Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Minggu, 04 Agustus 2013

150 Cara Berbakti Kepada Ibu

1. Pilihlah hadiah yang cocok untuk setiap moment yang tepat, seperti di hari raya, ketika pulang dari safar, ketika sembuh dari penyakit, dll.

2. Membuatkan rekening khusus di Bank atas nama ibu, kemudian anak-anak dapat bekerjasama untuk mentransfer uang ke rekening tersebut setiap bulan agar segala kebutuhan ibu dapat terpenuhi.

3. Memahami kondisi kehidupan ibu, kemudian memperlakukan ibu dengan perlakuan yang sesuai dengan kondisi saat itu.

4. Berhati-hati dalam memilih kalimat-kalimat yang akan dikatakan di hadapan ibu.

5. Berusahalah sekuat tenaga agar ibu menjadi orang terakhir yang anda berpamitan kepadanya jika akan bepergian. Jadikanlah ia orang terakhir yang anda lihat sebelum berangkat. Berpamitanlah kepadanya dengan langsung berhadapan muka.

6. Pastikan bahwa ia adalah orang pertama yang anda datangi jika pulang dari bepergian. Ucapkan salam kepadanya, duduklah bersamanya, dan hiburlah ia. Sebelumnya, beritahukan rencana kepulangan dan kedatangan anda, sehingga ia tidak kaget. Dan jangan menunda-nunda untuk menemuinya, atau anda beranggapan bahwa waktunya belum tepat untuk mengunjunginya.

7. Selama dalam perjalanan, berusahalah untuk selalu berkomunikasi dengannya setiap hari, sekalipun hanya sesaat dalam waktu singkat.

8. Berusaha keraslah untuk menjumpainya setiap hari jika anda satu kota dengannya, Janganlah kesibukan dunia menjauhkan anda darinya, dan dari beramah tamah dengannya.

9. Jika ibu tidak satu kota dengan anda, maka hendaklah anda selalu berkomunikasi dengannya setiap hari.

10. Hendaknya anda mendekatkan diri dan berkasih sayang dengan siapa pun yang ia cintai.

11. Kecuplah keningnya atau tangannya ketika berjumpa dengannya.

12. Ajarilah anak-anak anda tentang tingginya kedudukan ibu anda (yakni nenek mereka). Ajarkanlah itu dengan perkataan dan perbuatan anda.

13. Berusaha keras untuk memenuhi tuntutannya, dan berusaha keras untuk memenuhi keinginan-keinginan tepat pada waktunya.

14. Janganlah anda berjanji kepadanya kemudian tidak menepatinya.

15. Sandarkanlah segala kesuksesan dalam hidup anda kepada ALLAH, kemudian katakanlah bahwa hal itu berkat didikan dari ibu anda.

16. Janganlah anda membantahnya, sekalipun anda benar. Akan tetapi gunakanlah cara yang ringan untuk mengemukakan pendapat anda, itupun jika dalam hal itu terkandung suatu manfaat.

17. Jangan menyepelekan pendapatnya di hadapan orang lain atau di hadapan saudara-saudara anda.

18. Janganlah ketidaktahuannya terhadap sebagian urusan kehidupan menyebabkan anda kurang menghargainya atau meremehkannya.

19. Janganlah anda tertawa terbahak-bahak di hadapannya, atau mengeraskan suara di sisinya, atau memandang dengan pandangan yang tajam di hadapannya, atau dengan pandangan kebencian, atau dengan bermuka masam di depannya.

20. Pastikan bahwa ibu menjadi orang pertama yang mendengar setiap berita gembira dalam hidup anda.

21. Jaga dan peliharalah kesehatannya.

22. Buatlah jadwal bulanan untuk medical check up lengkap, untuk memastikan kesehatannya yang membuatnya tenang.

23. Penuhilah kebutuhan-kebutuhannya sesuai dengan tingkat usianya.

24. Ketika ia sakit dan ia merasa kesakitan, maka rasakan pula kesakitannya oleh anda. Jika ia kembali sehat, maka tampakkan kegembiraan anda. Lakukanlah ruqyah terus-menerus oleh anda.

25. Tenangkanlah ia ketika sakit. Katakan bahwa ia akan sehat seperti sedia kala, Insya ALLAH. Dan jangan beritahukan tentang dampak buruk apa pun dari penyakitnya.

26. Datangkanlah dokter-dokter spesialis ke tempat tinggalnya.

27. Tolonglah ibu dalam bersilaturrahim kepada kaum kerabatnya. Bawalah ia untuk mengunjungi sahabat-sahabatnya serta sanak saudaranya yang dekat di hatinya.

28. Sediakan kotak khusus untuk ibu, yang selalu diisi dengan berbagai macam biscuit, makanan yang manis-manis, mainan-mainan, dan hadiah-hadiah kecil. Tujuannya agar ibu dapat memberikannya kepada cucu-cucunya ketika mereka mengunjunginya.

29. Ketika ibu mengadakan safar atau bepergian jauh, maka usahakanlah untuk selalu menghubunginya.

30. Janganlah anda mengungkapkan kesedihan yang memilukan kepadanya. Jangan pula mengeluhkan rasa sakit kepadanya, karena akan membuat ia sedih.

31. Janganlah anda membicarakan kesulitan rumah tangga dihadapannya, karena urusan itu akan membuatnya sedih.

32. Janganlah anda sering memuji isteri anda sendiri di hadapannya.

33. Demikian pula, janganlah anda ceritakan setiap hubungan anda dengan ibu anda kepada isteri anda. Pereratlah hubungan diantara isteri dan ibu.

34. Jauhilah dari menghakimi permasalahan rumah tangga yang timbul antara ibu dan ayah.

35. Jangan mengkritik pakaiannya, penampilannya, pilihannya, suasana hatinya, atau gaya bicaranya, atau cara menangani sesuatu. Carilah jalan untuk mengingatkannya dengan cara yang tidak melukai sehingga hatinya sakit.

36. Jalinlah hubungan anda bersama saudara-saudara anda dengan kuat, meskipun diantara anda dan saudara anda terdapat masalah, namun jangan anda menampakkannya di hadapan ibu.

37. Bagaimanapun keadaan rumah tangga kedua orangtua anda, maka janganlah anda mendukung ayah anda untuk menikah lagi. Jika anda terpaksa melakukannya untuk mendukung ayah anda menikah lagi, maka jangan sampai ibu anda mengetahuinya.

38. Ajarilah ibu perkara-perkara agama dengan bijaksana dan nasehat yang baik.

39. Janganlah anda menghalanginya untuk menghadiri majelis-majelis ilmu.

40. Bersemangatlah beramal ketika ibu sedang menunaikan ketaatan atau beribadah, seperti ketika sedang pergi haji.

41. Ajukanlah permohonan maafmu untuk saudara-saudaramu yang melakukan kesalahan.

42. Janganlah anda membesar-besarkan kesalahan orang lain di hadapan ibu.

43. Janganlah anda membuatnya terkejut dengan kabar berita yang menyedihkan atau bencana yang tiba-tiba, tanpa membuat ibu anda siap untuk mendengarnya.

44. Wanita, tanpa memandang usia, dia akan merindukan kata-kata yang emosional dan romantis. Maka jangan halangi mereka dari mendengar kata-kata puitis yang segar dari suara anda yang manis.

45. Jangan anda katakan bahwa ia telah tua, dan jangan anda katakan bahwa ia kini tidak mampu melaksanakan tugas-tugasnya, akan tetapi berilah semangat kepadanya.

46. Janganlah anda mencegah ibu dari menggunakan apa pun yang disukai wanita.

47. Jika ayah memiliki isteri-isteri yang lain selain ibu, maka janganlah anda memuji mereka di hadapan ibu, dan janganlah anda cenderung membela mereka dan mengorbankan ibu.

48. Janganlah anda banyak memuji hasil didikan orang lain di depan ibu anda. jangan pula berangan-angan ingin menjadi seperti mereka, atau ingin mencapai derajat seperti mereka.

49. Ketika ibu berbicara, pasanglah pendengaran anda, juga penglihatan dan hati anda.

50. Datangilah ibu anda selalu dengan senyum.

51. Ceritakanlah kejadian-kejadian dunia di sekitarnya.

52. Pujilah didikannya selamanya, berterima kasihlah atas segala pemberiannya, dan perbanyaklah menyebutkan jasa-jasanya disertai ucapan terima kasih.

53. Sampaikanlah bahwa obsesi terbesar dalam hidup anda adalah agar ibu anda hidup bahagia.

54. Berbuat baik kepada ayah dari ibu jika masih hidup.

55. Wakaflah atas nama ibu untuk menambah kebaikannya.

56. Ketika ibu menyebutkan kepada anda sebagian dari angan-angannya, atau sesuatu yang berkaitan dengannya, maka janganlah anda menunggu beliau memintanya kepada anda. Akan tetapi bersegeralah anda untuk memenuhi dan mewujudkan angan-angannya itu sesuai dengan kemampuan anda.

57. Dahulukanlah ibu anda di atas seluruh kesibukan anda.

58. Hormatilah ibu di rumah anda. Mintalah ia untuk berkunjung ke rumah anda kapan saja. Bujuk ia untuk bermalam di rumah anda.

59. Bawalah ia bertamasya dan jalan-jalan bersama-sama dengan anda dan anak-anak anda, atau dengan saudara-saudara anda.

60. Di waktu yang lain, sekali-sekali ajaklah ibu untuk bersama-sama dengan anda menikmati salah satu makanan kesukaannya di restoran dan rumah makan yang cukup baik.

61. Kunjungilah toko-toko atau tempat belanja bersamanya, untuk mewujudkan keinginan-keinginannya.

62. Berikanlah hadiah yang cocok untuk kaum pria, yang sekiranya dapat ibu berikan kepada ayah anda.

63. Memuji ayah anda dan memperlakukannya dengan baik di hadapan ibu.

64. Memuji apa yang ibu lakukan.

65. (Jika anda wanita), maka anak-anak wanita pada umumnya / beberapa (tidak semua) lebih dekat kepada ibu daripada anak-anak laki-laki. Maka dari itu, jagalah rahasia ibu, dan biarkan ibu mengetahui rahasia-rahasia anda.

66. Anak laki-laki akan dibutuhkan oleh ibu dalam menghadapi ujian-ujian hidup dan kesulitan-kesulitan. Oleh karena itu hendaklah mereka menjadi sandaran yang dapat melindunginya dalam menghadapi kesusahan dan penderitaannya.

67. Kelembutan anda terhadap saudara-saudara perempuan anda, keramahan anda kepada mereka, dan perilaku anda yang baik ketika berurusan dengan mereka, serta memberikan hadiah di setiap periode bagi mereka, semua itu akan memperkokoh kebahagiaan ibu.

68. Janganlah anda malu dengan tindakan apa pun yang dilakukan oleh ibu yang sesuai dengan usianya, namun tidak cocok dengan dunia di sekitarnya. Justeru berbanggalah dengannya.

69. Ajarkan kepada anak-anak anda untuk bersikap lemah lembut terhadap ibu.

70. Peganglah tangannya di masa tuanya, sodorkanlah sepatunya, tuntunlah ketika ia berjalan.

71. Sediakan hadiah atau penghargaan bagi anak-anak anda yang memperlakukan ibu dengan baik.

72. Seorang ibu akan mementingkan untuk tinggal di rumahnya. Oleh karena itu, bantulah ia untuk membuat rumahnya nyaman dengan suasana yang terbaik.

73. Sediakan tempat khusus di kamar tidur ibu.

74. Berbuat baiklah kepada kaum kerabat ibu, dan bantulah ibu untuk berbuat baik kepada mereka.

75. Jika ibu anda memiliki hobi tertentu, cobalah luangkan waktu anda bersamanya.

76. Dalam bidang apa pun hobi anda, persembahkanlah untuk ibu satu karya dari anda sendiri.

77. Dalam beberapa komunitas masyarakat, seorang ibu akan senang apabila namanya digunakan untuk menamai cucu-cucunya.

78. Ketika menaiki kendaraan, dahulukanlah ibu anda sebelum anda dan orang-orang selainnya.

79. Ketika berbicara dengannya, janganlah anda menggunakan kata-kata yang keras, kasar, atau berat (sulit dipahami).

80. Adakanlah ajang lomba untuk anak-anak anda yang masih kecil demi mendapatkan hadiah yang terbaik. Lalu hadiah itu diserahkan kepada ibu. Hal itu akan melatih mereka untuk memuliakan kedudukan ibu di mata mereka.

81. Pilihlah waktu-waktu mustajab untuk berdoa, dengan doa yang dikhususkan untuk ibu.

82. Perlihatkanlah kesan-kesan dan kekaguman teman-teman anda terhadap semua yang diberikan oleh ibu kepada anda.

83. Anda harus meluangkan waktu khusus untuk duduk bersamanya sepenuhnya.

84. Kepada para gadis, hendaklah mereka mempersilahkan ibunya untuk berkomunikasi dengan teman-teman mereka.

85. Banggakanlah ibu di setiap tempat dan kesempatan.

86. Perdengarkanlah kepadanya kisah-kisah tentang berbuat baik kepada orangtua.

87. Mintalah ibu untuk mendoakan anda, semoga Allah memberikan rizki berupa dapat berbuat baik kepadanya.

88. Mintalah selalu keridhaan ibu terhadap anda.

89. Berlombalah anda dengan semua orang untuk berbuat baik kepadanya. Jadikanlah selalu diri anda sebagai pemenang perlombaan itu.

90. Janganlah anda menaikkan suara di sisinya. Merendahlah di hadapannya.

91. Jika anda satu kota dengannya, namun masih dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh antara anda dengannya, maka perdekatlah jarak itu semampu anda.

92. Jika anda bekerja di kota lain, berusahalah untuk menghubunginya dalam setiap kesempatan.

93. Jika anda berada di kota lain, maka tidak cukup jika anda berkunjung sendirian. Karena anak-anak dari anak-anak ibu anda pun menempati tempat yang sama (di hati ibu anda).

94. Dalam banyak hal, anda harus mengalahkan diri anda sendiri dan keinginan nafsu anda pribadi dalam rangka mendahulukan ibu anda.

95. Intropeksi diri anda sepanjang waktu dan periksalah dengan teliti, apakah anda telah benar-benar berbuat baik kepada ibu, atau masih melalaikannya?

96. Jadilah anda orang yang memiliki keyakinan (yang tidak tergoyahkan) selamanya, bahwa apa yang anda perbuat terhadap kedua orangtua anda, kelak akan kembali kepada anda, dengan kebaikan anak-anak anda kepada anda, segera atau nanti.

97. Di saat ibu jatuh sakit, tinggallah bersamanya, awasilah ia dengan segenap perhatian anda.

98. Pujilah selalu gaun yang ia kenakan.

99. Ceritakanlah peristiwa-peristiwa dalam perjalanan anda.

100. Sikapilah keprihatinannya dengan lapang dada. Terimalah kritikannya dengan jiwa besar. Seraplah nasehat-nasehat dan bimbingannya dengan kerendahan hati dan keridhaan.

101. Ajaklah ibu anda bermusyawarah dalam urusan anda.

102. Jika duduk di majelisnya, maka duduklah dengan sopan, sesuai dengan kedudukan dan derajatnya.

103. Pakailah etika makan di hadapannya.

104. Pelajarilah kepribadiannya, dan perlakukan ia sesuai dengan kepribadiannya.

105. Hendaklah anak-anak wanita tidak terlalu sibuk dengan kehidupan keluarganya, sehingga tidak memperhatikan ibunya.

106. Sebagian dari kebutuhan-kebutuhan seorang ibu tidak akan diketahui oleh anak laki-lakinya, maka alangkah baiknya jika anak-anak wanita memperhatikan hal itu, dan memberikan kebutuhan-kebutuhan tersebut kepada ibunya.

107. Ketika anda mengunjungi keluarga ibu, maka jagalah anak-anak anda agar tidak mengganggu perabotan rumah.

108. Ketika anak anda menghancurkan atau merusak beberapa perabotan rumah ibu, maka segeralah anda memohon maaf atas kelalaian anda dalam mengawasi anak anda, dan gantilah barang tersebut dengan yang lebih baik.

109. Selama ibu sakit, jiwanya akan berubah, maka sebaiknya kita menengoknya dan membantu dia agar dapat melalui ujian ini.

110. Jika anak cucu ibu anda banyak maka alangkah baiknya disusun jadwal kunjungan kepadanya, agar tidak merepotkan ibu anda.

111. Bagi orang yang memiliki anak-anak yang banyak, hendaklah ia memilih tempat yang tepat (untuk pertemuan).

112. Wakaf atas nama ibu.

113. Disarankan setiap anak menyadari kelebihan masing-masing yang disukai oleh ibunya, lalu dengan kelebihannya itu masing-masing melayani dan membantu ibu mereka dengan potensi yang ada pada mereka.

114. Sering-seringlah mengunjunginya, karena seorang ibu tidak akan bosan melihat anak-anaknya.

115. Berilah ibu anda perangkat komunikasi modern.

116. Jika ibu anda memiliki HP, kirimkanlah ungkapan yang indah melalui pesan atau SMS.

117. Ketika ibu telah berusia lanjut, anda dapat mengumpulkan hadiah-hadiah untuk diberikan kepada sekelompok teman-temannya.

118. Ketika menghubungi ibu melalui telephon, maka ucapkanlah salam terlebih dahulu, jangan tergesa-gesa untuk langsung berbicara.

119. Terapkanlah etika berbicara ketika anda berada di majelisnya.

120. Ketika anda baru tiba dari suatu perjalanan ke sebuah negeri, berikanlah kepada ibu anda suatu hadiah yang anda beli dari negeri tersebut.

121. Bawalah ibu ke tempat-tempat di mana ia lahir dan tumbuh dewasa, atau ke tempat-tempat khusus dimana ia meniti hari-hari pertama pernikahannya.

122. Mendidik saudara-saudara kita tentang keutamaan berbuat baik kepada ibu.

123. Ketika kedua orangtua anda berpisah, dan salah satunya meninggalkan yang lain, maka janganlah anda berbuat sesuatu yang tidak disukainya.

124. Ketika timbul beberapa masalah keluarga dalam rumah tangga, maka berikanlah solusi praktis dengan cara diplomatik untuk menyelamatkan biduk rumah tangga.

125. Ketika ibu menikah lagi setelah berpisah dengan ayah, maka hormatilah suami ibu.

126. Ketika ibu menikah lagi setelah berpisah dengan ayah, maka tinggikanlah kedudukannya.

127. Hubungilah orang-orang yang sulit menghubungi ibu, dan biarkan ibu berkomunikasi dengan mereka.

128. Di usia lanjutnya, kasihilah ia yang telah lemah.

129. Jika ibu mengungkapkan pandangan yang berbeda dengan anda, janganlah anda memaksakan diri anda dan pikiran anda sendiri kepadanya.

130. Jika ibu anda berlangganan beberapa majalah, maka berlanggananlah majalah yang cocok dengannya, lalu berikanlah kepadanya.

131. Berikanlah uang kepadanya setiap waktu dan kesempatan, jangan biarkan beliau meminta dari anda.

132. Belikanlah barang-barang keperluannya, dan jangan anda mengambil uang pembelian darinya.

133. Buatkanlah sebuah rekening bank khusus untuknya, dan ajarkanlah bagaimana mengoperasikan mesin ATM.

134. Jika anda melakukan kesalahan yang berkaitan dengan hak ibu anda, maka mintalah seseorang yang paling mulia di sisi ibu untuk menjadi penengah antara anda dan ibu.

135. Ketika ibu memasuki usia tua, janganlah anda melontarkan julukan-julukan baginya yang membuat ia merasakan keuzuran, seperti julukan “nenek-nenek” atau “manula”.

136. Jika anda melihat perbuatan ibu yang tidak pantas dalam kehidupan rumah tangga dengan ayah, maka janganlah anda memberikan saran secara langsung.

137. Fikirkanlah selalu sarana-sarana baru untuk mendapatkan keridhaan ibu anda.

138. Janganlah anda terpaku pada satu cara tertentu saja dalam berbuat baik kepada ibu anda, akan tetapi jadikan seluruh aktivitas anda untuk berbuat baik kepadanya.

139. Apapun tindakan, ide, atau pandangan ibu, janganlah anda menyepelekannya, baik secara terang-terangan atau diam.

140. Janganlah anda memutus pembicaraannya atau menyela selama pembicaraan masih berlangsung. Janganlah anda berkata-kata kepada orang lain sementara ibu anda sedang berbicara kepada anda.

141. Tela’ahlah selalu hadits-hadits yang menerangkan keutamaan berbuat baik kepada ibu, dan tela’ah pula riwayat hidup mereka yang bebruat baik kepada ibu.

142. Jika anda melihat orang yang telah tertimpa bencana dengan menyakiti ibunya, maka ucapkanlah:
Alhamdulillahil ladzi ‘aafaanii mimmaa ibtalaahu bih.
“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari cobaan yang menimpanya.”

143. Di majelisnya, janganlah anda membelakangi ibu, atau menjauh dari hadapannya, atau rela menjadi orang terakhir yang datang paling belakang.

144. Jika ibu anda ingin berjalan, maka sodorkanlah sandalnya, dan berjalanlah anda di sampingnya.

145. Janganlah anda menjadi orang yang terakhir mengetahui berita tentang ibu anda, atau orang terakhir yang mengucapkan selamat kepadanya.

146. Ketika ibu memarahi anda atau kesal kepada anda, maka janganlah anda menjawabnya, atau menjelaskan situasi anda kepadanya saat itu juga.

147. Sebagian ibu ada yang cepat marah, maka bersabarlah anda.

148. Tulislah sifat-sifat ibu anda dalam sehelai kertas, kemudian tulislah cara yang baik dalam menyikapinya agar berkenan di hatinya.

149. Renungkanlah orang-orang di sekitar anda. Lihatlah bagaimana orang yang sudah tidak memiliki ibu.

150. Ketika ibu anda sakit, tangguhkanlah perjalanan anda.
 
 

dari kitab 150 Thariqatan Liyashila Birruka Biummika.

Senin, 22 Juli 2013

Ridho ALLAH = Ridho Ibu Bapak

Jalan yang hak dalam menggapai ridha ALLAH melalui orang tua adalah Birrul walidain. Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) adalah salah satu masalah yang penting dalam Islam.

Di dalam Al-Qur’an, setelah memerintahkan kepada manusia untuk bertauhid kepada-Nya, ALLAH Ta’ ala memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Dalam surat Al Isra’ ayat 23-24, ALLAH berfirman:

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan jangan lah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkatanaan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah,”Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil.”

Al Hafidz Ibnu Katsir telah menerangkan ayat tersebut sebagai berikut:

“ALLAH Ta’ala telah mewajibkan kepada semua manusia untuk beribadah hanya kepada ALLAH saja, tidak menyekutukan dengan yang lain. “Qadla” di sini bermakna perintah sebagaimana yang dikatakan Imam Mujahid, wa qadla yakni washa (ALLAH berwasiat). Kemudian dilanjutkan dengan “wabil waalidaini ihsana” hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.

Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya dalam keadaan lanjut usia, “fa laa taqul lahuma uffin” maka janganlah berkata kepada keduanya ‘ah’ ( ‘cis’ atau yang lainnya). Janganlah memperdengarkan kepada keduanya perkataan yang buruk. “Wa laa tanhar huma” dan janganlah kalian membenci keduanya. Ada juga yang mengatakan bahwa “wa laa tanhar huma ai la tanfudz yadaka alaihima” maksudnya adalah janganlah kalian mengibaskan tangan kepada keduanya. Ketika ALLAH melarang perkataan perkataan dan perbuatan yang buruk, ALLAH juga memerintahkan untuk berbuat dan berkata yang baik. Seperti dalam firman ALLAH Ta’ala “wa qul lahuma qaulan karima” dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, yaitu perkataan yang lembut dan baik dengan penuh adab dan rasa hormat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan kasih sayang, hendaklah kalian bertawadlu’ kepada keduanya. Dan hendaklah kalian berdoa, “Ya ALLAH sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangi dan mendidikku di waktu kecil,” pada waktu mereka berada di usia lanjut hingga keduanya wafat.” [Tafsir Ibnu Katsir Juz III hal 39-40 Cet. I. Maktabah Daarus Salam, Riyad. Th. 1413H]

Perintah birul walidain juga tercantum dalam surat An Nisa ayat 36, ALLAH berfirman:

Dan sembahlah ALLAH dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesugguhnya ALLAH tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Dalam surat Al Ankabut ayat 8, tercantum larangan mematuhi orang tua yang kafir kalau mengajak kepada kekafiran:

“Dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikutikeduanya. Hanya kepada-Ku lah kembalimu.lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Pengertian berbuat baik dan durhaka

Menurut lughoh (bahasa), Al-Ihsan berasal dari kata ahsana –yuhsinu –Ihsaanan. Sedangkan yang dimaksud ihsan dalam pembahasan ini adalah berbakti kepada kedua orang tua yaitu menyampaikan setiap kebaikan kepada keduanya semampu kita dan bila memungkinkan mencegah gangguan terhadap keduanya. Menurut Ibnu Athiyah, kita wajib juga mentaati keduanya dalam hal-hal yang mubah, harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan keduanya dan menjauhi apa-apa yang dilarang.

Sedangkan uquq artinya memotong (seperti halnya aqiqah yaitu memotong kambing). ‘Uququl walidain’ adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak terhadap kedua orang tuanya baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contoh gangguan dari seorang anak kepada kedua orang tuanya yang berupa perkataan yaitu dengan mengatakan ‘ah’ atau ‘cis’, berkata dengan kalimat yang keras atau menyakitkan hati, menggertak, mencaci dan yang lainnya. Sedangkan yang berupa perbuatan adalah berlaku kasar seperti memukul dengan tangan atau kaki bila orang tua menginginkan sesuatu atau menyuruh untuk memenuhi keinginannya, membenci, tidak memperdulikan, tidak bersilaturahmi atau tidak memberi nafkahkan kepada kedua orang tuanya yang miskin.

Berbakti Kepada Orang Tua Merupakan Sifat Baarizah (yang menonjol) dari Para Nabi. Dalam surat Maryam ayat 30-34, ALLAH Ta’ala menjelaskan bahwa Isa bin Maryam adalah anak yang berbakti kepada Ibunya: Berkata Isa, “Sesungguhnya aku ini hamba ALLAH, yang memberi Al-Kitab (Injil), Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan ALLAH memerintahkan aku berbakti kepada ibuku dan tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku. Itulah Isa putra Maryam, mengatakan perkataan yang benar dan mereka berbantahan tentang kebenarannya.”

Kemudian ALLAH berfirman dalam surat Ibrahim ayat 40-41: “Wahai Rabb-ku jadikanlah aku dan anak cucuku, orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb-ku perkenankanlah doaku.Wahai Rabb kami, berikanlah ampunan untukku dan kedua orang tuaku. Dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab.” Lihat juga dalam surat Asy Syu’araa’ ayat 83-87:(Ibrahim berdoa) “Ya Rabb-ku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku kedalam golongan orang-orang yang shalih, Dan jadikanlah aku tutur kata yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian,

Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat,Dan janganlah engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.”

Demikian juga Nabi Nuh ‘alaihi salam mengatakan hal yang sama dalam surat Nuh. Kemudian Nabi Ismail ‘alaihi salam, juga Nabi Yahya ‘alaihi salam dalam surat Maryam ayat 12-15: Ambillah Al Kitab dengan sungguh-sungguh, Kami berikan kepadanya hikmah, ketika masih kanak-kanak, Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan ia adalah orang-orang yang bersih dosa dan orang-orang bertakwa. Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, bukanlah ia termasuk orang-orang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan semoga atas dirinya, pada hari ia dilahirkan, pada hari ia diwafatkan, dan pada hari ia dibangkitkan.”

Kemudian dalam An Nahl ayat 19 tentang nabi Sulaiman ‘alaihi salam. Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengajarkan amal shalih yang Engkau ridlai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.”

Ayat-ayat diatas menunjukan bahwa bakti kepada orang tua merupakan sifat yang menonjol bagi para nabi. Semua nabi berbakti kepada kedua orang tua mereka. Dan ini menunjukan bahwa berbakti kepada orang tua adalah syariat yang umum. Setiap nabi dan rasul yang diutus oleh ALLAH Subhanahu wa Ta’ala ke muka bumi selain diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada ALLAH, mentauhidkan ALLAH dan menjauhi segala macam perbuatan syirik juga diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada orang tuanya.

Bila diperintahkan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua seperti yang tercantum dalam surat An Nisa, surat Al Isra dan surat-surat yang lainya menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah masalah kedua setelah mentauhidkan ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. Kalau selama ini yang dikaji adalah masalah tauhid, masalah aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, aqidah salaf, untuk selanjutnya wajib pula bagi setiap muslim dan muslimah untuk mengkaji masalah berbakti kepada kedua orang tua. Tidak boleh terjadi pada seorang yang bertauhid kepada ALLAH tetapi ia durhaka kepada kedua orang tuanya, wal iyadzubillah nas alullahu salamah wal afiyah. Bagi seorang muslim terutama bagi seorang thalibul ‘ilm (penuntut ilmu), wajib baginya berbakti kepada orang tuanya.

Keutamaan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua dan Pahalanya

Pertama: Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dalam amal yang paling utama. Dengan dasar diantaranya yaitu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Dari sahabat Abu Abdirrahman Abdulah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu:

“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang amal-amal paling utama dan dicintai ALLAH.? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘pertama Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat diawal waktunya), kedua berbakti kepada kedua dua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah’.” [HR. Bukhari I/134, Muslim No. 85, Fathul Baari 2/9]

Dengan demikian jika ingin berbuat kebajikan harus didahulukan amal-amal yang paling utama di antaranya adalah birrul walidain (berbakti kepada orang tua).

Kedua: Bahwa ridha ALLAH tergantung kepada keridhaan orang tua. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu Hibban, Hakim dan Imam Tirmidzi dari Sahabat dari sahabat Abdillah bin Amr dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka ALLAH tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152))

K etiga: Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu dengan cara bertawasul dengan amal shalih tersebut. Dengan dasar hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu Umar:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Pada suatu hari tiga orang berjalan, lalu kehujanan. Mereka bertehduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka ada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua/ sebagian mereka berkata kepada yang lain, ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan.’ Kemudian mereka memohon kepada ALLAH dan bertawasul melalui amal tersebut, dengan harapan agar ALLAH menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu diantara mereka berkata, ‘Ya ALLAH, sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan sedangkan aku mempunyai istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku menggembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang sudah larut dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan berikan kepada siapapun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anakku. Ya ALLAH, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena Engkau ya ALLAH, bukakanlah.’ Maka batu yang menutup pintu gua itu pun bergeser.” [HR. Bukhari, (Fathul baari 4/449 no. 2272), Muslim (2473) (100) Bab Qishshah Ashabil Ghaar Ats Tsalatsah Wattawasul bi Shalihil A’mal].

Ini menunjukan bahwa perbuatan berbakti kepada kedua orang tua yang pernah kita lakukan, dapat digunakan untuk bertawasul kepada ALLAH ketika kita mengalami kesulitan, insya ALLAH kesulitan tersebut akan hilang. Berbagai kesulitan yang dialami seseorang saat ini diantaranya karena perbuatan durhaka kepada kedua orang tua.

Kalau kita mengetahui, bagaimana beratnya orang tua kita telah bersusah payah untuk kita, maka perbuatan ‘Si Anak’ yang ‘bergadang’ untuk memerah susu tersebut belum sebanding dengan jasa orang tuanya ketika mengurusnya sewaktu kecil.

Ini juga menunjukan bahwa kebutuhan kedua orang tua harus di dahulukan daripada kebutuhan anak kita sendiri. Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan berbakti kepada orang tua harus didahulukan dari pada berbuat baik kepada istri sebagai mana diriwayatkan oleh abdulah bin umar radliallahu ‘anhuma ketika diperintahkan oleh bapaknya (Umar bin Khatab) untuk menceraikan istrinya, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Rasalullah menjawab, “Ceraikan istrimu!” [HR. Abu Dawud No. 5138, Tirmidzi No. 1189 beliau berkata, “Hadits hasan shahih”]

Keempat: Dengan berbakti kepada kedua orang tua akan diluaskan rizki dan dipanjangkan umur Sebagai mana dalam hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Dari sahabat Anas radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barang siapa yang suka diluaskan rizki dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” [HR. Bukhari 7/7, Muslim 2557, Abu Dawud 1693].

Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan silaturahmi kepada orang tua sebelum kepada yang lain. Banyak diantara saudara-saudara kita yang sering ziarah kepada teman-temannya tetapi kepada orang tuanya sendiri jarang bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih kecil dia selalu bersama orang tuanya. Sesulit apapun harus tetap diusahakan untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tua. Karena dengan dekat kepada keduanya insya ALLAH akan dimudahkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya.

Kelima: Manfaat dari berbakti kepada kedua orang tua yaitu akan dimasuikkan ke jannah (surga) oleh ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. Dosa-dosa yang ALLAH segerakan adzabnya di dunia diantaranya adalah berbuat zhalim dan durhaka kepada orang tua. Dengan demikian jika seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya, Allah akan menghindarkannya dari berbagai mala petaka, dengan izin ALLAH.

Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua Takala Keduanya Berusia Lanjut.

Banyak sekali hadits-hadits yang menyebutkan tentang ruginya seseorang yang tidak berbakti kepada kedua orang tua pada waktu orang tua masih disisi kita, salah satunya adalah : Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut , salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga.” [HR. Muslim 2551, Ahmad 2:254,346].

Pada umumnya seorang anak merasa berat dan malas memberi nafkah dan mengurusi kedua orang tuanya yang telah berusia lanjut. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa keberadaan kedua orang tua yang berusia lanjut itu adalah kesempatan paling baik untuk mendapatkan pahala dari ALLAH, dimudahkan rizki dan jembatan emas menuju surga. Karena itu sungguh rugi jika seorang anak menyia-nyiakan kesempatan yang paling berharga ini dengan mengabaikan hak-hak orang tuanya dan dengan sebab itu dia tidak masuk surga.

Bentuk dan Akibat Durhaka Kepada Kedua Orang Tua.

Di antara bentuk durhaka (uquq) adalah:

1. Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan ) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih atau sakit hati.

2. Berkata ‘ah dan tidak memenuhi panggilan orang tua.

3. Membentak atau menghardik orang tua.

4. Bakhil, tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mempentingkan yang lain dari pada mengurusi orang tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkahpun , dilakukan dengan penuh perhitungan.

5. Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, '‘kolot’ dan lain-lain.

6. Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua dan lemah. Tetapi jika ‘Si Ibu’ melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih.

7. Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.

8. Memasukan kemurkaan kedalam rumah misalnya alat musik, mengisap Rokok, dll.

9. Mendahului taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagai orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya. Na’udzubillah.

10. Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam itu adalah sikap yang sangat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.

Akibat dari durhaka kepada kedua orang tua akan dirasakan di dunia, dan ini didasarkan pada hadits berikut:Dari Abi Bakrah radliallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Tidak ada dosa yang ALLAH cepatkan adzabnya kepada pelakunya di dunia ini dan ALLAH juga akan mengadzabnya di akhirat yang pertama adalah berlaku Zhalim, kedua memutuskan tali silaturrahmi.” [HR. Bukhari (Shahih Adabul Mufrad No. 23),]

Dalam hadits lain dikatakan:”Dua perbuatan dosa yang ALLAH sepatkan adzabnya (siksanya) di dunia yaitu berbuat zhalim dan al ‘uquq (durhaka kepada orang tua). [HR. Hakim 4/177 dari Anas din Malik radliallahu ‘anhu].

Dapat kita lihat sekarang banyak orang yang durhaka kepada orang tuanya hidupnya tidak berkah dan selalu mengalami berbagai macam kesulitan. Kalaupun orang tersebut kaya maka kekayaannya tidak akan menjadikan bahagia.

Bentuk-bentuk Bakti Kepada Orang Tua

Pertama: Bergaul kepada keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disebutkan bahwa memberi kegembiraan kepada seseorang mu’min termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau memberikan kegembiraan kepada kedua orang tua kita.

Kedua: yaitu berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya dibedakan berbicara kepada kedua orang tua dengan kepada anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua.

Ketiga: Tawadlu (rendah diri). Tidak boleh kibir (sombong) apabila sudah meraih sukses atau atau memenuhi jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan dengan memberi makan, minum, pakaian dan semuanya.

Keempat: Yaitu memberi infak (shadaqah) kepada kedua orang tua. Semua harta kita adalah milik orang tua.

Kelima: Mendo’akan kedua orang tua. Sebagaimana ayat: ‘robbirhamhuma kamaa rabbayaani shagiiro’ (wahai rabb-ku kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil). Seandainya orang tua belum mengikuti dakwah yang haq dan masih berbuat syirik serta bid’ah, kita tetap harus berlaku lemah lembut kepada keduanya.

Apabila kedua orang telah meninggal maka yang pertama kita lakukan adalah meminta ampun kepada ALLAH Ta’ala dengan taubat yang nasuha (benar) bila kita pernah berbuat durhaka kepada keduanya di waktu mereka masih hidup, yang kedua adalah menshalatkannya, ketiga adalah selalu meminta ampunan untuk keduanya, yang keempat membayarkan hutang-hutangnya, yang kelima melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari’at dan yang keenam menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya (diringkas dari beberapa hadist yang shahih).


dikutip dari http://myquran.org dengan sedikit penyesuaian

Selasa, 09 Juli 2013

Penantian Panjang Ibunda

kisah ini dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil. Tidak seorang pun tau, yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya. Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka. Tidak sampai setahun di kota itu, mereka sudah kehabisan seluruh uangnya.

Hingga suatu pagi mereka menyadari akan tinggal dimana malam nanti dengan tidak sepeserpun uang di kantong. Padahal mereka sedang menggendong sorang bayi berumur satu tahun. Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya.  Tiba saatnya di sebuah toko memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.

Kepergian ayah

Saat itu dingin Desember bertiup kencang, membawa titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat di bawah atap toko itu, sang suami berkata “saya harus meninggalkan sekarang untuk mendapatkan pekerjaan apapun kalau tidak malam nanti kita akan di sini”.

Setelah mencium bayinya, ia pergi. Dan itu, adalah kata-katanya yang terakhir karena setelah itu ia tidak pernah kembali. Tak seotang pun yang tahu dengan pasti kemana pria itu pergi. Tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju Afrika.

Selama beberapa hari berikutnya, sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suaminya, dan bila malam menjelang ibu dan anaknya tidur di emperan toko itu. Pada hari ketiga, orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil. Dan jadilah mereka pengemis di sana selama enam bulan berikutnya.

Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk  bekerja. Persoalannya adalah di mana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir dua tahun, dan tampak amat cantik. Kelihatannya tidak ada jalan kecuali meninggalkan anak itu disitu, dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka.

Suatu pagi ia berpesan kepada anaknya, agar ia tidak pergi kema-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau yang menawarkan gula-gula. Pendek kata, gadis itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak di temapt. “dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu. Dan kita tidak lagi tidur dengan angina dirambut kita.

Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan, maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong dan membaringkan anaknya dengan hati-hati didalamnya. Disebelahnya ia meletakkan sepotong roti, kemudian dengan mata basah, ia bekerja sebagai pemotong kulit. Begitulah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga di kantong sang ibu kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh tersebut.

Dengan sukacita sang ibu menuju ke penginapan miskin-miskin terseubt membayar uang muka sewa kamarnya. Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota. Di situ mereka mendandani gadis cililk itu dengan baju baru, membedaki wajahnya menyisir rambutnya dan membawanya ke sebuah rumah mewah di pusat kota.

Berpisah dengan mama

Di situ sang gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri, walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun. Suami istri dokter tersebut memberi nama anak gadis itu Serrafona, mereka memanjakannya dengan amat sangat. Di tengah-tengah kemewahan gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano. Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan mengendarai Mercedes Benz ke mana pun ia pergi. Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya, dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat.

Pada umurnya yang ke 23, Serrafona dikenal sebagai anak gadis gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain puano, dan menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figure yang menjadi impian setiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang bernama Geraldo. Setahun setelah perkawinan mereka ayahnya wafat, dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah dikota itu.

Menjelang hari ulang tahunnya yang ke 27, sesuatu terjadi yang mengubah kehidupan wanita itu. Pagi  itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di laci meja kerja ayahnya, ia menemukan selembar foto anak bayi yang digendong sepasang suami istri. Selimut, yang dipakai untuk menggendong bayi itu kummel dan bayi itu sendiri tampak tidak terawat, karena wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap berantakan.

Sesuatu di telinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pada pandangan telinga kiri itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri dan mengeluarkan sebuah kotak kayu. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya. Tapi diantara benda-benda mewah itu tampak sesuatu yang terbungkus kapas kecil sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan terbuat dari emas murni.

Almarhum ibunya memberi benda itu dengan pesan untuk tidak menghilangkannya. Ia sempat bertanya, kalau itu anting, di mana pasangannya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting itu di dekat foto. Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuannya melihatnya dan perlahan-lahan air matanya jatuh. Kini tidak ada keraguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri. Tapi kedua orang yang menggendongnya, dengan senyum yang dibuat-buat, belum pernah dilihatnya sama sekali. Foto seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini menghantui pertanyan-pertanyaannya, kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya.

Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, penglihatan di benaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dingin sekelilingnya tetapi ia juga merasakan betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama. Matanya basah ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri suaminya, “Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah ibu sekarang masih ada di jalan setelah 24 tahun?” ini semua adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa lalu Serrafona.

Berkelana dalam pencarian

Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan di seluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafona.mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, surat kabar dan kantor catatan sipil. Ia mendapatkan data-data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badan sosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita.

Bulan demi bulan telah berlalu, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukanlah sesuatu yang mudah bahkan mustahil untuk dilakukan. Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyereah, dibantu sang suami yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus meningkatkan pencarian. Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik.

Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum, sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad. Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang. Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-ngangguk penuh perharian.

