Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Selasa, 27 November 2012

Subhanallah, Janin Ini Berbicara pada Ibunya

Pada waktu itu, Sayidah Khadijah as, istri Nabi Muhammad Saw sedang mengandung Sayidah Fathimah az-Zahra as. Sayidah Khadijah as merasakan bahwa janin yang berada dalam kandungannya berbeda dengan anak-anak yang lain. Itu karena janin dalam kandungannya itu berbicara dengannya.

Sayidah Khadijah as menanti bayinya terlahir ke dunia dengan tidak sabar. Sayidah Khadijah as ingin segera memberikan kabar gembira kelahiran bayinya kepada Nabi Muhammad Saw, suami tercintanya. Menurut Sayidah Khadijah as, kelahiran anak penuh berkah ini pasti menggembirakan suaminya.

Tapi dalam penantian ini, janin yang berada dalam kandungannya berbicara dengan ibunya. Janin itu meminta ibunya agar bersabar dan dengan pikiran yang tenang menanti proses masa mengandungnya selesai dan waktu lahirnya ke dunia tiba.

Sayidah Khadijah as menyembunyikan masalah ini dari suaminya. Beliau tidak memberi tahu suaminya bahwa anak yang sedang berada di dalam kandungannya berbicara kepadanya. Tapi suatu hari ketika Nabi Muhammad Saw masuk ke rumah dan mendengar Sayidah Khadijah as tengah berbicara dengan bayinya, Nabi Saw berkata, "Wahai Khadijah! Engkau sedang berbicara dengan siapa?"

Sayidah Khadijah as menjawab, "Dengan janin yang berada di dalam perutku. Ia menjadi teman akrabku selama ini. Ia memintaku sebagai ibunya agar bersabar menanti kelahirannya."

Nabi Muhammad Saw berkata, "Wahai Khadijah! Jibril as mengabarkan kepadaku bahwa janin yang ada dalam perutmu itu perempuan. Dari keturunannya akan lahir anak-anak saleh dan penuh berkah. Allah Swt berkehendak akan lahir dari keturunannya yang menjadi Imam dan pemimpin umatku serta menjadi pembimbing dan penolong umatku."


dikutip dari republika.co.id

Senin, 26 November 2012

Sebuah Surat Cinta Untuk Para Ibu

  • Untuk ibu-ibu tangguh yang berjuang sendiri menjadi tulang punggung keluarga dan menanggung biaya hidup anak-anaknya. Ibu-ibu janda, miskin, atau mereka yang punya suami tapi suaminya tidak bisa bekerja lagi, hingga ialah yang harus memeras keringat menghidupi keluarga.. 
  • untuk ibu-ibu yang mendidik anak-anaknya dengan agama, mengajarkan sunnah Nabi dan memberi petunjuk tentang apa-apa yang bermanfaat bagi anak-anak meraka..
  • Salam dan pengormatan buat para ibu yang mengambil peran dan memilih sebagai IBU rumah tangga, yang mengesampingkan profesi-profesi lainya, karena kemulian hatinya mau mengubur mimpi-mimpinya demi si buah hatinya tercinta.sunggguh sebuah pengorbanan yang tak terkira dan ia meyakinii bahwa itulah peran yang termulia dalam hidupnya..
  • Salut dan bangga buat para IBU yang berprofesi dalam segala bidang, menekuni pekerjaan yang mulia, sebagai pegawai, karyawan, manajer, perawat, petani, pedagang, dokter, pejabat, pemulung sekalipun, ataupun yang menjadi pemimpin, dan lain-lain sebagainya, yang dalam kesibukannya ia tak melupakan perannya sebagai IBU RUMAH TANGGA, perannya dalam mendidik anak-anaknya, memberikan perhatian dan kasih sayang yang melimpah kepada anak-anaknya
  • Salam penghormatan untuk para ibu yang melahirkan dan mendidik para pahlawan, dan mencetak laki-laki yang terhormat, melahirkan para pemberani, yang melahirkan para pejuang dijalan ALLAH.
  • Untuk ibu-ibu yang mendidik anak-anaknya penuh cinta dan kelembutan
  • Salam penghormatan untuk para ibu yang telah menanamkan dalam diri putra- putrinya rasa cinta kepada ALLAH dan Rasul-Nya.
  • Untuk para ibu yang kekurangan dan yang terbatas oleh kondisi fisik, cacat dan sakit namun tidak menghalanginya untuk menebar cinta kasih kepada anaknya.
  • Untuk segenap ibu yang menafkahkan dan menghidupi anak-anaknya dengan membanting tulang, memerah keringat dan menekuni segala profesi asal halal..
  • Untuk segenap para ibu yang memberikan ASI eklusif kepada anak-anaknya ketimbang memberikan susu formula..karena ASI adalah simbol awal ikatan ibu dengan anaknya.
  • Untuk para ibu yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan, kebanaran dan kejujuran kepada anak-anaknya dan menjadi sekolah pertama yang dihadapi oleh anak-anaknya.
  • Untuk para Ibu yang membimbing dan meluruskan anak-anaknya agar mereka tumbuh menjadi generasi yang unggul berbekal iman, kasih-sayang, kebaikan, kemurahan hati, dan kesetiaan yang total terhadap kebenaran.

Kata-kata berikut kiranya dapat menggambarkan sosok ibu:
 
Ibu..engkaulah: perasaan yang lembut, batin yang halus, jiwa yang peka, air mata bahagia, keindahan, ketegaran, dan ketangguhan.

Ibu..engkaulah: padanan kehidupan, tempat mengadu, tiang pancang tegaknya banyak urusan, penentu damainya rumah, dan kunci kesuksesan.
 
Ibu..engkaulah: kebeningan hati, kesucian batin, kesetiaan, ketulusan, kasih-sayang, kebaikan, kesungguhan, pengorbanan, dan ketulusan.
 
Ibu..engkaulah: makhluk paling tegar, jiwanya paling berharga, perasaannya paling halus, kakinya paling tangguh, pribadinya paling mandiri, tekadnya paling teguh, tangannya paling pemurah, dan dadanya paling lapang.

Ibu..engkaulah: teman terbaik di kala susah, sahabat terdekat di saat senang.
 
Ibu..engkaulah: sumber kasih-sayang, perhatian, dan kebaikan tanpa batas; penunjuk jalan iman dan ketenangan jiwa, sumber ketenangan dan rasa aman, cahaya kehidupan, dan cinta tak berbatas.

Kata-kata sepanjang apa pun dan lembaran-lembaran sebanyak apa pun, tidak akan cukup untuk menghitung keutamaan ibu serta semua haknya untuk mendapatkan penghormatan, pemuliaan, perlakuan baik dan pengabdian.


Sungguh walaupun kita menulis ribuan halaman untuk mengungkapkan pujian dan sanjungan kita terhadap ibu, dan mencoba untuk menuliskannya dengan tinta darah sekalipun, sungguh itupun tidak akan cukup dan tidak akan bisa membalas jasa-jasa ibu kita


Dan cukuplah Kitabullah dan Sunnah Rasull yang menjadi saksi akan utama dan agungnya peran sang Ibu.


dikutip dari http://ahmadkhan.blogdetik.com dengan sedikit penyesuaian

Kamis, 15 November 2012

Do'a dan Dzikir Cinta untuk Ibunda

Di beberapa literatur Islam, banyak kita temukan sumber yang membahas tentang sepuluh sahabat Nabi Muhammad SAW yang dijamin masuk surga. Kesepuluh sahabat itu semuanya laki-laki. Kisah-kisah mereka tersebar di berbagai buku sejarah yang kemudian banyak dijadikan rujukan umat Islam zaman sekarang untuk bisa meneladani dan berbuat seperti apa yang sahabat-sahabat tadi kerjakan. Harapannya, tentu untuk bisa mendapatkan dan meraih surgaNya juga.

Sejauh ini, kesepuluh sahabat tadi yang cukup dikenal publik (umat Islam). Padahal, dalam sejarahnya, banyak juga wanita-wanita yang dijanjikan masuk surga. Di antaranya, ada Sumayyah binti Khayat, Asma’ binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Waraqah, Ummu Aiman, Nasibah binti Ka’ah, Ummu Haram dan Ummu Zafar. Kisah-kisah mereka bisa kita baca dalam buku karangan Muhammad Ali Qutb yang berjudul “Bidadari-Bidadari Surga” (Mubasyiraatu bi Jannatun).

Dalam bukunya dikisahkan, Sumayyah adalah sosok muslimah yang mempunyai harga diri (izzah) yang tinggi. Memiliki kesabaran dan keikhlasan luar biasa di fase-fase awal dakwah Rasulullah. Sumayyah mempunyai suami bernama Yasir. Keluarga ini memproklamirkan diri sebagai keluarga muslim, mengikuti ajaran Muhammmad. Kenyataan ini membuat tidak senang para pemuka masyarakat yang saat itu masih menyembah berhala, Lata, Uzza.

Maka, disiksalah mereka oleh kaumnya, dan hanya akan menghentikan siksanya ketika mau melepaskan diri dari ajaran Muhammad. Namun, Sumayyah dan keluarganya tetap istiqomah, tetap tegar dalam ke-Islaman dan memegang teguh keyakinannya untuk membenarkan ajaran Muhammad. Dan akhirnya, wanita dan suaminya gugur di medan kesyahidan. Sumayyah adalah wanita perkasa pertama yang syahid dalam sejarah Islam pada periode awal Islam datang.

Selain itu, ada Asma’ putri Abu Bakar, sang “pemilik dua sabuk”. Kisah yang mengharumkan namanya ketika ia terlibat dakwah dalam peristiwa hijrah. Wanita inilah yang bertugas mengantar bekal makanan untuk Muhammad dan Abu bakar ayahnya ketika hijrah. Asma keluar dari kota Mekah di malam hari tanpa menghiraukan gelap gulitanya malam, sepi dan sunyinya malam, terjalnya bebukitan dan bahaya binatang buas. Yang ada dalam dirinya, hanya bertawakal kepada Allah agar diberi kekuatan untuk bisa memegang amanah.

Ketika sampai ke Gua Tsur inilah peristiwa sejarah “pemilik dua sabuk” terjadi. Asma’ menyobek kerudungnya menjadi dua. Satu bagian untuk dijadikan sebagai ikat pinggang dan satunya lagi untuk mengikat bekal. Saat itu, Rasulullah memberi kabar gembira atas apa yang telah dilakukan Asma’, kemudian berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengganti ikat pinggangmu ini dengan dua ikat pinggang di surga”. Sejak itu, Asma, putri Abu Bakar mendapat gelar Dzatu an-nitthqain yaitu orang yang mempunyai dua ikat pinggang.

Masih banyak lagi cerita lainnya. Tentang Ummu Ruman (Zainab), wanita yang dijanjikan surga bukan karena keelokan wajahnya, tapi, ia adalah isteri Abu Bakar yang sabar menerima resiko mendampingi suaminya dalam berdakwah, ia adalah simbol wanita pertama yang memikul tugas mendidik, mengarahkan dan membimbing anak-anak mereka.. Tentang Ummu Waraqah, seorang wanita baik hati yang teraniaya dan dibunuh hamba sahayanya sendiri karena iming-iming harta. Tentang Ummu Aiman yang penuh ikhlas merawat Muhammad. Tentang Nasibah binti Ka’ab, bidadari yang terluka dalam perang Uhud. Begitu juga Ummu Zafar, wanita yang sabar dalam keadaan sakitnya.

mereka semua adalah Ibu perkasa kebanggaan keluarganya dan kebanggaan Islam tentunya, mereka adalah wanita-wanita yang dijanjikan syurga oleh Rasulullah SAW, mereka adalah contoh terbaik bagi wanita-wanita Islam yang mendambakan dirinya menjadi wanita kebanggaan keluarganya, Ibu yang membanggakan bagi putra putrinya, Ibu yang mendidik anak-anaknya dengan didikan yang Islami, Ibu yang senantiasa dalam kehormatan dirinya sebagai wanita kebanggaan Islam, Ibu yang selalu diharapkan kasih sayangnya oleh semua anggota keluarganya, Ibu yang selalu dido'akan anak-anaknya agar menjadi Ibu yang senantiasa Istiqamah dijalan menjadi menjadi hamba ALLAH yang solehah,dan kitapun berharap kita sebagai anak dan juga seorang suami senantiasa mampu menguatkan seorang Ibu dalam mengemban amanahnya menjadi harapan pembawa kesejukan syurga bagi setiap anggota keluarganya. senantiasa do'akan Ibunda agar menjadi Ibu terbaik bagi kita anak-anaknya dan juga menjadi pendamping yang solehah bagi sang suami.

Do'a cinta untuk Ibunda dari seorang anak :

ya..ALLAH berilah Ibunda kami kekuatan dalam mengemban tugas-tugas mulianya sebagai seorang Ibu.
ya..ALLAH berilah Ibunda kami kedudukan layaknya wanita-wanita terbaik agama ini, Islam.
ya..ALLAH jadikan Ibunda kami wanita yang senantiasa membimbing kami mendekatimu.
ya..ALLAH kuatkan beliau Ibunda kami menanggung kesabaran mendidik kami anak-anaknya.
ya..ALLAH berikan kesalehan Ibunda kami dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
ya..ALLAH golongkan Ibunda kami dalam golongan hamba-hamba kesayanmu dunia dan akhirat.
ya..ALLAH ampuni kekhilafan dan dosa-dosa kedua orang tua Ibu Bapak kami sebagai hambamu.
ya..ALLAH muliakan Ibunda kami di dunia dan di akhirat kelak serta kumpulkan kami dalam surgamu

Ya Allah ya Rabbi
Berikanlah kebahagiaan dalam hatinya
Jadikanlah ia wanita yang senantiasa teguh
Memegang ajaranMu
Muliakanlah ia di dunia dan kelak
Berikan kesempatan kepadanya
Untuk bisa merasakan surgaMU


dikutip dari http://fourthing.wordpress.com dengan sedikit tambahan

Senin, 12 November 2012

Ibu, pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya

seorang pengusaha pizza yang cukup terkenal mengakui bahwa hampir setiap hari dia mengunjungi Ibundanya dan berbincang-bincang dengan Ibundanya. apapun yang diminta Ibundanya itu, akan dikabulkan semampunya dan secepat mungkin. bila mengalami masalah besar, pelukan dan Do'a Ibu adalah hal yang sangat dibutuhkannya. pengusaha tersebut merasa bahwa Ibundanya adalah keramat hidup yang harus selalu dijaga perasaannya, Do'a Ibunda adalah senjata rahasia kesuksesannya.

Ibu - sang pahlawan

Ibu adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. pengorbanan beliau yang tak ternilai harganya harus dihargai sedemikian rupa sebagai bentuk rasa terima kasih dan wujud syukur kepada Ilahi yang telah memberikan kesempatan mencicipi nikmat hidup ini.

Ibunda orang pertama yang ingin dibahagiakan bila mendapatkan rezeki yang melimpah. beliaulah orang pertama yang akan dikunjungi ketika masalah berat terasa tak kunjung ada solusinya, Do'a beliau adalah senjata yang amat dahsyat, Do'a beliau adalah pembuka pintu Ilahi agar mengabulkan segala Do'a.

hidup akan sangat hampa bila tak mendapatkan belaian tangan Ibunda, belaian yang dapat menurunkan tensi darah saat marah, belaian yang dapat menenangkan pikiran dikala stres, beliaulah manusia yang sangat paham apa yang dialami oleh anaknya, Ibundalah yang akan menerima apapun bentuk dan keadaan anaknya.

Ibundalah yang akan berusaha melakukan apapun untuk menyelamatkan dan melindungi anaknya, apabila ada seorang Ibu yang suka marah-marah dengan anaknya mungkin itu hanyalah ungkapan kekecewaan sesaat. yakinlah bahwa jauh dilubuk hatinya Ibu sangat sayang anaknya.

kebahagiaan sebuah keluarga terletak ditangan Ibunya, bila beliau bahagia, maka keluarga tersebut akan bahagia, jangan biarkan beliau terlalu capek sehingga menyebabkan beliau stres, stres Ibunda adalah stres keluarga, bantulah beliau agar bisa membuat keluarga bahagia.

sebagai tiang hidup, Ibunda membutuhkan sandaran yang kuat, sandaran itu bisa berupa senyum manis anak-anaknya, kasih sayang suaminya, penghargaan berupa ucapan terima kasih yang tulus dan pancaran cinta yang sebenarnya, sudah cukup membuat seorang Ibu berbahagia.

kasih sayang Ibu tiada batas

tidak perlu kita meragukan seberapa besar kasih sayang Ibunda tercinta kepada anaknya, tidak ada yang bisa menggantikan peran Ibunda dalam kehidupan kita, bahkan kitapun tidak akan pernah bisa menggantinya sekalipun berupa materi yang berlimpah.

tidak ada kesuksesan tanpa disertai dengan dukungan Ibunda, banyak contoh yang bisa kita lihat disekitar kita, orang-orang sukses memang memiliki wanita hebat dibelakangnya, yaitu Ibunda tercinta, beliau yang merawat dan mendidik kita menjadi super power dalam menjalani kehidupan yang fana dan keras ini, beliau juga yang mengajarkan kita untuk tetap berdiri tegak walau badai menghadang sekalipun.

anda tentu sangat tahu dengan kisah legenda dari sumatera barat malin kundang bukan ?, si anak durhaka yang akhirnya menjadi batu karena dikutuk oleh Ibunya, kisah legenda ini menyiratkan kepada kita bahwa akan terjadi malapetaka jika kita tidak menghormati dan memperlakukan Ibunda dengan baik sebagaimana Ibunda memperlakukan kita sejak lahir, jadi sudah sepantasnyalah kita memberikan kasih sayang untuk Ibunda tercinta meskipun kita sadar itu tidaklah bisa menggantikan apa yang sudah beliau berikan untuk kita.

sebelum kita dilahirkan didunia ini Ibunda sudah melakukan perjuangan yang hebat, perjuangan yang dilakukan untuk melindungi, menjaga, merawat, memperhatikan serta menyayangi kita ketika masih berada dalam kandungannya, tidak terperikan berapa kali beliau menarik napas panjang manakala kita menendang-nendang perutnya, manakala kita " berolah raga " dalam kandungannya, terakhir bagaimana perjuangannya melahirkan kita kedunia,dengan mengabaikan rasa sakit yang tiada tara.

sudah sepantasnyalah kita berbakti kepada Ibunda tercinta, bahkan wajib hukumnya, tidak ada anak yang berhasil menjalani hidupnya dengan mulus tanpa peran Ibunda tercinta, peran beliau lebih hebat dan lebih berani dibandingkan semua tokoh, jika ada yang bertanya siapa pahlawan tanpa tanda jasa ?, maka jawabannya Ibunda adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya sebab hanya beliaulah dengan segenap hidupnya berjuang agar anaknya bisa selamat terlahir kedunia fana ini dan bersiap dengan segenap jiwa raganya berkorban untuk tetap bisa melindungi anaknya dari apapun yang ingin mencelakai sang anak, oh Ibu jasa-jasamu dalam keluarga sungguh tiada duanya, tak akan pernah kami anak-anakmu melupakan semua jasa tulus ikhlasmu kepada kami anakmu yang sungguh tiada akan mampu membalas setiap pengorbanan dan perjuangan yang engkau telah berikan kepada kami anakmu, Ibu engkau sungguh pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya.!


dikutip dari anneahira.com dengan sedikit pengurangan dan sedikit tambahan 

Jumat, 09 November 2012

Ketulusan Perjuangan Seorang Ibu

Bunda, ibu, mama, mami, umi, emak, dan berbagai panggilan lain yang tujukan kepada orang yang melahirkan kita, membahagiakan kita, memberi kasih dan sayangnya kepada kita, yang menjaga kita dengan ketulusan hatinya, merawat kita dengan kerendahan hati yang dimilikinya, melindungi kita dengan kebahagiaan yang dipancarkannya. Dia mendidik kita dengan cara terbaik yang dia miliki agar kita menjadi insan manusia berbudi pekerti dan berbahagia. ketika kita bayi kita menangis, namun dia menenangkan kita dalam pangkuan hangatnya yang kita rindukan. 

Dia membersihkan kotoran kita tanpa rasa jijik sekalipun, menyusui kita dengan kerelaan hatinya. Semua hal itu dilakukan agar kita menjadi orang yang berharga nantinya. Tak ada di benaknya untuk tidak mengasihi kita. Berbagai luka yang kita berikan kepadanya, namun dia tetap ikhlas menjaga kita dengan ketulusan hati.

Sebagai seorang anak sepatutnyalah kita membahagiakannya, mendoakannya, melindunginya dari rapuh tubuhnya yang sudah mulai menua. Bahagiakanlah dia dengan akhlak yang kita miliki. Kita menjadi insan yang madani, anak yang berbakti, merawatnya dengan kebaikan pribadi kita yang diajarkannya. Jika ada perkatan seorang anak yang berbakti kepada ibunya, maka perkataan itu akan menyejukan hatinya dari kekeringan dahaga kesejukan hati.
 
Kelak kita akan menjadi orang tua bagi anak kita dan akan menjadi orang tua yang rapuh tubuhnya, hal inilah yang mengingatkan kita bahwa kita perlu menjaganya..


dikutip dari http://perpalis.blogspot.com

Rabu, 07 November 2012

Meneladani Ibunda Anas bin Malik

Anas adalah satu dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialah sahabat terakhir yang wafat di Bashrah setelah berumur lebih dari seratus tahun.
Ibarat perguruan tinggi, Anas bin Malik telah banyak “meluluskan” ulama-ulama hebat dalam sejarah. Sebut saja misalnya Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Asy-Sya’bi, Abu Qilabah, Makhul, Umar bin Abdul Aziz, Tsabit Al-Bunani, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Qatadah As-Sadusi, dan lain-lain.
Sejak pertemuan pertamanya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Anas langsung jadi orang terdekatnya. Ia tak sekadar jadi pembantu setia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih dari itu, ia seakan menjadi “asisten pribadi” beliau. Sebagai asisten pribadi, pasti Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan Anas dalam masalah-masalah tertentu yang tak diketahui sahabat lainnya.
Anas adalah sahabat yang beruntung berkat doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berdoa, “Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya, serta panjangkanlah usianya.” Berbekal doa nabawi tadi, terkumpullah padanya beberapa keistimewaan: usia yang panjang, anak yang banyak, harta yang melimpah, dan ilmu yang luas.
Konon, usianya mencapai 103 tahun. Anak keturunannya mencapai ratusan orang. Bahkan, menurut penuturan salah seorang putrinya yang bernama Umainah, sejak ayahnya berketurunan sampai setibanya  di Bashrah, sudah 129 orang dari anak cucunya yang dimakamkan.
Tentang kekayaannya, diriwayatkan bahwa Anas memiliki sebuah kebun yang menghasilkan buah-buahan dua kali dalam setahun, padahal kebun lain hanya sekali. Di samping itu, kebunnya juga menebarkan aroma kesturi yang semerbak.
Salah satu murid terdekatnya, Tsabit Al-Bunani, menuturkan, “Ada seseorang yang hendak menaksir tanah milik Anas. Maka orang itu bertanya, “Apakah tanah Tuan mengalami kekeringan?” Namun tanpa banyak bicara, Anas segera melangkahkan kakinya menuju sebuah tanah lapang. Ia kemudian shalat lalu mengangkat kedua tangannya sembari berdoa kepada Allah. Maka seketika itu muncullah sebongkah awan raksasa yang menyelimuti tanahnya. Sesaat kemudian hujan pun turun dengan derasnya hingga oase Anas penuh dengan air, padahal saat itu adalah musim kemarau. Anas kemudian mengutus sebagian keluarganya untuk mengecek sampai di manakah daerah yang terkena hujan tadi. Ternyata hujan tadi hampir tak melebihi tanah miliknya saja.”
Jelas, ini merupakan karamah Allah bagi Anas, dan  ini benar adanya karena diriwayatkan dari dua jalur yang berbeda dan keduanya shahih. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Adz-Dzahabi dalam Siyar-nya.
Di belakangnya ada Ummu Sulaim, Ibunya
Anak tidak lahir dari belahan batu. Kecerdasannya tidak muncul begitu saja. Ada peran besar dari Ummu Sulaim, ibunda Anas bin Malik, yang mewarnai kehidupan sang tokoh. Dalam Siyar-nya, Adz-Dzahabi meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas.
Katanya, “Suatu ketika Nabi berkunjung ke rumah Ummu Sulaim. Begitu ibuku tahu akan kunjungan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia segera menyuguhkan kepadanya kurma dan minyak samin. ‘Kembalikan saja kurma dan minyak saminmu ke tempatnya semula, karena aku sedang berpuasa,’ kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ibuku. Setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit menuju salah satu sisi rumahku, kemudian shalat sunnah dua rakaat dan mendoakan kebaikan bagi Ummu Sulaim dan keluarganya.
Maka, ibu berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki hadiah khusus bagimu.’ ‘Apa itu?’ tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Orang yang siap membantumu, Anas,’ jawab ibu.
Seketika itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjatkan doa-doa untukku, hingga tak tersisa satu pun dari kebikan dunia dan akhirat melainkan beliau doakan bagiku. ‘Ya Allah, karuniailah ia harta dan anak keturunan, serta berkahilah keduanya baginya,’ kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doanya. Berkat doa inilah, aku menjadi orang Anshar yang paling banyak hartanya,” kata Anas mengakhiri kisahnya.
Dalam riwayat lainnya, Anas bin Malik menceritakan, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah aku baru berumur delapan tahun. Waktu itu, ibu menuntunku menghadap Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, tak tersisa seorang Anshar pun kecuali datang kepadamu dengan hadiah istimewa. Namun, aku tak mampu memberimu hadiah kecuali putraku ini, maka ambillah dia dan suruhlah dia membantumu kapan saja Anda inginkan.’”
Dikisahkan pula bahwa ketika itu, Ummu Sulaim menyarungi Anas dengan setengah jilbabnya, dan menyelendanginya dengan sebagian gaunnya, kemudian menghadiahkannya kepada Rasulullah.
Allahu Akbar!! Alangkah besar kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga rela menghadiahkan buah hatinya yang baru berumur delapan tahun. Sungguh, sikapnya merupakan pelajaran berharga bagi setiap orang yang mendakwahkan “ Rasul”, namun enggan berkorban untuknya. Semoga Allah meridhaimu, wahai Ummu Sulaim.
Mengenal Ummu Sulaim
Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa para sejarawan berbeda pendapat mengenai nama Ummu Sulaim yang sebenarnya, apakah namanya Sahlah, Rumailah, Rumaitsah, Unaifah, ataukah Mulaikah? Akan tetapi, yang jelas julukannya ialah Rumaisha atau Ghumaisha’.
Ia termasuk salah satu wanita penghuni jannah, sebagaimana yang tersirat dalam hadits berikut,
Dari Jabir, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku masuk jannah, tiba-tiba aku melihat di sana ada Rumaisha’,  Abu Thalhah.” (HR. Al-Bukhari).
Dalam hadits Anas dikatakan, bahwa ketika masuk jannah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar suara terompah seseorang. “Suara siapa ini?” tanya beliau. Kata para malaikat, “Itu suara Ghumaisha’ binti Milhan, ibunda Anas bin Malik.” (HR. Muslim).
Ummu Sulaim termasuk wanita yang cemerlang akalnya. Selain cerdas, ia juga penyabar dan pemberani. Ketiga sifat mulia inilah yang menurun kepada Anas dan mewarnai perangainya di kemudian hari. Ya, kecerdasan biasanya melahirkan kecerdasan, kesabaran melahirkan kesabaran, dan keberanian melahirkan keberanian.
Sebelum menikah dengan Abu Thalhah, suaminya ialah Malik bin Nadhar, ayah Anas. Ketika dakwah Islam terdengar oleh Ummu Sulaim, segeralah ia dan kaumnya menyatakan keislamannya. Ummu Sulaim kemudian menawarkan Islam kepada suaminya yang ketika itu masih musyrik. Namun di luar dugaan, Malik justru marah kepadanya dan meninggalkannya. Malik akhirnya pergi ke negeri Syam dan meninggal di sana.
Kecerdasan Ummu Sulaim
Setelah suami pertamanya mangkat, Ummu Sulaim menikah dengan Abu Thalhah. Ketika meminangnya, Abu Thalhah masih dalam keadaan musyrik. Sehingga Ummu Sulaim menolak pinangannya tersebut sampai Abu Thalhah mau masuk Islam. Anas mengisahkan cerita ini dari ibunya.
“Sungguh tidak pantas seorang musyrik menikahiku. Tidakkah engkau tahu, wahai Abu Thalhah, bahwa berhala-berhala sesembahanmu itu dipahat oleh budak dari suku anu,” sindir Ummu Sulaim. “Jika kau sulut dengan api pun, ia akan terbakar,” lanjutnya lagi.
Maka Abu Thalhah berpaling ke rumahnya. Akan tetapi, kata-kata Ummu Sulaim tadi amat membekas di hatinya. “Benar juga,” gumamnya. Tak lama kemudian, Abu Thalhah menyatakan keislamannya. “Aku telah menerima agama yang kau tawarkan,” kata Abu Thalhah kepada Ummu Sulaim. Maka berlangsunglah pernikahan mereka berdua. “Dan Ummu Sulaim tak meminta mahar apa pun selain keislaman Abu Thalhah,” kata Anas.
Ketabahan Ummu Sulaim
Dari pernikahannya dengan Ummu Sulaim, Abu Thalhah dikaruniai dua orang anak. Satu di antaranya amat ia kagumi, namanya Abu ‘Umair. Namun sayang, Abu ‘Umair tak berumur panjang. Ia dipanggil oleh Allah ketika masih kanak-kanak.
Anas bercerita, “Suatu ketika, Abu ‘Umair sakit parah. Tatkala azan isya berkumandang, seperti biasanya Abu Thalhah berangkat ke mesjid. Dalam perjalanan ke mesjid, anaknya (Abu ‘Umair) dipanggil oleh Allah.
Dengan cepat Ummu Sulaim mendandani jenazah anaknya, kemudian membaringkannya di tempat tidur. Ia berpesan kepada Anas agar tidak memberi tahu Abu Thalhah tentang kematian anak kesayangannya itu. Kemudian, ia pun menyiapkan hidangan makan malam untuk suaminya.
Sepulangnya dari mesjid, seperti biasa Abu Thalhah menyantap makan malamnya kemudian menggauli istrinya. Di akhir malam, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya, “Bagaimana menurutmu tentang keluarga si fulan, mereka meminjam sesuatu dari orang lain, tetapi ketika diminta, mereka tidak mau mengembalikannya, merasa keberatan atas penarikan pinjaman itu.”
“Mereka telah berlaku tidak adil,” kata Abu Thalhah.
“Ketahuilah, sesungguhnya putramu adalah pinjaman dari Allah, dan kini Allah telah mengambilnya kembali,” kata Ummu Sulaim lirih.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…. Segala puji bagi-Mu, ya Allah,” ucap Abu Thalhah dengan pasrah.
Keturunan yang diberkati
Selepas mengantarkan kepergian buah hatinya, keesokan harinya Abu Thalhah menghadap Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala bertatap muka dengannya, beliau mengatakan, “Semoga Allah memberkati kalian berdua nanti malam.” Maka, malam itu juga Ummu Sulaim hamil lagi, mengandung Abdullah bin Abu Thalhah.
Setelah melahirkan bayinya, Ummu Sulaim menyuruh Anas menghadap Rasulullah dengan menggendong bayi mungil itu sambil membawa beberapa butir kurma ‘ajwah. Kata Anas, “Sesampaiku di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kudapati beliau sedang memberi cap pada untanya.”
“Wahai Rasulullah, semalam Ummu Sulaim melahirkan anaknya,” kataku. Maka beliau memungut kurma yang kubawa lalu mengunyahnya dengan air liur beliau, kemudian menyuapkan kepada si bayi. Bayi mungil itu mengulum kurma tadi dengan ujung lidahnya. Maka Rasulullah tersenyum sembari berkata, “Memang, makanan kesukaan orang Anshar adalah kurma.”
“Namailah dia, wahai Rasulullah,” pintaku kepadanya.
“Namanya Abdullah,” jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Doa Rasulullah kepada Abu Thalhah ternyata tak sekadar menjadikannya punya anak. Akan tetapi, anak itu (Abdullah) kemudian tumbuh menjadi anak shalih yang dikaruniai tujuh orang keturunan yang shalih-shalih pula. Menurut penuturan salah seorang perawi yang bernama ‘Abayah, ketujuh anak Abdullah bin Abi Thalhah tadi telah khatam Al-Quran sewaktu masih kecil.
Keberanian Ummu Sulaim
Sosok wanita seperti Ummu Sulaim sulit dicari tandingannya. Selain cerdas dan penyabar, ia juga seorang pemberani. Anas menceritakan, bahwa suatu ketika Abu Thalhah berpapasan dengan Ummu Sulaim ketika  Hunain. Ia melihat bahwa di tangannya ada sebilah pisau, maka Abu Thalhah segera melaporkan kepada Rasulullah perihal Ummu Sulaim, “Wahai Rasulullah, lihatlah Ummu Sulaim keluar rumah sambil membawa pisau,” kata Abu Thalhah.
“Wahai Rasulullah, pisau ini sengaja kusiapkan untuk merobek perut orang musyrik yang berani mendekatiku,” jawab Ummu Sulaim.
Menurut Adz-Dzahabi, Ummu Sulaim juga ikut terjun dalam perang Uhud bersama Rasulullah. Ketika itu ia juga kedapatan membawa sebilah pisau.
Kecintaan Ummu Sulaim terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Sebagaimana telah disebutkan di awal, Ummu Sulaim menghadiahkan putranya yang bernama Anas kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal ia baru berumur delapan atau sepuluh tahun. Ini jelas didorong kecintaannya yang besar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di lain kesempatan, suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur siang di rumah Ummu Sulaim. Karena Ummu Sulaim adalah wanita yang bersahaja, maka ia hanya punya tikar kulit sebagai alas tidur Rasulullah. Karena hawa yang panas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeringat hingga membasahi tikar itu, lalu beliau bangun. Melihat tikar yang penuh keringat tadi, segera Ummu Sulaim mengambil sebuah botol lalu dengan susah payah ia memeras tikarnya dan menampung keringat nabawi itu dalam botolnya.
Melihat ulahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya keheranan, “Apa yang sedang kau lakukan?”
“Aku sedang mengambil berkah yang keluar dari tubuhmu,” jawab Ummu Sulaim.
Diriwayatkan bahwa Ummu Sulaim kemudian mencampurkan keringat Nabi tersebut dalam wewangiannya.
Anas mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak pernah masuk ke rumah wanita lain selain Ummu Sulaim. Ketika ditanya, beliau mengatakan bahwa dirinya kasihan kepada Ummu Sulaim, karena saudara kandungnya terbunuh dalam satu peperangan bersama beliau.
Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa saudara kandungnya itu bernama Haram bin Milhan yang mati syahid dalam tragedi Bi’r Ma’unah. Dialah yang mengatakan, “Demi Allah, aku beruntung!” Ketika ditikam tombak dari belakang hingga tembus ke dadanya.
Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah Ummu Sulaim. Di sana beliau melihat ada geriba air yang tergantung di dinding, lalu beliau meminumnya sambil berdiri. Maka segeralah Ummu Sulaim mengambil geriba itu dan memotong mulut geriba yang bersentuhan dengan mulut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian menyimpannya.
Lihatlah bagaimana kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga tak menyiakan apa pun yang berhubungan dengan tubuhnya yang mulia itu.
Demikian pula yang terjadi pada putranya, Anas. Pernah suatu ketika, Anas mengatakan, “Tak pernah semalam pun kulewatkan, melainkan aku mimpi berjumpa dengan kekasihku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).” Kemudian, berderailah air matanya.
Diriwayatkan pula bahwa Anas mengenakan cincin yang terukir padanya, ‘Muhammadun Rasulullah’. Maka setiap kali hendak buang hajat, dilepasnya cincin tersebut.

Warisan Ilmiah Ummu Sulaim
Menurut adz-Dzahabi, Ummu Sulaim meriwayatkan empat belas hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Satu di antaranya muttafaq ‘alaih, satu hadits khusus diriwayatkan oleh al-Bukhari, dan dua hadits oleh Muslim.
Ummu Sulaim wafat pada masa kekhalifan Utsman bin Affan. Semoga Allah meridhainya dan menempatkannya dalam Firdaus yang tertinggi, beserta para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.

 

dikutip dari http://faridkun.blogspot.com 

Selasa, 06 November 2012

Ibu Adalah Manusia Yang Paling Mulia

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda :“Doa orang tua untuk anaknya bagaikan doa nabi terhadap umatnya .”(HR.Ad Dailami)

Ibu adalah orang tua kita. Maka sesungguhnya doa ibu untuk anaknya seperti doa nabi kepada Umatnya. Hal tersebut harus di yakini agar senantiasa mendapatkan doanya.Keyakinan inipun dapat memotivasi kita agar berbakti kepadanya.

Dalam sebuah hadits di sebutkan :
“ Seseorang datang kepada Rosulullah Shallahu ‘Alaihi wa sallam dan bertanya,”Wahai Rosul, siapakah orang yang paling berhak aku layani(patuhi)?” Rosulullah menjawab,”Ibumu!” ia bertanya lagi”Kemudian siapa lagi?”Rosulullah menjawab,”Ibumu!” ia bertanya lagi,”Siapa lagi?” Rosulullah menjawab,”Ibumu.” Ia bertanya lagi,”Kemudian siapa?” Rosulullah menjawab,”Bapakmu.”(HR.Bukhori-Muslim)

Tanpa mengesampingkan jasa ayah, dalam hadits di atas Rasulullah menyebut kata ”Ibu” sebabnyak tiga kali.Ini berarti bahwa peran ibu sangat berjasa kepada anak-anaknya, meskipun ayahpun berjasa kepada kita.

Mengapa di dunia ini ibu adalah manusia yang paling mulia, setelah itu bapak? Apa yang menjadi alasan sehingga doa ibu menyimpan kekeramatan?

Pertama:
Ibu adalah sosok wanita yang luar biasa sehingga memiliki karomah dalam berdoa. Ibu sangat berjasa untuk membentuk generasi penerus.tentu saja peran ayah juga ikut mendukung.Namun ibu adalah orang yang paling dekat dengan anaknya.Pikirkan! Mulai dalam kandungan hingga lahir seolah-olah tak terpisahkan.

Ibu senantiasa mendampingi kita dengan sabar dan dengan tangannya yang lembut. Ia mengajari kita berjalan. Ia pun mengajari agar kita bicara. Ibu betul-betul wanita yang sabar betapapun sepanjang hari tingkah laku kita menjengkelkannya, namun ibu mau mengerti.kasih sayang ibunda yang tulus ini tidak pernah terputus. Padahal kenakalan kita berulang-ulang.

Kedua:
Sembilan bulan ibu mengandung lalu melahirkan kita. Inilah yang dijadikan alasan mengapa doa ibunda menyimpan karomah. kata”Karomah” dapat dipahami membawa beban yang berat. Bayangkan sekian lama kesana kemari membawa janinnya. Bertambah bulan bertambah besar dan menyulitkan untuk bergerak. Di buat tidur susah di buat duduk pun pinggang terasa tidak nyaman. Namun karena ALLAH memberikan fitrah di dalam dirinya berupa kasih sayang, maka keadaan yang demikian itu tidak terlalu membuatnya menderita.

Ketiga:
Ibu adalah sumber kehidupan.ketika kita di dalam janin. Lewat plasenta secara naluri ibu mentransfer zat makanan ke tubuh kita. Bayi di dalam kandungan bergantung kepada ibu. Ketika ibu stress, maka janin terpengaruh. Ketika ibu kesehatannya menurun dan kekurangan gizi, keadaan janinpun ikut tidak sehat.

Tiada ibu maka tiada pula kita, meskipun bapak juga sangat berperan terhadap keberadaan kita. Namun ibulah yang mengandung dan melahirkan.

Keempat :
Ibu adalah orang pertama yang mengenalkan dunia. Tidak terbayangkan, seandainya begitu kita lahir ke dunia kemudian di buang ke hutan dan dipelihara orang utan. Tentu kita tidak akan menjadi manusia beradab. Tetapi karena kita dipelihara ibu, maka kita dapat mengenal dunia dan menjadi manusia beradab.

Ibu adalah orang pertama yang mengenalkan dunia kepada kita ia dalah guru pertama. Dengan sabar ia mengajari kita mengenal hitam, putih, kuning dan merah. Dengan telaten ia mengajari kita untuk tersenyum dan berbicara. Dari sentuhannya yang lembut dan dingin dia membimbing kita sehingga bisa berangkat dan berjalan.

Oleh karena itu marilah saudaraku, selagi masih ada waktu kita muliakan Ibu dan Bapak kita, bahagiakan selalu mereka, jangan sampai kita meneteskan kedua matanya dengan air mata karena perbuatan kita atau kedurhakaan kita.

Semoga bermanfaat.....


dikutip dari http://tulisan-menarik.blogspot.com