Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Minggu, 09 September 2012

Kerelaan Hati Ibu Imam Syafii Terhadap Anaknya

Di Makkah, Imam Syafii sudah menjadi seorang aIim besar walaupun usianya baru mencapai 20 tahun. Namun begitu Imam Syafii belum merasa puas dengan ilmu yang dimilikinya dan masih ingin belajar ke tempat lain terutama di Madinah. Beliau sangat ingin berguru langsung dengan Imam Malik penyusun kitab Muwatta' yang telah dihafalnya telebih dahulu.

Wali kota Makkah ketika itu sangat gembira dan mendukung niat Imam Syafii dan berkenan memberi surat dukungan untuk dibawa ke Madinah. Dalam surat itu wali kota Makkah mengatakan bahwa pemuda ini sudah terkenal sebagai orang aIim di Makkah dan sangat ingin menyambung menuntut ilmu kepada Imam Malik. Sudilah kiranya Wali kota Madinah menerimanya.

Imam Syafil sangat gembira menerima surat dukungan itu dan ingin segera berangkat ke Madinah. Beliau bergegas kembali ke rumahnya untuk memberi tahu dan meminta izin kepada ibunya. Imam Syafii tidak dapat menahan perasaan gembiranya dan tanpa sengaja, ketika hendak masuk ke rumahnya , beliau mengetuk pintu rumahnya dengan cara agak kasar sekaligus membuat ibunya kurang senang dengan perlakuannya.

"Siapa di luar?" tanya ibunya.

"Saya Muhammad (Syafii)." Jawab Imam Syafli

lbu Imam Syafii itu menganggap anaknya masih rendah pengetahuan adab sopan santunnya dan dengan marah dia berkata:

"Pergi! Jangan kamu kembali, sebelum kamu belajar ilmu adab sopan santun. Jangan balik sebelum ilmumu sempurna,"

Mendengar perkataan ibunya itu, Imam Syafii sadar akan kesalahannya. Beliau berfikir sejenak, kemudian mengambil keputusan untuk pergi ke Madinah dan tidak akan kembali sebelum ilmunya sempurna, sesuai dengan perkataan ibunya.

Di Madinah beliau diterima dengan baik oleh Imam Malik. Setelah belajar beberapa tahun di Madinah, Imam Syafii Ingin pergi ke Iraq untuk belajar dengan ulama-ulama besar di sana. Namun dia masih rindu kepada ibunya karena sebelum berangkat ke Madinah dia tidak sempat melihat wajah ibunya. Lalu Imam Syafii meminta pandangan gurunya Imam Malik,

"Wahai guru", kata Imam Syafli kepada Imam Malik, "sewaktu saya keluar dari Makkah untuk mencari ilmu saya tidak sempat meminta izin kepada ibu saya. Maka sekarang perlukah saya meminta izin ataukah boleh saya meneruskan perjalanan?" Maka dijawab oleh Imam Malik" Wahai ananda! llmu pengetahuan itu berfaedah, pergilah kepada Ibumu untuk memberi faedah. ananda perlu ketahui bahwa para malaikat membentangkan sayapnya kepada penuntut ilmu sebab redha dengan apa yang dicarinya."

Imam Syafii terus pergi ke Iraq tanpa meminta izin kepada ibunya lagi. Beliau sudah maklum bahwa lbunya sudah meridhai kepergiannya untuk mencari ilmu. Kedua anak dan Ibu itu saling mendoakan. andai mereka berpisah di dunia asalkan bisa berjumpa kembali di akhirat. ltulah prinsip yang dipegang oleh keduanya.

Menurut Riwayat, lbu Imam Syafii sebelum meninggal telah berwasiat kepada tetangga-tetangganya bahwa sekiranya Imam Syafii kembali dengan membawa harta kekayaan maka hendaklah disedekahkan harta tersebut kepada kaum kerabatnya yang hidup dalam kesusahan.

Imam Syafii kembali setelah beberapa tahun lbunya meninggal. dan melakukan semua wasiat ibunya dia menyedekahkan semua uang yang diperolehnya sewaktu dia bekerja sebelum dia memasuki kota Makkah.

Ibunda Imam Syafii tidak sempat bertemu dengan anaknya ( Imam Syafii ) namun Imam Syafii telah memberikan kebanggaan besar terhadap Ibundanya sebab dengan didikan dan kerelaan Ibunyalah melepas Imam Syafii untuk mencari Ilmu yang lebih banyak dan bermanfaat, Imam Syafii tumbuh menjadi seorang Ulama besar dalam Islam yang Ilmunya begitu bermanfaat bagi semua Umat Islam didunia sampai detik ini. semua Ibu didunia ini tentu akan meridhai apapun yang membuat anaknya bahagia dunia akhirat.


dikutip dari http://alperes.tripod.com dengan sedikit tambahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar