Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Kamis, 30 Agustus 2012

Ibunda Meng Zi yang Bijaksana

Di negeri China pernah hidup seorang filsuf besar bernama Meng Zi. Kebijaksanaan dan hikmahnya membuat sebagian orang China hampir menyejajarkan kualitas Meng Zi dengan Kong Zi, karena itu mereka sering menyebut kedua filsuf itu dengan sebutan "Khong Meng". Meng Zi merupakan murid Kong Zi.

Pada waktu Meng Zi masih kanak-kanak, ayahnya meninggal dunia. Ibunya membesarkannya dengan kondisi yang sangat sulit. Karena ia mencintai mendiang suaminya, Ibu Meng Zi pindah rumah ke dekat makam suaminya. Karena dekat, dari rumah mereka sering terdengar orang meratap sambil memukul-mukulkan tangannya kebenda-benda terdekat.

Melihat didekat rumahnya ada pemandangan seperti itu, Meng Zi sering berada di dekat orang-orang yang sedang meratap. Ia pun berpura-pura menangis tersedu-sedu mengikuti orang yang sedang meratap. Baginya ikut-ikutan sedih seperti permainan yang mengasikan. Ibunya sering memperhatikan anaknya itu. Ia berpikir bahwa ini tempat yang kurang baik bagi pertumbuhan anaknya, maka ia membawa Meng Zi pindah ke kota.

Di kota banyak sekali pedagang. Para pedagang suka berteriak menawarkan dagangannya dan suka minum bir bersama serta sering mengucapkan janji-janji palsu dalam menawarkan barang dagangannya. Bagi Meng Zi hal tersebut menarik, karena itu ia mulai belajar minum bir, berteriak menawarkan dagangan dan mengucapkan janji-janji gombal ala pedagang. Ibu Meng Zi resah dan berpikir tempat ini tidak terlalu baik bagi perkembangan moral dan perkembangan pengetahuan anak. 

Setelah berpikir matang soal tempat yang paling ideal untuk anaknya, ia memutuskan untuk pindah ke dekat sekolah.Dari sekolah tersebut bisa terdengar suara guru yang sedang mengajar dan di sekolah itu ada perpustakaan sehingga ia berharap anaknya bisa belajar banyak hal yang berguna untuk hidupnya. Di situ juga banyak murid sekolah sehingga diharapkan Meng Zi akan terdorong untuk bersekolah dan rajin belajar. Meng Zi pun terpengaruh. Tiap hari ia selalu berusaha mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Di tempat itu ia belajar membaca.Setelah bisa membaca ia mulai rajin membaca buku. Banyak buku kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan dipelajarinya dengan tekun. Ia juga berdiskusi dengan murid-murid yang ada di sekolah itu. Hari demi hari, tahun demi tahun, Ibu Meng Zi gembira melihat anaknya begitu suka pada belajar-mengajar. Dalam hatinya ia berkata, "Ini memang tempat yang tepat untuk anak saya bertumbuh !" Karena kesukaanya belajar, berdiskusi, dan membaca buku, Meng Zi berkembang menjadi orang yang sangat dikagumi kepintaran dan hikmahnya. Bahkan ia dikenal sebagai seorang filsuf besar negeri China.

ada banyak pelajaran dari kisah seorang Meng Zi dan sifat Bijaksana Ibunya yang dengan berbagai cara dilakukan seorang Ibu agar anaknya selalu berada dilingkungan yang bisa membuat karakter seorang anak senantiasa berada dalam kebaikan, janganlah menjadi seorang Ibu yang tidak peduli dengan lingkungan anak kita bertumbuh sebab lingkungan itu akan membentuk watak dan karakter seorang anak dalam hidupnya, jikalau semua Ibu dalam sebuah negara mampu menjadi Ibu yang bijaksana lagi solehah dan beriman maka generasi negeri itu akan terlahir anak-anak yang membanggakan bagi bangsanya, dan benarlah kalimat bahwa wanita ataupun seorang Ibu itu adalah tiang negara sebab merekalah penentu seberapa mulia generasi negara itu, kita butuh banyak Ibu yang beriman, solehah lagi bijaksana dalam mendidik anak-anaknya.


dikutip dari meandconfucius.com dengan sedikit tambahan

1 komentar:

  1. salam. thanks singgah, :)

    http://everyoneolweztherebutnot4me.blogspot.com/2012/09/tolong-saya.html

    BalasHapus