Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Minggu, 30 September 2012

Anakku, Ibu Memang Seorang Wanita yang Kuat, Tapi..

Anakku, Ibu telah mencintaimu bahkan sebelum Ibu melihat seperti apa wajahmu. Ibu telah menyayangimu bahkan ketika kamu masih dalam kandunganku. Ibu adalah seorang sahabat yang selalu mengerti dirimu.

Anakku, tahukah kamu jika tubuh manusia hanya mampu menanggung 45 del ( unit ) rasa sakit ? Tahukah kamu jika seorang wanita melahirkan, dia akan merasakan sampai dengan 57 Del (unit) dari rasa sakit? Tahukah kamu jika itu sama saja dengan 20 tulang tubuh retak dalam waktu yang bersamaan?

Anakku, perasaanku memang terluka ketika kamu tak mau mendengar apa kata-kataku, tapi itu tak sedikitkun mengurangi rasa cintaku kepadamu. Hatiku memang sedih ketika kamu tak melakukan apa yang kupinta, tapi itu tak sedikitpun mengurangi rasa sayangku kepadamu.

Anakku, perlu kamu tahu, butuh keberanian yang besar untuk menjadi seorang Ibu, seseorang yang istimewa untuk bisa mencintai anaknya melebihi rasa cinta pada dirinya sendiri, seseorang yang kuat untuk bisa membesarkan anak-anaknya.

Anakku, Ibu memang sangat mencintaimu, akan selalu ada untukmu, akan selalu membantumu, tapi jangan karena itu kamu lalu berpikir bahwa segala sesuatu kamu serahkan pada ibu untuk melakukannya.

Anakku, Ibu memang seorang wanita yang pemaaf, tapi jangan karena itu kamu lalu berpikir bahwa tak peduli bagaimana kamu melakukan salah, Ibu akan selalu memaafkanmu.

Anakku, Ibu memang seorang wanita yang kuat, tapi jangan karena itu kamu lalu berpikir bahwa tak peduli bagaimana kamu menyakiti, Ibu akan selalu baik-baik saja.

Anakku, Ibu memang malaikat yang dikirim tuhan untuk menjagamu, tapi jangan karena itu kamu menjadi seseorang yang lemah, tak dewasa, dan berpikir bahwa apapun yang kamu lakukan, kamu punya Ibu yang akan selalu ada untukmu.


dikutip dari http://diaryibu.com 

Seorang Ibu pendidik terdekat bagi Anaknya

Ada seorang istri, ia seorang hafidzah dan memiliki ilmu agama sangat baik. Wanita tersebut memberikan pendidikan kepada anaknya berumur tujuh tahun yang seorang bisu dan tuli. Suami dari wanita ini merupakan seorang pendosa. Wanita ini dengan segenap ilmunya berusaha menyadarkan suaminya, namun belum juga berhasil. Namun wanita ini memiliki perhatian yang khusus dan lebih kepada anaknya yang cacat ini. Ia memberikan pendidikan yang baik kepada anaknya yang cacat ini dengan penuh kesabaran.

Pada suatu ketika anaknya yang bisu dan tuli ini menatap wajah ayahnya dengan tatapan tajam dan memeberi isyarat, “Wahai Ayah, sholatlah! Apakah Engkau tidak takut kepada siksa dan azab Allah ?”. Kemudian anaknya ini menangis. Hingga pada suatu hari anaknya ini memberi isyarat ke ayahnya, “Wahai Ayah, jangan pergi dulu, tunggu sebentar!”. Lalu anak ini mengambil air wudhu dan menggelar sajadah di samping ayahnya lalu sholat.

Kemudian seusai sholat, anak tersebut mengambil Al-Qur’an dan menunjukkan QS Maryam ayat 45 kepada ayahnya. berikut bunyi ayatnya : “Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan.”

Lalu ayahnya meneteskan air matanya. Kemudian anaknya mengajak ayahnya ke masjid nabawi dan menangislah ayahnya ketika mendengar bacaan2 Al-Qur’an di dalam masjid yang menyentuh hatinya itu.
Kembali ke rumah, istrinya terbengong-bengong melihat perubahan pada suaminya itu. Kemudian suaminya bertanya kepada istrinya tersebut, “Bersumpahlah, apakah Engkau yang mengajarkan kepada anak kita untuk menunjukkan surat maryam kepadaku?” Kemudian istrinya menjawab, “Bukan.”

SUBHANALLAH….. apa yang bisa kita ambil dari kisah di atas? Banyak sekali.

Apa yang membuat anak tersebut bisa mengubah ayahnya yang dari seorang pendosa kemudian menjadi seorang muslim yang baik dan taat ? Tak lain dan tak bukan itu memang merupakan sebuah hidayah dari ALLAH. Namun, selain itu, adalah kecerdasan emosional dan spiritual yang luar biasa dari si anak tersebut. Inilah urgensi dari pendidikan seorang ibu. Pendidikan yang baik dan benar, disertai dengan kesabaran kepada anak akan menimbulkan kecerdasan bagi si anak dan kebaikan bersama yang tak terduga. Pendidikan bukanlah hanya pendidikan intelektual saja. Siapa lagi orang yang paling dekat, paling mengerti, paling sabar, paling banyak menghabiskan waktu dengan anaknya selain seorang ibu? Itulah, oleh karena itu, siapa lagi yang bisa mendidik seorang anak dengan baik dan sepenuh hati selain seorang ibu? Maka dari itu, seorang muslimah sebagai seorang Ibu memiliki tugas yang besar untuk mendidik anaknya.

Pelajaran yang paling mudah dicerna anak adalah dari perilaku contoh orang tuanya dan orang sekitarnya. Apabila orang tuanya baik, insya ALLAH anaknya pun baik. Walaupun tidak selamanya berlaku demikian. Karena banyak juga orang tuanya yang baik dan mendidik anaknya dengan baik pula namun anak-anaknya tidak menjadi baik. Itu juga karena kuasa ALLAH yang hanya memberikan hidayah kepada hamba yang dipilih-Nya. Kesalahan mendidik, maka kita akan mendapatkan kerugian yang amat besar. Dan semoga kita bukan termasuk orang-orang yang merugi tersebut.


dikutip dari oaseimani.com

Sabtu, 29 September 2012

apakah seorang Ibu pernah menakar air susunya ?

Pada suatu ketika, hiduplah seorang ibu yang membesarkan anak laki-lakinya. Dengan melalui berbagai penderitaan akhirnya ibu tua itu berhasil menghantarkan anak laki-lakinya mencapai kehidupan yang sukses. Anak laki-laki itu lalu menikah dan mempunyai rumah sendiri. Setelah ia berkeluarga dan mempunyai kehidupan yang cukup baik, tetapi ia tidak pernah menengok kepada kedua orangtuanya yang sudah tua itu. Ayah dan ibu tua itu sudah lama amat menderita, mereka tidak mempunyai makanan dan pakaian yang cukup.

Pada suatu hari karena mereka sudah amat kelaparan, tidak mempunyai lagi makanan yang dapat dimakan, ibu tua itu merasa ia dapat meminta pertolongan dari anaknya. Dengan badan yang sudah membungkuk, ia berjalan perlahan-lahan menuju ke rumah anaknya untuk meminta makanan. Anak laki-laki itu yang melihat ibunya datang segera bersembunyi di dalam rumah. Ia diam saja di dalam rumah dan tidak mau keluar menemui ibunya, ia lalu menyuruh isterinya keluar untuk menemui ibunya.

Di depan pintu rumah, ibu tua itu berkata kepada menantu perempuannya, bahwa ia amat lapar dan membutuhkan makanan. Menantunya tanpa berkata sepatah katapun lalu masuk ke dalam rumah dan membawa sebuah keranjang, lalu diberikannya kepada mertuanya, yang berisi dua liter gandum.

Tetapi ibu mertua yang sedang kelaparan itu, tentu saja tidak dapat memakan gandum yang belum dimasak itu. Ia harus memasaknya terlebih dahulu, dan membutuhkan waktu yang cukup lama sampai gandum itu matang dan dapat dimakan. Sedangkan ia sudah amat lapar, dan membutuhkan makanan yang sudah matang supaya dapat segera dimakan untuk menghilangkan rasa laparnya.

Ibu tua itu menerima keranjang yang berisi gandum itu dengan perasaan sedih, ia tidak bahagia. Ia menghadapi kenyataan yang pahit, ia hanya menerima dua liter gandum, pemberian dari anak laki-lakinya yang amat sangat dikasihinya. Anak laki-lakinya itu tidak mau keluar menemuinya ketika ia datang, hatinya amat kecewa dan sedih sekali.

Diceritakan, ibu tua itu lalu mengucapkan syair ketika ia menerima gandum itu,

“Saya datang ke depan pintu rumah anakku
karena saya amat lapar dan hampir mati
Tetapi saya hanya memperoleh dua liter gandum
Saya ragu-ragu,
apakah saya harus menerimanya atau tidak
Oh anakku sayang
apakah saya pernah menakar air susuku ketika menyusuimu?”

Cerita selanjutnya : ternyata menantunya itu amat marah mendengar kata-katanya. Ia merasa kata-kata itu ditujukan untuk dirinya. Dengan marah ia lalu berkata :

“Hai nenek tua, ibuku sendiri yang telah membesarkanku, dan tidak akan membiarkan aku menderita sedikitpun, tidak ribut ketika ia datang, dan hanya kami berikan seliter gandum. Kami kan sudah memberikanmu dua liter gandum, tetapi kamu malah berkata-kata seperti itu. Sudahlah nenek tua, pergilah dari tempat ini sekarang juga!”

Anak laki-laki itu tidak berusaha meredakan pertentangan antara ibu dan isterinya, ia hanya diam saja.
Tetapi sejak saat itu setelah mendengar puisi yang diucapkan si ibu tua, orang-orang menjadi merasa ngeri dan takut apabila sudah tua nanti, akan menghadapi keadaan seperti yang dialami oleh ibu tua itu.

