Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Senin, 24 Juni 2013

Sepenggal Doa Ibunda

“Masa silam saya kelam,” ucap anak muda itu mengenang masa lalunya. Penampilannya yang necis tak membersitkan sedikit pun sebagai mantan pecandu obat terlarang. Rambut lurus bagai kucai dipotong pendek. Sisirannya yang dibelah tengah menambah tampilan lebih apik. Semburat wajahnya menyimpan keteduhan.“

Dulu, ganja, putaw, atau sabu adalah teman setia saya,” lanjut pemuda itu. Awal dirinya berkenalan dengan barang-barang terlarang adalah dari teman bergaul. Beberapa teman sepermainan menyeretnya untuk coba-coba mengisapnya. Satu, dua kali hingga akhirnya menjadi candu. Dirinya menemukan suasana lain setelah mengonsumsi obat-obat tersebut, fly. Semakin hari, dari waktu ke waktu, intensitas pemakaian obat itu pun bertambah. Akhirnya, dia merasakan, apabila tidak mendapatkan obat terkutuk tersebut, dia merasa tersiksa.


“Bahkan, sampai saya harus menyilet lengan saya lalu saya isap darah yang keluar. Itu jika saya tak bisa mendapatkan barang setan tersebut,” tuturnya datar seraya memperlihatkan bagian kedua lengannya yang diiris-iris untuk diisap darahnya.

Beragam obat terlarang pernah masuk ke dalam tubuhnya. Mulai yang diisap hingga yang disuntikkan. Saat itu, dirinya benar-benar terjerat sekawanan setan. Tidak bisa lepas. Teramat sangat sulit untuk memisahkan diri dari mereka. Setiap saat seakan-akan dirinya dikuntit, terus disodori barang-barang terlarang.

Nasihat dari orang tuanya tidak pernah dihiraukannya. Begitu pula nasihat dari saudara-saudara atau sanak famili, didengarnya, tetapi tidak pernah digubris. Ia pun tetap bergelut dengan narkoba. Bisik rayu setan lebih ampuh baginya dibandingkan dengan nasihat. Perangkap Iblis benar-benar mencengkeramnya.

“Karena saya tidak pernah menghiraukan nasihat, ada saudara orang tua saya yang mengusulkan agar saya tidak lagi diakui sebagai anak,” akunya. “Namun, ibu saya tidak setuju,” paparnya sendu mengenang hal itu.
Akibat perbuatannya, nama baik keluarga tercoreng di hadapan masyarakat. Apalagi ibunya adalah seorang pegiat dakwah. Ibunya sering diminta mengisi berbagai pengajian. Tidak sedikit masyarakat yang mencemooh dan melecehkan orang tuanya, terutama ibunya. Bisa mengajari orang lain, tetapi anak kandungnya sendiri terjerat nafsu setan. Begitulah di antara kata-kata yang terlontar.

Sungguh, orang tuanya benar-benar sedang diuji. Tidak mengherankan apabila saudara-saudaranya mengusulkan agar dirinya dibuang, dikeluarkan dari anggota keluarga, dan tidak diakui lagi sebagai anak. Ini semua karena beratnya menanggung malu. Ya, malu karena nama baik keluarga tercoreng.

Di tengah cemooh, cercaan, dan hinaan sebagian orang, ibunya tetap sabar. “Setiap ada waktu, ibu selalu menasihati saya. Ibu selalu memberi kelembutan kepada saya,” kenangnya. Mata anak muda itu mulai berkaca-kaca. Ia berusaha untuk tidak menitikkan air mata. Ia berupaya tegar saat mengenang ibunya yang penyabar. Anak muda itu menghela napas panjang. Suasana sunyi. Daun di pepohonan bergoyang tersentuh angin. Langit biru tersaput tipis awan putih.

Satu malam, ibunya terbangun. Seperti biasa, ibunya menunaikan shalat tahajud. Malam demi malam dilaluinya dengan munajat kepada ALLAH. Malam demi malam ditaburinya dengan rukuk, sujud, zikir, dan doa. “Saat ibu tengah bermunajat, saya terbangun. Saya tatap ibu yang berselubung mukena putih. Seakan-akan mata tak mau berkedip. Saya tatap terus ibu,” ucapnya sungguh-sungguh.

Ia melanjutkan, “Saat saya menatap ibu, saya seperti diingatkan. Malam itu, kesadaran menyelinap ke dalam hati. Malam itu, saya bertobat,” kisahnya mengenang detik-detik tobatnya.

Sejak peristiwa itu, kehidupan anak muda tersebut berubah drastis. Semangat hidupnya mencuat kembali. Kepedulian terhadap agama pun tumbuh. Ibadahnya mulai berlangsung teratur. Pemuda itu telah insaf, meniti kembali jalan yang benar. Kegelapan yang selama ini menyelimuti, sirna. Ia berada dalam cahaya terang benderang. Ia yakin, semua ini tak luput dari sepenggal doa ibunda, setelah kehendak ALLAH.

Kisah di atas nyata, pada sekitar tahun 1980-an.

Rasulullah Saw bersabda,

 “Tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang safar (dalam perjalanan), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. at-Tirmidzi no. 3448 dari Abu Hurairah z, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam ash-Shahihah no. 598 dan 1797)

Setiap orang tua tentu menghendaki anaknya tumbuh menjadi orang yang baik, tidak menyusahkannya, apalagi membuat ulah di masyarakat. Namun, terkadang antara harapan dan kenyataan tidak selaras. Anak yang dicita-citakan berkepribadian indah ternyata rusak ditelan oleh laju zaman. Walau orang tua telah mengupayakan pendidikan yang cukup, namun anak salah mengambil teman bergaul. Ia pun terseret kepada pola perilaku yang tidak baik. Hedonis; yang hanya ingin hidup bergaya, tampilan wah, gaya mewah ala borjuis, prinsipnya hanya ingin senang. Ia tidak mau hidup prihatin, apalagi hidup susah penuh perjuangan. Ia berusaha memenuhi setiap keinginannya walau harus dengan cara melanggar syariat. Atau, anak terseret menjadi “gali” (gabungan anak liar). Hidup di jalanan, memalak orang lain guna memenuhi kebutuhannya. Bisa jadi pula, ia terperangkap mafia narkoba, dan beragam kenakalan serta kejahatan bisa dilakukan oleh seorang anak. Nas’alullaha al-‘afiyah (Kita memohon keselamatan kepada ALLAH saja).

Semua itu bisa disebabkan oleh sikap mental yang rapuh, tidak mampu berpikir dewasa dan bijak. Bisa jadi pula, hal itu tumbuh karena dipengaruhi oleh teman. Dengan istilah lain, disebabkan oleh pergaulan bebas. Pergaulan yang tidak memberi rangsangan untuk menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik.

ALLAH telah menyebutkan bahwa anak dan harta adalah cobaan. Firman-Nya,

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi ALLAH-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 15)

Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mendoakan, mendidik, membimbing, dan mengarahkan anak. Manakala tugas tersebut telah tertunaikan secara baik dan sungguh-sungguh, namun anaknya tetap berperilaku tidak sesuai dengan yang diharap, tentu orang tua tidak lantas patah arang, berputus asa. Hendaknya orang tua menyadari, sesungguhnya Allah-lah yang memberi hidayah. Firman-Nya,
“Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 178)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah merinci perihal hidayah. Pertama, hidayah yang disebut sebagai al-huda (petunjuk) dengan makna ad-dalalah (tuntunan) dan al-bayan (penjelasan). Ini sebagaimana yang dijelaskan oleh firman-Nya,

“Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (Fushshilat: 17)

Kedua, hidayah yang berbentuk al-huda (petunjuk) dengan makna at-taufiq dan al-ilham. Hidayah dengan makna ini hanyalah ALLAH yang memberi. Adapun manusia, termasuk Rasulullah n, tidak memiliki kekuasaan untuk memberinya. ALLAH berfirman,

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi ALLAH memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (al-Qashash: 56) (Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah, hlm. 8—9)

Rasulullah Saw sangat menginginkan agar paman beliau, Abu Thalib, berislam dan mengucapkan kalimat tauhid menjelang akhir kehidupannya. Namun, sampai ajal tiba, Abu Thalib tetap kafir. Rasulullah n tidak memiliki kekuasaan untuk memberi hidayah at-taufiq bagi pamannya. Karena itu, turunlah ayat di atas (al-Qashash: 56). (Lihat Shahih al-Bukhari no. 4772, hadits dari Sa’id bin al-Musayyab)


Demikianlah. Rasulullah Saw telah berusaha semaksimal mungkin agar paman beliau menjadi seorang muslim. Nasihat, bimbingan, dan arahan beliau kepada sang paman sebegitu intensif. Namun, ALLAH berkehendak lain. Hidayah at-taufiq tidak turun kepada paman beliau.

“Sesungguhnya ALLAH menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (Fathir: 8)

Demikian pula Nabi Ibrahim q. Beliau terus-menerus menasihati ayahnya agar mau menerima dakwah tauhid dan menaati Allah l. Beliau n berbicara, “Wahai ayahku… wahai ayahku… wahai ayahku….”
Perhatikanlah firman ALLAH,

Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Rabb Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 42—45)

Akan tetapi, usaha sungguh-sungguh Nabi Ibrahim tidak membuahkan apa yang diharap. Ayahnya justru membalas nasihat Nabi Ibrahim q dengan ucapan yang dikisahkan oleh al-Qur’an,

Ayahnya berkata, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.” (Maryam: 46)

Pelajaran pun bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh q dengan anaknya. ALLAH berfirman,
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Hud: 42—43)
Setelah anaknya tenggelam, Nabi Nuh q memohon kepada ALLAH, sebagaimana dalam firman-Nya,
Dan Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu lah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (Hud: 45)

Namun, kemudian ALLAH menjelaskan kepada Nabi Nuh perihal kedudukan anaknya. Firman-Nya,
Allah berfirman, “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sungguh (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Oleh sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Hud: 46)
Lantas, Nabi Nuh q memohon ampun kepada ALLAH.

Nuh berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat) nya. Sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Hud: 47)
Para nabi ALLAH pun tidak bisa memberi hidayah at-taufiq kepada orang-orang terdekatnya. Meskipun demikian, kisah para nabi tersebut memberikan pelajaran, betapa mereka telah berupaya keras membimbing orang-orang terdekatnya. Mereka sangat kuat menghendaki orang terdekatnya berada di atas jalan Allah l, bukan jalan kesesatan. Akan tetapi, hidayah itu di tangan ALLAH.

Segenap upaya untuk membebaskan buah hati dari lingkungan yang tidak baik tentu memerlukan kesabaran. Sabar dalam hal menghadapi beragam aral merintang, baik kendala itu datang dari anak sendiri maupun dari lingkungan masyarakat. Hakikat itu semua adalah untuk menguji sejauh mana taraf kesabaran kita. Bisa jadi, seorang ayah atau ibu akan menghadapi cemooh dan cercaan dari orang-orang atas perbuatan anaknya. Namun, semua itu adalah ujian. Sabarkah ia menerima takdir yang telah ditetapkan oleh ALLAH ?
“Berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155)

Rasulullah Saw bersabda,

“Sungguh menakjubkan urusan seorang yang beriman. Sungguh, seluruh urusannya baik baginya. Tidaklah ada seorang pun (yang seperti itu) melainkan hanya seorang mukmin. Jika ia ditimpa sesuatu yang menyenangkan, ia bersyukur. Sikap syukurnya itu membawa kebaikan baginya. Jika ia ditimpa mudarat, ia bersabar. Sikap sabarnya itu membawa kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 64)

Dengan kesabaran, kita menepis keputusasaan. Dengan kesabaran, kita menebar banyak harapan. Dengan kesabaran, kita menuai kebaikan.

“Sabar itu kemilau cahaya.” (HR. Muslim “Kitabu az-Zakat”, “Bab Fadhlu at-Ta’affuf wash Shabr” dari Abu Malik al-Harits bin ‘Ashim al-Asy’ari)

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sabar. Amin.
Wallahu a’lam.


dikutip dari http://asysyariah.com

Minggu, 23 Juni 2013

kata ‘Ibu’ Begitu indah

Kata ‘ibu’ begitu indah bagi para perindu Ilahi. Kata bertuah bagi mereka yang memiliki hati. Ibu adalah sosok manusia kuat nan tangguh. Walau derita dan maut datang merapat, tak pernah ibu mau menggugat.


Selama sembilan bulan, ibu tampil sebagai penjaga paling perkasa. Saat sang bayi lahir, apakah bayi tadi mengalami de javu, mendengar detak jantung, semburat alam rahim terulang kembali. Oh ibu, sungguh di kakimu ada surga. Di hatimu ada cahaya dan dalam setiap desah nafasmu yang kudengar hanyalah cinta.

Ketika ALLAH menyebut dirinya Ar Rahim maka hanya ibu yang memperoleh nama itu. Seakan-akan, siapa saja manusia yang menghinakan wanita, sesungguhnya ia telah melukai ALLAH Ar Rahim. Siapa saja anak yang menggoreskan luka di hati ibunya, walau hanya berkata ”ah”, niscaya pintu-pintu neraka bergetar haus rindu melahapnya.

Suatu ketika, seorang pemuda bernama Thalhah As Sulami datang menghadap Rasulullah SAW. Dia berkata, ”Ya Rasulullah, sesungguhnya aku ingin sekali ikut berjihad di jalan ALLAH.” Rasul bertanya, ”Apakah ibumu masih hidup?” Jawabnya, ”Ya, beliau masih hidup.” Kemudian, Rasulullah bersabda, ”Bersimpuhlah kamu di kakinya. Di sana, tempat surga berada.”

Ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang siapakah orang yang paling berhak dimuliakan dan dilayani, Rasulullah menjawab tiga kali, ”Ibumu… Ibumu… Ibumu.”

Bersimpuhlah di kaki kedua orang tuamu. Tatap mata hatinya dan bisikkan dendang harapan merajut restu. Jangankan ucapannya, getaran hatinya saja adalah doa.

Ketika di hadapan orang tuamu jadilah ‘penghibur sejati’, karena kalbu keduanya bisa menjadikan anak-anaknya ahli surga atau neraka. Hidup menjulang atau menjadi pecundang. Dengarkanlah, betapa ALLAH telah berfirman, ”Dan, ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan, rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.” (17: 23-24).

Seandainya kita berjalan kaki sambil menggendong ibu, kemudian mendaki dari lembah paling dalam menuju puncak gunung menjulang, sungguh takkan pernah akan mampu mengembalikan darah dan air susu ibu yang telah tumpah. Maka, dengan rasa haru, ukirlah di hati sebuah kata paling indah, Ibu!

Berbahagialah bila orang tua memanggil atau menyuruh kita mengerjakan sesuatu. Karena sesungguhnya, mereka sedang membuka pintu-pintu keberkahan Ilahi yang akan dikucurkan dari arah yang tak terduga.


Oleh KH Toto Tasmara 
dikutip dari http://rifanytop.blogspot.tw

Minggu, 16 Juni 2013

Perjuangan seorang Ibu yang Melahirkan, Dibayar dengan Nyawa.

Meski tahu harus membayar dengan nyawanya, Donna Blanks asal South Wales tetap mempertahankan kandungannya. Si bayi lahir, sementara Donna meninggal.

Tak ada yang dapat menghentikan niatnya. Donna akan terus melanjutkan kehamilan meski harus kehilangan nyawa.

Kisah ini bisa dibilang bukti nyata kalau kasih ibu terhadap anak tiada terkira. Donna Blanks (32) asal South Wales rela mengorbankan nyawa agar punya anak. Tak hanya itu, Donna juga harus menderita sakit yang tak terkira selama mengandung dan sesudah melahirkan.

Pasangan Donna dan Gary Thomas telah menunggu lama sebelum akhirnya menyadari kalau mereka akan punya momongan. Setelah penantian 13 tahun, mimpi itu bisa terwujud.

Sayangnya, impian itu dirusak oleh kenyataan kalau Donna akan kehilangan nyawa jika mempertahankan kandungannya sebab dokter mendapati kalau Donna mengalami gagal ginjal.

Masalah ginjal itu membuat kehamilan menjadi berbahaya bagi nyawa Donna. Atas dasar pertimbangan itu, dokter telah meminta agar kandungan Donna digugurkan agar nyawanya selamat.

Usulan aborsi tersebut ditolak oleh Donna. Ia tak mau melepas kesempatan untuk menjadi seorang ibu yang sudah diimpikan selama 13 tahun. Donna pun bertekad untuk melanjutkan kehamilannya, meski tahu kalau kelahiran bayi ini harus dibayar dengan nyawanya sendiri.

Ibu dari Donna, Sallie (52), yang berasal dari Newport, South Wales, mengamini kalau impian Donna adalah menjadi seorang ibu. Menurut Sallie, menjadi seorang ibu adalah satu-satunya hal yang diinginkan oleh Donna seumur hidupnya.

Donna yang berprofesi sebagai perawat telah mengalami masalah medis sejak remaja. Akibatnya, Donna pun sempat berpikir kalau dia tak akan mampu memiliki momongan.

Ia telah menderita diabetes sejak usia 12 tahun. Kondisinya makin memburuk seiring bertambahnya usia. Kehamilan turut memperparah kondisi tubuh Donna.

“Karenanya, Donna percaya kalau ia mendapat keajaiban ketika hamil. Ia juga berjanji akan mengorbankan segalanya untuk melindungi kehamilannya, termasuk mengorbankan dirinya sendiri. Tak ada yang dapat menghentikan niatnya. Ia akan terus melanjutkan kehamilan meski harus kehilangan nyawa,” ucap Sallie.
Kehamilannya sendiri tak mudah. Demi janin yang dikandung, Donna harus berhenti mengonsumsi obat-obatan untuk masalah ginjal. Akibatnya, Donna mengalami sakit yang tak tertahankan.

Setelah 27 minggu, Donna mendapatkan impiannya, seorang bayi laki-laki telah lahir. Kebahagiaan Donna dibarengi dengan kondisi tubuhnya yang semakin memburuk.

Tak hanya itu, bayi yang diberi nama Cade ini lahir prematur dan dokter memprediksi hidup Cade tak akan lama. Dengan berat kurang dari 2,5 kilogram dan masalah pada katup jantung, Cade kecil berjuang untuk terus bertahan hidup.

Segala kemungkinan dijalani agar Cade terus bertahan hidup. Cade harus menjalani operasi jantung untuk menyambung hidup. Ia juga harus kembali naik meja operasi untuk membenahi masalah pada sistem pencernaannya. Malah operasi yang terakhir ini lebih sulit dan kompleks.

Namun, Cade membuktikan diri sebagai anak yang kuat. Kondisi Cade semakin membaik dan makin kuat. Sebaliknya, kondisi Donna malah makin lemah dari hari ke hari.

Imbasnya, Donna pun harus menjalani proses cuci darah sebanyak tiga kali seminggu di rumah sakit University of Wales. Ibu dan anak ini dirawat di rumah sakit yang sama, jadi Donna tetap bisa berada di samping Cade ketika di rumah sakit.

Setelah tiga setengah bulan, Cade sudah cukup kuat untuk meninggalkan perawatan dari rumah sakit. Donna pun memutuskan untuk mengubah jenis cuci darah yang dijalani agar bisa menemani Cade di rumah.

“Meski bahagia, kondisi kesehatan Donna terus menurun. Tapi putri saya seorang wanita yang tangguh. Ia tetap merawat Cade dengan bantuan dari kami,” ucap Sallie.

Sebenarnya ada alternatif medis yang bisa dilakukan oleh Donna. Dokter telah menawarkan operasi cangkok ginjal agar nyawa Donna selamat. Bahkan ayah dan kakak Donna, Russel dan Christopher, sudah bersedia untuk mendonorkan ginjal mereka. Keduanya adalah donor yang cocok bagi Donna.

Namun, kondisi Donna makin parah. Ia mengalami masalah dengan jantungnya. Artinya, ia tak bisa langsung menjalani cangkok ginjal begitu saja.

Akhirnya Donna harus kembali dirawat di rumah sakit setelah dokter menyuruhnya untuk menjalani terapi cuci darah yang berbeda jenis.

Pada kali terakhir Donna bicara pada keluarganya, ia mengatakan kalau dirinya merasa baik-baik saja dan berharap bisa berada di rumah keesokan harinya.

Tapi nasib berkata lain, tanggal 22 September dini hari, pihak rumah sakit mengabarkan Sallie kalau Donna sudah tiada.

Suster mendapati Donna terkena serangan jantung. Setelah 40 menit berjuang untuk menyelamatkan Donna, akhirnya tim dokter pun kalah oleh nasib. Donna secara resmi dinyatakan meninggal.

“Waktu yang kuhabiskan bersama Donna tak cukup lama. Meski tak lama, aku tahu dia wanita yang menakjubkan yang selalu melakukan apa saja untuk kebaikan orang lain. Dia benar-benar wanita yang sangat langka. Dia akan selalu kuingat,” ucap Gary, pasangan hidup Donna.

Sallie menambahkan kalau dia tidak siap untuk kehilangan putri kesayangannya. Meski demikian, Sallie bangga terhadap perjuangan Donna.

“Kami semua sedih akan kepergian Donna. Cade harus tumbuh tanpa sentuhan seorang ibu,” ucap Sallie.
Sallie turut merawat Cade dan merasa beruntung bisa melihatnya tumbuh besar. Sallie berjanji akan menceritakan semua perjuangan dan betapa mengagumkannya apa yang sudah dilakukan Ibunya Donna kepada Cade.

“Saya bisa melihat diri Donna ada dalam Cade. Saya berharap Cade mewarisi sifat dan rambut bergelombang milik Donna yang cantik. Cade pasti akan bangga terhadap ibunya,” imbuh Sallie. 


dikutip dari http://rinaldimunir.wordpress.com

Sabtu, 15 Juni 2013

Kisah Ibunda Syaikh Abdurrahman as Sudais

Seorang bocah mungil sedang asyik bermain-main tanah. Sementara sang ibu sedang menyiapkan jamuan makan yang diadakan sang ayah. Belum lagi datang para tamu menyantap makanan, tiba-tiba kedua tangan bocah yang mungil itu menggenggam debu. Ia masuk ke dalam rumah dan menaburkan debu itu diatas makanan yang tersaji.

Tatkala sang ibu masuk dan melihatnya, sontak beliau marah dan berkata, “idzhab ja’alakallahu imaaman lilharamain,” Pergi kamu…! Biar kamu jadi imam di Haramain…!”

Dan SubhanAllah, kini anak itu telah dewasa dan telah menjadi imam di masjidil Haram…!! Tahukah kalian, siapa anak kecil yang di doakan ibunya saat marah itu…??

Beliau adalah Syeikh Abdurrahman as-Sudais, Imam Masjidil Haram yang nada tartilnya menjadi favorit kebanyakan kaum muslimin di seluruh dunia.

=

Ini adalah teladan bagi para ibu , calon ibu, ataupun orang tua… hendaklah selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya. Bahkan meskipun ia dalam kondisi yang marah. Karena salah satu doa yang tak terhalang adalah doa orang tua untuk anak-anaknya. Sekaligus menjadi peringatan bagi kita agar menjaga lisan dan tidak mendoakan keburukan bagi anak-anaknya. Meski dalam kondisi marah sekalipun.

“Janganlah kalian mendoakan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitupun untuk anak-anakmu, pembantumu, juga hartamu. Jangan pula mendoakan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat dimana ALLAH mengabulkan doa kalian…”(HR. Abu Dawud)


dikutip dari http://kisahislam.net