dibawa ke rumah sakit. Namun ia harus kehilangan kedua kakinya. Sedangkan kedua anaknya tak cedera. Sungguh perjuangan yang luar biasa, demi menyelamatkan kedua anaknya, Stephanie berani berkorban sampai kehilangan kedua kakinya.

seorang Ibu dalam keadaan yang sangat menakutkanpun akan selalu bersiap mati demi anak-anaknya tetap bertahan hidup, dibelahan dunia manapun kita akan selalu mendapati kisah-kisah heroik Ibu yang bertaruh nyawa demi anaknya, sungguh Ibu manusia paling tulus didunia ini dan kasihnya begitu melimpah sebab seperti itulah naluri Cinta yang besar dari seorang Ibu untuk anak-anaknya.


dikutip dari andriewongso.com dengan sedikit tambahan

Minggu, 12 Agustus 2012

Cintamu Ibu

Ibu…
Ribuan kata tak cukup untuk mengungkapkan sosokmu
Yang ku tahu ibu…
Dengan bahu yang diciptakan oleh-Nya
Engkau mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya
Dan dengan bahu yang cukup nyaman dan lembut tersebut
Engkau menahan kepala anak-anakmu yang tertidur lelap

Dengan kekuatan, engkau dapat mengeluarkan anak-anakmu dari rahimmu
Walau seringkali menerima cerca dari mereka

Dengan keperkasaan, engkau tetap bertahan pantang menyerah
Saat semua orang telah putus asa

Dengan kesabaran engkau merawat keluargamu
Walau letih, sakit, dan lelah.
Namun engkau tak berkeluh kesah

Dengan perasaan yang peka dan kasih sayang
Engkau mencintai anak-anakmu dalam kondisi dan situasi apapun
Walau tak jarang perasaan dan hatimu terlukai

Meskipun begitu Ibu…
Terkadang air mata juga mengalir sebagai curahan perasaanmu
Yang sering mereka anggap sebagai kelemahan
Tapi sesungguhnya air mata itu adalah air mata kehidupan

Ibu…
Tak dapat kuungkapkan betapa berharganya dirimu
Semoga air mata dan cintamu berbuah surga 


dikutip dari http://humaira-dipenghujungmalam.blogspot.com

Sabtu, 11 Agustus 2012

beda Cinta Ibu dan Kekasih


ibumu akan mencintaimu dan membiarkanmu melakukan apa yang terbaik untukmu, menurutmu, memberi masukan dan semangat serta berusaha membimbingmu menjadi anak baik..
kekasihmu akan mencintaimu tapi takkan membiarkanmu untuk melakukan apa yang terbaik untukmu, menurutmu, cenderung akan mengatur hidupmu.. dan bila kau berusaha menolak, dia akan marah!

ibumu akan terus mencintaimu walau kau jauh darinya, bahkan ketika kau telah tiada..
kekasihmu akan berkurang cintanya, bahkan habis ketika kau jauh, apalagi ketika kau telah tiada..

ibumu akan menerimamu dengan tangan terbuka walau kau telah menyakiti hatinya yang terdalam..
kekasihmu juga akan menerimamu, tapi sebelum itu, kau harus berlaku manis!

ibumu takkan pernah menuntut apapun darimu walau ia telah mencintaimu sejak kau dilahirkan..
kekasihmu yang baru saja mencintaimu akan menuntut balasan dari rasa cintanya..

ibumu akan meberimu ruang sebesar mungkin untuk berbagi cinta kepada temanmu, orang disekitarmu..bahkan kekasihmu
kekasihmu cenderung tak memberimu kesempatan untuk membagi cinta walaupun kau tak bermaksud selingkuh, karena ia akan selalu menganggapmu selingkuh!

ibumu akan benar-benar memberimu cinta yang paling tulus dan ikhlas di muka bumi ini..
kekasihmu?? jawabannya mungkin, ya.., mungkin, tidak.., tergantung pada baik buruknya niat.

kita tidak akan pernah mendapatkan cinta sehebat cinta Ibu terhadap diri kita dari orang lain meski ia adalah kekasih paling baik dalam pandangan mata kita sebab cinta keduanya berbeda dalam niat dan maksud, cinta Ibu tiada meminta pamrih dan timbal balik darimu, cintanya ikhlas dan tulus..

dikutip dari http://forum.kompas.com dengan sedikit tambahan

Rabu, 08 Agustus 2012

Tiga Cara Ekspresikan Cinta pada Ibu

kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya tiada akan pernah bisa kita untuk membalasnya namun bukan berarti cinta kita sebagai seorang anak kepada Ibu tiada berarti sebab seorang anak yang bisa berterima kasih pada Ibu Bapaknya adalah mereka yang berpredikat sebagai anak yang Berbakti yang sungguh diberi kemuliaan oleh ALLAH sebab kasih sayangnya pada kedua orang tuanya, berikut ada tiga cara untuk mengekspresikan bakti cinta kita pada Ibunda yang tentu saja ada lebih banyak lagi cara berbakti pada kedua orangtua yang bisa dilakukan kita sebagai seorang anak..

1. Ekspresikan Sayang Dengan Ketaatan

siapapun orangnya akan sangat senang jika kita mendengarkan dan mematuhi setiap apa yang ia perintahkan. ketaatan ini tentunya ditujukan pada hal-hal positif yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariah dan agama. ikutilah dan laksanakanlah setiap perintah yang baik dari Ibu. jangan sekali-kali membantah meskipun dengan sahutan kata "ah"

jikalaupun kita merasa sulit dengan permintaan dan perintah Ibu tersebut, tolaklah dengan cara dan Akhlak yang baik. beri pengertian akan kesulitan anda tersebut. sebagai anak kita tentunya paham bagaimana cara menyenangkan hati Ibu dengan perkataan dan permintaan yang baik.

Ibu kita akan sangat bahagia jika kita menjadi anak yang taat pada ALLAH yang mungkin melebihi kebahagiaan beliau jika kita sayang pada dirinya sendiri sebab Ibu mengerti kebahagiaan sejati sebagai seorang Ibu adalah ketika seorang Ibu berhasil mengantarkan anak-anaknya menjadi hamba ALLAH yang taat padanya yang nantinya akan berdampak pula pada ketaatan seorang anak pada kedua orangtuanya.

2. Sesekali Berilah Kejutan

ada banyak cara dan momen untuk memberikan kejutan pada Ibu kita, diantaranya memberi Ibu hadiah-hadiah yang sangat Ibu sukai. bisa berupa benda maupun makanan yang ia sukai, misalnya pada pertama kali kita mendapat gaji sendiri, dan kejutan yang sangat besar dari seorang anak untuk kedua orangtuanya tentu saja dengan Do'a-Do'a anak yang Tulus Ikhlas untuk keselamatan bagi keduanya Dunia dan Akhirat meski kedua orangtua kita tidak mengetahuinya sebab itulah salah satu kejutan yang begitu besar manfaatnya bagi kedua orangtua kita, dan masih sangat banyak lagi momen-momen dimana kita bisa membahagiakan hati Ibu kapan dan dimanapun itu.

3. berikan kasih sayang terbaik buat kedua orangtua sebelum menikah

setiap dari kita pasti bercita-cita untuk berumahtangga, seorang Ibu akan sangat-sangat bersedih melepas anaknya ketika ia telah menikah, terlebih jika anak tersebut adalah wanita yang selanjutnya akan dibawa pergi dan tinggal ditempat yang jauh bersama sang suami.

oleh sebab itu sebagai seorang anak yang saat ini belum menikah, berilah kasih sayang terbaik sepenuhnya pada Ibu dan Bapak kita dimasa-masa ini. kasih sayang Ibu telah mengantarkan kita hingga menghirup udara kebahagiaan dimuka bumi ini. dan ketika kita telah berumahtangga jangan pernah berubah ketaatan dan kasih sayang kita pada kedua orangtua..khususnya bakti pada Ibu tercinta.

dikutip dari anneahira.com dengan sedikit tambahan dan penyesuaian.

Senin, 06 Agustus 2012

Keajaiban Dekapan Ibu


James Ogg yang lahir prematur di sebuah rumah sakit di sydney Australia dengan berat 900 gram dalam usia 27 minggu bersama saudara kembarnya Emily Ogg sudah dinyatakan meninggal oleh tim dokter.