Cerita ini menekankan tentang kewajiban seorang anak untuk merawat ayah dan ibunya yang sudah tua, seperti ayah dan ibu merawat anaknya dengan penuh kasih yang tanpa batas ketika mereka masih kecil. Jadi seorang anak harus berbakti dengan merawat orangtua mereka, dengan penuh hormat dan dengan cinta kasih yang tulus ikhlas.

jangan biarkan dihari tuanya Ibu Bapak kita mengalami derita bahkan sampai kelaparan disebabkan anak-anaknya enggan membantu kedua orang tuanya, sungguh ini kesalahan fatal bagi seorang anak, sepatutnya Ibu Bapak dihari tuanya mendapatkan pelayanan terbaik kita sebagai anak-anak mereka, sebagaimana perlakuan cinta kasih sepenuh hati mereka berdua disaat kita masih kecil dahulu, jangan biarkan mereka kehilangan kasih sayang kita anaknya. Surga sang anak sangat ditentukan oleh kedua manusia mulia Ibu Bapak kita.



dikutip dari samaggi-phala.or.id dengan sedikit tambahan 

Jumat, 28 September 2012

Bunga Cantik untuk Ibu

Alkisah, ada seorang Ibu yang tidak sengaja menabrak seorang pejalan kaki ketika sedang berjalan di trotoar. "Oh, maaf," kata sang Ibu.

Jawab si pejalan kaki itu, "Maafkan saya juga. Saya tak memperhatikan Anda." Mereka berdua bersikap sangat sopan. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanannya masing-masing.

Namun ketika tiba di rumah, berlangsung kisah yang berbeda. Betapa berbedanya sang Ibu dalam memperlakukan seorang yang sangat dikasihinya.

Menjelang malam hari, saat sang Ibu sibuk memasak makan malam, anak perempuan satu-satunya berdiri diam di sampingnya. Ketika berbalik badan, sang Ibu nyaris saja menabrak anaknya. Karena terkejut, sang Ibu menjadi jengkel. "Menyingkir sana. Jangan berdiri di situ," kata sang Ibu dengan raut muka yang berkerut. Sang anak pun meninggalkan dapur, dengan hati yang sedikit terluka. Sang Ibu sungguh tak menyadari betapa kasar caranya berbicara tadi.

Ketika sang ibu berbaring di tempat tidur, suara hatinya berbicara, "Ketika berhadapan dengan seorang yang tak dikenal, kau bersikap sangat santun. Tapi kau malah memperlakukan anak yang kaucintai dengan kasar. Coba kau lihat lantai dapurmu, akan kautemukan serangkai bunga di dekat pintu. Itu bunga yang dibawakan anakmu untukmu. Dia memetiknya sendiri bunga yang berwarna-warni cerah itu. Anakmu berdiri diam di dekatmu agar tidak merusak kejutannya, dan kau tak pernah melihat airmatanya."

Dengan segera sang Ibu menuju dapur dan di lantai masih tergeletak bunga berwarna merah muda, kuning, dan biru. Saat itu, sang Ibu merasa sangat menyesal. Airmatanya mulai mengalir. Lalu diam-diam, ia masuk ke kamar sang anak dan dengan perlahan duduk di tepi tempat tidurnya. "Bangun sebentar, anakku," kata sang Ibu. "Bunga ini kau petik untuk Ibu?"

Sang anak tersenyum meski matanya masih terlihat mengantuk, "Aku menemukannya, di dekat pepohonan. Aku petik karena bunganya cantik, sama seperti Ibu. Aku tahu Ibu pasti menyukainya, terutama yang biru."
Mendengar jawaban itu, sang Ibu semakin merasa bersalah, "Anakku, maafkan Ibu karena Ibu sudah kasar padamu tadi. Seharusnya aku tak meneriakimu seperti itu." Sang anak menjawab, "Oh, Ibu, nggak apa-apa, kok. Aku tetap sayang pada Ibu."

"Ibu juga sayang padamu. Dan aku memang suka bunga-bunga ini, terutama yang biru."

Tanpa kita sadari, cerita di atas juga sering kita alami sendiri. Betapa kita bisa bersikap sangat sopan dan santun dalam berbicara kepada orang lain, yang baru kita kenal sekalipun, namun semua itu langsung berubah begitu kita menghadapi anggota keluarga kita, atau kerabat, atau sahabat, atau orang-orang dekat kita.

Mari, jadikan kisah ini sebagai "batu pijakan pertama" kita untuk mengubah kebiasaan tidak baik itu, agar ke depannya kita bisa lebih menjaga sikap dan perkataan kita kepada siapa pun yang kita temui. 



dikutip dari http://m.andriewongso.com

Cairan Ajaib, Air Susu Ibu

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman, 31:14)"

Air susu ibu (ASI) adalah sebuah cairan tanpa tanding ciptaan Allah untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dan melindunginya dalam melawan kemungkinan serangan penyakit. Keseimbangan zat-zat gizi dalam air susu ibu berada pada tingkat terbaik dan air susunya memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang masih muda. Pada saat yang sama, ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf. Makanan-makanan tiruan untuk bayi yang diramu menggunakan tekhnologi masa kini tidak mampu menandingi keunggulan makanan ajaib ini.

Daftar manfaat ASI bagi bayi selalu bertambah setiap hari. Penelitian menunjukkan, bayi yang diberi ASI secara khusus terlindung dari serangan penyakit sistem pernapasan dan pencernaan. Hal itu disebabkan zat-zat kekebalan tubuh di dalam ASI memberikan perlindungan langsung melawan serangan penyakit. Sifat lain dari ASI yang juga memberikan perlindungan terhadap penyakit adalah penyediaan lingkungan yang ramah bagi bakteri ”menguntungkan” yang disebut ”flora normal”. Keberadaan bakteri ini menghambat perkembangan bakteri, virus dan parasit berbahaya. Tambahan lagi, telah dibuktikan pula bahwa terdapat unsur-unsur di dalam ASI yang dapat membentuk sistem kekebalan melawan penyakit-penyakit menular dan membantunya agar bekerja dengan benar.

Karena telah diramu secara istimewa, ASI merupakan makanan yang paling mudah dicerna bayi. Meskipun sangat kaya akan zat gizi, ASI sangat mudah dicerna sistem pencernaan bayi yang masih rentan. Karena itulah bayi mengeluarkan lebih sedikit energi dalam mencerna ASI, sehingga ia dapat menggunakan energi selebihnya untuk kegiatan tubuh lainnya, pertumbuhan dan perkembahan organ.

Air susu ibu yang memiliki bayi prematur mengandung lebih banyak zat lemak, protein, natrium, klorida, dan besi untuk memenuhi kebutuhan bayi. Bahkan telah dibuktikan bahwa fungsi mata bayi berkembang lebih baik pada bayi-bayi prematur yang diberi ASI dan mereka memperlihatkan kecakapan yang lebih baik dalam tes kecerdasan. Selain itu, mereka juga mempunyai banyak sekali kelebihan lainnya.

Salah satu hal yang menyebabkan ASI sangat dibutuhkan bagi perkembangan bayi yang baru lahir adalah kandungan minyak omega-3 asam linoleat alfa. Selain sebagai zat penting bagi otak dan retina manusia, minyak tersebut juga sangat penting bagi bayi yang baru lahir. Omega-3 secara khusus sangat penting selama masa kehamilan dan pada tahap-tahap awal usia bayi yang dengannya otak dan sarafnya berkembang secara nomal. Para ilmuwan secara khusus menekankan pentingnya ASI sebagai penyedia alami dan sempurna dari omega-3.

Selanjutnya, penelitian yang dilakukan para ilmuwan Universitas Bristol mengungkap bahwa di antara manfaat ASI jangka panjang adalah dampak baiknya terhadap tekanan darah, yang dengannya tingkat bahaya serangan jantung dapat dikurangi. Kelompok peneliti tersebut menyimpulkan bahwa perlindungan yang diberikan ASI disebabkan oleh kandungan zat gizinya. Menurut hasil penelitian itu, yang diterbitkan dalam jurnal kedokteran Circulation, bayi yang diberi ASI berkemungkinan lebih kecil mengidap penyakit jantung. Telah diungkap bahwa keberadaan asam-asam lemak tak jenuh berantai panjang (yang mencegah pengerasan pembuluh arteri), serta fakta bahwa bayi yang diberi ASI menelan sedikit natrium (yang berkaitan erat dengan tekanan darah) yang dengannya tidak mengalami penambahan berat badan berlebihan, merupakan beberapa di antara manfaat ASI bagi jantung.

Selain itu, kelompok penelitian yang dipimpin Dr. Lisa Martin, dari Pusat Kedokteran Rumah Sakit Anak Cincinnati di Amerika Serikat, menemukan kandungan tinggi hormon protein yang dikenal sebagai adiponectin di dalam ASI. Kadar Adiponectin yang tinggi di dalam darah berhubungan dengan rendahnya resiko serangan jantung. Kadar adiponectin yang rendah dijumpai pada orang yang kegemukan dan yang memiliki resiko besar terkena serangan jantung. Oleh karena itu telah diketahui bahwa resiko terjadinya kelebihan berat badan pada bayi yang diberi ASI berkurang dengan adanya hormon ini. Lebih dari itu, mereka juga menemukan keberadaan hormon lain yang disebut leptin di dalam ASI yang memiliki peran utama dalam metabolisme lemak. Leptin dipercayai sebagai molekul penyampai pesan kepada otak bahwa terdapat lemak pada tubuh. Jadi, menurut pernyataan Dr. Martin, hormon-hormon yang didapatkan semasa bayi melalui ASI mengurangi resiko penyakit-penyakit seperti kelebihan berat badan, diabetes jenis 2 dan kekebalan terhadap insulin, dan penyakit pada pembuluh nadi utama jantung.

