Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Selasa, 30 April 2013

1001 Cinta Ibu, Mereka Semua Mulia..

mengambil pelajaran dari kisah-kisah hidup para Ibu sungguh membuat kita banyak beroleh manfaat dan semakin termotivasi untuk menyayangi wanita-wanita mulia ini, wanita-wanita yang dengan kekuatannya meski dengan banyak keterbatasan sebagai seorang wanita mereka itulah sering kita panggil Ibu.., mereka adalah tempat bersandarnya anak-anak mereka saat ada dalam kesulitan, meraka adalah tempat berlari anak-anaknya dari ancaman yang mengganggu, mereka mungkin berbeda latar belakang dan profesi tapi mereka semua sama.., mereka semua Ibu yang mulia.

disetiap zaman dan disegala penjuru negeri ini.., kita akan senantiasa menemukan mereka, mereka ada dalam setiap rumah, mereka adalah tiang-tiang penyangga utama dari begitu terlihat kokohnya sebuah rumah tangga, mereka itu adalah tulang punggung utama dari tiap-tiap rumah tangga, tanpa mereka para Ibu ini.., saya mengatakan dengan yakin bahwa rumah tangga itu akan segera luluh lantak, dan setiap rumah tangga yang tidak menghargai kemuliaannya maka rumah tangga itu berada diambang kehancurannya, sebab Ibulah setiap rumah tangga itu terlihat begitu kokoh.

berguru kebijaksanaan tak perlu pergi jauh-jauh.., sebab dalam setiap rumah itu anda akan menemukan guru-guru kebijaksanaan tentang hidup dari diri seorang Ibu.., bergurulah kebijaksanaan pada Ibu, bergurulah darinya sebuah perjalanan hidup, bergurulah darinya perjuangannya mengurus seorang anak dari buaian hingga ia menjadi anak yang dewasa, bergurulah dari Ibu tentang ketegaran hidup berjuang untuk membahagiakan keluarga, dan bergurulah darinya tentang kesabaran menjalani peran yang amat sangat berat sebagai seorang Ibu.

sungguh mulia predikat seorang Ibu itu.., mereka menyandang predikatnya sebagai seorang Ibu dengan kebanggaan yang sangat besar.., mereka membanggakan kelebihan anak-anak mereka dihadapan orang lain sebagai cerminan rasa syukur dan sayangnya yang besar pada anak-anak mereka.., dan mereka pun dengan lapang dadanya tetap akan menyayangi anak-anak mereka meski anak-anak mereka banyak memiliki kekurangan.., mereka akan berdiri dibelakang anak-anak mereka yang berkebutuhan khusus dan dengan bangga dan tegarnya mengatakan bahwa saya adalah Ibu yang sangat menyayanginya.

sungguh mulia pribadi para Ibu dihadapan Umat Manusia dari Zaman ke Zaman, dari Waktu ke Waktu, mereka dengan karakter berbeda dalam mengekspresikan Cinta pada anak-anaknya tapi mereka semua sama, mereka semua mulia, ada 1001 karakter Cinta Ibu didunia ini tapi mereka semua sama, sama-sama senantiasa Mulia selamanya.

Senin, 22 April 2013

Teladan Ibunda Khadijah, Istri Shalihah : Anugrah Terindah.

Dengan tergesa-gesa dan dada yang berdebaran, laki-laki itu tiba di rumahnya. Kepada sang istri, laki-laki itu memohon, ”Selimutilah aku! Selimutilah aku!”. Hangatnya selimut di tambah dengan perhatian dan ketenangan sang istri membuat rasa cemas yang ada sebelumnya mulai berangsur-angsur hilang. Suasana pun akhirnya menjadi tenang.

“Apa yang sedang terjadi pada diriku?”, demikian sang suami menumpahkan isi hati kepada istrinya. Tanpa diminta lebih lanjut, laki-laki tersebut kemudian menceritakan semua pengalaman yang belum lama terjadi. Ia ditemui makhluk ajaib dan didekap erat sambil memintanya untuk membaca. ”Aku tidak mampu membaca”, jawabnya. Terus berulang hingga tiga kali. Barulah makhluk ajaib itu melepaskan dirinya dan membacakan lima ayat pertama dari surat Al ‘Alaq.

Laki-laki itu adalah Nabi kita, Nabi Muhammad bin Abdullah. Makhluk ajaib itu tentunya adalah Malaikat Jibril. Sementara sang istri yang melayani, mendengarkan cerita dengan sepenuh hati dan memotivasi untuk meneguhkan hati adalah wanita terbaik di atas muka bumi, Khadijah bintu Khuwailid.

Sungguh besar dan penting peranan seorang istri bagi seorang laki-laki. Mungkinkah laki-laki dapat hidup secara baik dan mapan tanpa kehadiran seorang istri? ALLAH menetapkan sunnah Nya ; manusia diciptakan dengan berpasang-pasangan. Target terpuncak dari maghligai pernikahan adalah mewujudkan ikatan yang dibalut oleh sakinah, mawaddah dan rahmah. Demi ketenangan hidup.

“Ada juga ulama yang tidak menikah?”. Benar, memang ada. Namun,berapakah prosentase mereka yang tidak menikah? Sangat kecil. Justru mayoritas ulama mewujudkan pernikahan. Kisah-Kisah indah dan mengharukan tentang perjalanan pernikahan ulama juga tercatat di dalam sejarah. Kemudian, apakah sebab yang membuat ulama-ulama itu tidak menikah? Benci dan tidak suka? Tentu bukan! Kecintaan kepada ilmu lah yang membuat mereka dilupakan dari pernikahan. Bisakah Anda menyibukkan diri dengan belajar agama sehingga tidak berpikir tentang wanita? Jawabannya ada di tangan Anda.

Hari itu,saat nabi Muhammad Saw merasakan kecemasan luar biasa, setelah menceritakan semua yang telah dilewati,beliau berujar,

”Sungguh,aku sangat khawatir tentang keselamatan diriku sendiri”.

Inilah istri shalihah! Anugrah terindah. Dialah istri terbaik! Karunia nan elok. Wahai kaum wanita,teladanilah Khadijah!  Tenang,sabar, penuh perhatian dan selalu mendukung serta membesarkan hati sang suami.
Penuh semangat dan cinta, kata-kata Khadijah begitu menghibur,

”Tidak mungkin! Demi ALLAH, ALLAH tidak akan mungkin menghinakan dirimu selama-lamanya!

Sungguh, engkau adalah seorang hamba yang selalu menjaga tali silaturahim, menanggung beban orang lain, membantu orang yang tak punya, memuliakan tamu dan menolong orang-orang untuk memperoleh haknya”.

Subhanallah! Pantas saja Rasulullah menambatkan tali cinta pada tiang kasih milik Khadijah, ibunda kita. Motivasi dan dukungan selalu dicurahkan untuk sang suami. Bukan hanya moril bahkan materil. Setelah dukungan dengan moril berupa kata-kata yang menghibur? Dukungan materil. Khadijah mengajak Nabi Muhammad Saw, sang suami, untuk menemui Waraqah bin Naufal. Seseorang yang telah buta namun sangat mengerti tentang ajaran Nasrani yang masih utuh. Waraqah masih terhitung paman Khadijah. Setelah menyimak kisahnya,Waraqah memberitakan tentang kenabian Muhammad.

Sejak gema dakwah islam pertama kali didentangkan, Khadijah telah menyatakan iman. Dialah wanita pertama yang masuk islam. Semua harta kekayaannya dan Khadijah memang termasuk saudagar kaya raya- diserahkan penuh untuk dakwah islam. Tanpa berat hati, tulus dan ikhlas. Khadijah menjadi kawan berbincang dan teman berdiskusi yang menyenangkan untuk Nabi Muhammad Saw.

sungguh menyenangkan! Istri dambaan dan pujaan hati. Menyenangkan saat dipandang,menyejukkan hati kala terbayang,menentramkan jiwa ketika berbicara. Gemar beribadah, dermawan juga penuh keibuan.
Khadijah bintu Khuwailid, ibunda kita. Semoga ALLAH meridhai Anda, wahai Ibunda. Semoga istri-istri kami dapat meniru Anda, wahai Ibunda. Amin..

Tahun kesedihan dalam sejarah anak manusia hanya ada sekali saja, sebuah tahun yang disebut dengan tahun kesedihan. ’Amul Huzn adalah tahun kesedihan karena pada tahun itu telah wafat dua orang yang sangat dikasihi oleh Nabi Muhammad. Paman  Abu Thalib kemudian disusul sang istri tercinta, Khadijah bintu Khuwailid. Ramadhan pada tahun kesepuluh setelah diangkat menjadi nabi, Khadijah meninggalkan sang kekasih, Rasulullah Saw.

Rasa sedih sungguh-sungguh telah mengalir di setiap aliran darah Rasulullah Saw. Hati beliau benar-benar merasa kehilangan.

Begitulah istri yang baik! Ia akan selalu dicintai dan dikasihi sepenuh hati oleh suami. Peranan penting dan andil yang besar akan membuat suami merasa kehilangan. Jika istri yang baik jatuh sakit, seolah-olah ada belahan jiwa sang suami yang terampas hilang. Jika terpisahkan oleh jarak dan waktu,karena tugas atau mencari nafkah, seakan-akan doa sang istri hangat menyertai.

Benarlah sabda Rasulullah,

“Dunia hanyalah untaian perhiasan.Sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang shalihah”

Wajar saja jika ibunda Aisyah merasa cemburu, Dan itu wajar. Seringkali Rasulullah mengingat dan menyebut nama Khadijah. Jika ada makanan yang pantas, Rasulullah selalu meminta agar teman-teman Khadijah diberi bagian. Sampai-sampai ibunda Aisyah menyatakan,”Seolah-olah tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah!” Seorang istri dengan sifat dan karakter terpuji tentu akan dikasihi sang suami. Apapun akan dilakukan oleh sang suami demi membahagiakannya.

Istri shalihah akan dipuja dan disanjung oleh suaminya. Segala cara akan ditempuh oleh sang suami agar ia bahagia. Istri shalihah tidak akan disakiti dan dikecewakan oleh sang suami. Jika suami menyakiti dan mengecewakannya,sungguh keterlaluan dia sebagai suami!
Astaghfirullah.

perkara mencari pendamping seorang istri solehah bukanlah perkara main-main dan tanpa keseriusan sebab hidup berumah tangga dengan seorang istri solehah lah seorang laki-laki akan benar-benar bisa merasakan surga didunia sebelum surga yang sesungguhnya diakhirat kelak, semoga didunia ini ALLAH memperbanyak hamba-hambanya para istri solehah dan penerus kemuliaan Ibunda Khadijah serta wanita mulia yang lain dan sebagai penentu kemuliaan Islam dengan keturunan beriman yang akan mereka lahirkan yang akan melanjutkan estafet menjadi khalifah ALLAH dimuka bumi ini. semoga.

 

dikutip dari http://catatanmuslimmanado.wordpress.com

Selasa, 16 April 2013

Kisah Kemuliaan Ibunda Siti Khodijah R.A

Khadijah binti Khuwailid (Bahasa Arab"" Khadijah al-Kubra) (sekitar 555/565/570 - 619/623) merupakan isteri pertama Nabi Muhammad SAW. Nama lengkapnya adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. Khadijah al-Kubra, anak perempuan dari Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti Zaidah, berasal dari kabilah Bani Asad dari suku Quraisy. Ia merupakan wanita as-Sabiqun al-Awwalun.

Kelahiran & Kehidupan Keluarga

Khadijah berasal dari golongan pembesar Mekkah. Menikah dengan Muhammad, ketika berumur 40 tahun, manakala Muhammad berumur 25 tahun. Ada yang mengatakan usianya saat itu tidak sampai 40 tahun, hanya sedikit lebih tua dari Nabi Muhammad Saw. Khadijah merupakan wanita kaya dan terkenal. Khadijah bisa hidup mewah dengan hartanya sendiri. Meskipun memiliki kekayaan melimpah, Khadijah merasa kesepian hidup menyendiri tanpa suami, karena suami pertama dan keduanya telah meninggal. Beberapa sumber menyangkal bahwa Khadijah pernah menikah sebelum bertemu Nabi Muhammad Saw.
 
Pada suatu hari, saat pagi buta, dengan penuh kegembiraan ia pergi ke rumah sepupunya, yaitu Waraqah bin Naufal. Ia berkata, “Tadi malam aku bermimpi sangat menakjubkan. Aku melihat matahari berputar-putar di atas kota Mekkah, lalu turun ke arah bumi. Ia semakin mendekat dan semakin mendekat. Aku terus memperhatikannya untuk melihat kemana ia turun. Ternyata ia turun dan memasuki rumahku. Cahayanya yang sangat agung itu membuatku tertegun. Lalu aku terbangun dari tidurku". Waraqah mengatakan, “Aku sampaikan berita gembira kepadamu, bahwa seorang lelaki agung dan mulia akan datang meminangmu. Ia memiliki kedudukan penting dan kemasyhuran yang semakin hari semakin meningkat". Tak lama kemudian Khadijah ditakdirkan menjadi isteri Muhammad Saw.

Ketika Muhammad Saw masih muda dan dikenal sebagai pemuda yang lurus dan jujur sehingga mendapat julukan Al-Amin, telah diperkenankan untuk ikut menjualkan barang dagangan Khadijah. Hal yang lebih banyak menarik perhatian Khadijah adalah kemuliaan jiwa Muhammad Saw. Khadijah lah yang lebih dahulu mengajukan permohonan untuk meminang Muhammad Saw, yang pada saat itu bangsa Arab jahiliyah memiliki adat, pantang bagi seorang wanita untuk meminang pria dan semua itu terjadi dengan adanya usaha orang ketiga, yaitu Nafisah Binti Munyah dan peminangan dibuat melalui paman Muhammad Saw yaitu Abu Thalib. Keluarga terdekat Khadijah tidak menyetujui rencana pernikahan ini. Namun Khadijah sudah tertarik oleh kejujuran, kebersihan dan sifat-sifat istimewa Muhammad ini, sehingga ia tidak mempedulikan segala kritikan dan kecaman dari keluarga dan kerabatnya.

Khadijah yang juga seorang yang cerdas, mengenai ketertarikannya kepada Muhammad Saw mengatakan, “Jika segala kenikmatan hidup diserahkan kepadaku, dunia dan kekuasaan para raja Persia dan Romawi diberikan kepadaku, tetapi aku tidak hidup bersamamu, maka semua itu bagiku tak lebih berharga daripada sebelah sayap seekor nyamuk.

”Sewaktu malaikat turun membawa wahyu kepada Muhammad Saw maka Khadijah adalah orang pertama yang mengakui kenabian suaminya, dan wanita pertama yang memeluk Islam. Sepanjang hidupnya bersama Muhammad Saw, Khadijah begitu setia menyertainya dalam setiap peristiwa suka dan duka. Setiap kali suaminya ke Gua Hira’, ia pasti menyiapkan semua perbekalan dan keperluannya. Seandainya Muhammad Saw agak lama tidak pulang, Khadijah akan melihat untuk memastikan keselamatan suaminya. Sekiranya Muhammad Saw khusyuk bermunajat, Khadijah tinggal di rumah dengan sabar sehingga Muhammad Saw pulang. Apabila suaminya mengadu kesusahan serta berada dalam keadaan gelisah, beliau coba sekuat mungkin untuk mententram dan menghiburnya, sehingga suaminya benar-benar merasa tenang. Setiap ancaman dan penganiayaan dihadapi bersama. ALLAH mengkaruniakannya 3 orang anak, yaitu Qasim, Abdullah, dan Fatimah.

Dalam banyak kegiatan peribadatan Muhammad Saw, Khadijah pasti bersama dan membantunya, seperti menyediakan air untuk mengambil wudhu. Muhammad Saw menyebut keistimewaan terpenting Khadijah dalam salah satu sabdanya, “Di saat semua orang mengusir dan menjauhiku, ia beriman kepadaku. Ketika semua orang mendustakan aku, ia meyakini kejujuranku. Sewaktu semua orang menyisihkanku, ia menyerahkan seluruh harta kekayaannya kepadaku.” Khadijah telah hidup bersama-sama Muhammad Saw selama 24 tahun dan wafat dalam usia 64 tahun 6 bulan.


dikutip dari http://amystar.abatasa.com

Ummu Fadhl, Ibunda Para Ksatria Muslim

Bismillahorrohmanirrohim…

Sebuah pepatah Arab yang masyhur mengatakan:
“Di belakang setiap pemuda ksatria ada sang Ibunda bijaksana.”
Wanita Qudwah (teladan) kali ini adalah seorang ibunda dari ksatria-ksatria muslim yang menjadi tonggak-tonggak kebenaran, pahlawan-pahlawan yang menegakkan Islam dengan perjuangan mereka. Dia adalah Lubabah binti al-Harits bin Hazn al-Hilaliyyah radhiyallahu’anha, istri paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, Abbas bin Abdil Muththolib, yang lebih dikenal dengan Ummul Fadhl karena anak tertuanya bernama al-Fadhl.

Kesuburan Menjadikannya Mulia
Ummul Fadhl ialah seorang wanita yang subur. Kesuburannya itu menjadikan kedudukannya dalan sejarah Islam menjadi tinggi dan mulia. Bayangkan, anak-anaknya yang kebanyakan laki-laki itu semua memiliki kelebihan dan peran penting dalam kemajuan dan perkembangan Islam. Siapakah mereka? Mereka adalah: al-Fadhl, putra tertua, lalu adiknya Abdullah, lalu Ubaidullah, Mu’id, Qots’am, Abdurrohman, dan yang ketujuh seorang putri bernama Ummu Habibah. Mereka semua adalah anak-anaknya dari Abbas radhiyallahu’anhum. Mereka adalah perawi-perawi hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam terutama al-Fadhl, Abdullah, dan Ubaidullah. Mereka tidak hanya meriwayatkan (mendengar hadits dari sahabat lain) saja, tetapi juga sima’i (mendengar hadits langsung dari Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam). Yang paling terkenal memiliki ilmu yang luas dan banyak di antara mereka adalah Abdullah, sehingga ia digelari Habrul Ummah.

Saudara-saudara seibu Ummul Fadhl juga dikenal sebagai orang-orang yang mulia sehingga mereka dikatakan ‘empat bersaudari yang mukminah’. Mereka adalah: Ummul Mukminin Maimunah, Ummul Fadhl, Asma’, dan Salma. Ibu mereka adalah Hindun binti ‘Auf al-Humairiyyah yang dikatakan sebagai wanita yang paling beruntung mendapatkan menantu; Maimunah adalah istri Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, Ummul Fadhl istri dari Abbas bin Abdil Muththolib, Salma adalah istri Hamzah bin Abdil Muththolib, dan Asma’ adalah istri Ja’far bin Abi Tholib yang setelah ia meninggal dinikahi oleh Abu Bakar, lalu setelah Abu Bakat meninggal ia dinikahi oleh Ali bin Abi Tholib. Bukankah itu sebuah kemuliaan yang tak terhingga?

Ingin Hijrah Namun Belum Sanggup
Ummul Fadhl adalah wanita kedua yang masuk Islam setelah Khodijah radhiyallahu’anha. Putranya menceritakan: “Aku dan ibuku termasuk mustadh’afiin (orang-orang yang lemah dari golongan wanita dan anak-anak yang tidak mampu hijrah)”. Ya, mereka lemah. Sebab, Ummul Fadhl masuk Islam tidak bersama suaminya sehingga ia tidak sanggup hijrah ke Madinah bersama kaum muslimin yang lain. Sementara Abbas bin Abdil Muththolib sekalipun mendampingi Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam pada Bai’ah Aqobah, namun ia belum muslim pada saat itu. Pada Perang Badar ia ikut berperang di barisan kaum musyrikin karena terpaksa lalu menjadi tawanan kaum muslimin. Setelah itu, ia masuk Islam dan menyembunyikan keislamannya. Ia kembali ke Makkah dan menjadi mata-mata Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam terhadap kaum musyrikin di Makkah. Abbas dan keluarganya hijrah ke Madinah sebelum penaklukan Kota Makkah. Abbas adalah orang yang sangat dimuliakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam begitu juga para sahabat sangat menghormati dan mengakui keutamaannya. Mereka selalu mengikutsertakannya dalam setiap musyawarah dan mendengar pendapat dan masukan-masukan darinya.

Sang Wanita Pemberani
Ummul Fadhl adalah seorang wanita yang berani dalam kebenaran. Abu Rofi’, maula Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bercerita tentang keberanian Ummul Fadhl :

“Suatu waktu, ketika saya masih menjadi budak Abbas bin Abdil Muththolib, dan Abbas telah masuk Islam secara diam-diam. Ummul Fadhl juga telah masuk Islam, dan aku pun juga ikut mereka.

Abu Lahab yang tidak bisa ikut berperang pada Perang Badar mengutus al-Ash bin Hisyam sebagai wakilnya. Begitulah tradisi dan peraturan orang Quraisy, bila seseorang berhalangan untuk ikut berperang maka mereka harus mengutus seorang wakil untuk menggantikannya.”

Abu Rofi’ melanjutkan ceritanya, “Aku adalah laki-laki yang lemah, bekerja sebagai pembuat cawan di sebuah kamar dekat sumur Zamzam. Ketika mendengar berita banyak orang Quraisy yang terbunuh dan terluka di Badar, makin tertanam dalam jiwa kami kekuatan dan kemuliaan. Dan ketika aku sedang duduk di tempatku bekerja, sementara di dekatku ada Ummul Fadhl, datanglah Abu Lahab ke arah kami dan duduk dekat dengan kami. Lalu terdengar seseorang berkata, ‘Lihatlah itu! Abu Sufyan telah datang.’ Abu Lahab kemudian memanggilnya sambil berkata, ‘Kemarilah, duduk di sini! Aku ingin mendengar berita darimu.’ Maka Abu Sufyan duduk di dekatnya, sementara orang-orang berdiri mengelilinginya.

Maka, mulailah Abu Sufyan bercerita tentang kejadian yang ia hadapi di Badar: ‘Demi ALLAH, ketika kami menyerang mereka (kaum muslimin), seolah-olah kami hanya menyerahkan diri kami kepada mereka untuk dibunuh semau mereka, dan menawan kami sesuka mereka. Aku tidak percaya mereka yang melakukan itu. Sebab, saat itu kami menghadapi sosok laki-laki putih menunggangi kuda yang menyerang di antara manusia, siapa saja berani mendekatinya pasti akan roboh ke tanah’.”

Abu Rofi’ berkata, “Mendengar itu, maka aku berkata, ‘Demi ALLAH, itu pasti malaikat!’ Dengan berang Abu Lahab mengangkat tangannya dan menampar wajahku dengan tamparan yang keras, lalu aku menyerangnya. Namun apa daya, aku hanya seorang lelaki yang lemah. Dengan mudah ia dapat menahanku dan membantingku ke tanah, kemudian menduduki dan memukuliku.

Melihat itu, Ummul Fadhl mengambil salah satu tiang kamar lalu memukulkannya ke kepala Abu Lahab yang menyebabkan bengkak dan berdarah, kemudian ia berkata, ‘Engkau berani menyakitinya ketika tuannya tidak ada!’ Dengan perasaan terhina dan malu akhirnya Abu Lahab berpaling dan pergi. Demi ALLAH, tujuh malam setelah itu, Abu Lahab mati karena penyakit lepra yang ditimpakan ALLAH kepadanya.”
“Itulah sikap seorang mukminah dalam menghadapi musuh ALLAH yang menyombongkan diri dan berani mengganggu dan menginjak-injak harga diri seorang muslim.
Sosok Wanita yang Cerdas
Selain pemberani, Ummul Fadhl juga seorang wanita yang cantik dan cerdas. Pada Hari Arofah, para sahabat berselisih paham tentang apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam saat itu berpuasa ataukah tidak. Mendengar pengaduan masalah itu, Ummul Fadhl mengirimkan segelas susu kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam meminumnya. Maka tahulah mereka bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tidak berpuasa. Dengan kecerdasan Ummul Fadhl, hilanglah keraguan dan perselisihan diantara para sahabat. Dan dengan itu mereka mendapatlan hikmah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tidak berpuasa ketika wukuf di Arofah.

Suatu hari, Ummul Fadhl mengatakan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bahwa ia bermimpi melihat sepotong anggota tubuh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam di rumahnya. Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mena’wilkannya (menafsirkan mimpinya): “Fathimah akan melahirkan seorang bayi laki-laki dan engkau akan menyusuinya bersama putramu Qots’am.” Tak lama setelah itu, lahirlah Husain bin Ali bin Abi Tholib, dan Ummul Fadhl yang menjadi ibu susuannya.

Suatu ketika, Husain kencing ketika berada dalam pangkuan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Melihat kejadian itu, Ummul Fadhl mencubitnya sehingga bayi itu menangis. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam berkata: “Engkau telah menyakiti cucuku. Semoga ALLAH memaafkanmu.” Kemudian beliau meminta air lalu memercikkannya pada tempat yang terkena kencing itu.

Meriwayatkan Hadits Dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wassalam
Demikianlah kehidupan Ummul Fadhl radhiyallahu’anha, wanita yang sering dikunjungi oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam semasa hidupnya, dan ibu dari enam pemuda mulia, seorang wanita mukminah yang pemberani dan termasuk orang yang pertama masuk Islam. Ia wafat pada masa khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu mendahului suaminya, Abbas bin Abdul Muththolib. Ia meninggalkan untuk kaum muslimin tiga puluh hadits yang diriwayatkannya: dua hadits muttafaqun alaihi (diriwayatkan Bukhari dan Muslim), satu hadits diriwayatkan oleh Muslim saja, sisanya dalam kitab-kitab hadits yang lain.

Wahai Muslimah, Jadikanlah Dia Teladanmu!
Semoga semua wanita muslimah, dapat menjadikan Ummul Fadhl sebagai qudwah dalam kehidupannya. Ia dapat mengambil banyak faedah dari kesuburannya, dapat menyumbangkan banyak jasa bagi Islam, baik dengan diri atau melalui anak-anaknya. Akankah kita sekarang ini menolak atau menahan kelahiran anak-anak hanya karena alasan yang tak jelas?! Wahai ukhtiy (saudariku) muslimah, marilah kita mengintrospeksi diri kita, luruskan dan perbaikilah niat, semoga kita dapat memberikan sumbangsih untuk Islam. Bila kita tidak sanggup menyumbang harta dan tenaga, sumbangkanlah generasi penerus yang akan mengangkat bendera kalimat tauhid agar tetap berkibar di permukaan bumi ini.


dikutip dari http://catatanhatimuslimah.wordpress.com

Kemuliaan Ibunda Imam Syafi'i

Imam an-Nawawi pernah menceritakan bagaimana peran orangtua perempuan di belakang penguasaan Imam Syafi‘i terhadap fiqh. Ibu Imam Syafi’i adalah seorang wanita berkecerdasan tinggi tapi miskin. Namun bisa dikatakan kesetiaannya berada di belakang sang anaklah yang menjadikan Imam Syafi’i menjadi ilmuwan sejati hingga saat ini.
 
Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, meski hidup tanpa suami, sang ibu telah sukses menerjemahkan visi jangka panjang untuk membawa nama harum sang anak ke hadapan Allahuta’ala. Sekalipun hidup dalam sebatang kara, hal itu tidak menghalangi sang ibu untuk menempatkan anaknya dalam kultur pendidikan agama yang terbaik di Mekkah.
 
Sang ibu sadar, ia tidak memiliki banyak uang, namun kecintaananya terhadap Allah dan buah hatinya, sang ibu meluluhkan hati sang guru untuk rela mengajar Imam Syafi’i meski tanpa bayaran.
 
Sekalipun hidup dalam kemiskinan, kecintaan Imam Syafi’i tak sama sekali membuatnya pantang menyerah dalam mencintai Islam dan menimba ilmu. Beliau sampai harus mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta semata-mata demi kecintaannya dalam menulis Islam. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi.
 
Hingga pada usia sebelum beranjak ke 15 tahun, Imam Syafi’i menceritakan hasratnya kepada sang ibu yang sangat dikasihinya tentang sebuah keinginan seorang anak untuk menambah ilmu diluar Mekkah. Mulanya sang bunda menolak. Berat baginya melepaskan Syafi’i, dalam sebuah kondisi dimana beliau berharap kelak Imam Syafi’i tetap berada bersamanya untuk menjaganya di hari tua.
 
Namun demi ketaatan dan kecintaan Syafi’i kepada Ibundanya, maka mulanya beliau terpaksa membatalkan keinginannya itu. Meskipun demikian akhirnya sang ibunda mengizinkan Imam Syafi’i untuk memenuhi hajatnya untuk menambah Ilmu Pengetahuan ke luar kota.
 
Sebelum melepaskan Syafi’i berangkat, ibunda Imam Syafi’i menjatuhkan doa ditengah rasa haru orangtua kandung memiliki anak yang telah jatuh hati pada ilmu,
 
“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh Alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut Ilmu Pengetahuan peninggalan Pesuruhmu. Oleh karena itu aku bermohon kepadaMu ya Allah permudahkanlah urusannya. Peliharakanlah keselamatanNya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan Ilmu Pengetahuan yang berguna, amin!”
 
Setelah usai berdo’a, sang ibu memeluk Syafi’i kecil dengan penuh kasih sayang bersama linangan air mata membanjiri jilbabnya. Ia sangat sedih betapa sang anak akan segera berpisah dengannya. Sambil mengelap air mata dari wajahnya, sang ibu berpesan,
 
“Pergilah anakku. Allah bersamamu. Insya-Allah engkau akan menjadi bintang Ilmu yang paling gemerlapan dikemudian hari. Pergilah sekarang karena ibu telah ridha melepasmu. Ingatlah bahwa Allah itulah sebaik-baik tempat untuk memohon perlindungan!” Subhanallah.
 
