Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Minggu, 30 Desember 2012

Ibu Teladan Asma' Binti Abu Bakar As Siddiq, Dzatun Nithaqain

“Ya ALLAH! Kasihanilah dia karena solat yang panjang diselingi tangisan di tengah kedinginan malam yang sepi, ketika orang-orang lain sedang nyenyak dibuai mimpi. Ya ALLAH! Kasihanilah dia yang sering menahan lapar dan dahaga ketika bertugas jauh dari Madinah atau Mekah dalam menunaikan ibadah puasa kepadaMu. Ya ALLAH! Aku menyerahkannya di bawah pemeliharaanMu, aku redha dengan apa yang telah Engkau tetapkan bagiku dan baginya, dan berilah kami pahala orang-orang yang sabar...!" (Doa Asma' radhiallahu anha buat puteranya, Abdullah bin Zubair)

Asma' binti Abu Bakar As-siddiq, saudara Aisyah Ummul Mukminin (isteri Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam), puteri sahabat Rasulullah yang mulia, Saidina Abu Bakar As-siddiq, isteri Zubair bin Awwam, pejuang dan tokoh Islam yang mengutamakan redha ALLAH di dalam perjuangannya, Merupakan seorang wanita muhajir yang mulia dan Ibunda Abdullah bin Zubair, salah seorang pejuang yang gugur mempertahankan agamanya, dan sesungguhnya kedudukannya ini cukup untuk mengangkat darajat beliau ke tempat yang tinggi, mulia dan terpuji. Peribadinya dirahmati ALLAH dengan keistimewaan yang sangat menonjol, setanding dengan para Muslimin ketika itu, cerdas, cerdik, lincah, pemurah dan berani.

Kedermawanan beliau dapat dilihat jelas melalui ucapan anaknya," Aku belum pernah melihat wanita yang sangat pemurah melebihi Ibuku termasuk Aisyah Radhiallahu anha. Beliau (Aisyah) mengumpulkan apa yang diperolehnya sedikit demi sedikit, lantas setelah itu barulah dinafkahkannya kepada mereka yang memerlukannya. Sedangkan Ibuku, dia tidak pernah menyimpan sedikit pun hingga hari esok"

Kebijaksanaan Dzatun Nithaqain

Kecemerlangan berfikir Asma Radhiallahu anha terpancar dari sikapnya yang penuh prihatin dan perhitungan yang bijaksana. Peristiwa Hijrah Abu Bakar menyaksikan pengorbanan seorang sahabat demi Islam, tidak meninggalkan sesen pun harta untuk keluarganya melainkan dibelanjakan keseluruhannya untuk ALLAH dan RasulNya.  Ketika Abu Quhafah (ayah Abu Bakar radhiallahu anhu) yang masih musyrik menemui keluarganya, beliau berkata kepada Asma',

"Demi ALLAH! Tentu ayahmu telah mengecewakanmu dengan hartanya, di samping akan menyusahkanmu dengan kepergiannya!".  Jawab wanita yang mulia ini, "Tidak wahai kakek! sekali-kali tidak! Beliau banyak meninggalkan uang buat kami" ujarnya sambil menghibur dan menenangkan kakeknya. Dikumpulkannya batu-batu kerikil yang kemudiannya dimasukkan ke dalam lubang tempat kebiasaannya menyimpan uang. Kemudian dibawakan kakeknya yang buta itu ke tempat simpanan tersebut, lantas berkata, "Lihatlah kakekku! Beliau banyak meninggalkan uang buat kami!". Perkataan tersebut ternyata mampu meyakinkan Abu Quhafah. Maksud perbuatan tersebut adalah untuk menyenangkan hati kakeknya, agar tidak bersusah hati memikirkan hal tersebut. Malah, Asma'  juga tidak menginginkan bantuan dari orang musyrik meskipun kakeknya sendiri. Inilah bukti yang menunjukkan besarnya perhatian beliau terhadap dakwah dan kepentingan kaum Muslimin.

Diberi julukan sebagai 'dzatun nithaqain' oleh Rasulullah Saw yang berarti "wanita yang mempunyai dua tali pinggang", sebagai peringatan terhadap peristiwa Hijrah yang menyaksikan pengorbanan dan keberanian Asma' yang tiada bandingannya. Beliau bersusah payah menyediakan bekal makanan dan minuman buat Rasulullah Saw dan Abu Bakar Radhiallahu anhu di saat genting seperti itu. Beliau mengoyakkan ikat pinggangnya menjadi dua untuk dijadikan tali pengikat untuk mengikat bekal makanan dan minuman tersebut, sehingga peristiwa itu Rasulullah mendoakan beliau agar digantikan tali pinggang tersebut dengan yang lebih baik dan lebih indah di syurga kelak.

Tidak hanya itu pengorbanan Asma Radhiallahu anha. Peristiwa hijrah ini turut menyaksikan kekuatan berfikir dan strategi yang dimiliki oleh seorang Muslimah hasil kecemerlangan berfikir yang dilandasi ketaqwaan dan keimanan yang teguh. Asma' Radhiallahu anha bukan sekadar menjadi pengantar makanan kepada dua orang sahabat yang berperanan penting bagi umat Islam, malah beliau juga menyampaikan berita-berita penting tentang rencana-rencana pihak musuh terhadap kaum Muslimin. Dengan kehamilannya ketika itu, Asma' mengambil  peranan yang menjanjikan risiko tinggi, di mana bukan saja nyawanya menjadi taruhan, malah lebih dari itu, nyawa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam dan ayahnya turut juga terancam. Memikirkan kemarahan musuh Islam lantaran lolosnya Rasulullah dari kepungan, kafir Quraisy pastinya akan berusaha bersungguh-sungguh mencari-cari Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam untuk dibunuh karena bencinya mereka terhadap dakwah Islam dan pejuang-pejuangnya.

Di saat-saat genting seperti itu, Asma' mampu meramal segala kemungkinan yang bakal terjadi, dan dengan kecerdikan dan penuh perhitungan, beliau berjalan menuju Gua Tsur sambil menggembala kambing-kambingnya berjalan di belakangnya. Taktik ini dilakukan untuk mengaburi mata pihak musuh karena jejaknya terhapus oleh jejak-jejak kambing gembalaannya itu. Tindakan ini belum tentu mampu dilakukan oleh seorang lelaki yang berani sekalipun, lantaran hal tersebut bakal mengundang bahaya, kezaliman, dan kekejaman orang-orang kafir Quraisy.

Permasalahan ini tidak cukup sampai di situ. Setelah keberhasilan Rasulullah Saw dan Abu Bakar keluar dari tempat persembunyian dan berhasil berhijrah ke Madinah, Asma' Radhiallahu anha dan keluarganya didatangi beberapa orang Quraisy, di antaranya Abu Jahal yang telah bertindak kasar menampar pipi Asma’ Radhiallahu anha dengan sekali tamparan yang mengakibatkan subangnya terlepas!. Asma' menjawab saat beliau ditanya tempat persembunyian Rasulullah dan ayahnya dengan berkata," Demi Allah, aku tidak tahu di mana ayahku berada sekarang!"

Hijrah Asma' Radhiallahu anha dan suaminya ke Madinah berlaku selang beberapa lama dari hijrah sebelumnya, di mana pada ketika itu Asma' sedang dalam keadaan mengandung Abdullah bin Zubair dan hanya menanti detik-detik kelahirannya. Perjalanan yang jauh dan berbahaya ditempuh jua bersama dengan para sahabat tiba di Quba'. Kelahiran anak pasangan sahabat ini disambut dengan penuh kesyukuran dan kegembiraan. Dialah bayi pertama yang dilahirkan di Madinah.

Sebaik-baik Ummu wa Rabbatul Bait

Seorang muhajirah yang agung, antara wanita yang awal memeluk Islam, sangat memuliakan suaminya meskipun Zubair hanya seorang pemuda miskin yang tidak mampu menyediakan pembantu buatnya. Hatta tidak mempunyai harta yang dapat melapangkan kehidupan keluarganya, melainkan hanya seekor kuda yang dijaganya dengan baik. Beliaulah isteri yang senantiasa sabar dan setia berkhidmat untuk suaminya, sanggup bekerja keras merawat dan menumbuk sendiri biji kurma untuk makanan kuda suaminya di saat Zubair sibuk menjalankan tugas-tugas yang diperintah Rasulullah kepadanya.

Di dalam didikannya, keperibadian Abdullah bin Zubair dibentuk. Beliau adalah contoh seorang ibu yang sangat memahami peranannya dalam melahirkan generasi utama yang beriman, generasi yang menjadikan kecintaan kepada ALLAH dan RasulNya di atas segala-galanya, sama ada harta, isteri, keluarga maupun segala jenis perbendaharaan dunia. Beliau mencetak keperibadian generasi yang siap berjuang membela bendera Islam dan kalimah LA ILAHA ILLALLAH Muhammad Rasulullah. Keperibadian seperti ini terpancar jelas di dalam diri puteranya, Abdullah bin Zubair. Hal ini dapat kita teladani melalui kisah pertemuan terakhir di antara seorang ibu dan anak yang saling menyayangi dan mencintai satu sama lain, semata-mata kerana kecintaan keduanya kepada ALLAH Subhanahu wa Taala dan RasulNya.

Abdullah: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, wahai ibunda!

Asma': Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, ya Abdullah! Mengapa engkau datang ke sini di saat-saat seperti ini? Padahal batu-batu besar yang dilontarkan Hajjaj kepada tenteramu menggetarkan seluruh Kota Mekah?