Fakta tentang "Makanan Paling Segar" [ASI]

Full hygiene may not be established in water or foodstuffs other than mother’s milk.

Fakta tentang ASI tidak berhenti hanya sampai di sini. Peran penting yang dimainkannya terhadap kesehatan bayi berubah seiring dengan tahapan-tahapan yang dilalui bayi dan jenis zat-zat makanan yang dibutuhkan pada tahapan tertentu. Kandungan ASI berubah guna memenuhi kebutuhan yang sangat khusus ini. ASI, yang selalu siap setiap saat dan selalu berada pada suhu yang paling sesuai, memainkan peran utama dalam perkembangan otak karena gula dan lemak yang dikandungnya. Di samping itu, unsur-unsur seperti kalsium yang dimilikinya berperan besar dalam perkembangan tulang-tulang bayi.

Meskipun disebut sebagai susu, cairan ajaib ini sebenarnya sebagian besarnya tersusun atas air. Ini adalah ciri terpenting, sebab selain makanan, bayi juga membutuhkan cairan dalam bentuk air. Keadaan yang benar-benar bersih dan sehat mungkin tidak bisa dimunculkan pada air atau bahan makanan, selain pada ASI.

ASI dan Kecerdasan

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa perkembangan kemampuan otak pada bayi yang diberi ASI lebih baik daripada bayi lain. Penelitian pembandingan terhadap bayi yang diberi ASI dengan bayi yang diberi susu buatan pabrik oleh James W. Anderson – seorang ahli dari Universitas Kentucky – membuktikan bahwa IQ [tingkat kecerdasan] bayi yang diberi ASI lebih tinggi 5 angka daripada bayi lainnya. Berdasarkan hasil penelitian ini ditetapkan bahwa ASI yang diberikan hingga 6 bulan bermanfaat bagi kecerdasan bayi, dan anak yang disusui kurang dari 8 minggu tidak memberikan manfaat pada IQ.

Apakah ASI Dapat Memerangi Kanker?

Berdasarkan hasil seluruh penelitian yang telah dilakukan, terbukti bahwa ASI, yang dibahas dalam ratusan tulisan yang telah terbit, melindungi bayi terhadap kanker. Hal ini telah diketahui, walaupun secara fakta mekanismenya belum sepenuhnya dipahami. Ketika sebuah protein ASI membunuh sel-sel tumor yang telah ditumbuhkan di dalam laboratorium tanpa merusak sel yang sehat mana pun, para peneliti menyatakan bahwa sebuah potensi besar telah muncul. Catharina Svanborg, Profesor imunologi klinis di Universitas Lund, Swedia, memimpin kelompok penelitian yang menemukan rahasia mengagumkan ASI ini. Kelompok yang berpusat di Universitas Lund ini menjelaskan kemampuan ASI dalam memberikan perlindungan melawan beragam jenis kanker sebagai penemuan yang ajaib.

Awalnya, para peneliti memberi perlakuan pada sel-sel selaput lendir usus yang diambil dari bayi yang baru lahir dengan ASI. Mereka mengamati bahwa gangguan yang disebabkan oleh bakteri Pneumococcus dan dikenal sebagai pneumonia berhasil dengan mudah dihentikan oleh ASI. Terlebih lagi, bayi yang diberi ASI mengalami jauh lebih sedikit gangguan pendengaran dibandingkan bayi yang diberi susu formula, dan menderita jauh lebih sedikit infeksi saluran pernapasan. Pasca serangkaian penelitian, diperlihatkan bahwa ASI juga memberikan perlindungan melawan kanker. Setelah menunjukkan bahwa penyakit kanker getah bening yang teramati pada masa kanak-kanak ternyata sembilan kali lebih sering menjangkiti anak-anak yang diberi susu formula, mereka menyadari bahwa hasil yang sama berlaku pula untuk jenis-jenis kanker lainnya. Menurut hasil penelitian tersebut, ASI secara tepat menemukan keberadaan sel-sel kanker dan kemudian membunuhnya. Adalah zat yang disebut alpha-lac (alphalactalbumin), yang terdapat dalam jumlah besar di dalam ASI, yang mengenali keberadaan se-sel kanker dan membunuhnya. Alpha-lac dihasilkan oleh sebuah protein yang membantu pembuatan gula laktosa di dalam susu.

Berkah Tanpa Tara Ini Adalah Karunia Allah

Ciri menakjubkan lain dari ASI adalah fakta bahwa ASI sangat bermanfaat bagi bayi apabila disusui selama dua tahun. Pengetahuan penting ini, hanya baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan, telah diwahyukan ALLAH empat belas abad silam di dalam ayat-Nya: ”Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan..." (QS, Al Baqarah, 2:233)

Sang ibu bukanlah yang memutuskan untuk membuat ASI, sumber zat makanan terbaik bagi bayi yang lemah yang memerlukan makanan di dalam tubuhnya. Sang ibu bukan pula yang menentukan beragam kadar gizi yang dikandung ASI. ALLAH Yang Mahakuasa-lah, Yang mengetahui kebutuhan setiap makhluk hidup dan memperlihatkan kasih sayang kepadanya, Yang menciptakan ASI untuk bayi di dalam tubuh sang ibu.

sumber : artikel Harun Yahya, dikutip dari http://perkasaalamblogs.blogspot.com

Kamis, 27 September 2012

kisah perjuangan Ibu Menghadapi Penyakit Kanker Anaknya

Seorang janda bernama Cyndie telah menginspirasi banyak orang jika kekuatan cinta bisa mengalahkan segalanya. Rasa cinta yang besar terhadap anaknya yang bernama Derek Madsen, membuat Cyndie terlihat sangat tegar mendampingi anaknya itu yang berjuang melawan kanker ganas. Untuk mengalihkan perhatian dan menyenangkan hati anaknya, Cyndie bersedia tanpa alas kaki mendorong Derek Madsen naik turun lorong di UC Davis Medical Center di Sacramento pada 21 Juni 2005. Banyak hal yang dilakukan Cyndie agar anaknya merasa bahagia. Menyadari bahwa Derek mungkin tidak akan pernah mempunyai kesempatan untuk mendapatkan SIM, Cyndie bahkan pernah membiarkan Derek menyetir naik turun jalan West Sacramento.

Derek menangis setelah beragumen dengan Cyndie di UC Davis Cancer Center pada Februari 2006. Cyndie dan Dokter William Hall berpendapat bahwa Derek harus menjalani serangkaian perawatan radiasi untuk mengecilkan tumor yang telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Saat itu, Derek mengatakan pada ibunya jika ia ingin pulang dan tak mau menjalani perawatan di rumah sakit. Cyndie bahkan sempat menulis surat kepada Derek tentang betapa beraninya dia selama perjuangan melawan kanker. Dia membacakan surat tersebut kepada putra bungsunya berulang kali dan berharap agar dia mengerti.

Sejak 8 Mei 2006, Cyndie menghabiskan hampir sepanjang waktunya berada di sisi Derek. Dia hanya berpisah sesaat ketika perawat mengurusnya. Cyndie mengaku sangat lelah namun ia mengaku harus tetap melakukannya. Apalagi Derek selalu memanggil dan meminta berada di sampingnnya. Pada 10 Mei 2006, emosi Cyndie meledak saat ia bersiap menguras kateter Derek dengan larutan garam sebelum perawat memberikan obat penenang yang akan mengantarkan Derek pada kematian yang damai. Cyndie menimang Derek dengan lagu ‘Because We Believe” yang di putar di CD. Sambil menangis, Cyndie berkata dalam hati jika dirinya sudah melakukan yang ia bisa. dan harapan kita semua agar semakin banyak Ibu didunia ini yang bisa menjadi harapan hidup bagi anaknya yang tengah berada dalam keterpurukan, derita ataupun penyakit ganas yang menyiksa, Ibu yang terbaik, yang selalu bisa memberikan semangat hidup dan ketegaran bagi anaknya, semoga.


dikutip dari uniknya.com dengan sedikit tambahan

Rabu, 26 September 2012

Kisah Kesedihan Seorang Ibu

Dizaman dulu ada seorang yang dikenal oleh masyarakat sekelilingnya bahwa ia adalah seorang yang baik. Pada suatu waktu ia ingin sekali pergi ke Mekkah Al-Mukarramah, namun orang tuanya tidak mengizinkannya pergi karena sayangnya kepada anaknya tersebut.

Anak itu, karena keinginannya yang sangat, maka pergilah ia dan tidak memperdulikan lagi larangan orang
tuanya. Ketika ia berangkat, ibunya mengikuti dari belakang sambil menjerit-jerit, memanggil-manggilnya dan melarangnya jangan pergi, namun anaknya itu tetap bertekad berusaha meneruskan perjalanannya.

Melihat keadaan yang demikian, ibunyapun berdo’a dan bermunajat kepada Allah; “Wahai Tuhanku, sungguh aku merasa sedih karena perginya anak itu, saya telah melarangnya namun ia tetap pergi, wahai tuhanku, sungguh kepergiannya menyedihkan saya ;wahai tuhanku, timpahkan atas dirinya suatu bencana”.

Dengan penuh rasa pedih dan sedih ibunya pulang kembali kerumahnya, sedang anaknya tersebut terus berjalan dan sampailah ia pada suatu desa, dimana ia tidak mempunyai kenalan seorangpun di sana; oleh karenanya ia masuk di suatu masjid untuk istirahat dan ibadah.

Pada malam itu juga terjadi suatu pencurian di suatu rumah, tapi pencuri itu dapat dihalau dan dikejar oleh orang-orang yang ada disitu. Pencuri itu lari dan masuk ke masjid dimana orang yang akan pergi haji tadi sedang shalat. Ketika orang-orang mengejar pencuri tersebut sampai masjid, terlihat oleh mereka seorang tengah melakukan shalat, sedang pencuri yang dikejar telah menghilang.

