Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Kamis, 20 Desember 2012

Berkaca pada Ibunda Teladan

Allah memberikan kecerdasan pada setiap perempuan, karena itu, pada perempuanlah anak dititipkan.

Tak ada wanita yang pernah berangan-angan tinggal di padang pasir tanpa penghuni. Apalagi bersama anak yang baru saja lahir dari kandungannya, jauh dari suami, jauh dari kerabat. Tak ada petunjuk ke mana harus berjalan, tak ada fasilitas memadai untuk membesarkan sang bayi. Semua tak berarah, yang ada hanya terbangan pasir dan gundukan gunung debu yang setiap saat bisa berubah menggulungnya.
Namun, ia tak menjadi gentar dengan kesendiriannya. Meski dengan hati yang sedih, ia tak hendak membenci suaminya yang meninggalkannya di gurun tak bertuan itu. Bahkan, ia sama sekali tak menggugat Tuhan yang telah memerintahkan suaminya untuk pergi meninggalkannya.
Kecerdasan Sebenarnya

Berbelas tahun kemudian, logika yang telah dituntun oleh ketundukkan, mengantarnya pada sebuah keikhlasan. Ikhlas menyerahkan buah hati yang selama ini diasuhnya sendirian, pada sang suami untuk disembelih. Itu terjadi justru di saat-saat kebersamaan baru saja kembali mereka rasakan. Lagi-lagi atas nama perintah Tuhan. Perempuan itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tanda persetujuan. Yang ada, hanya keyakinan bahwa Allah ingin memberikan yang terbaik untuknya. “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (An-Nisa [4] : 40).

Hajar, wanita itu, telah mengajarkan pada kaum perempuan. Mengajarkan sebuah makna kecerdasan yang tak lagi berbatas pada kecerdasan akal. Kecerdasan ini pula yang kemudian diwarisi oleh sahabiyah-sahabiyah di masa Rasulullah; ‘Aisyah, Fathimah, ‘Asma binti Abu Bakar, Hafsah binti ‘Umar bin Khaththab, dan sederet nama besar lainnya. Mereka mengajarkan makna yang tereja dalam keberhasilan mereka melahirkan generasi-generasi mujahid sekelas Hasan dan Husain, serta Abdullah bin Zubair bin ‘Awwam.
Kecerdasan itu niscaya tak pernah hilang, selama keikhlasan senantiasa bersemayam di hati seorang wanita. Mereka adalah perempuan-perempuan. Mereka adalah perempuan-perempuan yang diciptakan sama dengan apa yang kita miliki. Dengan demikian, kecerdasan yang mereka miliki pun tak mustahil kita miliki.

Kecerdasan yang sebenarnya, yang berasal dari sebuah hati yang sepenuhnya tunduk di hadapan kehendak-Nya. Kecerdasan itu hadir dari sebuah keikhlasan dan prasangka baik akan setiap takdir yang dibentangkan oleh Yang Mahaperkasa dalam kehidupan.
Kecerdasan Membuahkan Keperkasaan

Sungguh, ketundukkan hatilah yang telah mengantarkan Hajar, seorang ibu yang sebelumnya hanyalah seorang budak, mampu mendidik anaknya hingga beranjak remaja, saat kembali bersua dengan suaminya. Tanpa keluh, tanpa hasrat untuk meninggalkan anggapan buruk tentang Ayah dalam benak anaknya. Hanya kepasrahan yang ditularkannya pada sang anak, tentang keyakinan bahwa perintah Tuhannya tak akan membuat seorang hamba menderita. Ketundukan ini pula yang membuahkan kecerdasan dalam diri Asma binti Abu Bakar, Fathimah, Khadijah, dan wanita-wanita salihah lainnya, mendidik anak-anaknya dalam limpahan rasa syukur di tengah keterbatasan. Kecerdasan yang telah mengasuh kader-kader pilihan hingga kini. Kecerdasan yang membuat Allah hanya memilih wanita menjadi tempat bernaungnya seorang anak dari segala ketakutan.

Kecerdasan itu pula yang mengantarkan mereka menjadi sosok-sosok perkasa, di balik kelembutan mereka sebagai seorang ibu dan wanita. ‘Asma tak menangis menghiba manakala Hajjaj membunuh Abdullah bin Zubair, anaknya, kemudian menyalibnya. Ketika Hajjaj bertanya, “Bagaimana pendapatmu terhadapku tentang apa yang kuperbuat terhadap anakmu, wahai Asma’?” Asma dengan tenang menjawab, “Engkau telah memporak-porandakan dunianya, sedang dia telah memporak-porandakan akhiratmu.”

Kematian orang-orang tercinta tak membuat mereka menjadi luruh poranda. Kecerdasan jiwa telah meyakinkan mereka bahwa kematian bagi orang-orang tercinta adalah jalan untuk mengantarkan orang-orang tercinta pada kehidupan yang terbaik. Sebagaimana yang tergambar dalam dialog ‘Asma dengan Abdullah:

“Wahai Ibu, orang-orang telah mengkhianatiku, bahkan sampai istri dan anakku. Tidak ada yang tersisa,
 kecuali hanya sedikit orang. Mereka pun agaknya sudah tidak tahan untuk bisa bersabar lebih lama lagi. Sementara Hajjaj dan pasukannya menawarkan kesenangan dunia apa saja yang kumau, asal aku mau tunduk kepada mereka. Bagaimana pendapat Ibu?”

Dengan tegas Asma menjawab, “Demi Allah, wahai anakku, engkau lebih tahu tentang dirimu. Jika engkau mengetahui bahwa engkau berada di jalan yang benar dan engkau memang menyeru kepadanya, teruskanlah langkahmu. Sahabat-sahabatmu pun telah terbunuh karena mempertahankan kebenaran itu. Janganlah sekali-kali engkau dipermainkan oleh budak-budak Bani Umayyah. Sebaliknya, jika engkau menginginkan dunia, engkau adalah seburuk-buruk hamba yang mencelakakan dirimu sendiri dan orang-orang yang berjihad bersamamu.”

Asma yakin dan keyakinan itu membawanya pada sebuah pilihan cerdas: mendorong anaknya tetap memilih kehidupan terbaik, meski harus terpisah oleh ajal. Tak terkecuali ‘Asma, Hajar pun melakukan hal sama ketika mempersembahkan Ismail, juga Yukabad, ketika menghanyutkan Musa AS di sungai Nil. Mereka wanita-wanita shalihah, yang dengan kekuatan dan kecerdasan mereka memilih yang terbaik untuk anak-anaknya.

Belajar tentang makna ketundukkan penuh pada perintahNya, belajar menerima dengan ikhlas setiap kehendak yang ditetapkan-Nya pada kita. “Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” ( at-Taubah: 51)

Menangkap hikmah dari kisah ibunda-ibunda teladan di atas, mulai hari ini semestinya tak ada lagi perempuan yang berpandangan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah. Sesungguhnya wanita sebagai Ibu adalah hamba-Nya yang diamanahi seorang anak, sebagai tanggung jawab utama. Di pundak seorang Ibu tertumpu kewajiban untuk menjadikannya mujahid dan mujahidah sejati. Ibulah yang harus mengenalkan mereka pada Allah, Sang Pemilik Kehidupan, pada Rasul-Nya, juga pada ayahandanya bila harus pergi meninggalkannya, semata untuk perintah Ilahi, termasuk manakala harus mengayuh roda kehidupan sendiri.


dikutip dari http://majalah.hidayatullah.com dengan sedikit penyesuaian

3 komentar:

  1. WASSALAM IBU . :) terima kasih sudi berkunjung ke blog saya.

    BalasHapus
  2. salam...nice blog..suka tgk..tima kasih sudi singgah blog saya...done follow.:)

    BalasHapus
  3. da follow blog ni :)
    anda di tag di sini http://adirahusna.blogspot.com/2012/12/contest-nak-skirt-dari-norzi.html

    BalasHapus