Selepas mendengar doa itu, Imam Syafi’i mencium tangan sang ibu dan mengucapkan selamat tinggal kepada ibunya. Sambil meninggalkan wanita paling tegar dalam hidupnya itu, Imam Syafi’i melambaikan tangan mengucapkan salam perpisahan. Ia berharap ibundanya senantiasa mendo’akan untuk kesejahteraan dan keberhasilannya dalam menuntut Ilmu.
 
Imam Syafi’i tak sanggup menahan sedihnya, ia pergi dengan lelehan airmata membanjiri wajahnya. Wajah yang mengingatkan pada seorang ibu yang telah memolesnya menuju seorang bergelar ulama besar. Ya ulama besar yang akan kenang sampai kiamat menjelang.
 
Itulah peran yang ditopang seorang ibu yang selalu memasrahkan buah hatinya kepada Allah berserta kekuatan tauhid yang menyala-nyala. Inilah karakter sejati seorang ibu yang telah menyerahkan jiwa raga anaknya hanya kepada ilmu. Menyerahkan segala aktivitasnya dalam rangka pengabdian kepada Allah. Dari mulai ia melahirkan, mengasuhnya tanpa suami, membesarkannya, hingga mengantar Syafi’i menjadi Imam Besar Umat Islam hingga kini.
 
 
dikutip dari http://semutlewat.blogspot.com

Kamis, 11 April 2013

Bunda, Anugerah Terindah Milik Kita

Ringkih dan renta karena ditelan usia, namun tampak tegar dan bahagia. Ikhlas, memancarkan selaksa cinta penuh makna yang membias dari guratan keriput di wajah. Tiada yang berubah sejak saat dalam buaian, hingga sekarang mahkota putih tampak anggun menghiasinya. Dekapannya pun tak berubah, luruh memberikan kenyamanan dan kehangatan.
Jemari itu memang tak lagi lentik, namun selalu fasih menyulam kata pinta, membaluri sekujur tubuh dengan do’a-do’a. Kaki tampak payah, tak mampu menopang tubuhnya. Telapak tempat surga itu pun penuh bekas darah bernanah, simbol perjuangan menapak sulitnya kehidupan.
bunda, Anugerah Terindah Milik Kita
 
Ibunda

Adakah saat ini kita terenyuh mengenangkannya? Ia adalah sebuah anugerah terindah yang dimiliki setiap manusia. Sejak dalam rahim, betapa cinta itu tak putus-putusnya mengalirkan kasih yang tak bertepi. Hingga kerelaan, keikhlasan dan kesabaran selama 9 bulan pun bagai menuai pahala seorang prajurit yang sedang berpuasa, namun tetap berperang di jalan ALLAH Subhanahu wa Ta’ala.

Polesannya adalah warna dasar pada diri kita. Menggores sebuah kanvas putih nan suci, hingga tercipta lukisan Yahudi, Musyrik atau Nasrani. Namun, goresan yang diselimuti untaian ayat suci Al Qur’an, zikir, tasbih serta tahmid, tentu akan melahirkan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) pada jiwa. Ibunda pun berharap tercipta jundullah (tentara ALLAH) dari sebuah madrasah keluarga.

Selaksa cinta ibunda yang dibaluri tsaqofah Islamiyah (wawasan keislaman) telah menyemai banyak pahlawan Islam. Teladan Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shidiq melahirkan pahlawan Abdullah bin Zubair, yang dengan cintanya masih berdoa agar dirinya tidak mati sebelum mengurus jenazah anaknya yang disalib Hajaj bin Yusuf, antek Bani Umaiyah. Polesan warna seorang ibunda, Al Khansa, melahirkan putra-putra kebanggaan Islam yang berani dan luhur akhlaqnya, hingga satu persatu syahid pada perang Qodisyiah. Di sela kesedihannya, ibunda masih berucap, “Alhamdulillah… ALLAH telah mengutamakan dan memberikan karunia padaku dengan kematian anak-anakku sebagai syuhada. Aku berharap semoga ALLAH mengumpulkan aku dengan mereka dalam rahmat-Nya kelak.”

Banyak… sungguh teramat banyak cinta ibunda yang melahirkan kisah-kisah teladan. Yatim seorang anak pun tidaklah menghalangi ibunda untuk merangkai sejarah dengan tinta emas, terbukti dengan mekar harumnya para mujtahid Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal serta Imam Bukhari. Didikan ibunda mereka telah mampu mendidiknya hingga menjadi anak-anak yang gemar menuntut ilmu tanpa kenal lelah, bahkan mandiri dalam kemiskinan.

Kita mungkin dilahirkan dari rahim seorang perempuan biasa. Bahkan kita pun tidak dilahirkan untuk menjadi seorang pahlawan. Namun, ibunda kita dan mereka adalah sama, sebuah anugerah terindah dari ALLAH Subhanahu wa Ta’ala.

Saat dewasa, tapak kaki telah kuat menjejak tanah dan tangan pun terkepal ke angkasa, masihkah selalu ingat ibunda? Cita-cita telah tergenggam di tangan, popularitas, kemewahan hingga dunia pun telah takluk menyerah kalah, tunduk karena ketekunan, jerih payah serta kerja keras tiada hentinya. Haruskah sombong dan angkuh hingga kata-kata menyakitkan begitu gampang terlontar?

Duhai jiwa, sekiranya engkau sadar bahwa tanpa do’a ibunda, niscaya semua masih angan-angan belaka.
Astaghfirullah… ampuni diri ini ya ALLAH.

Duhai ibunda

Maafkan jika mata ini pernah sinis memandang, dan lidah yang pernah terucap kata makian hingga membuat luka hatimu. Maafkanlah pula kalau kesibukan menghalangi untaian do’a terhatur untukmu. Ampuni diri ananda yang tak pernah bisa membahagiakanmu, ibunda.

Sungguh, jiwa dan jasad ini ingin terbang ke angkasa lalu luruh di pangkuan, mendekap tubuh sepuh, serta menangis di pangkuanmu. Hingga terhapuskan kerinduan dalam riak anak-anak sungai di ujung mata. Rengkuhlah ananda dengan belai kasih sayangmu bagai masa kecil dulu. Mengenangkan indahnya setiap detik dalam rahimmu dan hangatnya dekapanmu. Buailah dengan do’a-do’a hingga ananda pun lelap tertidur di sampingmu.

Duhai ibunda

Keindahan dunia tak akan tergantikan dengan keindahan dirimu.
Sorak-sorai pesona dunia pun tak dapat menggantikan gemuruh haru detak jantung saat engkau memelukku.
Indah… semua begitu indah dalam alunan cintamu, menelisik lembut, membasahi lorong hati dan jiwa yang rindu kasih sayangmu.

Duhai ibunda…

Bukakanlah pintu ridhomu, hingga ALLAH pun meridhoiku.
Wallahua’lam bi showab.


dikutip dari citraislam.com

Khairah Ibunda Dua Ulama Besar Bashrah

Adalah sosok ibu yang menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Sosok ibu pula yang memberi lingkungan terbaik bagi perkembangan anak-anaknya. Khairah, seorang wanita tabi’in utama, telah membuktikan kebenarannya dan memetik hasilnya.

Dari rahim dan dari madrasahnya telah lahir dua ulama besar. Pertama adalah Hasan bin Yasar atau lebih dikenal sebagai Hasan Al-Bashri. Betapa Hasan Al-Bashri adalah lautan ilmu dan hikmah yang tak pernah kering untuk dipelajari. Kedua, Sa’ad bin Yasar. Selain pakar hadits, kezuhudan Sa’ad dan kegemarannya beribadah begitu terkenal hingga ia dijuluki sebagai Ar-Rahib.

Khairah, sang ibunda dua ulama besar ini, sebagai teladan bagi kedua anaknya memang amat mencintai ilmu. Semula dia adalah budak dari Ummu Salamah ra, salah seorang istri Rasulullah saw. Selain melayani keperluan Ummu Salamah, Khairah juga menjadi murid majikannya itu.

Setelah Aisyah ra, Ummu Salamah adalah istri Rasulullah yang banyak meriwayatkan hadits. Khairah tak menyia-nyiakan kesempatan emas untuk mempelajari hadits dari Ummu Salamah hingga kemudian ia menjadi salah satu wanita periwayat hadits. Khairah sangat baik dalam hal pemahaman, hafalan dan ketelitiannya. Hadits darinya termasuk hadits yang dapat diterima dan dijadikan dalil. Kelak kemudian, semua ulama hadits mengambil hadits dari Khairah, kecuali Imam Bukhari.

Tak hanya dari Ummu Salamah, Khairah pun berkesempatan menimba ilmu dari Aisyah ra. Rumah para Ummahatul Mukminin di Madinah memang berdekatan sehingga amat terbuka peluang bagi Khairah yang bekerja dan belajar di rumah Ummu Salamah untuk belajar pula dari Aisyah ra. Khairah pun meriwayatkan hadits dari Aisyah ra.

Khairah menikah dengan Yasar, budak dari Zaid bin Haritsah ra, salah seorang sahabat Rasulullah. Pernikahan mereka terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab ra. Pada masa itu pula Khairah melahirkan Hasan Al-Bashri.

Dikisahkan, sesaat setelah melahirkan, Khairah diundang Ummu Salamah untuk menghabiskan masa nifas di rumah Ummul Mukminin tersebut. Ummu Salamah memang menyayangi Khairah. Beliau pun amat gembira dengan kelahiran Hasan, bahkan sesungguhnya beliaulah yang memberi nama Hasan bagi putra pertama Khairah itu.

Bekerja kepada Ummu Salamah tak melalaikan Khairah dari memenuhi kewajibannya kepada anak dan suami. Saat bekerja, Hasan dibawanya serta. Bahkan suatu kali, Hasan pernah disusui oleh Ummu Salamah karena ibunya sedang keluar rumah memenuhi tugas dari Ummu Salamah sendiri.

Saat Hasan berusia 14 tahun, Khairah dan Yasar pindah ke Bashrah, Irak. Kota Bashrah yang saat itu bertaburan ilmu dan ulama, seperti Abdullah bin Abbas ra, adalah tempat yang baik bagi anak-anak Khairah untuk memperdalam ilmu mereka. Di sinilah kelak anak-anak Khairah menjadi bintang dan tujuan orang saat menuntut ilmu. Bahkan kemudian Hasan mendapat julukan “Al-Bashri” yang merujuk kota tempat tinggalnya.
Ilmu akan semakin berkah bila terus dibagi. Begitu pun Khairah. Meski usia telah lanjut namun Khairah tak berhenti memberi ilmu dan nasihat yang didapatnya dari Ummu Salamah ra dan Aisyah ra kepada kaum perempuan di kota Bashrah. Ia meninggal dalam usia lanjut yang penuh berkah, walau tak ada catatan pasti tentang tahun wafatnya.


dikutip dari http://kisahislami.com

Kisah Ummu Ruman, Istri Amirul Mukminin dan Ibunda Ummul Mukminin.

Kita mengenal sebuah ungkapan bahwa, selalu ada sosok wanita hebat dibalik seorang laki-laki besar. Maka kisah ini adalah sebuah keteladanan bagi para muslimah. Kisah nyata tentang seorang istri dari amirul mukminin Abu Bakar Ash Shidiq ra, sekaligus ibunda dari Ummul Mukminin Aisyah ra. Seorang muslimah yang tidak hanya berperan sebagai istri yang hebat, tapi juga seorang ibunda yang bijak.

Beliau adalah putri dari Amir bin Uwaimar bin Abdi Syams bin Itab bin Adzinah bin Subai’ bin Dahman bin Haris bin Ghanam bin Malik bin Kinanah. Tentang nama asli beliau, ada perbedaan pendapat; ada yang mengatakan Zainab, ada pula yang mengatakan Da’ad.

Ummu Rumman
tumbuh di Jazirah Arab, di satu daerah yang disebut “As-Sarah”. Beliau adalah seorang wantia yang cantik, memiliki adab, dan fasih lidahnya. Pada mulanya, beliau dinikahi oleh seorang pemuda yang terpandang pada kaumnya, yang bernama Al-Haris bin Sakhirah Al-Azdi, kemudian melahirkan seorang anak yang bernama Thufail.

Suami beliau ingin tinggal menetap di Mekkah maka dia melakukan perjalanan dengan beliau dan juga putranya menuju ke sana. Telah menjadi kebiasaan bangsa Arab bahwa Al-Haris harus mengikuti perjanjian dengan salah satu orang yang terpandang yang akan melindungi dirinya, maka dia mengikat perjanjian dengan Abdullah bin Abi Quhafah (Abu bakar Ash-Shiddiq). Hal itu terjadi sebelum datangnya Islam.

Setelah berlalu beberapa lama, wafatlah Al-Haris bin Sakhirah, maka tiada yang dilakukan oleh Abu Bakar melainkan melamar Ummu Rumman sebagaimana yang menjadi kebiasaan ketika itu sebagai bukti memuliakan sahabatnya setelah kematiannya. Ummu Rumman menerima lamaran Abu Bakar sebagai suami yang mulia yang mau menjaganya setelah suaminya yang pertama wafat.

Sebelumnya, Abu Bakar telah menikah dan telah memiliki anak bernama Abdullah dan Asma’, kemudian pernikahannya dengan Ummu Rumman melahirkan dua orang anak yang bernama Abdurrahman dan Aisyah Ummul Mukminin.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Abu Bakar adalah laki-laki pertama yang beriman kepada beliau. Selanjutnya, melalui perantaraan dakwahnya, berimanlah beberapa laki-laki. Kemudian, beliau juga mendakwahi istrinya. Ummu Rumman yang mana beliau berdialog dengannya dan mengajaknya kepada kebaikan yang diinginkan pula oleh jiwanya, maka berimanlah Ummu Rumman bersama beliau. Akan tetapi, beliau meminta agar Ummu Rumman merahasiakan urusan tersebut hingga datangnya keputusan dari ALLAH tentang urusan tersebut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mondar-mandir ke rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq dari waktu ke waktu, maka Ummu Rumman dapat menjumpainya dengan gembira dan senang hati, beliau menjamunya dengan sebaik-baik jamuan dan menyediakan untuk beliau segala sarana istirahat dan bersenang-senang.

Begitulah, rumah Abu Bakar menjadi tempat tinggal yang mulia bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rumah yang islami dan baik. Adapun Ummu Rumman adalah profil wanita salehah yang berdiri di samping suaminya untuk meringankan penderitaannya, membantunya di saat-saat sulit, dan melewati rintangan keras yang menimpa kaum muslimin pada permulaan. Bahkan, beliau secara maksimal membantu suaminya dengan mendorong semangatnya dan mendorong agar suaminya mencurahkan segenap kemampuannya di jalan dakwah Islam untuk memenangkan kebenaran serta berjuang demi memerdekakan kebanyakan kaum muslimin yang tertindas.

Dilihat dari sisi lain, Ummu Rumman adalah ibu yang penuh kasih dalam mendidik putra-putrinya, yakni Abdurrahman dan Aisyah, dengan didikan terbaik dan menjaga keduanya dengan sebaik-baiknya.

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk melamar Aisyah sebagai tanda ketaatan terhadap perintah ALLAH ta’ala maka bergembiralah Ummu Rumman dengan kebahagiaan yang tiada tara karena mendapatkan hubungan mertua dan menantu yang mulia, dan tidak ada kemuliaan yang lebih darinya.

Bersamaan dengan semakin kerasnya gangguan dari kaum musyrikin terhadap kaum muslimin dan memuncaknya kekejaman serta kezhaliman mereka maka ALLAH subhanahu wa ta’ala mengizinkan kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah. Lalu, tinggallah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama keluarga dan para sahabat serta Abu Bakar yang bersama keluarganya yang menunggu perintah dari ALLAH subhanahu wa ta’ala untuk berhijrah.

Kemudian datanglah perintah dan kemudian berhijrahlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ditemani Abu Bakar. Setelah itu, yang masih tinggal di Mekkah di antaranya adalah Ummu Rumman yang memikul tanggung jawab yang besar dengan menanggung kesombongan orang-orang jahiliah yang juga mengancam dan menakut-nakuti dirinya. Asma’ binti Abu Bakar berkata, “Tatkala Abu Jahal bin Hisyam keluar kemudian berdiri di depan pintu, aku pun keluar menemui mereka. Mereka berkata, ‘Di manakah bapakmu, wahai anak Abu bakar?’ Aku (Asma’) menjawab, ‘Aku tidak tahu keberadaan ayahku.’ Maka Abu Jahal yang dikenal bengis dan kejam mengangkat tangannya kemudian menampar pipiku hingga jatuhlah anting-antingku.”

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya sampai dan menetap di Madinah, beliau mengutus Zaid bin Haritsah bersama Abu Rafi’, dan Abu Bakar mengutus Abdullah bin Uraiqath untuk menjemput keluarganya. Kebetulan, mereka berpapasan dengan Thalhah yang hendak berhijrah. Akhirnya, mereka bersama-sama hijrah ke Madinah. Mereka bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga orang-orang yang beriman di Madinah.

Di Madinah itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal seatap dengan Aisyah. Adanya ikatan perkawinan yang baru tersebut merupakan salah satu penyebab kuatnya hubungan antara dua rumah tangga yang mulia, dan hal itu juga membesarkan hati Ummu Rumman karena beliau melihat betapa sayang dan cintanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Aisyah, begitu pula menjadi leluasa bagi beliau untuk kembali ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menambah bekal dari mata air nubuwwah yang jernih.

 

Kesedihan Ummu Rumman atas putrinya


Hari-hari berputar hingga terjadilah suatu peristiwa yang di luar perhitungan, yaitu tatkala Aisyah Ummul Mukminin Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq dituduh dengan tuduhan dusta. Fitnah tersebut –yang disebarkan oleh seorang pendusta dan pesuruh munafik yang bernama Ibnul Salul– kemudian tersebar dari mulut ke mulut hingga Ummu Rumman mendengar dusta yang mereka katakan dan berita yang tersebat tersebut. Bahkan, beliau pingsan karena hebohnya isu yang beliau dengar. Akan tetapi, tatkala beliau tersadar, beliau merahasiakan kabar tentang putrinya tersebut karena kasih sayangnya dan beliau memohon kepada ALLAH agar melepaskan tuduhan yang ditujukan kepada putrinya.

Tatkala ALLAH menghendaki Aisyah mengetahui isu yang telah tersebar dari mulut ke mulut –beliau mendengar dari Ummu Masthah bin Atsatsah– beliau langsung kembali ke rumah ayahnya untuk mengadukan dan menangis serta menyalahkan ibunya karena menyembunyikan urusan itu.

Berkatalah Ummu Rumman, sedangkan di pipinya menetes air mata, “Wahai putriku, ringankanlah urusan ini bagimu …. Demi ALLAH, tiada seorang wanita pun yang bersuamikan seseorang yang mencintainya sedangkan dia memiliki madu, melainkan pastilah akan banyak cobaan dari manusia.”

Maka Allah menjawab suara hati dari seorang mukminah dan shadiqah tersebut, hingga turunlah ayat yang membebaskan Ash-Shiddiqah Ummul Mukminin dari tuduhan dusta. Ayat yang senantiasa dibaca dan bernilai ibadah bagi siapa saja yang membacanya hingga hari kiamat,

Sesungguhnya, orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu ….” (Q.s. An-Nur:11)
Sungguh, masa tersebut adalah masa yang paling pahit yang dialami oleh Ummu Rumman dalam hidupnya, sehingga hal itu berpengaruh besar pada diri beliau yang menyebabkan beliau sakit, maka Aisyah merawatnya selama beberapa waktu untuk berkhidmat kepada beliau, hingga ALLAH subhanahu wa ta’ala melewatkannya.

Rasulullah mengunjungi kuburnya dan memohonkan ampun kepada Allah baginya kemudian berdoa,

“Ya ALLAH, sesungguhnya Engkau Mahatahu apa yang telah dikerjakan oleh Ummu Rumman karena-Mu dan Rasul-Mu.”

Semoga ALLAH meridhai Ummu Rumman karena beliau termasuk rombongan pertama yang masuk Islam, menegakkan seluruh hal yang menjadi konsekuensi iman. Beliau berhijrah, bersabar dan menghadapi ujian dakwah karena ALLAH.


dikutip dari http://empires-islam.blogspot.com

Rabu, 10 April 2013

Peran Ibunda al-Imam asy-Syafii Dalam Pendidikan Putranya

ALLAH subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Berkehendak. Rahmat-Nya juga sangat luas dan pasti akan sampai kepada siapa saja yang Ia kehendaki untuk dirahmatiNya.

Salah satu karunia besar yang diberikan kepada al-Imam asy-Syafi’i adalah ibundanya yang sangat paham akan pentingnya mencari ilmu (agama). Sehingga meskipun hidup sebagai anak yatim dan ibundanya tidak memiliki harta, jadilah Muhammad bin Idris menjadi al-Imam asy-Syafi’i yang kita kenal hingga sekarang sebagai salah seorang imam besar.

Kemiskinan dan hidup sebagai anak yatim tidak menjadi penghalang bagi beliau untuk menggapai kedudukan yang tinggi. Tentunya ini semua atas kehendak dan karunia ALLAH, kemudian keinginan yang kuat dari ibundanya.

Al-Imam asy-Syafi’i menuturkan sendiri tentang kondisi ibunya yang miskin:
“Aku tumbuh sebagai seorang yatim di bawah asuhan ibuku, dan tidak ada harta pada beliau yang bisa diberikan kepada guruku. Dan ketika itu guruku merasa lega dariku hanya dengan aku menggantikannya apabila ia pergi.”

Beliau juga mengatakan: “Aku tidak memiliki harta. Dan aku menuntut ilmu ketika masih muda.”

Setelah tinggal beberapa lama untuk membesarkan Syafi’i kecil di daerah Ghaza, ‘Asqalan, Yaman, ibunda al-Imam asy-Syafi’i membawanya ke negeri Hijaz. Ibunda asy-Syafi’i memasukkan Syafi’i kecil ke dalam kaumnya, yaitu kabilah al-Azdi, karena ibunda Syafi’i keturunan kabilah al-Azdi. Dan mulailah Syafi’i kecil menghafal al-Qur’an hingga berhasil menghafal seluruh al-Qur’an pada usia tujuh tahun.

Tinggallah ibunda asy-Syafi’i bersamanya di tengah-tengah kabilah ini hingga Syafi’i berusia sepuluh tahun. Ketika telah berusia sepuluh tahun, ibunda Syafi’i khawatir nasab keturunan beliau yang mulia akan dilupakan dan hilang. Yaitu nasab keturunan yang masih bertemu dengan nasab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ibunda Syafi’i membawa memindahkannya ke kota Makkah. (Tawali Ta’sis karya Ibnu Hajar dengan beberapa penyusaian)

Di antara perhatian ibunda Syafi’i yang besar terhadap ilmu, ia tidak membukakan pintu untuk Syafi’i ketika pulang dari majelis salah seorang ulama di masa itu agar Syafi’i kembali ke majelis tersebut hingga mendapatkan ilmu. (‘Uluwwul Himmah)

Pelajaran-pelajaran:
Dari sekilas kisah di atas kita dapatkan beberapa pelajaran yang penting yang semoga memberikan manfaat untuk kaum muslimin secara umum:
1. Peran seorang ibu dalam membentuk dan mendidik anak.
2. Kemiskinan dan kesempitan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk meninggalkan upaya mendalami ilmu agama.
3. Kemiskinan dan kesempitan tidak selayaknya dijadikan sebagai alasan untuk meninggalkan ibadah yang diwajibkan baginya.
4. Pentingnya menjaga semangat dalam meraih kesuksesan.
5. Pentingnya seseorang untuk memilih seorang wanita shalihah yang nantinya sebagai pendidik dan teladan bagi putra-putrinya. Sebab bila seorang ibu adalah orang yang tidak shalih, selain akan membuat susah suami di dunia dan akhirat, juga akan menghancurkan masa depan anak-anak. Mencari seorang calon ibu bagi anak-anak yang shalihah baik agamanya, tidak hanya memandang pada perkara dunia baik kedudukan, kecantikan, atau harta.
6. Orang tua yang baik memikirkan tidak sebatas bisa mem’bahagia’kan anak di dunia ini, tetapi orang tua yang baik juga berusaha menjadikan anak sebagai generasi yang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.


dikutip dari http://kisahislam.net

Selasa, 09 April 2013

Kisah Indah Taat Kepada Ibu

saat Rasulullah Saw bercerita kepada para sahabat, “Sungguh, kelak ada orang yang termasuk tabi’in terbaik yang bernama Uwais. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepadanya. Sehingga, kalau dia mau berdoa kepada ALLAH, pasti ALLAH akan mengabulkan doanya. Dia punya sedikit bekas penyakit kusta. Oleh karena itu, perintahkan dia untuk berdoa, niscaya dia akan memintakan ampun untuk kalian.” (HR Muslim).

Bernama lengkap Uwais Al-Qarni, ia tinggal bersama ibunya di negeri Yaman. Setiap hari ia menggembalakan domba milik orang lain. Upah yang diterimanya cukup untuk biaya hidup bersama ibunya. Bila ada kelebihan dari upahnya itu terkadang ia berikan kepada tetangganya yang kekurangan. Ia termasuk orang yang taat beribadah, selalu menjalankan ajaran yang dibawa Rasulullah Saw. Ia punya suatu keinginan yang belum terlaksana sejak lama yaitu bertemu dengan Rasulullah Saw. Keinginan itu kian memuncak setiap kali melihat tetangganya yang baru pulang dari Madinah dan sempat bertemu Rasulullah Saw. Tetapi apa daya, ibunya sudah tua renta dan sangat lemah. Ia begitu menyayanginya sehingga tak tega meninggalkannya sendiri.

Semakin hari kerinduan bertemu Rasulullah Saw bertumpuk. Ia sangat gelisah mengingat-ingat itu. Suatu hari kerinduannya tak tertahan lagi, ia memberanikan diri mengungkapkan perasaan itu kepada ibunya. Mendengar curahan hati anaknya, ibunya terharu, ia pun diijinkan menemui Rasulullah Saw. Namun kerinduan itu tak sempat terobati karena saat ia datang, Rasulullah Saw sedang tak berada di rumah. Ingin sekali ia menunggu, tetapi ia teringat pesan ibunya untuk segera pulang. Ia pun memilih mentaati ibunya dan segera berpamitan pada Sayyidatina ‘Aisyah. Ketika Rasulullah Saw kembali, beliau pun menanyakan mengenai seseorang yang mencarinya. Sayyidatina ‘Aisyah menjelaskan kedatangan Uwais. Kemudian Rasulullah Saw mengatakan bahwa Uwais yang taat pada ibunya itu penghuni langit. Rasulullah Saw meneruskan keterangan tentang Uwais kepada para sahabat. Seraya memandang Ali dan Umar beliau mengatakan, “Suatu ketika jika kalian bertemu dengan Uwais mintalah doa dan istighfar darinya. Wallahua'lam..


dikutip dari http://ozydiq.blogspot.com

Kamis, 04 April 2013

kumpulan kata-kata cinta terindah tentang Ibu

para Ibu selalu mencintai putera-putrinya meski mereka kurang menunjukkannya. - (hope floats)

kasih Ibu terhadap anak seperti air sungai yang terus mengalir, kasih anak kepada Ibu sulit dipahami sebagaimana air di danau yang terkadang bergerak dan terkadang diam. - (Abdul Rahman M)

sebelum kau dikandung, Ibu menginginkan kau ada. sebelum kau dilahirkan, Ibu sudah menyayangimu. sebelum kau keluar dari kandungan, Ibu rela mati untukmu. inilah keajaiban Cinta Ibu. - (Maureen Hawkins)

pekerjaan seorang lelaki dimulai saat mentari terbit hingga saat mentari terbenam, sedangkan pekerjaan seorang Ibu tidak pernah selasai. - (Anonim)

Ibu. itulah nama Bank tempat kita menyimpan seluruh kesedihan dan kekhawatiran. - (T Dewitt Talmage)

saat kau menjadi Ibu, kau tidak pernah berpikir untuk dirimu sendiri. seorang Ibu harus selalu berpikir dua kali, sekali untuk dirinya sendiri dan sekali untuk anaknya. - (Sophia Loren)

kasih Ibu serupa dengan bahan bakar yang membuat manusia biasa mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin. - (Marion C Garretty)

Ibu adalah ia yang cepat-cepat berkata tidak ingin makan pai ketika ia melihat empat potong kue pai untuk lima orang. - (Tenneva Jordan)

menjadi seorang Ibu penuh waktu adalah salah satu pekerjaan dengan bayaran tertinggi, karena bayarannya adalah cinta yang murni. - (Mildred B Vermont)

beberapa Ibu bersikap lembut dan beberapa lainnya bersikap keras, namun cinta mereka sama, dan sebagian besar Ibu bersikap baik lembut dan keras. - (Pearl S Buck)

hati seorang Ibu adalah sebuah jurang yang dalam, yang didasarnya bisa kau temukan maaf. - (Honore de Balzac)

para Ibu lebih menyukai anaknya dibanding para ayah menyukai anaknya, ini karena Ibu lebih yakin bahwa anak mereka benar-benar anak mereka. - (Aristotle)

aku mencintai Ibuku sebagaimana pepohonan mencintai air dan sinar mentari. Ibu membantuku tumbuh besar, menjadi sejahtera, dan membantuku mencapai pencapaian-pencapaian hebat. - (Terri Guillemets)

cinta seorang Ibu adalah kesabaran dan kata maaf disaat orang-orang lain meninggalkan kita. cinta Ibu tidak pernah gagal ataupun terputus meski hatinya tersakiti. - (Helen Rice)

atas diriku sekarang ini, maupun harapanku atas diriku, aku berutang pada Ibuku, malaikatku. - (Abraham Lincoln)


dikutip dari anneahira.com