Diantara orang-orang yang mengejar itu mengatakan: “Ini dia pencuri yang kita kejar itu, Dia berpura-pura shalat!”

Merekapun menangkapnya, dan menahan segala barang-barang yang ada padanya. Ia dibawa ke tempat yang berwajib. Yang berwajib memutuskan suatu hukuman yaitu dipotong kedua tangannya, dan kedua kakinya serta dicungkil kedua matanya. Hukuman itu dilaksanakan oleh petugas. Maka terpotonglah kedua tangannya, kedua kakinya dan melayanglah kedua biji matanya. Kemudian ia digiring keliling pasar serta
diperintahkan untuk meneriakkan: “Beginilah ganjaran pencuri!”, tapi ia enggan meneriakkan demikian itu sambil berkata: “Saya tidak akan teriakkan itu, tapi saya akan teriakkan, “beginilah pembalasan dan ganjaran orang yang ingin berthawaf di ka’bah, berhaji di Makkah tanpa seizin orang tuanya”.

Dengan demikian petugas-petugas itupun barulah mengetahui bahwa orang itu bukan pencuri yang dikejar-kejar, tapi dia adalah seorang yang mendapat musibah dan bencana dari Allah akibat pelanggaran dan kedurhakaannya terhadap orang tuanya.

Merekapun mengembalikannya kepada orang tuanya. Ibunya yang sedang berada di tempat peribadatannya tiba-tiba mendengar suara anaknya yang sudah tidak dikenalnya itu berkata, “Wahai ibu!, saya musafir yang lapar, berilah saya sekedar makanan”. Ibunya menjawab.”Masuklah dulu engkau ke pintu “.
Jawabnya, “Saya tak dapat masuk karena saya tak berkaki lagi…”. Kata ibunya,
“Kalau begitu ulurkan tanganmu!”. Jawabnya, “Saya tak bertangan lagi……”. Kata ibunya, “Saya akan menyuapimu, tapi bagaimana, tidak boleh seorang wanita berhadapan dengan seorang lelaki yang bukan mahramnya”. Jawabnya, “Jangan kuatir! Karena saya tidak bermata lagi……”.

Ibunya yang sudah tidak mengenalnya itu mengambil sepotong roti dan segelas air, lalu memberikannya. Tiba-tiba anak itu meletakkan wajahnya di telapak kaki ibunya, sambil ia berkata,”Sayalah anakmu……yang durhaka kepadamu”. Barulah ibunya sadar, bahwa orang itu adalah anaknya sendiri. Melihat anaknya sedemikian itu menangislah ia dengan terseduh-seduh seraya meminta dan memohon kepada Allah, “Wahai Tuhanku!. Matikanlah aku bersama anakku ini”.

Do’a ibu itu diterima dan dikabulkan oleh ALLAH, dan seketika itu juga matilah keduanya.

Dari hikayat ini kita dapat mengambil suatu pelajaran bahwa musibah dan bencana yang tertimpa atas diri orang tersebut adalah semuanya karena pelanggaran dan kedurhakaannya terhadap orang tuanya.

Dan kalau ini hanyalah karena kedurhakaan sekali, maka bagaimana kalau kedurhakaan itu berulang-ulang kali?

Semoga ALLAH SWT menjadikan kita semua dari pada orang-orang yang taqwa kepada-Nya dan taat kepada Ibu Bapak kita, amin..


dikutip dari http://madinatulilmi.com

Selasa, 25 September 2012

Kisah Bakti Para Ulama kepada Ibunya

ini adalah beberapa kisah singkat contoh kongkrit bakti para ulama salafus salih kepada orang tua mereka, khususnya kepada ibu.

Tindakan mereka tersebut tentu tidak lepas dari baik dan dalamnya pemahaman mereka terhadap ilmu yang dimiliki sebagai ulama. Dan sebaik-baik ilmu adalah yang diamalkan. Berikut cuplikan beberapa kisah nyata yang menakjubkan tentang bakti kepada ibu.

Dari Dawud bin Qais dia berkata, “Abu Murrah pernah mengabarkan kepadaku bahwa bila Abu Hurairah hendak pergi, setelah mengenakan pakaian, dia datang kepada ibunya lalu berkata, ‘Semoga keselamatan dan berkah terlimpah kepadamu wahai Ibu. Semoga engkau mendapatkan balasan dari Allah karena dulu engkau telah memeliharaku.’ Kemudian bila pulang, dia pun mengatakan seperti itu.”

Abdullah bin Ja’far bin Khaqan al-Maruzi (Bandan) berkata, “Muhammad bin Basyir bin Utsman pernah berkata, ‘Pernah ketika saya bermaksud untuk keluar (setelah saya mengumpulkan hadis-hadis dari para ulama Basrah), ibu saya melarang. Saya pun menaati larangan ibuku. Karena ketaatanku itu saya mendapatkan berkah.”

Muhammad bin Munkadir berkata, “Pernah semalaman saya memijat kaki ibuku, sementara saudaraku Umar waktu itu semalaman juga melakukan salat. Saya tidak menganggap amalan malam Umar lebih baik dari amalan malamku.”

Abu Ishaq ar-Riqqi al-Hanbali ketika menyebutkan biografi Abdullah bin Aun berkata, “Pernah suatu ketika dia dipanggil oleh ibunya. Tanpa disadari dia mengeraskan suara melebihi suara ibunya. Karena hal itu dia membebaskan dua orang budak.”

Dari Anas bin an-Nadhr al-Asyja’i dia berkata, “Suatu malam ibu Ibnu Mas’ud meminta air. Ibnu Mas’ud pun mengambil air, lalu dibawa kepada ibunya. Ternyata ibunya telah tertidur. Maka dia pun berdiri menunggui ibunya hingga pagi.”

Al-Akhnasi pernah berkata, “Saya pernah mendengar Abu Bakar berkata, ‘Saya pernah bersama Manshur bin al-Mu’tamir duduk-duduk di rumahnya. Tiba-tiba ibunya memanggil dengan nada agak kasar, ‘Wahai Manshur, anak laki-laki Hubairah membutuhkan kamu untuk suatu urusan. Apakah kamu enggan?!’ Manshur menempelkan jenggot pada dadanya, sedikit pun dia tidak berani mengangkat kepalanya dan menghadapkan wajah kepada ibunya.”

Suatu ketika Ibnul Hasan at-Tamimi hendak membunuh kalajengking, namun kalajengking itu masuk ke lubang. Dia beranikan diri merogohkan jari-jarinya ke lubang untuk menangkap kalajengking itu meskipun harus rela disengat. Orang-orang berkata kepadanya, “Kamu ini bagaimana?!” Dia menjawab, “Saya khawatir kalajengking tadi keluar lalu merayap ke tempat ibuku dan menyengatnya.”

Dari Muhammad bin Sirin dia berkata, “Pada zaman Utsman harga kurma sangat mahal hingga mencapai seribu dirham. Meskipun begitu Usamah tetap berani membelinya. Dia beli kurma tadi lalu dia kupas kulitnya kemudian diberikannya kepada ibunya. Orang-orang berkata kepadanya, ‘Apa yang membuatmu berani membeli kurma dengan harga seribu dirham?’ Dia menjawab, ‘Saya punya prinsip, jika ibu saya meminta sesuatu yang saya mampu memenuhinya pasti akan saya penuhi.”

Zainal Abidin adalah seorang yang sangat berbakti kepada ibunya. Saking berbaktinya, ada orang-orang berkata kepadanya, “Sungguh kamu adalah orang yang sangat berbakti kepada ibumu. Tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu dalam satu piring?” Dia menjawab, “Saya khawatir mendahului makan makanan yang hendak dimakan ibuku. Karena menurutku itu termasuk tindakan durhaka kepadanya.”

semoga Allah merahmati mereka para pendahulu kita yang saleh dan menjadikan kita termasuk golongan mereka. sebab merekalah sebaik-baik contoh, para Ulama adalah pewaris para Nabi.


dikutip dari ceritamu.com dengan sedikit tambahan

Senin, 24 September 2012

Keteguhan Seorang Ibu

Di suatu sore di sebuah kompleks perumahan bergerombol para ibu yang sedang mengobrol sesama mereka. Di antara mereka terdapat seorang ibu muda yang turut dalam keasyikan tersebut sambil mengasuh anaknya yang berusia sekitar tiga tahunan. Sebagaimana lazimnya seorang anak kecil yang senang bermain, anak kecil lucu itu pun juga tidak kalah gembiranya, ia berlarian kesana ke mari sambil tertawa-tawa lucu.
Namun tak disangka, beberapa saat kemudian sebuah musibah mengerikan terjadi.
Tanpa disadari oleh para ibu tersebut, sang anak kecil berlari keluar teras dan menyeberangi jalan besar yang ada di depan rumah. Dan kuasa ALLAH atas segalanya membuat waktu antara anak kecil itu menyeberang tepat bersamaan dengan sebuah truk bermuatan pasir yang melaju kencang. Bencana yang mengerikan itupun terjadi. Tubuh sang anak kecil pun terpental, kepalanya pecah dan isi otaknya berhamburan membasahi badan jalan.

Bisa dibayangkan betapa paniknya kondisi yang terjadi saat itu. Para ibu yang semula asyik bercengkrama hampir semua berteriak histeris, bahkan beberapa di antara mereka ada yang pingsan. Hanya seorang dari mereka yang kelihatan tetap tenang menghadapi keadaan tersebut, yaitu ibu sang anak itu sendiri!!!
 "Jangan, jangan sentuh anakku...biar aku urus sendiri."Teriaknya ketika beberapa orang ingin membantu meminggirkan anak yang sudah tewas tersebut.
Dengan perlahan ia menggendong jasad anak yang berlumuran darah itu, lalu membawanya ke rumahnya yang tak jauh dari tempat kejadian. Ia kemudian memandikan dan mengkafani sendiri anaknya di rumah. kebetulan ia bekerja sebagai seorang bidan di sebuah rumah sakit. Ibu mertuanya yang ingin menghiburnya malah dihiburnya, karena justru ibu mertua yang tidak bisa menahan isak tangis dan teriakan histeris. Ketika sang suami dengan muka pucat dan panik datang, dengan tenang ia menjelaskan "Mas, ALLAH telah mengambil amanatnya dari kita. Semoga kita diberi kesabaran ya, Mas." dan suaminya pun tak kuasa menahan tangis.

Dan akhirnya sebelum sang anak di bawa ke tempat peristirahatan terakhir, di depan jenazah anaknya ia berbisik "Ya ALLAH, berikanlah kami yang ditinggalkan kekuatan dan ketabahan. Sudah kulakukan yang seharusnya kulakukan, dan tidak kulakukan apa yang tidak seharusnya aku lakukan. Kewajibanku sudah kupenuhi, kini ijinkan aku meminta hakku, untuk bersedih dan menangis." Setelah itu...ia memejamkan mata dan terpekur lama......dan barulah air matanya mengalir deras, lalu ia pun terjatuh pingsan.

Kenapa mereka tidak menyayangi nyawa sendiri ? Kalau tak takut mati, kenapa harus takut menghadapi masalah lain ? Hidup cuma sekali. Kita lahir tanpa apa-apa kenapa hanya karena kehilangan beberapa hal sampai rela mengorbankan nyawa, hal yang paling penting dalam hidup manusia ? Dalam kehidupan tentu ada rasa manis, asam pahit dan pedas. Justru dalam kepahitan, kita baru tahu kemampuan kita yang sesungguhnya. (Li Chi Chin)


dikutip dari http://erwinbaha.blogspot.com

Minggu, 23 September 2012

Ibunda Sang Mujahid Muda


Suatu ketika Abu Qudamah sedang duduk-duduk di Masjidil Haram, ada seorang yang menghampirinya seraya berkata, " Hai, Abu Qudamah, ceritakanlah peristiwa paling menakjubkan yang pernah kamu alami dalam berjihad."

    "Baiklah, aku akan menceritakannya bagi kalian," kata Abu Qudamah.

"Suatu ketika aku berangkat bersama beberapa sahabatku untuk memerangi kaum kuffar di beberapa pos penjagaan dekat perbatasan. Dalam perjalanan itu aku melalui kota Raqqah (sebuah kota di Irak, dekat dengan sungai eufrat)". Disana aku membeli seekor unta yang akan kugunakan untuk membawa persenjataanku. Disamping itu aku mengajak warga kota lewat masjid-masjid, untuk ikut serta dalam jihad dan berinfak fisabilillah".

    Menjelang malam harinya, ada seorang yang mengetuk pintu. Tatkala kubuka, ternyata ada seorang wanita yang menutupi wajahnya dengan cadarnya


aku : "Apa yang anda inginkan?"
wanita : "Andakah yang bernama Abu Qudamah?"
aku : "Benar"
wanita : "Andakah yang hari ini mengumpulkan dana untuk membantu jihad di perbatasan?"

Maka wanita itu menyerahkan secarik kertas dan sebuah bungkusan terikat, kemudian berpaling sambil menangis.

Pada kertas itu tertulis: "Anda mengajak kami untuk berjihad, namun aku tak sanggup untuk itu. Maka kupotong dua buah kuncir ( rambut ) kesayanganku agar anda jadikan sebagai tali kekang kuda anda. Kuharap bila ALLAH melihatnya pada kuda anda dalam jihad, Dia mengampuni dosaku karenanya".

"Demi ALLAH, aku kagum atas semangat dan kegigihanya untuk ikut berjihad, demikian pula kerinduannya untuk mendapat ampunan ALLAH dan surga-Nya" kata Abu Qudamah.

Kesekoan harinya, aku bersama sahabatku beranjak meninggalkan Raqqah. Tatkala kami tiba di benteng Maslamah bin Abdul Malik, tiba-tiba dari belakang ada seorang penunggang kuda yang memanggil-manggil.

"Hai Abu Qudamah...hai Abu Qudamah...tunggulah sebentar, semoga ALLAH merahmatimu," teriak orang itu.

lalu aku berkata kepada sahabat-sahabtku"Kalian berangkat saja duluan, biar aku yang mencaritahu tentang orang ini".

Ketika aku hendak menyapanya, orang itu mendahuluiku dan mengatakan,
 
  "Segala puji bagi ALLAH yang mengizinkanku untuk ikut bersamamu, dan tidak menolak keikutsertaanku".

    lalu akupun bertanya kepadanya:"Apa yang kau inginkan".

    ia menjawab:"Aku ingin ikut bersamamu memerangi orang-orang kafir".
  
 lalu aku berkata kepadanya:"Perlihatkan wajahmu, aku ingin lihat, kalau engkau cukup dewasa dan wajib berjihad, akan aku terima. Namun jika masih kecil dan tidak wajib berjihad terpaksa engkau aku tolak".
  
Ketika ia menyingkap wajahnya, tampaklah olehku wajah yang putih bersinar laksana bulan purnama. Ternyata ia masih muda belia dan umurnya baru 17 tahun.

  aku bertanya:  "Wahai anakku, apakah kamu memiliki ayah?".
 
 ia menjawab: "Ayahku terbunuh di tangan kaum kuffar dan aku ingin ikut bersamamu untuk memerangi orang yang membunuh ayahku" .

   akupun kembali bertanya: "Bagaimana dengan ibumu, masih hidupkah dia?" .

   ia menjawab "Ya".
  
 maka kukatakan kepadanya :"Kembalilah ke pada ibumu dan rawatlah ia baik-baik, karena surga ada dibawah telapak kakinya".

   ia menjawab: "tidakkah engkau mengenal ibuku..?.
 
  "Tidak" jawabku.
 
 ia menjawab: "Ibuku adalah pemilik titipan itu,".
 
  aku akupun bertanya:"Titipan yang mana..??" .
 
 ia menjawab "Dialah yang menitipkan tali kuda itu".
 
  "Tali kuda yang mana" tanyaku keheranan.
 
   "Subhanallah..!! Alangkah pelupanya Anda ini, tidak ingatkah Anda dengan wanita yang datang tadi malam menyerahkan seutas tali kuda dan bingkisan?"
 
   "Ya, aku ingat" jawabku.
 
   ia menjawab: Dialah ibuku! dia menyuruhku untuk berjihad bersamamu dan mengambil sumpah dariku supaya aku tidak kembali lagi,".
 
  "Ibuku berkata,"Wahai anakku, jika kamu telah berhadapan dengan musuh, maka janganlah kamu melarikan diri. Persembahkan jiwamu untuk ALLAH. Mintalah kedudukan disisi-Nya, dan mintalah agar engkau dikumpulkan bersama ayah dan paman-pamanmu di Surga. Jika ALLAH mengaruniaimu mati syahid, maka mintalah syafa’at bagiku".

    Kemudian ibu memelukku lalu menengadahkan kepala ke langit seraya berkata

"Ya ALLAH..ya Ilahi...inilah puteraku, buah hati dan belahan jiwaku, kupersembahkan ia untukmu, maka dekatkanlah ia dengan ayahnya.".
 
   "Aku benar-benar takjub dengan anak ini"., lalu anak itu pun segera menyela,meminta dengan memelas.
 
   "ia berkata:, kumohon atas nama ALLAH, janganlah kau halangi aku untuk berjihad bersamamu. Insya ALLAH akulah asy-syahid putera asy-syahid. Aku telah hafal Al-Quran. Aku juga mahir menunggang kuda dan memanah. Maka janganlah meremehkanku hanya karena usiaku yang masih belia".
 
   Setelah mendengar uraiannya aku tak kuasa melarangnya maka kusertakan ia bersamaku.

    Demi Allah, ternyata tak pernah kulihat orang yang lebih cekatan darinya. Ketika pasukan bergerak, dialah yang tecepat. ketika kami singgah untuk beristirahat, dialah yang paling sibuk mengurus kami, sedang lisannya tak pernah berhenti dari dzikrullah sama sekali.

    Kemudian, kamipun singgah di suatu tempat dekat pos perbatasan. Saat itu matahari hampir tenggelam dan kami dalam keadaan berpuasa. Maka ketika kami hendak menyiapkan hidangan untuk berbuka dan makan malam, pemuda itu bersumpah atas nama ALLAH bahwa ialah yang akan menyiapkannya.Tentu saja kami melarangnya karena ia baru saja kelelahan selama perjalanan panjang tadi.
 
  Akan tetapi pemuda itu bersikeras menyiapkan hidangan bagi kami. Maka ketika kami beristirahat disuatu tempat, kami katakan kepadanya, "Menjauhlah sedikit agar asap kayu bakarmu tidak mengganggu kami".
 
  Maka pemuda itupun mengambil tempat yang agak jauh dari kami untuk memasak. Akan tetapi pemuda itu tak kunjung tiba. Mereka merasa bahwa ia agak terlambat menyiapkan hidangan mereka.
 
  "Hai Abu Qudamah, temuilah pemuda itu. ia sudah terlalau lama memasak. Ada apa dengannya?" pinta seseorang kepadaku. lalu aku bergegas menemuinya, maka kudapatkan pemuda itu telah menyalakan tungku dan memasak sesuatu diatasnya. tapi karena terlalu lelah, ia pun tertidur sambil menyandarkan kapalanya pada sebuah batu.
 
  Melihat kondisinya yang seperti itu, sungguh demi ALLAH aku tak sampai hati mengganggu tidurnya, namun aku juga tak mungkin kembali kepada mereka dengan tangan hampa, karena sampai sekarang kami belum menyantap apa-apa.
 
   Akhirnya kuputuskan untuk menyiapkan makanan itu sendiri. Aku pun mulai menyiapkan masakannya, dan sesekali aku melirik pemuda itu. Suatu ketika terlihat olehku bahwa pemuda itu tersenyum. Lalu perlahan senyumannya makin lebar dan mulailah ia tertawa lebar kegirangan.
  
 Aku merasa takjub melihat tingkahnya tadi, kemudian ia tersentak dari mimpinya dan terbangun.
 
  Ketika melihatku menyiapkan masakan sendirian, ia nampak gugup dan buru-buru mengatakan, "Paman, maafkan aku, nampaknya aku terlambat menyiapkan makanan bagi kalian."

"Ah tidak, kamu tidak terlambat..," jawabku.

"Sudah, tinggalkan saja masakan ini. Biar aku yang menyiapkannya, aku adalah pelayan kalian selama jihad." kata pemuda itu.

    "Tidak," jawabku, "Demi ALLAH, kau tak kuizinkan menyiapkan apa-apa lagi bagi kami sampai kau ceritakan kepadaku apa yang membuatmu tertawa ketika engkau dalam keadaan tidur tadi? keadaanmu sungguh mengherankan," lanjutku.

    "Paman, itu sekedar mimpi yang kulihat sewaktu tidur," kata si pemuda.

"Mimpi apa yang kau lihat?" tanyaku.

"Sudahlah, tak usah bertanya tentangnya, ini masalah pribadi antara aku dengan ALLAH," sahut pemuda itu.
 
   "Tidak bisa, kumohon atas nama ALLAH agar kamu menceritakannya," kataku.

    "Paman, dalam mimpi itu tadi aku melihat seakan-akan aku berada di Surga, kudapati Surga itu dalam segala keindahannya dan keagungannya, sebagaimana yang ALLAH sebutkan dalam Al-Quran".
 
  Ketika aku jalan-jalan di dalamnya dengan penuh kekaguman tiba-tiba tampaklah olehku sebuah istana megah yang berkilauan, dindingnya dari emas dan perak, terasnya dari mutiara dan batu permata, dan gerbangnya dari emas.
 
  Di teras itu ada kerai-kerai yang terjuntai, lalu perlahan-lahan kerai itu tersingkap dan tampaklah gadis-gadis belia nan cantik jelita, wajah mereka bersinar bak rembulan."
  
 Kutatap wajah-wajah cantik itu dengan penuh kekaguman, sungguh, kecantikannya yang luar biasa, gumamku, lalu muncullah seorang gadis lain yang lebih cantik dari mereka, dengan telunjuknya ia memberi isyarat kepada gadis yang berada disampingnya, seraya mengatakan "Inilah (calon) suami al-Mardhiyah...ya..dialah calon suaminya, benar, dialah orangnya!".
 
   Aku tak paham siapa itu al-Mardhiyyah, maka aku bertanya kepadanya, "kamukah al-mardhiyyah..??
 
   "Aku hanyalah satu diantara dayang-dayang al-mardhiyyah..." katanya. "Anda ingin bertemu dengan al-Mardhiyyah..?" tanya gadis itu.

"Kemarilah..masuklah kesini, semoga ALLAH merahmatimu," serunya.
 
   Tiba-tiba diatasnya ada sebuah kamar dari emas merah.. dalam kamar itu ada dipan yang bertahtakan permata hijau dan kaki-kakinya terbuat dari perak putih yang berkilauan.
 
   Dan diatasnya , seorang gadis belia dengan wajah bersinar laksana rembulan!! Kalaulah ALLAH tidak memantapkan hati dan penglihatanku, niscaya butalah mataku dan hilanglah akalku karena tak kuasa menatap kecantikannya!!
 
   Tatkala ia menatapku, ia menyambutku seraya berkata, "Selamat datang, hai wali ALLAH dan kekasih-Nya. Aku diciptakan untukmu, dan engkau adalah milikku."
 
   Mendengar suara merdu itu, aku berusaha mendekatinya dan menyentuhnya..namun sebelum tanganku sampai kepadanya, ia berkata,
 
   "Wahai kekasihku dan tambatan hatiku...semoga ALLAH menjauhkanmu dari segala kekejian...urusanmu didunia masih tersisa sedikit...Insya ALLAH besok kita akan bertemu setelah Ashar."
 
  Akupun tersenyum dan senang mendengarnya".

    Abu Qudamah melanjutkan, "usai mendengar cerita si pemuda yang indah tadi, aku berkata kepadanya, "Insya ALLAH mimpimu merupakan pertanda baik."
 
   Lalu kami pun menyantap hidangan tadi bersama-sama, kemudian meneruskan perjalanan kami menuju pos perbatasan.

    Setibanya di pos perbatasan, kami menurunkan semua muatan dan bermalam di sana. Keeseokan harinya setelah menunaikan sholat fajar, kami bergerak ke medan pertempuran untuk menghadapi musuh.
 
  Sang komandan bangkit untuk mengatur barisan. Ia membaca permulaan Surat Al-Anfaal. Ia mengingatkan akan besarnya pahala jihad fi sabiilillah dan mati syahid, sembari terus mengobarkan semangat jihad kaum muslimin."
 
  Abu Qudamah mengisahkan, "Tatkala kuperhatikan orang-orang disekitarku, kudapatkan masing-masing mereka mengumpulkan sanak kerabatnya di sekitarnya. Adapun si pemuda, ia tak punya ayah yang memanggilnya atau paman yang mengajaknya dan tidak pula saudara yang mendampinginya.
 
   Akupun terus mengikuti dan memperhatikan gerak-geriknya, lalu tampaklah olehku bahwa ia berada di barisan terdepan. Maka segeralah aku mendekatinya, kusibak barisan demi barisan hingga sampai kepadanya, kemudian aku berkata,

"Wahai anakku, adakah engkau memiliki pengalaman berperang?"
 
  "Tidak...tidak pernah. Ini justru pertempuranku yang pertama kali melawan orang kafir," jawab si pemuda.
 
   "Wahai anakku, sesungguhya perkara ini tidak segampang yang kau bayangkan, ini adalah peperangan. Sebuah pertumpahan darah ditengah gemerincingnya pedang, ringkikan kuda dan hujan panah.
 
  Wahai anakku, sebaiknya engkau ambil posisi di belakang saja. Jika kita menang kau pun ikut menang, namun jika kita kalah kau tak jadi korban pertama." pintaku kepadanya.

    Lalu dengan tatapan penuh keheranan ia berkata,"paman, engkau berkata seperti itu kepadaku?"
 
   "Ya, aku mengatakan seperti itu kepadamu," jawabku.

    "Paman...apakah engkau menginginkan aku jadi penghuni neraka..?" Tanya pemuda tersebut.
 
   "'A’uudzubillah ( aku berlindung kepada ALLAH )! sungguh, bukan begitu maksudku. kita semua berada di medan jihad seperti ini karena lari dari neraka dan memburu Surga," jawabku.
    Lalu kata si pemuda, "sesunggunya ALLAH berfirman :


يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا لَقِيتُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ زَحْفًۭا فَلَا تُوَلُّوهُمُ ٱلْأَدْبَارَ ﴿١٥﴾ وَمَن يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍۢ دُبُرَهُۥٓ إِلَّا مُتَحَرِّفًۭا لِّقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٍۢ فَقَدْ بَآءَ بِغَضَبٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ وَمَأْوَىٰهُ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ ﴿١٦﴾

"Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk siasat perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan ALLAH, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya itu" (Qs Al-Anfal 15-16).

    "Adakah paman menginginkan aku berpaling membelakangi mereka sehingga tempat kembaliku adalah neraka?"

    Akupun heran dengan kegigihanya dan sikapnya yang memegang teguh ayat tersebut. Kemudian aku berusaha menjelaskan, "Wahai anakku, ayat itu maksudnya bukan seperti yang kau katakan.". Namun  tetap saja ia bersikeras tak mau pindah ke belakang. Aku pun menarik tangannya secara paksa,membawa ke akhir barisan. Namun justru ia menarik lengannya kembali seakan ingin melepaskan diri dari genggamanku. Lalu perang pun dimulai dan aku terhalang oleh pasukan berkuda darinya.

    Dalam kancah pertempuran itu terdengarlah derap kaki kuda, diiringi gemerincing pedang, dan hujan panah, lalu mulailah kepala-kepala berjatuhan satu persatu. Bau anyir darah tercium dimana-mana. Tangan dan kaki bergelimpangan. Dan tubuh tak bernyawa tergeletak bersimbah darah.
   
Demi Allah, perang itu telah menyibukkan tiap orang akan dirinya sendiri dan melalaikan orang lain. Sabetan dan kilatan pedang di atas kepala yang tak henti-hentinya, menjadikan suhu memuncak, seakan akan ada tungku tannur yang menyala di atas kami.

    Perang pun kian memuncak, kedua pasukan bertempur habis-habisan hingga matahari tergelincir dan masuk zhuhur.  Ketika itulah ALLAH berkenan manganugerahkan kemenangan bagi kaum muslimin dan pasukan musuh lari tunggang langgang.
   
Setelah mereka terpukul mundur, aku berkumpul bersama beberapa orang sahabatku untuk menunaikan shalat zhuhur. Setelah shalat, mulailah masing-masing dari kita mencari sanak saudaranya di antara para korban.

    Sedangkan si pemuda...maka tak seorang pun mencarinya atau mencari kabarnya. Maka kukatakan dalam hati "Aku harus mencarinya dan menyelidiki keadaannya, barangkali ia terbunuh, terluka atau jatuh dalam tawanan musuh?"
 
  Akupun mulai mencarinya di tengah para korban, aku menoleh ke kanan dan ke kiri kalau-kalau ia terlihat olehku. Di saat itulah aku mendengar suara lirih di belakangku yang mengatakan,"Saudara-saudara...tolong...panggilkan pamanku Abu Qudamah kemari!"

    Aku menoleh ke arah suara tadi, ternyata tubuh itu adalah tubuh si pemuda dan ternyata puluhan tombak telah menusuk tubuhnya. Ia babak belur terinjak pasukan berkuda. Dari mulutnya keluar darah segar. Dagingnya tercabik-cabik dan tulangnya remuk total.

    Ia tergeletak seorang diri di tengah padang pasir. Maka aku segera duduk di hadapannya dan berkata, "Akulah Abu Qudamah!! aku disampingmu!!".

    "Segala puji bagi ALLAH yang masih menghidupkanku hingga aku dapat berwasiat kepadamu...maka dengarlah baik-baik wasiatku ini..!" kata si pemuda.
 
   Abu Qudamah mengatakan, sungguh demi Allah, aku tak kuasa menahan tangisku. Aku teringat akan segala kebaikannya, sekaligus sedih akan ibunya yang tinggal di Raqqah. Tahun lalu ia dikejutkan dengan kematian suaminya dan saudara-saudaranya, lalu sekarang dikejutkan dengan kematian anaknya.

    Aku menyingsingkan sebagian kainku dan mengusap darah yang menutupi wajah polos itu. Ketika ia merasakan sentuhanku ia berkata, "Paman...usaplah darah dengan pakaianku, dan jangan kau usap dengan pakaianmu"
 
   Demi ALLAH, tak kuasa aku menahan tangisku dan tak tahu harus berkata apa. Sesaat kemudian pemuda itu berkata dengan suara lirih, "Paman...berjanjilah sepeninggalku nanti kau akan kembali ke Raqqah, dan memberi kabar gembira kepada ibuku bahwa ALLAH telah menerima hadiahnya, dan bahwa anaknya telah gugur di jalan ALLAH dalam keadaan maju dan pantang mundur. Sampaikan pula padanya jikalau ALLAH menakdirkan aku sebagai syuhada, akan kusampaikan salamnya untuk ayah dan paman pamanku di Surga.

    Paman...aku khawatir nanti kalau ibuku tak mempercayai ucapanmu. Maka ambillah pakaianku yang berlumur darah ini, karena bila ibu melihatnya ia akan yakin bahwa aku telah terbubuh, dan insya ALLAH kami akan bertemu kembali di Surga.
 
   Paman...setibanya engaku di rumahku, akan kau dapati seorang gadis kecil berumur sembilan tahun. Ia adalah saudariku...tak pernah aku masuk rumah kecuali ia sambut dengan keceriaan,dan tak pernah aku pergi kecuali diiringi isak tangis dan kesedihanya. ia sedemikian kaget ketika mendengar kematian ayah tahun lalu, dan sekarang ia kaget mendengar kematianku.
 
   Ketika melihat mengenakan pakain safar ia berkata dengan berat hati, "Kak, jangan kau tinggal kami lama-lama...segeralah pulang...!!"
 
   Paman...Jika kamu bertemu denganya maka hiburlah hatinya dengan kata-kata yang manis. Katakan kepadanya bahwa kakakmu mengatakan, "ALLAHlah yang akan menggantikanku mengurusmu".

    Abu Qudamah melanjutkan, "Kemudian pemuda itu berusaha menguatkan dirinya, namun napasnya mulai sesak dan bicaranya tak jelas. Ia berusaha menguatkan dirinya untuk kedua kalinya dan berkata "Paman...demi ALLAH...mimpi itu benar...mimpi itu sekarang menjadi kenyataan. Demi ALLAH, saat ini aku benar-benar sedang melihat al-Mardhiyyah dan mencium bau wanginya."
 
   Lalu pemuda itu mulai sekarat, dahinya berkeringat, napasnya tersengal-sengal dan kemudian wafat di pangkuanku."

    Abu Qudamah berkata,"Maka kulepaslah pakaianya yang berlumuran darah, lalu kuletakkan dalam sebuah kantong, kemudian ku kebumikan dia. Usai mengebumikannya, keinginan terbesarku  ialah segera kembali ke Raqqah dan menyampaikan pesannya kepada ibunya.
 
   Maka akupun kembali ke Raqqah. Aku tak tahu siapa nama ibunya dan di mana rumah mereka. Tatkala aku menyusuri jalan-jalan di Raqqah, tampak olehku sebuah rumah. Didepan rumah itu ada gadis kecil berumur sembilan tahun yang berdiri menunggu kedatangan seseorang. ia melihat-lihat setiap orang yang berlalu didepanya. Tiap kali melihat orang yang baru datang dari bepergian ia bertanya,
    "Paman...anda datang dari mana?"
    "Aku datang dari jihad..." kata lelaki itu
    "Kalau begitu kakakku ada bersamamu...?" tanyanya
    "Aku tak kenal, siapa kakakmu.." kata lelaki itu sambil berlalu.
  
    Lalu lewatlah orang kedua, dan tanyanya
    "Akhi...anda datang darimana?"
    "Aku datang dari jihad," jawabnya.
    "Kakakku ada bersamamu?", tanya gadis itu.
    "Aku tak kenal, siapa kakakmu." jawabnya sambil berlalu.

    Lalu lewatlah orang ketiga, keempat, kelima dan demikian seterusnya. Lalu setelah putus asa menanyakan saudaranya, gadis itu menangis sambil tertunduk dan berkata,"Mengapa mereka semua kembali dan kakakku tak kunjung kembali?"
 
   Melihat ia seperti itu, akupun datang menghampirinya. Ketika ia melihat bekas-bekas safar padaku dan kantong yang kubawa, ia bertanya,
    "Paman...anda datang darimana?"
    "Aku datang dari jihad," jawabku.
    "Kalau begitu kakakku ada bersamamu?".
    "Ibumu dimana?"tanyaku
    "Ibu ada dalam rumah," jawabnya,
    "sampaikan kepadanya agar ia keluar menemuiku," perintahku kepadanya.

    Ketika perempuan tua itu keluar, ia menemuiku dengan wajah tertutup cadarnya. Ketika aku mendengar suaranya dan ia mendengar suaraku, ia bertanya,
 
   "Hai Abu Qudamah, engkau datang hendak berbela sungkawa atau memberi kabar gembira?"
 
   Maka aku tanya,"Semoga ALLAH merahmatimu. Jelaskanlah kepadaku apa yang kau maksud dengan bela sungkawa dan kabar gembira itu?"
 
   "Jika engkau hendak mengatakan bahwa anakku telah gugur di jalan ALLAH, dalam keadaan maju dan pantang mundur berarti engkau datang membawa kabar gembira untukku, karena ALLAH telah menerima hadiahku yang kusiapkan untuk Nya sejak tujuh belas tahun silam.
 
   Namun jika engkau hendak mengatakan bahwa anakku kembali dengan selamat dan membawa ghanimah, berarti engkau datang untuk berbela sungkawa kepadaku, karena ALLAH belum berkenan menerima hadiah yang ku persembahakan untuk Nya," jelas si perempuan itu.
 
   Maka kataku, "Kalau begitu aku datang membawa kabar gembira untukmu. Sesungguhnya anakmu telah terbunuh fisabilillah dalam keadaan maju pantang mundur. ia bahkan masih menyisakan sedikit kebaikan, dan ALLAH berkenan untuk mengambil sebagian darahnya hingga ia ridha".
 
   "Tidak, kurasa engkau tidak berkata jujur," kata si Ibu sembari melirik kepada kantong yang kubawa, sedang puterinya menatapku dengan seksama.
 
   Maka kukeluarkan isi kantong tersebut, kutunjukkan kepadanya pakaian puteranya yang berlumuran darah.
 
   Nampak serpihan wajah anaknya berjatuhan dari kain itu. diikuti tetesan darah yang tercampur dengan beberapa helai rambutnya.

    "Bukankah ini adalah pakaianya..dan ini surbannya...lalu ini gamisnya yang kau kenakan pada anakmu sewaktu berangkat jihad...?" kataku.
    "Allaahu Akbar...!!! teriak si ibu penuh bahagia.
    Adapun gadis kecil tadi, ia justru berteriak histeris lalu jatuh terkulai tak sadarkan diri . Tak lama kemudian ia mulai merintih, "Aakh! Aakh.." (Kakak....kakak...)
    Sang ibu merasa cemas, ia bergegas masuk kedalam mengambil air untuk
puterinya, sedang aku duduk disamping kepalanya, mengguyurkan air kepadanya.

    Demi ALLAH, dia tidak sedang merintih, ia tak sedang memanggil kakaknya..Akan tetapi ia sedang sekarat!! napasnya semakin berat..dadanya kembang kempis...lalu perlahan rintihannya terhenti. Ya, gadis itu telah tiada.
 
   Setelah puterinya tiada, ia mendekapnya lalu membawanya ke dalam rumah dan menutup pintu di hadapanku. Namun sayup sayup terdengar suara dari dalam,
    "Ya ALLAH, aku telah merelakan kepergian suamiku, saudaraku dan anakku di jalan Mu. Ya ALLAH, kuharap engkau meridhaiku dan mengumpulkanku bersama mereka di Surga-Mu."
 
   Abu Qudamah berkata,"Maka ku ketuk pintu rumahnya dengan harapan ia akan membukakan. Aku ingin memberinya sejumlah uang, atau menceritakan kepada orang-orang perihal kesabarannya hingga kisahnya menjadi teladan. Akan tetapi sungguh, ia tak membukakan atau menjawab seruanku.
 
   "Sunguh demi ALLAH, tak pernah ku alami kejadian yang lebih menakjubkan dari ini," kata Abu Qudamah mengakhiri kisahnya.

dikutip dari http://mujitrisno.multiply.com

Sabtu, 22 September 2012

Jika Suatu Saat Kau Jadi Ibu, ..

Jika suatu saat kau jadi ibu, .......
Jadilah kalian seperti Asma' binti Abu Bakar yang berhasil mengobarkan semangat Abdullah bin Zubair (anaknya) yang dengan menakjubkan sanggup bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga syahid menjemputnya. Namanya abadi dalam sejarah dan kata-kata Asma' "Isy kariman au mut syahiidan! (Hiduplah mulia, atau mati syahid!),".... abadi hingga kini.
Jika suatu saat kau jadi ibu,......
Jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi sang anaknya yang kala itu masih remaja. Usianya baru 13 tahun ketika ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah yang tak mengabulkan keinginannya, membuat sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain ketika ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.
Dan tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur'an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini............... Zaid bin Tsabit.
Jika suatu saat kau jadi ibu........
Jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah............Imam Ahmad.
Jika suatu saat kau jadi ibu.....
Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya:
"Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, amin!".
Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya..........Imam Syafi'i.
Jika suatu saat kau jadi ibu......
Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman. Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu.
"Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, besok kamu adalah Imam Masjidil Haram...", katanya memotivasi sang anak. "Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, besok kamu adalah imam masjidil haram..."
Sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama.......... Abdurrahman As-Sudais.

dikutip dari http://lintasfrekuensi.blogspot.com

Jumat, 21 September 2012

kisah anak dan lukisan Ibunya


Gambar yang menyayat hati ini diambil dari salah sebuah rumah anak yatim piatu di palestina, yang menunjukkan seorang anak yatim melukis gambar ibunya di atas lantai dan tidur dipangkuannya, dalam usaha untuk mendapatkan kasih sayang dan belas kasihan seorang ibu. – nourislam.com

kisah seorang anak kecil yang melukis Ibunya pada sebuah lantai ini menggambarkan kepedihan seorang anak yang begitu merindukan kasih sayang seorang Ibu, Ibu anak ini meninggal dalam sebuah peperangan dinegeri para Nabi palestin, sang anak tinggal disebuah rumah yatim piatu di palestina yang mungkin dirumah yatim ini banyak anak-anak yang menjadi korban ditinggal orangtuanya akibat perang yang tiada berkesudahan antara palestina dan israel, mereka adalah anak-anak korban kebiadaban israel, mereka anak-anak yang tiada tahu menahu apa yang membuat mereka jadi korban perang yang begitu kejam itu, mereka hanya ingin hidup damai layaknya anak-anak yang lain

dan bagi anak-anak yang masih memiliki kedua orang tua syukurilah dengan sebenar-benarnya, jangan sia-siakan pengorbanan dan kasih sayang mereka, berbaktilah dengan sepenuh jiwa raga kita, baik dengan Do'a untuk kebaikan kedua orang tua maupun dengan pembuktian pemelihaaraan kita sebagai anak dihari tua kedua orang tua, Ibu Bapak kita, jangan sia-siakan

dan ingatlah bantu mereka anak-anak korban perang palestin dengan cara sisihkan sebagaian harta kita buat mereka, mereka perlu hidup layaknya anak anak yang memiliki Ibu Bapak, mereka juga mempunyai perasaan yang sama seperti kita, hanya saja mereka tak punya tempat untuk berlindung dan berteduh dalam sebuah kasih sayang, dan kalau kita diberi kemampuan oleh ALLAH mari menjadi Ibu dan Bapak bagi mereka, kalau bukan kita siapa lagi, WALLAHU A'LAM BISSAWAB.

dikutip dari gombong54321.blogspot.com dengan sedikit tambahan

Rabu, 19 September 2012

Ibu yang sekuat seribu lelaki

Di sebuah masjid di perkampungan Mesir, suatu petang. Seorang ustaz sedang mengajarkan murid-muridnya membaca Al-Qur’an. Mereka duduk melingkar & berkelompok. Tiba-tiba, masuk seorang anak kecil yang ingin ikut di lingkaran mereka. Usianya kira-kira 9 tahun.

Sebelum menempatkannya di satu kelompok, ustaz itu ingin tahu kemampuannya. Dengan senyumnya yang lembut, dia bertanya kepada anak yang baru masuk tadi, ” ada ayat yang kamu hafal dalam Al-Qur’an?”
“Ya,” jawab anak itu singkat.

” Kalau begitu, coba bacakan salah satu ayat dari juz ‘Amma?‘ pinta ustaz

Anak itu mengalunkan beberapa ayat, fasih & betul tajwidnya. Merasa anak tersebut mempunyai kelebihan, guru itu bertanya lagi,“Adakah kamu hafal surah Tabaraka?” (Al-Mulk)

“Ya,” jawabnya lagi, & segera membacanya. Baik & lancar. Ustaz itu pun kagum dengan kemampuan hafalan si anak kecil itu, meski usianya lebih muda dibanding murid-muridnya yang ada.

Dia pun coba bertanya lebih jauh, “kamu hafal surat An-Nahl?”

Ternyata anak kecil itu menghafalnya dengan sangat lancar, sehingga kekagumannya semakin bertambah. Lalu ustaz itu pun coba mengujinya dengan surah-surah yang lebih panjang.

“Adakah kamu hafal surat Al-Baqarah?”

Anak kecil itu kembali mengiyakan dan membacanya tanpa sedikitpun kesalahan. Dan ustaz itu semakin kagum dengan pertanyaan terakhir,“Anakku, adakah kamu menghafal Al-Qur’an ?”

“Ya,” jawabnya dengan jujur.

Mendengar jawaban itu, seketika ustaz itu mengucapkan,“Subhanallah wa masyaallah,tabarakkallah”
 
Setelah hari itu menjelang maghrib, sebelum ustaz tersebut menamatkan kelas mengaji, secara khusus dia berpesan kepada murid barunya,” Esok, kalau kamu datang ke masjid ini, tolong ajak juga ibu bapakmu. Ustaz ingin berkenalan dengannya”.

Esok harinya, anak kecil itu kembali datang ke masjid. Kali ini dia bersama ayahnya, seperti pesan ustaz kepadanya. Melihat ayah dari anak tersebut, si ustaz bertambah kaget kerana gayanya tidak langsung seperti orang alim, terhormat & pandai.

Belum sempat dia bertanya, ayah si anak sudah menyapa terlebih dahulu, “Saya tahu, mungkin ustaz tidak percaya bahwa saya ini adalah ayah dari anak ini. Tapi rasa heran anda akan saya jawab, sebenarnya dibalik anak kecil ini ada seorang ibu yang sekuat seribu lelaki. Dirumah, saya masih mempunyai 3 anak lagi yang semuanya hafal Al-Qur’an. Anak perempuan saya yang kecil berusia 4 tahun, dan sekarang sudah menghafal juz Amma”.

“Bagaimana si ibu itu mampu melakukan itu?” tanya si guru tanpa mau menyembunyikan kekagumannya.”
 
Ibu mereka, ketika anak-anak itu sudah pandai berbicara, si ibu membimbing anak kami menghafal Al-Qur’an dan selalu memotivasi mereka melakukan itu. Tak pernah berhenti dan tak pernah bosan. Dia selalu katakan kepada mereka,

“Siapa yang hafal lebih dulu, dialah yang menentukan makan malam ini,

“Siapa yang paling cepat mengulangi hafalannya, dialah yang berhak memilih ke mana kita boleh jalan-jalan”

Itulah yang selalu dilakukan ibunya, sehingga tercipta semangat bersaing dan berlomba-lomba antara mereka untuk memperbanyak dan mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an mereka,” jelas si ayah memuji isterinya.

Sebuah keluarga biasa yang telah melahirkan anak-anak yang luar biasa. Hanya seorang ibu yang biasa. Setiap kita dan semua ibubapak tentu bercita-cita anak-anaknya menjadi generasi yang soleh, cerdas dan membanggakan. Tetapi tentu perkara itu tidak mudah.

Apatah lagi membentuk anak-anak itu mencintai Al-Qur’an. Memerlukan perjuangan, perlu kekuatan. Mesti tekun & sabar melawan rasa letih dan susah tanpa kenal batas. Maka wajar jika si ayah mengatakan,”Dibalik anak ini ada seorang ibu yang kekuataanya sama dengan seribu lelaki.”

Ya, perempuan yang telah melahirkan anak itu memang begitu kuat & perkasa. Sebab membuat sesuatu yang baik untuk kehidupan anak-anak, adalah tidak mudah. Hanya orang – orang yang punya kemauan & motivasi yang mampu melakukannya. Dan tentu modal pertamanya adalah kesolehan diri. Tidak ada yang lain.

Ibu si anak cerdas ini, dia adalah lambang seorang perempuan solehah yang mewariskan kesolehannya ke dalam kehidupan rumah tangganya. Dialah contoh perempuan yang pernah diwasiatkan Rasulullah saw kepada kaum lelaki untuk mereka jadikan pendamping hidup diantara sekian banyak wanita.

Dengan menangggalkan keutamaan harta, kecantikan & keturunannya, seperti sabda Rasulullah saw, “Wanita dinikahi kerana 4 perkara : karena hartanya, karena keturunannya. karena kecantikannya, & karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.”(HR.Bukhari & Muslim).

Perempuan yang dikenalkan kepada kita dalam cerita diatas, dia sebenarnya tidak memulai kerja kerasnya ketika anak-anaknya baru belajar berbicara. Tidak. Tetapi jauh sebelum itu, tenaganya telah ditumpahkan untuk mengakrabkan mereka dengan bacaan-bacaan Al-Qur’an semasa mereka masih janin.

Dalam keadaan kehamilannya yang berat, ibu ini hampir setiap hari selalu meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, memperdengarkannya janin yang ada dirahimnya, dalam keadaan berbaring, duduk/pun bersandar. Perjuangan itulah yang berat tapi itu pulalah yang kemudian memudahkan lidah anak-anaknya merangkai kata demi kata dari ayat-ayat Al-Qur’an, saat mereka sebenarnya baru mulai belajar bicara.
 
SUBHANALLAH...
 
 
dikutip dari ieylanor.blogspot.com