Setelah berusaha dalam berbagai upaya pencarian, suatu sore Serrafona menerima kabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu menemukan ibunya. Tanpa membuang waktu, tim pencari pun terbang ketempaat wanita itu berada, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka. Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separuh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita didalam foto.

Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah menculik seorang gadis kecil di tepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu. Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan-potongan jalan itu dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang. Malam itu juga mereka mengunjungi kota di mana Serrafona diculik, mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu.

Semalaman Serrafona tidak bisa tidur. Dan untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya. Dua hari lewat tanpa kabar, pada hari ketiga, pukul 6 pagi, mereka menerima telepon dari salah seorang staf mereka.

“Tuhan maha penyayang nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan kami mungkin telah menemukan ibu nyonya, hanya cepat sedikit, waktunya mungkin  tidak terlalu banyak lagi”. Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh dan banyak angin. Rumah-rumah sepanjang jalan itu tua-tua dan kumuh. Satu dua anak kecil tanpa baju bermain-main di tepi jalan dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan berikutnya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka semakin masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan.

Tubuh Serrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu.”cepat, mama menunggumu sayang’. Ia mulai berdoa:”Tuhan beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja untuknya”.

Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa,”Tuhan beri saya sebulan saja”. Mobil masih berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil dan angin bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka. Ia mendengar lagi panggilan mamanya, dan ia mulai menangis,”Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan”.

Ketika mereka masuk dibelokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebatnya, sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama Los Felidas, panjangnya sekitar 180 kilometer dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung ke ujung. Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko, tampak gunungan sampah dan kantong-kantong plastik, dan di tengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian yang sangat tidak layak untuk dipakai, tidak bergerak. Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya dan 3 mobil polisi, di belakang mereka sebuah ambulans berhenti, diikuti keempat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis-pengemis yang segera memenuhi tempat itu.

“belum bergerak dari tadi.” Lapor salah seorang. Pandangan Serrafona gelap, tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya dan turun dari mobil, suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya. “Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu.” Serrafona memandang tembok dihadapannya, dan ingatan semasa kecilnya kembali menerawang saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kakinya dan kembali terlintas bayangan ketika ia mulai berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya. Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat.

“Tuhan”, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya, “beri kami sehari, Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberitahukannya bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia. Sehingga mama tidak pernah sia-sia merawat saya”. Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu ke dadanya, wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan parlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri disaat masih muda.

“mama…”, ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang selama ini ditunggunya tiap malam dan setiap hari antara sadar dan tidak kini menjadi kenyataan. Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan lepas, dengan perlahan lahan ia mulai membuka genggaman tangannya, tampak sebuah anting yang sudah menghitam. Serrafona mengangguk dan menyadari bahwa itulah pasangan anting yang selama ini dicarinya dan tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya.

“mama, saya tinggal di istana dengan makanan enak setiap hari. Mama jangan pergi, kita bisa lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur apapun juga…, mama jangan pergi…!”. Ketika telinganya menangkap detak jantuk yang melemah ia berdoa lagi kepada Tuhan,”Tuhan Maha Pengasih dan Pemberi, Tuhan… satu jam saja… satu jam saja…” tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir dengan sia-sia.


dikutip dari vandave.wordpress.com dengan sedikit penyesuaian.

Minggu, 07 Juli 2013

Kasih sayang ibunda

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Saudaraku, coba kembali anda mengingat betapa hangat dan indahnya pelukan ibunda semasa anda masih kecil. Kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan sekejap menyelimuti diri anda tatkala anda berada di pangkuan dan pelukan ibunda tercinta. Bukankah demikian?

Pernahkah anda merasakan kedamaian, kehangatan dan kebahagian yang melebihi kedamaian berada dalam pelukan dan belaian ibunda?

Kuasakah anda melupakan kasih sayang dan kehangatan pelukan ibunda?

Coba sekali lagi anda mengingat-ingat dan membayangkan diri anda yang sedang berada dalam pelukan ibunda. Ia membelai rambut anda, mengecup kening anda, dan memeluk dengan hangatnya tubuh anda yang kecil mungil.

Betapa indahnya lamunan dan gambaran yang hadir dalam benak anda, seakan hati anda tak kuasa untuk berpisah dari lamunan indah ini.

Sekali lagi, coba kembali anda membayangkan apa yang dilakukan ibunda semasa anda demam atau sakit? 

Dengan tabah ia menunggu anda, merawat anda, dan mungkin saja tanpa ia sadari tetes air matanya berderai karena tak kuasa menahan rasa khawatir terhadap kesehatan anda.

Mungkinkah masa-masa indah bersama ibunda tercinta ini dapat anda lupakan? Mungkinkah hati anda kuasa untuk menahan rasa rindu kepadanya?

Tidakkah anda pernah bertanya: Mengapa ibunda melakukan itu semua kepada anda?

Jawabannya hanya ada satu: kasih sayang.

Benar, hanya kasih sayang beliaulah yang mendasari perilakunya itu. Tulus tanpa pamprih sedikitpun. Satu-satunya harapan ibunda ialah anda tumbuh dewasa dan menjadi orang yang beriman, bertakwa, sehingga berguna bagi agama, negara dan kedua orang tuanya.

Pernahkah, ibunda anda sekarang ini meminta balasan atau upah atas segala jerih payahnya merawat dan mengasuh anda?

Jawabannya pasti : tidak dan tidak mungkin ia melakukannya.

Saudaraku! Coba kembali anda berusaha mereka-reka gambaran ibunda sedang menggendong dan menimang-nimang tubuh anda yang kecil-mungil. Mungkinkah ibunda tercinta tega menjatuhkan diri anda atau bahkan mencampakkan anda ke dalam api?

Jawabannya pasti tidak, bahkan kalaupun harus memilih, kita bersama yakin ibunda akan memilih menceburkan  dirinya ke api asalkan anda selamat dari pada menceburkan anda ke dalamnya sedangkan dirinya selamat. Bukankah demikian?

Benar-benar gambaran seorang ibu yang penyayang dan cinta terhadap putranya.

Pada suatu hari didatangkan kepada Rasulullah segerombolan tawanan perang. Tiba-tiba ada seorang wanita dari tawanan perang itu yang menemukan seorang anak kecil. Spontan wanita itu memeluknya dengan hangat dan segera menyusuinya. Menyaksikan pemandangan yang demikian, Rasulullah Saw bertanya kepada para sahabatnya: “Mungkinkah wanita ini tega mencampakkan putranya itu ke dalam api?” Para sahabatpun spontan menjawab: ” Selama ia kuasa untuk tidak melakukannya, mustahil ia melakukan perbuatan itu.” Selanjutnya Rasulullah Saw bersabda:

“Sungguh ALLAH lebih sayang terhadap hamba-hamba-Nya dibandingkan wanita ini terhadap putranya.” Muttafaqun ‘alaih.

Ketahuilah saudaraku! Kasih sayang ibunda yang pernah anda rasakan, hanyalah secuil atau setetes dari  lautan kasih sayang ALLAH yang di turunkan ke muka bumi. 

“Sesungguhnya tatkala ALLAH menciptakan langit dan bumi, Ia menciptakan seratus kasih sayang (kerahmatan). Masing-masing kerahmatan sebesar langit dan bumi. Selanjutnya Ia menurunkan satu kasih sayang (kerahmatan) saja ke muka bumi. Dengan satu kasih sayang inilah seorang ibu menyayangi putranya, binatang buas dan burung-burung menyayangi sesama mereka. Dan bila kiamat telah tiba, maka ALLAH akan menggenapkan kesembilan puluh sembilan kerahmatan yang tersisa di sisi-Nya dengan satu kerahmatan yang telah Ia turunkan ke bumi.  Muttafaqun ‘alaih


          Pada riwayat lain Rasulullah Saw bersabda:

“ALLAH Azza wa Jalla memiliki seratus kasih sayang (kerahmatan) . Dan Sesungguhnya ALLAH telah membagi-bagi satu kasih-sayang-Nya kepada seluruh penduduk bumi, dan itu telah mencukupi mereka hingga masing-masing mereka dijemput oleh ajalnya. ALLAH masih menyisihkan sembilanpuluh sembilan kerahmatan buat para wali-Nya (hamba-hamba-Nya yang sholeh). Dan kelak pada hari qiyamat ALLAH mengambil  kembali satu kerahmatan yang telah Ia turunkan itu guna disatukan dengan kesembilan puluh sembilan kerahmatan yang ada di sisi-Nya untuk selanjutnya diberikan kepada para wali-wali-Nya (orang-orang yang sholeh). Riwayat Ahmad.

          Bila setetes dari satu kasih sayang dan kerahmatan yang berhasil dimiliki anda rasakan dari ibunda terasa begitu indah dan begitu membahagiakan, maka betapa indah dan bahagianya bila anda berhasil mendapatkan satu kerahmatan secara utuh?

Dan betapa indah dan bahagianya bila anda berhasil merasakan keseratus kerahmatan ALLAH kelak di hari kiamat.
          
Saudaraku! Anda penasaran, ingin tahu siapakah berhak mendapatkan keseratus kerahmatan dan kasih sayang ALLAH?

          Jawabannya terdapat pada firman ALLAH Ta’ala berikut

"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami." Al A'araf 156.

          Anda merasa tertantang dan bermimpi untuk menjadi salah satu dari orang-orang yang dapat merasakan keseratus kerahmatan dan kasih sayang ALLAH di hari kiamat?

          Inilah saatnya anda mewujudkan dan mengukir impian anda. Bulan suci ramadhan adalah peluang anda merintis terwujudnya impian dan harapan besar anda.

"Bila Ramadhan telah tiba, maka pintu-pintu kerahmatan dibuka." Riwayat Muslim.
          
Sekarang inilah saatnya anda memasuki pintu-pintu kerahmatan Allah yang telah dibuka lebar-lebar untuk anda.

Akankah kesempatan emas ini berlalu begitu saja dari kehidupan anda?

          Mungkinkah pintu-pintu kerahmatan ALLAH Ta'ala yang telah terbuka lebar-lebar untuk anda ini ditutup kembali sedangkan tak sedikitpun bekal untuk memasukinya berhasil anda ukir?

          Saudaraku! singsingkan lengan bajumu, kencangkan ikat pinggangmu dan ayuhlah langkahmu menuju pintu kerahmatan ALLAH yang telah dibuka untukmu.

          Bila anda bertanya: Apakah perbekalan yang harus saya bawa agar dapat menggapai pintu kerahmatan ALLAH yang telah terbuka?

          Dengarlah kembali jawabannya:

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” Al A’araf 156.

          Wujudkanlah ketakwaan dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Tunaikanlah zakat dan kokohkanlah keimanan anda kepada setiap ayat-ayat ALLAH Ta’ala. 

Dengan berbekalkan ketiga hal ini, niscaya pada bulan suci ini anda berhasil memasuki pintu kerahmatan ALLAH.

          Selamat berjuang melangkahkan kaki menuju kerahmatan ALLAH, semoga ALLAH Ta’ala mempertemukan kita di dalamnya. Amiin.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya, amiiin.

mari menyambut Ramadhan kali ini dengan tekad bulat untuk tidak menyia-nyiakannya sedikit pun, sebab kita tiada mengetahui segala yang akan terjadi di masa yang akan datang, Marhaban ya Ramadhan.


dikutip dari oezyfa1.wordpress.com dengan sedikit tambahan

Senin, 24 Juni 2013

Sepenggal Doa Ibunda

“Masa silam saya kelam,” ucap anak muda itu mengenang masa lalunya. Penampilannya yang necis tak membersitkan sedikit pun sebagai mantan pecandu obat terlarang. Rambut lurus bagai kucai dipotong pendek. Sisirannya yang dibelah tengah menambah tampilan lebih apik. Semburat wajahnya menyimpan keteduhan.“

Dulu, ganja, putaw, atau sabu adalah teman setia saya,” lanjut pemuda itu. Awal dirinya berkenalan dengan barang-barang terlarang adalah dari teman bergaul. Beberapa teman sepermainan menyeretnya untuk coba-coba mengisapnya. Satu, dua kali hingga akhirnya menjadi candu. Dirinya menemukan suasana lain setelah mengonsumsi obat-obat tersebut, fly. Semakin hari, dari waktu ke waktu, intensitas pemakaian obat itu pun bertambah. Akhirnya, dia merasakan, apabila tidak mendapatkan obat terkutuk tersebut, dia merasa tersiksa.


“Bahkan, sampai saya harus menyilet lengan saya lalu saya isap darah yang keluar. Itu jika saya tak bisa mendapatkan barang setan tersebut,” tuturnya datar seraya memperlihatkan bagian kedua lengannya yang diiris-iris untuk diisap darahnya.

Beragam obat terlarang pernah masuk ke dalam tubuhnya. Mulai yang diisap hingga yang disuntikkan. Saat itu, dirinya benar-benar terjerat sekawanan setan. Tidak bisa lepas. Teramat sangat sulit untuk memisahkan diri dari mereka. Setiap saat seakan-akan dirinya dikuntit, terus disodori barang-barang terlarang.

Nasihat dari orang tuanya tidak pernah dihiraukannya. Begitu pula nasihat dari saudara-saudara atau sanak famili, didengarnya, tetapi tidak pernah digubris. Ia pun tetap bergelut dengan narkoba. Bisik rayu setan lebih ampuh baginya dibandingkan dengan nasihat. Perangkap Iblis benar-benar mencengkeramnya.

“Karena saya tidak pernah menghiraukan nasihat, ada saudara orang tua saya yang mengusulkan agar saya tidak lagi diakui sebagai anak,” akunya. “Namun, ibu saya tidak setuju,” paparnya sendu mengenang hal itu.
Akibat perbuatannya, nama baik keluarga tercoreng di hadapan masyarakat. Apalagi ibunya adalah seorang pegiat dakwah. Ibunya sering diminta mengisi berbagai pengajian. Tidak sedikit masyarakat yang mencemooh dan melecehkan orang tuanya, terutama ibunya. Bisa mengajari orang lain, tetapi anak kandungnya sendiri terjerat nafsu setan. Begitulah di antara kata-kata yang terlontar.

Sungguh, orang tuanya benar-benar sedang diuji. Tidak mengherankan apabila saudara-saudaranya mengusulkan agar dirinya dibuang, dikeluarkan dari anggota keluarga, dan tidak diakui lagi sebagai anak. Ini semua karena beratnya menanggung malu. Ya, malu karena nama baik keluarga tercoreng.

Di tengah cemooh, cercaan, dan hinaan sebagian orang, ibunya tetap sabar. “Setiap ada waktu, ibu selalu menasihati saya. Ibu selalu memberi kelembutan kepada saya,” kenangnya. Mata anak muda itu mulai berkaca-kaca. Ia berusaha untuk tidak menitikkan air mata. Ia berupaya tegar saat mengenang ibunya yang penyabar. Anak muda itu menghela napas panjang. Suasana sunyi. Daun di pepohonan bergoyang tersentuh angin. Langit biru tersaput tipis awan putih.

Satu malam, ibunya terbangun. Seperti biasa, ibunya menunaikan shalat tahajud. Malam demi malam dilaluinya dengan munajat kepada ALLAH. Malam demi malam ditaburinya dengan rukuk, sujud, zikir, dan doa. “Saat ibu tengah bermunajat, saya terbangun. Saya tatap ibu yang berselubung mukena putih. Seakan-akan mata tak mau berkedip. Saya tatap terus ibu,” ucapnya sungguh-sungguh.

Ia melanjutkan, “Saat saya menatap ibu, saya seperti diingatkan. Malam itu, kesadaran menyelinap ke dalam hati. Malam itu, saya bertobat,” kisahnya mengenang detik-detik tobatnya.

Sejak peristiwa itu, kehidupan anak muda tersebut berubah drastis. Semangat hidupnya mencuat kembali. Kepedulian terhadap agama pun tumbuh. Ibadahnya mulai berlangsung teratur. Pemuda itu telah insaf, meniti kembali jalan yang benar. Kegelapan yang selama ini menyelimuti, sirna. Ia berada dalam cahaya terang benderang. Ia yakin, semua ini tak luput dari sepenggal doa ibunda, setelah kehendak ALLAH.

Kisah di atas nyata, pada sekitar tahun 1980-an.

Rasulullah Saw bersabda,

 “Tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang safar (dalam perjalanan), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. at-Tirmidzi no. 3448 dari Abu Hurairah z, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam ash-Shahihah no. 598 dan 1797)

Setiap orang tua tentu menghendaki anaknya tumbuh menjadi orang yang baik, tidak menyusahkannya, apalagi membuat ulah di masyarakat. Namun, terkadang antara harapan dan kenyataan tidak selaras. Anak yang dicita-citakan berkepribadian indah ternyata rusak ditelan oleh laju zaman. Walau orang tua telah mengupayakan pendidikan yang cukup, namun anak salah mengambil teman bergaul. Ia pun terseret kepada pola perilaku yang tidak baik. Hedonis; yang hanya ingin hidup bergaya, tampilan wah, gaya mewah ala borjuis, prinsipnya hanya ingin senang. Ia tidak mau hidup prihatin, apalagi hidup susah penuh perjuangan. Ia berusaha memenuhi setiap keinginannya walau harus dengan cara melanggar syariat. Atau, anak terseret menjadi “gali” (gabungan anak liar). Hidup di jalanan, memalak orang lain guna memenuhi kebutuhannya. Bisa jadi pula, ia terperangkap mafia narkoba, dan beragam kenakalan serta kejahatan bisa dilakukan oleh seorang anak. Nas’alullaha al-‘afiyah (Kita memohon keselamatan kepada ALLAH saja).

Semua itu bisa disebabkan oleh sikap mental yang rapuh, tidak mampu berpikir dewasa dan bijak. Bisa jadi pula, hal itu tumbuh karena dipengaruhi oleh teman. Dengan istilah lain, disebabkan oleh pergaulan bebas. Pergaulan yang tidak memberi rangsangan untuk menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik.

ALLAH telah menyebutkan bahwa anak dan harta adalah cobaan. Firman-Nya,

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi ALLAH-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 15)

Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mendoakan, mendidik, membimbing, dan mengarahkan anak. Manakala tugas tersebut telah tertunaikan secara baik dan sungguh-sungguh, namun anaknya tetap berperilaku tidak sesuai dengan yang diharap, tentu orang tua tidak lantas patah arang, berputus asa. Hendaknya orang tua menyadari, sesungguhnya Allah-lah yang memberi hidayah. Firman-Nya,
“Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 178)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah merinci perihal hidayah. Pertama, hidayah yang disebut sebagai al-huda (petunjuk) dengan makna ad-dalalah (tuntunan) dan al-bayan (penjelasan). Ini sebagaimana yang dijelaskan oleh firman-Nya,

“Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (Fushshilat: 17)

Kedua, hidayah yang berbentuk al-huda (petunjuk) dengan makna at-taufiq dan al-ilham. Hidayah dengan makna ini hanyalah ALLAH yang memberi. Adapun manusia, termasuk Rasulullah n, tidak memiliki kekuasaan untuk memberinya. ALLAH berfirman,

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi ALLAH memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (al-Qashash: 56) (Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah, hlm. 8—9)

Rasulullah Saw sangat menginginkan agar paman beliau, Abu Thalib, berislam dan mengucapkan kalimat tauhid menjelang akhir kehidupannya. Namun, sampai ajal tiba, Abu Thalib tetap kafir. Rasulullah n tidak memiliki kekuasaan untuk memberi hidayah at-taufiq bagi pamannya. Karena itu, turunlah ayat di atas (al-Qashash: 56). (Lihat Shahih al-Bukhari no. 4772, hadits dari Sa’id bin al-Musayyab)


Demikianlah. Rasulullah Saw telah berusaha semaksimal mungkin agar paman beliau menjadi seorang muslim. Nasihat, bimbingan, dan arahan beliau kepada sang paman sebegitu intensif. Namun, ALLAH berkehendak lain. Hidayah at-taufiq tidak turun kepada paman beliau.

“Sesungguhnya ALLAH menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (Fathir: 8)

Demikian pula Nabi Ibrahim q. Beliau terus-menerus menasihati ayahnya agar mau menerima dakwah tauhid dan menaati Allah l. Beliau n berbicara, “Wahai ayahku… wahai ayahku… wahai ayahku….”
Perhatikanlah firman ALLAH,

Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Rabb Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 42—45)

Akan tetapi, usaha sungguh-sungguh Nabi Ibrahim tidak membuahkan apa yang diharap. Ayahnya justru membalas nasihat Nabi Ibrahim q dengan ucapan yang dikisahkan oleh al-Qur’an,

Ayahnya berkata, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.” (Maryam: 46)

Pelajaran pun bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh q dengan anaknya. ALLAH berfirman,
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Hud: 42—43)
Setelah anaknya tenggelam, Nabi Nuh q memohon kepada ALLAH, sebagaimana dalam firman-Nya,
Dan Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu lah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (Hud: 45)

Namun, kemudian ALLAH menjelaskan kepada Nabi Nuh perihal kedudukan anaknya. Firman-Nya,
Allah berfirman, “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sungguh (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Oleh sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Hud: 46)
Lantas, Nabi Nuh q memohon ampun kepada ALLAH.

Nuh berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat) nya. Sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Hud: 47)
Para nabi ALLAH pun tidak bisa memberi hidayah at-taufiq kepada orang-orang terdekatnya. Meskipun demikian, kisah para nabi tersebut memberikan pelajaran, betapa mereka telah berupaya keras membimbing orang-orang terdekatnya. Mereka sangat kuat menghendaki orang terdekatnya berada di atas jalan Allah l, bukan jalan kesesatan. Akan tetapi, hidayah itu di tangan ALLAH.

Segenap upaya untuk membebaskan buah hati dari lingkungan yang tidak baik tentu memerlukan kesabaran. Sabar dalam hal menghadapi beragam aral merintang, baik kendala itu datang dari anak sendiri maupun dari lingkungan masyarakat. Hakikat itu semua adalah untuk menguji sejauh mana taraf kesabaran kita. Bisa jadi, seorang ayah atau ibu akan menghadapi cemooh dan cercaan dari orang-orang atas perbuatan anaknya. Namun, semua itu adalah ujian. Sabarkah ia menerima takdir yang telah ditetapkan oleh ALLAH ?
“Berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155)

Rasulullah Saw bersabda,

“Sungguh menakjubkan urusan seorang yang beriman. Sungguh, seluruh urusannya baik baginya. Tidaklah ada seorang pun (yang seperti itu) melainkan hanya seorang mukmin. Jika ia ditimpa sesuatu yang menyenangkan, ia bersyukur. Sikap syukurnya itu membawa kebaikan baginya. Jika ia ditimpa mudarat, ia bersabar. Sikap sabarnya itu membawa kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 64)

Dengan kesabaran, kita menepis keputusasaan. Dengan kesabaran, kita menebar banyak harapan. Dengan kesabaran, kita menuai kebaikan.

“Sabar itu kemilau cahaya.” (HR. Muslim “Kitabu az-Zakat”, “Bab Fadhlu at-Ta’affuf wash Shabr” dari Abu Malik al-Harits bin ‘Ashim al-Asy’ari)

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sabar. Amin.
Wallahu a’lam.


dikutip dari http://asysyariah.com

Minggu, 23 Juni 2013

kata ‘Ibu’ Begitu indah

Kata ‘ibu’ begitu indah bagi para perindu Ilahi. Kata bertuah bagi mereka yang memiliki hati. Ibu adalah sosok manusia kuat nan tangguh. Walau derita dan maut datang merapat, tak pernah ibu mau menggugat.


Selama sembilan bulan, ibu tampil sebagai penjaga paling perkasa. Saat sang bayi lahir, apakah bayi tadi mengalami de javu, mendengar detak jantung, semburat alam rahim terulang kembali. Oh ibu, sungguh di kakimu ada surga. Di hatimu ada cahaya dan dalam setiap desah nafasmu yang kudengar hanyalah cinta.

Ketika ALLAH menyebut dirinya Ar Rahim maka hanya ibu yang memperoleh nama itu. Seakan-akan, siapa saja manusia yang menghinakan wanita, sesungguhnya ia telah melukai ALLAH Ar Rahim. Siapa saja anak yang menggoreskan luka di hati ibunya, walau hanya berkata ”ah”, niscaya pintu-pintu neraka bergetar haus rindu melahapnya.

Suatu ketika, seorang pemuda bernama Thalhah As Sulami datang menghadap Rasulullah SAW. Dia berkata, ”Ya Rasulullah, sesungguhnya aku ingin sekali ikut berjihad di jalan ALLAH.” Rasul bertanya, ”Apakah ibumu masih hidup?” Jawabnya, ”Ya, beliau masih hidup.” Kemudian, Rasulullah bersabda, ”Bersimpuhlah kamu di kakinya. Di sana, tempat surga berada.”

Ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang siapakah orang yang paling berhak dimuliakan dan dilayani, Rasulullah menjawab tiga kali, ”Ibumu… Ibumu… Ibumu.”

Bersimpuhlah di kaki kedua orang tuamu. Tatap mata hatinya dan bisikkan dendang harapan merajut restu. Jangankan ucapannya, getaran hatinya saja adalah doa.

Ketika di hadapan orang tuamu jadilah ‘penghibur sejati’, karena kalbu keduanya bisa menjadikan anak-anaknya ahli surga atau neraka. Hidup menjulang atau menjadi pecundang. Dengarkanlah, betapa ALLAH telah berfirman, ”Dan, ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan, rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.” (17: 23-24).

Seandainya kita berjalan kaki sambil menggendong ibu, kemudian mendaki dari lembah paling dalam menuju puncak gunung menjulang, sungguh takkan pernah akan mampu mengembalikan darah dan air susu ibu yang telah tumpah. Maka, dengan rasa haru, ukirlah di hati sebuah kata paling indah, Ibu!

Berbahagialah bila orang tua memanggil atau menyuruh kita mengerjakan sesuatu. Karena sesungguhnya, mereka sedang membuka pintu-pintu keberkahan Ilahi yang akan dikucurkan dari arah yang tak terduga.


Oleh KH Toto Tasmara 
dikutip dari http://rifanytop.blogspot.tw

Minggu, 16 Juni 2013

Perjuangan seorang Ibu yang Melahirkan, Dibayar dengan Nyawa.

Meski tahu harus membayar dengan nyawanya, Donna Blanks asal South Wales tetap mempertahankan kandungannya. Si bayi lahir, sementara Donna meninggal.

Tak ada yang dapat menghentikan niatnya. Donna akan terus melanjutkan kehamilan meski harus kehilangan nyawa.

Kisah ini bisa dibilang bukti nyata kalau kasih ibu terhadap anak tiada terkira. Donna Blanks (32) asal South Wales rela mengorbankan nyawa agar punya anak. Tak hanya itu, Donna juga harus menderita sakit yang tak terkira selama mengandung dan sesudah melahirkan.

Pasangan Donna dan Gary Thomas telah menunggu lama sebelum akhirnya menyadari kalau mereka akan punya momongan. Setelah penantian 13 tahun, mimpi itu bisa terwujud.

Sayangnya, impian itu dirusak oleh kenyataan kalau Donna akan kehilangan nyawa jika mempertahankan kandungannya sebab dokter mendapati kalau Donna mengalami gagal ginjal.

Masalah ginjal itu membuat kehamilan menjadi berbahaya bagi nyawa Donna. Atas dasar pertimbangan itu, dokter telah meminta agar kandungan Donna digugurkan agar nyawanya selamat.

Usulan aborsi tersebut ditolak oleh Donna. Ia tak mau melepas kesempatan untuk menjadi seorang ibu yang sudah diimpikan selama 13 tahun. Donna pun bertekad untuk melanjutkan kehamilannya, meski tahu kalau kelahiran bayi ini harus dibayar dengan nyawanya sendiri.

Ibu dari Donna, Sallie (52), yang berasal dari Newport, South Wales, mengamini kalau impian Donna adalah menjadi seorang ibu. Menurut Sallie, menjadi seorang ibu adalah satu-satunya hal yang diinginkan oleh Donna seumur hidupnya.

Donna yang berprofesi sebagai perawat telah mengalami masalah medis sejak remaja. Akibatnya, Donna pun sempat berpikir kalau dia tak akan mampu memiliki momongan.

Ia telah menderita diabetes sejak usia 12 tahun. Kondisinya makin memburuk seiring bertambahnya usia. Kehamilan turut memperparah kondisi tubuh Donna.

“Karenanya, Donna percaya kalau ia mendapat keajaiban ketika hamil. Ia juga berjanji akan mengorbankan segalanya untuk melindungi kehamilannya, termasuk mengorbankan dirinya sendiri. Tak ada yang dapat menghentikan niatnya. Ia akan terus melanjutkan kehamilan meski harus kehilangan nyawa,” ucap Sallie.
Kehamilannya sendiri tak mudah. Demi janin yang dikandung, Donna harus berhenti mengonsumsi obat-obatan untuk masalah ginjal. Akibatnya, Donna mengalami sakit yang tak tertahankan.

Setelah 27 minggu, Donna mendapatkan impiannya, seorang bayi laki-laki telah lahir. Kebahagiaan Donna dibarengi dengan kondisi tubuhnya yang semakin memburuk.

Tak hanya itu, bayi yang diberi nama Cade ini lahir prematur dan dokter memprediksi hidup Cade tak akan lama. Dengan berat kurang dari 2,5 kilogram dan masalah pada katup jantung, Cade kecil berjuang untuk terus bertahan hidup.

Segala kemungkinan dijalani agar Cade terus bertahan hidup. Cade harus menjalani operasi jantung untuk menyambung hidup. Ia juga harus kembali naik meja operasi untuk membenahi masalah pada sistem pencernaannya. Malah operasi yang terakhir ini lebih sulit dan kompleks.

Namun, Cade membuktikan diri sebagai anak yang kuat. Kondisi Cade semakin membaik dan makin kuat. Sebaliknya, kondisi Donna malah makin lemah dari hari ke hari.

Imbasnya, Donna pun harus menjalani proses cuci darah sebanyak tiga kali seminggu di rumah sakit University of Wales. Ibu dan anak ini dirawat di rumah sakit yang sama, jadi Donna tetap bisa berada di samping Cade ketika di rumah sakit.

Setelah tiga setengah bulan, Cade sudah cukup kuat untuk meninggalkan perawatan dari rumah sakit. Donna pun memutuskan untuk mengubah jenis cuci darah yang dijalani agar bisa menemani Cade di rumah.

“Meski bahagia, kondisi kesehatan Donna terus menurun. Tapi putri saya seorang wanita yang tangguh. Ia tetap merawat Cade dengan bantuan dari kami,” ucap Sallie.

Sebenarnya ada alternatif medis yang bisa dilakukan oleh Donna. Dokter telah menawarkan operasi cangkok ginjal agar nyawa Donna selamat. Bahkan ayah dan kakak Donna, Russel dan Christopher, sudah bersedia untuk mendonorkan ginjal mereka. Keduanya adalah donor yang cocok bagi Donna.

Namun, kondisi Donna makin parah. Ia mengalami masalah dengan jantungnya. Artinya, ia tak bisa langsung menjalani cangkok ginjal begitu saja.

Akhirnya Donna harus kembali dirawat di rumah sakit setelah dokter menyuruhnya untuk menjalani terapi cuci darah yang berbeda jenis.

Pada kali terakhir Donna bicara pada keluarganya, ia mengatakan kalau dirinya merasa baik-baik saja dan berharap bisa berada di rumah keesokan harinya.

Tapi nasib berkata lain, tanggal 22 September dini hari, pihak rumah sakit mengabarkan Sallie kalau Donna sudah tiada.

Suster mendapati Donna terkena serangan jantung. Setelah 40 menit berjuang untuk menyelamatkan Donna, akhirnya tim dokter pun kalah oleh nasib. Donna secara resmi dinyatakan meninggal.

“Waktu yang kuhabiskan bersama Donna tak cukup lama. Meski tak lama, aku tahu dia wanita yang menakjubkan yang selalu melakukan apa saja untuk kebaikan orang lain. Dia benar-benar wanita yang sangat langka. Dia akan selalu kuingat,” ucap Gary, pasangan hidup Donna.

Sallie menambahkan kalau dia tidak siap untuk kehilangan putri kesayangannya. Meski demikian, Sallie bangga terhadap perjuangan Donna.

“Kami semua sedih akan kepergian Donna. Cade harus tumbuh tanpa sentuhan seorang ibu,” ucap Sallie.
Sallie turut merawat Cade dan merasa beruntung bisa melihatnya tumbuh besar. Sallie berjanji akan menceritakan semua perjuangan dan betapa mengagumkannya apa yang sudah dilakukan Ibunya Donna kepada Cade.

“Saya bisa melihat diri Donna ada dalam Cade. Saya berharap Cade mewarisi sifat dan rambut bergelombang milik Donna yang cantik. Cade pasti akan bangga terhadap ibunya,” imbuh Sallie. 


dikutip dari http://rinaldimunir.wordpress.com

Sabtu, 15 Juni 2013

Kisah Ibunda Syaikh Abdurrahman as Sudais

Seorang bocah mungil sedang asyik bermain-main tanah. Sementara sang ibu sedang menyiapkan jamuan makan yang diadakan sang ayah. Belum lagi datang para tamu menyantap makanan, tiba-tiba kedua tangan bocah yang mungil itu menggenggam debu. Ia masuk ke dalam rumah dan menaburkan debu itu diatas makanan yang tersaji.

Tatkala sang ibu masuk dan melihatnya, sontak beliau marah dan berkata, “idzhab ja’alakallahu imaaman lilharamain,” Pergi kamu…! Biar kamu jadi imam di Haramain…!”

Dan SubhanAllah, kini anak itu telah dewasa dan telah menjadi imam di masjidil Haram…!! Tahukah kalian, siapa anak kecil yang di doakan ibunya saat marah itu…??

Beliau adalah Syeikh Abdurrahman as-Sudais, Imam Masjidil Haram yang nada tartilnya menjadi favorit kebanyakan kaum muslimin di seluruh dunia.

=

Ini adalah teladan bagi para ibu , calon ibu, ataupun orang tua… hendaklah selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya. Bahkan meskipun ia dalam kondisi yang marah. Karena salah satu doa yang tak terhalang adalah doa orang tua untuk anak-anaknya. Sekaligus menjadi peringatan bagi kita agar menjaga lisan dan tidak mendoakan keburukan bagi anak-anaknya. Meski dalam kondisi marah sekalipun.

“Janganlah kalian mendoakan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitupun untuk anak-anakmu, pembantumu, juga hartamu. Jangan pula mendoakan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat dimana ALLAH mengabulkan doa kalian…”(HR. Abu Dawud)


dikutip dari http://kisahislam.net

Senin, 06 Mei 2013

10 Karakter Ibu dan Wanita Sholehah

Muslimah shalihah yang berakhlak mulia memiliki beberapa karakteristik yang indah, diantaranya adalah :

1. bertakwa Kepada ALLAH SWT dan bisa menjaga dirinya, anak-anaknya, serta harta suaminya. Dalam Al Qur’an ALLAH Berfirman yang maksudnya, “Sebab itu, Maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada ALLAH lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena ALLAH Telah Memelihara mereka.” (Q.S An Nisa’:34)

2. Ia memiliki sifat sabar. Ia bersikap tabah dalam menghadapi berbagai persoalan. Bahkan ia pandai menghibur suaminya yang sedang di rundung masalah. Bukannya malah merunyamkan suasana.

3. Senantiasa menjaga shalat 5 waktu. Sebagaimana maklum shalat 5 waktu adalah tiang agama. Muslimah yang menjaga shalatnya adalah sosok muslimah yang sendi-sendi keimanannya kokoh. Ia akan kuat menghadapi berbagai terpaan cobaan dan musibah. Muslimah seperti inilah yang bisa menjadi faktor kunci sukses suaminya.

4. Menjaga auratnya dengan baik. Ia tak mau keluar rumah kecuali seizin suaminya. Andaikata keluar, ia menutupi aurat yang menjadi kehormatannya serta suaminya. ALLAH SWT berfirman yang maksudnya,
“Hai nabi. Katakanlah kepada isteri-isteri mu, anak-anak perempuammu dan isteri-isteri orang beriman “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal. Karera mereka tidak di ganggu. Dan ALLAH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Q.S Al Ahzab, 59)


5. Taat kepada suaminya, menghormatinya, mencintainya, menyayanginya. Selalu menampakkan wajah yang menyenangkannya. Selalu memberikan dukungan kepada suami baik dalam urusan pekerjaan atau ibadah. Tidak menghardik atau mengeluarkan kata-kata kotor kepadanya.Tidak membicarakan aib-aibnya kepada wanita lain. Tak pernah ada niatan untuk menyakitinya. Ia senantiasa menlakukan perbuatan yang membuat ridha suaminya. Rasul SAW bersabda, “Tatkala seorang muslimah melaksanakan shalat 5 waktu, menunaikan puasa wajib dan mematuhi suaminya, maka ia akan memasuki surga Tuhannya.”

6. bisa mengasuh dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Sebab mereka lebih dekat kepada anak-anak daripada suami yang lebih banyak keluar untuk bekerja. Seorang Muslimah Shalihah akan mengajarkan anak-anaknya membaca Al Qur’an, menanamkan rasa cinta kepada Nabi SAW beserta keluarganya. Mendampingi mereka melewati masa kanak-kanak dengan lembut dan penuh cinta, menjauhkan merekan dari akhlak tercela. Dan tak kalah pentingnya, mengajarkan mereka rasa hormat kepada ayahnya.

7. Mampu menasehati suami yang sedang lalai dari ibadah dengan cara yang santun dan bijak. Ia bisa mengambil hati suaminya sebelum mengingatkannya. Cara demikian lebih bisa di terima suami ketimbang cara-cara langsung yang akan memperburuk situasi.

8. Memiliki prinsip hidup yang kuat. Ia tak mudah terpengaruh gaya hidup non islami yang sekarang ini gencar di budayakan oleh media massa. Sebagai muslimah ia harus tetap berpegang teguh pada ajaran Islam baik dari segi berpakaian, berprilaku dan lainnya. Ia pantang meniru lifestyle wanita non muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa meniru gaya hidup suatu kaum, berarti ia termasuk golongan tersebut.”

9. Ia mampu menjaga penglihatannya dan kehormatannya. Ia tak mau memandang laki-laki selain suaminya. Kehormatannya di jaga mati-matian demi suaminya. Ia bersolek hanya untuk suaminya. Ini merupakan gambaran Bidadari Syurga. ALLAH SWT berfirman.. Yang artinya, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Q.S An Nuur:31)

10. Bersikap wara’. Ia tak mau mengkonsumsi makanan-makanan yang haram ataupun yang syubhat. Demikian pula ia menjaga suami dan anak-anaknya dari hal tersebut. Ia faham betul bahwa dari makanan yang baik dan halal akan lahir pula kepribadian-kepribadian yang baik. “Kuatnya agama adalah sikap wara’.” demikian sabda Nabi SAW.

Rasulullah SAW dalam sabdanya,
“Dunia seluruhnya adalah perhiasan, dan perhiasan yang terindah adalah wanita yang shalihah.”


dikutip dari  http://blog.republika.co.id

Selasa, 30 April 2013

1001 Cinta Ibu, Mereka Semua Mulia..

mengambil pelajaran dari kisah-kisah hidup para Ibu sungguh membuat kita banyak beroleh manfaat dan semakin termotivasi untuk menyayangi wanita-wanita mulia ini, wanita-wanita yang dengan kekuatannya meski dengan banyak keterbatasan sebagai seorang wanita mereka itulah sering kita panggil Ibu.., mereka adalah tempat bersandarnya anak-anak mereka saat ada dalam kesulitan, meraka adalah tempat berlari anak-anaknya dari ancaman yang mengganggu, mereka mungkin berbeda latar belakang dan profesi tapi mereka semua sama.., mereka semua Ibu yang mulia.

disetiap zaman dan disegala penjuru negeri ini.., kita akan senantiasa menemukan mereka, mereka ada dalam setiap rumah, mereka adalah tiang-tiang penyangga utama dari begitu terlihat kokohnya sebuah rumah tangga, mereka itu adalah tulang punggung utama dari tiap-tiap rumah tangga, tanpa mereka para Ibu ini.., saya mengatakan dengan yakin bahwa rumah tangga itu akan segera luluh lantak, dan setiap rumah tangga yang tidak menghargai kemuliaannya maka rumah tangga itu berada diambang kehancurannya, sebab Ibulah setiap rumah tangga itu terlihat begitu kokoh.

berguru kebijaksanaan tak perlu pergi jauh-jauh.., sebab dalam setiap rumah itu anda akan menemukan guru-guru kebijaksanaan tentang hidup dari diri seorang Ibu.., bergurulah kebijaksanaan pada Ibu, bergurulah darinya sebuah perjalanan hidup, bergurulah darinya perjuangannya mengurus seorang anak dari buaian hingga ia menjadi anak yang dewasa, bergurulah dari Ibu tentang ketegaran hidup berjuang untuk membahagiakan keluarga, dan bergurulah darinya tentang kesabaran menjalani peran yang amat sangat berat sebagai seorang Ibu.

sungguh mulia predikat seorang Ibu itu.., mereka menyandang predikatnya sebagai seorang Ibu dengan kebanggaan yang sangat besar.., mereka membanggakan kelebihan anak-anak mereka dihadapan orang lain sebagai cerminan rasa syukur dan sayangnya yang besar pada anak-anak mereka.., dan mereka pun dengan lapang dadanya tetap akan menyayangi anak-anak mereka meski anak-anak mereka banyak memiliki kekurangan.., mereka akan berdiri dibelakang anak-anak mereka yang berkebutuhan khusus dan dengan bangga dan tegarnya mengatakan bahwa saya adalah Ibu yang sangat menyayanginya.

sungguh mulia pribadi para Ibu dihadapan Umat Manusia dari Zaman ke Zaman, dari Waktu ke Waktu, mereka dengan karakter berbeda dalam mengekspresikan Cinta pada anak-anaknya tapi mereka semua sama, mereka semua mulia, ada 1001 karakter Cinta Ibu didunia ini tapi mereka semua sama, sama-sama senantiasa Mulia selamanya.