Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Minggu, 02 November 2014

Ketika Ibu Cuci Muka Dengan Darah Nifas Putrinya (Kisah Nyata)

Sebuah kisah nyata yang membuat kita miris saat membacanya. Seorang wanita yang mulai tumbuh dewasa, akhirnya mendaftarkan diri menjadi seorang mahasiswa di salah satu kampus disalah satu kota. Sebagai orangtua, tentu saja berbahagia atas apa yang dicapai oleh putri tercintanya. Khususnya sang Ibu, selalu memberikan yang terbaik untuk putra-putrinya.

Sang Ibu-pun memulai memberikan pesan-pesan moral kepada putrinya agar senantiasa menjaga diri. Kewajiban orangtua adalah selalu memberikan bekal materi, nasehat dan do’a. Salah satu pesan seorang Ibu kepada putri tercintanya adalah, jangan keluar malam, belajar sungguh-sungguh, jangan berpacaran. Karena yang demikian itu sama dengan menyakiti dan melukai hati kedua orangtua, serta melanggar ajaran Rosulullah SAW. Mendengar petuah sang Ibu, mahasiswi itu manggut-manggut, sebagai bukti bakti seorang anak kepada kedua orangtua. Orangtua memang memiliki hak penuh atas anak-anaknya. Wajar, jika kemudian seorang Ibu berpesan demikian kepada putrinya, serta anak-anaknya.

Di jaman Rasulullah SAW juga ada seorang pemuda mengadukan ayahnya kepada Nabi SAW terkait dengan hak orangtua atas anaknya, Karena si ayah mengambil telah harta milik anaknya itu. Rasulullah SAW lantas memerintahkan anak lelaki itu agar supaya memanggil ayahnya. Ketika berada di hadapan Rasulullah SAW, ditanyakanlah hal itu.

Kemudian Rosulullah SAW bertanya kepadanya : “Mengapa engkau mengambil harta anakmu,” ?.

Kemudian lelaki itu menjawab dengan agak kesal:“Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah!. Kemudian orangtuanya sedikit memberikan penjelasan:’’Sebab, uang itu saya nafkahkan untuk saudara-saudaranya, paman-pamannya dan bibinya,”jawab orang tua itu.

Rasulullah SAW kemudian bertanya lagi:, “Ceritakanlah apa yang ada dalam hatimu dan tidak didengar oleh telingamu.”

Maka berceritalah si ayah ini.“Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah lantaran sakit dan deritamu. Aku tak bisa tidur dan resah, bagaikan akulah yang sakit dan bukan kau yang menderita. Lalu air mataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut. Padahal aku tahu, ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa dan berhasil mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman. Seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang, kau tak mampu penuhi hak ayahmu. Kau perlakukan aku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu, seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.”

Mendengar hal ini, maka Rasulullah SAW langsung memerintahkan kepada si anak, untuk memberikan hak orang tuanya. Hadis di atas menceritakan betapa besar pengorbanan orangtua, sehingga orangtua memiliki hak mutlak atas anak-anaknya. Seandainya, semua jiwa raga sang anak dikorbankan untuk orang tuanya, tidak akan cukup untuk membalas kebaikan dan pengorbanan seorang ayah dan ibu terhadap anaknya.

Masih terkait dengan perilaku sang mahasiswi terhadap ibunya. Ketika sudah menjadi mahasiswi, dimana kehidupan dunia kampus begitu panas dengan dunia cinta-cinta dan pacaran. Lelaki dan wanita sudah biasa bersama-sama, walaupun belum menikah. Bahkan, berdua-duaan sampai larut malam tidak menjadi masalah, walaupun mereka tahu kalau hal itu dilarang agama dan juga melukai hati kedua orangtuanya.

Ketika diingatkan orangtuanya, atau saudara-saudaranya mahasiswi itu selalu menjawab:’’aku tidak pacaran, aku cuma teman biasa…! Padahal semua orang tahu, kalau dirinya itu berpacaran dan telah menodai agama dan petuah orangtuanya.

Setiap hari, mahasiswi ini selalu menampakkan sikap yang tidak patuh kepada Ibunya. Padahal sang Ibu pontang panting mencari duit untuk biaya kuliah dan uang saku. Ratusan juta sudah dikeluarkan untuk mengantarkan putrinya meraih cita-citanya. pengornanan kedua orang tua diibaratkan ’’kepala di jadikan kaki, kaki dijadikan kepala demi masa depan anak-anaknya’’.

Tetapi, karena dunia kampus begitu keras dan panas dengan segala persaingan cinta. Maka, nasehat orangtua seringkali ditinggalkan, bahkan tidak pernah diduga sama sekali. Sebab, cinta itu telah membutakan dirinya. Bahkan semakin hari hubungan dengan lawan jenisnya semakin akrab, sehingga nyaris membahayakan sebagai seorang wanita muslimah. Tidak ada cara lain bagi orangtuanya, kecuali segera menikahkan keduanya dari pada harus menderita setiap menyaksikan putri dan lelaki itu selalu berdua kemana-mana tanpa ikatan nikah.

Akhirnya, menikahlah kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara itu. Setelah menikah, keduanya terlihat bahagia, karena kedua merasakan bahwa pasangannya adalah pilihan tuhan. Memang benar begitu. Tetapi, keduanya tidak merasa bahwa selama ini telah menyakiti hati kedua orangtua yang selama ini mengorbankan jiwa dan raga atas kelahirannya serta menyekolahkan dengan biaya yang cukup mahal.

Setahun kemudian, sang putri hamil. Ketika melahirkan, terjadi pendarahan yang begitu hebat. Berbagai cara telah dokter lakukan untuk menyelamatkan putrinya. Ternyata darah tetap deras mengalir. Orangtua terus menerus beristighfar kepada ALLAH SWT, memohonkan ampun kepada ALLAH SWT atas kesalahan-kesalahan yang selama ini dilakukan oleh putrinya. Tetapi, darah itu tetap saja mengalir deras, seolah-olah tidak mau berhenti.

Sang Ibu yang selama ini sering dikecewakan oleh putrinya, akhirnya melakukan cara aneh, unik, tergolong nekad. Karena cara ini tak lazim dilakukan. Betapa terkejut anak dan menantunya, darah yang mengalir di ambil dan membasuhkan ke mukanya berkali-kali. Sambil berlinang air mata, ibu itu terus membasuhkan dara nifas sang putri ke mukanya. Dengan ijin ALLAH SWT, tiba-tiba darah nifas itu berhenti (mampet). Orangtua mau melakuan ini demi putrinya, sementara sang putri masih belum merasakan kalau dirinya telah melukai hati sang Ibu salama ini.

Lagi-lagi, keajaiban muncul. Keikhlasan dan ketulusan seorang Ibu di dalam mengorbankan dirinya tidak ada batasan. Adakah kalimat yang lebih indah dan pantas untuk diucapkan kepada orangtua? Ketulusan Ibu dan ayah mampu menggegerkan penduduk langit. Para malaikat pun mengucapkan amin, ketika ayah ibu berdoa untuk anak-anaknya. Kemudian, adakah pengorbanan anak yang lebih besar melebihi pengorbanan ayah bunda?


dikutip dari http://abufahry.wordpress.com

Sabtu, 16 Agustus 2014

kasih sayang besar dari Ibu yang berjiwa besar

Xu Yuehua, seorang wanita tanpa kaki yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat sebuah yatim piatu di China, sungguh perkerjaan yang luar biasa. Dulunya Xu Yuehua adalah seorang gadis kecil yang normal seperti teman-temannya. Sampai pada suatu saat, waktu mengumpulkan batubara di rel kereta api. dan sebuah kecelakaan kereta api membuat Xu kehilangan kedua kakinya pada usia 13 tahun. Tidak ada kaki di usia yang sangat muda mungkin bagai dunia telah berakhir bagi Xu yuenhua. Apalagi Xu Yuehua saat itu adalah yatim piatu. Tidak semua orang bisa menghadapi kenyataan hidup ini.

Di saat-saat rasa frustasi menyelimutinya, Xu Yuehua segera sadar untuk menjadikan hidup dan tubuhnya berguna untuk sesama selama dia diberi kesempatan hidup di dunia. Ia telah merasakan waktu kecil sebagai yatim piatu dulu, dan dengan mengandalkan dua kursi kayu pendek untuk menyangga tubuhnya dan untuk berjalan, Xu melanjutkan hidupnya dengan tujuan dan semangat yang mulia, yaitu mengasuh dan membesarkan anak-anak yatim piatu .

Di Xiangtan Social Welfare House yang membantunya melalui masa-masa sulit ini Xu menemukan panggilannya. Saat ini, Xu telah menjalani 37 tahun merawat anak-anak yatim piatu di lembaga kemanusiaan ini. Dengan keterbatasannya, sudah 130 anak yang dibesarkan Xu. Memang tidak mudah untuk berpindah dari ranjang yang satu ke ranjang lain menggunakan bangku pendek. Belum lagi saat harus menyusui, meredakan tangisan bayi yang rewel dan mengajak mereka bermain. Namun wanita yang disebut ‘The Stool Mama” ini melakukan semua hal dengan sebaik-baiknya.

Dengan melakukan yang terbaik, satu per satu kekhawatiran dalam kehidupan Xu Yuehua seakan dijawab oleh Yang Maha Kuasa. Pada tahun 1987, Xu menikah dengan Lai Ziyuan, seorang petani sayur di panti asuhan yang sama dan melahirkan anak laki-laki, Lai Mingzhi, tiga tahun kemudian. Xu mengaku sangat bahagia dengan hidup dan pengabdiannya.

Dalam benaknya, cacat fisik bukanlah menjadi batasan ataupun halangan seseorang untuk melakukan sesuatu dan berbagi demi mengurusi orang lain. Bahkan dengan kerendahan hatinya yang sangat tulus, perempuan tersebut mengatakan, dirinya bukanlah orang hebat. Apa yang dilakukannya semata-mata hanya untuk memberikan kasih sayang seorang ibu. Untuk anak-anak yang nasibnya kurang beruntung, karena telah kehilangan orang tua.

Ia telah merasakan kehilangan kedua orangtuanya sejak masih kecil. Mulai saat itulah, dirinya dirawat di Rumah Yatim Piatu Xiantan. Dengan menggunakan kursi kecil untuk menggantikan kedua kakinya tersebut, Xu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Seperti memberi makan, mencuci, mengganti selimut, bahkan kadang membuatkan sepatu untuk 130 anak yatim asuhannya.

Mengasuh dengan Sepenuh Hati

Sheng Li, salah seorang anak asuh Xu Yueahua menuturkan, bahwa Xu merupakan pahlawan di mata anak-anak penghuni rumah panti asuhan Xiantan. “Tanpa Ibu Besar (panggilan untuk Xu Yuehua), mungkin saya sudah meninggal sejak lama. Suara kursi kecil yang menjadi tanda datangnya Ibu Besar merupakan suara yang terindah yang pernah saya dengar hingga saat ini,” ungkap Sheng Li.

Meski telah memiliki keluarga sendiri Xu tetap merawat anak-anak di panti asuhan di tempat dirinya dulu dibesarkan. “Saya bukanlah orang hebat. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, yaitu memberikan kasih sayang seorang ibu untuk anak-anak malang itu,” ucap Xu merendah.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga, bahwa kebahagiaan selalu ada dalam setiap orang yang selalu berpikir positif, berpikir maju dan tidak berkubang dalam penderitaannya.


dikutip dari http://tercerahkan.com

Senin, 14 Juli 2014

pengorbanan Ibu tak terbalas

Seorang ibu mengintip dari celah pintu di dekat dapur. Mencoba menahan air matanya yang sudah terkumpul di matanya yang sudah mulai keriput. Hatinya sakit, setetes air mata yang ia tahanpun akhirnya jatuh membasahi pipi.

Ia terharu melihat keberhasilan anaknya, yang baru saja naik pangkat di Perusahaan tempat anaknya bekerja. Tapi layaknya seorang ibu, ia seharusnya berada di samping anaknya untuk ikut merasakan kebahagiaan. Dalam hati Ia membatin, “Selamat yaa Nak... Ibu juga bahagia jika melihat kau bahagia“, Sebuah kalimat yang tulus dari lubuk hati paling dalam dari seorang Ibu. Air matanya menyiratkan kebahagiaan, tapi miris melihat kenyataan yang ada.

Tiba-tiba ia teringat perkataan anaknya, Pokoknya, kalau teman- teman dan atasanku datang, Ibu tidak boleh ikut merayakan bersama kami di ruangan itu dan jangan pernah bertemu dengan teman atau atasanku“ kata anaknya dengan lantang, “dan Aku tidak mau mereka tahu kalau aku punya ibu dengan satu mata dan penyakitan. Jadi Ibu lebih baik di dapur saja yaa“, Anaknya mengucapkan kata-kata itu dengan enteng, tanpa memikirkan perasaan ibunya. “Iya Nak“, Sebuah jawaban yang begitu tulus dari mulut seorang ibu.

Anaknya yang lupa diri itu menikmati semua masakan bersama teman- temannya, semua makanan disiapkan oleh ibunya. Kemudian salah satu atasannya bertanya, “masakan siapa ini ? enak sekali“, - “Itu masakan Ibu saya, Pak“ jawab si anak itu, “Wah, masakannya enak sekali. Sampaikan salamku untuk Ibumu ya, katakan padanya bahwa saya menyukai masakannya yang lezat ini“, tutur atasannya terkagum-kagum , - “Baik pak!“ Jawab anak muda itu.

Beberapa waktu kemudian, si anak itu kembali naik jabatan, untuk merayakannya ia kembali mengadakan acara makan-makan di rumah bersama teman-teman dan atasannya. Dan seperti sebelumnya, sang Ibu hanya ikut merayakan keberhasilan anaknya itu di dapur dan bersedih. Teman- teman dan atasan si anak muda itu sangat menikmati masakan lezat sang Ibu. Masakan yang benar-benar lezat. Kemudian atasannya berkata, “pasti ini masakan ibumu, kan?“ , - “Iya, Pak“. “Di mana beliau sekarang?“ Sang anak kebingungan menjawab pertanyaan atasannya itu, ia mencoba mencari alasan agar mereka tidak tahu keadaan Ibunya.

Tapi tiba-tiba atasannya melihat seorang ibu-ibu tua berada di dapur. Iapun segera menghampiri ibu itu dan berkata, Ibu yang memasak semua masakan ini,kan? Ibu itu sedikit ragu dan menjawab “ii.iii...iiya, Pak“ - “Wah masakan Ibu enak sekali. Saya sangat menikmatinya. Tapi mengapa Ibu tidak ikut makan bersama kami?“ Pertanyaan atasan anak ibu itu membuat sang ibu terdiam.

Tiba-tiba si anak menghampiri Ibunya itu dengan menyeret ibunya dengan cara kasar ke belakang, “Kan aku sudah bilang, Ibu tidak boleh bertemu dengan atasan atau teman-temanku, Aku malu, bu!“ si anak sangat marah. “Maafkan Ibu, Nak...“. Ibu itu mencoba meminta maaf kepada anaknya. Lalu anak itu berkata “cukup Bu !!! mulai sekarang Ibu tidak boleh tinggal bersamaku lagi“. Sambil menangis, Ibu itu terus meminta maaf kepada anaknya. Tapi anak itu seperti berusaha tidak memperdulikan ibunya.

Pada akhirnya, anak muda tersebut membelikan sebuah rumah kecil untuk ditinggali ibunya. Hal itu ia lakukan agar tak ada yang tahu keadaan ibunya. Kasihan sekali ibunya, sudah sakit-sakitan dan dicampakan anaknya.

Kemudian sang anak kembali naik jabatan, kali ini adalah jabatan tertinggi. Sebuah acara yang lebih besar telah ia persiapkan. Tanpa Ibunya untuk menyiapkan hidangan seperti biasanya. Ibunya mengetahui kabar suka cita itu dan si ibu menitipkan sebuah surat kepada seseorang untuk di berikan kepada anaknya. Dalam surat itu tertulis :

“Untuk Anakku tersayang....., Selamat atas keberhasilanmu, Nak... Ibu sangat bahagia. Maaf Ibu tidak bisa datang, karena Ibu tahu kamu tidak menginginkan kedatangan Ibu. Ibu tahu kamu malu dengan keadaan Ibu, seorang Ibu yang hanya punya satu mata dan penyakitan pula. Tapi perlu kamu ketahui Nak! salah satu mata ini kuberikan padamu, ketika kamu mengalami kecelakaan waktu kecil. Ibu rela Nak.. Ibu rela... Asalkan kamu bahagia......“


dikutip dari papareyhanz.com dengan sedikit penyesuaian

Sabtu, 12 Juli 2014

Kisah Pengorbanan Seorang Ibu

Selama bertahun-tahun Stacie Crimm mengira dirinya tidak subur karena sulit punya anak. Hingga akhirnya ia bisa hamil saat berusia 41 tahun. Namun selama hamil ia terkena kanker kepala dan leher stadium lanjut. Demi menyelamatkan nyawa sang bayi yang sangat diinginkannya Stacie menolak kemoterapi. Stacie tak ingin efek negatif kemoterapi berimbas ke bayi yang dikandungnya. Tapi akibat menolak kemoterapi, tubuhnya menjadi sangat lemah selama masa kehamilan.

Stacie merasakan ada kondisi yang serius di tubuhnya setelah beberapa minggu kehamilannya. Ia mulai merasakan kekhawatiran serius karena sering mengalami sakit kepala parah, penglihatan ganda dan juga tremor yang melanda setiap inci tubuhnya.

Akhirnya pada bulan Juli ia memeriksakan diri ke dokter dan hasil CT scan menunjukkan ia menderita kanker kepala dan leher stadium lanjut. Saat itu ia harus memutuskan untuk memilih antara hidupnya atau bayi yang dikandungnya. Saat itu ia menolak melakukan perawatan kemoterapi agar bayinya tetap hidup.
“Ia mulai menceritakan kekhawatirannya pada saya, ia bilang khawatir tentang bayi ini, tapi berharap bisa hidup cukup lama untuk memiliki bayi ini. Jika terjadi sesuatu padanya maka rawatlah anak ini,” ujar Ray Phillips, kakak Stacie seperti dikutip dari Dailymail.

Sebulan setelah didiagnosa kanker, Stacie ambruk dan langsung dibawa ke OU Medical Center di Oklahoma City. Dokter mengatakan tumor telah membungkus sekitar batang otaknya. Dua hari kemudian detak jantung bayi yang dikandungnya mulai menurun dan jantung Stacie berhenti berdetak.

Dokter dan para perawat memutuskan untuk melakukan operasi caesar agar bisa menyelamatkan nyawa sang bayi. Stacie mampu bertahan 5 bulan sejak dinyatakan kanker sebelum akhirnya dipaksa untuk melahirkan bayinya secara prematur melalui caesar. Bayi itu diberi nama Dottie Mae yang memiliki berat 0,93 Kg.

Bayi Dottie Mae akhirnya selamat dilahirkan dengan berat badan lebih rendah dibandingkan rata-rata berat bayi lainnya sehingga harus ditempatkan ke ruang khusus perawatan intensif neonatal. Sedangkan Stacie yang kondisinya makin melemah harus dibawa ke ruang perawatan intensif lainnya.

“Suster mengatakan bahwa Stacie sedang sekarat, napasnya terengah-engah dan tubuhnya sedang melawan kematian,” ungkap Ray.

Stacie harus berjuang agar bisa tetap hidup dengan bantuan ventilator dan obat penenang selama beberapa hari. Saat itu masih ada harapan baginya untuk hidup. Namun kanker yang diderita telah membuat salah satu matanya makin sulit melihat dan menghancurkan otot.

Kanker itu juga telah melumpuhkan tenggorokannya sehingga jika ia berbicara, kata-katanya tidak bisa dimengerti. Tumornya juga telah menyebar ke otak yang membuat ia sering tidak sadar dan bahkan tidak mampu menandatangani akte kelahiran Dottie Mae.

Saat itu Stacie sangat lemah untuk bisa menemui bayinya di ruang perawatan khusus. Dan sang bayi pun terlalu lemah untuk dibawa ke ruang perawatan ibunya karena masih menggunakan alat-alat perawatan neonatal. Kedua kondisi ini tidak memungkinkan bagi keduanya untuk bertemu.

“Saya merasa tidak berdaya, saya ingin sekali membantunya dan melakukan apapun agar ia bisa bertemu dengan bayinya. Tapi mereka mengatakan tidak mungkin baginya untuk melihat sang buah hatinya,” ujar Ray.

jantung Stacie berhenti bernapas tapi ia berhasil hidup kembali. Staf rumah sakit mengatakan pada keluarga bahwa ia sudah sangat dekat dengan kematian. Tapi Stacie belum sekalipun menatap mata biru bayi kecilnya dan mencium bayi yang berhasil diselamatkannya.

Hingga akhirnya perawat Agi Beo meminta tim medical centre’s neonatal transport untuk menggunakan perawatan bayi yang bisa dipindahkan agar bisa mendekatkan bayi Dottie ke ibunya. Kereta perawatan bayi Dottie kemudian dibawa ke ruangan ibunya dengan begitu jika dikeluarkan sebentar bayi Dottie bisa langsung dikembalikan ke kotak bayinya.

Ketika bayi Dottie didekatkan, mata Stacie terbuka dan ia mulai melihat sekitarnya untuk menemukan sang buah hati. Para perawat dengan segera meletakkan bayi Dottie di dada kanan ibunya. Keduanya saling menatap satu sama lain selama beberapa menit.

“Tidak ada yang mengatakan apa-apa pada saat itu. Saya bilang pada adikku bahwa ia telah melakukan suatu hal yang indah dan ini adalah momen yang sempurna,” ungkap Ray.

Setelah melihat dan menggendong bayinya, 3 hari kemudian Stacie meninggal dunia karena kondisinya memburuk. Saat ini bayi Dottie tinggal dengan Ray bersama istrinya Jennifer dan keempat anaknya di Oklahoma City.

betapa besar pengorbanan seorang ibu bagi anaknya.. demi anaknya ibu ini rela meski harus kehilangan nyawanya…


dikutip dari http://revarius.blogdetik.com

Jumat, 11 Juli 2014

Innalillahi...Demi Lindungi Anak, Seorang Ibu Muda di Gaza Wafat

Serangan Israel terhadap warga Gaza terus menerus terjadi. Tindakan membabi buta di tanah Gaza ini menyebabkan korban jiwa terus berjatuhan. 

Bahkan, dalam serangan roket Israel ini, seorang ibu berusia 25 tahun, Suha Hamad, rela mengorbankan nyawanya demi melindungi keempat buah hatinya. Keempat anaknya berhasil selamat dalam serangan ini, namun seorang anak balitanya masih dirawat di ICU. 

Ibu muda ini menghadap Sang Khalik ketika sebuah rudal Israel menghantam rumahnya sekitar pukul 11 malam waktu setempat. Pada Selasa malam, Suha membawa ketiga anaknya untuk tidur di sebuah ruangan di rumahnya. Ia mengira ruangan tersebut merupakan ruangan teraman di rumahnya.

Kemudian, ketika ia kembali untuk mengambil anak balitanya yang berusia empat bulan, tiba-tiba sebuah rudal menghantam.

Mahdi Hamad, ayah Suha, mengatakan tak ada satupun yang telah memperingatkan mereka untuk evakuasi dan tak ada anggota yang melawan di sekitar rumahnya. ''Kaca pecah di belakang anak-anak dan sejumlah pria jatuh dan berlumuran darah,'' katanya. 

''Dengan siapa mereka harus hidup ketika mereka kehilangan ayah dan ibunya,'' kata ibu Suha yang tampak sangat berduka. ''Kejahatan apa yang anak-anak ini telah lakukan sehingga dihukum seperti ini,'' tambahnya.

Israel telah menargetkan rumah keluarga Hamad dan menewaskan enam anggota keluarganya. Yakni, Ibrahim Muhammad Hamad (26), Mahdi Muhammad Hamad (46), Fawziyeh Khalil Hamad (62), Dunia Mahdi Hamad, (16), dan Suha Hamad (25).

Pesawat tempur Israel mengembom rumah tersebut pada Selasa malam dan membunuh pejuang Jihad Islam senior serta lima anggota keluarganya. Juru bicara menteri kesehatan Gaza, Ashraf al-Qidra mengatakan serangan tersebut menewaskan Hafiz Hamad dan lima anggota keluarganya.

Lanjutnya, ia membenarkan kematian enam kerabatnya dalam serangan di rumah keluarga Hamad di Beit Hanoun di utara Jalur Gaza. Ia menyebutkan para korban tersebut adalah Hafiz Mohammed Hamad (30), Ibrahim Mamedhmed (26), Mahdi Mohammed Hamad (46), Fawzia Khalil Hamad (62), Mehdi Hamad (16), dan Suha Hamad (25).


dikutip dari  republika.co.id

Kamis, 10 Juli 2014

kesabaran anak dan kesabaran Ibu

Aisyah memiliki seorang anak gadis yang sangat pintar bernama Sabila. Kini Sabila lulus dari sebuah universitas terkemuka. Aisyah sungguh bangga kepadanya dan selalu berharap Sabila segera pulang ke rumah. Aisyah sangat merindukan Sabila. 
 
Hari kedatangan Sabila tiba. Aisyah menunggunya di depan pintu rumah dengan senyum tulus. Setelah melepas rindu dengan memeluk Sabila, mereka duduk santai di depan rumah. 
 
Aisyah yang beranjak tua, kagum dengan kecerdasan Sabila. Sabila bercerita tentang masa kuliahnya yang menarik. Sebenarnya, Aisyah tidak begitu memahami apa yang diceritakan Sabila. 
 
"Jadi, apa gelar yang sekarang kaumiliki?" tanya Aisyah.
"Sarjana."
 
Aisyah mengangguk-angguk kemudian mengulangi pertanyaan yang sama. 
Sabila menganggap ibunya tidak mendengar jawabannya. Lalu, dia mengatakannya kembali dengan suara lebih keras, "Gelarku sarjana, Ibu!" 
 
Aisyah kembali mengangguk-angguk. Sabila kembali bercerita dengan riang. Tak lama kemudian, sang ibu bertanya lagi. 
 
"Jadi, apa gelar yang sekarang kaumiliki, Anakku?" 
 
Sabila menatap ibunya. "Sarjana, Bu!!" 
 
"Ooh...," kata Aisyah membulatkan mulutnya. 
 
Mereka lalu mengobrol kembali.
"Nah, Anakku, Ibu ingin tahu gelar apa yang kaumiliki sekarang?" tanya Aisyah. 
 
Sabila mendelik ke arah ibunya dan hilang kesabaran, lalu menjawab pertanyaan Aisyah sambil membentak, ’Ya ampun, Ibu, sarjana!!!" 
 
Sabila marah dan merasa ibunya tidak mengerti apa yang dikatakannya. 
 
"Apa, Nak?" 
 
"Ibu!! Barangkali Ibu memang tidak mengerti apa yang aku katakan, ya? Aku sudah menjawabnya berulang kali dan Ibu tetap bertanya. Apakah Ibu ingin aku kembali mengatakannya? Sarjana! S-a-r-j-a-n-a," kata Sabila dengan marah. Dia merasa obrolannya terus terpotong oleh pertanyaan ibunya. 
 
Aisyah menunduk, lalu beranjak dari duduk dan meninggalkan Sabila. Tak berapa lama, Aisyah kembali dan menggenggam sesuatu di tangannya. Dia lalu menyerahkan benda itu pada Sabila yang masih marah. 
 
"Bacalah, Anakku. Di dalamnya, Ibu menulis tentangmu semasa kecil," kata Aisyah lembut. 
 
Sabila membacanya.
"Setiap hari, Sabila kecilku selalu bertanya tentang apa saja yang dia lihat. Aku bangga padanya.
Suatu kali, dia bertanya tentang suatu benda di depan rumah hingga berkali-kali. Dia terus bertanya hal yang sama, tetapi aku tetap menjawabnya dengan sabar. Bahkan ketika kuhitung dia bertanya lebih dari 30 kali tentang benda itu. Aku menjawab mengenai hal itu dengan penuh kasih sayang dan semoga jawabanku yang akan membawanya menjadi manusia yang penuh dengan ilmu. 
 
Aku berharap, dia akan menjadi anak yang pintar dan kelak jika aku tua, aku bisa bertanya padanya tentang hal yang tidak aku ketahui. Ya, karena ketika dia besar, zaman kami sudah berbeda dan saat itu akulah yang akan belajar pada anakku." 
 
Setelah membaca buku itu, Sabila menatap Aisyah yang menunjukkan wajah sedih. 
 
"Sungguh Anakku, aku tidak menyadari bahwa pertanyaanku akan membuatmu marah, walau Ibu hanya menanyakan hal itu sebanyak 5 kali," kata Aisyah sambil menitikkan air mata. 
 
"Seorang sahabat bertanya, ’Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku,’ Nabi saw. menjawab, "Ibumu... ibumu... ibumu, kemudian ayahmu, dan kemudian yang lebih dekat kepadamu, dan yang lebih dekat kepadamu.’" 
 

dikutip dari  http://kolom.abatasa.co.id

Selasa, 01 Juli 2014

Membalas Jasa Ibu

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,
"Ibu lebih diutamakan karena keletihan, curahan perhatian dan pengabdiannya. Terutama di saat hamil, melahirkan, menyusui dan mendidik anak hingga dewasa…" (Syarh Shahih Muslim)

Mampukah kita membalas jasa ibu…?

Tidak, Walau Satu Helaan Pun.
Tatkala ada seorang penduduk Yaman thawaf di sekitar kabah sembari menggendong ibu di punggungnya.
Lalu orang itu bertanya, Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi ibu…? 

Ibnu Umar menjawab,
Belum, walau satu helaan nafas ibumu saat melahirkanmu (Shahih, al-Adabul Mufrad: 11 al-Bukhari)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
Seorang anak tidak akan mampu membalas jasa kedua orang tuanya kecuali bila ia mendapatkan orang tua dalam keadaan menjadi budak, kemudian ia membelinya dan membebaskan….(Shahih, al-Adabul Mufrad: 10 al-Bukhari, Irwaul Ghalil: 1737 Al-Albani)

Saat ini, kita…
Tidak menggendong, tidak pula membebaskan ibunda dari perbudakan.
Yang ada…
Kerap dititipi mengasuh cucu, menjaga rumah, dan tambahan pekerjaan lainnya…
Bila pun kita tak mampu membuat bunda tersenyum, jangan jadikan ia menangis…


dikutip dari http://albashirah.com

Jumat, 11 April 2014

Kasih Sayangmu Ibu

Ibu…Maafkan aku…sejak  lahir hingga  kudewasa
Selalu menyusahkan hidupmu
Tak kan pernah bisa kubalas jasa – jasamu
Tak akan bisa Ibu

Meskipun ku berikan rumah mewah untukmu …
Takkan bisa menggantikan kenyamanan rahimmu,
saat aku menginap di sana selama 9 bulan

Hari demi hari,minggu demi minggu dan bulan demi bulan
bertambah berat dan nakalnya tendanganku di dalam rahimmu,
Tidak membuatmu enggan membawaku kemanapun kau pergi
Kau tidak mau kehilangan aku
Sampai sekarang…tidak pernah kau tagih uang sewa rahimmu padaku

Ibu …Takkan bisa kubayar pengorbanan nyawamu sewaktu melahirkanku
Nafasmu bisa saja berhenti sewaktu – sewaktu dan untuk selamanya
Tetapi itu semua kau
Itu semua demi aku
Demi anakmu untuk bisa melihat terangnya dunia
Demi anakmu untuk bisa menggapai harapan yang terbentang

Setelah lahir…. belum puas aku merepotkanmu
Selama setahun atau dua tahun...

Bahkan aku lupa ibu
Setiap malam selalu kuganggu  jam tidurmu dengan tangisan cengengku
Maafkan aku ibu…aku haus tetapi aku tidak bisa bilang,
aku cuma bisa menangis
Oh ibu …betapa halus hatimu sehingga bisa mengerti bahasa dan keinginanku

Dinginnya malam tak membuatmu enggan secepatnya bangkit meraihku
Kau dekap aku dan kau beri apa keinginanku
Belaian dan dekapanmu memberikan kehangatan di dalam hatiku
Senyum tulus yang terpancar dari wajah kuyumu, memberikan ketenangan dan kedamaian
di dalam keresahanku

Dan sampai sekarang… tidak pernah kau beri aku tagihan bon ASI
Tidak pernah ada perhitungan kasih sayang yang kau tagihkan
Ibu…sekarang aku sudah dewasa
Tetapi…kenapa aku tidak puas menyusahkanmu
Dinginnya pagi tidak membuatmu surut untuk menyiapkan sarapan pagi yang bergizi
Harapanmu hanya…supaya aku bisa konsentrasi belajar, pintar
Dan bisa meraih cita – cita yang kuinginkan

Tetapi kenapa aku tidak pernah menyadarinya
Kubantah selalu perintahmu,
kuabaikan selalu nasehatmu
Tetapi tidak pernah ada di dalam kamusmu
untuk merancang strategi pembalasan yang jahat padaku
Senyummu, ketulusan cinta itulah balasanmu

Aku tak heran ibu,
jika ada yang bertanya,
“Siapakah orang yang kau hormati?”
Lalu dijawab “ Ibumu,ibumu, ibumu lalu ayahmu”
Namamu disebut tiga kali dibandingkan dengan ayah, ibu
Betapa dimuliakannya dirimu
karena ketulusan kasih sayangmu
Meskipun kau tak mengharapkannya tetapi engkau layak mendapatkannya

Ibu…hanya doa yang bisa kuberikan padamu
Kupanjatkan setiap hari untuk kebahagiaan dan keselamatanmu
di dunia dan akhirat
Dan terimakasih atas kasih sayangmu padaku


dikutip dari http://family-writing.com

Kamis, 10 April 2014

7 Perjuangan Paling Mulia Seorang Ibu Dalam Hidup Kita

Pertama, Ibunda adalah orang pertama yang berani memberikan nyawanya untuk kita. Tahukah kita bahwa ibu merupakan satu satunya orang yang terbukti mau mempertaruhkan segenap hidupnya demi kebahagiaan kita. Saat kita berada dalam kandungan maka tiap langkahnya begitu hati-hati, kata-katanya dijaga dan ada berjuta perlakuan istimewa lainnya. Saat hari kelahiran telah mendekat, ibunda makin kepayahan dan hampir saja tak bisa bergerak, siang malam yang ada dalam pikirannya hanyalah kita…! Beliau tak pernah memikirkan dirinya, yang dipikirkan cuma keselamatan dan kebahagiaan calon buah hati yang telah diamanatkan oleh ALLAH SWT.
Ketika saat untuk melahirkan datang… ia pun bertekad untuk melakukan hal terbaik, ia rela meninggalkan dunia ini asal sang buah hati bisa lahir dengan selamat. Segenap hidup dan matinya telah dipasrahkan kepada ALLAH SWT, baginya dirinya tak begitu penting asal janin yang dikandungnya kelak bisa bahagia di dunia ini. Sungguh perjuangan dan saat-saat ibu mengalami hal ini tak pernah boleh kita lupakan, karena belum ada manusia lain yang bisa melakukan ini selain ibu kita.

Kedua, Mengasuh anak dengan penuh cinta dan kasih sayang. Jika kita kehilangan inspirasi atau motivasi dalam mencintai seseorang maka belajarlah pada sang ibunda tercinta. Ibu adalah sosok teladan yang bisa kita jadikan sebagai sumber kekuatan dalam membina ketulusan cinta. Apa yang ibunda lakukan bukan karena harta, tetapi beliau memberikan cinta hanya karena kita ingin bahagia, sukses dan selalu berdaya dalam menghadapi segala situasi. Dengan bekal cinta dan kasih bunda yang tulus maka seorang anak akan berkembang dan maju sebagai manusia yang kuat dan berguna bagi orang lain. Anak-anak yang dibesarkan dengan rasa cinta akan punya toleransi yang tinggi dan jauh dari sikap angkuh, tidak sombong dan tak banyak mengeluh ketika menghadapi kesulitan.

Ketiga, Ibunda rela tinggal digubug derita asal sang anak bisa hidup layak. Kita sering mendapati bagaimana orang yang sangat sukses tetapi begitu rendah hati. Ia sangat pandai menghargai semua orang, bahkan kepada pengemis pun dia begitu baik sikapnya. Kita pasti bisa membayangkan betapa baiknya orang tadi, kalau pada peminta-minta saja sangat santun maka kita tak perlu bertanya bagaimana sikap dia ke sesama. Suatu hari sebagian orang pun bertanya mengapa ia bisa melakukan hal ini? Maka dengan nada rendah hati ia menjawab jika hal itu terinspirasi dari sang ibunda, bagaimana dulu orang tuanya hidup dalam kekurangan secara ekonomi, tetapi mereka tak pernah lupa untuk menyiapkan hal-hal penting hingga dirinya bisa tinggal di istana dan mencapai kesuksesan seperti sekarang.

Keempat, Ibunda rela menjadi budak sang anak… Tampaknya hal ini kadang kita lupakan, kita kadang tak sadar kalau terlalu sering memerintah kepada ibu yang telah melahirkan kita dengan taruhan nyawanya. Seberat apapun perintah itu selalu dijalankan oleh ibunda, beliau melakukan dengan hati yang ikhlas karena rasa cintanya yang demikian tinggi kepada anak-anaknya. Hal-hal seerti ini memang kadang baru disadari oleh sang anak ketika beliau telah pergi untuk selama-lamanya. Apakah ibunda mengeluh ketika mendapat perintah dari anaknya ? Ternyata tidak, beliau menanggapinya dengan senyuman, menjalankan perintah itu dengan semangat dan ketika semua perintah telah dijalankan beliau pun tidak kecewa karena tak pernah mendapat ucapan terima kasih dari kita. Sungguh…hal-hal ini jangan pernah kita lupakan…, catat baik-baik dalam hati dan pikiran kita , karena itu akan sangat berguna dalam hidup kita.

Kelima, kesabaran tanpa batas seorang ibunda yang dibentak anaknya. Memang keterlaluan jika anak yang telah dikandung, diasuh dan dibesarkan berani membentak ibundanya. Cuek bebek dan main kasar dengan ibunda merupakan cermin hati yang keras, meski ibunda sakit mendapat perlakuan yang tak semestinya tetapi beliau tetap mau memaafkan kesalahan anak-anaknya. Rasa sakitnya hanya sementara, ia anggap itu hanya luka kecil yang akan sembuh dengan sendirinya. Kalau diibaratkan maka kesabaran sang bunda itu bagaikan samudera yang luas, sementara tindakan anak yang kejam kepada bunda laksana bangkai-bangkai berbau busuk yang dilempar ke tengah lautan, namun kita tahu bangkai itu tak akan membuat samudera hati bunda berbau busuk, justeru bangkai itu lama kelamaan akan lenyap dengan sendirinya lewat doa tulus sang ibunda.

Keenam, Doa tulus sang Ibunda yang tak pernah berhenti. Mungkin harus kita akui jika seorang anak sering lupa untuk mendoakan ibundanya, namun tidak demikian dengan ibunda, beliau selalu berdoa untuk kebaikan kita, senakal apapun dan sekejam apapun maka ibunda tetap menggantungkan harapan baik kepada kita. Beliau tak pernah lelah dan tak pernah bosan untuk menasehati kita, mungkin kelak kita akan sangat menyesal ketika kita ingat bagaimana kita selalu membantah tiap nasehat baik yang diberikan oleh ibunda. Kita akan rindu saat saat dinasehati oleh sang bunda, kita pun mengejar bayang-bayang sang bunda, namun sayang bayang-bayang itu tak mungkin lagi kembali dalam hidup ini..

Ketujuh,… Kita adalah hasil perjuangan ibunda. Mungkin kini kita begitu gagah, teramat hebat di depan orang lain hingga tak ada satupun yang bisa mengalahkan kita, tetapi jangan pernah lupa masih ada yang lebih hebat dari kita. Beliau mungkin saja tak bisa membaca, tidak lebih pintar dari kita, atau mungkin tak secantik puteri dunia, tetapi beliau inilah yang telah diberi kepercayaan oleh ALLAH SWT untuk menjadikan kita hingga seperti sekarang. Dialah Ibunda kita… yang akan meningggalkan kita atau kini bisa saja telah tiada. Bagi kita yang kini masih hidup bersama ibunda maka mari kita perbaiki bersama sikap-sikap yang tak semestinya, karena jika tidak maka kita pasti akan menjadi orang-orang yang paling menyesal dikemudian hari. Insya ALLAH kita semua bisa menjadi orang yang lebih baik dan lebih lembut sikapnya kepada ibunda kita tercinta. Amin..


dikutip dari http://blogterselubung.blogdetik.com

Selasa, 08 April 2014

Kisah Cinta Kasih Ibu Dan Anak

Dia adalah seorang anak susah yang terlahir dalam keluarga miskin, ayahnya wafat pada saat usianya tiga tahun, ibunya mencari nafkah dengan mencuci pakaian orang. Maka dia sadar kalau dirinya harus bekerja keras.

Pada usia 18 tahun, dia berhasil masuk perguruan tinggi dengan nilai yang tinggi. Demi mencukupi biaya sekolahnya, ibunya pernah menjual darah, namun dia berpura-pura tidak tahu, sebab takut melukai hati ibunya.

Dia sendiri pernah menjual darah secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui ibunya, mengangkut batu sampai tangannya berdarah, juga menjual koran, demi sedikit meringankan beban ibunya.

Pada masa liburan musim dingin tahun kedua, dia pulang ke rumah dan melihat ibunya sedang mencuci pakaian orang dalam cuaca sangat dingin, kedua tangan ibunya sampai pecah-pecah karena kedinginan. Ibunya berkata: “Pekerjaan lain sulit ditemukan, jadi hanya bisa mencuci pakaian, sehelai pakaian upahnya satu dolar, semua ini adalah pakaian orang kaya, mereka takut pakaiannya rusak kalau mempergunakan mesin cuci. ”Hari itu, ibunya menerima upah kerjanya dan berkata dengan gembira: “Anakku, ibu mendapatkan upah 200 dolar.” Sambil berkata ibunya merogoh kocek, siapa tahu di dalam koceknya hanya tersisa selembar uang kertas pecahan 100 dolar saja. Seketika ibunya menjadi panik: “Ibu kehilangan 100 dolar.” 

Tanpa berkata banyak, ibunya dengan tergesa-gesa ke luar rumah. Di luar rumah sungguh gelap, angin juga kencang dan turun salju, ibu menelusuri jalan pulang tadi untuk mencari uangnya. Dapat dilihat kalau 100 dolar itu adalah sangat penting baginya.
Itu adalah biaya hidup ibunya selama sebulan, itu adalah uang makannya selama sebulan. 

Ibunya sudah ke luar rumah, dia juga mengikuti ibunya ke luar rumah. Di luar sangat gelap, ibunya mempergunakan lampu senter untuk mencari uangnya. Tanpa terasa air matanya mengalir turun.

Benar! Itu adalah upah ibunya mencuci 100 helai pakaian. Dia mencari di halaman rumah, juga mencari di jalan, tetapi tetap saja tidak ditemukan. Jika pun ada, mungkin sudah pun dari tadi dipungut orang lain.

Ibunya bolak balik tiga kali untuk mencari uangnya. Dia berkata kepada ibunya dengan hati pilu: “Ibu, tidak usah cari lagi, nanti sesudah hari terang baru kita cari lagi.”

Namun ibunya tetap bersikeras ingin mencari, cahaya dari lampu senter di kegelapan malam seakan menikam lubuk hatinya dan membuat rasa sakit tiada terhingga.

Dia lalu mengambil 100 dolar dari uang biaya hidup yang diberikan ibunya dan meletakkannya di halaman rumah. Dia beranggapan kalau ini adalah jalan terbaik untuk membebaskan ibunya dari kegalauan.
Ternyata dia mendengar ibunya berkata dengan senang: “Anakku, uang sudah ditemukan.”

Dia berlari ke luar dan ikut bergembira bersama ibunya. Dengan gembira ibu dan anak kembali ke dalam rumah. Ibunya berkata: “Anggap saja tidak ditemukan. Mari, ini untukmu! Kamu harus makan yang lebih baik, lihat! Kamu terlalu kurus.”

Beberapa tahun kemudian, dia tamat kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Dia lalu menjemput ibunya untuk tinggal bersama di kota, sejak itu ibunya tidak perlu lagi mencuci pakaian orang.

Uang kertas pecahan seratus dolar itu, dia tidak pernah merasa rela untuk mempergunakan dan terus disimpannya. Itu adalah uang kertas pecahan seratus dolar yang dicari ibunya semalaman, melambangkan kehangatan dan perasaan penuh kemantapan.

Setelah beberapa tahun kemudian, dia mengungkit hal ini dalam suatu kesempatan, sambil tersenyum berkata kepada ibunya: “Ibu, saya yang menaruh uang kertas pecahan seratus dolar itu di sana.” Namun yang mengejutkannya adalah jawaban ibunya: “Ibu tahu”.

Dengan heran dia bertanya: “Bagaimana ibu bisa tahu?” Ibunya menjawab: “Uang yang ibu dapatkan selalu diberi tanda, ada tulisan 1, 2, 3 di atasnya, sedangkan uang kertas itu tidak ada tanda, apalagi ditemukan di halaman rumah. Ibu tahu kalau itu adalah uang yang kamu taruh karena takut ibu galau. Dalam hati ibu berpikir, karena anak ibu demikian sayang pada ibu, maka ibu tidak boleh mencari lagi, jikalau sudah hilang dan tidak akan ditemukan lagi, kenapa tidak membuat anak ibu tenang hati saja?”

Dia lalu maju memeluk ibunya dengan mata berkaca-kaca.

Sungguh ibu dan anak yang bertautan hati, mereka selalu meninggalkan cinta kasih terhangat kepada pihak lain. Benar sekali, walau pun miskin, namun dengan adanya cinta kasih, maka mereka merupakan orang paling kaya di dunia ini.

Pencarian sehelai uang kertas pecahan seratus dolar ini melambangkan dalamnya kasih sayang antara ibu dan anak.


dikutip dari http://sasakala80.wordpress.com

Jumat, 04 April 2014

selamat dalam pelukan sang Ibu

Cecilia Chan seorang Gadis berusia 29 tahun pernah mengalami Peristiwa Naas Kecelakaan Pesawat saat dia berumur 4 tahun bersama Ibu dan Kakaknya. Cerita bermula saat 16 Agustus 1987 ketika dia kembali dari liburan bersama Ayah, Ibu (Paula) dan Kakaknya David, 6 tahun.

Mereka kembali ke Phonix, Arizona dari Michigan setelah merayakan Ulang tahun Paula di rumah Orangtuanya (Nenek Cecilia). Saat Pesawat lepas landas di Bandara Detroit 3 C dengan ketinggian baru 500 meter pesawat oleng dan terjatuh ke jalan raya hingga menabrak Jembatan dan banyak Kendaraan Mobil Tertimpa dan Terbakar.

Dalam Kecelakaan itu 156 Awak dan Penumpang Pesawat dinyatakan Tewas, belum termasuk jumlah korban dari pengendara Mobil. Sebuah penyelidikan menemukan bahwa Kecelakaan tersebut akibat Kelalaian Pilot Pesawat John R.Maus yang tidak mengkonfigurasi take off Pesawat dengan benar.

Cecilia Chan menjadi satu-satunya Korban yang selamat dari musibah itu. Cecilia yang saat itu berusia 4 tahun ditemukan oleh Team Pemadam kebakaran dengan Kondisi kritis dalam pelukan Ibunya. Menurut salah satu Team penyelamat saat mengevakuasi Korban kecelakaan, dirinya mendengar suara tangisan Boneka Bayi.

Dan setelah mencari sumber suara tersebut, dirinya menemukan Cecilia yang berada di sebelah boneka bayi bersama Ibunya. Dengan segera dirinya melepaskan Cecilia dari pelukan Ibunya yang Tewas dengan kondisi tubuh setengah terbakar. Cecilia mengalami patah kaki, tengkorak retak dan Luka bakar.

Dia menjalani empat cangkok kulit untuk luka bakar di lengan dan kakinya. Dan setelah proses pemulihan dirinya sudah dapat berjalan kembali. Untuk selalu mengenang peristiwa itu, Cecilia membuat sebuah Tatto Pesawat di Lengan Kirinya. tapi dari keajaiban peristiwa kecelakaan pesawat tersebut kita bisa menemukan bahwa betapa hebatnya perlindungan dan pelukan seorang Ibu pada anaknya.


dikutip dari anehdankonyol.com dengan sedikit tambahan

Sabtu, 25 Januari 2014

Kekuatan Do'a Seorang Ibu

Pada suatu ketika, Musa A.S bertanya kepada ALLAH Azza wa Jalla, “Ya ALLAH, siapa yang akan menjadi sahabatku di surga?”

ALLAH menjawab “Seorang tukang daging.”

Musa pun terkejut mendengarnya! “Kenapa seorang tukang daging menjadi sahabatku di surga?”

Kemudian dia bertanya kepada ALLAH “Dimana aku bisa menemukan orang ini?”

ALLAH memberitahunya bahwa orang ini ada di tempat demikian dan demikian. Dan Musa A.S. pergi menemui tukang daging ini. Sesampainya disana, ternyata dia sedang memotong daging dagangannya. Musa A.S. berpikir “Apa yang begitu spesial tentang orang ini?” Ketika senja tiba dan dia selesai menjual daging-dagingnya, pria ini memungut sepotong daging dan membawanya pulang.

Musa A.S. mulai mengikuti pria ini sampai ke rumahnya dan berkata padanya “Aku seorang pengelana. Akankah kau menerimaku sebagai tamu?” Orang itu berkata “Silahkan masuk.”

Jadi dia mempersilahkan Musa A.S. ke dalam rumahnya, dan Musa A.S.mulai mengamati pria ini. Dia melihat pria ini mengambil sepotong daging yang dia bawa, kemudian mencuci dan memotongnya,  memasaknya, dan menempatkannya di atas piring.

Dan dari rak yang tinggi di ruangan itu, dia mengambil sebuah keranjang dan menurunkannya. Kemudian dia mengambil kain yang basah, dan dari dalam keranjang itu ternyata ada seorang wanita tua. Kemudian dia menggendong wanita tua itu, bagaikan seseorang menggendong bayi.

Kemudian dia mengambil daging yang telah dimasaknya, dan menyuapi wanita tua itu (dalam riwayat yang lain dikatakan dia mengunyah dagingnya baru menyuapi wanita tua itu).

Dan setiap kali wanita itu selesai mengunyah, dia mengambil kain yang basah dan menyeka bersih mulut wanita itu, begitu seterusnya. Ketika makanannya sudah habis, dia membersihkan mulut wanita itu, menaruhnya kembali ke dalam keranjang, dan menaruh keranjang itu kembali di rak yang tinggi.

Musa A.S. menyadari bahwa setiap kali pria itu menyuapinya, wanita itu membisikinya sesuatu.

Jadi dia bertanya padanya "Siapakah wanita tua itu dan apa yang dibisikkannya padamu, saudaraku?"

Pria itu berkata “Dia ibuku. Aku sangat miskin sehingga tidak dapat membeli makanan untuk dimasak di rumah. Jadi aku mengambil sisa-sisa daging di tempat kerja dan membawanya ke rumah untuk dimasak Dan karena ibuku sangat tua dan lemah, sedangkan aku tidak punya uang untuk membeli budak/pembantu, jadi aku melakukannya seorang diri.”

Kemudian Musa A.S. bertanya “Jadi apa yang dibisikkannya kepadamu setiap kali kau menyuapinya?”

Pria itu berkata “Dia berdo’a untukku: ‘Ya ALLAH, jadikan anakku menjadi sahabat Musa di surga.’"

Subhanallah, karena do’a dari ibunya, maka ALLAH mengabulkannya. Inilah kekuatan do’a seorang ibu.


dikutip dari lampuislam.blogspot.com

Kamis, 23 Januari 2014

Ibu, Kasih Tulus Sepanjang Hidup

kita sebut Ibu sebagai pahlawan nomor satu. Tidak bisa dipungkiri ibulah orang nomer satu dalam hidup kita. Tanpa ibu kita tak akan lahir di dunia.

Setelah payah mengandung kita selama sembilan bulan, belum selesai payah yang dirasakan beliau. Ingatkah kita saat kita dilahirkan? Ibu menanggung sakit, bahkan ibu mempertaruhkan nyawanya demi kelahiran kita.
Belum selesai sampai di situ perjuangan ibu dalam memperjuangkan kehidupan kita. Ketika kecil kita rewel, membuat ibu terjaga siang bahkan malam hari. Siang malam ibu menjaga dan menyusui kita. Apakah beliau mengeluh dengan aktivitas beliau menjaga kita sepanjang hari? Jawabnya adalah tidak. kita sering melihat ibu-ibu yang tetap menyunggingkan senyum penuh kebahagiaan ketika bersama dengan buah hatinnya yang masih kecil. Subhanallah sungguh beliau makhluk ALLAH yang penuh ketulusan.

Ketika kita telah besar, kasih sayang beliau tetap terasa, doa-doa beliau tetap mengalir. Sungguh kasih sayang beliau tak ada ujungnya. Ketika kita lama tidak pulang ke rumah, beliau telepon kita sekadar menghilangkan kerinduan beliau, tapi kita sering tak mengingat beliau ketika kita sibuk dengan aktivitas diri kita.

Saat kita pulang dari bumi perantauan tholabul ‘ilmi beliau dekap penuh kehangatan, beliau cium kita dengan penuh kasih sayang. Begitu besarlah kasih sayang seorang ibu. Semoga kita dapat menjadi anak yang berbakti pada Ibu. Aamiin.


dikutip dari http://infokampus.web.id dengan sedikit penyesuaian

Kisah Salman Al Farisi, pengabdian anak pada Ibunya.

Setiap orang yang sehat pasti menyangi dan mencintai Ibunya..
Dan ini adalah kisah pengabdian seorang anak pada Ibunya..

Suatu waktu Nabi Muhammad ditanya oleh sahabatnya.Ya, Rasulullah… adakah orang yang paling disayangi oleh ALLAH SWT selain Engkau.? Nabi Menjawab: Ada, yaitu Salman al Farisi. Lalu sahabat bertanya kembali: kenapa. ya, Rasulallah dia begitu disayang ALLAH.? Kemudian Nabi bercerita bahwa Salman al-Farisi adalah orang yang berasal dari keluarga miskin, sementara Ibunya sangat ingin naik haji, tetapi untuk berjalanpun dia tidak bisa. Demikian juga uang untuk pergi ke Tanah Suci tidak punya. Salman al-Farisi begitu bingung menghadapi kondisi itu. Namun akhirnya, Salman al-Farisi memutuskan untuk mengantar Ibunya naik haji dengan cara menggendong Ibunya dari suatu tempat yang begitu jauh dari Mekkah. Di perlukan waktu berhari-hari untuk melaksanakan perjalanan itu sehingga tanpa terasa punggung Salman al-Farisi sampai terkelupas kulitnya.”

Kisah panjangnya paling tidak seperti ini.

Suatu hari ada seorang anak sholeh yang mengendong Ibunya yang tercinta. dikisahkan Ibunya sedang sakit dan tidak memungkinkan untuk berjalan sendiri.

saat perjalanan dari kota Madinah menuju kota Mekah dalam rangka melaksanakan ibadah Haji . Bisa dibayangkan panasnya terik matahari ketika siang dan dinginnya malam hari serta beratnya gendongan yang ada di pundaknya bukan? Betapa berbaktinya anak ini kepada Ibunya, ingin membahagiakan Ibunya yang sedang sakit dengan mengantarkanya menuju rumah Tuhan bahkan dengan menggendongnya, betapa besar pengorbanan dan usahanya.

Ketika akhirnya mereka sampai di kota Mekah untuk melaksanakan ibadah Haji mereka bertemu dengan Rasulullah. Bahagia sekali sang anak beserta Ibunya ini ketika mereka bertemu denga Utusan Tuhan yang sangat mereka cintai dan mereka rindukan.

Terjadilah percakapan yang kurang lebih seperti ini
Sang anak bertanya kepada Rasul, “Ya Rasul..apakah saya sudah berbakti kepada orang tua saya? Saya menggendong Ibu saya di pundak saya berjalan dari Madinah sampai Kota Mekah untuk melaksanakan ibadah haji”.

Seketika itu pula Rasul menangis, Kemudian Rasul menjawab dengan diiringi tangisnya yang tersedu-sedu “Wahai Saudaraku, engkau sungguh anak yang luar biasa, engkau benar-benar anak sholeh, tapi maaf…..(sambil tetap menangis) apapun yang kamu lakukan di dunia ini untuk membahagiakan orang tuamu…. apapun usaha kerasmu untuk menyenangkan orang tuamu …. tidak akan pernah bisa membalas jasa orang tuamu yang telah membesarkanmu”

semoga kisah ini dapat membuat kita semua menjadi anak yang lebih baik. Amin..


dikutip dari agussalimchaniago.wordpress.com

kisah perjuangan seorang Ibu bertaruh nyawa melahirkan anaknya

Kasih Ibu sepanjang masa, adalah ungkapan yang memiliki arti dalam dan penuh makna. Bagaimana seorang ibu berjuang untuk melahirkan anaknya hingga bertaruh nyawa dan tidak menuntut balas apapun juga. Melahirkan bukanlah proses yang mudah bagi sebagian wanita dan membutuhkan banyak pengorbanan, salah satunya adalah nyawa. Namun menjadi ibu adalah anugerah yang tidak bisa ditukar dengan apapun di dunia Ini. Salah satu bukti bahwa kasih ibu kepada anaknya tidak bisa dihitung dengan angka adalah perjuangan seorang wanita asal Amerika Serikat ini.
 
Erica Nigrelli adalah warga Negara Bagian Texas, Amerika Serikat. Ketika proses melahirkan bayinya, Erica dinyatakan secara medis telah meninggal dunia. Detak jantung Erica sudah tidak ada selama beberapa saat namun keajaiban Tuhan bekerja, denyut nadi Erica berdetak lagi dan Erica dinyatakan hidup kembali. Proses melahirkan Erica pun bisa dibilang mendebarkan karena berawal dari Erica jatuh kemudian pingsan. Erica berprofesi sebagai seorang guru. Erica jatuh ketika berada di sekolah kemudian jatuh pingsan di dekat tangga sekolah saat hendak mengajar. Suami sekaligus rekan satu profesi nya, Nathan Nigrelli mendapatinya tergeletak di lantai dan sudah tidak bernafas lagi.
 
Nathan berujar bahwa ketika mendapati istrinya sudah tergolek di lantai,  Erica mengalami kejang. "Erica terbujur di lantai. Mulutnya berbusa dan sudah tidak sadarkan diri" ungkap Nathan. Tanpa menunggu lama, Nathan pun menelepon bantuan medis dan segera membawa istri tercintanya itu ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Nathan berkali-kali membisikkan ke telinga istrinya bahwa istri tercintanya itu harus kuat dan pasti bisa bertahan. Sesampainya di rumah sakit, Erica langsung mendapat pertolongan medis. Namun sayangnya Erica sudah tidak ditemukan detak jantungnya, sehingga dokter mengambil keputusan Erica dioperasi caesar untuk mengeluarkan bayinya padahal Erica sudah tiada.
 
Menurut dokter yang menangani Erica, Erica Nigrelli mempunyai sindrom kondisi jantung serius bernama Hypertrophic Cardiomyopathy. Kondisi ini membuat Erica tampak seolah sudah meninggal dunia padahal masih bisa tertolong dengan alat pacu jantung. Alat pacu jantung bisa membuatnya kembali berdetak namun jangan sampai telat memberikan bantuan. Tim dokter pun dengan segera memberikan pertolongan pacu jantung kepada Erica. Dengan kuasa Tuhan, Erica pun selamat dan jantungnya kembali berdetak. Pihak rumah sakit pun kagum lantaran Erica Nigrelli bisa bertahan untuk tetap hidup.
 
Tidak hanya pihak rumah sakit, Nathan sang suami mengaku kagum dan bangga kepada istrinya itu. "Saya menikahi pejuang dan bayi ini juga akan menjadi pejuang," kata Nathan sembari menggendong bayi mungilnya. Bayi yang dilahirkan Erica dengan penuh perjuangan itupun lahir dengan sehat dan tanpa kurang suatu apapun. Bayi mungil itu diberi nama Elayna Negrilli. Elayna menjadi salah satu anak yang dilahirkan dengan penuh perjuangan dan memacu adrenalin kedua orangtuanya. Kasih Ibu yang begitu besar kepada anaknya membuat Tuhan tidak berdiam dan memberikan Mukjizat Tuhan. Begitu besar perjuangan dan pengorbanan Erica untuk buah hatinya, sudahkah Anda mengucapkan terima kasih kepada ibu Anda karena telah menghadirkan Anda ke dunia.?
 
 
dikutip dari vemale.com

Senin, 20 Januari 2014

Kisah Ibunda Haritsah Bin Suraqah

Haritsah bin Suraqah adalah seorang pemuda Anshar. Beliau punya cerita yang amat menarik tentang dirinya sebagaimana yang tersebut dalam buku-buku Sirah Nabawiyah. Penggalan akhir dari cerita ini bahkan ada dalam Shahih Bukhari. Tentu bukan hanya kisah tentang dirinya, tapi juga sang Ibu yang turut mewarnai jalan hidup yang menjadi pilihannya.

Kisah ini bermula ketika Nabi SAW menyeru para sahabatnya untuk pergi ke Badar. Mendengar seruan Nabi tadi, Haritsah bin Suraqah mendatangi Ibunya, seorang wanita tua yang telah bungkuk punggungnya. Sang Ibu sangat sayang kepada anaknya yang satu ini. Hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa si anak pun kadang membuatnya cemas. Sengatan matahari di siang hari terhadap anaknya juga membuatnya cemas. Bahkan lebih dari itu, seandainya si buah hati bersimpuh di hadapannya, lalu memintanya menyerahkan nyawanya untuknya, niscaya sang Ibu tak segan-segan memberikannya.

Suatu ketika sang Ibu bersimpuh di hadapan anaknya. Dengan penuh harap ia memohon kepada Haritsah agar mau menikah. Ia amat merindukan lahirnya seorang cucu dari buah hatinya ini. Dengan lembut haritsah berkata,”Bunda..” “apa yang hendak kau perbuat wahai anakku?” Tanya sang Ibu. “saat ini Rasulullah sedang mengajak para sahabat untuk menyertai beliau ke Badar dan aku berniat untuk ikut bersama mereka,” kata Haritsah. “wahai anakku, sungguh demi ALLAH, amat berat rasanya berpisah denganmu. Wahai anakku, tetaplah bersamaku dan janganlah pergi!” pinta sang ibu sambil memelas. Namun Haritsah tak putus asa, ia terus menerus membujuk Ibunya sambil menciumi kening sang Ibu serta kedua tangan dan kakinya hingga ia merelakan keberangkatannya. “pergilah, hai anakku, nampaknya aku tak akan merasakan nikmatnya makan, minum, dan tidur hingga engkau kembali kepadaku,” kata Ibunya. Perlahan sang Ibu mengenakan pakaian bagi anaknya, menyelempangkan panah dan busurnya, kemudian mengecup keningnya, lalu melepas kepergiannya.

Tatkala kaum Muslimin tiba di Badar, mereka bermarkas di sekitar sumur Badar. Setelah mereka bermarkas di sana, mulailah pasukan kafir tiba kompi demi kompi untuk mengambil posisi mereka. Sesaat sebelum genderang perang di tabuh, kedua pasukan telah siap berhadap-hadapan. Ketika itulah tiba-tiba Haritsah berlari menuju sumur Badar,tenggorokannya kering terbakar rasa haus. Bergegas ia ke sumur tadi untuk melepas dahaganya. Tatkala kedua tangannya menciduk air dari sumur untuk di minum, tiba-tiba ada seorang sahabat yang melihatnya. Ia adalah seorang Muslim dari Bani Najjar. Rasulullah SAW menugaskannya untuk menjaga sumur Badar dari para penyelinap. Sebagai orang yang di tugasi untuk menjaga sumur, sahabat tadi khawatir jika ada seseorang dari pihak musuh yang ingin mencelakai kaum Muslimin dengan mencemari air sumur itu.

Maka tatkala ia mendapati Haritsah hendak mengambil air di sumur tersebut, ia langsung waspada dan berkata, “A’udzubillah, orang kafir ini hendak mencemari sumur kita!?” segeralah ia siapkan busurnya, lalu ia letakkan sebatang anak panah di atasnya. Dengan seksama ia bidikkan anak panah tadi ke arah Haritsah, lalu dipanahnya Haritsah sekuat tenaga dan kemudian, Bless..!! anak panah itu tepat mengenai kerongkongan Haritsah!! Dia pun berteriak kesakitan. Ia terkapar di tanah sembari berteriak-teriak minta tolong. Anak panah tadi nyaris membuatnya tak bisa berbicara. Namun tak seorang pun datang menolong. Mereka mengira bahwa Haritsah adalah mata-mata musuh. Ia mencoba mencabut anak panah itu, namun apa lacur, ternyata tubuhnya yang justru terkoyak karenanya. Darah pun mengalir deras membasahi sekujur tubuhnya. Ia terus menerus mengerang kesakitan sambil meregang nyawa, dan akhirnya ia wafat. Setelah terbunuh, si penjaga sumur menghampirinya untuk mencari tahu tentang orang itu. Alangkah kagetnya ia ketika mendapati bahwa yang terbunuh ternyata Haritsah bin Suraqah. "La haula wa la quwwata illa billah!!” serunya terperanjat. Ia segera mengabarkan kepada Nabi SAW akan apa yang terjadi, namun beliau memaafkannya.

Usai peperangan, Rasulullah SAW dan para sahabatnya kembali ke Madinah, kaum muslimin keluar berbondong-bondong menyambut kedatangan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Wanita, anak-anak, dan orang tua sama-sama menunggu di gerbang kota, di tengah teriknya matahari dan gersangnya padang pasir. Para wanita menunggu kedatangan suami mereka, anak-anak menunggu kedatangan ayah mereka, dan orang tua menunggu kedatangan anak mereka. Di antara mereka yang menunggu tadi ialah ibunda Haritsah bin Suraqah seorang wanita tua yang jantungnya berdegup kencang menanti kedatangan anak tersayang. Tatkala pasukan kaum muslimin tiba di Madinah, anak-anak berlarian menghampiri ayahnya masing-masing, kaum wanita bergegas mencari suami mereka, demikian pula para orang tua menyambut anak mereka, sedangkan ibunda Haritsah masih duduk termenung menunggu kedatangan anaknya.

Rombongan pertama telah tiba, disusul yang kedua, ketiga, kesepuluh, keseratus, kedua ratus. Namun, Haritsah tak kunjung tiba, sedangkan sang ibu tetap setia menantinya di tengah terik matahari yang membakar kulit. Ia takkan bosan menanti jantung hatinya itu, setelah selama ini ia selalu menghitung hari demi hari, bahkan menit demi menit menanti kedatangan anaknya. Ia bertanya kesana kemari perihal anaknya. Namun lagi-lagi, ia kembali dengan tangan hampa. Hampir saja ia dihinggapi rasa putus asa akan anaknya. Berulang kali ia mencari-cari anaknya, namun sang anak tak terlihat juga diantara rombongan-rombongan itu. Maka dipegangnyalah seorang sahabat seraya bertanya, “apakah engkau mengenal Haritsah bin Suraqah?” “ya, Ibu siapa?” Tanya orang itu. “aku adalah Ibunya, aku Ibunda Haritsah,” jawab si Ibu. “jika anda benar Ibunya, maka tabahkanlah hati anda, sesungguhnya Haritsah telah terbunuh,” jawab orang itu. Mendengar kata-kata itu segeralah terbayang dalam hatinya akan Jannah. Ia berteriak, “Allahu Akbar!!Anakku telah syahid!! Semoga ia akan memberiku syafaat di Jannah kelak.” “Syahid? Kurasa ia tidak mati syahid,” sela orang itu. “lho, ada apa memangnya?” Tanya si Ibu keheranan. “ia tidak mati di tangan orang kafir,” jawab lelaki itu. “ia tidak terbunuh diantara barisan kaum muslim?” Tanya si Ibu. “tidak,” jawab lelaki tadi. “ia tidak terbunuh demi mempertahankan panji-panji Islam?” Tanyanya lagi. “tidak,” jawab lelaki itu. “lantas bagaimana ia mati terbunuh? Dimanakah Haritsah anakkku?” tanyanya agak histeris. “sesungguhnya Haritsah terbunuh sebelum perang dimulai, dan yang membunuhnya adalah salah seorang dari kaum Muslimin. Jadi anakmu belum sempat berperang sedikitpun,” kata lelaki itu. “apa maksudmu?” Tanya si Ibu. “ia bukanlah seorang syahid menurutku. Akan tetapi, semoga saja ALLAH memasukkannnya dalam Jannah,” jawabnya enteng. Setelah mendengar jawaban itu, sang Ibu bertanya, “kalau begitu dimanakah Rasulullah SAW?” “itu dia, beliau sedang menuju kemari,” katanya.

Maka bergegaslah perempuan ‘malang’ ini mendatangi Rasulullah SAW, ia mengayun langkahnya yang berat dengan hati yang diliputi kegalauan akan anaknya, air matanya berderai membasahi pipinya, namun bukan air mata biasa, akan tetapi seakan ruhnya yang menetes. Di hadapan Nabi SAW, perempuan ‘malang’ ini berdiri dengan kepala tertunduk. Nabi SAW menatapnya dengan penuh rasa iba, wanita tua sebatang kara, tak punya tempat kembali untuk berbagi kesedihan. Beliau pun bertanya, “siapa anda?” “aku Ibunya Haritsah,” jawabnya. “apa yang anda inginkan, wahai Ibunda Haritsah?” tanya Nabi SAW. “ya Rasulullah, engkau tahu betapa cintanya aku kepada Haritsah dan semua orangpun tahu alangkah cintanya aku kepadanya. Ya Rasulullah, aku mendengar, aku mendengar bahwa ia telah terbunuh. Maka kumohon padamu kabarkanlah aku dimana anakku sekarang? Kalau ia berada di Jannah, aku akan sabar, namun jika tidak demikian, biarlah ALLAH menyaksikan apa yang kuperbuat nanti!!” serunya. Nabi pun menatapnya dengan keheranan, “apa yang barusan anda katakan hai Ibunda Haritsah, apa yang anda katakan?” “sebagimana yang engkau dengar tadi, ya Rasulullah, kalau ia berada di Jannah, aku akan sabar, namun jika tidak demikian, biarlah ALLAH menyaksikan apa yang kuperbuat nanti!!” jawabnya.

Maka Nabi yang pengasih ini menatapnya dengan iba. Ia tak ubahnya seperti wanita tua yang sedang kalut pikirannya. Hatinya dipenuhi kegalauan. Ia berangan-angan andai saja anaknya berdiri di depannya, kemudian ia mendekapnya, menciumnya, dan membelainya. Ia rela berkorban apa saja untuk itu semua, walau dengan nyawanya sekalipun. Kedua kakinya terlihat kaku, lisannya terdiam membisu, tulang-tulangnya nampak rapuh, punggungnya yang membungkuk, kulitnya yang keriput dan suaranya yang serak seakan tertahan dalam kerongkongan. Alangkah malangnya nasib perempuan tua ini. Ia berdiri sembari kedua matanya menatap dengan penuh rasa ingin tahu. Kiranya jawaban apa yang akan didengarnya dari utusan ALLAH ini? Melihat kepasrahannya, ketundukkannya, dan keterkejutannya atas kematian anaknya, Nabi SAW berpaling kepadanya seraya berkata, “apa yang Ibu katakan?” “seperti yang engkau dengar sebelumnya, ya Rasulullah,” jawabnya. “celaka, bagaimana engkau ini, hai Ibunda Haritsah, kau sedih kehilangan anakmu? Bukan Cuma satu Jannah baginya, ada Jannah yang bertingkat-tingkat disana, dan Haritsah berada di Firdaus yang paling atas.” Tatkala mendengar jawaban ini redalah tangisnya dan kembalilah akalnya, lalu ia berkata “ya Rasulullah, ia benar-benar berada di Jannah??” “iya,” jawab beliau SAW. Maka kembalilah perempuan ‘malang’ ini ke rumahnya, disanalah ia mengisi hidup sambil menanti datangnya kematian. Ia rindu untuk segera bersua dengan buah hatinya di Jannah. Ia tak meminta ghanimah maupun harta, tidak pula mencari ketenaran maupun popularitas. Ia cukup ridha dengan Jannah, toh selama berada di Jannah, ia bisa makan sepuasnya, berteduh di bawah pohon-pohon rindang sesukanya, dan berkumpul bersama wajah-wajah yang berseri karena melihat wajah ALLAH. Mereka semuanya ridha didalamnya.

Demikianlah balasan yang setimpal bagi mereka. Bukankah selama ini mereka telah mempertaruhkan nyawa untuk itu, tubuh mereka yang dahulu penuh sayatan pedang, tusukan tombak, dan tancapan panah. Kini tibalah saatnya menuai segala jerih payah.”Mereka berada diatas dipan yang bertahtakan emas dan permata, seraya bertelekan diatasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari mata air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Bagi mereka ada buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang mereka telah kerjakan. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam..” (QS. al-Waqi’ah: 15-26).

Semoga ALLAH merahmatimu wahai Ibunda Haritsah, dan menempatkanmu bersamanya dalam Jannatul Firdaus.


dikutip dari ayonikah.com

Minggu, 19 Januari 2014

Kasih Tulus Seorang Ibu

Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah ? Sudah pasti jawabannya adalah : k-e-h-a-m-i- l-a-n.

Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, Seberat apa pun langkah yang mesti diayun, Seberapa lama pun waktu yang harus dijalani, Tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan: p-o-s-i-t-i- f


.
Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya.

Seringkali ia bertanya : menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedihkah atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika itu mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia.

Rasa sakit pun sirna, ketika mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran.

Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar. Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak.

Si kecil baru saja berucap "Ma?" segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada di daftar telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka.

Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak terhenti rezekinya.

Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan. "Demi anak", "Untuk anak", menjadi alasan utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil.

Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju untuk dirinya sendiri dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil.

Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak. Di saat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Beli susu anak; 2. Uang sekolah anak. Nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya.

Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.

Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby sitter yang paling setia.

Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran. Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu.

Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya.

Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia pun terus mendongeng.

Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang akan berangkat ke sekolah. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta merta kalimat, "sudah makan belum?" tak lupa terlontar.

saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu, sekarang sudah menjadi orang dewasa yang bisa saja membeli makan siangnya sendiri di Sekolahnya.

Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata? Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan.

Ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin. Di saat itu, ia pun sadar, buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih, "Masihkah kau anakku?"

Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, "Bila ibu meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian".

Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. "Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih & shalihat sejak kecil," ujarnya.

Duh ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibulah madrasah cinta saya, Ibulah sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran, yaitu "cinta". Sekolah yang hanya punya satu guru yaitu "pecinta". Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: "anakku tercinta".
 
 
dikutip dari http://nisyatullaena.blogspot.com

Selasa, 14 Januari 2014

Cinta Ibu Tiada Kata Akhir

Sebuah foto yang menggambarkan seorang Ibu berumur 97 tahun di Cina yang sedang menyuapi dan merawat anaknya yang lumpuh yang sudah berumur 60 tahun. Ini sudah dilakukannya sejak 19 tahun yang lalu. foto ini mengingatkan kita betapa cinta seorang ibu tidak akan pernah lekang oleh waktu dan tiada akan pernah mengenal kata akhir. sebagai bahan renungan bagi kita sebagai seorang anak bahwa betapa besar Cinta yang dimiliki manusia Mulia ini, oh..Ibu.

 Cinta Ibu akan terus ada sepanjang hayat seorang anak

dikutip dari http://motivasi215.blogspot.com dengan berbagai penyesuaian

Kisah Kesabaran Seorang Ibu Merawat Anaknya Yang Tidak Memiliki Organ Mata

Kebesaran yang dimiliki oleh ALLAH SWT selalu ditunjukkan kepada hamba-hambanya tak kecuali kejadian yang satu ini, pada christian seorang anak yang kini berusia setahun, dilahirkan tanpa kedua mata disebabkan keadaan penyakit pada mata yang jarang ditemui.

Tetapi, itu tidak mengurangkan kasih sayang Lacey Buchanan, sang Ibu terhadap anaknya dan dia dengan bangga menunjukkan anaknya kepada dunia.

Dalam satu video inspirasi yang dimuat di YouTube, Lacey menunjukkan kasih sayang yang dilalui oleh mereka setiap hari, termasuk keadaan di mana christian terpaksa berhadapan dengan keadaan yang menyulitkannya. video sepanjang tujuh menit ini dibuat untuk menunjukkan betapa Lacey menyayangi anaknya itu tanpa rasa malu memiliki anak yang cacat.

Dengan menggunakan kertas bertulis tangan, dia bercerita bagaimana dia bertemu dengan bapak anaknya itu ketika berusia 15 tahun dan mereka jatuh cinta. Dia menikah dengan suaminya chris, ketika dia berusia 21 tahun dan mengandung christian ketika usianya 23 tahun.

“Kami sangat gembira!!” tulisnya. Ketika usia kandungannya menginjak 18 minggu, mereka membuat ultrasound dan pasangan itu mendapat kabar bahwa mereka akan mendapat anak laki-laki, dan ini menambahkan lagi kegembiraan bagi mereka.

Tetapi selepas satu minggu mendapat berita baik, pasangan itu kembali menerima panggilan dari dokter mereka yang memberitahu ada yang tidak wajar dengan janin itu. terdapat masalah pada bayi mereka dan ini menyebabkan pasangan itu bersedih.

Ketika kandungan Lacey semakin membesar, dokter semakin tidak pasti apa yang tidak wajar dengan bayinya dan berkata dia mempunyai peluang 85 persen untuk gugur. tapi pasangan ini menolak untuk menggugurkan kandungan dan percaya dia mempunyai hak untuk hidup di dunia dan mereka akan menyayanginya walau apapun yang akan terjadi pada anak tersebut.

pasangan suami istri Lacey dan chris ke Pusat penyembuhan Vanderbilt di mana christian dilahirkan, Mereka menyangka mereka mungkin tidak akan dapat membawa christian pulang. pasangan itu gembira saat christian selamat dilahirkan tetapi kegembiraan mereka sekejap saja. sebab keadaan christian lebih buruk daripada apa yang dokter perhitungkan sebelumnya. tapi sang Ibu Lacey Buchanan tetap bersabar dengan keadaan sang anak, bahkan ia bangga dan tidak malu memperlihatkan pada dunia bahwa ia begitu menyayangi anaknya.

Lacey Buchanan seorang Ibu dengan anaknya

dikutip dari http://berfose.blogspot.com dengan sedikit penyesuaian

Betapa Berharganya Air Mata Seorang Ibu

Ada seorang pemuda menemui Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam dan berkata,'Wahai Rasul, ayah saya kini telah tiada, sedangkan ibu saya sudah tua. Kalau makan, saya haluskan dulu makanannya kemudian saya letakkan makanan itu ke dalam mulutnya, tak ubahnya anak kecil. Saya letakkan beliau dalam ayunan kain seperti bayi dan setelah itu saya mengayunnya sampai tertidur.

Mendengar penuturan pemuda tersebut Rasulullah
Shalallahu Alaihi Wa Salam meneteskan air mata, lalu anak muda itu bertanya,'Wahai Nabi, apakah saya sudah dapat menggantikan jerih payah ibu saya?'

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam Bersabda, 'engkau takkan pernah bisa menggantikan semua jerih payahnya bahkan satu rintihan di antara rintihan-rintihannya pada saat melahirkanmu. (HR. Muslim).

Rintihan dan Air mata seorang Ibu begitu berharga, rintihan dan air mata ibu ketika melahirkan diri kita, rintihan dan air mata ibu di kala malam tiba dan bermunajat untuk anaknya akan selalu didengarkan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala. kesuksesan seorang anak berarti munajat yang didipanjatkan seorang ibu. setiap rintihan dan air mata seorang Ibu untuk anaknya adalah sebuah do'a yang dipanjatkan, setiap air mata seorang Ibu begitu berarti untuk kehidupan dunia dan akhirat anak-anaknya. rintihan dan air mata seorang Ibu tidak akan pernah bisa tergantikan oleh hadiah apapun dari anak-anaknya.

Betapa tiada berartinya seorang anak bila seorang Ibu menitikan air mata karena perbuatan durhaka anak-anaknya, betapa menakutkannya hidup seorang anak yang telah membuat Ibunya menumpahkan air mata kesedihan disebabkan oleh kedurhakaan anak-anaknya, tidak akan pernah bahagia di dunia dan terlebih lagi di akhirat nanti seorang anak yang tega menumpahkan air mata seorang Ibu, tidak akan ada bahagia yang dijumpai anak yang telah mendurhakai kedua orang tuanya, terutama Ibunya meski ia bergelimang harta dunia sekalipun, ridha seorang Ibu adalah juga ridha ALLAH dan murka seorang Ibu adalah juga murka bagi ALLAH, jangan biarkan Air Mata Ibu tertumpah kecuali untuk yang membuatnya berbahagia dan ridha pada diri kita sebagai seorang anak.



dikutip dari http://jutaaninformasi.blogspot.com dengan banyak tambahan

Dahsyatnya Pelukan Ibu

Ternyata pelukan Ibu dapat mengubah perilaku anak. hal ini dapat kita buktikan saat bayi menangis menjerit-jerit akan segera diam apabila kita peluk dengan penuh kasih sayang, pelukan juga akan mengurangi rasa sakit pada si kecil.

Pelukan adalah obat yang mujarab :

• Mengurangi depresi dan meningkatkan kekebalan tubuh. Pelukan juga bisa memberi energi baru pada tubuh lelah menjadi segar dan merasa muda. Pelukan yang dilakukan di rumah secara rutin akan memperkokoh tali kasih.

• Jumlah hemoglobin atau sel darah merah dalam darah akan meningkat ketika seseorang disentuh. Hemoglobin adalah darah yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh termasuk ke jantung dan otak. Peningkatkan jumlah hemoglobin bisa mencegah dan menyembuhkan penyakit.

• Peluklah anak sebelum berangkat kerja, ini akan membuat orangtua fokus pada pekerjaan, bahagia, dan menjadi produktif.

Agar pelukan Anda berdaya penyembuh, sebelum memeluk anak :

• Singkirkan hal-hal yang mengggangu pikiran seperti urusan pekerjaan yang belum selesai, urusan rumah yang menumpuk, gagal menjaga pola makan dan rencana-rencana yang tertunda. Memberi pelukan dengan kepala dipenuhi oleh pikiran akan mengurangi energi dan kehangatan yang Anda berikan kepada si kecil. Sebab, saat memeluk si kecil, pikiran Anda tidak berada pada si kecil dan anak akan merasakan pelukan Anda yang ‘kering.’

• Bebaskan tangan dari semua benda yang selama ini paling sering ada di tangan seperti telepon genggam, tas tangan, kunci atau majalah. Dengan begitu tangan Anda tercurah untuk memeluknya dan jari-jari Anda bisa membelai si kecil dengan leluasa.

Selain hal tersebut, pelukan juga memiliki manfaat untuk anak, antara lain :

• Merangsang perkembangan sel otak
• Mengurangi stress.
• Merangsang rasa kantuk.
• Membangun konsep diri yang positif.
• Mengurangi emosi negatif seperti kesepian, cemas dan frustasi.
• Mengatasi rasa takut.
• Transfer energi.

Untuk melahirkan seorang anak, seorang ibu akan mengalami rasa sakit 57 del (unit) sedangkan manusia hanya bisa menahan rasa sakit sebanyak 45 del (unit). 57 del (unit) sama dengan 20 tulang yang patah disaat bersamaan. Ini sama saja dengan Mengorbankan nyawa dari seorang Ibu, Bisa Anda bayangkan Rasa Sakit dan Cinta sang Ibu.?


dikutip dari http://akuituhebat.wordpress.com

Kisah Anak dan Ibu melawan dahsyatnya Topan Haiyan, 'Ibu Pergilah, Selamatkan Dirimu'

Topan Haiyan beberapa waktu lalu menghantam negara Filipina. Begitu dahsyatnya badai topan yang mengerikan itu. topan Haiyan merupakan salah satu badai paling besar dan tercepat yang pernah tercatat. Kecepatan angin mencapai tinggi 314 kilometer (195 mil) per jam di atas permukaan laut.

Di tengah momen menegangkan Topan Haiyan, ada sebuah kisah duka yang tak akan pernah dilupakan oleh seorang guru sekolah menengah bernama Bernadette Tenegra. Wanita berusia 44 tahun itu kehilangan putrinya dalam bencana yang menghantam Vietnam dan Filipina tersebut.

Dalam kondisi angin yang dengan ganasnya menghantam, Bernadette dan putrinya memang ketakutan. Namun Bernadette berusaha membawa dan melindungi putri bungsunya. Saat itu putrinya sudah penuh luka akibat terkena serpihan kayu dari pohon dan bangunan.

Namun Anda tak akan menduga apa yang dikatakan gadis itu, "Ma, pergilah tinggalkan aku. Selamatkan dirimu." Sang ibu berkeras membawa dan menyelamatkan putrinya. Sebagai seorang ibu, nalurinya untuk melindungi sang anak lebih besar daripada rasa takutnya pada badai tersebut.

"Aku memeluknya dan memintanya untuk terus bertahan. Aku berkata akan membawanya pergi dari situ, namun ia akhirnya menyerah," Cerita Bernadette Tenegra dengan hati yang pilu. Sang putri seolah sudah mengetahui bahwa ia tak akan hidup lebih lama dan meminta ibunya untuk menyelamatkan diri saja.

Badai itu menggulingkan rumah, menyapu apapun yang ada di hadapannya. Termasuk suami Tenegra dan anak-anaknya. Namun mereka masih bisa berusaha mencari perlindungan. Hanya putri bungsunya yang terjebak dalam pusaran kuat air dan angin yang menjadi satu.

Sebagai seorang ibu, Bernadette berusaha membuat anaknya bertahan. Ia terus berteriak memanggil namanya, namun sang putri kelihatan terlalu lemah untuk terus hidup. "Akhirnya aku meninggalkannya," kata Bernadette sambil berurai air mata. Tak terbayangkan betapa sedihnya hati seorang ibu ketika kehilangan putri yang ia cintai.

Badai ini memang menjadi salah satu badai terkuat di dunia dan sudah 'menyapa' beberapa negara. Ada yang menyebut badai topan Haiyan sebagai badai Yolanda. Dan sedihnya, Tenegra bukan satu-satunya wanita yang kehilangan sanak keluarganya akibat badai ganas ini. Banyak orang yang nampak berusaha mengenali jenazah yang bergelimpangan untuk mencari kerabat mereka yang hilang.

Seorang Ibu akan berjuang sekeras mungkin untuk menyelamatkan anak-anaknya dari apapun yang membahayakannya, bahkan jika harus mengorbankan nyawa seorang Ibu sekalipun, Ibu akan rela melakukannya, naluri seorang Ibu itu begitu dahsyat, seorang Ibu adalah pelindung yang begitu berarti buat seorang anak di dunia ini, tanpa Ibu segalanya akan terasa begitu menakutkan bagi seorang anak, jangan pernah ragukan pengorbanan dan perlindungan dari makhluk yang begitu mulia ini, Ibu..


dikutip dari vemale.com dengan sedikit tambahan

Kasih Sayang Ibu Sekukuh ‘Arsy ALLAH

seorang arif pernah menyatakan dalam wasiatnya pada anaknya : "kasih sayang Ibu sekukuh 'Arsy ALLAH", apa kira-kira makna pesan itu.?

Arsy ALLAH adalah tempat ALLAH "berada". dalam Al Qur'an, ia sekaligus disebut sebagai tempat bersemayam Dia Yang Maha Pengasih :

"Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Rahman), Yang bersemayam di atas 'Arsy." (QS. 20:5)

Al Rahman adalah inti semua sifat ALLAH yang bermakna kasih sayang yang tidak terbatas, melimpahi segala sesuatu tanpa terkecuali, dengan kata lain Al Rahman berarti kasih sayang yang paling agung dan tak bersyarat.

"Akulah ALLAH dan Akulah Al Rahman, Akulah yang ciptakan rahim (Ibu) dan Aku ambilkan sebutannya dari namaKu (Al Rahim).." (Hadits Qudsi riwayat Tirmidzi)

begitulah ukuran besarnya kasih sayang seorang Ibu, sehingga Nabi mengajarkan : "surga berada ditelapak kaki Ibu"

meski menyebut ridha ALLAH terletak pada ridha Ayah dan Ibu, Nabi mengajarkan bahwa Ibu berhak tiga kali lebih banyak untuk disayangi ketimbang Ayah.

seseorang datang kepada Rasulullah Saw dan bertanya : wahai Rasul, kepada siapa aku harus berbakti pertama kali.?, Nabi menjawab : 'Ibumu' kemudian siapa lagi.? 'Ibumu' kemudian siapa lagi.? 'Ibumu' orang tersebut bertanya kembali, kemudian siapa lagi, Nabi menjawab, 'kemudian Ayahmu' (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

berbaik hati pada Ibu adalah ajaran para Nabi, Nabi Isa As. menyatakan : "ALLAH telah mewasiatkan kepadaku agar..berbaik hati pada Ibuku" (QS. 19:32)

Nabi Muhammad Saw. juga menyuruh seseorang yang ingin berjihad untuk mendahulukan melayani Ibunya yang masih hidup.

demikian tinggi penghargaan terhadap Ibu, hingga ALLAH sendiri berfirman,
"...Janganlah seorang Ibu menderita kesengsaraan karena anaknya..." (QS. 2:233)

pentingnya memperhatikan dan membahagiakan Ibu tercermin pula dalam kisah Nabi Musa berikut :
"...Maka Kami mengembalikanmu (Musa As) kepada Ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita." (QS. 20:40)

dalam Bihar al Anwar Imam Sajjad meriwayatkan :
"Suatu saat seorang lelaki mendatangi Rasul.
Ya Rasul, aku telah lakukan segala kejahatan yang diketahui, masihkah ada peluang bertaubat bagiku.?
Nabi bertanya, apa Orang Tuamu masih hidup.?
'Bapakku, jawabnya.
pergi layani Bapakmu dengan baik, kata Nabi.
'Andai Ibunya masih hidup.., gumam Nabi ketika laki-laki itu pergi."

kenapa menyayangi Ibu begitu penting.? bayangkan, jika kepada Ibu yang begitu penyayang kita tak dapat menyayangi, siapa lagi yang akan kita sayangi.?, dengan kata lain, kasih sayang kepada Ibu seharusnya adalah tes yang paling mudah kita lalui : menyayangi orang yang kasih sayangnya kepada kita tak terbatas.

sedangkan seperti disabdakan Nabi Saw, kasih sayang adalah syarat keimanan. "tak beriman kalian jika tak saling menyayangi."

diatas semuanya itu, kasih sayang orang yang kita bisa sepenuhnya andalkan adalah kunci kebahagiaan hidup kita. tak ada masalah yang tak bisa kita atasi jika disisi kita tegak orang yang kita percaya, bahkan mau mengorbankan segalanya demi kebaikan kita. dan tak usah jauh-jauh, orang itu adalah Ibu kita. karena kasih sayang Ibu, seperti dikatakan dalam Hadits juga, adalah percikan kasih sayangNya. maka bukan hanya surga di akhirat terletak di telapak kaki Ibu kita, bahkan juga surga dunia kita.


dikutip dari islamindonesia.co.id