Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Rabu, 05 September 2012

penderitaan dan kebahagiaan seorang Ibu ketika hamil

Awal kehamilan  masa yang menyakitkan bagi sang ibu
            
Tiga bulan pertama usia mengandung adalah  masa-masa yang rentan bagi ibu hamil. Banyak ‘pantangan’ yang harus di hindari, benih yang baru saja dibuahi  belum begitu pekat menempel pada  dinding rahim. Jika sedikit saja terkena tekanan atau hentakan, tidak menutup kemungkinan benih itu jatuh dari dinding rahim dan mengalami keguguran.
            
Cara melangkahkan kaki pun, diatur dengan sangat pelan, bagai berjalan diatas kubangan lumpur yang licin. Berjalan kaki terlalu jauh, sang ibu mulai menghindarinya. Apalagi berlari,, manaiki tangga, mengangkat beban yang berat, bahkan melayani sang suami pun, sang  istri pun harus sangat mengaturnya agar tidak terlalu sering.
            
Bukan hanya hal-hal yang berhubungan dengan fisik saja, emosi sang ibupun diatur sedemikian rupa. Perasaan-perasaan negative yang muncul dalam dada sang ibu, menjadi tidak kalah bahayanya bagi kehamilan mudanya. Perasaan kecewa, marah, sedih, takut, dan lain sebagainya, berdampak langsung terhadap keguguran kandungan. Bagai membawa kuning telur, goyang sedikit saja pasti telurnya jatuh. Itulah gambaran sang ibu waktu hamil muda.
            
Berbarengan dengan kondisi seperti itu ‘penyakit dadakan’ menerpa sang ibu, baik fisik maupun psikologis, mual, lemas, tidak nafsu makan, menyukai buah yang masam, sakit kepala, penglihatan berkunang-kunang, merupakan contoh perubahan fisik yang terjadi. Secara  psikologis saat itu sang ibu mejadi cepat marah, mudah tersinggung, suka cemburu, manja dan lain sebagainya. Hal itu terjadi karena ada perubahan keseimbangan fungsi hormone dalam tubuh. Kesabaran yang ekstra ketat sangat dibutuhkan dalam kondisi seperti itu. Sedikit saja perasaan putus asa terlintas dalam benaknya, bisa menjadi bumerang terhadap kelangsungan kehamilannya.

Tengah kehamilan masa yang membosankan bagi sang ibu
            
Usia  kehamilan empat  sampai enam bulan  merupakan masa dimana kandungan sudah mulai stabil, dan sang bayi yang ada dalam kandungan pun sudah mulai bergerak. Makin lama gerakannya semakin terasa, bergeser kesana kemari, bahkan menendang-nendang.  sang ibu pun mengikuti perkembangan sang bayi , perut sang ibu, semakin buncit membesar.
            
Melewati hari-hari dengan kondisi seperti itu, tentu akan terasa sangat membosankan. setumpuk jadwal kegiatan harian yang biasa dilakukan terpaksa harus ditunda. Hanya rutinitas kecil didalam rumah saja yang bisa dilakukannya. Jam ke jam, hari ke hari, terasa sangat lama dan panjang. Majalah, buku dan tv menjadi teman setia.
            
Tubuh ramping hanya tinggal kenangan, pipi, pundak, dada, paha sampai betis tumbuh menjadi gemuk mengimbangi perut yang semakin membesar. Beberapa potong pakaian favorit tidak bisa lagi dikenakan. Semua teronggok didalam lemari pakaian, haya daster yang bisa dikenakan. Itupun dianggap hanya sekedar penutup tubuh, karena mata tidak sanggup memandang lebih lama lagi bila berdiri didepan cermin. Sungguh postur  tubuh yang membosankan.
            
Berat badan pun meningkat dengan cepatnya. Pertumbuhan badan dan janin menjadi beban tersendiri yang harus di pikul kemanapun, dan dalam posisi apapun. Bila berdiri terasa melorot, bila terlentang terasa menyesakkan dada, tengkurep dan jongkok tidak bisa dilakukan. Variasi istirahat hanya bisa duduk dan tidur menyamping. Pegal menyamping kesebelah kiri berbalik menyamping kesebelah kanan. Begitu seterusnya dilakukan dalam tempo berbulan-bulan. Daya lentur tubuh menjadi terhambat. Setiap bagian tubuh hanya mampu bergerak lambat, sungguh bagai hidup dalam pasungan.

Akhir kehamilan masa yang menegangkan bagi ibu hamil
            
Secara rutin setiap bulan, sang ibu selalu memeriksakan kehamilannya di dokter kandungan. Saran dokter bagai tuah yang tidak boleh dilanggar. Apapun yang disarankannya, dengan suka rela ditaati, demi kesehatan dan kelangsungan kehamilannya.
            
