Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Rabu, 31 Oktober 2012

Perjuangan Seorang Ibu Melahirkan Anaknya

Kejadian luar biasa menggegerkan dunia kedokteran. Seorang ibu yang dipastikan telah meninggal dunia ternyata masih bisa melahirkan bayi mungil dengan sempurna. Berita ini mendadak tersiar kemana-mana dan menjadi bahan perbincangan di dunia medis.

Adalah Mahmoud Soliman, 29. Ia tak pernah membayangkan bisa menghadapi kesedihan dan kebahagiaan menjadi satu. Istri yang dicintainya, Jayne Soliman, 41, pergi untuk selama-lamanya. Dan sebagai gantinya, ia mendapatkan seorang bayi perempuan cantik yang dilahirkan dari rahim istrinya.

Yang mengharukan, Aya Jayne, demikian nama bayi tersebut, dilahirkan dua hari setelah Jayne dinyatakan meninggal akibat otaknya tidak bisa berfungsi lagi. Berkat bantuan medis Aya bisa dilahirkan dengan selamat.
Sebenarnya kehamilan Jayne tidak bermasalah. Namun diusia kehamilannya yang mencapai 25 minggu, tiba-tiba ia pingsan, setelah mengeluh sakit kepala.

Segera saja Mahmoud melarikannya ke Rumah Sakit John Radcliffe Hospital di Oxford. Namun beberapa jam kemudian, tim dokter menyatakan otak mantan atlet ski es nasional Inggris ini sudah mati.

Tim dokter mencoba membantu jantung Jayne agar tetap berdenyut dengan beragam peralatan. upaya ini dilakukan agar bayi yang berada di perut Jayne bisa tertolong. Jayne diberi dua dosis besar steroid sehingga jantung bayinya bisa berkembang. Dan akhirnya, Aya Jayne pun bisa lahir dengan selamat melalui operasi caesar.

Usai diangkat dari rahim Jayne, Aya sempat diletakkan di pundak ibunya untuk memberi sedikit waktu bagi keduanya untuk bertemu.

Setelah itu Aya langsung dilarikan ke unit perawatan intensif. Sedangkan Mahmoud diberi kesempatan untuk mengucapkan selamat jalan pada istrinya, sebelum akhirnya dokter mematikan peralatan penunjang hidupnya.

“Dokter mengatakan tak ada yang bisa mereka lakukan untuk Jayne. Namun mereka membutuhkannya untuk tetap kuat bagi anak kami yang belum dilahirkan,” kenang Mahmoud.

“Dia sangat mungil, ia pejuang kecil seperti ibunya,” tutur Mahmoud yang tak henti-hentinya menitikkan air matanya saat menggendong putrinya.

Kata Aya berasal dari bahasa Arab yang berarti keajaiban. Itu merupakan nama yang dipilih Jayne saat masih hidup.

“Saat Aya dewasa, akan saya katakan betapa ibunya mencintainya. Akan saya ceritakan semuanya. Ini merupakan keinginan Jayne untuk memiliki bayi dan menjadi ibu yang baik,” ujar Mahmoud.


dikutip dari http://kisahkisah.com

Senin, 29 Oktober 2012

kemuliaan dan teladan Ibunda Aisyah

Beliau adalah Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah binti Abu Bakr, Shiddiqah binti Shiddiqul Akbar, istri tercinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lahir empat tahun setelah diangkatnya Muhammad menjadi seorang Nabi. Ibu beliau bernama Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams bin Kinanah yang meninggal dunia pada waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup yaitu tepatnya pada tahun ke-6 H.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah dua tahun sebelum hijrah melalui sebuah ikatan suci yang mengukuhkan gelar Aisyah menjadi ummul mukminin, tatkala itu Aisyah masih berumur enam tahun. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun rumah tangga dengannya setelah berhijrah, tepatnya pada bulan Syawwal tahun ke-2 Hijriah dan ia sudah berumur sembilan tahun.

Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku pasca meninggalnya Khadijah sedang aku masih berumur enam tahun, dan aku dipertemukan dengan Beliau tatkala aku berumur sembilan tahun. Para wanita datang kepadaku padahal aku sedang asyik bermain ayunan dan rambutku terurai panjang, lalu mereka menghiasiku dan mempertemukan aku dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Abu Dawud: 9435).

Kemudian biduk rumah tangga itu berlangsung dalam suka dan duka selama 8 tahun 5 bulan, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia pada tahun 11 H. Sedang Aisyah baru berumur 18 tahun.

Aisyah adalah seorang wanita berparas cantik berkulit putih, sebab itulah ia sering dipanggil dengan “Humaira”. Selain cantik, ia juga dikenal sebagai seorang wanita cerdas yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkannya untuk menjadi pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban amanah risalah yang akan menjadi penyejuk mata dan pelipur lara bagi diri beliau.

Suatu hari Jibril memperlihatkan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) gambar Aisyah pada secarik kain sutra berwarna hijau sembari mengatakan,
“Ia adalah calon istrimu kelak, di dunia dan di akhirat.” (HR. At-Tirmidzi (3880), lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3041))

Selain menjadi seorang pendamping setia yang selalu siap memberi dorongan dan motivasi kepada suami tercinta di tengah beratnya medan dakwah dan permusuhan dari kaumnya, Aisyah juga tampil menjadi seorang penuntut ilmu yang senantiasa belajar dalam madrasah nubuwwah di mana beliau menimba ilmu langsung dari sumbernya.

Beliau tercatat termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadits dan memiliki keunggulan dalam berbagai cabang ilmu di antaranya ilmu fikih, kesehatan, dan syair Arab. Setidaknya sebanyak 1.210 hadits yang beliau riwayatkan telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim dan 174 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari serta 54 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Sehingga pembesar para sahabat kibar tatkala mereka mendapatkan permasalahan mereka datang dan merujuk kepada Ibunda Aisyah.

Kedudukan Aisyah di Sisi Rasulullah

Suatu hari orang-orang Habasyah masuk masjid dan menunjukkan atraksi permainan di dalam masjid, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Aisyah, “Wahai Humaira, apakah engkau mau melihat mereka?” Aisyah menjawab, “Iya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di depan pintu, lalu aku datang dan aku letakkan daguku pada pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tempelkan wajahku pada pipi beliau.” Lalu ia mengatakan, “Di antara perkataan mereka tatkala itu adalah, ‘Abul Qasim adalah seorang yang baik’.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Ia menjawab: “Jangan terburu-buru wahai Rasulullah.”

Maka beliau pun tetap berdiri. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi lagi pertanyaannya, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Namun, Aisyah tetap menjawab, “Jangan terburu-buru wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aisyah mengatakan, “Sebenarnya bukan karena aku senang melihat permainan mereka, tetapi aku hanya ingin memperlihatkan kepada para wanita bagaimana kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapku dan kedudukanku terhadapnya.” (HR. An-Nasa’i (5/307), lihat Ash Shahihah (3277))

Canda Nabi kepada Aisyah

Aisyah bercerita, “Suatu waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk menemuiku sedang aku tengah bermain-main dengan gadis-gadis kecil.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Apa ini wahai Aisyah.” Lalu aku katakan, “Itu adalah kuda Nabi Sulaiman yang memiliki sayap.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa. (HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat (8/68), lihat Shahih Ibnu Hibban (13/174))

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan Aisyah dan Aisyah menang. Aisyah bercerita, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlari dan mendahuluiku (namun aku mengejarnya) hingga aku mendahuluinya. Tetapi, tatkala badanku gemuk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak lomba lari lagi namun beliau mendahului, kemudian beliau mengatakan, “Wahai Aisyah, ini adalah balasan atas kekalahanku yang dahulu’.” (HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 23/47), lihat Al-Misykah (2.238))

Keutamaan-keutamaan Aisyah

Banyak sekali keutamaan yang dimiliki oleh Ibunda Aisyah, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan dalam sabdanya:

“Orang yang mulia dari kalangan laki-laki banyak, namun yang mulia dari kalangan wanita hanyalah Maryam binti Imron dan Asiyah istri Fir’aun, dan keutamaan Aisyah atas semua wanita seperti keutamaan tsarid atas segala makanan.” (HR. Bukhari (5/2067) dan Muslim (2431))

Beberapa kemuliaan itu di antaranya:

Pertama: Beliau adalah satu-satunya istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dinikahi tatkala gadis, berbeda dengan istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain karena mereka dinikahi tatkala janda.

Aisyah sendiri pernah mengatakan, “Aku telah diberi sembilan perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun setelah Maryam. Jibril telah menunjukkan gambarku tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah untuk menikahiku, beliau menikahiku tatkala aku masih gadis dan tidaklah beliau menikahi seorang gadis kecuali diriku, beliau meninggal dunia sedang kepalanya berada dalam dekapanku serta beliau dikuburkan di rumahku, para malaikat menaungi rumahku, Al-Quran turun sedang aku dan beliau berada dalam satu selimut, aku adalah putri kekasih dan sahabat terdekatnya, pembelaan kesucianku turun dari atas langit, aku dilahirkan dari dua orang tua yang baik, aku dijanjikan dengan ampunan dan rezeki yang mulia.” (Lihat al-Hujjah Fi Bayan Mahajjah (2/398))

Kedua: Beliau adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan wanita.

Suatu ketika Amr bin al-Ash bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” “Dari kalangan laki-laki?” tanya Amr. Beliau menjawab, “Bapaknya.” (HR. Bukhari (3662) dan Muslim (2384))

Maka pantaskah kita membenci apalagi mencela orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?!! Mencela Aisyah berarti mencela, menyakiti hati, dan mencoreng kehormatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Na’udzubillah.

Ketiga: Aisyah adalah wanita yang paling alim daripada wanita lainnya.

Berkata az-Zuhri, “Apabila ilmu Aisyah dikumpulkan dengna ilmu seluruh para wanita lain, maka ilmu Aisyah lebih utama.” (Lihat Al-Mustadrak Imam Hakim (4/11))

Berkata Atha’, “Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan pendapat-pendapatnya adalah pendapat yang paling membawa kemaslahatan untuk umum.” (Lihat al-Mustadrok Imam Hakim (4/11))

Berkata Ibnu Abdil Barr, “Aisyah adalah satu-satunya wanita di zamannya yang memiliki kelebihan dalam tiga bidang ilmu: ilmu fiqih, ilmu kesehatan, dan ilmu syair.”

Keempat: Para pembesar sahabat apabila menjumpai ketidak pahaman dalam masalah agama, maka mereka datang kepada Aisyah dan menanyakannya hingga Aisyah menyebutkan jawabannya.

Berkata Abu Musa al-Asy’ari, “Tidaklah kami kebingungan tentang suatu hadits lalu kami bertanya kepada Aisyah, kecuali kami mendapatkan jawaban dari sisinya.” (Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3044))

Kelima: Tatkala istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi pilihan untuk tetap bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kehidupan apa adanya, atau diceraikan dan akan mendapatkan dunia, maka Aisyah adalah orang pertama yang menyatakan tetap bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimanapun kondisi beliau sehingga istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain mengikuti pilihan-pilihannya.

Keenam: Syari’at tayammum disyari’atkan karena sebab beliau, yaitu tatkala manusia mencarikan kalungnya yang hilang di suatu tempat hingga datang waktu Shalat namun mereka tidak menjumpai air hingga disyari’atkanlah tayammum.

Berkata Usaid bin Khudair, “Itu adalah awal keberkahan bagi kalian wahai keluarga Abu Bakr.” (HR. Bukhari (334))

Ketujuh: Aisyah adalah wanita yang dibela kesuciannya dari langit ketujuh.

Prahara tuduhan zina yang dilontarkan orang-orang munafik untuk menjatuhkan martabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat istri beliau telah tumbang dengan turunnya 16 ayat secara berurutan yang akan senantiasa dibaca hingga hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala mempersaksikan kesucian Aisyah dan menjanjikannya dengan ampunan dan rezeki yang baik.

Namun, karena ketawadhu’annya (kerendahan hatinya), Aisyah mengatakan, “Sesungguhnya perkara yang menimpaku atas diriku itu lebih hina bila sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentangku melalui wahyu yang akan senantiasa dibaca.” (HR. Bukhari (4141))

Oleh karenanya, apabila Masruq meriwayatkan hadits dari Aisyah, beliau selalu mengatakan, “Telah bercerita kepadaku Shiddiqoh binti Shiddiq, wanita yang suci dan disucikan.”

Kedelapan: Barang siapa yang menuduh beliau telah berzina maka dia kafir, karena Al-Quran telah turun dan menyucikan dirinya, berbeda dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain.

Kesembilan: Dengan sebab beliau Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan hukuman cambuk bagi orang yang menuduh wanita muhShanat (yang menjaga diri) berzina, tanpa bukti yang dibenarkan syari’at.

Kesepuluh: Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, Beliau memilih tinggal di rumah Aisyah dan akhirnya Beliau pun meninggal dunia dalam dekapan Aisyah.

Berkata Abu Wafa’ Ibnu Aqil, “Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih untuk tinggal di rumah Aisyah tatkala sakit dan memilih bapaknya (Abu Bakr) untuk menggantikannya mengimami manusia, namun mengapa keutamaan agung semacam ini bisa terlupakan oleh hati orang-orang Rafidhah padahal hampir-hampir saja keutamaan ini tidak luput sampaipun oleh binatang, bagaimana dengan mereka…?

Aisyah meninggal dunia di Madinah malam selasa tanggal 17 Ramadhan 57 H, pada masa pemerintahan Muawiyah, di usianya yang ke 65 tahun, setelah berwasiat untuk dishalati oleh Abu Hurairah dan dikuburkan di pekuburan Baqi pada malam itu juga.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai Ibunda Aisyah dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Dan segala keutamaannya menjadikan teladan bagi kita bersama. Aamiin.

Wallahu A’lam bishawab


dikutip dari http://blognyafitri.wordpress.com

Kamis, 25 Oktober 2012

Mustajabnya Do’a Ibu

Do’a orang tua pada anak adalah do’a yang amat Mustajab (ampuh dan manjur). Baik do’a orang tua tersebut adalah do’a kebaikan atau do’a kejelekan, keduanya sama-sama Mustajab. Di antara buktinya adalah kisah ulama besar hadits yang sudah ma’ruf di tengah-tengah kaum muslimin, Imam Bukhari rahimahullah.

Imam Abu ‘Abdillah, Muhammad bin Isma’il al-Bukhary dinilai sebagai Amirul Mukminin dalam hadits, tidak ada seorang ulama pun yang menentang pendapat ini.

Lalu apa nikmat ALLAH atas sejak ia masih kecil?

Imam al-Lalika`iy meriwayatkan di dalam kitabnya Syarh as-Sunnah dan Ghanjar di dalam kitabnya Taariikh Bukhaara mengisahkan sebagai berikut:

”Sejak kecil Imam al-Bukhary kehilangan penglihatan pada kedua matanya alias buta. Suatu malam di dalam mimpi, ibunya melihat Nabi ALLAH, al-Khalil, Ibrahim ‘alaihis salam yang berkata kepadanya, ‘Wahai wanita, ALLAH telah mengembalikan penglihatan anakmu karena begitu banyaknya kamu berdoa.”

Pada pagi harinya, ia melihat anaknya dan ternyata benar, ALLAH telah mengembalikan penglihatannya.  (Asy-Syifa` Ba’da Al-Maradh karya Ibrahim bin ‘Abdullah al-Hazimy sebagai yang dinukilnya dari kitab Hadyu as-Saary Fi Muqaddimah Shahih al-Buukhary karya al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalany)

Hal di atas menunjukkan benarnya sabda Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam akan manjurnya Do’a Orang Tua pada anaknya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.
(HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

Tiga doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.
(HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 1797). Dalam dua hadits ini disebutkan umum, artinya mencakup doa orang tua yang berisi kebaikan atau kejelekan pada anaknya.

Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang yang dizholimi, doa orang yang bepergian (safar) dan doa baik orang tua pada anaknya.
(HR. Ibnu Majah no. 3862. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Riwayat ini menyebutkan bahwa doa baik orang tua pada anaknya termasuk doa yang mustajab.

Semoga setiap orang tua tidak melupakan doa untuk anaknya dalam kebaikan. Semoga ALLAH pun memperkenankan do’a kebaikan kita pada anak-anak kita.  Semoga mereka menjadi anak yang sholeh nantinya dan berbakti pada orang tua serta bermanfaat untuk Islam.

Wallahu waliyyut taufiq.


dikutip dari http://muslimahzone.com

Rabu, 24 Oktober 2012

bakti Saad bin Abi Waqqash pada Ibunda, seorang Lelaki Penghuni Surga

“Aku adalah orang ketiga yang memeluk Islam, dan orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan ALLAH,”

Demikianlah Sa’ad bin Abi Waqqash mengenalkan dirinya. Ia adalah orang ketiga yang memeluk Islam, dan orang pertama yang melepaskan anak panah dari busurnya di jalan ALLAH.

Sa’ad bin Abi Waqqash bin Wuhaib bin Abdi Manaf hidup di tengah-tengah Bani Zahrah yang merupakan paman Rasulullah SAW. Wuhaib adalah kakek Sa’ad dan paman Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah.

Sa’ad dikenal orang karena ia adalah paman Rasulullah SAW.  Dan beliau sangat bangga dengan keberanian dan kekuatan, serta ketulusan iman Sa'ad. Nabi bersabda, “Ini adalah pamanku, perlihatkan kepadaku paman kalian!”

Keislamannya termasuk cepat, karena ia mengenal baik pribadi Rasulullah SAW. Mengenal kejujuran dan sifat amanah beliau. Ia sudah sering bertemu Rasulullah sebelum beliau diutus menjadi nabi. Rasulullah juga mengenal Sa’ad dengan baik. Hobinya berperang dan orangnya pemberani. Sa’ad sangat jago memanah, dan selalu berlatih sendiri.

Kisah keislamannya sangatlah cepat, dan ia pun menjadi orang ketiga dalam deretan orang-orang yang pertama masuk Islam, Assabiqunal Awwalun.

Sa’ad adalah seorang pemuda yang sangat patuh dan taat kepada ibunya. Sedemikian dalam sayangnya Sa’ad pada ibunya, sehingga seolah-olah cintanya hanya untuk sang ibu yang telah memeliharanya sejak kecil hingga dewasa, dengan penuh kelembutan dan berbagai pengorbanan.

Ibu Sa’ad bernama Hamnah binti Sufyan bin Abu Umayyah adalah seorang wanita hartawan keturunan bangsawan Quraisy, yang memiliki wajah cantik dan anggun. Disamping itu, Hamnah juga seorang wanita yang terkenal cerdik dan memiliki pandangan yang jauh. Hamnah sangat setia kepada agama nenek moyangnya; penyembah berhala.

Pada suatu hari, Abu Bakar Ash-Shiddiq mendatangi Sa'ad di tempat kerjanya dengan membawa berita dari langit tentang diutusnya Muhammad SAW, sebagai Rasul ALLAH. Ketika Sa’ad menanyakan, siapakah orang-orang yang telah beriman kepada Muhammad SAW. Abu Bakar mengatakan dirinya sendiri, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah.

Seruan ini mengetuk kalbu Sa’ad untuk menemui Rasulullah SAW, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia pun memeluk agama ALLAH pada saat usianya baru menginjak 17 tahun. Sa’ad termasuk dalam deretan lelaki pertama yang memeluk Islam selain Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar As Siddiq dan Zaid bin Haritsah.

Setelah memeluk Islam, keadaannya tidak jauh berbeda dengan kisah keislaman para sahabat lainnya. Ibunya sangat marah dengan keislaman Sa'ad. “Wahai Sa’ad, apakah engkau rela meninggalkan agamamu dan agama bapakmu, untuk mengikuti agama baru itu? Demi ALLAH, aku tidak akan makan dan minum sebelum engkau meninggalkan agama barumu itu,” ancam sang ibu.

Sa’ad menjawab, “Demi ALLAH, aku tidak akan meninggalkan agamaku!”

Sang ibu tetap nekat, karena ia mengetahui persis bahwa Sa’ad sangat menyayanginya. Hamnah mengira hati Sa'ad akan luluh jika melihatnya dalam keadaan lemah dan sakit. Ia tetap mengancam akan terus melakukan mogok makan.

Namun, Sa’ad lebih mencintai ALLAH dan Rasul-Nya. “Wahai Ibunda, demi ALLAH, seandainya engkau memiliki 70 nyawa dan keluar satu per satu, aku tidak akan pernah mau meninggalkan agamaku selamanya!” tegas Sa'ad.

Akhirnya, sang ibu yakin bahwa anaknya tidak mungkin kembali seperti sedia kala. Dia hanya dirundung kesedihan dan kebencian.

ALLAH SWT mengekalkan peristiwa yang dialami Sa’ad dalam ayat Al-Qur’an, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15).

Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW, sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba beliau menatap ke langit seolah mendengar bisikan malaikat. Kemudian Rasulullah kembali menatap mereka dengan bersabda, "Sekarang akan ada di hadapan kalian seorang laki-laki penduduk surga."
Mendengar ucapan Rasulullah SAW, para sahabat menengok ke kanan dan ke kiri pada setiap arah, untuk melihat siapakah gerangan lelaki berbahagia yang menjadi penduduk surga. Tidak lama berselang datanglah laki-laki yang ditunggu-tunggu itu, dialah Sa’ad bin Abi Waqqash.

Disamping terkenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, Sa’ad bin Abi Waqqash juga terkenal karena keberaniannya dalam peperangan membela agama Allah. Ada dua hal penting yang dikenal orang tentang kepahlawanannya. Pertama, Sa’ad adalah orang yang pertama melepaskan anak panah dalam membela agama Allah dan juga orang yang mula-mula terkena anak panah. Ia hampir selalu menyertai Nabi Saw dalam setiap pertempuran.

Kedua, Sa’ad adalah satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah SAW dengan jaminan kedua orang tua beliau. Dalam Perang Uhud, Rasulullah SAW bersabda, "Panahlah, wahai Sa’ad! Ayah dan ibuku menjadi jaminan bagimu."

Sa’ad bin Abi Waqqash juga dikenal sebagai seorang sahabat yang doanya senantiasa dikabulkan Allah. Qais meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Ya Allah, kabulkanlah Sa’ad jika dia berdoa.”

Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Sa’ad bin Abi Waqqash adalah ketika ia memasuki usia 80 tahun. Dalam keadaan sakit, Sa’ad berpesan kepada para sahabatnya agar ia dikafani dengan jubah yang digunakannya dalam Perang Badar—perang kemenangan pertama untuk kaum Muslimin.

Pahlawan perkasa ini menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 55 H dengan meninggalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi’, makamnya para syuhada.

pelajaran dari kisah Saad bin Abi Waqqash sebagai seorang anak yang sangat berbakti pada Ibunya yang berbeda keyakinan tersebut memperlihatkan bahwa sayang kita yang amat sangat pada kedua Orang Tua tidaklah harus mengalahkan sayang dan cinta kita kepada ALLAH, hendaknya bakti kita pada Ibu Bapak adalah bukti Cinta kita pada ALLAH dan Rasulullah S.A.W, semoga.


dikutip dari republika.co.id dengan sedikit tambahan

Minggu, 21 Oktober 2012

Kisah Pengorbanan Seorang Ibu

Seorang anak terlahir normal, tanpa cacat sedikit pun. Proses kelahirannya berlangsung normal, tanpa operasi caesar. Tetapi proses panjang selama Sembilan bulan sebelum melahirkan itulah yang tidak normal. Bahkan, jika bukan karena kuasa ALLAH, takkan pernah terjadi sebuah kelahiran yang menakjubkan ini. Selain faktor pertolongan ALLAH, tentu saja ada sang bunda yang teramat luar biasa…

Pekan pertama setelah mengetahui bahwa dirinya positif hamil, si Ibu mengaku kaget bercampur haru. Perasaan yang luar biasa menghinggapi seisi hidupnya, sepanjang hari-harinya setelah itu. Betapa tidak, sekian tahun lamanya ia menunggu kehamilan, ia teramat merindui kehadiran buah hati penyejuk jiwa di rumah tangganya. Dan kenyataannya, ALLAH menanamkan sebentuk amanah dalam rahimnya. sang Ibu pun tersenyum gembira.

Namun kebahagiaan si Ibu hanya berlangsung sesaat, tak lebih dari dua pekan ia menikmati hari-hari indahnya, ia jatuh sakit. Dokter yang merawatnya tak bisa mendiagnosa sakit yang diderita sang Ibu. Makin lama, sakitnya bertambah parah, sementara janin yang berada dalam kandungannya pun ikut berpengaruh. Satu bulan kemudian, si Ibu tak kunjung sembuh, bahkan kondisinya bertambah parah. Dokter mengatakan, pasiennya belum kuat untuk hamil sehingga ada kemungkinan jalan untuk kesembuhan dengan cara menggugurkan kandungannya.

si Ibu yang mendengar rencana dokter, langsung berkata “tidak”. Ia rela melakukan apa pun untuk kelahiran bayinya, meski pun harus mati. “bukankah seorang ibu yang meninggal saat melahirkan sama dengan mati syahid ?” ujarnya menguatkan tekad.

Suaminya dan dokter pun sepakat menyerah dengan keputusan sang Ibu. Walau mereka sudah membujuknya dengan kalimat, “kalau kamu sehat, kamu bisa hamil lagi nanti dan melahirkan anak sebanyak kamu mau”. Namun sang Ibu tak bergeming. Janin itu pun tetap bersemayam di rahimnya.

Waktu terus berjalan, memasuki bulan ketiga, si Ibu mengalami penurunan stamina. Keluarga sudah menangis melihat kondisinya, tak sanggup melihat penderitaan sang Ibu. Tak lama kemudian, dokter menyatakan si ibu  dalam keadaan kritis. Tidak ada jalan lain, janin yang sudah berusia hampir empat bulan pun harus segera dikeluarkan demi menyelamatkan sang bunda.

Dalam keadaan kritis, rupanya sang Ibu tahu rencana dokter dan keluarganya. Ia pun bersikeras mempertahankan bayinya. “Ia berhak hidup, biar saya saja yang mati untuknya”. si Ibu pun memohon kepada suaminya untuk mengabulkan keinginannya ini. “Mungkin saja ini permintaan terakhir saya Mas, biarkan saya meninggal dengan tenang setelah melahirkan nanti. Yang penting saya bisa melihatnya terlahir ke dunia,” luluhlah sang suami.

Pengguguran kandungan pun batal.

Bulan berikutnya, kesehatan sang Ibu tak berangsur pulih. Di bulan ke enam kehamilannya, ia drop, dan dinyatakan koma. Satu rumah dan dua mobil sudah habis terjual untuk biaya rumah sakit sang Ibu selama sekian bulan. Saat itu, suami dan keluarganya sudah nyaris menyerah. Dokter dan pihak rumah sakit sudah menyodorkan surat untuk ditandatangani suami si Ibu, berupa surat izin untuk menggugurkan kandungan. Seluruh keluarga sudah setuju, bahkan mereka sudah ikhlas jika ALLAH berkehendak terbaik untuk si Ibu dan bayinya.

Seorang bunda memang selalu luar biasa. Tidak ada yang mampu menandingi cintanya, dan kekuatan cinta itu yang membuatnya bertahan selama enam bulan masa kehamilannya. Maha Suci ALLAH yang berkenan menunjukkan kekuatan cinta sang bunda, menjelang sang suami menandatangani surat izin pengguguran, si Ibu mengigau dalam komanya. “Jangan, jangan gugurkan bayi saya. Ia akan hidup, begitu juga saya” Kemudian ia tertidur lagi dalam komanya.

Air mata meleleh dari pelupuk mata sang suami. Ia sangat menyayangi isteri dan calon anaknya. Surat pun urung ditandatanganinya, karena jauh dari rasa iba melihat penderitaan isterinya, ia pun sangat memimpikan bisa segera menggendong buah hatinya. Boleh jadi, kekuatan cinta dari suami dan isteri ini kepada calon anaknya yang membuat ALLAH mengaruniakan keajaiban.

ALLAH Maha Kuasa. Ia berkehendak tetap membuat hidup bayi dalam kandungan sang Ibu, meski sang bunda dalam keadaan koma. Bahkan, setelah hampir tiga bulan, si Ibu tersadar dari komanya. Hanya beberapa hari menjelang waktu melahirkan yang dijadwalkan. Ada kekuatan luar biasa yang bermain dalam episode cintanya. Kekuatan ALLAH dan kekuatan cinta sang bunda.

Bayi itu pun terlahir dengan selamat dan normal, tanpa cacat, tanpa operasi caesar. “Mungkin ini bayi termahal yang pernah dilahirkan. Terima kasih ALLAH, saya tak pernah membayangkan bisa melewati semua ini,” ujar si Ibu menutup kisahnya.


dikutip dari http://terkonyol.blogspot.com

Sabtu, 20 Oktober 2012

Ibu dan Bapak yang beriman melahirkan dan mempersiapkan generasi yang beriman.

ini adalah kisah seorang anak cerdas bernama sayyid Muhammad Husein Thoba Thoba'i, seorang anak yang sejak dalam kandungan hingga masa kelahirannya sangat dipersiapkan dengan baik oleh kedua orang tuanya

berikut adalah kisahnya..

selama masa kehamilan, Ibu Husein Tabataba'i selalu berdo'a kepada ALLAH agar dikaruniai seorang anak yang soleh dan cerdas

saat mengandung dan menyusui Husein Tabataba'i, Ibunya teratur membacakan Al-Qur'an untuknya. sehari minimal 1 juz.

ketika Husein Tabataba'i telah lahir, sang Ibunda selalu berwhudu sebelum menyusuinya. bersamaan dengan menyusui, Ibunda Husein Tabataba'i senantiasa memperdengarkan Al-Qur'an untuknya. jadi Ibunya bertilawah sambil menyusui putranya itu.

sejak kecil, Ayah dan Ibunda Husein Tabataba'i telah menjauhkannya dari musik dan lagu yang tidak Islami, campur baur perempuan dan lelaki, serta hal lain yang tak sejalan dengan aturan syar'i.

Akhirnya lahirlah seorang anak yang hebat, SUBHANALLAH..

anak termuda yang hafal seluruh Al-Qur'an, ia juga adalah seorang anak yang masih berumur 7 tahun yang mendapat gelar Doktor dalam bidang Tafsir Al-Qur'an.

Husein Tabataba'i dilahirkan pada 16 februari 1991 dikota Qom sekitar 135 km dari teheran, Iran. kedua orang tuanya komitmen menghafalkan Al-Qur'an, enam tahun setelah berkeluarga keduanya telah menghafal Al-Qur'an 30 juz sesuai dengan cita-citanya. dan cita-cita yang sama juga ingin diwujudkannya pada anak mereka, sejak usia dini.

pada usia 2 tahun 4 bulan, Husein Tabataba'i sudah hafal juz 30, lalu setelah itu juz 29, kemudian juz pertama, kedua dan seterusnya.

dan akhirnya Husein Tabataba'i menjadi anak yang memiliki banyak kelebihan diusianya yang saat itu masih sangat muda, semua ini adalah kerja keras dan tekad kuat Ibu Bapaknya dalam mempersiapkan generasi shalih dan cerdas seperti Husein Tabataba'i, Ibu dan Bapak yang shalih dan beriman akan senantiasa melahirkan generasi yang shalih dan beriman.


dikutip dari mardhotillah-bp.blogspot.com dengan sedikit tambahan

Rabu, 17 Oktober 2012

Aminah, Ibunda berhati mulia, Ibunda dari manusia mulia.

Seorang wanita berhati mulia pemimpin para ibu. Seorang ibu yang telah menganugrahkan anak tunggal yang mulia pembawa risalah yang lurus dan kekal, rasul yang bijak pembawa hidayah.

Dialah Aminah binti Wahab. Ibu dari Muhamamad bin Abdullah yang diutus oleh ALLAH sebagai rahmat seluruh alam.

Cukuplah baginya kemuliaan dan kebanggaan yang tidak dapat dipungkiri, bahwa ALLAH azza wa jalla memilihnya sebagai ibu seoarang rasul mulia dan nabi yang terakhir.

Berkatalah Muhammad SAW puteranya tentang nasabnya.

"ALLAH telah memilih aku dari kinanah, dan memilih kinanah dari suku quraisy bangsa Arab. Aku berasal dari keturunan orang-orang yang baik, dari orang - orang yang baik". dengarlah sabdanya lagi "Allah memindahkan aku dari sulbi - sulbi yang baik dari rahim - rahim yang suci secara terpilih dan terdidik. tiadalah bercabang dua, melainkan aku dibagian yang yang terbaik". Aminah bukan saja ibu dari seorang Rasul atau Nabi, tetapi juga wanita pengukir sejarah.

Karena risalah yang dibawa putera tunggalnya sempurna, benar dan kekal sepanjang zaman. Suatu risalah yang bermaslahat bagi umat manusia. Berkatalah ibnu ishaq tentang aminah binti wahab ini. " Pada waktu itu ia merupakan gadis yang termulia nasab dan kedudukannya disuku quraisy."

tiadalah sesuatu yang ALLAH jadikan melainkan padanya terdapat banyak hikmah dan pengajaran, ALLAH SWT memilih hambanya Aminah menjadi Ibu dari hamba terpilihnya Rasulullah Muhammad SAW tentu ada maksud yang besar, dan pilihan ALLAH tiada akan pernah salah dan tentunya sempurna dari cacat, Aminah adalah hambanya yang mulia sebab seorang Rasulullah SAW tidak akan lahir kecuali dari rahim seorang Ibu yang mulia, Aminah binti Wahab.


dikutip dari http://bolang33.blogspot.com dengan sedikit tambahan

Senin, 15 Oktober 2012

Kecintaan Ibu

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu” (Qs. Luqman : 14).

Dikisahkan bahwa setelah Ibu Nabi Ismail, Siti Hajar, mendapatkan pancaran air yang kemudian bernama Zam Zam, yang mula-mula sekali diberi minum hingga kenyang adalah anaknya. Bukan dirinya sendiri. Padahal pada saat sama, ia sendiri sedang sangat kehausan. Apalagi telah berulangkali berlari-lari dari Bukit Safa ke Marwah, mencari sumber air.

Dari kisah ini antara lain dapat difahami betapa tinggi kecintaan seorang ibu sejati kepada anak(-anaknya). Tentunya bukan hanya ibu Nabi Ismail, ibu-ibu orang lain juga banyak yang demikian. Kalau memungkinkan, seorang ibu ingin menggantikan rasa haus atau rasa sakit atau penderitaan lain yang mengganggu kenyamanan hidup anaknya. Seorang ibu ibarat lilin, yang rela membiarkan dirinya hancur demi menerangi sekelilingnya. Seperti seorang ibu yang mau bertaruh nyawa, berjuang antara hidup dan mati ketika melahirkan bayinya. Sehingga sangat wajar diberikan apa yang sangat dicari manusia, yaitu pahala syahid, bagi ibu yang meninggal dunia saat melahirkan.

Dalam sejumlah hadits, Rasulullah juga memberikan penghargaan yang tinggi kepada ibu. Antara lain, ketika ditanyakan kepada siapa yang pertama sekali harus berbakti di dunia ini, Rasulullah menjawab, “ibumu.” Jawaban yang demikian diulangnya hingga tiga kali, baru kemudian dijawab, “ayahmu.”


dikutip dari http://aceh.tribunnews.com 

Jumat, 05 Oktober 2012

Ridha Ibu Sepanjang Jalan

Seorang pelayan Anas bin Malik yang bernama Ibban bin Shaleh suatu ketika berjalan melewati sebuah pasar yang ramai di tengah kota Basrah. Dia merasa heran menyaksikan empat orang laki-laki menggotong sebuah keranda mayat tanpa ada yang lain mengikuti atau melayat di tengah keramaian. Lantas Ibban bergabung dengan iringan kecil tersebut menyusuri jalan menuju pemakaman. Setelah tiba di tujuan, dia bermaksud hendak supaya jenazah dishalatkan dahulu.

“Siapakah di antara kalian yang menjadi wali jenazah agar menjadi imam shalat jenazahnya?” tanya Ibban.

“Kami semua tidak satu pun yang menjadi wali jenazah ini. Silakan anda maju memimpin shalat jenazah,” jawab salah satu di antaranya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ibban maju menjadi imam shalat jenazah. Setelah itu baru jenazah mereka kuburkan. Usai prosesi pemakaman, Ibban kembali bertanya kepada mereka.

“Kenapa kalian tidak jujur menceritakan tentang siapa sebenarnya jenazah itu?”

“Sungguh! Tidak seorang pun di antara kami yang mengetahui sejatinya jenazah itu kecuali wanita yang
berada di sana. Dia yang menyewa kami,” jawabnya sambil menunjuk ke arah seorang wanita tua yang berdiri agak jauh. Wanita tersebut kemudian mendekati makam sedangkan keempat laki-laki itu pergi meninggalkan pemakaman.

Tanpa disadari wanita itu, Ibban mengamati gerak-geriknya dengan tatapan curiga. Ibban makin penasaran setelah melihat wanita tersebut menyunggingkan senyuman kecil ke arah makam jenazah tadi. Ibban lantas menghampiri wanita itu untuk mengetahui duduk perkaranya.

“Demi Allah, aneh, apakah engkau berkenan mengatakan sebab mengapa anda tersenyum ketika seharusnya anda bersedih?” tanya Ibban.

“Biar saja. Apa urusan anda menanyakan hal tersebut kepadaku?” jawabnya dengan ketus.
Tampak wajahnya merasa terusik dengan pertanyaan Ibban. Jawaban itu tidak membuat Ibban marah namun malah memperbesar rasa penasarannya.

“Katakanlah kepadaku apa yang sebenarnya terjadi. Aku adalah Ibban bin Shaleh, pelayan Anas bin Malik yang juga sahabat dan pelayan Rasulullah,” pinta Ibban.

Mendengar penuturan Ibban, roman muka wanita tersebut mulai berubah lebih ramah.

“Wahai Ibban, seandaainya bukan karena itu aku enggan menceritakan semuanya,” katanya mulai jujur.

“Ketahuilah, jenazah ini adalah anakku. Semasa hidupnya dulu dia banyak menuruti hawa nafsunya. Semalam dia sakit parah, dia memanggilku dan memberi beberapa wasiat.

Pertama, apabila dia meninggal dunia, aku tidak usah memberitahu siapapun di antara tetangganya. Kedua, ia memintaku untuk mengambil cincinnya dan mengukir tulisan di atasnya kalimat Laa ilaaha ilallah Muhammadur Rasulullah. Ketiga, ia memintaku agar aku meletakkan cincin itu di antara kulit dan kain kafannya. Keempat, ia memintaku apabila telah dimasukkan ke liang kubur agar aku meletakkan tanganku pada ikat rambutku, lalu menengadah ke hadlirat ALLAH untuk memohon ampunan untuknya dengan mengucapkan Ya Allah hamba telah ridha pada anak hamba maka berilah ia keridhaan-Mu.

Perempuan tua itu membeberkan kisah kematian anaknya dan latar belakang perilaku ganjil sebelumnya. Perempuan tersebut melanjutkan kisahnya.

“Setelah selesai menyampaikan wasiatnya ia meminta untuk terakhirnya agar aku meletakkan kaki kananku di tengah wajahnya sambil berkata Ini adalah balasan bagi orang yang durhaka kepada Allah azza wa jalla.”
Ibban terharu mendengar penuturan wanita ini. Terharu terhadap niatan taubat anaknya dan terharu kepada kelembutan sang ibu meski sering disakiti. Bagaimanapun pintu taubat masih terbuka selama manusia belum meregang nyawa.

“Sebenarnya aku tak ingin menuruti pesannya untuk meletakkan kaki kananku di atas wajahnya. Namun aku tak ingin mengkhianati amanah. Aku tidak mengangkatnya dari tengah wajahnya hingga ia menghembuskan nafas terakhir.”

Matanya menjadi sembab oleh tangis demi mengingat saat-saat terakhir anaknya.

“Kemudian aku menyewa empat orang tadi untuk mengurus jenazah anakku. Mereka memandikan, mengkafani, membawanya ke kuburan, dan memakamkannya seperti yang anda lihat tadi. Setelah mereka pergi, aku meletakkan tanganku pada ikat rambutku dan menengadah ke hadirat ALLAH sambil berucap Ya Arham ar-Rahim, wa Akram al-Karamiin (Ya ALLAH Yang Maha Pengasih dan Ya ALLAH Yang Maha Pemurah), Ya ALLAH yang Maha menyelesaikan segala sesuatu, Engkau mengetahui tentang kami, baik yang rahasia maupun yang tampak, Engkau melihat yang terlihat maupun yang tersamar, anak hamba yang durhaka dan berdosa serta salah telah menyampaikan kepada Engkau melalui keridhaan ibunya yang hina dan miskin ini, hamba telah merelakannya maka berikanlah keridhaan-Mu kepadanya.

Ibban masih tepekur menyimak segala kisah perempuan tersebut.

“Wahai Ibban, setelah aku memanjatkan doa kepada ALLAH, aku mendengar suara dalam kubur Pergilah ibu, aku telah menghadap ALLAH Yang Maha Pemurah dan Dia telah mengampuniku. Itulah ikhwal yang membuatku tersenyum.”

Bahkan Ibban tak kuasa menahan sedih dan haru, betapa lembut perempuan ini. Betapa juga kesungguhan taubat almarhum benar-benar didengar ALLAH mengampuni dosa anak dari wanita itu.

Lantas perempuan itu pergi berlalu meninggalkan Ibban bin Shaleh yang masih tercenung seorang diri memikirkan ikhtibar yang barusan didapatkannya.

dari kisah ini kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran bahwa sejahat-jahatnya seorang anak pintu ampunan ALLAH dan maaf Ibunda selalu terbuka untuknya, bahkan seorang pendosa yang berada pada saat sakaratul mautnya, ALLAH yang Maha Rahman dan Rahim akan selalu membuka pintu taubat yang seluas-luasnya bagi hambanya yang ingin bertaubat, apatah lagi seorang hamba yang telah mendapat ampunan dan ridha kedua Ibu Bapaknya tentu juga akan mendapat ridha ALLAH SWT, sebab ridha ALLAH bergantung juga ridha kedua orang tua yang akan ada sepanjang jalan dalam hidup seorang anak. 


dikutip dari http://cakidur.wordpress.com dengan sedikit tambahan

Kamis, 04 Oktober 2012

Ibu, Sosok yang Sangat Berharga

Wahai para gadis, kalian adalah sosok yang diciptakan untuk menjadi ibu. Maka dari itu, persiapkanlah diri untuk bisa mengajarkan hakekat keibuan yang sebenarnya kepada anakmu nanti. Engkau akan mengemban sebuah tugas yang sangat mulia di dunia ini, maka tanamkan perasaan bangga sebagai calon ibu. Janganlah sampai kalian merusak kenikmatan yang telah ALLAH SWT berikan ini, misalnya dengan melakukan hubungan yang haram dengan lawan jenis (berzina), terlebih dengan yang sejenis (lesbian).

Wahai para calon ibu, engkau adalah orang yang bernilai sangat mahal dan agung. Karena status ibu adalah yang terbaik buatmu sekaligus merupakan penghormatan yang terbaik kepadamu. Namun, apakah kalian telah memahami makna yang amat berharga ini ? Apakah kalian sejak masih sendiri telah mempersiapkan segala sesuatu yang kelak di butuhkan sebagai seorang ibu dan bagi anak-anakmu ? kita berharap tidak ada anggapan remeh tentang hal ini, dan engkau sudi mempersiapkannya dengan baik dari sekarang. Karena janganlah sekali-kali kalian membuat kebanggaan sebagai seorang ibu menjadi surut dan menghilang. Atau janganlan kalian merasa bahwa tidak bersedia menjadi seorang ibu, mempunyai keturunan dan mengajarkan kebaikan dengan alasan sudah ketinggalan zaman dan peradaban. Tetapi jadilah ibu yang shalih dan tangguh serta tidak pernah malu dengan kodrat ini.

Dengan rahmat-Nya, maka sejatinya setiap manusia itu baik laki-laki ataupun perempuan akan sama derajatnya di hadapan ALLAH SWT.

Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda; “Sesungguhnya kaum perempuan setara dengan kaum laki-laki” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad-Darimi dan Ibn Majah)

Hadits ini menunjukkan tingkat persamaan antara kaum perempuan dengan laki-laki, serta kedudukan tinggi perempuan di dalam pandangan Islam. Sehingga kalian memiliki kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki dalam hal ibadah dan berperilaku baik yang benar sesuai syariat agama. Bahkan inilah pintu gerbang pertama bagi kalian untuk merengguh harkat dan martabat yang mulia disisi ALLAH SWT. Menjadikan dirimu sebagai seorang hamba yang shalihah baik di dunia maupun kelak di yaumil akhir.

Sehingga meski ada pertanyaan yang mengatakan bahwa mengapa perempuan yang tengah haid diharamkan melakukan shalat ? Kemudian bagaimana bisa ia akan menyamai amal ibadah seorang laki-laki bila ada hambatan yang mencegahnya untuk terus beribadah ? Maka itu tidaklah menjadi soal, sebab jawabannya sederhana, yaitu; karena ALLAH SWT telah membebankan sebuah tugas yang sangat berat kepada kaum perempuan, yaitu tugas dalam keberlangsungan kehidupan umat manusia. Karena saat haid, kalian telah mempersiapkan kehidupan baru dengan terjadinya pergantian sel telur (Ovum) baru dan hormon yang lebih baik. Dan haid yang dialami itu adalah sebuah proses alami dan bukanlah hal yang memalukan. Kalian adalah bagian utama dari sumber kehidupan. Untuk itulah maka haid tidaklah menjadi sesuatu yang menjijikkan melainkan sebuah harapan dan kemuliaan.

Rasulullah SAW kepada istrinya pernah mencontohkan bahwasannya keadaan haid tidaklah menjadikan seseorang harus menjauhi cinta, kasih sayang dan romantisme. Sebagaimana hadits-hadits berikut ini:
Aisyah RA berkata: ”Pernah aku minum, sedangkan aku pada saat itu sedang dalam keadaan haid. Kemudian aku memberikan minuman tersebut kepada Nabi SAW (dari bejana yang sama), dimana beliau menempelkan mulutnya persis ditempat bekas minumku, lalu beliau minum. Pernah pula aku makan daging yang tersisa dari tulang dengan menggigitnya, sedangkan aku dalam keadaan haid. Kemudian aku memberikan daging itu kepada Nabi SAW, lalu beliau meletakkan mulutnya pada bekas mulutku” (Shahih Muslim no.300)

Aisyah RA berkata: “Bahwa Nabi SAW jika ber`itikaf, beliau mendekatkan kepalanya kepadaku. Kemudian aku menyisirnya, sedangkan aku dalam keadaan haid” (Shahih Al-Bukhari no. 5211 dan Shahih Muslim no. 2445).


Aisyah RA telah berkata “Bahwasanya Nabi SAW membaca Al-Qur`an (mengulangi hafalan) dan kepala beliau berada di pangkuanku, sedangkan aku dalam keadaan haid” (Shahih Al-Bukhari no. 7945)

Sehingga antara seorang wanita yang sedang tidak haid atau sedang haid maka tidak akan menjadi masalah untuk tetap dicintai, memberikan kasih dan sayang kepadanya. Justru dengan itulah maka akan semakin meningkatkan rasa cinta dari keduanya.

Wahai kaum perempuan, karena tugas yang sangat besar maka ALLAH SWT meringankan perintah dalam menjalankan ibadah (shalat, puasa, dll) kepada kalian. Ini menunjukkan bahwa ALLAH SWT telah sangat adil kepada semua hamba-Nya. Jika ALLAH SWT membebani kalian dengan sebuah perkara yang berat, sudah seharusnya ALLAH SWT juga memberikan keringanan kepadamu dalam bentuk yang lain. Oleh sebab itu, janganlah sampai kalian mengatakan bahwa ALLAH SWT tidak adil dengan memberikan peluang lebih banyak kepada kaum laki-laki dalam hal ibadah. Karena sebenarnya ALLAH SWT justru telah memberikan kesempatan yang lebih besar kepada kalian dari pada kaum laki-laki.

Berbanggalah engkau yang kelak menjadi ibu, karena ALLAH SWT telah menitipkan rahmat kepadamu. ALLAH SWT telah menyerahkan kelanjutan pertumbuhan manusia ini memang kepada keluarga, namun peran terbesarnya adalah tetap pada seorang ibu. Peran ayah hanya sebatas menanamkan sperma ke dalam rahimmu. Sedangkan sejak di dalam rahim maka seorang anak akan bergantung pada dirimu. Oleh karena itulah engkau dikatakan sebagai sumber kehidupan.

Ibu sangat berharga di sisi ALLAH SWT. Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa pahala seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya adalah seperti pahala orang yang puasa dan shalat malam. Artinya, jerih payah ibu saat mengendong anaknya, menimang-nimangnya, memandikannya, menggantikan pakaiannya, menyusuinya siang malam dan menjaganya dari kecelakaan, maka di saat itu seorang ibu akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa dan mendirikan shalat malam. Bahkan sejak masa awal kehamilan maka seorang ibu telah diampuni dosa-dosanya.

Jadi, berbahagialah engkau sebagai seorang wanita yang akan atau telah menjadi seorang ibu. Karena engkau akan menjadi petunjuk bagi rahmat ALLAH SWT. Hingga tak mengherankan bila do`a yang selalu kalian (ibu) panjatkan akan dikabulkan oleh ALLAH SWT. Kalian adalah bentuk nyata dari rahmat ALLAH SWT di dunia ini. Semenjak hamil, lalu melahirkan anak dan berpredikat sebagai ibu, kalian menjadi sangat berharga di sisi ALLAH SWT, sekaligus menjadi contoh dari cinta dan kasihsayang secara nyata.


dikutip dari http://oediku.wordpress.com

Rabu, 03 Oktober 2012

Pengorbanan & kebahagiaan Ibu

tidak ada seorang pun yang paling berjasa kepada kemanusiaan melebihi jasa seorang ibu. Karenanya dalam Al-Qur’an Allah swt. tidak segan menceritakan perih dan lelah seorang ibu saat hamil dan menyusui. Dalam surah Luqman:14, Allah berfirman: ”Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

Perhatikan ayat ini, dibuka dengan perintah agar berbuat baik kepada ibu bapaknya, setelah itu Allah menceritakan secara khusus tentang capeknya seorang ibu ketika mengandung anaknya. Sementara capeknya ayah tidak diceritakan. Silahkan cari dalam Al-Qur’an maupun hadits kalau pernah disebut mengenai capeknya seorang ayah. Sungguh hanya sang ibu yang banyak disebut. ketika Rasulullah SAW ditanya oleh sahabatnya: “Ya Rasulullah, kepada siapa aku harus berbakti paling baik?”Jawab Rasul: “Kepada ibumu”‘ “Lalu?”,tanya sang sahabat kembali. Jawab Rasul: “Kepada ibumu”‘ “Lalu?”, tanya kembali sang sahabat, kembali Rasul menjawab: “Kepada ibumu” Sang sahabat bertanya kembali “Lalu?”, jawab Rasul “Kepada ayahmu”. Demikianlah, sebuah perkataan / hadits yang singkat tetapi berdasarkan perenungan yang panjang akan makna hakiki seorang ibu.

Namun sayang, banyak anak begitu mudah melupakan jasa besar sang ibu. Kalau pun berbuat baik cenderung perbuatan itu semata basa-basi, datang setahun sekali menemuinya di hari raya. Basa-basi mencium tangannya dan lain sebagainya, sementara pesan-pesannya yang baik tidak dipatuhi. Banyak para ibu yang merindukan anaknya agar mentaati Allah swt. Namun banyak anak yang justru membalas kebaikan ibunya dengan berbuat maksiat kepada-Nya. Sungguh ini suatu kedurhakaan.

Ketika sang bayi terbangun dan menangis di malam hari, dengan sigap sang ibu pun ikut bangun, dengan lembut ia menggantikan popok sang bayi, lalu memberikan yang terbaik untuk sang bayi yaitu ASI nya dan menemaninya sampai sang bayi pun tertidur pulas. Sungguh semua itu dilakukannya hampir tanpa keluhan, bahkan dengan bahagianya dia menjalankan amanah tersebut. Bagaimana bisa? Kasih sayang jawabnya. Andaikan kita para pendidik mampu mengadopsi jawaban tersebut dalam menjalankan amanah mendidik kita, niscaya luar biasa percepatan belajar yang akan terjadi pada anak didik kita. Rasa cinta dan kasih sayang membuat amanah menjadi mudah & membahagiakan.

Ingatkah kita bagaimana sang bunda menyediakan berbagai jenis mainan di sekeliling kita. Betapa kita merasakan bagaimana bentuk dan warna mainan itu membuat mata kita aktif tajam memperhatikannya, suara mainan itu membuat telinga kita aktif asyik mendengarkannya, bagaimana gerakan mainan itu membuat tangan dan kaki kita menjadi tak bisa diam. Dan kita pun menjadi semakin cerdas karenanya.

Berdiri, melangkah dan berjalan merupakan sebuah proses yang rumit dalam perkembangan sang bayi. Ketika sang anak berusaha berdiri, lalu terjatuh, bangun berdiri dan terjatuh lagi, bangun lagi, dengan kesabaran yang luar biasa sang bunda terus mendampingi dan terus memotivasi kita untuk bisa . Dalam hatinya dia berkata “Suatu hari anakku pasti akan bisa!”. Rasanya tak ada seorang pun ibu yang putus asa ketika melihat bayinya terjatuh kembali dalam usahanya untuk mampu berdiri.

Sosok sang ibu sebagai pemotivasi sungguh luar biasa. Betapapun kecilnya perkembangan yang dicapai sang bayi, tetapi ungkapan wajah bahagia dan senyum dari sang bunda selalu ditampakkannya, membuat sang bayi menjadi lebih termotivasi lagi. Betapa kita perhatikan bagaimana sang bayi mencapai percepatan belajar yang luar biasa dalam lingkungan yang begitu memotivasi. Tatkala sang bayi baru mampu melangkah satu langkah, maka tepukan tangan, seruan gembira dan bahagia dari sang ibu dan orang-orang di sekelilingnya, membuat sang bayi semakin termotivasi untuk melangkah lebih maju lagi.

Dalam setiap kesempatan yang ada, terlebih ketika memandangi bayinya yang sedang tertidur pulas, hampir tak pernah terlewatkan betapa ikhlas sang bunda memanjatkan dengan penuh kekhusyu’an do’a-do’a untuk anaknya

Tidak ada artinya kebaikan seorang anak kepada ibunya secara material, sementara ia selalu berbuat maksiat kepada Allah. Karenanya banyak para ulama mengatakan: ”Pengabdian seorang anak yang paling baik bagi orang tuanya adalah menjadikan dirinya sebagai anak yang saleh.” Inilah rahasia hadits Rasulullah saw. yang berbunyi: ”Waladun shaalihun yad’u lahuu (anak yang shaleh yang selalu mendoakan untuk kedua orang tuanya)". kata shalih dalam teks hadits tersebut. Ini untuk menegaskan bahwa hanya anak yang shalih yang benar-benar akan memberikan kebahagiaan bagi orang tuanya: bahagia secara material maupun secara spiritual. Sementara anak durhaka tidak akan pernah memberikan kebahagiaan hakiki bagi orang tuanya. 


dikutip dari http://zutars.blogspot.com

Selasa, 02 Oktober 2012

Wanita Mulia Sebagai Ibu

Lahir sebagai wanita adalah anugerah hebat dari ALLAH. Apatah lagi berpeluang menjadi seorang ibu. memang wanita tidak segagah lelaki tetapi wanita mempunyai kehebatan tersendiri. dibalik kehebatan seorang lelaki sudah pasti ada seorang wanita yang lebih hebat di belakangnya….yang mengandungkannya dengan kasih sayang, yang bertarung nyawa melahirkannya, bersusah-payah membesarkannya, mendidik dan mengajarnya hingga menjadi sebegitu hebat....

Ibu solehah yang hebat sudah pasti dapat menilai yang mana permata dan yang mana kaca. Ibu yang hebat sudah pasti akan memilih acuan yang terbaik untuk anak-anaknya. Sudah pasti misinya melahirkan anak-anak yang hebat di sisi ALLAH dan dalam kacamata manusia.

Anak yang menjadikan dunia tempat untuk mencari keredhaan ALLAH, yang senantiasa bermanfaat pada setiap manusia di sekelilingnya, yang mempunyai kecerdasan akal, ketinggian akhlak, yang menjadi penenang jiwa dan pengobat hati serta penyemangat dalam hidup.

Anak yang akan senantiasa mendoakan kedua ibu bapaknya. namun tidak mudah untuk melahirkan anak-anak yang sedemikian rupa.

Sudah pasti memerlukan pengorbanan dan kemauan yang tinggi dan rasa tanggungjawab terhadap amanah ALLAH itu sendiri. Amanah yang kelak akan dipertanggung jawabkan...

Walaupun tanggungjawab mendidik anak-anak lebih terletak pada bapak, ibu juga memainkan peranan yang besar dalam merealisasikan peranan bapak itu sendiri. Ibu adalah manusia yang paling dekat dengan anak.

Sejak berada di alam rahim selama 9 bulan 10 hari dan anak itu dilahirkan ke dunia. Setiap tingkah laku ibu diperhatikan oleh anak.

Ibu menjadi role model pertama, ibu adalah guru pertama yang mendidik anak-anak. Jika baik ibu itu, Insya ALLAH baiklah anaknya.....

Ibu yang hebat akan mendidik dirinya terlebih dahulu sebelum mendidik anak-anaknya sebab kita tidak akan mampu untuk memberi sekiranya diri kira sendiri tidak pernah memilikinya.

Didiklah dirimu wahai ibu sebelum kamu mendidik anak-anakmu. Bersusah-payahlah membetulkan dirimu terlebih dahulu. Sudah pasti sesudah kesusahan, pasti ada kesenangan. Biarlah kita menangis sekarang, jangan kelak kita menangis dan kesal atas kelalaian kita dalam mendidik anak-anak.....

Maka, didiklah anak-anak dengan didikan Islami agar mampu melahirkan generasi-generasi membanggakan, membanggakan bagi kedua orang tuanya dunia dan akhirat.


dikutip dari http://movi-zamel.blogspot.com dengan sedikit tambahan

Senin, 01 Oktober 2012

Kisah Nyata Doa Terkabul – “Kesabaran Berlapis” seorang Ibu

Menurut para ulama, sabar adalah setengah keimanan. Yang setengah lagi adalah syukur. Secara etimologi, sabar (ash shabr) berarti menahan (al habs). Dari sini sabar dimaknai sebagai upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridha Allah. Sabar adalah akhlak mulia yang paling banyak disebutkan dalam Al Qur’an. Lebih dari seratus kali Al Qur’an menyebutkan kata sabar. Itu artinya, sabar adalah sebuah keutamaan. Sabar adalah poros sekaligus asas segala macam kemuliaan akhlak.
Muhammad bin Abdul Aziz Al Khudhairi mengungkapkan bahwa saat kita menelusuri kebaikan serta keutamaan, kita akan menemukan bahwa sabar selalu menjadi asas dan landasannya. ‘Iffah (menjaga kesucian diri) misalnya, adalah bentuk kesabaran dalam menahan diri dari memperturutkan syahwat. Qana’ah (merasa cukup dengan apa yang ada) adalah sabar dengan menahan diri dari angan-angan dan keserakahan. Hilm (lemah-lembut) adalah kesabaran dalam menahan dan mengendalikan amarah. Pemaaf adalah sabar untuk tidak membalas kesalahan orang lain. Demikian pula akhlak-akhlak mulia lainnya, semuanya memiliki kaitan erat dengan kesabaran.

Kedudukan sabar dalam agama bagaikan kepala bagi jasad.
Jika kepala putus, badan pun akan hancur”.

— Ali bin Abi Thalib —

Di sini saya kutipkan sebuah kisah kesabaran berlapis dari seorang ibu saat menghadapi salah satu kondisi tersulit dalam hidupnya. Ibu ini sangat sabar dalam berdoa, berikhtiar, dan menunggu pertolongan Allah. Kisah ini diceritakan seorang dokter, Dr. Abdullah namanya. Ia mengungkapkan pengalamannya:

“Seorang ibu berusia sekitar 40 tahunan datang kepada saya dengan menyeret langkah-langkah kakinya, ia menggendong anaknya yang tengah sakit parah. Ia memeluk anaknya yang masih kecil ke dadanya, seakan-akan anak tersebut adalah potongan tubuhnya. Kondisi anak itu memprihatinkan, terdengar satu dua tarikan nafas dari dadanya.

‘Berapa umurnya?’

Ia menjawab, ‘Dua setengah tahun.’

Saya dan tim dokter melakukan pemeriksaan kepada anak itu, ternyata pembuluh-pembuluh darah di livernya mengalami masalah serius. Kami pun segera melakukan tindakan operasi kepadanya. Alhamdulillah, dengan penanganan yang cepat dan tepat operasi pun berhasil dilakukan dengan baik. Dua hari setelah operasi, anak itu sudah sehat kembali. Ibunya pun tampak gembira.

Ia bertanya kepada saya, ‘Kapan anak saya boleh pulang Dok?’

Ketika saya hendak menulis surat keterangan pulang, tiba-tiba anak kecil itu mengalami pendarahan hebat di tenggorokannya, sehingga jantungnya berhenti berdetak selama 45 menit. Kesadarannya langsung hilang. Tim dokter langsung berkumpul di ruangannya untuk memberikan pertolongan. Beberapa jam telah berlalu, tetapi kami tidak sanggup membuatnya tersadar.

Salah seorang anggota tim dokter segera mendatangi ibu itu dan berkata kepadanya, ‘Kemungkinan anak Anda mengalami kematian otak (koma) dan saya mengira bahwa ia tidak memiliki harapan untuk hidup.’ Saya menoleh kepada teman saya itu dan memperingatkannya agar tidak mengatakan sesuatu yang melemahkan semangat dan belum tentu terjadi.

Lalu saya melihat kepada si ibu, demi Allah, perkataan teman saya itu tidak menambah selain ia mengucapkan, ‘Penyembuh adalah Allah, Pemberi kesehatan adalah Allah.’

Ia pun berkata, ‘Saya hanya memohon kepada Allah jika ada kebaikan pada kesembuhan anak saya, semoga Allah menyembuhkan ia.’ Setelah itu ia diam dan berjalan menuju sebuah kursi kecil, lalu duduk. Kemudian ia mengambil mushaf kecilnya yang berwarna hijau dan membacanya.

Para dokter pun keluar, saya juga keluar bersama mereka. Saya berjalan melewati anak itu, kondisinya belum berubah, sesosok tubuh yang terbujur kaku laksana mayat di atas tempat tidur putih. Lalu saya menoleh kepada ibunya, keadaannya juga masih tetap seperti sebelumnya. Ia asyik membaca Al Qur’an. Sepertinya, wanita ini tak bosan-bosannya membaca Al Qur’an. Satu hari ia membacakan Al Qur’an kepada anaknya; satu hari membacanya dan satu hari setelannya mendoakannya. Beberapa hari kemudian, salah seorang perawat memberitahu saya bahwa anak itu sudah mulai bergerak, saya langsung memuji Allah.
Saya berkata kepada si ibu, ‘Saya sampaikan kabar gembira kepada Anda bahwa keadaan si kecil mulai membaik.’ Ia hanya mengucapkan satu ucapan sambil menahan air matanya, ‘Alhamdulillah, Alhamdulillah.’
Dua puluh empat jam kemudian kami dikejutkan dengan kondisi si anak, ia kembali mengalami pendarahan hebat seperti pendarahan sebelumnya, dan jantungnya berhenti berdetak untuk kedua kalinya. Tubuhnya yang kecil terlihat lelah, gerakannya telah hilang. Salah seorang dokter masuk untuk melihat kondisinya secara langsung, lalu saya mendengarnya berucap, ‘Mati otak.’ Sang ibu terus menerus mengulang-ulang, ‘Alhamdulillah, atas setiap keadaan, penyembuh adalah Allah.’

Ajaibnya, beberapa hari kemudian anak itu sembuh kembali. Namun, baru berlalu beberapa jam, ia kembali mengalami pendarahan di dalam livernya, lalu gerakannya berhenti. Beberapa hari kemudian ia sadar lagi, lalu kembali mengalami pendarahan baru, kondisinya aneh, saya tidak pernah melihat kondisi seperti itu selama hidup saya, pendarahannya berulang-ulang hingga enam kali, sedangkan dari lisan ibunya hanya keluar ucapan, ‘Segala puji bagi Allah, Penyembuh adalah Rabb-ku, Dia-lah Penyembuh.’
Setelah beberapa kali pemeriksaan dan pengobatan, para dokter spesialis batang tenggorokan berhasil mengatasi pendarahan, anak itu mulai bergerak-gerak lagi. Tiba-tiba, ia kembali diuji dengan bisul besar (tumor) dan radang otak.

Saya sendiri yang memeriksa keadaannya. Saya berkata kepada ibunya, ’Keadaan anak Anda mengenaskan sekali dan kondisinya berbahaya.’ la tetap mengulang-ulang ucapannya, ‘Penyembuh adalah Allah’. la pun mulai membacakan kembali Al Qur’an kepada buah hatinya itu. Setelah dua minggu berlalu, tumor itu tetap ada. Dua hari kemudian, kondisi anak itu mulai membaik. Kami pun sangat bersyukur dan memuji Allah karenanya.

Ibu itu yang telah sekian lama menunggu di rumah sakit, mulai bersiap-siap untuk pulang. Namun satu hari kemudian, tiba-tiba anak tersebut mengalami radang ginjal parah yang dapat menyebabkan gagal ginjal kronis dan hampir menyebabkan kematiannya. Hebatnya, ibu itu tidak panik. Ia tetap berpegang teguh, bertawakal dan berserah kepada Rabb-nya serta terus mengulang-ulang, ‘Penyembuh adalah Allah.’ Lalu, ia kembali ke tempatnya dan membacakan Al Qur’an kepada anaknya.
Hari-hari berlalu, tim dokter terus berusaha memeriksa dan mengobati anak itu secara maraton hingga tiga bulan lamanya. Alhamdulillah, melalui perjuangan panjang, kondisinya pun membaik, segala puji hanya bagi Allah.

Akan tetapi, kisah ini belum berhenti sampai di sini saja, si anak kembali diserang penyakit aneh yang belum pernah saya kenal selama hidup. Setelah empat bulan, ia terserang radang pada selaput kristal yang mengitari jantung, sehingga memaksa kita untuk membuka sangkar dadanya dan membiarkannya terbuka untuk mengeluarkan nanah.

Ibunya hanya melihat kepadanya sambil berucap, ‘Saya memohon kepada Allah agar menyembuhkannya, Dia adalah penyembuh dan pemberi kesehatan.’ Lalu, ia kembali ke kursinya dan membuka mushafnya.
Terkadang saya melihat kepada ibu tersebut, sementara mushaf ada di depannya, ia tidak menoleh ke sekelilingnya. Kemudian saya masuk ke ruang refreshing, saya pun melihat banyak pasien dengan berbagai penyakit dan para penunggu mereka. Tampak sebagian dari pasien-pasien tersebut berteriak-teriak dan yang lainya mengaduh-aduh, sedangkan para penunggunya menangis, dan sebagian dari mereka berjalan dengan wajah gelisah di belakang para dokter.

Ibu ini benar-benar berbeda. Ia tetap berada di atas kursinya memegang mushaf Al Qur’an dengan tenang. Ia tidak berpaling kepada orang yang berteriak dan tidak berdiri menghampiri dokter serta tidak berbicara dengan seorang pun.

Saya merasa bahwa ia adalah gunung, setelah berada selama enam bulan di ruang refreshing. Saya berjalan melewati anaknya, saya melihat matanya terpejam, tidak berbicara dan tidak bergerak, dadanya terbuka. Kami mengira bahwa ini merupakan akhir kehidupannya, sedangkan sang ibu tetap dalam keadaannya, membaca Al Qur’an. Seorang penyabar yang tidak mengeluh dan tidak mengaduh. Demi Allah, ia tidak mengajak saya bicara dengan sepatah kata pun dan tidak pula bertanya kepada saya tentang kondisi anaknya. Ia hanya berbicara setelah saya mulai mengajaknya bicara tentang anaknya tersebut.

Adapun usia suaminya sudah lebih dari empat puluh tahun. Terkadang suaminya menemui saya di dekat anaknya, ketika ia menoleh kepada saya untuk bertanya, istrinya menarik tangannya dan menenangkannya serta mengangkat semangatnya dan mengingatkannya bahwa sang Penyembuh adalah Allah.

Setelah berlalu dua bulan, keadaan anak tersebut sudah membaik, lalu kami memindahkannya ke ruangan khusus anak-anak di rumah sakit, kondisinya sudah mengalami banyak kemajuan.

Keluarganya pun mulai membiasakan kepadanya berbagai jenis terapi dan pelatihan. Setelah itu, anak tersebut pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki, ia melihat dan berbicara seakan-akan ia tidak pernah tertimpa sesuatu sebelumnya.

Maaf, kisah menakjubkan ini belum selesai, karena satu setengah tahun kemudian, ketika berada di ruang kerja saya, tiba-tiba suami wanita itu masuk menemui saya, sedangkan di belakangnya istrinya menyusulnya sambil menggendong bayi kecil yang sehat. Ternyata si anak kecil itu sedang diperiksakan secara rutin di rumah sakit tersebut, mereka datang kepada saya untuk menyampaikan salam.

Saya bertanya kepada si suami, ‘Masya Allah, apakah bayi kecil ini adalah anak yang keenam atau ketujuh di dalam keluarga Anda?’ Ia menjawab, ‘Ini yang kedua, dan anak pertama kami adalah anak yang Anda obati setahun yang lalu. Ia merupakan anak pertama kami yang lahir setelah tujuh belas tahun kami menikah dan sembuh dari kemandulan.’

Saya menundukkan kepala, dan langsung teringat dengan gambaran ibunya ketika sedang menunggui anaknya. Saya tidak mendengar suara yang keluar darinya dan tidak melihat tanda kegelisahan pada dirinya.
Saya mengucap di dalam hati, ‘Subhanallah.’ Setelah tujuh belas tahun bersabar dan mencoba berbagai terapi kemandulan, lalu diberi rezeki dengan seorang anak laki-laki yang dilihatnya mati berkali-kali di hadapannya. Akan tetapi, wanita tersebut hanya berpegang teguh pada kalimat ‘Lâilâha illallâh’ dan keyakinan bahwa Allah adalah Zat Penyembuh dan Pemberi kesehatan. Subhanallah! Betapa besar tawakkal dan keimanan yang dimiliki wanita itu.”

Saat terjadi penundaan ijabahnya doa, saat itulah
iman dimurnikan dan akan menjadi jelas beda
antara Mukmin sejati dengan selainnya.
Seorang Mukmin pada saat ijabahnya tertunda,
hatinya tidak akan berubah dalam menghadap Rabb-nya,
justru ibadahnya kepada Allah Azza wa Jalla akan semakin bertambah

— Abdullah Azzam —


Dari buku : 114 kisah Nyata Doa-Doa Terkabul
dikutip dari http://syaamilquran.com