Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Senin, 15 Oktober 2012

Kecintaan Ibu

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu” (Qs. Luqman : 14).

Dikisahkan bahwa setelah Ibu Nabi Ismail, Siti Hajar, mendapatkan pancaran air yang kemudian bernama Zam Zam, yang mula-mula sekali diberi minum hingga kenyang adalah anaknya. Bukan dirinya sendiri. Padahal pada saat sama, ia sendiri sedang sangat kehausan. Apalagi telah berulangkali berlari-lari dari Bukit Safa ke Marwah, mencari sumber air.

Dari kisah ini antara lain dapat difahami betapa tinggi kecintaan seorang ibu sejati kepada anak(-anaknya). Tentunya bukan hanya ibu Nabi Ismail, ibu-ibu orang lain juga banyak yang demikian. Kalau memungkinkan, seorang ibu ingin menggantikan rasa haus atau rasa sakit atau penderitaan lain yang mengganggu kenyamanan hidup anaknya. Seorang ibu ibarat lilin, yang rela membiarkan dirinya hancur demi menerangi sekelilingnya. Seperti seorang ibu yang mau bertaruh nyawa, berjuang antara hidup dan mati ketika melahirkan bayinya. Sehingga sangat wajar diberikan apa yang sangat dicari manusia, yaitu pahala syahid, bagi ibu yang meninggal dunia saat melahirkan.

Dalam sejumlah hadits, Rasulullah juga memberikan penghargaan yang tinggi kepada ibu. Antara lain, ketika ditanyakan kepada siapa yang pertama sekali harus berbakti di dunia ini, Rasulullah menjawab, “ibumu.” Jawaban yang demikian diulangnya hingga tiga kali, baru kemudian dijawab, “ayahmu.”


dikutip dari http://aceh.tribunnews.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar