Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Senin, 24 September 2012

Keteguhan Seorang Ibu

Di suatu sore di sebuah kompleks perumahan bergerombol para ibu yang sedang mengobrol sesama mereka. Di antara mereka terdapat seorang ibu muda yang turut dalam keasyikan tersebut sambil mengasuh anaknya yang berusia sekitar tiga tahunan. Sebagaimana lazimnya seorang anak kecil yang senang bermain, anak kecil lucu itu pun juga tidak kalah gembiranya, ia berlarian kesana ke mari sambil tertawa-tawa lucu.
Namun tak disangka, beberapa saat kemudian sebuah musibah mengerikan terjadi.
Tanpa disadari oleh para ibu tersebut, sang anak kecil berlari keluar teras dan menyeberangi jalan besar yang ada di depan rumah. Dan kuasa ALLAH atas segalanya membuat waktu antara anak kecil itu menyeberang tepat bersamaan dengan sebuah truk bermuatan pasir yang melaju kencang. Bencana yang mengerikan itupun terjadi. Tubuh sang anak kecil pun terpental, kepalanya pecah dan isi otaknya berhamburan membasahi badan jalan.

Bisa dibayangkan betapa paniknya kondisi yang terjadi saat itu. Para ibu yang semula asyik bercengkrama hampir semua berteriak histeris, bahkan beberapa di antara mereka ada yang pingsan. Hanya seorang dari mereka yang kelihatan tetap tenang menghadapi keadaan tersebut, yaitu ibu sang anak itu sendiri!!!
 "Jangan, jangan sentuh anakku...biar aku urus sendiri."Teriaknya ketika beberapa orang ingin membantu meminggirkan anak yang sudah tewas tersebut.
Dengan perlahan ia menggendong jasad anak yang berlumuran darah itu, lalu membawanya ke rumahnya yang tak jauh dari tempat kejadian. Ia kemudian memandikan dan mengkafani sendiri anaknya di rumah. kebetulan ia bekerja sebagai seorang bidan di sebuah rumah sakit. Ibu mertuanya yang ingin menghiburnya malah dihiburnya, karena justru ibu mertua yang tidak bisa menahan isak tangis dan teriakan histeris. Ketika sang suami dengan muka pucat dan panik datang, dengan tenang ia menjelaskan "Mas, ALLAH telah mengambil amanatnya dari kita. Semoga kita diberi kesabaran ya, Mas." dan suaminya pun tak kuasa menahan tangis.

Dan akhirnya sebelum sang anak di bawa ke tempat peristirahatan terakhir, di depan jenazah anaknya ia berbisik "Ya ALLAH, berikanlah kami yang ditinggalkan kekuatan dan ketabahan. Sudah kulakukan yang seharusnya kulakukan, dan tidak kulakukan apa yang tidak seharusnya aku lakukan. Kewajibanku sudah kupenuhi, kini ijinkan aku meminta hakku, untuk bersedih dan menangis." Setelah itu...ia memejamkan mata dan terpekur lama......dan barulah air matanya mengalir deras, lalu ia pun terjatuh pingsan.

Kenapa mereka tidak menyayangi nyawa sendiri ? Kalau tak takut mati, kenapa harus takut menghadapi masalah lain ? Hidup cuma sekali. Kita lahir tanpa apa-apa kenapa hanya karena kehilangan beberapa hal sampai rela mengorbankan nyawa, hal yang paling penting dalam hidup manusia ? Dalam kehidupan tentu ada rasa manis, asam pahit dan pedas. Justru dalam kepahitan, kita baru tahu kemampuan kita yang sesungguhnya. (Li Chi Chin)


dikutip dari http://erwinbaha.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar