Selasa, 25 September 2012

Kisah Bakti Para Ulama kepada Ibunya

ini adalah beberapa kisah singkat contoh kongkrit bakti para ulama salafus salih kepada orang tua mereka, khususnya kepada ibu.

Tindakan mereka tersebut tentu tidak lepas dari baik dan dalamnya pemahaman mereka terhadap ilmu yang dimiliki sebagai ulama. Dan sebaik-baik ilmu adalah yang diamalkan. Berikut cuplikan beberapa kisah nyata yang menakjubkan tentang bakti kepada ibu.

Dari Dawud bin Qais dia berkata, “Abu Murrah pernah mengabarkan kepadaku bahwa bila Abu Hurairah hendak pergi, setelah mengenakan pakaian, dia datang kepada ibunya lalu berkata, ‘Semoga keselamatan dan berkah terlimpah kepadamu wahai Ibu. Semoga engkau mendapatkan balasan dari Allah karena dulu engkau telah memeliharaku.’ Kemudian bila pulang, dia pun mengatakan seperti itu.”

Abdullah bin Ja’far bin Khaqan al-Maruzi (Bandan) berkata, “Muhammad bin Basyir bin Utsman pernah berkata, ‘Pernah ketika saya bermaksud untuk keluar (setelah saya mengumpulkan hadis-hadis dari para ulama Basrah), ibu saya melarang. Saya pun menaati larangan ibuku. Karena ketaatanku itu saya mendapatkan berkah.”

Muhammad bin Munkadir berkata, “Pernah semalaman saya memijat kaki ibuku, sementara saudaraku Umar waktu itu semalaman juga melakukan salat. Saya tidak menganggap amalan malam Umar lebih baik dari amalan malamku.”

Abu Ishaq ar-Riqqi al-Hanbali ketika menyebutkan biografi Abdullah bin Aun berkata, “Pernah suatu ketika dia dipanggil oleh ibunya. Tanpa disadari dia mengeraskan suara melebihi suara ibunya. Karena hal itu dia membebaskan dua orang budak.”

Dari Anas bin an-Nadhr al-Asyja’i dia berkata, “Suatu malam ibu Ibnu Mas’ud meminta air. Ibnu Mas’ud pun mengambil air, lalu dibawa kepada ibunya. Ternyata ibunya telah tertidur. Maka dia pun berdiri menunggui ibunya hingga pagi.”

Al-Akhnasi pernah berkata, “Saya pernah mendengar Abu Bakar berkata, ‘Saya pernah bersama Manshur bin al-Mu’tamir duduk-duduk di rumahnya. Tiba-tiba ibunya memanggil dengan nada agak kasar, ‘Wahai Manshur, anak laki-laki Hubairah membutuhkan kamu untuk suatu urusan. Apakah kamu enggan?!’ Manshur menempelkan jenggot pada dadanya, sedikit pun dia tidak berani mengangkat kepalanya dan menghadapkan wajah kepada ibunya.”

Suatu ketika Ibnul Hasan at-Tamimi hendak membunuh kalajengking, namun kalajengking itu masuk ke lubang. Dia beranikan diri merogohkan jari-jarinya ke lubang untuk menangkap kalajengking itu meskipun harus rela disengat. Orang-orang berkata kepadanya, “Kamu ini bagaimana?!” Dia menjawab, “Saya khawatir kalajengking tadi keluar lalu merayap ke tempat ibuku dan menyengatnya.”

Dari Muhammad bin Sirin dia berkata, “Pada zaman Utsman harga kurma sangat mahal hingga mencapai seribu dirham. Meskipun begitu Usamah tetap berani membelinya. Dia beli kurma tadi lalu dia kupas kulitnya kemudian diberikannya kepada ibunya. Orang-orang berkata kepadanya, ‘Apa yang membuatmu berani membeli kurma dengan harga seribu dirham?’ Dia menjawab, ‘Saya punya prinsip, jika ibu saya meminta sesuatu yang saya mampu memenuhinya pasti akan saya penuhi.”

Zainal Abidin adalah seorang yang sangat berbakti kepada ibunya. Saking berbaktinya, ada orang-orang berkata kepadanya, “Sungguh kamu adalah orang yang sangat berbakti kepada ibumu. Tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu dalam satu piring?” Dia menjawab, “Saya khawatir mendahului makan makanan yang hendak dimakan ibuku. Karena menurutku itu termasuk tindakan durhaka kepadanya.”

semoga Allah merahmati mereka para pendahulu kita yang saleh dan menjadikan kita termasuk golongan mereka. sebab merekalah sebaik-baik contoh, para Ulama adalah pewaris para Nabi.


dikutip dari ceritamu.com dengan sedikit tambahan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar