Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Minggu, 30 Desember 2012

Ibu Teladan Asma' Binti Abu Bakar As Siddiq, Dzatun Nithaqain

“Ya ALLAH! Kasihanilah dia karena solat yang panjang diselingi tangisan di tengah kedinginan malam yang sepi, ketika orang-orang lain sedang nyenyak dibuai mimpi. Ya ALLAH! Kasihanilah dia yang sering menahan lapar dan dahaga ketika bertugas jauh dari Madinah atau Mekah dalam menunaikan ibadah puasa kepadaMu. Ya ALLAH! Aku menyerahkannya di bawah pemeliharaanMu, aku redha dengan apa yang telah Engkau tetapkan bagiku dan baginya, dan berilah kami pahala orang-orang yang sabar...!" (Doa Asma' radhiallahu anha buat puteranya, Abdullah bin Zubair)

Asma' binti Abu Bakar As-siddiq, saudara Aisyah Ummul Mukminin (isteri Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam), puteri sahabat Rasulullah yang mulia, Saidina Abu Bakar As-siddiq, isteri Zubair bin Awwam, pejuang dan tokoh Islam yang mengutamakan redha ALLAH di dalam perjuangannya, Merupakan seorang wanita muhajir yang mulia dan Ibunda Abdullah bin Zubair, salah seorang pejuang yang gugur mempertahankan agamanya, dan sesungguhnya kedudukannya ini cukup untuk mengangkat darajat beliau ke tempat yang tinggi, mulia dan terpuji. Peribadinya dirahmati ALLAH dengan keistimewaan yang sangat menonjol, setanding dengan para Muslimin ketika itu, cerdas, cerdik, lincah, pemurah dan berani.

Kedermawanan beliau dapat dilihat jelas melalui ucapan anaknya," Aku belum pernah melihat wanita yang sangat pemurah melebihi Ibuku termasuk Aisyah Radhiallahu anha. Beliau (Aisyah) mengumpulkan apa yang diperolehnya sedikit demi sedikit, lantas setelah itu barulah dinafkahkannya kepada mereka yang memerlukannya. Sedangkan Ibuku, dia tidak pernah menyimpan sedikit pun hingga hari esok"

Kebijaksanaan Dzatun Nithaqain

Kecemerlangan berfikir Asma Radhiallahu anha terpancar dari sikapnya yang penuh prihatin dan perhitungan yang bijaksana. Peristiwa Hijrah Abu Bakar menyaksikan pengorbanan seorang sahabat demi Islam, tidak meninggalkan sesen pun harta untuk keluarganya melainkan dibelanjakan keseluruhannya untuk ALLAH dan RasulNya.  Ketika Abu Quhafah (ayah Abu Bakar radhiallahu anhu) yang masih musyrik menemui keluarganya, beliau berkata kepada Asma',

"Demi ALLAH! Tentu ayahmu telah mengecewakanmu dengan hartanya, di samping akan menyusahkanmu dengan kepergiannya!".  Jawab wanita yang mulia ini, "Tidak wahai kakek! sekali-kali tidak! Beliau banyak meninggalkan uang buat kami" ujarnya sambil menghibur dan menenangkan kakeknya. Dikumpulkannya batu-batu kerikil yang kemudiannya dimasukkan ke dalam lubang tempat kebiasaannya menyimpan uang. Kemudian dibawakan kakeknya yang buta itu ke tempat simpanan tersebut, lantas berkata, "Lihatlah kakekku! Beliau banyak meninggalkan uang buat kami!". Perkataan tersebut ternyata mampu meyakinkan Abu Quhafah. Maksud perbuatan tersebut adalah untuk menyenangkan hati kakeknya, agar tidak bersusah hati memikirkan hal tersebut. Malah, Asma'  juga tidak menginginkan bantuan dari orang musyrik meskipun kakeknya sendiri. Inilah bukti yang menunjukkan besarnya perhatian beliau terhadap dakwah dan kepentingan kaum Muslimin.

Diberi julukan sebagai 'dzatun nithaqain' oleh Rasulullah Saw yang berarti "wanita yang mempunyai dua tali pinggang", sebagai peringatan terhadap peristiwa Hijrah yang menyaksikan pengorbanan dan keberanian Asma' yang tiada bandingannya. Beliau bersusah payah menyediakan bekal makanan dan minuman buat Rasulullah Saw dan Abu Bakar Radhiallahu anhu di saat genting seperti itu. Beliau mengoyakkan ikat pinggangnya menjadi dua untuk dijadikan tali pengikat untuk mengikat bekal makanan dan minuman tersebut, sehingga peristiwa itu Rasulullah mendoakan beliau agar digantikan tali pinggang tersebut dengan yang lebih baik dan lebih indah di syurga kelak.

Tidak hanya itu pengorbanan Asma Radhiallahu anha. Peristiwa hijrah ini turut menyaksikan kekuatan berfikir dan strategi yang dimiliki oleh seorang Muslimah hasil kecemerlangan berfikir yang dilandasi ketaqwaan dan keimanan yang teguh. Asma' Radhiallahu anha bukan sekadar menjadi pengantar makanan kepada dua orang sahabat yang berperanan penting bagi umat Islam, malah beliau juga menyampaikan berita-berita penting tentang rencana-rencana pihak musuh terhadap kaum Muslimin. Dengan kehamilannya ketika itu, Asma' mengambil  peranan yang menjanjikan risiko tinggi, di mana bukan saja nyawanya menjadi taruhan, malah lebih dari itu, nyawa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam dan ayahnya turut juga terancam. Memikirkan kemarahan musuh Islam lantaran lolosnya Rasulullah dari kepungan, kafir Quraisy pastinya akan berusaha bersungguh-sungguh mencari-cari Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam untuk dibunuh karena bencinya mereka terhadap dakwah Islam dan pejuang-pejuangnya.

Di saat-saat genting seperti itu, Asma' mampu meramal segala kemungkinan yang bakal terjadi, dan dengan kecerdikan dan penuh perhitungan, beliau berjalan menuju Gua Tsur sambil menggembala kambing-kambingnya berjalan di belakangnya. Taktik ini dilakukan untuk mengaburi mata pihak musuh karena jejaknya terhapus oleh jejak-jejak kambing gembalaannya itu. Tindakan ini belum tentu mampu dilakukan oleh seorang lelaki yang berani sekalipun, lantaran hal tersebut bakal mengundang bahaya, kezaliman, dan kekejaman orang-orang kafir Quraisy.

Permasalahan ini tidak cukup sampai di situ. Setelah keberhasilan Rasulullah Saw dan Abu Bakar keluar dari tempat persembunyian dan berhasil berhijrah ke Madinah, Asma' Radhiallahu anha dan keluarganya didatangi beberapa orang Quraisy, di antaranya Abu Jahal yang telah bertindak kasar menampar pipi Asma’ Radhiallahu anha dengan sekali tamparan yang mengakibatkan subangnya terlepas!. Asma' menjawab saat beliau ditanya tempat persembunyian Rasulullah dan ayahnya dengan berkata," Demi Allah, aku tidak tahu di mana ayahku berada sekarang!"

Hijrah Asma' Radhiallahu anha dan suaminya ke Madinah berlaku selang beberapa lama dari hijrah sebelumnya, di mana pada ketika itu Asma' sedang dalam keadaan mengandung Abdullah bin Zubair dan hanya menanti detik-detik kelahirannya. Perjalanan yang jauh dan berbahaya ditempuh jua bersama dengan para sahabat tiba di Quba'. Kelahiran anak pasangan sahabat ini disambut dengan penuh kesyukuran dan kegembiraan. Dialah bayi pertama yang dilahirkan di Madinah.

Sebaik-baik Ummu wa Rabbatul Bait

Seorang muhajirah yang agung, antara wanita yang awal memeluk Islam, sangat memuliakan suaminya meskipun Zubair hanya seorang pemuda miskin yang tidak mampu menyediakan pembantu buatnya. Hatta tidak mempunyai harta yang dapat melapangkan kehidupan keluarganya, melainkan hanya seekor kuda yang dijaganya dengan baik. Beliaulah isteri yang senantiasa sabar dan setia berkhidmat untuk suaminya, sanggup bekerja keras merawat dan menumbuk sendiri biji kurma untuk makanan kuda suaminya di saat Zubair sibuk menjalankan tugas-tugas yang diperintah Rasulullah kepadanya.

Di dalam didikannya, keperibadian Abdullah bin Zubair dibentuk. Beliau adalah contoh seorang ibu yang sangat memahami peranannya dalam melahirkan generasi utama yang beriman, generasi yang menjadikan kecintaan kepada ALLAH dan RasulNya di atas segala-galanya, sama ada harta, isteri, keluarga maupun segala jenis perbendaharaan dunia. Beliau mencetak keperibadian generasi yang siap berjuang membela bendera Islam dan kalimah LA ILAHA ILLALLAH Muhammad Rasulullah. Keperibadian seperti ini terpancar jelas di dalam diri puteranya, Abdullah bin Zubair. Hal ini dapat kita teladani melalui kisah pertemuan terakhir di antara seorang ibu dan anak yang saling menyayangi dan mencintai satu sama lain, semata-mata kerana kecintaan keduanya kepada ALLAH Subhanahu wa Taala dan RasulNya.

Abdullah: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, wahai ibunda!

Asma': Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, ya Abdullah! Mengapa engkau datang ke sini di saat-saat seperti ini? Padahal batu-batu besar yang dilontarkan Hajjaj kepada tenteramu menggetarkan seluruh Kota Mekah?

Abdullah: Aku hendak bermusyawarah dengan ibu

Asma': Tentang masalah apa?

Abdullah: pasukanku banyak meninggalkanku. Mereka membelot dariku ke pihak musuh. Mungkin karena mereka takut terhadap Hajjaj atau mungkin juga karena mereka menginginkan sesuatu yang dijanjikannya sehingga anak-anak dan isteriku sendiri berpaling daripadaku. Sedikit sekali jumlah tentara yang tinggal bersamaku. Sementara utusan Bani Umayyah menawarkan kepadaku apa saja yang ku minta berupa kemewahan dunia asal saja aku bersedia meletakkan senjata dan bersumpah setia mengangkat Abdul Malik bin Marwan sebagai khalifah. Bagaimana pendapatmu wahai ibu?

Asma': Terserah kepadamu Abdullah! Bukankah engkau sendiri yang mengetahui tentang dirimu? Jika engkau yakin bahwa engkau mempertahankan yang haq dan mengajak kepada kebenaran, maka teguhkanlah pendirianmu seperti para perajuritmu yang telah gugur dalam mengibarkan bendera agama ini! Akan tetapi, jika engkau menginginkan kemewahan dunia, sudah tentu engkau adalah seorang anak lelakiku yang pengecut! dan berarti engkau sedang mencelakakan dirimu sendiri dan menjual murah harga kepahlawananmu selama ini, anakku!

Abdullah: Akan tetapi, aku akan terbunuh hari ini ibu.

Asma' : Itu lebih baik bagimu daripada kepalamu akan diinjak-injak juga oleh anak-anak Bani Umayyah  dengan mempermainkan janji-janji mereka yang sangat sukar untuk dipercayai!

Abdullah: Aku tidak takut mati, Ibu. Tetapi aku khuatir mereka akan mencincang dan merobek-robek jenazahku dengan kejam!

Asma': Tidak ada yang perlu ditakuti perbuatan orang hidup terhadap kita sesudah kita mati. Kambing yang sudah disembelih tidak akan merasa sakit lagi ketika kulitnya dikupas orang!

Abdullah: Semoga Ibu diberkati ALLAH. Maksud kedatanganku hanya untuk mendengar apa yang telah ku dengar dari ibu sebentar tadi. Allah Maha Mengetahui, aku bukanlah orang yang lemah dan terlalu hina. Dia Maha Mengetahui bahwa aku tidak akan terpengaruh oleh dunia dan segala kemewahannya. Murka ALLAH bagi siapapun yang meremehkan segala yang diharamkanNya. Inilah aku, anak Ibu! Aku selalu patuh menjalani segala nasihat Ibu. Apabila mati, janganlah ibu menangisiku. Segala urusan dari kehidupan Ibu, serahkanlah kepada ALLAH!

Asma': Yang ibu khuatirkan seandainya engkau mati di jalan yang sesat.

Abdullah: Percayalah Ibu! Anakmu ini tidak pernah memiliki fikiran sesat untuk berbuat keji. Anakmu ini tidak akan menyelamatkan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang-orang Muslim yang berbuat kebaikan. Anakmu ini mengutamakan keredhaan ibunya. Aku mengatakan semua ini di hadapan ibu dari hatiku yang putih bersih. Semoga ALLAH menanamkan kesabaran di dalam sanubari Ibu.

Asma': Alhamdulillah! segala puji bagi ALLAH yang telah meneguhkan hatimu dengan apa yang disukaiNya dan yang Ibu sukai pula. Rapatlah kepada Ibu wahai anakku, Ibu ingin mencium baumu dan menyentuhmu. Agaknya inilah saat terakhir untuk ibu memelukmu..."

Abdullah:Jangan bosan mendoakan aku Ibu!
Sebelum matahari terbenam di petang itu, Abdullah bin Zubair syahid menemui Rabbnya. Dia kembali karena mengutamakan redha ALLAH dan redha ibunya yang beriman. Diriwayatkan, bahawa Al-Hajjaj berkata kepada Asma' setelah Abdullah terbunuh :"Bagaimanakah engkau lihat perbuatanku terhadap puteramu ?" 

Asma' menjawab :"Engkau telah merusak dunianya, namun dia telah merusak akhiratmu." Asma' wafat di Mekkah dalam usia 100 tahun, sedang giginya tetap utuh, tidak ada yang tanggal dan akalnya masih sempurna. [Mashaadirut Tarjamah : Thabaqaat Ibnu Saad, Taarikh Thabari, Al-Ishaabah dan Siirah Ibnu Hisyam].  Semoga ALLAH meridhai kedua hambaNya, Asma' dan puteranya.


dikutip dari islam2u.net dengan sedikit penyesuaian

Selasa, 25 Desember 2012

Kisah Nabi Isa A.S dan Ibunda Beliau

Dengan kekuasaan ALLAH SWT, lahirlah Isa A.S dari rahim Maryam yang tidak pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.

Tatkala mereka melihat hal ini (Maryam mempunyai bayi), padahal mereka tahu bahwa Maryam belum menikah, mereka pun memastikan bahwa anak itu tentunya lahir dari hubungan yang tidak benar. ALLAH  menceritakan:

“Kaumnya berkata: ‘Hai Maryam, sungguh kamu benar-benar telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sama sekali bukanlah pezina.’ Maka Maryam menunjuk kepada anaknya.” (Maryam: 27-29)

Sebagaimana dia diperintahkan. Lalu berkatalah orang-orang yang mengingkari Maryam (sebagaimana firman Allah) berikut :

“Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan ?” (Maryam: 29)

Ketika itu Nabi ‘Isa A.S baru berusia beberapa hari sejak dilahirkan ibunya. Firman ALLAH  menerangkan bagaimana Nabi ‘Isa menjawab pertanyaan mereka:

“Sesungguhnya aku ini hamba ALLAH. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada. Dia memerintahkan kepadaku untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup. Dan (memerintahkan pula agar) aku berbakti kepada ibuku dan Dia tidak menjadikan aku orang yang sombong lagi celaka. Kesejah-teraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam : 30-33)

Perkataan yang diucapkan saat beliau masih sebagai bayi yang baru lahir ini, merupakan salah satu tanda kekuasaan ALLAH, sekaligus bukti kerasulan beliau. Dan beliau hanyalah seorang hamba ALLAH. Tidak seperti yang dipahami oleh orang-orang Nasrani (Kristen).

Akhirnya terlepaslah ibunya dari tuduhan buruk ini. Karena seandainya Maryam mendatangkan seribu saksi atas kesuciannya dalam keadaan seperti ini, belum tentu manusia akan menerima pembelaannya. Akan tetapi ucapan ini keluar dari Nabi ‘Isa A.S yang masih dalam buaian, sehingga hilanglah semua keraguan yang ada di dalam hati siapapun.

Setelah kejadian ini, manusia pun terbagi menjadi tiga golongan.

Golongan pertama : yang beriman dan membenarkan ucapan beliau serta tunduk kepadanya setelah dia menjadi Nabi. Mereka inilah yang beriman dengan sebenarnya.

Golongan kedua : yang melampaui batas, yaitu orang-orang Nasrani. Mereka mengemukakan suatu pernyataan yang sudah dikenal, yaitu memposisikan Nabi ‘Isa A.S sebagai Rabb. Maha Suci ALLAH dari ucapan dusta mereka.

Golongan ketiga : yang mengingkari dan menentangnya, yaitu orang-orang Yahudi. Mereka melemparkan tuduhan kepada ibunya. Padahal ALLAH telah membersihkannya dari tuduhan itu dengan sebersih-bersihnya.

Oleh karena itulah, ALLAH berfirman:

“Maka berselisihlah golongan-golongan yang ada di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar (kiamat).” (Maryam: 37)

Ketika ALLAH mengutusnya kepada Bani Israil, sebagian ada yang beriman kepadanya, namun banyak pula yang mengingkarinya. Beliau memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat ALLAH dan berbagai keajaiban. Beliau membuat bentuk (burung) dari tanah lalu meniupnya, maka jadilah seekor burung yang hidup dengan seizin ALLAH. Dia menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya, orang yang berpenyakit sopak (belang), serta menghidupkan orang mati dengan seizin ALLAH. Beliau juga mengabarkan kepada Bani Israil apa yang mereka makan dan mereka simpan di rumah-rumah mereka.

Namun demikian, musuh-musuh beliau justru ingin membunuhnya. Maka ALLAH menjadikan kemiripan (fisik) pada salah seorang Hawariyyin (shahabatnya - yakni yang khianat) atau orang lain. ALLAH mengangkat beliau kepada-Nya serta menyucikannya dari upaya pembunuhan. Akhirnya mereka menangkap orang yang diserupakan ALLAH sebagai Nabi ‘Isa A.S, lalu membunuh dan meletakkannya di tiang salib. Mereka telah melakukan dosa dan kejahatan yang sangat besar.

Orang-orang Nasrani (Kristen) mem-benarkan dan mempercayai hal ini, bahkan meyakini bahwa mereka telah membunuh dan menyalibnya. Namun ALLAH menyu-cikan beliau dari semua keadaan ini, firman ALLAH :

“Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh) adalah orang yang diserupakan dengan ‘Isa A.S bagi mereka.” (An-Nisa 157)

Nabi ‘Isa A.S berdakwah di tengah-tengah Bani Israil, mengabarkan berita gembira akan risalah dan kedatangan Nabi Muhammad S.A.W. Namun setelah Nabi Muhammad datang kepada mereka padahal mereka telah mengenalnya (melalui Taurat dan Injil) sebagaimana mengenal anak-anak mereka sendiri, mereka berkata :

“Maka berkatalah orang-orang kafir di antara mereka: ‘Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata’.” (Al-Ma`idah: 110)

Beberapa Pelajaran dari Kisah Ini

1. Nadzar itu telah disyariatkan sejak umat sebelum kita. Nabi bersabda mengenai masalah in i:

“Barangsiapa bernadzar untuk taat kepada Allah maka hendaklah dia menaati-Nya. Dan barangsiapa bernazar hendak durhaka kepada Allah, maka janganlah dia mendurhakai-Nya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dari ‘Aisyah)

2. Termasuk kenikmatan yang ALLAH berikan kepada seseorang adalah dia berada di bawah pengawasan atau pemeliharaan orang yang shalih. Karena seorang pembimbing dan pengawas mempunyai pengaruh sangat besar dalam kehidupan orang yang dibimbing dan yang berada di bawah pengawasannya. Baik akhlak maupun adab sopan santunnya. Karena itulah diperintahkan bagi para pendidik atau pembimbing untuk memperhatikan pendidikan yang baik, selalu memberikan dorongan untuk berakhlak yang baik, dan memperingatkan agar menjauhi akhlak yang buruk kepada orang yang dibimbingnya.

3. Adanya karamah para wali ALLAH. Dalam kisah ini, ALLAH memberikan kemuliaan (karamah) kepada Maryam dengan beberapa perkara:

- ALLAH memberinya jalan untuk berada di bawah bimbingan dan pengawasan Nabi Zakariya A.S setelah terjadi perselisihan mengenai urusannya.

- ALLAH memuliakannya dengan rizki yang selalu datang dari ALLAH untuk dirinya tanpa suatu sebab yang wajar.

- ALLAH memuliakannya dengan adanya ‘Isa A.S yang dilahirkannya dan ucapan malaikat kepadanya, juga perkataan Nabi ‘Isa A.S yang masih dalam buaian, yang kesemua itu menenteramkan hatinya. Jadi, terkumpul dalam masalah ini karamah seorang wali dan mu’jizat seorang Nabi.

4. Dikisahkan beberapa ayat (tanda kekuasaan) ALLAH yang demikian besar yang ALLAH berikan kepada Nabi ‘Isa A.S. Seperti menghidupkan orang mati, menyembuhkan penyakit buta serta sopak, dan sebagainya.

5. Kemuliaan yang ALLAH berikan kepada Nabi ‘Isa A.S dengan menjadikan Hawariyin dan para pembela, baik ketika beliau masih hidup maupun sesudah meninggalnya, yang menyebarluaskan dakwah dan membela agamanya. Oleh karena itu, bertambahlah pengikutnya. Di antara mereka ada yang tetap beragama dengan lurus, yaitu mereka yang beriman kepadanya secara hakiki, beriman pula kepada para Rasul.

Di antara mereka ada pula yang menyimpang, yaitu orang-orang yang melampaui batas terhadapnya. Merekalah mayoritas manusia yang mengaku-aku sebagai pengikut Nabi ‘Isa, padahal sesungguhnya mereka adalah orang yang paling jauh darinya.

6. ALLAH memuji Maryam sebagai seorang wanita yang sempurna sikap tashdiq-nya (beriman dan membenarkan). Yakni, dia membenarkan dan beriman kepada semua firman (kalimat) Rabbnya, Kitab-Kitab-Nya, dan dia termasuk orang-orang yang taat. Sifat ini tentu saja menunjukkan pula bahwa dia adalah seorang wanita yang mempunyai ilmu yang kokoh (rasikh), ibadah yang tidak pernah berhenti, dan khusyu’ (tunduk) kepada ALLAH. Dan ALLAH telah memilih dan melebihkannya di atas sekalian wanita di dunia ini.

7. Diterangkannya kisah ini atau berita lainnya kepada Nabi Muhammad S.A.W secara terperinci dan sesuai dengan kenyataannya, merupakan bukti-bukti risalah dan tanda-tanda kenabian beliau. Sebagaimana firman ALLAH :

“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (hai Muhammad).” (Ali ‘Imran: 44)


dikutip dari http://asysyariah.com

Senin, 24 Desember 2012

Halimah Sa'diyah, Ibu Susuan Rasulullah SAW

Sebuah tangis bayi yang baru lahir terdengar dari sebuah rumah di kampung Bani Hasyim di Makkah pada 12 Rabi’ul Awwal 571 M. Bayi itu lahir dari rahim Aminah dan langsung dibopong seorang “bidan” yang bernama Syifa’, ibunda sahabat Abdurrahman bin Auf. “Bayimu laki-laki!”

Aminah tersenyum lega. Tetapi seketika ia teringat kepada mendiang suaminya, Abdullah bin Abdul Muthalib, yang telah meninggal enam bulan sebelumnya. Bayi yang kemudian oleh kakeknya diberi nama Muhammad (Yang Terpuji) itu lahir dalam keadaan yatim.

Ayahnya meninggal di Yatsrib ketika dia berusia tiga bulan dalam kandungan ibundanya. Kelahiran yang yatim ini dituturkan dalam Al-Quran, “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” (QS. Adh-Dhuha: 6).

Aminah, janda beranak satu itu, hidup miskin. Suaminya hanya meninggalkan sebuah rumah dan seorang budak, Barakah Al-Habsyiyah (Ummu Aiman). Sementara sudah menjadi kebiasaan bangsawan Arab waktu itu, bayi yang dilahirkan disusukan kepada wanita lain. Khususnya kepada wanita dusun, supaya hidup di alam yang segar dan mempelajari bahasa Arab yang baku.

Ada hadits yang mengatakan, kebakuan bahasa warga Arab yang dusun lebih terjaga. Menunggu jasa wanita yang menyusui, Aminah menyusui sendiri Muhammad kecil selama tiga hari. Lalu dilanjutkan oleh Tsuwaibah, budak Abu Lahab, paman Nabi Muhammad, yang langsung dimerdekakan karena menyampaikan kabar gembira atas kelahiran Nabi, sebagai ungkapan rasa senang Abu Lahab.

Kemudian Muhammad dan bayi kalangan terpandang Arab akan disusui oleh murdi’at (para wanita yang menyusui bayi). Rasulullah SAW ditawarkan kepada murdi’at dari Bani Sa’ad yang sengaja datang ke Makkah mencari bayi-bayi yang masih menyusu dengan harapan mendapat bayaran dan hadiah.

Namun, mereka menolak karena Rasulullah SAW adalah anak yatim. Meski demikian, Halimah Sa’diyah tidak mendapatkan seroang bayi yang akan disusui. Karena itu, agar pulang tanpa tangan hampa, ia mengambil Rasulullah SAW yang yatim itu sebagai anak susuannya.

Keberadaan Muhammad kecil memberi berkah kepada keluarga Halimah, bahkan bagi kabilahnya. Setelah dua tahun, Halimah membawa Muhammad kecil mengunjungi ibunya. Karena sadar bahwa keberadaan Muhammad kecil memberi berkah kepada kampungnya, Halimah memohon Aminah agar Muhammad kecil diizinkan tinggal kembali bersama Bani Sa’ad. Aminah pun menyetujuinya.

Halimah itu bermakna lemah lembut, berkasih sayang ataupun orang baik. Halimah berasal dari Bani Sa'ad. Halimah Sa’diyah berarti Halimah yang lemah lembut yang bahagia.

Selama empat tahun Rasulullah SAW bersama Halimah. Halimah itu orang miskin, seperti Siti Aminah yang juga miskin. Tapi semenjak dapat anak angkat Rasulullah, rezkinya berlimpah. Dalam sekejap, kehidupan rumah tangga Halimah berubah total. Dan itu menjadi buah bibir di kampungnya. Mereka melihat, keluarga yang tadinya miskin tersebut hidup penuh kedamaian, kegembiraan, dan serba kecukupan.
Domba-domba yang mereka pelihara menjadi gemuk dan semakin banyak air susunya, walaupun rumput di daerah mereka tetap gersang. Peternakan domba milik Halimah berkembang pesat, sementara domba-domba milik tetangga mereka tetap saja kurus kering. Padahal rumput yang dimakan sama.

Karena itulah, mereka menyuruh anak-anak menggembalakan domba-domba mereka di dekat domba-domba milik Halimah. Namun hasilnya tetap saja sama, domba para tetangga itu tetap kurus kering.

Semenjak dengan Halimah, Rasulullah SAW tak pernah minta makanan, diberi atau tidak diberi makan, beliau tidak minta. Tidak seperti anak-anak lainnya yang jika lapar akan meminta makan. Selain itu, saat mengambil Rasulullah SAW sebagai anak susuan, air susu Halimah bertambah banyak. Ia pun heran. Sebab, selama ini  air susunya bukan tidak ada tapi tidak begitu banyak. Namun, semenjak muncul Nabi SAW, air susunya berlimpah.

Anehnya lagi, ketika sudah menyusu di susu sebelah dan hendak diberikan sebelah lain lagi, Nabi Muhammad tutup mulut kuat-kuat. Halimah paham Rasulullah SAW ajari dia yang sebelah ini untuk saudaranya, Damrah.

Sejak kecil ALLAH SWT sudah menganugerahkan sifat keadilan pada Rasulullah SAW. Nabi SAW tidak ingin mengambil bagian yang bukan untuknya. Rasulullah pun tak pernah menangis, tidak seperti anak kecil lainnya yang pasti menangis. Muhammad cilik dikembalikan ke Makkah setelah terjadi peristiwa pembelahan dada. Dua malaikat datang menghampirinya dengan membawa bejana dari emas berisi es. Mereka membelah dada Rasulullah SAW dan mengeluarkan hatinya.

Hati itu dibedah dan dikeluarkan gumpalan darah yang berwarna hitam. Kemudian dicuci dengan es. Setelah itu dikembalikan seperti semula. Halimah khawatir dengan keselamatan Muhammad cilik. Ia dan suaminya sepakat mengembalikan Muhammad kepada ibunya. Ketika diserahkan, Halimah tidak tahu apa yang terjadi pada Rasulullah SAW, sebab untuk mendapat informasi di zaman itu sangatlah susah. Tiba-tiba ketika umur Rasulullah SAW 40 tahun, terdengarlah berita oleh Halimah, rupanya anak susuannya menjadi rasul.

Namun demikian, untuk berjumpa dengan Rasulullah SAW begitu susah. Halimah memeluk Islam di tangan orang lain dan bukan di tangan Rasulullah SAW. Hanya suatu hari Halimah dapat berjumpa dengan Rasulullah SAW. Halimah pun merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Selepas itu Halimah pun meninggal dunia. Itulah terakhir kalinya dia berjumpa dengan Rasulullah S.A.W

 

dikutip dari http://riefalfatih.blogspot.com

Sabtu, 22 Desember 2012

Kasih Sayang Ibu yang tiada akan mampu kita membalasnya

Pada suatu hari, ketika Hasan al-Bashri thawaf di Ka’bah, Makkah, beliau bertemu dengan seorang pemuda yang memanggul keranjang di punggungnya. Beliau bertanya padanya apa isi keranjangnya. “Aku menggendong ibuku di dalamnya,” jawab pemuda itu. “Kami orang miskin. Selama bertahun-tahun, ibuku ingin beribadah haji ke Ka’bah, tetapi kami tak dapat membayar ongkos perjalanannya. Aku tahu persis keinginan ibuku itu amat kuat. Ia sudah terlalu tua untuk berjalan, tetapi ia selalu membicarakan Ka’bah, dan kapan saja ia memikirkannya, air matanya bergelinang. Aku tak sampai hati melihatnya seperti itu, maka aku membawanya di dalam keranjang ini sepanjang perjalanan dari Suriah ke Baitullah. Sekarang, kami sedang thawaf di Ka’bah! Orang-orang mengatakan bahwa hak orangtua sangat besar. Pemuda itu bertanya, “Ya Imam, apakah aku dapat membayar jasa ibuku dengan berbuat seperti ini untuknya?” Hasan al-Bashri menjawab, “Sekalipun engkau berbuat seperti ini lebih dari tujuh puluh kali, engkau takkan pernah dapat membayar sebuah tendanganmu ketika engkau berada di dalam perut ibumu!”

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

dikutip dari http://tijaroh.com

Ibunda Haritsah Bin Suraqah

Haritsah bin Suraqah adalah seorang pemuda Anshar. Beliau punya cerita yang amat menarik tentang dirinya sebagaimana yang tersebut dalam buku-buku Sirah nabawiyah. Penggalan akhir dari cerita ini bahkan ada dalam Shahih bukhari. Tentu bukan hanya kisah tentang dirinya, tapi juga sang ibu yang turut mewarnai jalan hidup yang menjadi pilihannya.

Kisah ini bermula ketika Nabi SAW menyeru para sahabatnya untuk pergi ke Badar. Mendengar seruan Nabi tadi, Haritsah bin Suraqah mendatangi ibunya, seorang wanita tua yang telah bungkuk punggungnya. Sang ibu sangat sayang kepada anaknya yang satu ini. Hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa si anak pun kadang membuatnya cemas. Sengatan matahari di siang hari terhadap anaknya juga membuatnya cemas. Bahkan lebih dari itu, seandainya si buah hati bersimpuh di hadapannya, lalu memintanya menyerahkan nyawanya untuknya, niscaya sang ibu tak segan-segan memberikannya.

Suatu ketika sang ibu bersimpuh di hadapan anaknya. Dengan penuh harap ia memohon kepada Haritsah agar mau menikah. Ia amat merindukan lahirnya seorang cucu dari buah hatinya ini. Dengan lembut haritsah berkata,”Bunda..” “apa yang hendak kau perbuat wahai anakku?” Tanya sang ibu. “saat ini Rasulullah sedang mengajak para sahabat untuk menyertai beliau ke Badar dan aku berniat untuk ikut bersama mereka,” kata Haritsah. “wahai anakku, sungguh demi Allah, amat berat rasanya berpisah denganmu. Wahai anakku, tetaplah bersamaku dan janganlah pergi!” pinta sang ibu sambil memelas. Namun Haritsah tak putus asa, ia terus menerus membujuk ibunya sambil menciumi kening sang ibu serta kedua tangan dan kakinya hingga ia merelakan keberangkatannya. “pergilah, hai anakku, nampaknya aku tak akan merasakan nikmatnya makan, minum, dan tidur hingga engkau kembali kepadaku,” kata ibunya. Perlahan sang ibu mengenakan pakaian bagi anaknya, menyelempangkan panah dan busurnya, kemudian mengecup keningnya, lalu melepas kepergiannya.

Tatkala kaum muslimin tiba di Badar, mereka bermarkas di sekitar sumur Badar. Setelah mereka bermarkas di sana, mulailah pasukan kafir tiba kompi demi kompi untuk mengambil posisi mereka. Sesaat sebelum genderang perang di tabuh, kedua pasukan telah siap berhadap-hadapan. Ketika itulah tiba-tiba Haritsah berlari menuju sumur Badar,tenggorokannya kering terbakar rasa haus. Bergegas ia ke sumur tadi untuk melepas dahaganya. Tatkala kedua tangannya menciduk air dari sumur untuk di minum, tiba-tiba ada seorang sahabat yang melihatnya. Ia adalah seorang muslim dari Bani Najjar. Rasulullah SAW menugaskannya untuk menjaga sumur Badar dari para penyelinap. Sebagai orang yang di tugasi untuk menjaga sumur, sahabat tadi khawatir jika ada seseorang dari pihak musuh yang ingin mencelakai kaum muslimin dengan mencemari air sumur itu.

Maka tatkala ia mendapati Haritsah hendak mengambil air di sumur tersebut, ia langsung waspada dan berkata, “A’udzubillah, orang kafir ini hendak mencemari sumur kita!?” segeralah ia siapkan busurnya, lalu ia letakkan sebatang anak panah di atasnya. Dengan seksama ia bidikkan anak panah tadi ke arah Haritsah, lalu dipanahnya Haritsah sekuat tenaga dan kemudian, Bless..!! anak panah itu tepat mengenai kerongkongan Haritsah!! Dia pun berteriak kesakitan. Ia terkapar di tanah sembari teriak-teriak minta tolong. Anak panah tadi nyaris membuatnya tak bisa berbicara. Namun tak seorang pun datang menolong. Mereka mengira bahwa Haritsah adalah mata-mata musuh. Ia mencoba mencabut anak panah itu, namun apa lacur, ternyata tubuhnya yang justru terkoyak karenanya. Darah pun mengalir deras membasahi sekujur tubuhnya. Ia terus menerus mengerang kesakitan sambil meregang nyawa, dan akhirnya ia wafat. Setelah terbunuh, si penjaga sumur menghampirinya untuk mencari tahu tentang orang itu. Alangkah kagetnya ia ketika mendapati bahwa yang terbunuh ternyata Haritsah bin Suraqah. "La haula wa la quwwata illa billah!!” serunya terperanjat. Ia segera mengabarkan kepada Nabi SAW akan apa yang terjadi, namun beliau memaafkannya.

Usai peperangan, Rasulullah SAW dan para sahabatnya kembali ke Madinah, kaum muslimin keluar berbondong-bondong menyambut kedatangan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Wanita, anak-anak, dan orang tua sama-sama menunggu di gerbang kota, di tengah teriknya matahari dan gersangnya padang pasir. Para wanita menunggu kedatangan suami mereka, anak-anak menunggu kedatangan ayah mereka, dan orang tua menunggu kedatangan anak mereka. Di antara mereka yang menunggu tadi ialah ibunda Haritsah bin Suraqah seorang wanita tua yang jantungnya berdegup kencang menanti kedatangan anak tersayang. Tatkala pasukan kaum muslimin tiba di Madinah, anak-anak berlarian menghampiri ayahnya masing-masing, kaum wanita bergegas mencari suami mereka, demikian pula para orang tua menyambut anak mereka,sedangkan ibunda Haritsah masih duduk termenung menunggu kedatangan anaknya.

Rombongan pertama telah tiba, disusul yang kedua, ketiga, kesepuluh, keseratus, kedua ratus. Namun, Haritsah tak kunjung tiba, sedangkan sang ibu tetap setia menantinya di tengah terik matahari yang membakar kulit. Ia takkan bosan menanti jantung hatinya itu, setelah selama ini ia selalu menghitung hari demi hari, bahkan menit demi menit menanti kedatangan anaknya. Ia bertanya kesana kemari perihal anaknya. Namun lagi-lagi, ia kembali dengan tangan hampa. Hampir saja ia dihinggapi rasa putus asa akan anaknya. Berulang kali ia mencari-cari anaknya, namun sang anak tak terlihat juga diantara rombongan-rombongan itu. Maka dipegangnyalah seorang sahabat seraya bertanya, “apakah engkau mengenal Haritsah bin Suraqah?” “ya, ibu siapa?” Tanya orang itu. “aku adalah ibunya, aku ibunda Haritsah,” jawab si ibu. “jika anda benar ibunya, maka tabahkanlah hati anda, sesungguhnya Haritsah telah terbunuh,” jawab orang itu. Mendengar kata-kata itu segeralah terbayang dalam hatinya akan Jannah. Ia berteriak, “Allahu Akbar!! Anakku telah syahid!! Semoga ia akan memberiku syafaat di Jannah kelak.” “Syahid? Kurasa ia tidak mati syahid,” sela orang itu. “lho, ada apa memangnya?” Tanya si ibu keheranan. “ia tidak mati di tangan orang kafir,” jawab lelaki itu. “ia tidak terbunuh diantara barisan kaum muslim?” Tanya si ibu. “tidak,” jawab lelaki tadi. “ia tidak terbunuh demi mempertahankan panji-panji Islam?” Tanyanya lagi. “tidak,” jawab lelaki itu. “lantas bagaimana ia mati terbunuh? Dimanakah Haritsah anakkku?” tanyanya agak histeris. “sesungguhnya Haritsah terbunuh sebelum perang dimulai, dan yang membunuhnya adalah salah seorang dari kaum muslimin. Jadi anakmu belum sempat berperang sedikitpun,” kata lelaki itu. “apa maksudmu?” Tanya si ibu. “ia bukanlah seorang syahid menurutku. Akan tetapi, semoga saja Allah memasukkannnya dalam Jannah,” jawabnya enteng. Setelah mendengar jawaban itu, sang ibu bertanya, “kalau begitu dimanakah Rasulullah SAW?” “itu dia, beliau sedang menuju kemari,” katanya.

Maka bergegaslah perempuan ‘malang’ ini mendatangi Rasulullah SAW, ia mengayun langkahnya yang berat dengan hati yang diliputi kegalauan akan anaknya, air matanya berderai membasahi pipinya, namun bukan air mata biasa, akan tetapi seakan ruhnya yang menetes. Di hadapan Nabi SAW, perempuan ‘malang’ ini berdiri dengan kepala tertunduk. Nabi SAW menatapnya dengan penuh rasa iba, wanita tua sebatang kara, tak punya tempat kembali untuk berbagi kesedihan. Beliau pun bertanya, “siapa anda?” “aku ibunya Haritsah,” jawabnya. “apa yang anda inginkan, wahai ibunda Haritsah?” tanya Nabi SAW. “ya Rasulullah, engkau tahu betapa cintanya aku kepada Haritsah dan semua orangpun tahu alangkah cintanya aku kepadanya. Ya Rasulullah, aku mendengar aku mendengar bahwa ia telah terbunuh. Maka kumohon padamu kabarkanlah aku dimana anakku sekarang? Kalau ia berada di Jannah, aku akan sabar, namun jika tidak demikian, biarlah Allah menyaksikan apa yang kuperbuat nanti!!” serunya. Nabi pun menatapnya dengan keheranan, “apa yang barusan anda katakan hai ibunda Haritsah, apa yang anda katakan?” “sebagaimana yang engkau dengar tadi, ya Rasulullah, kalau ia berada di Jannah, aku akan sabar, namun jika tidak demikian, biarlah Allah menyaksikan apa yang kuperbuat nanti!!” jawabnya.

Maka Nabi yang pengasih ini menatapnya dengan iba. Ia tak ubahnya seperti wanita tua yang sedang kalut pikirannya. Hatinya dipenuhi kegalauan. Ia berangan-angan andai saja anaknya berdiri di depannya, kemudian ia mendekapnya, menciumnya, dan membelainya. Ia rela berkorban apa saja untuk itu semua, walau dengan nyawanya sekalipun. Kedua kakinya terlihat kaku, lisannya terdiam membisu, tulang-tulangnya nampak rapuh, punggungnya yang membungkuk, kulitnya yang keriput dan suaranya yang serak seakan tertahan dalam kerongkongan. Alangkah malangnya nasib perempuan tua ini. Ia berdiri sembari kedua matanya menatap dengan penuh rasa ingin tahu. Kiranya jawaban apa yang akan didengarnya dari utusan Allah ini? Melihat kepasrahannya, ketundukkannya, dan keterkejutannya atas kematian anaknya, Nabi SAW berpaling kepadanya seraya berkata, “apa yang ibu katakan?” “seperti yang engkau dengar sebelumnya, ya Rasulullah,” jawabnya. “celaka, bagaimana engkau ini, hai ibunda Haritsah, kau sedih kehilangan anakmu? Bukan Cuma satu Jannah baginya, ada Jannah yang bertingkat-tingkat disana, dan Haritsah berada di Firdaus yang paling atas.” Tatkala mendengar jawaban ini redalah tangisnya dan kembalilah akalnya, lalu ia berkata “ya Rasulullah, ia benar-benar berada di Jannah??” “iya,” jawab beliau SAW. Maka kembalilah perempuan ‘malang’ ini ke rumahnya, disanalah ia mengisi hidup sambil menanti datangnya kematian. Ia rindu untuk segera bersua dengan buah hatinya di Jannah. Ia tak meminta ghanimah maupun harta, tidak pula mencari ketenaran maupun popularitas. Ia cukup ridha dengan Jannah, toh selama berada di Jannah, ia bisa makan sepuasnya, berteduh di bawah pohon-pohon rindang sesukanya, dan berkumpul bersama wajah-wajah yang berseri karena melihat wajah Allah. Mereka semuanya ridha didalamnya.

Demikianlah balasan yang setimpal bagi mereka. Bukankah selama ini mereka telah mempertaruhkan nyawa untuk itu, tubuh mereka yang dahulu penuh sayatan pedang, tusukan tombak, dan tancapan panah. Kini tibalah saatnya menuai segala jerih payah. ”Mereka berada diatas dipan yang bertahtakan emas dan permata, seraya bertelekan diatasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari mata air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Bagi mereka ada buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksan mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang mereka telah kerjakan. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam..” (QS. al-Waqi’ah: 15-26).

Semoga Allah merahmatimu wahai ibunda Haritsah, dan menempatkanmu bersamanya dalam Jannatul Firdaus.


dikutip dari http://asmabintiasiah.blogspot.com

Jumat, 21 Desember 2012

Wanita Bisu, Tuli, Buta dan Lumpuh itu adalah Ibunda Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit

Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke luar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.

Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah terlanjur dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja ia berkata, “Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya”.

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.” Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam”.

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orangtua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka.”

Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, “Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?” Lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan?” Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku !”

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?” Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh !”

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan semacam itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !”

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”.

Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum?.”

Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. “Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula”, kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya ?

Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”. Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?” Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?” tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”.

Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat salehah dan wanita yang akan memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami dengan baik. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, “Ketika kulihat wajahnya?Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”.

Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit.


dikutip dari http://abuthalhah.wordpress.com

Kamis, 20 Desember 2012

Berkaca pada Ibunda Teladan

Allah memberikan kecerdasan pada setiap perempuan, karena itu, pada perempuanlah anak dititipkan.

Tak ada wanita yang pernah berangan-angan tinggal di padang pasir tanpa penghuni. Apalagi bersama anak yang baru saja lahir dari kandungannya, jauh dari suami, jauh dari kerabat. Tak ada petunjuk ke mana harus berjalan, tak ada fasilitas memadai untuk membesarkan sang bayi. Semua tak berarah, yang ada hanya terbangan pasir dan gundukan gunung debu yang setiap saat bisa berubah menggulungnya.
Namun, ia tak menjadi gentar dengan kesendiriannya. Meski dengan hati yang sedih, ia tak hendak membenci suaminya yang meninggalkannya di gurun tak bertuan itu. Bahkan, ia sama sekali tak menggugat Tuhan yang telah memerintahkan suaminya untuk pergi meninggalkannya.
Kecerdasan Sebenarnya

Berbelas tahun kemudian, logika yang telah dituntun oleh ketundukkan, mengantarnya pada sebuah keikhlasan. Ikhlas menyerahkan buah hati yang selama ini diasuhnya sendirian, pada sang suami untuk disembelih. Itu terjadi justru di saat-saat kebersamaan baru saja kembali mereka rasakan. Lagi-lagi atas nama perintah Tuhan. Perempuan itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tanda persetujuan. Yang ada, hanya keyakinan bahwa Allah ingin memberikan yang terbaik untuknya. “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (An-Nisa [4] : 40).

Hajar, wanita itu, telah mengajarkan pada kaum perempuan. Mengajarkan sebuah makna kecerdasan yang tak lagi berbatas pada kecerdasan akal. Kecerdasan ini pula yang kemudian diwarisi oleh sahabiyah-sahabiyah di masa Rasulullah; ‘Aisyah, Fathimah, ‘Asma binti Abu Bakar, Hafsah binti ‘Umar bin Khaththab, dan sederet nama besar lainnya. Mereka mengajarkan makna yang tereja dalam keberhasilan mereka melahirkan generasi-generasi mujahid sekelas Hasan dan Husain, serta Abdullah bin Zubair bin ‘Awwam.
Kecerdasan itu niscaya tak pernah hilang, selama keikhlasan senantiasa bersemayam di hati seorang wanita. Mereka adalah perempuan-perempuan. Mereka adalah perempuan-perempuan yang diciptakan sama dengan apa yang kita miliki. Dengan demikian, kecerdasan yang mereka miliki pun tak mustahil kita miliki.

Kecerdasan yang sebenarnya, yang berasal dari sebuah hati yang sepenuhnya tunduk di hadapan kehendak-Nya. Kecerdasan itu hadir dari sebuah keikhlasan dan prasangka baik akan setiap takdir yang dibentangkan oleh Yang Mahaperkasa dalam kehidupan.
Kecerdasan Membuahkan Keperkasaan

Sungguh, ketundukkan hatilah yang telah mengantarkan Hajar, seorang ibu yang sebelumnya hanyalah seorang budak, mampu mendidik anaknya hingga beranjak remaja, saat kembali bersua dengan suaminya. Tanpa keluh, tanpa hasrat untuk meninggalkan anggapan buruk tentang Ayah dalam benak anaknya. Hanya kepasrahan yang ditularkannya pada sang anak, tentang keyakinan bahwa perintah Tuhannya tak akan membuat seorang hamba menderita. Ketundukan ini pula yang membuahkan kecerdasan dalam diri Asma binti Abu Bakar, Fathimah, Khadijah, dan wanita-wanita salihah lainnya, mendidik anak-anaknya dalam limpahan rasa syukur di tengah keterbatasan. Kecerdasan yang telah mengasuh kader-kader pilihan hingga kini. Kecerdasan yang membuat Allah hanya memilih wanita menjadi tempat bernaungnya seorang anak dari segala ketakutan.

Kecerdasan itu pula yang mengantarkan mereka menjadi sosok-sosok perkasa, di balik kelembutan mereka sebagai seorang ibu dan wanita. ‘Asma tak menangis menghiba manakala Hajjaj membunuh Abdullah bin Zubair, anaknya, kemudian menyalibnya. Ketika Hajjaj bertanya, “Bagaimana pendapatmu terhadapku tentang apa yang kuperbuat terhadap anakmu, wahai Asma’?” Asma dengan tenang menjawab, “Engkau telah memporak-porandakan dunianya, sedang dia telah memporak-porandakan akhiratmu.”

Kematian orang-orang tercinta tak membuat mereka menjadi luruh poranda. Kecerdasan jiwa telah meyakinkan mereka bahwa kematian bagi orang-orang tercinta adalah jalan untuk mengantarkan orang-orang tercinta pada kehidupan yang terbaik. Sebagaimana yang tergambar dalam dialog ‘Asma dengan Abdullah:

“Wahai Ibu, orang-orang telah mengkhianatiku, bahkan sampai istri dan anakku. Tidak ada yang tersisa,
 kecuali hanya sedikit orang. Mereka pun agaknya sudah tidak tahan untuk bisa bersabar lebih lama lagi. Sementara Hajjaj dan pasukannya menawarkan kesenangan dunia apa saja yang kumau, asal aku mau tunduk kepada mereka. Bagaimana pendapat Ibu?”

Dengan tegas Asma menjawab, “Demi Allah, wahai anakku, engkau lebih tahu tentang dirimu. Jika engkau mengetahui bahwa engkau berada di jalan yang benar dan engkau memang menyeru kepadanya, teruskanlah langkahmu. Sahabat-sahabatmu pun telah terbunuh karena mempertahankan kebenaran itu. Janganlah sekali-kali engkau dipermainkan oleh budak-budak Bani Umayyah. Sebaliknya, jika engkau menginginkan dunia, engkau adalah seburuk-buruk hamba yang mencelakakan dirimu sendiri dan orang-orang yang berjihad bersamamu.”

Asma yakin dan keyakinan itu membawanya pada sebuah pilihan cerdas: mendorong anaknya tetap memilih kehidupan terbaik, meski harus terpisah oleh ajal. Tak terkecuali ‘Asma, Hajar pun melakukan hal sama ketika mempersembahkan Ismail, juga Yukabad, ketika menghanyutkan Musa AS di sungai Nil. Mereka wanita-wanita shalihah, yang dengan kekuatan dan kecerdasan mereka memilih yang terbaik untuk anak-anaknya.

Belajar tentang makna ketundukkan penuh pada perintahNya, belajar menerima dengan ikhlas setiap kehendak yang ditetapkan-Nya pada kita. “Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” ( at-Taubah: 51)

Menangkap hikmah dari kisah ibunda-ibunda teladan di atas, mulai hari ini semestinya tak ada lagi perempuan yang berpandangan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah. Sesungguhnya wanita sebagai Ibu adalah hamba-Nya yang diamanahi seorang anak, sebagai tanggung jawab utama. Di pundak seorang Ibu tertumpu kewajiban untuk menjadikannya mujahid dan mujahidah sejati. Ibulah yang harus mengenalkan mereka pada Allah, Sang Pemilik Kehidupan, pada Rasul-Nya, juga pada ayahandanya bila harus pergi meninggalkannya, semata untuk perintah Ilahi, termasuk manakala harus mengayuh roda kehidupan sendiri.


dikutip dari http://majalah.hidayatullah.com dengan sedikit penyesuaian

Kisah Ibunda Siti Masyithah

Adalah Siti Masyithah, perempuan tukang rias putri Raja Fir'aun. Ia hidup satu zaman dengan Nabi Musa a.s. Ketika Musa mendakwahkan ajaran tauhid bahwa tiada tuhan selain Allah, dengan suka cita perempuan lembut ini menyambut seruan tersebut. Maka masuklah dia bersama keluarganya ke dalam golongan orang-orang yang menyembah Allah swt, meskipun secara diam-diam.

Suatu hari, seperti biasanya, ia menjalankan tugas rutinnya, yaitu mengurusi perawatan dan kecantikan putri Fir'aun. pada suatu kesempatan, ketika ia menyisir rambut putri Fir'aun, sisir yang ada dalam genggamannya jatuh. Kontan, terucap astagfirullah dari bibirnya. Mendengar Siti Masyithah mengucapkan kalimat tersebut, bukan main terkejutnya hati putri Fir'aun.

"Masyithah, sungguh kalimat tadi engkau yang mengucapkan? Tidak salah dengarkah diriku?", tanya Putri Fir'aun.

"Benar, tuan putri. Aku yg mengucapkan.", jawab Masyithah.

Putri Fir'aun itu pun hanya diam. Namun, bukan kepalang panas hatinya mendapati perempuan yang kini ada di depannya itu tidak lagi mengakui ayahnya sebagai tuhan. "Ayahandaku pasti murka kepadamu!" umpatnya dalam hati. 

Benar saja, tak lama kemudian Putri Fir'aun melaporkan apa yang ia dengar dan ketahui tentang Siti Masyithah kepada ayahandanya.

Keesokan harinya, Fir'aun mengumpulkan seluruh pelayan istananya, termasuk Siti Masyithah.

"Aku mendengar dari Hamman, menteriku, bahwa pengikut Musa bertambah dari waktu ke waktu. Dan, kini dalam istanaku sendiri ada seorang yg diam-diam menjadi pengikut Musa. Mana Siti Masyithah? bawa dia kehadapanku!" perintah Fir'aun kepada para pengawal istana dengan nada yg meluap-luap penuh amarah.

"Siaaaaap!!" jawab para pengawalnya.

Siti Masyithah pun dibawa ke hadapan penguasa Mesir yang zalim tsb. "Hai Siti Masyithah!" bentak Fir'aun dengan angkuh. "Aku dengar kamu dan keluargamu telah menjadi pengikut Musa. Benarkah itu?"

"Benar", jawab Masyithah.

"Tidakkah kamu tahu bahwa itu sama saja kau mengkhianatiku. Kamu tak mengakuiku lagi sebagai tuhanmu. Kamu tahu apa akibatnya?"

"Ya", jawab Masyithah dengan tenang.

"Baiklah, aku akan membunuhmu dan semua anggota keluargamu", ancam Fir'aun. "Tidak takutkah kamu?"

"Semua yang hidup pasti akan mati. Aku lebih takut kepada Allah swt daripada kematian itu sendiri. Aku siap menyambut hukumanmu".

"Masyithah!" teriak Fir'aun berang. Merasa dipermalukan di hadapan banyak orang. "Tidak sayangkah kau pada nyawamu dan keluargamu?" Fir'aun kembali membujuk dan menakut-nakuti.

"Tuan, saya dan keluarga lebih baik mati daripada hidup dalam kemusyrikan dan kesesatan mempertuhankan dirimu."
Melihat ketegaran yang diperlihatkan Masyithah, Fir'aun segera memerintahkan para pengawalnya untuk membawa keluarga Masyithah ke hadapannya. 

"Pengawal, segera siapkan belanga besar. Isi dengan air dan panaskan hingga mendidih!" perintah Fir'aun.

Bersamaan dengan air dalam belanga besar yg mulai bergolak, mendidih dengan asap yg deras mengepul ke udara. Fir'aun kembali angkat bicara, "Masyithah, lihatlah air dalam belanga yg mendidih itu! Aku akan merebusmu dan keluargamu di sana!"

"Silahkan! Saya tidak takut" jawab Masyithah.

"Jangan gila Masyithah! kalau kamu tidak sayang dengan nyawamu, paling tidak pikirkan bayi mungilmu itu!" bujuk Fir'aun, mencoba memainkan perasaan Masyithah. "Bagaimana? Pikirkan itu! Tinggalkan ajaran Musa dan kembalilah menyembah diriku. Aku akan berikan kepadamu hadiah yang besar, yang tak pernah engkau bayangkan sebelumnya. Ingat Masyithah, keselamatan bayimu!. Tidak sayangkah engkau padanya?"

Hampir saja Masyithah terperdaya akal bulus Fir'aun. Hatinya bimbang. Namun, suara kejujuran dari dalam batinnya menguatkan 'Jangan sedih Masyithah, kuatkan hatimu. Allah swt beserta orang-orang yang sabar.'

Tanpa ia sangka, sebuah keajaiban terjadi. Bayi mungil yang masih menyusu itu berbicara kepadanya, "Ummi, jangan engkau ragu dan bimbang, yakinlah akan kebenaran janji Allah. melihat bayi mungilnya mampu berkata-kata dengan fasih, semakin teguhlah hati sebagai pertanda bahwa dia berada di jalan yang benar. Allah swt pasti akan menolongnya.

Allah swt pun membuktikan janjinya bahwa Dia akan selalu menolong hambanya yang teguh memegang prinsip keimanan dan berbakti kepada-Nya. Maka ketika keluarga Masyithah satu per satu dilempatkan ke dalam belanga besar berisi air mendidih tsb oleh algojo Fir'aun, Allah telah mencabut nyawa mereka terlebih dahulu sebelum tubuh mereka masuk ke dalam belangan tsb. Dengan begitu, terbebaslah Siti Masyithah dan keluarganya dari siksa pedih dunia Fir'aun yg kejam.


dikutip dari fsialbiruni.org

Rabu, 19 Desember 2012

Kerinduan Seorang Ibu

Seorang ibu menunggu telepon anaknya yang tinggal jauh di sana. Berhari-hari, berminggu-minggu dia tunggu tapi telepon yang ditunggu-tunggunya tak muncul juga. Padahal si Ibu bisa saja menelpon langsung tapi dia takut mengganggunya.

Setiap hari, mungkin setiap waktu pikirannya selalu rindu anaknya. Terkadang disaat tidur pun nama anaknya sering disebut. Disaat kita masih terlelap tidur dia bangun lebih awal untuk memohon kepada Tuhan agar anaknya bisa menjadi orang yang berhasil.

Tapi si anak selalu sibuk dengan pekerjaanya. Sesibuk apakah hingga tak sempat untuk menghubungi orang tuanya?

Tuhan pun mungkin punya caranya sendiri untuk mebuka pintu hati si anak.

Di saat tidur si anak itu bermimpi. Di mimpinya itu dia melihat ibunya terkena musibah, sehingga ia pun terbangun dari tidurnya. Untung itu hanya sebuah mimpi. Ia pun menangis, alangkah bodoh dirinya tak pernah peduli dengan keadaan orang tuanya. Bagaimana kalau mimpi itu benar- benar terjadi?

Kini Ia sadar telah melupakan orang yang telah membesarkan dirinya. Ia pun berjanji untuk sering menghubungi ibunya.

Apakah kita terlalu mementingkan urusan kita hingga tak sempat meluangkan waktu sedikit untuk orang tua kita. Padahal dengan menyapanya walaupun cuma sekedar menanyakan keadaanya, itu bisa membuat hatinya bahagia.

Apakah kita baru akan sadar setelah terjadi musibah yang menimpa?
Bersyukurlah kita masih diberi kesempatan masih bisa bertemu dengan orang tua kita.


dikutip dari http://thewonderful7.blogspot.com

Minggu, 09 Desember 2012

An-Nawar binti Malik, Ibunda Sang Pencatat Wahyu

Di balik tangan lentik dan kelindaian Zaid bin Tsabit, sang “pencatat wahyu” menuliskan huruf demi huruf dan ayat demi ayat, terdapat sentuhan lembut penuh dedikasi dan kasih sayang dari ibundanya tercinta, An-Nawar binti Malik.

Ia mendidik Zaid dan menanamkan keislaman kepada buah hatinya itu bersama sang suami, Tsabit bin Zaid. Namun, keutuhan dan kebahagian keluarga kecil mereka tak berlangsung lama.

Pada usia lima tahun, ayahandanya gugur dalam Perang Bu’ats. Perang antara Suku Aus dan Khazraj yang terjadi sebelum peristiwa hijrah berlangsung tersebut, telah merenggut kasih sayang seorang ayah darinya.

Peristiwa ini pun menuntut An-Nawar berjuang seorang diri membesarkan dan mendidik anaknya. Ia tetap tegar mengantarkan anak tercintanya itu menuju kesuksesan.

Bekal kecerdasan dan kecintaan terhadap Islam An-Nawar menguatkan fondasi keimanan Zaid. Ibundanya itu berhasil memosisikan dirinya sebagai madrasah utama. Setapak demi setapak ia menancapkan ilmu ke dalam diri Zaid.

Alhasil, Zaid tumbuh sebagai pribadi yang matang dan berkualitas. Zaid tercatat sebagai pemuda pertama yang memeluk Islam. Ia cerdas dan jenius. Di usianya yang ke-11 tahun, keturunan Bani Khazraj ini mampu menghafal belasan Surah Alquran.

Daya ingatnya cukup kuat. Hanya dalam hitungan hari, tepatnya 17 hari, ia berhasil menguasi bahasa Suryani dan 15 hari untuk penguasaan bahasa Ibrani. Prestasi ini pun, menjadikannya didaulat sebagai sekretaris Rasulullah.

Sentuhan An-Nawar pun telah memoles mentalitas Zaid sebagai seorang Mukmin. Pada usia 13 tahun, Zaid mendaftarkan diri turutserta berperang di Perang Badar. Keberanian yang jarang dimiliki oleh bocah seusianya.
Sontak kehadirannya mengundang perhatian. Tubuhnya yang mungil tak mampu membawa beban pedang dengan ukuran yang melebihi postur badannya.

Keinginan tersebut dihargai oleh Rasulullah, tetapi akhirnya ditolak. Ini lantaran aturan peperangan melarang demikian. Tidak boleh mengikutsertakan anak-anak, perempuan, dan orang lanjut usia.

Zaid mendapat penjelasan langsung dari Nabi. Berperang tak cukup bermodal semangat, tetapi kesiapan fisik dan usia juga menentukan. Ia diminta agar sabar menunggu beberapa tahun lagi agar dinyatakan siap berjihad.

Jihad lisan dan pena
 
Penolakan itu membuat Zaid sangat kecewa. Sambil menangis, ia mengadu kepada ibunya. “Rasulullah melarangku berjihad,” ujarnya sambil menangis.

Sebagai ibu yang bijaksana, An-Nawar memahami semangat juang anaknya untuk menegakkan Islam. Namun, di sisi lain, pandangan Rasulullah sangat tepat.

Untuk mengobati kekecewaan anaknya, An-Nawar memberikan alternatif perjuangan lain yang bisa dilakukan anak seusianya. “Jangan bersedih anakku, jika jihad di medan perang belum boleh dilakukan anak-anak seusiamu, cobalah berjihad dengan cara lain, yakni melalui lisan atau tulisan,” katanya.

Usulan tersebut disampaikan bukan tanpa alasan. Sang ibu memahami betul potensi besar yang ada pada anaknya tersebut. Terutama, di bidang retorika dan tulis-menulis.

Sambil menghibur, An-Nawar meyakinkan lagi bahwa Zaid memiliki kelebihan dibandingkan anak-anak seusianya pada masa itu. “Engkau menguasai dan menghafal Alquran dengan sempurna, bisa menuliskannya kembali dengan baik,” katanya.
Saran ibunya membuat Zaid lega dan menghentikan tangisnya. Ia setuju berjuang di jalan Allah sesuai saran ibunya.

An-Nawar mengajak Zaid menghadap Rasulullah untuk menyampaikan potensi yang dimiliki anaknya yang masih belia.

An-Nawar berkata kepada Nabi, “Ya Rasulullah, anak kami Zaid bin Tsabit hafal 17 surah dari Alquran. Ia juga membacanya dengan benar sebagaimana ketika wahyu itu diturunkan kepadamu. Terlebih lagi, ia pandai membaca dan menulis. Ia ingin kemampuannya tersebut bisa dekat dan menetap dengan Rasulullah. Jika engkau berkenan, simaklah bacaannya.” Rasulullah mempersilakan Zaid unjuk kebolehan. Ia pun melantunkan ayat-ayat Allah dengan fasih, menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya. Nabi pun terpukau melihat kehebatan remaja yang pernah ditolaknya untuk ikut berperang ini.

Sebagai penghargaan, Rasulullah memberi amanah kepada Zaid untuk jihad pertamanya, yakni mengkaji Kitab Suci Yahudi, Taurat. “Wahai Zaid, pelajarilah kitab Yahudi untukku karena aku tidak bisa membuat mereka beriman kepada apa yang aku katakan kepada mereka.”

Warisan ibundanya yang mendidik Zaid untuk bekerja keras membuatnya mudah memahami Kitab Yahudi. Tidak hanya materinya, Zaid pun mempelajari bahasa Ibrani. Misi mempelajari ideologi yang diamanahkan Rasulullah dan mendalami bahasa kaum Yahudi dirampungkannya pada usia 13 tahun. Ia mahir berkomunikasi, membaca, dan menulis dalam bahasa Ibrani seperti penutur aslinya.

Selama Islam berjaya di Madinah, ia diangkat sebagai penerjemah bagi pemerintahan Islam di Madinah, penulis wahyu, penulis surat, peserta perundingan antara kabilah atau negara asing dengan negara Islam Madinah. Zaid menekuni jihad masa mudanya ini sesuai amanah Rasulullah hingga masa kenabian berakhir.

Peran Zaid terhadap Islam tidak hanya di zaman Rasulullah. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khatab, Zaid mendapat amanah untuk mengodifikasikan Alquran. “Kamu adalah seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukan itu,” kata Abu Bakar.

Selain mendalami Alquran, Zaid dikenal pula sebagai pakar hadis. Ia meriwayatkan 92 hadis. Di antaranya, tentang hukum warisan (faraidh).

dikutip dari fiqhislam.com

Jumat, 07 Desember 2012

Kasih Ibu Tidak Pernah Sederhana

Di Glasgow, Skotlandia, seorang wanita muda, seperti kebanyakan remaja masa kini, merasa bosan tinggal di rumah dan muak dengan larangan-larangan orangtuanya.

Hingga suatu hari ia berteriak marah, “Aku tak tahan lagi. Aku mau pergi!” 

Ia pun pergi, memutuskan untuk menaklukkan dunia. Namun, tak lama kemudian, ia berkecil hati karena tak mampu mendapat pekerjaan. Ia pun turun ke jalan dan menjadi tuna wisma. 

Tahun-tahun berlalu, ayahnya meninggal, ibunya pun bertambah tua, dan ia semakin terjerumus dalam dunia barunya. Ia tak pernah berusaha mencari ibunya. Sedangkan sang Ibu, ketika mendengar di mana anaknya berada, ia pergi ke bagian kumuh kota itu untuk mencarinya. Ia berhenti di setiap rumah penampungan dengan permintaan sederhana. 

Bolehkah saya memasang foto ini?” Foto sang Ibu dengan rambut putih beruban, yang tersenyum dengan pesan tulisan tangan di bawahnya: “Ibu masih sayang padamu. Pulanglah.” 

Beberapa bulan berlalu. Hingga suatu hari si anak masuk ke tempat penampungan untuk makan. Ia duduk melamun sementara matanya berkelana di papan pengumuman. Di sana ia melihat sebuah foto dan bepikir, 

mungkinkah itu ibuku?” 

Setengah berlari, dihampirinya foto itu. Setelah beberapa detik mengamati tanpa suara, ia menangis. Rasanya terlalu indah untuk menjadi kenyataan. 

Waktu itu sudah malam, tapi ia begitu tersentuh oleh pesan itu sehingga ia mulai berjalan pulang. Saat ia tiba, hari sudah pagi. Ia berjalan dengan takut-takut, tak begitu tahu apa yang harus dilakukannya. Saat ia mengetuk, pintunya terbuka sendiri. Pikirnya, pastilah ada seseorang yang menyelundup ke dalam rumah. 

Sambil mencemaskan keselamatan ibunya, wanita muda itu berlari ke kamar ibunya dan mendapatinya masih tidur. Ia mengguncang tubuh ibunya, membangunkannya, dan berkata, “Ini aku! Ini aku! Aku pulang!” 

Sang Ibu menangis bahagia dan memeluk anaknya. “Aku cemas sekali, Ibu! Pintunya terbuka dan kusangka ada pencuri masuk!” kata wanita muda itu. 

Sang Ibu menyahut dengan lembut, “Tidak, sayang. Sejak kau pergi, pintu itu tak pernah terkunci.” 

Kasih ibu tidak pernah sederhana. Kasih ibu amatlah rumit, hingga tak akan bisa dijelaskan oleh kata-kata. Dan teramat mewah, hingga tak akan bisa tergantikan atau terbayar oleh apapun. 
Seperti lingkaran, kasih ibu tak berawal dan tak berakhir.


dikutip dari zoom-indonesia.com

Senin, 03 Desember 2012

Kisah Ibunda Rasulullah S.A.W, Aminah Binti Wahab

Aminah binti Wahab adalah ibu yang melahirkan Muhammad, Nabi umat Islam. Aminah menikah dengan Abdullah. Tidak terdapat keterangan mengenai lahirnya beliau, dan menurut sejarah ia meninggal pada tahun 577 ketika dalam perjalanan menuju Yatsrib untuk mengajak Nabi Muhammad mengunjungi pamannya dan melihat kuburan ayahnya.

KELAHIRAN

Aminah dilahirkan di Mekkah. Ayah Aminah adalah pemimpin Bani Zuhrah, yang bernama Wahab bin Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Sedangkan ibu Aminah adalah Barrah binti Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddar bin Qushay.

PEMIMPIN PARA IBU

Bunda Aminah adalah pemimpin para ibu, karena ia ibu Nabi Muhammad SAW yang dipilih Allah SWT sebagai Rasul pembawa risalah untuk umat manusia hingga akhir zaman. Baginda Muhammadlah penyeru kebenaran dan keadilan serta kebaikan berupa agama Islam.

“Dan barangsiapa memilih agama selain Islam, maka tiadalah diterima (agama itu) darinya. Dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Tak banyak sejarawan yang mengupas masa hidupnya, namun nama ini senantiasa semerbak bersama hembusan angin keindahan. Perjalanannya yang indah nan suci telah mengukir perubahan besar perputaran zaman. Siapa yang tak kenal Bani Hasyim; karena dari kabilah inilah Nabi SAW dilahirkan. Siapa pula yang tak kenal Bani Zuhrah; sebuah kabilah yang pernah menyimpan wanita suci dan mulia, karena dari rahimnya lahir sebuah cahaya agung yang membawa pembaharuan besar di dunia ini, Aminah binti Wahab Ibunda Rasululllah SAW.

Mungkin sulit untuk diketahui kapan dan bagaimana kelahiran serta kehidupan Sayyidah Aminah sampai menjelang masa perkawinannya dengan Sayyid Abdullah, karena para sejarawan tidak banyak menceritakan masalah ini. Namun yang jelas Wanita Arab waktu itu terbagi menjadi dua kelompok:

Kelompok pertama, adalah wanita yang dikenal oleh kaum pria dan mereka pun mengenal kaum pria. Wanita semacam ini biasanya mempunyai keahlian dalam beberapa pekerjaan dan mereka pulalah yang memberi semangat kaum lelaki di saat terjadi peperangan. Para pemuda yang menikah dengan wanita semacam ini biasanya disebabkan melihat dan mendengar secara langsung.

Kelompok kedua, adalah para wanita yang tidak dikenal oleh kaum pria dan mereka pun tidak mengenalnya selain kaum lelaki dari keluarga dekatnya sendiri. Para Pemuda Arab yang meminang wanita semacam ini disebabkan kemuliaan dan iffahnya (kesucian). Wanita semacam ini senantiasa menerima pujian dan sanjungan di setiap masa.
 

Perumpamaan wanita semacam ini di mata manusia tak bisa disamakan, kecuali dengan mutiara yang tersimpan sehingga tidak sembarangan orang dapat mengotorinya. Tak seorang pun mampu mengusik kemuliaan dan iffahnya, dari wanita semacam inilah bunga mawar Bani Zuhrah, Aminah binti Wahab.

Seorang wanita berhati mulia, pemimpin para ibu. Seorang ibu yang telah menganugerahkan anak tunggal yang mulia pembawa risalah yang lurus dan kekal, rasul yang bijak, pembawa hidayah.

Cukuplah baginya kemuliaan dan kebanggaan yang tidak dapat dimungkiri, bahwa Allah Azza Wa Jalla memilihnya sebagai ibu seorang Rasul mulia dan Nabi yang terakhir.

Berkatalah Baginda Nabi Muhammad SAW tentang nasabnya:

“Allah telah memilih aku dari Kinanah, dan memilih Kinanah dari suku Quraisy bangsa Arab. Aku berasal dari keturunan orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik.”

Dengarlah sabdanya lagi:

“Allah memindahkan aku dari sulbi-sulbi yang baik ke rahim-rahim yang suci secara terpilih dan terdidik. Tiadalah bercabang dua, melainkan aku di bahagian yang terbaik.”

Bunda Aminah bukan cuma ibu seorang Rasul atau Nabi, tetapi juga wanita pengukir sejarah. Karena risalah yang dibawa putera tunggalnya sempurna, benar dan kekal sepanjang zaman. Suatu risalah yang bermaslahat bagi umat manusia.

Berkatalah Ibnu Ishaq tentang Bunda Aminah binti Wahab ini:

“Pada waktu itu ia merupakan gadis yang termulia nasab dan kedudukannya di kalangan suku Quraisy.”

Menurut penilaian Dr. Bint Syaati tentang Aminah ibunda Nabi Muhammad SAW yaitu:

“Masa kecilnya dimulai dari lingkungan paling mulia, dan asal keturunannya pun paling baik. Ia (Aminah) memiliki kebaikan nasab dan ketinggian asal keturunan yang dibanggakan dalam masyarakat aristokrasi (bangsawan) yang sangat membanggakan kemuliaan nenek moyang dan keturunannya.”

Aminah binti Wahab merupakan bunga yang indah di kalangan Quraisy serta menjadi puteri dari pemimpin bani Zuhrah. Pergaulannya senantiasa dalam penjagaan dan tertutup dari pandangan mata. Terlindung dari pergaulan bebas sehingga sukar untuk dapat mengetahui jelas penampilannya atau gambaran fisikalnya. Para sejarawan hampir tidak mengetahui kehidupannya kecuali sebagai gadis Quraisy yang paling mulia nasab dan kedudukannya di kalangan Quraisy.

Meski tersembunyi, baunya yang harum semerbak keluar dari rumah Bani Zuhrah dan menyebar ke segala penjuru Mekkah. Bau harumnya membangkitkan harapan mulia dalam jiwa para pemudanya yang menjauhi wanita-wanita lain yang terpandang dan dibicarakan orang.

CAHAYA DI DAHI

Allah memilih Aminah “Si Bunga Quraisy” sebagai isteri Sayyid Abdullah bin Abdul Muthalib di antara gadis lain yang cantik dan suci. Ramai gadis yang meminang Abdullah sebagai suaminya seperti Ruqaiyah binti Naufal, Fathimah binti Murr, Laila Al-Adawiyah, dan masih ramai wanita lain yang telah meminang Abdullah.

Ibnu Ishaq menuturkan tentang Abdul Muthalib yang membimbing tangan Abdullah anaknya setelah menebusnya dari penyembelihan. Lalu membawanya kepada Wahab bin Abdul Manaf bin Zuhrah --yang waktu itu sebagai pemimpin Bani Zuhrah-- untuk dinikahkan dengan Aminah.

Sayyid Abdullah adalah pemuda paling tampan di Mekkah. Paling memukau dan paling terkenal di Mekkah. Tak heran, jika ketika ia meminang Aminah, ramai wanita Mekkah yang patah hati.

Cahaya yang semula memancar di dahi Abdullah kini berpindah ke Aminah, padahal cahaya itulah yang membuat wanita-wanita Quraisy rela menawarkan diri sebagai calon isteri Abdullah. Setelah berhasil menikahi Aminah, Abdullah pernah bertanya kepada Ruqaiyah mengapa tidak menawarkan diri lagi sebagai suaminya.
 

Apa jawab Ruqayah:

“Cahaya yang ada padamu dulu telah meninggalkanmu, dan kini aku tidak memerlukanmu lagi.”

Fathimah binti Murr yang ditanyai juga berkata:

“Hai Abdullah, aku bukan seorang wanita jahat, tetapi kulihat aku melihat cahaya di wajahmu, karena itu aku ingin memilikimu. Namun Allah tak mengizinkan kecuali memberikannya kepada orang yang dikehendaki-Nya.”

Jawaban serupa juga disampaikan oleh Laila Al-Adawiyah:

“Dulu aku melihat cahaya bersinar di antara kedua matamu karena itu aku mengharapkanmu. Namun engkau menolak. Kini engkau telah mengawini Aminah, dan cahaya itu telah lenyap darimu.”

Memang “cahaya” itu telah berpindah dari Abdullah kepada Aminah. Cahaya ini setelah berpindah-pindah dari sulbi-sulbi dan rahim-rahim lalu menetap pada Aminah yang melahirkan Nabi Muhammad SAW. Bagi Nabi Muhammad SAW merupakan hasil dari doa Nabi Ibrahim bapaknya. Kelahirannya sebagai kabar gembira dari Nabi Isa saudaranya, dan merupakan hasil mimpi dari Aminah ibunya. Aminah pernah bermimpi seakan-akan sebuah cahaya keluar darinya menyinari istana-istana Syam.

Dari suara ghaib ia mendengar:

“Engkau sedang mengandung pemimpin umat.”

Masyarakat di Mekkah selalu membicarakan, kedatangan Nabi yang ditunggu-tunggu sudah semakin dekat. Para pendeta Yahudi dan Nasrani, serta peramal-peramal Arab, selalu membicarakannya. Dan Allah telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim (as) seperti disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 129.

“Ya Tuhan kami. Utuslah bagi mereka seorang Rasul dari kalangan mereka.”

Dan terwujudlah kabar gembira dari Nabi Isa (as), seperti tersebut dalam Surah Ash-Shaff ayat 6:

“Dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, namanya Ahmad (Muhammad).”

Benar pulalah tentang ramalan mimpi Aminah tentang cahaya yang keluar dari dirinya serta menerangi istana-istana Syam itu.

SEBAB PERKAWINAN SAYYIDAH

Para sejarawan dan ahli hadits telah meninggalkan kisah berharga tentang sebab musabab perkawinan Sayyidah Aminah dan Sayyid Abdullah. Ini telah membuktikan bahwa keluarga Abdul Muthalib tidak akan mengawinkan anaknya kecuali berdasarkan kemuliaan.

Ibnu Saad, Thabrani, dan Abu Naim meriwayatkan bahwa Abdul Muthalib bercerita:

"Suatu saat kami sampai di negara Yaman saat perjalanan musim dingin, kami bertemu dengan seorang penganut kitab Zabur (Pendeta Yahudi) dia bertanya: "Kamu dari kabilah mana? Aku menjawab: "Dari Quraisy". Dari Quraisy mana? Kujawab: Bani Hasyim! Kemudian Pendeta itu berkata: Bolehkah aku melihat salah satu anggota tubuhmu? Boleh saja asal bukan aurat?. Kemudian Pendeta itu melihat kedua tanganku dan berkata: "Aku bersaksi bahwa di salah satu tanganmu terdapat Malaikat dan tangan yang satunya terdapat Kenabian, dan aku melihat hal ini pada Bani Zuhrah, bagaimana semua ini bisa terjadi? Aku menjawab: Tidak tahu?. Kemudian dia bertanya lagi: Apakah kamu mempunyai syaah? Apakah syaah itu? Tanyaku. “Istri!” Jawabnya. Kalau sekarang aku tidak beristri?” Ujar Abdul Muthalib. Kemudian Pendeta itu berkata: "Kalau engkau pulang kawinlah dengan salah satu wanita dari mereka?” Setelah pulang ke Mekkah Abdul Muthalib kawin dengan Hallah binti Uhaib bin Abdul Manaf. Dan mengawinkan anaknya Abdullah dengan Aminah binti Wahab. Setelah itu orang-orang Quraisy berkata: "Abdullah lebih beruntung dari Ayahnya?”

Baihaqi dan Abu Nuaim meriwayatkan dari Ibn Syihab, bahwa Abdullah bin Abdul Muthalib adalah lelaki yang tampan. Suatu saat dia keluar ke tempat wanita-wanita Quraisy, salah satu dari mereka berkata:

"Apakah di antara kalian ada yang mau kawin dengan pemuda ini? sehingga nanti kejatuhan cahaya, karena aku melihat cahaya di antara kedua belah matanya?

Zubair bin Bakar meriwayatkan, bahwa seorang paranormal wanita yang bernama Saudah binti Zuhrah bin Kilab berkata pada orang-orang Bani Zuhrah:

"Sesungguhnya di antara kalian terdapat seorang gadis yang akan melahirkan seorang Nabi, maka perlihatkanlah gadis-gadis kalian kepadaku". Kemudian para gadis Bani Zuhrah diperlihatkan satu per satu, hingga pada giliran Aminah. Di saat dia melihat Aminah, dia berkata: "Inilah wanita yang akan melahirkan seorang Nabi.”

Demikianlah keadaan gadis Bani Zuhrah ini, dia hanya berada di dalam rumahnya, bergaul dengan keluarga dekatnya. Karena dia hanya merasakan ketentraman dan kedamaian dengan rasa malu dan sifat iffah yang dimilikinya.

Akhirnya timbul dalam ingatan Abdul Muthalib kejadian-kejadian yang dialami saat pergi ke Yaman tentang Bani Zuhrah. Maka timbullah niat mulianya. Maka dia bersama anaknya Abdullah bergegas menuju rumah keluarga Bani Zuhrah untuk menjalin kekeluargaan. Bagi keluarga Bani Zuhrah tidak ada alasan untuk menolak keinginan Abdul Muthalib, bahkan hal ini merupakan kehormatan baginya. Bani Zuhrah pun menerima lamaran Abdul Muthalib untuk menikahkan anaknya Abdullah dengan Aminah binti Wahab dan dia sendiri pun kawin dengan saudara sepupu Aminah yaitu Hajjaj binti Uhaib.

RUMAH BARU

Maka dapat dibayangkan betapa bahagianya penduduk Quraisy menyaksikan perkawinan indah dari dua keluarga mulia itu. Terutama kedua mempelai, terpancar dari keduanya wajah yang berseri-seri. Harapan masa depan cerah menyinari perasaan keduanya. Setelah dilangsungkan pesta pernikahan, Abdullah tinggal di rumah Aminah selama tiga hari sebagaimana kebiasaan orang Arab waktu itu. Kemudian dia pulang ke rumahnya untuk menyambut kedatangan sekuntum mawar dari Bani Zuhrah yang akan dibawa oleh keluarganya untuk menempati rumah barunya.

Rumah baru itu adalah rumah kecil dan sederhana yang disiapkan oleh Abdul Muthalib untuk anak kesayangannya. Para sejarawan menyebutkan bahwa rumah itu mempunyai satu kamar dan serambi yang panjangnya sekitar 12 m serta lebar 6 m yang di dinding sebelah kanan terdapat kayu yang disediakan sebagai tempat duduk mempelai.

Aminah melangkah menatap rumahnya dengan tatapan perpisahan namun hatinya bahagia diliputi harapan kehidupan baru. Kemudian dia berangkat bersama orang-orang yang mengantarnya, dengan mengenakan gaun pengantin Aminah dan rombongan disambut oleh keluarga Abdullah. Pengantar lelaki masuk dan berkumpul di serambi sedangkan pengantar wanita memasuki ruangan pengantin. Pesta meriah dan sederhana pun dilaksanakan. Setelah walimah ala kadarnya para pengantar dan penyambut membubarkan diri, maka tinggallah dua mempelai yang dipenuhi rasa damai dan bahagia dengan dipenuhi seribu harapan di masa depan.

KEHAMILAN

Tidak lama dari masa perkawinannya yang indah, Aminah mendapatkan berita gembira kehamilan dirinya yang berbeda dengan wanita pada umumnya. Dia dapatkan berita itu melalui mimpi-mimpi yang menakjubkan, bahwa dia telah mengandung makhluk yang paling mulia. Mimpinya itu, seolah-olah ia melihat sinar yang terang-benderang mengelilingi dirinya. Ia juga seolah-olah melihat istana-istana di Bashrah dan Syam. Seolah-olah dia juga mendengar suara yang ditujukan kepadanya: “Engkau telah hamil dan akan melahirkan seorang manusia termulia di kalangan umat ini!”

Dalam satu riwayat yang diriwayatkan oleh Ibn Saad dan Baihaqi dari Ibn Ishak, dia berkata:
“Aku mendengar bahwa di saat Aminah hamil, ia berkata: Aku tidak merasa bahwa aku hamil dan aku tidak merasa berat sebagaimana dirasakan oleh wanita hamil lainnya, hanya saja aku tidak merasa haid dan ada seseorang yang datang kepadaku. Apakah engkau merasa hamil? Aku menjawab: Tidak tahu. Kemudian orang itu berkata: Sesungguhnya engkau telah mengandung seorang pemuka dan Nabi dari umat ini, dan hal itu pada hari Senin, dan tandanya Dia akan keluar bersama cahaya yang memenuhi istana Basrah di negeri Syam, apabila sudah lahir berilah nama Muhammad? Aminah berkata: “Itulah yang membuatku yakin kalau aku telah hamil. Kemudian aku tidak menghiraukannya lagi hingga di saat masa melahirkan dekat, dia datang lagi dan mengatakan kata-kata yang pernah aku utarakan? Aku memohon perlindungan untuknya kepada Dzat yang Maha Esa dari kejelekan orang yang dengki?”
“Kemudian aku menceritakan semua itu kepada para wanita keluargaku, mereka berkata: Gantunglah besi di lengan dan lehermu? Kemudian aku mengerjakan perintah mereka, tidak lama besi itu putus dan setelah itu aku tidak memakainya lagi.”

PERPISAHAN

Belum lama sepasang suami istri itu melalui hari-hari bahagianya dengan segala duka-cita, rasa cinta semakin menyatu, kini keduanya harus rela untuk berpisah. Pasalnya, Abdul Muthalib telah menyiapkan sebuah kafilah yang harus dipimpin oleh anaknya yang baru kemarin merasakan manisnya kebahagiaan bersama istri untuk berniaga ke negeri Syam.

Tak ada alasan bagi pemuda seperti Abdullah untuk menolak perintah sang ayah yang sangat menyayanginya, meski hatinya tidak rela meninggalkan Aminah yang sedang hamil muda, terlebih lagi masa-masa itu adalah masa bulan madu bagi keduanya. Kegembiraan yang baru saja meluap dengan kehamilan istrinya, kini serta merta menjadi kesedihan yang cukup dalam karena ia harus segera bergabung dengan kafilah Quraisy untuk melakukan perdagangan ke Gaza dan Syam. Entah kenapa kali ini ia merasa amat berat meninggalkan rumah. Biasanya ia berangkat berdagang dengan semangat yang tinggi. Kali ini sepertinya ia telah mempunyai firasat, pergi bukan untuk kembali. Namun pergi untuk selama-lamanya dari pangkuan istrinya yang tercinta. Namun kegalauan hatinya tidak disampaikannya kepada Aminah. Ia takut kegalaluan hatinya akan merisaukan hati Aminah, sehingga akan mengganggu janin dalam kandungannya.

Detik-detik perpisahan pun tiba. Beberapa penduduk Quraisy telah bersiap-siap untuk berangkat. Masing-masing dari mereka sibuk mengurusi barang dagangan yang akan dibawa. Bani Hasyim juga tak ketinggalan mempersiapkan segala keperluannya, namun di balik itu dua insan yang telah bersatu dalam kedamaian harus berpisah setelah mereguk madu kebahagiaan.

Semerbak wangi parfum pengantin masih tercium di rumahnya, jari-jemari tangan Aminah pun masih terlihat kemerah-merahan lantaran ukiran pacar masih ada di tangannya. Tak ada yang tahu apa yang dilakukan dan dibicarakan keduanya, dalam detik-detik itu, tapi yang jelas keduanya harus rela merasakan pedihnya perpisahan setelah keindahan menyentuh sanubari mereka.

Akhirnya Abdullah tetap pergi meski dengan hati yang tertambat di rumah. Hatinya begitu sedih, hingga tak terasa air matanya keluar membasahi pipi. Air mata perpisahan.

Sungguh ... Allah saja yang mengetahui, apakah suami istri itu akan berjumpa lagi atau tidak. Hanya saja mereka berdua merasakan bahwa saat itu hati keduanya sama-sama tidak menentu. Abdullah dengan langkah gontai tapi pasti keluar dari rumah sederhananya yang diikuti Aminah. Di depan rumahnya Abdullah meninggalkan Aminah yang melepasnya dengan penuh harap, beberapa kalimat diucapkan untuk menenangkan hati di antara keduanya. Padahal di balik itu keduanya tidak menyadari kalau itu adalah pertemuan terakhir.

Setelah Abdullah keluar dan bergabung dengan rombongannya tinggallah Aminah bersama dua orang wanita Bani Hasyim dan Bani Zuhrah yang rela menemaninya selama Abdullah belum pulang. Keduanya memandang Aminah dengan pandangan iba, lantaran harus merasakan kesendirian, padahal keduanya tidak tahu masa depan Aminah.

KISAH KEPERGIAN ABDULLAH telah ditulis oleh para sejarawan.

Ibnu Saad menceritakan:

Abdullah bersama rombongan orang-orang Quraisy berangkat ke Syam untuk berniaga. Setelah selesai berniaga mereka pulang melewati kota Madinah dan waktu itu Abdullah sakit, kemudian Abdullah meminta agar meninggalkannya bersama kerabatnya dari Bani Najjar selama satu bulan. Setelah rombongan sampai di Mekkah Abdul Muthalib menanyakan keadaan Abdullah pada mereka.

Mereka menjawab:

Kami meninggalkannya bersama kerabat-kerabat Bani Najjar di Madinah karena dia sakit.
Setelah itu Abdul Muthalib mengutus anak tertuanya Al-Harits untuk menjemputnya, setelah sampai di sana Abdullah sudah dikubur. Mengetahui semua itu Abdul Muthalib dan seluruh keluarganya mengalami kesedihan yang luar biasa. Bukan hanya kesedihan karena kehilangan Abdullah yang mereka sayangi, namun lebih dari itu Abdullah telah meninggalkan kesedihan dalam jiwa seorang wanita Bani Zuhrah yang saat itu sedang hamil tua.

Tidak dapat dibayangkan! Aminah, sebagai seorang istri yang baru merasakan kasih sayang seorang suami dan menunggu kelahiran buah hati pertamanya. Aminah sangat sedih dan merana dengan perpisahan yang tidak bisa diharapkan lagi pertemuannya. Penantian dan kerinduan yang selama ini ia pendam ternyata tidak tertumpahkan. Belum lama ia mengecap kebahagiaan bersama suami yang dicintainya, kini ia telah ditinggalkan untuk selama-lamanya. Tidak dapat diungkapkan bagaimana kesedihan Aminah, seperti sejarah pun tidak sanggup mencatat kepiluannya kecuali dengan apa yang diungkapkan Aminah berupa bait-bait kesedihan.

MIMPI DI WAKTU HAMIL

Imam Ibnu Katsir meriwayatkan dalam kitabnya, Qishashul Anbiyya, bahwa ketika Aminah mengandung Rasulullah SAW, sama sekali ia tidak merasa kesulitan maupun kepayahan sebagaimana wanita umumnya yang mengandung. Ia juga menyatakan bahwa selama mengandung Rasulullah SAW, dalam mimpinya ia senantiasa didatangi para Nabi-nabi terdahulu, dari sejak bulan pertama, yaitu bulan Rajab hingga kelahirannya di bulan Rabi’ul Awwal.

Bulan ke-1 didatangi oleh Nabi Adam (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan menjadi pemimpin agama yang besar.
Bulan ke-2 didatangi Nabi Idris (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan mendapat derajat paling tinggi di sisi Allah.
Bulan ke-3 didatangi Nabi Nuh (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh kemenangan dunia dan akhirat.
Bulan ke-4 didatangi Nabi Ibrahim (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh pangkat dan derajat yang besar di sisi Allah.
Bulan ke-5 didatangi Nabi Ismail (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memiliki kehebatan dan mu’jizat yang besar.
Bulan ke-6 didatangi Nabi Musa (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh derajat yang besar di sisi Allah.
Bulan ke-7 didatangi Nabi Daud (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memiliki Syafaat dan Telaga Kautsar.
Bulan ke-8 didatangi Nabi Sulaiman (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan menjadi penutup para Nabi dan Rasul.
Bulan ke-9 didatangi Nabi Isa (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan membawa Al-Qur’an yang diridhai.

Semua Nabi-nabi yang hadir di mimpi Aminah itu sama-sama berpesan kepadanya bahwa jika telah lahir, namai anak itu dengan nama Muhammad yang artinya Terpuji, karena anak itu akan menjadi makhluk yang paling terpuji di dunia dan akhirat. Firasat mengenai penamaan Muhammad itu pun terbersit di hati mertuanya, Abdul Muthalib, sehingga ketika Rasulullah SAW lahir, Abdul Muthalib memberinya nama Muhammad. Ketika masyarakat Mekkah bertanya mengapa ia dinamai Muhammad, bukan nama para leluhur-leluhurnya, maka Abdul Muthalib menjawab: “Aku berharap ia akan menjadi orang yang terpuji di dunia dan akhirat.”

MALAM YANG SANGAT DINANTIKAN ALAM

Hingga pada detik detik kelahiran Sucinya, Sayyidah Aminah tidak pernah merasa letih atau pun kepayahan. Malam yang menggembirakan bagi semesta telah tiba, inilah malam lahirnya sang Nabi Suci Paripurna yang kedatangannya dinantikan seluruh mahluk.

Dalam kesendirian mendekati saat kelahiran, Allah SWT mengutus 4 orang wanita Agung yang membantu persalinan Nabi Suci SAW. Mereka Adalah Siti Hawa, Sarah istri Nabi Ibrahim, Asiyah binti Muzahim, dan Ibunda Nabi Isa (as), Maryam. Kelak ke-4 wanita agung ini yang akan pula menemani Sayyidah Khadijah Al-Kubr At-Thahirah dalam prosesi kelahiran Az-Zahra A-Mardhiyah Ummu Aimmah (as).

Siti Hawa berkata kepada Sayyidah Aminah:

“... Sungguh beruntung engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung junjungan alam semesta Al-Musthafa SAW. Kenalilah olehmu sesungguhnya aku ini Hawa, ibunda seluruh umat manusia, Aku diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu..”

Selang tak lama kemudian hadirlah Siti Sarah istri Nabi Ibrahim (as). Beliau berkata:

“... Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung SAW, seorang Nabi Agung yang dianugerahi kesucian yang sempurna pada diri dan kepribadiannya. Nabi Agung yang ilmunya sebagai sumber ilmunya para Nabi dan para kekasih-Nya. Nabi Agung yang cahayanya meliputi seluruh alam. Dan ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku adalah Sarah istri Nabiyullah Ibrahim (as), aku diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu.”

Wanita ketiga pun hadir dalam harum semerbak seraya berkata:

“... Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung SAW, kekasih Allah yang paling agung dan insan sempurna yang paling utama mendapati pujian dari Allah SWT dan dari seluruh mahluk-Nya. Perlu engkau ketahui sesungguhnya aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Allah SWTuntuk menemanimu..”

Dan Wanita keempat pun hadir dengan tampilan kecantikan luar biasa serta berwibawa. Dia adalah Siti Maryam, ibunda Nabi Isa (as), ia berkata kepada Sayyidah Aminah:

“... Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung SAW yang dianugerahi Allah SWT mu’jizat yang sangat agung dan sangat luar biasa. Beliaulah junjungan seluruh penghuni langit dan bumi, hanya untuk beliau semata segala bentuk shalawat Allah SWT dan salam sejahtera-Nya yang sempurna. Ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku adalah Maryam ibunda Isa (as). Kami semua ditugaskan Allah SWT untuk menemanimu demi menyambut kehadiran Nabi Suci Al-Musthafa SAW.”

Allah SWT berfirman kepada Malaikat Jibril Al-Amin:

”Wahai Jibril… Serukanlah kepada seluruh arwah suci para Nabi, Rasul dan para Wali agar berbaris rapi menyambut kehadiran kekasih-Ku Al-Musthafa SAW. Wahai Jibril, Bentangkanlah hamparan kemuliaan dan keagungan derajat Al-Qurab dan Al-Wishal kepada kekasih-Ku yang memiliki maqam luhur di sisi-Ku. Wahai Jibril, perintahkanlah kepada Malik agar menutup semua pintu neraka. Wahai Jibril, perintahkanlah kepada Ridwan agar membuka seluruh pintu surga.. Wahai Jibril pakailah olehmu Haullah Ar-Ridwan (Pakaian agung yang meliputi keagungan Allah SWT) demi menyambut kekasih-Ku Muhammad SAW. Hai Jibril, turunlah ke bumi dengan membawa seluruh pasukan malaikat Muqarrabin, Karubbiyyin, Para Malaikat yang selalu mengelilingi Arsy-Ku demi menyambut kedatangan kekasih-Ku SAW. Wahai Jibril, kumandangkanlah seruan ke penjuru langit hingga lapis ketujuh dan ke segenap penjuru bumi hingga lapisan paling dalam, beritakanlah kepada seluruh makhluk-Ku bahwa sesungguhnya sekarang adalah saatnya kedatangan Nabi Akhir Zaman, Muhammad Al-Musthafa SAW.”

Perintah Allah SWT ini segera di laksanakan Malaikat Mulia Al-Amin hingga di semesta terliputi pedaran cahaya Agung kemilauan dari sayap-sayap mereka. Persaksian tidak kalah hebat dialami Ummu Agung Sayyidah Aminah binti Wahab yang dengan izin Allah SWT beliau diperkenankan melihat seluruh penjuru bumi, dari mulai Syria hingga Palestina.

Seorang Ulama dalam kitab Maulid Ad-Diba’i, Syeikh Abdurahman Ad-Diba’i hal. 192-193 meredaksikan:

“Sesungguhnya saat malam kelahiran Nabi Suci Muhammad SAW, Arsy seketika bergetar hebat nan luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, Kursi Allah bertambah kewibawaan dan keagungannya dan seluruh langit dipenuhi cahaya bersinar terang dan para malaikat seluruhnya bergemuruh mengucapkan pujian kepada Allah SWT.”

PARA MALAIKAT BERTAHLIL

Hari-hari Aminah lalui dengan kesedihan dan kesendirian. Hanyalah Munajat kepada sang Pencipta yang dia ucapkan dari bibir dan hatinya. Begitulah Aminah mengisi hari-hari menunggu kelahiran anaknya, tanpa kasih sayang seorang ayah. Entah berapa tetes Air mata yang mengalir di wajah suci Aminah ketika dia mengingat calon bayinya tersebut.

Takdir Allah memang tidak bisa ditolak, ketentuannya tak bisa digugat, Maha Besar Allah dengan kehendak dan kekuasaannya yang menghendaki Manusia mulia dan suci keluar dari rahim Aminah. Detik-detik kelahiran anak Aminah ini sangat istimewa. Betapa tidak!! Di malam itu Aminah didatangi wanita-wanita suci penghuni surga seperti Maryam dan Asyiah, dengan didampingi ribuan bidadari yang mengabarkan kepadanya, bahwa sebentar lagi akan keluar dari rahim sucinya seorang bayi mungil yang lucu nan suci, pemuka dari para Nabi dan kekasih Tuhan alam semesta.

Para Malaikat bertahlil dan bertasbih menyaksikan cahaya indah yang akan lahir di malam itu, maka lahirlah Rasulullah SAW dari rahim Aminah. Tak perlu diungkapkan bagaimana proses keagungan kelahiran Rasulullah secara mendetail.

Sebab para sejarawan telah menulis dengan panjang lebar kejadian ini. Yang jelas Aminah sangat merasa bahagia dengan kelahiran anaknya ini, kepiluan, kesedihan, kesendirian dan kesepian kini telah sirna, yang ada hanyalah kebahagian dan kedamaian yang mengisi hari-hari Aminah setelah kelahiran anaknya.

Kelahiran Rasulullah SAW bak setetes embun pagi yang menetes di sanubari Aminah. Bahkan bukan bagi Aminah saja namun bagi penghuni alam semesta. Betapa banyak makhluk Allah yang berharap merawat dan menatap wajahnya, para Malaikat dan bahkan hewan-hewanpun berebut untuk merawatnya. Namun takdir Allah menentukan hanyalah Aminah yang mendapat kemuliaan tersebut.

MUNCUL KEANEHAN SAAT SAYYIDAH AMINAH MELAHIRKAN

Berbagai keanehan terjadi mengiringi kelahiran Rasulullah SAW. Di antara keanehan yang bersifat ghaib adalah: Tertutupnya pintu langit untuk para jin dan iblis. Sebelum Aminah melahirkan, jin dan iblis bebas naik turun ke langit, untuk mencuri pembicaraan malaikat. Namun sejak lahirnya manusia paling sempurna di dunia ini, pintu langit tertutup untuk syaitan yang terkutuk.

Ada juga sebagian riwayat yang mengemukakan bahwa Aminah melahirkan bayinya sudah dalam keadaan dikhitan. Sedangkan Aminah sama sekali tidak mendapatkan nifas, setelah melahirkan. Keanehan lain juga sempat disaksikan oleh Aminah sendiri.

Kata Aminah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad:

“Setelah bayiku keluar, aku melihat cahaya yang keluar dari kemaluannya, menyinari istana-istana di Syam!” Ahmad juga meriwayatkan dari Al-Irbadh bin Sariyah yang isinya serupa dengan perkataan tersebut.

Beberapa bukti kerasulan, bertepatan dengan kelahiran beliau, yaitu runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra dan padamnya api yang biasa disembah oleh orang-orang Majusi serta runtuhnya beberapa gereja di sekitar istana Buhairah. Setelah itu, gereja-gereja tersebut amblas ke tanah. Demikian diriwayatkan dari Al-Baihaqi.

Setelah melahirkannya, dia menyuruh orang untuk memberitahukan kepada mertuanya tentang kelahiran cucunya. Maka Abdul Muthalib dengan perasaan sukacita kemudian menggendong cucunya yang baru lahir dan membawanya ke Ka’bah seraya bersyukur dan berdoa kepada-Nya. Ia memilihkan nama Muhammad bagi cucunya. Nama yang sama sekali belum dikenal di kalangan Arab.

WAFATNYA

Menurut adat Arab, setiap tahun Aminah pergi menziarahi ke pusara suaminya dekat kota Madinah itu. Setelah Rasulullah SAW dikembalikan oleh Halimah, tidak berapa lama kemudian, pergilah Aminah berziarah ke pusara suaminya itu bersama dengan anaknya (Muhammad SAW) yang masih dalam pangkuan, juga dengan budak pusaka ayahnya, seorang perempuan bernama Ummu Aiman.

Tetapi di dalam perjalanan pulang, Aminah ditimpa demam, lalu dia menemui ajalnya. Dia meninggal dan jenazahnya dikuburkan di Al-Abwa', suatu dusun di antara kota Madinah dengan Mekkah. Muhammad kecil lalu dibawa dalam gendongan Ummu Aiman balik ke Mekkah.

Kemudian Muhammad kecil diserahkan kepada kakeknya, Abdul Muthalib, yang merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Berkata Ibnu Ishak:

"Maka adalah Rasulullah SAW itu hidup di dalam asuhan kakeknya Abdul Muthalib bin Hasyim. Kakeknya itu mempunyai suatu hamparan tempat duduk di bawah lindungan Ka'bah. Anak-anaknya semuanya duduk di sekeliling hamparan itu. Kalau dia belum datang, tidak ada seorang pun anak- anaknya yang berani duduk dekat, lantaran amat hormat kepada orang tua itu. Maka datanglah Rasulullah SAW, ketika itu dia masih kanak-kanak, dia duduk saja di atas hamparan itu. Maka datang pulalah anak-anak kakeknya itu hendak mengambil tangannya menyuruhnya mundur. Demi terlihat oleh Abdul Muthalib, dia pun berkata: "Biarkan saja cucuku ini berbuat sekehendaknya. Demi Allah sesungguhnya dia kelak akan mempunyai kedudukan penting.' Lalu anak itu didudukkannya di dekatnya, dibarut-barutnya punggungnya dengan tangannya, disenangkannya hati anak itu dan dibiarkannya apa yang diperbuatnya."

Saat menjelang wafatnya, Aminah berkata:

“Setiap yang hidup pasti mati, dan setiap yang baru pasti usang. Setiap orang yang tua akan binasa. Aku pun akan wafat tapi sebutanku akan kekal. Aku telah meninggalkan kebaikan dan melahirkan seorang bayi yang suci.”

Diriwayatkan oleh Aisyah (ra) dengan katanya:

“Rasulullah SAW memimpin kami dalam melaksanakan haji wada’. Kemudian baginda mendekat kubur ibunya sambil menangis sedih. Maka aku pun ikut menangis karena tangisnya.”

Betapa harumnya nama Sayyidah Aminah, dan betapa kekal namanya nan abadi. Seorang ibu yang luhur dan agung, sebagai ibu Baginda Muhammad SAW manusia paling utama di dunia, paling sempurna di antara para Nabi, dan sebagai Rasul yang mulia. Bunda Aminah binti Wahab adalah ibu kandung Rasul yang mulia. Semoga Allah memberkahinya.



dikutip dari http://hamdanisekumpul.blogspot.com