Emily bertahan hidup setelah berjuang selama 20 menit. Kate Ogg ,sang ibu, Kate tak menerima informasi itu begitu saja. Naluri keibuannya mendorong Kate membuka selimut pembungkus jenazah anaknya Jamie,

lalu memeluknya di dada.Kate melakukan " kangaroo care " terhadap bayinya yang sudah dinyatakan meninggal dengan didampingi sang suami, David Ogg, sambil terus mengajak bicara dan mengatakan pada Jamie ada saudara kembar yang menantimu.

      Setelah lebih dari dua jam, tiba-tiba Kate merasakan adanya gerakan napas pelan.Menurut dokter itu hanya gerakan refleks. Tapi,ketika gerakan napas Jamie semakin kuat, Kate memberinya tetesan air susu Ibu dengan jari kelingkingnya, dan Jamie menelannya. Napas Jamie pun semakin kuat lalu dia membuka matanya. dan ya..Jamie hidup kembali..

dari kisah tentang seorang Ibu dan Bayinya ini kita bisa memetik pelajaran sekaligus Hikmah yang banyak bahwa sesungguhnya Ibu yang begitu mengharapkan anaknya tetap hidup sesungguhnya sang Ibu sedang dalam keadaan berdo'a dengan dekapan penuh cinta seorang Ibu dan pengharapan kepada ALLAH bahwa ia begitu mencintai Bayinya dan kita tentu mengetahui bahwa apapun bisa terjadi atas kehendak ALLAH, bahkan untuk sekedar memberi " kehidupan lagi " bagi hamba yang dikehendakinya, apalagi itu adalah permohonan dan pengharapan penuh cinta seorang Ibu.., tentu tiada yang mustahil..

dikutip dari gavinmilano.com dengan sedikit tambahan

Kamis, 02 Agustus 2012

penyebab keberhasilan seorang anak itu bernama Ibu.

Seorang pemuda lulusan akademis terbaik melamar pekerjaan sebagai seorang manager di sebuah perusahaan besar.

Dia telah melewati interview awal; Direktur yang akan melakukan interview akhir dan menentukan putusannya.

Sang Direktur melihat dari CV dan menemukan prestasi akademis y
ang luar biasa, sejak dari sekolah dasar hingga tingkat sarjana, tak pernah sekalipun si Pemuda mendapat nilai buruk.

Sang Direktur bertanya, "Apakah engkau memperoleh bea siswa dari sekolah?", dan si Pemuda menjawab "belum pernah".

Sang Direktur bertanya, "Ayahmu yang membiayai sekolahmu?", si Pemuda menjawab, "Ayahku meninggal saat aku masih bayi
, Ibuku yang membayarkan uang sekolahnya".

Sang Direktur bertanya, "Dimana ibumu bekerja?", si Pemuda menjawab, "Ibuku bekerja sebagai tukang cuci pakaian". Kemudian, sang Direktur meminta si Pemuda memperlihatkan tangannya, yang kemudian menunjukkan sepasang tangannya yang halus dan lembut.

Sang Direktur bertanya, "Apakah selama ini engkau membantu Ibumu mencucikan pakaian?". Si Pemuda berkata, "Tidak pernah. Ibuku selalu memintaku untuk belajar dan rajin membaca buku, lagipula
Ibuku dapat mencuci pakaian lebih cepat dari yang dapat kulakukan".

Sang Direktur berkata, "Aku punya satu permintaan, jika kau pulang nanti, coba bersihkan tangan ibumu, dan temui aku lagi besok pagi".

Si Pemuda merasa bahwa kesempatannya mendapat pekerjaan tsb sangat berpeluang, jadi dia segera pulang, dan dengan penuh senang ingin membersihkan tangan ibunya.

Ibunya merasa heran dan senang bercampur-baur, tapi ia teta
p julurkan tangannya kepada sang anak.

Si Pemuda membersihkan tangan Ibunya dengan pelan, sambil berlinang air mata. Ini pertama kalinya ia mengetahui betapa tangan Ibunya begitu keriput, dan penuh goresan luka. Beberapa luka masih begitu p
edih, sehingga membuat tubuh Ibunya menggigil saat dibersihkan dengan air.

Baru pertama kali ini si Pemuda menyadari bahwa inilah sepasang tangan yang tiap hari mencuci pakaian demi uang sekolahnya, luka-luka goresan itu adalah harga yang dibayar oleh sang Ibu untuk pendidikan dan masa depannya.

Setelah selesai membersihkan tangan ibunya, si pemuda diam-diam mencucikan semua sisa pakaian tsb.

Malam itu, keduanya bercakap-cakap lama sekali.

Esok paginya, si Pemuda datang kembali ke kantor sang Direktur

Sang Direktur melihat linangan air mata si Pemuda, dan bertanya: "Bisa kamu ceritakan apa yang telah kau lakukan dan pelajari di rumahmu kemarin.?"

Si Pemuda menjawab, "Aku membersihkan tangan ibuku, dan juga menyelesaikan sisa cucian pakaian".

Sang Direktur berkata, "coba ceritakan apa perasaanmu."

Si Pemuda berkata, "Pertama, aku sekarang mengerti arti penghargaan, tanpa Ibuku, tiada keberhasilan bagiku hari ini. Kedua, aku telah bekerja bersama ibuku, dan sekarang mengerti sulitnya untuk menyelesaikan sesuatu dengan sempurna. Ketiga, aku menyadari pentingnya nilai kekeluargaan."

Sang Direktur berkata, "Itulah yang kuminta, aku ingin mempekerjakan orang yang bisa menghargai bantuan orang lain, seseorang yang bisa memahami sulitnya menyelesaikan suatu tugas, dan seseorang yang tidak melulu mengukur uang sebagai patokan karirnya. Engkau diterima bekerja."

Di kemudian hari, si anak muda ini bekerja dengan tekun dan giat, serta mendapat rasa hormat dari bawahannya, semua rekannya juga demikian, dan perusahaan maju dengan pesat.

 
Hikmah:

Seorang anak yang selalu dibantu mengerjakan dan dimanja permintaannya, akan membentuk mental 'terima jadi' dan selalu menuntut diutamakan. Ia takkan menghargai upaya orang-tuanya. Ketika bekerja, ia beranggapan orang lain harus menurut padanya, dan jika menjadi seorang atasan, ia takkan mau memahami kesulitan anak-buahnya dan selalu menyalahkan. Orang macam ini bisa berhasil, tetapi hanya sekejap, karena tidak akan merasakan suatu kepuasan, ia akan selalu mengeluh dan penuh rasa benci dan permusuhan.

Jika kita menjadi orang-tua yang protektif seperti itu, kita mencintai sang anak atau justru menjerumuskannya..?

Anda bisa memberikan anak anda sebuah rumah tinggal yang besar, makanan yang enak dan sehat, menonton tv layar lebar. Tetapi saat anda memotong rumput halaman, biarkan mereka juga mengalaminya.

Setelah makan, minta mereka mencuci piring dan mangkok bersama-sama. Bukan sekadar masalah uang untuk menggaji pembantu, tetapi karena anda mencintai mereka dengan cara yang benar.

Anda ingin mereka mengerti, bahwa meskipun kaya, akan tiba suatu waktu rambut mereka juga beruban. Hal yang terpenting adalah bahwa "anak anda belajar bagaimana cara menghargai usaha yang dilakukan, mengalami kesulitan dan tantangan, serta belajar bekerja-sama dengan orang lain untuk menyelesaikan sesuatu.

Zaman telah belalu seiring hari telah berganti Kenangan dan wajah setiap ibu tak akan terlupakan bagi anak-anaknya, Kasihnya pada anak-anaknya sepanjang kehidupannya, dan tiada meminta balas Hanya doa saja yang bisa kita panjatkan sebagai seorang anak dan tetap tersenyumlah ibu karena anak-anakmu mengasihimu.

dikutip dari cahayarumah.multiply.com

Rabu, 01 Agustus 2012

Bakti manusia-manusia terbaik kepada Ibunda Mereka


Menghormati orangtua sangat ditekankan dalam Islam. Banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa segenap mukmin mesti berbuat baik dan menghormati orangtua. Selain menyeru untuk beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, Al-Qur’an juga menegaskan kepada kaum beriman untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah dengan menghormati keduanya.

Dan Islam memberikan penghormatan dan kedudukan yang amat tinggi kepada para ibu. Seseorang yang menghormati ibunya akan ditempatkan di surga, sedangkan anak yang durhaka kepada ibunya akan ditempatkan pada posisi terhina.

Allah berfirman, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersatukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman: 14-15)

Rasulullah sendiri, meskipun hanya beberapa tahun berada dalam dekapan ibunya, beliau merasakan betul kasih sayangnya. Kenangan manis bersama sang ibu sangat membekas, melahirkan sifat kasih dan hormat, terutama kepada kaum ibu. Kepada ibu-ibu yang pernah menyusuinya, beliau memberikan penghormatan dan penghargaan yang setingi-tingginya.
Tak heran jika ketika Rasulullah ditanya seorang sahabat, 

“Ya Rasulullah, siapakah yang harus aku hormati di dunia ini?” Maka Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Pertanyaan itu diulang sampai tiga kali, dan Rasulullah menjawab dengan jawaban yang sama. Ketika ditanya untuk keempat kalinya, barulah beliau menjawab, “Ayahmu.”
Sifat kasih dan penghormatan tulus Rasulullah terhadap ibu diresapi dengan baik oleh manusia-manusia terbaik dan para ulama Salafus-Shalih
Sifat kasih dan penghormatan tulus Rasulullah terhadap ibu diresapi dengan baik oleh manusia-manusia terbaik dan para ulama Salafus-Shalih umat ini. Mereka mencurahkan perhatian yang sangat besar terhadap kepentingan dan kebahagiaan ibu mereka. Bila perlu berusaha mencari apa saja yang bisa dikerjakan demi menyenangkan sang ibu, meski harus "membuang" banyak waktu.

Tengoklah Umar bin Khatthab yang begitu hormat kepada ibunya, sampai dalam urusan yang remeh sekalipun. Dalam hal makan, misalnya, dia tidak pernah makan mendahului ibunya. Umar dikenal luas sebagai sahabat yang paling ditakuti dan disegani karena keberanian dan ketegasannya, bahkan setan pun lari terbirit-birit bila melihat Umar. Kendati demikian, dia tidak berani makan bersama-sama dengan ibunya, sebab dia khawatir akan mengambil dan memakan hidangan yang tersedia di meja, sementara ibunya menginginkan makanan tersebut. Baginya, seorang ibu telah mendahulukan anaknya selama bertahun-tahun ketika sang anak masih kecil dan lemah.

Pun demikian dengan para sahabat lainnya, sebut saja Usamah bin Zaid bin Haritsah (putra dari orang kesayangan Rasulullah, ibunya adalah Ummu Aiman yang merawat Rasul di masa kecil). Dari Muhammad bin Sirin, diriwayatkan bahwa pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, harga pokok kurma mencapai seribu dirham. Maka Usamah mengambil dan menebang sebatang pohon kurma dan mencabut umbutnya (yakni bagian di ujung pangkal kurma berwarna putih, berlemak berbentuk seperti punuk unta, biasa dimakan bersama madu). Lalu diberikannya kepada ibunya untuk dimakan. Orang-orang bertanya, ”Apa yang menyebabkan engkau melakukan hal itu? Padahal engkau tahu bahwa pangkal kurma kini harganya mencapai seribu dirham?” Dia menjawab, ”Ibuku menghendakinya. Setiap ibuku menginginkan sesuatu yang mampu aku dapatkan, aku pasti memberikannya.”
…Begitu elok kisah para shahabat Rasulullah. Cinta mereka kepada sang ibu mengundang decak kagum. Mereka tak melakukan secuil kesalahan pun terhadap ibu mereka…
Begitu eloknya kisah para shahabat Rasulullah. Cinta mereka kepada sang ibu sungguh mengundang decak kagum. Seolah-olah tak sedikit pun mereka membiarkan diri melakukan secuil kesalahan terhadap ibu mereka. sampai-sampai Abdullah bin Abbas menjadikan ibu sebagai sarana untuk bertobat kepada ALLAH.

Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki menemui Ibnu Abbas seraya menuturkan kisahnya, “Aku pernah mencintai seorang wanita, lalu meminangnya, namun ditolak. Setelah itu datang pria lain meminangnya, ternyata diterima. Aku merasa cemburu sehingga membunuhnya. Apakah aku berkesempatan untuk bertobat?” Ibnu Abbas balik bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Tidak.” Ibnu Abbas melanjutkan, “Kalau begitu, bertobat saja kepada Allah dan beramallah sebisamu.” Seorang yang hadir di situ bertanya kepada Ibnu Abbas, “Kenapa engkau menanyakan tentang ibunya?” Ibnu Abbas menjawab, “Aku tidak mengetahui adanya suatu amalan yang lebih mampu mendekatkan seseorang kepada Allah selain berbakti kepada seorang ibu!” (Diriwayatkan Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Hal demikian tidak berbeda dengan para ulama salaf yang menjadi rujukan keilmuan dan wawasan umat. Disebabkan menolak jabatan hakim yang ditawarkan penguasa Bani Umayyah, Imam Abu Hanifah selalu mendapatkan intimidasi dan siksa, sampai akhirnya dijebloskan ke penjara. Ketika di dalam penjara, Imam Abu Hanifah terlihat sering menangis, tapi bukan karena dahsyatnya siksaan yang diterima. Salah seorang sahabatnya di dalam penjara menanyakan hal itu kepada Imam Abu Hanifah. Dia menjawab, “Demi Allah, aku menangis bukan karena sakit didera cambuk, melainkan karena aku teringat akan ibuku. Sungguh, tetesan airmatanya membuatku sangat sedih.” Ya, sang Imam lebih mengkhawatirkan kondisi ibunya dikarenakan dirinya terpenjara.

Demikian juga yang terjadi pada Imam Malik bin Anas dan Imam Ahmad bin Hambal. kedua ulama ini begitu tekun menuntut ilmu hingga berhasil menjadi ulama besar karena ingin menghormati sang ibu, yang telah membesarkan dan mendidiknya hingga besar. Imam Malik selalu terkenang dengan apa yang dilakukan ibunya ketika dirinya masih kecil. Selesai shalat shubuh beliau dimandikan ibu, disediakan pakaian yang baik, diusapi minyak wangi, dan dipakaikan serban dikepalanya. Setelah tampak rapi, beliau diantar ibunya untuk belajar agama kepada seorang ulama.

Ibunda Imam Ahmad adalah seorang janda. Sekalipun cantik, ibunya selalu menolak lamaran lelaki yang ingin menikahinya. Hanya dengan alasan ingin membesarkan dan mendidik anaknya. Segala beban berat dalam menanggung biaya hidup dilakukan ibunya seorang diri. Imam Ahmad merasa sedih dan gelisah melihat apa yang dilakukan ibunya untuk dirinya. Sebagai balasannya, beliau bertekad kuat untuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Beliau telah membuktikan sendiri dengan menjadi salah seorang ulama terbesar sepanjang sejarah.
…Imam Syafi’i selalu meminta petunjuk dan nasihat ibunya kepada siapa beliau mesti berguru. Padahal Imam Syafi’i adalah pelajar terpandai…
Sewaktu ibunya masih hidup, Imam Syafi’i selalu meminta petunjuk dan nasihat ibunya kepada siapa beliau mesti berguru. Padahal Imam Syafi’i adalah pelajar terpandai dan bisa saja beliau memilih guru yang beliau anggap paling bagus. Tetapi hal itu tidak beliau lakukan.
Ketika Imam Ibnu Taimiyah tinggal untuk beberapa lama di Mesir, beliau menyampaikan keinginan itu kepada ibunya dan meminta izin kepadanya lewat sebuah surat yang memuat betapa cinta kasih seorang anak dan baktinya kepada ibu. Di dalam surat itu tertulis doa seorang anak untuk ibunya dan mengharapkan sang ibu juga mendoakannya. Siapa yang tidak mengenal Ibnu Taimiyah yang namanya harum di seantero penjuru bumi, dihormati masyarakat, dikenal ketegasannya. Namun dihadapan ibunda tercinta, dia tertunduk patuh, penuh cinta.

Seolah-olah menghormati ibu telah menjadi bagian dari kebesaran nama mereka. Mereka telah membuktikan bahwa kesibukan mereka berdakwah, popularitas mereka, tidak menghalangi mereka untuk menghormati ibu. Justru dengan menghormati ibu, nama mereka semakin terangkat pada puncak kemuliaan. Inilah sebuah berkah ibu yang seringkali luput dari perhatian kita.

dikutip dari http://sitijamilahamdi.blogspot.com