Menjelang bulan kedelapan usia kehamilan, dokter memeriksa sang ibu dengan ultra sonography (USG). Detakan jantung sang janin yang terdengar mendetuk-detuk, memicu durasi detakan jantung sang ibu yang semakin mendebar. Tegang itulah kondisi sang ibu saat itu. Hatinya menerka-nerka sebelum dokter mengucapkan sesuatu. Normalkah janin yang ada dalam kandungan saya? Jika tidak? Kira-kira itulah kalimat yang ada dalam benak sang ibu saat itu. Ketegangannya sedikit terobati setelah dokter mengatakan bahwa janin yang ada dalam kandungannya normal.
            
Namun demikian, sang ibu pun masih berpikir bahwa itu bukan  keputusan final. tidak menutup kemungkinan besok lusa ada  keputusan yang berbeda. Keputusan terbenar hanya saat setelah bayi dilahirkan.

Kebahagiaan ibu pada saat melahirkan
            
Sembilan bulan sang ibu mengandung, ia lalui dengan penuh ketegaran dan kesabaran. Buah kesabarannya adalah kebahagiaan  saat sang bayi dilahirkan dengan selamat, meski harus meregang nyawa bergelut dengan maut. Nyawa yang hanya satu-satunya sebagai modal hidup, dipertaruhkan. Dengan tegar sang ibu menyambut kematian demi mendatangkan kehidupan bagi anaknya. Kematian sudah di ujung mata, tapi rasa takut seakan sirna ditelan bumi, diganti dengan rasa bahagia. Bagaikan seorang yang mati syahid, ia tidak takut dengan mati karena surga telah menanti dipelupuk matanya.
            
Kebahagiaan telah datang sebelum tiba waktunya. Itulah kebahagiaan sang ibu beberapa saat ketika akan melahirkan, ia sudah merasa bahagia meskipun anaknya belum terlahir. Kebahagiaan ini yang memompa kesabaran, kecermatan dan kesungguhan sang ibu menjelang persalinan. Dengan cermat dan sungguh-sungguh serta dibarengi kesabaran, ia mempersiapkan diri menerima puncak kebahagiaan.
            
Kesabaran ternyata tidak dijadikan satu-satunya modal penantian datangnya kebahagiaan. Persiapan yang matang untuk mencapai hasil yang optimal, ternyata juga dilakukannya. Sejak mempersiapkan perlengkapan persalinan, tempat persalinan sampai nama terbaik bagi sang bayi. 
  
Menghargai pengorbanan-pengorbanan besar Ibu

SUBHANALLAH.. sungguh mulia perjuangan dan pengorbananmu Ibu dalam melahirkan kami anak-anakmu, sungguh tak akan mampu kami anakmu membalas setiap erangan sakitnya engkau Ibu ketika melahirkan kami, sungguh perjuanganmu melahirkan kami adalah salah satu jihad terbesar dalam hidupmu, engkau Ibu mempertaruhkan dirimu sendiri demi anak yang engkau nantikan, sungguh bebal dan mati hati seorang anak yang tiada tersentuh sedikitpun akan perjuangan Ibu ketika akan melahirkannya kedunia ini, sungguh tiada bersyukurlah seorang suami yang tidak menghargai pengorbanan istrinya saat akan melahirkan anak mereka, Ibu tiada akan pernah akan kami lupakan pengorbanan-pengorbanan besarmu dalam melahirkan kami anakmu kedunia dan sampai saat inipun engkau terus berkorban demi kebahagiaan kami, ya..ALLAH terimalah pengorbanan dan perjuangan setiap Ibu yang berjuang dalam melahirkan anaknya dan beri balasan syurga yang engkau janjikan serta kumpulkan kami anaknya bersama-sama Ibu yang kami cintai disyurgamu kelak  amin ya..RABBILLALAMIN..


dikutip dari komariyahadlah.blogspot.com dengan sedikit tambahan

5 komentar:

  1. sesungguhnya nina tak sabar nak jadi ibu..sebab nak rasa semua ni..

    BalasHapus
  2. Subhanallah..
    Mengalir air mata saat membaca entri ini. Tersedar hakikat diri mengukir suatu janji pada ummi, moga dapat jaga ummi dengan baik di hari-hari tuanya.
    Tiada yang paling membahagiakan bagi seorang wanita melainkan punyai cahaya mata. Tiap detik-detik bersama pasti berharga. Moga zuriat yang dikandung menjadi penyejuk mata & penenang hati. Amin..

    BalasHapus
  3. Ternyata Ibu adalah orang tua yang baik. Terkadang, aku sedikit "sebal" karena Ibu memanja-manjakan kedua adikku. Tapi, aku tak pernah terpikir kalau pengorbanan Ibu begitu besar padaku. Insya Allah, aku akan menjadi lebih baik lagi :-)

    BalasHapus
  4. penderitaan seorang ibu waktu tidak dapat dibayangkan smua kaum suami,krn bukan mrk yg melahirkan.

    BalasHapus