Abdullah: Aku hendak bermusyawarah dengan ibu

Asma': Tentang masalah apa?

Abdullah: pasukanku banyak meninggalkanku. Mereka membelot dariku ke pihak musuh. Mungkin karena mereka takut terhadap Hajjaj atau mungkin juga karena mereka menginginkan sesuatu yang dijanjikannya sehingga anak-anak dan isteriku sendiri berpaling daripadaku. Sedikit sekali jumlah tentara yang tinggal bersamaku. Sementara utusan Bani Umayyah menawarkan kepadaku apa saja yang ku minta berupa kemewahan dunia asal saja aku bersedia meletakkan senjata dan bersumpah setia mengangkat Abdul Malik bin Marwan sebagai khalifah. Bagaimana pendapatmu wahai ibu?

Asma': Terserah kepadamu Abdullah! Bukankah engkau sendiri yang mengetahui tentang dirimu? Jika engkau yakin bahwa engkau mempertahankan yang haq dan mengajak kepada kebenaran, maka teguhkanlah pendirianmu seperti para perajuritmu yang telah gugur dalam mengibarkan bendera agama ini! Akan tetapi, jika engkau menginginkan kemewahan dunia, sudah tentu engkau adalah seorang anak lelakiku yang pengecut! dan berarti engkau sedang mencelakakan dirimu sendiri dan menjual murah harga kepahlawananmu selama ini, anakku!

Abdullah: Akan tetapi, aku akan terbunuh hari ini ibu.

Asma' : Itu lebih baik bagimu daripada kepalamu akan diinjak-injak juga oleh anak-anak Bani Umayyah  dengan mempermainkan janji-janji mereka yang sangat sukar untuk dipercayai!

Abdullah: Aku tidak takut mati, Ibu. Tetapi aku khuatir mereka akan mencincang dan merobek-robek jenazahku dengan kejam!

Asma': Tidak ada yang perlu ditakuti perbuatan orang hidup terhadap kita sesudah kita mati. Kambing yang sudah disembelih tidak akan merasa sakit lagi ketika kulitnya dikupas orang!

Abdullah: Semoga Ibu diberkati ALLAH. Maksud kedatanganku hanya untuk mendengar apa yang telah ku dengar dari ibu sebentar tadi. Allah Maha Mengetahui, aku bukanlah orang yang lemah dan terlalu hina. Dia Maha Mengetahui bahwa aku tidak akan terpengaruh oleh dunia dan segala kemewahannya. Murka ALLAH bagi siapapun yang meremehkan segala yang diharamkanNya. Inilah aku, anak Ibu! Aku selalu patuh menjalani segala nasihat Ibu. Apabila mati, janganlah ibu menangisiku. Segala urusan dari kehidupan Ibu, serahkanlah kepada ALLAH!

Asma': Yang ibu khuatirkan seandainya engkau mati di jalan yang sesat.

Abdullah: Percayalah Ibu! Anakmu ini tidak pernah memiliki fikiran sesat untuk berbuat keji. Anakmu ini tidak akan menyelamatkan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang-orang Muslim yang berbuat kebaikan. Anakmu ini mengutamakan keredhaan ibunya. Aku mengatakan semua ini di hadapan ibu dari hatiku yang putih bersih. Semoga ALLAH menanamkan kesabaran di dalam sanubari Ibu.

Asma': Alhamdulillah! segala puji bagi ALLAH yang telah meneguhkan hatimu dengan apa yang disukaiNya dan yang Ibu sukai pula. Rapatlah kepada Ibu wahai anakku, Ibu ingin mencium baumu dan menyentuhmu. Agaknya inilah saat terakhir untuk ibu memelukmu..."

Abdullah:Jangan bosan mendoakan aku Ibu!
Sebelum matahari terbenam di petang itu, Abdullah bin Zubair syahid menemui Rabbnya. Dia kembali karena mengutamakan redha ALLAH dan redha ibunya yang beriman. Diriwayatkan, bahawa Al-Hajjaj berkata kepada Asma' setelah Abdullah terbunuh :"Bagaimanakah engkau lihat perbuatanku terhadap puteramu ?" 

Asma' menjawab :"Engkau telah merusak dunianya, namun dia telah merusak akhiratmu." Asma' wafat di Mekkah dalam usia 100 tahun, sedang giginya tetap utuh, tidak ada yang tanggal dan akalnya masih sempurna. [Mashaadirut Tarjamah : Thabaqaat Ibnu Saad, Taarikh Thabari, Al-Ishaabah dan Siirah Ibnu Hisyam].  Semoga ALLAH meridhai kedua hambaNya, Asma' dan puteranya.


dikutip dari islam2u.net dengan sedikit penyesuaian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar