Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Rabu, 19 September 2012

Ibu yang sekuat seribu lelaki

Di sebuah masjid di perkampungan Mesir, suatu petang. Seorang ustaz sedang mengajarkan murid-muridnya membaca Al-Qur’an. Mereka duduk melingkar & berkelompok. Tiba-tiba, masuk seorang anak kecil yang ingin ikut di lingkaran mereka. Usianya kira-kira 9 tahun.

Sebelum menempatkannya di satu kelompok, ustaz itu ingin tahu kemampuannya. Dengan senyumnya yang lembut, dia bertanya kepada anak yang baru masuk tadi, ” ada ayat yang kamu hafal dalam Al-Qur’an?”
“Ya,” jawab anak itu singkat.

” Kalau begitu, coba bacakan salah satu ayat dari juz ‘Amma?‘ pinta ustaz

Anak itu mengalunkan beberapa ayat, fasih & betul tajwidnya. Merasa anak tersebut mempunyai kelebihan, guru itu bertanya lagi,“Adakah kamu hafal surah Tabaraka?” (Al-Mulk)

“Ya,” jawabnya lagi, & segera membacanya. Baik & lancar. Ustaz itu pun kagum dengan kemampuan hafalan si anak kecil itu, meski usianya lebih muda dibanding murid-muridnya yang ada.

Dia pun coba bertanya lebih jauh, “kamu hafal surat An-Nahl?”

Ternyata anak kecil itu menghafalnya dengan sangat lancar, sehingga kekagumannya semakin bertambah. Lalu ustaz itu pun coba mengujinya dengan surah-surah yang lebih panjang.

“Adakah kamu hafal surat Al-Baqarah?”

Anak kecil itu kembali mengiyakan dan membacanya tanpa sedikitpun kesalahan. Dan ustaz itu semakin kagum dengan pertanyaan terakhir,“Anakku, adakah kamu menghafal Al-Qur’an ?”

“Ya,” jawabnya dengan jujur.

Mendengar jawaban itu, seketika ustaz itu mengucapkan,“Subhanallah wa masyaallah,tabarakkallah”
 
Setelah hari itu menjelang maghrib, sebelum ustaz tersebut menamatkan kelas mengaji, secara khusus dia berpesan kepada murid barunya,” Esok, kalau kamu datang ke masjid ini, tolong ajak juga ibu bapakmu. Ustaz ingin berkenalan dengannya”.

Esok harinya, anak kecil itu kembali datang ke masjid. Kali ini dia bersama ayahnya, seperti pesan ustaz kepadanya. Melihat ayah dari anak tersebut, si ustaz bertambah kaget kerana gayanya tidak langsung seperti orang alim, terhormat & pandai.

Belum sempat dia bertanya, ayah si anak sudah menyapa terlebih dahulu, “Saya tahu, mungkin ustaz tidak percaya bahwa saya ini adalah ayah dari anak ini. Tapi rasa heran anda akan saya jawab, sebenarnya dibalik anak kecil ini ada seorang ibu yang sekuat seribu lelaki. Dirumah, saya masih mempunyai 3 anak lagi yang semuanya hafal Al-Qur’an. Anak perempuan saya yang kecil berusia 4 tahun, dan sekarang sudah menghafal juz Amma”.

“Bagaimana si ibu itu mampu melakukan itu?” tanya si guru tanpa mau menyembunyikan kekagumannya.”
 
Ibu mereka, ketika anak-anak itu sudah pandai berbicara, si ibu membimbing anak kami menghafal Al-Qur’an dan selalu memotivasi mereka melakukan itu. Tak pernah berhenti dan tak pernah bosan. Dia selalu katakan kepada mereka,

“Siapa yang hafal lebih dulu, dialah yang menentukan makan malam ini,

“Siapa yang paling cepat mengulangi hafalannya, dialah yang berhak memilih ke mana kita boleh jalan-jalan”

Itulah yang selalu dilakukan ibunya, sehingga tercipta semangat bersaing dan berlomba-lomba antara mereka untuk memperbanyak dan mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an mereka,” jelas si ayah memuji isterinya.

Sebuah keluarga biasa yang telah melahirkan anak-anak yang luar biasa. Hanya seorang ibu yang biasa. Setiap kita dan semua ibubapak tentu bercita-cita anak-anaknya menjadi generasi yang soleh, cerdas dan membanggakan. Tetapi tentu perkara itu tidak mudah.

Apatah lagi membentuk anak-anak itu mencintai Al-Qur’an. Memerlukan perjuangan, perlu kekuatan. Mesti tekun & sabar melawan rasa letih dan susah tanpa kenal batas. Maka wajar jika si ayah mengatakan,”Dibalik anak ini ada seorang ibu yang kekuataanya sama dengan seribu lelaki.”

Ya, perempuan yang telah melahirkan anak itu memang begitu kuat & perkasa. Sebab membuat sesuatu yang baik untuk kehidupan anak-anak, adalah tidak mudah. Hanya orang – orang yang punya kemauan & motivasi yang mampu melakukannya. Dan tentu modal pertamanya adalah kesolehan diri. Tidak ada yang lain.

Ibu si anak cerdas ini, dia adalah lambang seorang perempuan solehah yang mewariskan kesolehannya ke dalam kehidupan rumah tangganya. Dialah contoh perempuan yang pernah diwasiatkan Rasulullah saw kepada kaum lelaki untuk mereka jadikan pendamping hidup diantara sekian banyak wanita.

Dengan menangggalkan keutamaan harta, kecantikan & keturunannya, seperti sabda Rasulullah saw, “Wanita dinikahi kerana 4 perkara : karena hartanya, karena keturunannya. karena kecantikannya, & karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.”(HR.Bukhari & Muslim).

Perempuan yang dikenalkan kepada kita dalam cerita diatas, dia sebenarnya tidak memulai kerja kerasnya ketika anak-anaknya baru belajar berbicara. Tidak. Tetapi jauh sebelum itu, tenaganya telah ditumpahkan untuk mengakrabkan mereka dengan bacaan-bacaan Al-Qur’an semasa mereka masih janin.

Dalam keadaan kehamilannya yang berat, ibu ini hampir setiap hari selalu meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, memperdengarkannya janin yang ada dirahimnya, dalam keadaan berbaring, duduk/pun bersandar. Perjuangan itulah yang berat tapi itu pulalah yang kemudian memudahkan lidah anak-anaknya merangkai kata demi kata dari ayat-ayat Al-Qur’an, saat mereka sebenarnya baru mulai belajar bicara.
 
SUBHANALLAH...
 
 
dikutip dari ieylanor.blogspot.com

2 komentar:

  1. menarik cerita ni..terima kasih atas perkongsian..

    BalasHapus
  2. Suka sgt.... N terasa suka sgt jd ibu....

    BalasHapus