Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Jumat, 11 Januari 2013

Kantong Air Mata Ibu

Suatu ketika, seorang anak perempuan yang sedang begitu bersemangat belajar mengaji, bertanya pada Ibundanya yang selalu setia menemaninya belajar.

Anak : Ummi, kenapa mata Ummi lebam? Berkantung dan menghitam. Apakah Ummi sedang sakit?
Ibu  : Oh, ini. Bukan, Sayang. Ummi hanya sering kelilipan.

Anak : Kelilipan kok sampai seperti itu, Ummi?
Ibu : Sudah, lanjutkan saja bacaan Al-Quranmu. Ummi baik-baik saja...

Anak perempuan itupun mengikuti kata-kata sang ibu. Ia melanjutkan bacaan Al-Qurannya dengan penuh semangat. Namun tiba-tiba...

Anak : Lho kok Ummi menangis lagi? Kenapa Ummi menangis tiap kali mendengarku mengaji? Apakah karena bacaanku jelek ya, Ummi?
Ibu : Bukan, Sayang. Bacaanmu sangat bagus. Ummi menangis karena bangga punya putri sepertimu...

Anak : Tapi Ummi sering sekali menangis. Berapa sebenarnya stok kantong air mata Ummi? Bolehkah aku berwudhu dengan air mata Ummi? Bolehkah aku pinjam kantong air mata Ummi agar tangisan Ummi bisa dibagi denganku. Biar Ummi tidak menangis sendiri lagi...
Gadis kecil itu semakin membuat deras airmata sang ibu. Ummi memeluknya erat. Tanpa berucap sepatah katapun.
Ibu : Tidak perlu, Nak. Ummi tidak perlu berbagi airmata denganmu, karena Ummi hanya ingin melihatmu tersenyum bahagia, bukan berurai airmata...

Anak : Ummi, bolehkah aku mengucapkan sesuatu, seperti yang pernah diajarkan Ustadzah di surau?
Ibu : Apa, Nak?
Anak : Aku mencintaimu karena ALLAH, Ummi...


dikutip dari http://laninalathifa.blogspot.com/

Rabu, 09 Januari 2013

Kisah Ibu Dan Anak

Aisyah memiliki seorang anak gadis yang sangat pintar bernama Sabila. Kini Sabila lulus dari sebuah universitas terkemuka. Aisyah sungguh bangga kepadanya dan selalu berharap Sabila segera pulang ke rumah. Aisyah sangat merindukan Sabila.

Hari kedatangan Sabila tiba. Aisyah menunggunya di depan pintu rumah dengan senyum tulus. Setelah melepas rindu dengan memeluk Sabila, mereka duduk santai di depan rumah.

Aisyah yang beranjak tua, kagum dengan kecerdasan Sabila. Sabila bercerita tentang masa kuliahnya yang menarik. Sebenarnya, Aisyah tidak begitu memahami apa yang diceritakan Sabila.

"Jadi, apa gelar yang sekarang kaumiliki?" tanya Aisyah.

"Sarjana."

Aisyah mengangguk-angguk kemudian mengulangi pertanyaan yang sama.

Sabila menganggap ibunya tidak mendengar jawabannya. Lalu, dia mengatakannya kembali dengan suara lebih keras, "Gelarku sarjana, Ibu!"

Aisyah kembali mengangguk-angguk. Sabila kembali bercerita dengan riang. Tak lama kemudian, sang ibu bertanya lagi.

"Jadi, apa gelar yang sekarang kaumiliki, Anakku?"
Sabila menatap ibunya. "Sarjana, Bu!!"

"Ooh...," kata Aisyah membulatkan mulutnya.
Mereka lalu mengobrol kembali.

"Nah, Anakku, Ibu ingin tahu gelar apa yang kaumiliki sekarang?" tanya Aisyah.
Sabila mendelik ke arah ibunya dan hilang kesabaran, lalu menjawab pertanyaan Aisyah sambil membentak, 
’Ya ampun, Ibu, sarjana!!!"

Sabila marah dan merasa ibunya tidak mengerti apa yang dikatakannya.

"Apa, Nak?"

"Ibu!! Barangkali Ibu memang tidak mengerti apa yang aku katakan, ya? Aku sudah menjawabnya berulang kali dan Ibu tetap bertanya. Apakah Ibu ingin aku kembali mengatakannya? Sarjana! S-a-r-j-a-n-a," kata Sabila dengan marah. Dia merasa obrolannya terus terpotong oleh pertanyaan ibunya.

Aisyah menunduk, lalu beranjak dari duduk dan meninggalkan Sabila. Tak berapa lama, Aisyah kembali dan menggenggam sesuatu di tangannya. Dia lalu menyerahkan benda itu pada Sabila yang masih marah.

"Bacalah, Anakku. Di dalamnya, Ibu menulis tentangmu semasa kecil," kata Aisyah lembut.
Sabila membacanya.

"Setiap hari, Sabila kecilku selalu bertanya tentang apa saja yang dia lihat. Aku bangga padanya.
Suatu kali, dia bertanya tentang suatu benda di depan rumah hingga berkali-kali. Dia terus bertanya hal yang sama, tetapi aku tetap menjawabnya dengan sabar. Bahkan ketika kuhitung dia bertanya lebih dari 30 kali tentang benda itu. Aku menjawab mengenai hal itu dengan penuh kasih sayang dan semoga jawabanku yang akan membawanya menjadi manusia yang penuh dengan ilmu.

Aku berharap, dia akan menjadi anak yang pintar dan kelak jika aku tua, aku bisa bertanya padanya tentang hal yang tidak aku ketahui. Ya, karena ketika dia besar, zaman kami sudah berbeda dan saat itu akulah yang akan belajar pada anakku."

Setelah membaca buku itu, Sabila menatap Aisyah yang menunjukkan wajah sedih.

"Sungguh Anakku, aku tidak menyadari bahwa pertanyaanku akan membuatmu marah, walau Ibu hanya menanyakan hal itu sebanyak 5 kali," kata Aisyah sambil menitikkan air mata.

"Seorang sahabat bertanya, ’Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku,’ Nabi saw. menjawab, "Ibumu... ibumu... ibumu, kemudian ayahmu, dan kemudian yang lebih dekat kepadamu, dan yang lebih dekat kepadamu.’" - Muttafaq.’Alaih


dikutip dari http://m.kolom.abatasa.com 

Senin, 07 Januari 2013

Setelah 23 tahun hilang sang anak pulang ke pelukan Ibunya

Seorang pria Bangladesh dinyatakan hilang 23 tahun silam. Kini, ia berhasil pulang, setelah dikurung 15 tahun di penjara Pakistan.

Moslemuddin Sarkar menghilang sejak tahun 1989. Kemudian pada suatu hari, ia berhasil pulang setelah dikurung 15 tahun di penjara Pakistan. Kepulangan Moslemuddin difasilitasi oleh Komite Internasional Palang Merah.

Ratusan simpatisan berkumpul di desa Bishnurampur, utara distrik Mymensingh, Bangladesh, untuk melihat pertemuan memilukan itu.

"Saya memasuki India secara ilegal pada tahun 1989, tanpa memberitahu keluarga," kata Moslemuddin.

Malangnya, Moslemuddin tertangkap saat berusaha menyeberang ke Pakistan pada tahun 1997. "Saya pergi ke Pakistan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Tapi, mereka menangkap saya di perbatasan. Memukuli dan menyiksa saya di penjara," tukasnya dalam bahasa campuran Urdu dan Bengali.

Moslemuddin menulis puluhan surat kepada keluarganya. Namun, tak ada jawaban sama sekali. Suatu ketika, ia pernah kehilangan semua harapan untuk pulang ke rumah.

Tim Palang Merah memfasilitasi kepulangan Moslemuddin, setelah keluarganya menerima pesan dia dikurung di penjara Pakistan.

Julhas Uddin, adik Moslemuddin, telah mencari saudaranya selama bertahun-tahun. Tetapi, usahanya selalu menemui jalan buntu. Ia dan keluarga lainnya akhirnya menyerah. Namun, ibunya tetap percaya bahwa suatu hari Moslemuddin akan pulang.

Pertemuan ibu dan anak itu sungguh mengharukan. Ia terus memeluk ibunya sambil berderai air mata. Tak disangka, wanita itu malah pingsan di pelukan anaknya. Kesedihan mungkin sudah terlalu lama bergelayut di hatinya. Menanti anak yang tak kunjung pulang.

Moslemuddin bahkan tak berhenti menangis selama berjam-jam. Segala cerita duka sirna begitu saja. Ia senang bisa kembali ke pelukan keluarga tercinta, Kembali kepelukan sang Ibunda tercinta.

dari kisah nyata ini kita bisa memetik hikmah dan pelajaran yang banyak, bahwa betapapun orang-orang di sekitar meragukan keyakinan dan firasat seorang Ibu terhadap anak kandungnya jauh melebihi setiap dugaan dan perkiraan orang-orang, yang tentu amat sangat bebeda dengan keyakinan dan firasat seorang Ibu terhadap anak yang telah dikandungnya, yakinlah firasat seorang Ibu selalu dalam tuntunan ALLAH sang maha pemilik segala kejadian dan seorang Ibu akan senantiasa menerima dengan tangan terbuka dengan seperti apapun keadaan sang anak. sebab cinta dan kerinduan seorang Ibu terhadap anaknya itu begitu tulus dan ikhlas.


dikutip dari merdeka.com dengan sedikit penyesuaian

Jumat, 04 Januari 2013

Senyum Di Balik Masalah, menjadi Ibu yang bersyukur.

Alkisah, pada zaman dulu hiduplah seorang wanita yang telah menikah dan menjadi ibu rumah tangga yang mengurusi rumah tangga dan ke tiga orang anaknya yang masih kecil.

Suaminya bekerja di tempat yang jauh,sehingga hanya pulang beberapa hari sekali.Istrinyalah yang mengurus semua yang berhubungan dengan keluarganya.

Akan tetapi,wanita ini sangat mengeluhkan tingkah laku ke tiga anaknya yang begitu buruk yang membuatnya sakit hati bukan kepalang.

Anak-anaknya selalu membuat keributan yang membisingkan,sering bertengkar satu sama lain,membuat lantai rumah menjadi kotor dan tidak takut dengan omelan ibunya.

Melihat kelakuan anak-anaknya,sang ibu hanya bisa pasrah dan melapangkan dada tanpa dapat melakukan apa-apa.

Setiap hari selalu begitu terus,ditambah lagi harus mengerjakan tumpukan pekerjaan rumah yang semakin lama semakin membuat sang ibu hampir pecah kepalanya.

Tidak tahan lagi dengan ini semua,akhirnya sang ibu menemui seorang yang bijak yang terkenal dapat memecahkan masalah apapun tanpa masalah.Akhirnya sang ibu tadi berhasil menemui orang bijak tersebut yang bertanya dengan penuh senyum,“Ada yang bisa dibantu?,Ada masalah?”, sambil memandang wanita itu yang kelihatan murung.

Sang ibu akhirnya menceritakan kepedihannya dan segala unek-unek yang terkubur dalam hatinya kepada orang bijak tersebut,dan bertanya apakah ia punya solusi atas masalah yang menimpanya.

Dengan senyum dan tawa kecil,orang bijak itupun menjelaskan,“Nyonya, melihat apa yang telah Anda ceritakan kepada Saya,seharusnya Anda sedikit bersyukur.” Sang ibu sedikit bingung dan berkata,“Bersyukur? Apanya yang harus disyukuri?,setiap hari saya makan hati melihat anak-anak saya” sambil memandang orang bijak tersebut,bingung lagi.

Orang bijak menjelaskan lagi, “Begini,coba nyonya lihat masalah ini dari sisi lain yang lebih positif.Rumah Anda begitu bising karena ulah ketiga anak Anda. Itu berarti rumah Anda begitu hidup karena kehadiran,tawa dan tangis mereka.Karena anak-anaklah,keluarga Anda begitu sempurna.Sekarang coba Anda bayangkan jika Anda tidak memiliki anak,rumah Anda pasti akan sepi dan terasa mati.Anda pasti akan merasa sendirian,bosan dan kesepian.Bukankah itu harapan setiap orang tua atas kehadiran anak di dunia ini.Coba Anda lihat orang-orang yang tidak memiliki anak,bagaimana kesedihan mereka,bagaimana mereka selalu berdoa penuh harap supaya memiliki anak,bagaimana mereka rindu akan tangisan dan tawa seorang anak.Bahkan seorang suami menceraikan istrinya dan menikah dengan wanita lain karena tidak memiliki anak.Anda patut beryukur kepada Tuhan atas semua yang telah diberikannya kepada Anda.Anda seharusnya gembira karena kehadiran anak-anak Anda memberi warna pada hidup anda.Anda pasti bisa mendidik mereka dengan baik.”

Sang ibu tiba-tiba tersenyum lebar mendengar penjelasan yang sungguh bijaksana dari orang bijak tersebut.

Sejak itu ia lebih bahagia dari sebelumnya dan bersyukur atas semua yang ia miliki.


dikutip dari http://amr.nul.is

Arti Senyum Ibu Untuk Anak

Arti senyuman ibu untuk anak merupakan sebuah keikhlasan atau kemurnian yang terpancar dari dalam seorang ibu. Senyuman sesungguhnya adalah hal yang tidak dapat diartikan dengan berbagai macam kata atau hal di dunia ini. Mengapa tidak, karena sebuah senyuman bisa memberikan ribuan arti yang dapat membuat orang disekitar kita ikut tersenyum.

Pernahkah kita sadari saat kita masih kecil, dimana kita masih sangat suka bermain, berlari, melompat kesana dan kesini bahkan sampai melakukan kesalahan seperti memecahkan gelas, vas bunga, ataupun terjatuh. mungkin hal pertama yang akan terlintas di benak kita adalah apa yang harus kita jelaskan kepada ibu dan ayah kita nanti, karena kemungkinan terbesar adalah kita sebentar lagi akan berhadapan dengan mimik muka yang menakutkan karena akan dimarahi.

Namun begitu ibu kita sambil Tersenyum bertanya “Kenapa kau pecahkan Vas itu?” maka perasaan yang tadinya ketakutan dan tertekan akan langsung berganti menjadi tenang dan damai. “Sejujurnya, aku tidak sengaja” maka ibu kita memeluk dan berbisik “Lain kali kamu harus hati-hati ya” dan kita pun tersenyum dan berkata dalam hati “Syukurlah, aku tidak dimarahi”

Sebuah senyuman ibu bisa mengubah semuanya, kebaikan ibu kepada kita tidak ada habisnya. Untuk itu tersenyumlah setiap saat untuk ibu tercinta agar senantiasa hidupmu lebih berwarna dengan seutas senyuman yang indah.


dikutip dari http://tipsanak.com

Rabu, 02 Januari 2013

Buah kasih sayang seorang Ibu

Suatu hari rumah rasulullah SAW kedatangan seorang ibu tengah baya bersama kedua putrinya. Ibu dan kedua anak tersebut dalam keadaan lapar. Mereka meminta sesuatu untuk mengisi perutnya kepada Aisyah yang sedang berada di rumah. Karena di rumah tidak ada sesuatu lagi yang bisa diberikan, kecuali hanya ada tiga butir kurma, maka Aisya pun memberikan kurma tersebut kepada mereka dengan harapan bahwa tiga butir kurma itu dapat dimakan oleh mereka bertiga. Sebutir seorang.

Dengan mengucapkan terima kasih, sang ibu menerima tiga butir kurma pemberian Siti Aisyah. Selanjutnya di hadapan Siti Aisyah itu juga, sang Ibu membagi kurma tersebut kepada kedua anaknya. Dengan penuh kasih sayang sebutir diberikan kepada anaknya yang di sebelah kanan, yang sebutir lagi diberikan kepada anaknya yang berada di sebelah kirinya. Dengan hati penuh bahagia sang ibu memperhatikan kedua anaknya yang masing-masing makan sebutir kurma. Tinggal-lah di tangan sang ibu tersisa sebutir kurma.

Ketika Ibu ini mau makan sebutir kurma yang ada di tangannya, tiba-tiba secara hampir bersamaan kedua anaknya meminta lagi sebutir kurma kepada ibu mereka, karena perutnya masih begitu lapar. Melihat kedua tangan anaknya yang dijulurkan kepadanya tanda mereka masih lapar, sebutir kurma yang sudah mau dimakan oleh sang ibu ini, tidak jadi dimakannya. Dengan hati penuh iba, dipenggalnya sebutir kurma itu menjadi dua bagian dengan tangannya yang agak gemetar karena menahan lapar. Kemudian diberikan kepada kedua anaknya. Sepenggal untuk anaknya yang ada di sebelah kanan, sepenggal lagi diberikan kepada anaknya yang ada di sebelah kirinya. Maka habislah tiga butir kurma itu. Tanpa sang ibu memakannya sama sekali. Dengan penuh kasih sayang ibu tersebut  memandangi kedua putrinya yang masing-masing makan sepenggal kurma miliknya.

Siti Aisyah tanpa terasa berkaca-kaca, begitu kagum melihat sebuah ’adegan’ yang terjadi di hadapannya itu. Seorang ibu dengan penuh kasih sayang rela menahan perut yang lapar demi cintanya terhadap kedua anaknya.

Kemudian Aisyah menceritakan kejadian tersebut kepada rasulullah. Apa jawab rasulullah? Beliau bersabda: ”Wanita tersebut (dijamin) masuk surga…”

Mengapa sang Ibu itu dijamin masuk surga oleh rasulullah?

Karena ketika memberikan sebutir kurma yang menjadi miliknya itu, si Ibu tidak terpikir untuk mendapat balasan dari perbuatannya. Ia tidak memikirkan bahwa perbuatannya itu akan menjadikan ia masuk surga. Yang penting baginya adalah bagaimana ia harus menolong anaknya dengan penuh kasih sayang. Justru inilah kuncinya. Kasih sayang murni seorang ibu terhadap buah hatinya yang tidak mengharap balas jasa. Surga buahnya.!


dikutip dari http://arsfannas.wordpress.com

Kasih Sayang Ibu Pengaruhi Ukuran Otak Anak


Kasih sayang seorang ibu bisa berdampak besar pada perkembangan otak anak. Hal itu terungkap dari scan otak dua anak berusia tiga tahun.

Gambar-gambar itu mengungkapkan bahwa otak di gambar kiri, yang dimiliki anak normal usia 3 tahun secara signifikan lebih besar dan mengandung sedikit bintik-bintik dan daerah yang gelap dibandingkan gambar otak di kanan, yang dimiliki anak yang diabaikan secara ekstrim.

Neurologi mengatakan, gambar terbaru itu memberikan banyak bukti bahwa anak-anak yang mendapat kasih sayang pada awal kehidupan mereka sangat penting, tidak hanya untuk perkembangan emosional anak tapi juga dalam menentukan ukuran otak mereka.

Para ahli mengatakan, perbedaan yang cukup besar dalam dua otak anak itu disebabkan perbedaan dalam setiap cara perawatan ibu kepada anaknya.

Menurut informasi yang dikutip dari The Sunday Telegraph, sekilas gambar itu menunjukkan anak dengan otak yang di sebelah kanan telah mengalami kecelakaan serius atau penyakit, namun neurologi mengatakan bahwa anak yang otaknya menyusut karena diabaikan dan mendapat perlakuan kejam dari ibunya.

Sementara anak yang otaknya lebih besar dan lebih penuh, otaknya berkembang karena dibesarkan dengan cinta, dukungan dari rumah, dan diperhatikan ibunya.

Para peneliti mengatakan, anak yang di sebelah kiri dengan otak yang lebih besar akan lebih cerdas dan cenderung lebih bisa mengembangkan kemampuan sosialnya untuk berempati dengan orang lain, dibandingkan dengan anak di sebelah kanan.

Di sisi lain, anak dengan otak yang lebih kecil di foto sebelah kanan akan lebih cenderung menjadi kecanduan obat-obatan, terlibat dalam kejahatan, kekerasan, menjadi pengangguran, dan bergantung pada tunjangan pemerintah di masa depannya.

Selain itu, anak dengan otak menyusut cenderung lebih mungkin mengembangkan masalah kesehatan mental yang serius.

Profesor Allan Schore dari University of California, Los Angeles (UCLA) mengatakan bahwa dalam dua tahun pertama, bayi bergantung pada ikatan yang kuat dengan ibu mereka untuk perkembangan otak yang sehat.

"Perkembangan sirkuit otak tergantung pada ibu," katanya sambil menambahkan bahwa 80 persen dari sel-sel otak tumbuh dalam dua tahun pertama kehidupan.

Menurut mereka, proses pengabaian anak adalah lingkaran setan karena orangtua yang menelantarkan anak mereka juga diabaikan oleh orangtua mereka dan otaknya tidak berkembang sepenuhnya.

Mereka juga mengatakan, ibu yang semakin parah mengabaikan anaknya semakin jelas kerusakan otak yang terjadi. Namun penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa siklus ini bisa merusak jika keluarga sejak dini mengintervensi dengan memberikan dukungan.

Penelitian terbaru ini mendukung penelitian yang dirilis sebelumnya yang menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan oleh ibu yang memberikan cinta dan kasih sayang pada awal kehidupan mereka bakal lebih cerdas dan memiliki kapasitas yang lebih besar untuk belajar.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, peneliti di Washington University School of Medicine di St Louis, anak-anak yang ibunya memelihara anak mereka di awal kehidupan memiliki hippocampus lebih besar, struktur kunci otak yang penting untuk belajar, memori, dan respon terhadap stres.


dikutip dari http://health.liputan6.com dengan sedikit penyesuaian

Selasa, 01 Januari 2013

Anugerah ALLAH yang terindah, Oh..Ibunda

Ringkih dan renta karena ditelan usia, namun tampak tegar dan bahagia. Ikhlas, memancarkan selaksa cinta penuh makna yang membias dari guratan keriput di wajah. Tiada yang berubah sejak saat dalam buaian, hingga sekarang mahkota putih tampak anggun menghiasinya. Dekapannya pun tak berubah, luruh memberikan kenyamanan dan kehangatan...

Jemari itu memang tak lagi lentik, namun selalu fasih menyulam kata pinta, membaluri sekujur tubuh dengan do'a-do'a. Kaki tampak payah, tak mampu menopang tubuhnya. Telapak tempat surga itu pun penuh bekas, simbol perjuangan menapak sulitnya kehidupan.

Ibunda...

Adakah saat ini kita terenyuh mengenangkannya..? Ia adalah sebuah anugerah terindah yang dimiliki setiap manusia. Sejak dalam rahim, betapa cinta itu tak putus-putusnya mengalirkan kasih yang tak bertepi.Hingga kerelaan, keikhlasan dan kesabaran selama 9 bulan pun bagai menuai pahala seorang prajurit yang sedang berpuasa, namun tetap berperang di jalan ALLAH Subhanahu wa Ta'ala.

Polesannya adalah warna dasar pada diri kita. Menggores sebuah kanvas putih nan suci .. goresan yang diselimuti untaian ayat suci Al Qur'an, zikir, tasbih serta tahmid, yang akan melahirkan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) pada jiwa ... Ibunda pun berharap tercipta jundullah (tentara ALLAH) dari sebuah madrasah keluarga.

Polesan warna seorang ibunda, Al Khansa, melahirkan putra-putra kebanggaan Islam yang berani dan luhur akhlaqnya, hingga satu persatu syahid pada perang Qodisyiah. Di sela kesedihannya, ibunda masih berucap, "Alhamdulillah... ALLAH telah mengutamakan dan memberikan karunia padaku dengan kematian anak-anakku sebagai pencinta ALLAH... Aku berharap semoga ALLAH mengumpulkan aku dengan mereka dalam rahmat-Nya kelak."

Banyak... sungguh teramat banyak cinta ibunda yang melahirkan kisah-kisah teladan. Yatim seorang anak pun tidaklah menghalangi ibunda untuk merangkai sejarah dengan tinta emas, terbukti dengan mekar harumnya para mujtahid Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i, Imam Ahmad bin Hambal serta Imam Bukhari. Didikan ibunda mereka telah mampu mendidiknya hingga menjadi anak-anak yang gemar menuntut ilmu tanpa kenal lelah, bahkan mandiri dalam segala suasana ..

Kita mungkin dilahirkan dari rahim seorang perempuan biasa. Bahkan kita pun tidak dilahirkan untuk menjadi seorang pahlawan. Namun, ibunda kita dan mereka adalah sama, sebuah anugerah terindah dari ALLAH Subhanahu wa Ta'ala.

Duhai jiwa, sekiranya engkau sadar bahwa tanpa do'a ibunda, niscaya semua masih angan-angan belaka.

Duhai ibunda...
Maafkan jika kami belum mampu mecurahkan kasih sayang terbaik , sepenuh kasih kasih sayang ibunda ...

Sungguh, jiwa dan jasad ini ingin terbang ke angkasa lalu luruh di pangkuan, mendekap tubuh sepuh, serta menangis di pangkuanmu. Hingga terhapuskan kerinduan dalam riak anak-anak sungai di ujung mata. Rengkuhlah ananda dengan belai kasih sayangmu bagai masa kecil dulu. Mengenangkan indahnya setiap detik dalam rahimmu dan hangatnya dekapanmu. Buailah dengan do'a-do'a hingga ananda pun lelap tertidur di sampingmu.

Duhai ibunda...
Keindahan dunia tak akan tergantikan dengan keindahan dirimu. Sorak-sorai pesona dunia pun tak dapat menggantikan gemuruh haru detak jantung saat engkau memelukku. Indah... semua begitu indah dalam alunan cintamu, menelisik lembut, membasahi lorong hati dan jiwa yang rindu kasih sayangmu.

Duhai ibunda...
Bukakanlah pintu ridhomu, hingga ALLAH pun meridhoi kami , putera-puterimu ..

Duhai Rabb, Kekasih hati ..
Sayangilah ayahanda dan ibunda kami di dunia & di akhirat ..
Kami titipkan mereka tercinta selalu ..
dalam keimanan terbaik.., kasih sayang dan pemeliharaan Mu ..



dikutip dari http://laillanm.blogspot.com