Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Sabtu, 25 Januari 2014

Kekuatan Do'a Seorang Ibu

Pada suatu ketika, Musa A.S bertanya kepada ALLAH Azza wa Jalla, “Ya ALLAH, siapa yang akan menjadi sahabatku di surga?”

ALLAH menjawab “Seorang tukang daging.”

Musa pun terkejut mendengarnya! “Kenapa seorang tukang daging menjadi sahabatku di surga?”

Kemudian dia bertanya kepada ALLAH “Dimana aku bisa menemukan orang ini?”

ALLAH memberitahunya bahwa orang ini ada di tempat demikian dan demikian. Dan Musa A.S. pergi menemui tukang daging ini. Sesampainya disana, ternyata dia sedang memotong daging dagangannya. Musa A.S. berpikir “Apa yang begitu spesial tentang orang ini?” Ketika senja tiba dan dia selesai menjual daging-dagingnya, pria ini memungut sepotong daging dan membawanya pulang.

Musa A.S. mulai mengikuti pria ini sampai ke rumahnya dan berkata padanya “Aku seorang pengelana. Akankah kau menerimaku sebagai tamu?” Orang itu berkata “Silahkan masuk.”

Jadi dia mempersilahkan Musa A.S. ke dalam rumahnya, dan Musa A.S.mulai mengamati pria ini. Dia melihat pria ini mengambil sepotong daging yang dia bawa, kemudian mencuci dan memotongnya,  memasaknya, dan menempatkannya di atas piring.

Dan dari rak yang tinggi di ruangan itu, dia mengambil sebuah keranjang dan menurunkannya. Kemudian dia mengambil kain yang basah, dan dari dalam keranjang itu ternyata ada seorang wanita tua. Kemudian dia menggendong wanita tua itu, bagaikan seseorang menggendong bayi.

Kemudian dia mengambil daging yang telah dimasaknya, dan menyuapi wanita tua itu (dalam riwayat yang lain dikatakan dia mengunyah dagingnya baru menyuapi wanita tua itu).

Dan setiap kali wanita itu selesai mengunyah, dia mengambil kain yang basah dan menyeka bersih mulut wanita itu, begitu seterusnya. Ketika makanannya sudah habis, dia membersihkan mulut wanita itu, menaruhnya kembali ke dalam keranjang, dan menaruh keranjang itu kembali di rak yang tinggi.

Musa A.S. menyadari bahwa setiap kali pria itu menyuapinya, wanita itu membisikinya sesuatu.

Jadi dia bertanya padanya "Siapakah wanita tua itu dan apa yang dibisikkannya padamu, saudaraku?"

Pria itu berkata “Dia ibuku. Aku sangat miskin sehingga tidak dapat membeli makanan untuk dimasak di rumah. Jadi aku mengambil sisa-sisa daging di tempat kerja dan membawanya ke rumah untuk dimasak Dan karena ibuku sangat tua dan lemah, sedangkan aku tidak punya uang untuk membeli budak/pembantu, jadi aku melakukannya seorang diri.”

Kemudian Musa A.S. bertanya “Jadi apa yang dibisikkannya kepadamu setiap kali kau menyuapinya?”

Pria itu berkata “Dia berdo’a untukku: ‘Ya ALLAH, jadikan anakku menjadi sahabat Musa di surga.’"

Subhanallah, karena do’a dari ibunya, maka ALLAH mengabulkannya. Inilah kekuatan do’a seorang ibu.


dikutip dari lampuislam.blogspot.com

Kamis, 23 Januari 2014

Ibu, Kasih Tulus Sepanjang Hidup

kita sebut Ibu sebagai pahlawan nomor satu. Tidak bisa dipungkiri ibulah orang nomer satu dalam hidup kita. Tanpa ibu kita tak akan lahir di dunia.

Setelah payah mengandung kita selama sembilan bulan, belum selesai payah yang dirasakan beliau. Ingatkah kita saat kita dilahirkan? Ibu menanggung sakit, bahkan ibu mempertaruhkan nyawanya demi kelahiran kita.
Belum selesai sampai di situ perjuangan ibu dalam memperjuangkan kehidupan kita. Ketika kecil kita rewel, membuat ibu terjaga siang bahkan malam hari. Siang malam ibu menjaga dan menyusui kita. Apakah beliau mengeluh dengan aktivitas beliau menjaga kita sepanjang hari? Jawabnya adalah tidak. kita sering melihat ibu-ibu yang tetap menyunggingkan senyum penuh kebahagiaan ketika bersama dengan buah hatinnya yang masih kecil. Subhanallah sungguh beliau makhluk ALLAH yang penuh ketulusan.

Ketika kita telah besar, kasih sayang beliau tetap terasa, doa-doa beliau tetap mengalir. Sungguh kasih sayang beliau tak ada ujungnya. Ketika kita lama tidak pulang ke rumah, beliau telepon kita sekadar menghilangkan kerinduan beliau, tapi kita sering tak mengingat beliau ketika kita sibuk dengan aktivitas diri kita.

Saat kita pulang dari bumi perantauan tholabul ‘ilmi beliau dekap penuh kehangatan, beliau cium kita dengan penuh kasih sayang. Begitu besarlah kasih sayang seorang ibu. Semoga kita dapat menjadi anak yang berbakti pada Ibu. Aamiin.


dikutip dari http://infokampus.web.id dengan sedikit penyesuaian

Kisah Salman Al Farisi, pengabdian anak pada Ibunya.

Setiap orang yang sehat pasti menyangi dan mencintai Ibunya..
Dan ini adalah kisah pengabdian seorang anak pada Ibunya..

Suatu waktu Nabi Muhammad ditanya oleh sahabatnya.Ya, Rasulullah… adakah orang yang paling disayangi oleh ALLAH SWT selain Engkau.? Nabi Menjawab: Ada, yaitu Salman al Farisi. Lalu sahabat bertanya kembali: kenapa. ya, Rasulallah dia begitu disayang ALLAH.? Kemudian Nabi bercerita bahwa Salman al-Farisi adalah orang yang berasal dari keluarga miskin, sementara Ibunya sangat ingin naik haji, tetapi untuk berjalanpun dia tidak bisa. Demikian juga uang untuk pergi ke Tanah Suci tidak punya. Salman al-Farisi begitu bingung menghadapi kondisi itu. Namun akhirnya, Salman al-Farisi memutuskan untuk mengantar Ibunya naik haji dengan cara menggendong Ibunya dari suatu tempat yang begitu jauh dari Mekkah. Di perlukan waktu berhari-hari untuk melaksanakan perjalanan itu sehingga tanpa terasa punggung Salman al-Farisi sampai terkelupas kulitnya.”

Kisah panjangnya paling tidak seperti ini.

Suatu hari ada seorang anak sholeh yang mengendong Ibunya yang tercinta. dikisahkan Ibunya sedang sakit dan tidak memungkinkan untuk berjalan sendiri.

saat perjalanan dari kota Madinah menuju kota Mekah dalam rangka melaksanakan ibadah Haji . Bisa dibayangkan panasnya terik matahari ketika siang dan dinginnya malam hari serta beratnya gendongan yang ada di pundaknya bukan? Betapa berbaktinya anak ini kepada Ibunya, ingin membahagiakan Ibunya yang sedang sakit dengan mengantarkanya menuju rumah Tuhan bahkan dengan menggendongnya, betapa besar pengorbanan dan usahanya.

Ketika akhirnya mereka sampai di kota Mekah untuk melaksanakan ibadah Haji mereka bertemu dengan Rasulullah. Bahagia sekali sang anak beserta Ibunya ini ketika mereka bertemu denga Utusan Tuhan yang sangat mereka cintai dan mereka rindukan.

Terjadilah percakapan yang kurang lebih seperti ini
Sang anak bertanya kepada Rasul, “Ya Rasul..apakah saya sudah berbakti kepada orang tua saya? Saya menggendong Ibu saya di pundak saya berjalan dari Madinah sampai Kota Mekah untuk melaksanakan ibadah haji”.

Seketika itu pula Rasul menangis, Kemudian Rasul menjawab dengan diiringi tangisnya yang tersedu-sedu “Wahai Saudaraku, engkau sungguh anak yang luar biasa, engkau benar-benar anak sholeh, tapi maaf…..(sambil tetap menangis) apapun yang kamu lakukan di dunia ini untuk membahagiakan orang tuamu…. apapun usaha kerasmu untuk menyenangkan orang tuamu …. tidak akan pernah bisa membalas jasa orang tuamu yang telah membesarkanmu”

semoga kisah ini dapat membuat kita semua menjadi anak yang lebih baik. Amin..


dikutip dari agussalimchaniago.wordpress.com

kisah perjuangan seorang Ibu bertaruh nyawa melahirkan anaknya

Kasih Ibu sepanjang masa, adalah ungkapan yang memiliki arti dalam dan penuh makna. Bagaimana seorang ibu berjuang untuk melahirkan anaknya hingga bertaruh nyawa dan tidak menuntut balas apapun juga. Melahirkan bukanlah proses yang mudah bagi sebagian wanita dan membutuhkan banyak pengorbanan, salah satunya adalah nyawa. Namun menjadi ibu adalah anugerah yang tidak bisa ditukar dengan apapun di dunia Ini. Salah satu bukti bahwa kasih ibu kepada anaknya tidak bisa dihitung dengan angka adalah perjuangan seorang wanita asal Amerika Serikat ini.
 
Erica Nigrelli adalah warga Negara Bagian Texas, Amerika Serikat. Ketika proses melahirkan bayinya, Erica dinyatakan secara medis telah meninggal dunia. Detak jantung Erica sudah tidak ada selama beberapa saat namun keajaiban Tuhan bekerja, denyut nadi Erica berdetak lagi dan Erica dinyatakan hidup kembali. Proses melahirkan Erica pun bisa dibilang mendebarkan karena berawal dari Erica jatuh kemudian pingsan. Erica berprofesi sebagai seorang guru. Erica jatuh ketika berada di sekolah kemudian jatuh pingsan di dekat tangga sekolah saat hendak mengajar. Suami sekaligus rekan satu profesi nya, Nathan Nigrelli mendapatinya tergeletak di lantai dan sudah tidak bernafas lagi.
 
Nathan berujar bahwa ketika mendapati istrinya sudah tergolek di lantai,  Erica mengalami kejang. "Erica terbujur di lantai. Mulutnya berbusa dan sudah tidak sadarkan diri" ungkap Nathan. Tanpa menunggu lama, Nathan pun menelepon bantuan medis dan segera membawa istri tercintanya itu ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Nathan berkali-kali membisikkan ke telinga istrinya bahwa istri tercintanya itu harus kuat dan pasti bisa bertahan. Sesampainya di rumah sakit, Erica langsung mendapat pertolongan medis. Namun sayangnya Erica sudah tidak ditemukan detak jantungnya, sehingga dokter mengambil keputusan Erica dioperasi caesar untuk mengeluarkan bayinya padahal Erica sudah tiada.
 
Menurut dokter yang menangani Erica, Erica Nigrelli mempunyai sindrom kondisi jantung serius bernama Hypertrophic Cardiomyopathy. Kondisi ini membuat Erica tampak seolah sudah meninggal dunia padahal masih bisa tertolong dengan alat pacu jantung. Alat pacu jantung bisa membuatnya kembali berdetak namun jangan sampai telat memberikan bantuan. Tim dokter pun dengan segera memberikan pertolongan pacu jantung kepada Erica. Dengan kuasa Tuhan, Erica pun selamat dan jantungnya kembali berdetak. Pihak rumah sakit pun kagum lantaran Erica Nigrelli bisa bertahan untuk tetap hidup.
 
Tidak hanya pihak rumah sakit, Nathan sang suami mengaku kagum dan bangga kepada istrinya itu. "Saya menikahi pejuang dan bayi ini juga akan menjadi pejuang," kata Nathan sembari menggendong bayi mungilnya. Bayi yang dilahirkan Erica dengan penuh perjuangan itupun lahir dengan sehat dan tanpa kurang suatu apapun. Bayi mungil itu diberi nama Elayna Negrilli. Elayna menjadi salah satu anak yang dilahirkan dengan penuh perjuangan dan memacu adrenalin kedua orangtuanya. Kasih Ibu yang begitu besar kepada anaknya membuat Tuhan tidak berdiam dan memberikan Mukjizat Tuhan. Begitu besar perjuangan dan pengorbanan Erica untuk buah hatinya, sudahkah Anda mengucapkan terima kasih kepada ibu Anda karena telah menghadirkan Anda ke dunia.?
 
 
dikutip dari vemale.com

Senin, 20 Januari 2014

Kisah Ibunda Haritsah Bin Suraqah

Haritsah bin Suraqah adalah seorang pemuda Anshar. Beliau punya cerita yang amat menarik tentang dirinya sebagaimana yang tersebut dalam buku-buku Sirah Nabawiyah. Penggalan akhir dari cerita ini bahkan ada dalam Shahih Bukhari. Tentu bukan hanya kisah tentang dirinya, tapi juga sang Ibu yang turut mewarnai jalan hidup yang menjadi pilihannya.

Kisah ini bermula ketika Nabi SAW menyeru para sahabatnya untuk pergi ke Badar. Mendengar seruan Nabi tadi, Haritsah bin Suraqah mendatangi Ibunya, seorang wanita tua yang telah bungkuk punggungnya. Sang Ibu sangat sayang kepada anaknya yang satu ini. Hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa si anak pun kadang membuatnya cemas. Sengatan matahari di siang hari terhadap anaknya juga membuatnya cemas. Bahkan lebih dari itu, seandainya si buah hati bersimpuh di hadapannya, lalu memintanya menyerahkan nyawanya untuknya, niscaya sang Ibu tak segan-segan memberikannya.

Suatu ketika sang Ibu bersimpuh di hadapan anaknya. Dengan penuh harap ia memohon kepada Haritsah agar mau menikah. Ia amat merindukan lahirnya seorang cucu dari buah hatinya ini. Dengan lembut haritsah berkata,”Bunda..” “apa yang hendak kau perbuat wahai anakku?” Tanya sang Ibu. “saat ini Rasulullah sedang mengajak para sahabat untuk menyertai beliau ke Badar dan aku berniat untuk ikut bersama mereka,” kata Haritsah. “wahai anakku, sungguh demi ALLAH, amat berat rasanya berpisah denganmu. Wahai anakku, tetaplah bersamaku dan janganlah pergi!” pinta sang ibu sambil memelas. Namun Haritsah tak putus asa, ia terus menerus membujuk Ibunya sambil menciumi kening sang Ibu serta kedua tangan dan kakinya hingga ia merelakan keberangkatannya. “pergilah, hai anakku, nampaknya aku tak akan merasakan nikmatnya makan, minum, dan tidur hingga engkau kembali kepadaku,” kata Ibunya. Perlahan sang Ibu mengenakan pakaian bagi anaknya, menyelempangkan panah dan busurnya, kemudian mengecup keningnya, lalu melepas kepergiannya.

Tatkala kaum Muslimin tiba di Badar, mereka bermarkas di sekitar sumur Badar. Setelah mereka bermarkas di sana, mulailah pasukan kafir tiba kompi demi kompi untuk mengambil posisi mereka. Sesaat sebelum genderang perang di tabuh, kedua pasukan telah siap berhadap-hadapan. Ketika itulah tiba-tiba Haritsah berlari menuju sumur Badar,tenggorokannya kering terbakar rasa haus. Bergegas ia ke sumur tadi untuk melepas dahaganya. Tatkala kedua tangannya menciduk air dari sumur untuk di minum, tiba-tiba ada seorang sahabat yang melihatnya. Ia adalah seorang Muslim dari Bani Najjar. Rasulullah SAW menugaskannya untuk menjaga sumur Badar dari para penyelinap. Sebagai orang yang di tugasi untuk menjaga sumur, sahabat tadi khawatir jika ada seseorang dari pihak musuh yang ingin mencelakai kaum Muslimin dengan mencemari air sumur itu.

Maka tatkala ia mendapati Haritsah hendak mengambil air di sumur tersebut, ia langsung waspada dan berkata, “A’udzubillah, orang kafir ini hendak mencemari sumur kita!?” segeralah ia siapkan busurnya, lalu ia letakkan sebatang anak panah di atasnya. Dengan seksama ia bidikkan anak panah tadi ke arah Haritsah, lalu dipanahnya Haritsah sekuat tenaga dan kemudian, Bless..!! anak panah itu tepat mengenai kerongkongan Haritsah!! Dia pun berteriak kesakitan. Ia terkapar di tanah sembari berteriak-teriak minta tolong. Anak panah tadi nyaris membuatnya tak bisa berbicara. Namun tak seorang pun datang menolong. Mereka mengira bahwa Haritsah adalah mata-mata musuh. Ia mencoba mencabut anak panah itu, namun apa lacur, ternyata tubuhnya yang justru terkoyak karenanya. Darah pun mengalir deras membasahi sekujur tubuhnya. Ia terus menerus mengerang kesakitan sambil meregang nyawa, dan akhirnya ia wafat. Setelah terbunuh, si penjaga sumur menghampirinya untuk mencari tahu tentang orang itu. Alangkah kagetnya ia ketika mendapati bahwa yang terbunuh ternyata Haritsah bin Suraqah. "La haula wa la quwwata illa billah!!” serunya terperanjat. Ia segera mengabarkan kepada Nabi SAW akan apa yang terjadi, namun beliau memaafkannya.

Usai peperangan, Rasulullah SAW dan para sahabatnya kembali ke Madinah, kaum muslimin keluar berbondong-bondong menyambut kedatangan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Wanita, anak-anak, dan orang tua sama-sama menunggu di gerbang kota, di tengah teriknya matahari dan gersangnya padang pasir. Para wanita menunggu kedatangan suami mereka, anak-anak menunggu kedatangan ayah mereka, dan orang tua menunggu kedatangan anak mereka. Di antara mereka yang menunggu tadi ialah ibunda Haritsah bin Suraqah seorang wanita tua yang jantungnya berdegup kencang menanti kedatangan anak tersayang. Tatkala pasukan kaum muslimin tiba di Madinah, anak-anak berlarian menghampiri ayahnya masing-masing, kaum wanita bergegas mencari suami mereka, demikian pula para orang tua menyambut anak mereka, sedangkan ibunda Haritsah masih duduk termenung menunggu kedatangan anaknya.

Rombongan pertama telah tiba, disusul yang kedua, ketiga, kesepuluh, keseratus, kedua ratus. Namun, Haritsah tak kunjung tiba, sedangkan sang ibu tetap setia menantinya di tengah terik matahari yang membakar kulit. Ia takkan bosan menanti jantung hatinya itu, setelah selama ini ia selalu menghitung hari demi hari, bahkan menit demi menit menanti kedatangan anaknya. Ia bertanya kesana kemari perihal anaknya. Namun lagi-lagi, ia kembali dengan tangan hampa. Hampir saja ia dihinggapi rasa putus asa akan anaknya. Berulang kali ia mencari-cari anaknya, namun sang anak tak terlihat juga diantara rombongan-rombongan itu. Maka dipegangnyalah seorang sahabat seraya bertanya, “apakah engkau mengenal Haritsah bin Suraqah?” “ya, Ibu siapa?” Tanya orang itu. “aku adalah Ibunya, aku Ibunda Haritsah,” jawab si Ibu. “jika anda benar Ibunya, maka tabahkanlah hati anda, sesungguhnya Haritsah telah terbunuh,” jawab orang itu. Mendengar kata-kata itu segeralah terbayang dalam hatinya akan Jannah. Ia berteriak, “Allahu Akbar!!Anakku telah syahid!! Semoga ia akan memberiku syafaat di Jannah kelak.” “Syahid? Kurasa ia tidak mati syahid,” sela orang itu. “lho, ada apa memangnya?” Tanya si Ibu keheranan. “ia tidak mati di tangan orang kafir,” jawab lelaki itu. “ia tidak terbunuh diantara barisan kaum muslim?” Tanya si Ibu. “tidak,” jawab lelaki tadi. “ia tidak terbunuh demi mempertahankan panji-panji Islam?” Tanyanya lagi. “tidak,” jawab lelaki itu. “lantas bagaimana ia mati terbunuh? Dimanakah Haritsah anakkku?” tanyanya agak histeris. “sesungguhnya Haritsah terbunuh sebelum perang dimulai, dan yang membunuhnya adalah salah seorang dari kaum Muslimin. Jadi anakmu belum sempat berperang sedikitpun,” kata lelaki itu. “apa maksudmu?” Tanya si Ibu. “ia bukanlah seorang syahid menurutku. Akan tetapi, semoga saja ALLAH memasukkannnya dalam Jannah,” jawabnya enteng. Setelah mendengar jawaban itu, sang Ibu bertanya, “kalau begitu dimanakah Rasulullah SAW?” “itu dia, beliau sedang menuju kemari,” katanya.

Maka bergegaslah perempuan ‘malang’ ini mendatangi Rasulullah SAW, ia mengayun langkahnya yang berat dengan hati yang diliputi kegalauan akan anaknya, air matanya berderai membasahi pipinya, namun bukan air mata biasa, akan tetapi seakan ruhnya yang menetes. Di hadapan Nabi SAW, perempuan ‘malang’ ini berdiri dengan kepala tertunduk. Nabi SAW menatapnya dengan penuh rasa iba, wanita tua sebatang kara, tak punya tempat kembali untuk berbagi kesedihan. Beliau pun bertanya, “siapa anda?” “aku Ibunya Haritsah,” jawabnya. “apa yang anda inginkan, wahai Ibunda Haritsah?” tanya Nabi SAW. “ya Rasulullah, engkau tahu betapa cintanya aku kepada Haritsah dan semua orangpun tahu alangkah cintanya aku kepadanya. Ya Rasulullah, aku mendengar, aku mendengar bahwa ia telah terbunuh. Maka kumohon padamu kabarkanlah aku dimana anakku sekarang? Kalau ia berada di Jannah, aku akan sabar, namun jika tidak demikian, biarlah ALLAH menyaksikan apa yang kuperbuat nanti!!” serunya. Nabi pun menatapnya dengan keheranan, “apa yang barusan anda katakan hai Ibunda Haritsah, apa yang anda katakan?” “sebagimana yang engkau dengar tadi, ya Rasulullah, kalau ia berada di Jannah, aku akan sabar, namun jika tidak demikian, biarlah ALLAH menyaksikan apa yang kuperbuat nanti!!” jawabnya.

Maka Nabi yang pengasih ini menatapnya dengan iba. Ia tak ubahnya seperti wanita tua yang sedang kalut pikirannya. Hatinya dipenuhi kegalauan. Ia berangan-angan andai saja anaknya berdiri di depannya, kemudian ia mendekapnya, menciumnya, dan membelainya. Ia rela berkorban apa saja untuk itu semua, walau dengan nyawanya sekalipun. Kedua kakinya terlihat kaku, lisannya terdiam membisu, tulang-tulangnya nampak rapuh, punggungnya yang membungkuk, kulitnya yang keriput dan suaranya yang serak seakan tertahan dalam kerongkongan. Alangkah malangnya nasib perempuan tua ini. Ia berdiri sembari kedua matanya menatap dengan penuh rasa ingin tahu. Kiranya jawaban apa yang akan didengarnya dari utusan ALLAH ini? Melihat kepasrahannya, ketundukkannya, dan keterkejutannya atas kematian anaknya, Nabi SAW berpaling kepadanya seraya berkata, “apa yang Ibu katakan?” “seperti yang engkau dengar sebelumnya, ya Rasulullah,” jawabnya. “celaka, bagaimana engkau ini, hai Ibunda Haritsah, kau sedih kehilangan anakmu? Bukan Cuma satu Jannah baginya, ada Jannah yang bertingkat-tingkat disana, dan Haritsah berada di Firdaus yang paling atas.” Tatkala mendengar jawaban ini redalah tangisnya dan kembalilah akalnya, lalu ia berkata “ya Rasulullah, ia benar-benar berada di Jannah??” “iya,” jawab beliau SAW. Maka kembalilah perempuan ‘malang’ ini ke rumahnya, disanalah ia mengisi hidup sambil menanti datangnya kematian. Ia rindu untuk segera bersua dengan buah hatinya di Jannah. Ia tak meminta ghanimah maupun harta, tidak pula mencari ketenaran maupun popularitas. Ia cukup ridha dengan Jannah, toh selama berada di Jannah, ia bisa makan sepuasnya, berteduh di bawah pohon-pohon rindang sesukanya, dan berkumpul bersama wajah-wajah yang berseri karena melihat wajah ALLAH. Mereka semuanya ridha didalamnya.

Demikianlah balasan yang setimpal bagi mereka. Bukankah selama ini mereka telah mempertaruhkan nyawa untuk itu, tubuh mereka yang dahulu penuh sayatan pedang, tusukan tombak, dan tancapan panah. Kini tibalah saatnya menuai segala jerih payah.”Mereka berada diatas dipan yang bertahtakan emas dan permata, seraya bertelekan diatasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari mata air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Bagi mereka ada buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang mereka telah kerjakan. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam..” (QS. al-Waqi’ah: 15-26).

Semoga ALLAH merahmatimu wahai Ibunda Haritsah, dan menempatkanmu bersamanya dalam Jannatul Firdaus.


dikutip dari ayonikah.com

Minggu, 19 Januari 2014

Kasih Tulus Seorang Ibu

Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah ? Sudah pasti jawabannya adalah : k-e-h-a-m-i- l-a-n.

Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, Seberat apa pun langkah yang mesti diayun, Seberapa lama pun waktu yang harus dijalani, Tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan: p-o-s-i-t-i- f


.
Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya.

Seringkali ia bertanya : menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedihkah atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika itu mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia.

Rasa sakit pun sirna, ketika mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran.

Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar. Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak.

Si kecil baru saja berucap "Ma?" segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada di daftar telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka.

Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak terhenti rezekinya.

Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan. "Demi anak", "Untuk anak", menjadi alasan utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil.

Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju untuk dirinya sendiri dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil.

Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak. Di saat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Beli susu anak; 2. Uang sekolah anak. Nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya.

Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.

Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby sitter yang paling setia.

Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran. Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu.

Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya.

Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia pun terus mendongeng.

Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang akan berangkat ke sekolah. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta merta kalimat, "sudah makan belum?" tak lupa terlontar.

saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu, sekarang sudah menjadi orang dewasa yang bisa saja membeli makan siangnya sendiri di Sekolahnya.

Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata? Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan.

Ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin. Di saat itu, ia pun sadar, buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih, "Masihkah kau anakku?"

Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, "Bila ibu meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian".

Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. "Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih & shalihat sejak kecil," ujarnya.

Duh ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibulah madrasah cinta saya, Ibulah sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran, yaitu "cinta". Sekolah yang hanya punya satu guru yaitu "pecinta". Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: "anakku tercinta".
 
 
dikutip dari http://nisyatullaena.blogspot.com

Selasa, 14 Januari 2014

Cinta Ibu Tiada Kata Akhir

Sebuah foto yang menggambarkan seorang Ibu berumur 97 tahun di Cina yang sedang menyuapi dan merawat anaknya yang lumpuh yang sudah berumur 60 tahun. Ini sudah dilakukannya sejak 19 tahun yang lalu. foto ini mengingatkan kita betapa cinta seorang ibu tidak akan pernah lekang oleh waktu dan tiada akan pernah mengenal kata akhir. sebagai bahan renungan bagi kita sebagai seorang anak bahwa betapa besar Cinta yang dimiliki manusia Mulia ini, oh..Ibu.

 Cinta Ibu akan terus ada sepanjang hayat seorang anak

dikutip dari http://motivasi215.blogspot.com dengan berbagai penyesuaian

Kisah Kesabaran Seorang Ibu Merawat Anaknya Yang Tidak Memiliki Organ Mata

Kebesaran yang dimiliki oleh ALLAH SWT selalu ditunjukkan kepada hamba-hambanya tak kecuali kejadian yang satu ini, pada christian seorang anak yang kini berusia setahun, dilahirkan tanpa kedua mata disebabkan keadaan penyakit pada mata yang jarang ditemui.

Tetapi, itu tidak mengurangkan kasih sayang Lacey Buchanan, sang Ibu terhadap anaknya dan dia dengan bangga menunjukkan anaknya kepada dunia.

Dalam satu video inspirasi yang dimuat di YouTube, Lacey menunjukkan kasih sayang yang dilalui oleh mereka setiap hari, termasuk keadaan di mana christian terpaksa berhadapan dengan keadaan yang menyulitkannya. video sepanjang tujuh menit ini dibuat untuk menunjukkan betapa Lacey menyayangi anaknya itu tanpa rasa malu memiliki anak yang cacat.

Dengan menggunakan kertas bertulis tangan, dia bercerita bagaimana dia bertemu dengan bapak anaknya itu ketika berusia 15 tahun dan mereka jatuh cinta. Dia menikah dengan suaminya chris, ketika dia berusia 21 tahun dan mengandung christian ketika usianya 23 tahun.

“Kami sangat gembira!!” tulisnya. Ketika usia kandungannya menginjak 18 minggu, mereka membuat ultrasound dan pasangan itu mendapat kabar bahwa mereka akan mendapat anak laki-laki, dan ini menambahkan lagi kegembiraan bagi mereka.

Tetapi selepas satu minggu mendapat berita baik, pasangan itu kembali menerima panggilan dari dokter mereka yang memberitahu ada yang tidak wajar dengan janin itu. terdapat masalah pada bayi mereka dan ini menyebabkan pasangan itu bersedih.

Ketika kandungan Lacey semakin membesar, dokter semakin tidak pasti apa yang tidak wajar dengan bayinya dan berkata dia mempunyai peluang 85 persen untuk gugur. tapi pasangan ini menolak untuk menggugurkan kandungan dan percaya dia mempunyai hak untuk hidup di dunia dan mereka akan menyayanginya walau apapun yang akan terjadi pada anak tersebut.

pasangan suami istri Lacey dan chris ke Pusat penyembuhan Vanderbilt di mana christian dilahirkan, Mereka menyangka mereka mungkin tidak akan dapat membawa christian pulang. pasangan itu gembira saat christian selamat dilahirkan tetapi kegembiraan mereka sekejap saja. sebab keadaan christian lebih buruk daripada apa yang dokter perhitungkan sebelumnya. tapi sang Ibu Lacey Buchanan tetap bersabar dengan keadaan sang anak, bahkan ia bangga dan tidak malu memperlihatkan pada dunia bahwa ia begitu menyayangi anaknya.

Lacey Buchanan seorang Ibu dengan anaknya

dikutip dari http://berfose.blogspot.com dengan sedikit penyesuaian

Betapa Berharganya Air Mata Seorang Ibu

Ada seorang pemuda menemui Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam dan berkata,'Wahai Rasul, ayah saya kini telah tiada, sedangkan ibu saya sudah tua. Kalau makan, saya haluskan dulu makanannya kemudian saya letakkan makanan itu ke dalam mulutnya, tak ubahnya anak kecil. Saya letakkan beliau dalam ayunan kain seperti bayi dan setelah itu saya mengayunnya sampai tertidur.

Mendengar penuturan pemuda tersebut Rasulullah
Shalallahu Alaihi Wa Salam meneteskan air mata, lalu anak muda itu bertanya,'Wahai Nabi, apakah saya sudah dapat menggantikan jerih payah ibu saya?'

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam Bersabda, 'engkau takkan pernah bisa menggantikan semua jerih payahnya bahkan satu rintihan di antara rintihan-rintihannya pada saat melahirkanmu. (HR. Muslim).

Rintihan dan Air mata seorang Ibu begitu berharga, rintihan dan air mata ibu ketika melahirkan diri kita, rintihan dan air mata ibu di kala malam tiba dan bermunajat untuk anaknya akan selalu didengarkan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala. kesuksesan seorang anak berarti munajat yang didipanjatkan seorang ibu. setiap rintihan dan air mata seorang Ibu untuk anaknya adalah sebuah do'a yang dipanjatkan, setiap air mata seorang Ibu begitu berarti untuk kehidupan dunia dan akhirat anak-anaknya. rintihan dan air mata seorang Ibu tidak akan pernah bisa tergantikan oleh hadiah apapun dari anak-anaknya.

Betapa tiada berartinya seorang anak bila seorang Ibu menitikan air mata karena perbuatan durhaka anak-anaknya, betapa menakutkannya hidup seorang anak yang telah membuat Ibunya menumpahkan air mata kesedihan disebabkan oleh kedurhakaan anak-anaknya, tidak akan pernah bahagia di dunia dan terlebih lagi di akhirat nanti seorang anak yang tega menumpahkan air mata seorang Ibu, tidak akan ada bahagia yang dijumpai anak yang telah mendurhakai kedua orang tuanya, terutama Ibunya meski ia bergelimang harta dunia sekalipun, ridha seorang Ibu adalah juga ridha ALLAH dan murka seorang Ibu adalah juga murka bagi ALLAH, jangan biarkan Air Mata Ibu tertumpah kecuali untuk yang membuatnya berbahagia dan ridha pada diri kita sebagai seorang anak.



dikutip dari http://jutaaninformasi.blogspot.com dengan banyak tambahan

Dahsyatnya Pelukan Ibu

Ternyata pelukan Ibu dapat mengubah perilaku anak. hal ini dapat kita buktikan saat bayi menangis menjerit-jerit akan segera diam apabila kita peluk dengan penuh kasih sayang, pelukan juga akan mengurangi rasa sakit pada si kecil.

Pelukan adalah obat yang mujarab :

• Mengurangi depresi dan meningkatkan kekebalan tubuh. Pelukan juga bisa memberi energi baru pada tubuh lelah menjadi segar dan merasa muda. Pelukan yang dilakukan di rumah secara rutin akan memperkokoh tali kasih.

• Jumlah hemoglobin atau sel darah merah dalam darah akan meningkat ketika seseorang disentuh. Hemoglobin adalah darah yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh termasuk ke jantung dan otak. Peningkatkan jumlah hemoglobin bisa mencegah dan menyembuhkan penyakit.

• Peluklah anak sebelum berangkat kerja, ini akan membuat orangtua fokus pada pekerjaan, bahagia, dan menjadi produktif.

Agar pelukan Anda berdaya penyembuh, sebelum memeluk anak :

• Singkirkan hal-hal yang mengggangu pikiran seperti urusan pekerjaan yang belum selesai, urusan rumah yang menumpuk, gagal menjaga pola makan dan rencana-rencana yang tertunda. Memberi pelukan dengan kepala dipenuhi oleh pikiran akan mengurangi energi dan kehangatan yang Anda berikan kepada si kecil. Sebab, saat memeluk si kecil, pikiran Anda tidak berada pada si kecil dan anak akan merasakan pelukan Anda yang ‘kering.’

• Bebaskan tangan dari semua benda yang selama ini paling sering ada di tangan seperti telepon genggam, tas tangan, kunci atau majalah. Dengan begitu tangan Anda tercurah untuk memeluknya dan jari-jari Anda bisa membelai si kecil dengan leluasa.

Selain hal tersebut, pelukan juga memiliki manfaat untuk anak, antara lain :

• Merangsang perkembangan sel otak
• Mengurangi stress.
• Merangsang rasa kantuk.
• Membangun konsep diri yang positif.
• Mengurangi emosi negatif seperti kesepian, cemas dan frustasi.
• Mengatasi rasa takut.
• Transfer energi.

Untuk melahirkan seorang anak, seorang ibu akan mengalami rasa sakit 57 del (unit) sedangkan manusia hanya bisa menahan rasa sakit sebanyak 45 del (unit). 57 del (unit) sama dengan 20 tulang yang patah disaat bersamaan. Ini sama saja dengan Mengorbankan nyawa dari seorang Ibu, Bisa Anda bayangkan Rasa Sakit dan Cinta sang Ibu.?


dikutip dari http://akuituhebat.wordpress.com

Kisah Anak dan Ibu melawan dahsyatnya Topan Haiyan, 'Ibu Pergilah, Selamatkan Dirimu'

Topan Haiyan beberapa waktu lalu menghantam negara Filipina. Begitu dahsyatnya badai topan yang mengerikan itu. topan Haiyan merupakan salah satu badai paling besar dan tercepat yang pernah tercatat. Kecepatan angin mencapai tinggi 314 kilometer (195 mil) per jam di atas permukaan laut.

Di tengah momen menegangkan Topan Haiyan, ada sebuah kisah duka yang tak akan pernah dilupakan oleh seorang guru sekolah menengah bernama Bernadette Tenegra. Wanita berusia 44 tahun itu kehilangan putrinya dalam bencana yang menghantam Vietnam dan Filipina tersebut.

Dalam kondisi angin yang dengan ganasnya menghantam, Bernadette dan putrinya memang ketakutan. Namun Bernadette berusaha membawa dan melindungi putri bungsunya. Saat itu putrinya sudah penuh luka akibat terkena serpihan kayu dari pohon dan bangunan.

Namun Anda tak akan menduga apa yang dikatakan gadis itu, "Ma, pergilah tinggalkan aku. Selamatkan dirimu." Sang ibu berkeras membawa dan menyelamatkan putrinya. Sebagai seorang ibu, nalurinya untuk melindungi sang anak lebih besar daripada rasa takutnya pada badai tersebut.

"Aku memeluknya dan memintanya untuk terus bertahan. Aku berkata akan membawanya pergi dari situ, namun ia akhirnya menyerah," Cerita Bernadette Tenegra dengan hati yang pilu. Sang putri seolah sudah mengetahui bahwa ia tak akan hidup lebih lama dan meminta ibunya untuk menyelamatkan diri saja.

Badai itu menggulingkan rumah, menyapu apapun yang ada di hadapannya. Termasuk suami Tenegra dan anak-anaknya. Namun mereka masih bisa berusaha mencari perlindungan. Hanya putri bungsunya yang terjebak dalam pusaran kuat air dan angin yang menjadi satu.

Sebagai seorang ibu, Bernadette berusaha membuat anaknya bertahan. Ia terus berteriak memanggil namanya, namun sang putri kelihatan terlalu lemah untuk terus hidup. "Akhirnya aku meninggalkannya," kata Bernadette sambil berurai air mata. Tak terbayangkan betapa sedihnya hati seorang ibu ketika kehilangan putri yang ia cintai.

Badai ini memang menjadi salah satu badai terkuat di dunia dan sudah 'menyapa' beberapa negara. Ada yang menyebut badai topan Haiyan sebagai badai Yolanda. Dan sedihnya, Tenegra bukan satu-satunya wanita yang kehilangan sanak keluarganya akibat badai ganas ini. Banyak orang yang nampak berusaha mengenali jenazah yang bergelimpangan untuk mencari kerabat mereka yang hilang.

Seorang Ibu akan berjuang sekeras mungkin untuk menyelamatkan anak-anaknya dari apapun yang membahayakannya, bahkan jika harus mengorbankan nyawa seorang Ibu sekalipun, Ibu akan rela melakukannya, naluri seorang Ibu itu begitu dahsyat, seorang Ibu adalah pelindung yang begitu berarti buat seorang anak di dunia ini, tanpa Ibu segalanya akan terasa begitu menakutkan bagi seorang anak, jangan pernah ragukan pengorbanan dan perlindungan dari makhluk yang begitu mulia ini, Ibu..


dikutip dari vemale.com dengan sedikit tambahan

Kasih Sayang Ibu Sekukuh ‘Arsy ALLAH

seorang arif pernah menyatakan dalam wasiatnya pada anaknya : "kasih sayang Ibu sekukuh 'Arsy ALLAH", apa kira-kira makna pesan itu.?

Arsy ALLAH adalah tempat ALLAH "berada". dalam Al Qur'an, ia sekaligus disebut sebagai tempat bersemayam Dia Yang Maha Pengasih :

"Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Rahman), Yang bersemayam di atas 'Arsy." (QS. 20:5)

Al Rahman adalah inti semua sifat ALLAH yang bermakna kasih sayang yang tidak terbatas, melimpahi segala sesuatu tanpa terkecuali, dengan kata lain Al Rahman berarti kasih sayang yang paling agung dan tak bersyarat.

"Akulah ALLAH dan Akulah Al Rahman, Akulah yang ciptakan rahim (Ibu) dan Aku ambilkan sebutannya dari namaKu (Al Rahim).." (Hadits Qudsi riwayat Tirmidzi)

begitulah ukuran besarnya kasih sayang seorang Ibu, sehingga Nabi mengajarkan : "surga berada ditelapak kaki Ibu"

meski menyebut ridha ALLAH terletak pada ridha Ayah dan Ibu, Nabi mengajarkan bahwa Ibu berhak tiga kali lebih banyak untuk disayangi ketimbang Ayah.

seseorang datang kepada Rasulullah Saw dan bertanya : wahai Rasul, kepada siapa aku harus berbakti pertama kali.?, Nabi menjawab : 'Ibumu' kemudian siapa lagi.? 'Ibumu' kemudian siapa lagi.? 'Ibumu' orang tersebut bertanya kembali, kemudian siapa lagi, Nabi menjawab, 'kemudian Ayahmu' (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

berbaik hati pada Ibu adalah ajaran para Nabi, Nabi Isa As. menyatakan : "ALLAH telah mewasiatkan kepadaku agar..berbaik hati pada Ibuku" (QS. 19:32)

Nabi Muhammad Saw. juga menyuruh seseorang yang ingin berjihad untuk mendahulukan melayani Ibunya yang masih hidup.

demikian tinggi penghargaan terhadap Ibu, hingga ALLAH sendiri berfirman,
"...Janganlah seorang Ibu menderita kesengsaraan karena anaknya..." (QS. 2:233)

pentingnya memperhatikan dan membahagiakan Ibu tercermin pula dalam kisah Nabi Musa berikut :
"...Maka Kami mengembalikanmu (Musa As) kepada Ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita." (QS. 20:40)

dalam Bihar al Anwar Imam Sajjad meriwayatkan :
"Suatu saat seorang lelaki mendatangi Rasul.
Ya Rasul, aku telah lakukan segala kejahatan yang diketahui, masihkah ada peluang bertaubat bagiku.?
Nabi bertanya, apa Orang Tuamu masih hidup.?
'Bapakku, jawabnya.
pergi layani Bapakmu dengan baik, kata Nabi.
'Andai Ibunya masih hidup.., gumam Nabi ketika laki-laki itu pergi."

kenapa menyayangi Ibu begitu penting.? bayangkan, jika kepada Ibu yang begitu penyayang kita tak dapat menyayangi, siapa lagi yang akan kita sayangi.?, dengan kata lain, kasih sayang kepada Ibu seharusnya adalah tes yang paling mudah kita lalui : menyayangi orang yang kasih sayangnya kepada kita tak terbatas.

sedangkan seperti disabdakan Nabi Saw, kasih sayang adalah syarat keimanan. "tak beriman kalian jika tak saling menyayangi."

diatas semuanya itu, kasih sayang orang yang kita bisa sepenuhnya andalkan adalah kunci kebahagiaan hidup kita. tak ada masalah yang tak bisa kita atasi jika disisi kita tegak orang yang kita percaya, bahkan mau mengorbankan segalanya demi kebaikan kita. dan tak usah jauh-jauh, orang itu adalah Ibu kita. karena kasih sayang Ibu, seperti dikatakan dalam Hadits juga, adalah percikan kasih sayangNya. maka bukan hanya surga di akhirat terletak di telapak kaki Ibu kita, bahkan juga surga dunia kita.


dikutip dari islamindonesia.co.id

Senin, 13 Januari 2014

Kisah Nyata Kasih Sayang Ibu Hingga Akhir Hayat

Kasih sayang ibu memang sepanjang masa. Hingga akhir hayatnya, seorang ibu masih memikirkan kebaikan anaknya. Kisah nyata ibu yang berhati mulia ini terekam dalam kenangan Juan Guirre, oleh sang ibu.

Juan merasakan betapa ia memiliki seorang ibu yang hebat. Ibunya memiliki tubuh yang besar, namun juga hati dan inspirasi yang sangat besar. Tanpa ibunya, mungkin Juan tak akan pernah menjadi seorang musisi besar seperti sekarang. Namun ada sesuatu yang jauh lebih menyentuh hatinya.

Sejak usia 5 tahun, Juan mengalami kerusakan mata karena kecelakaan mobil dan kornea matanya rusak. Namun berkat dukungan dan kasih sayang sang ibu, pria ini berhasil menjalani hari-harinya yang buram dan menjadi seorang penyanyi terkenal dengan nama panggung Diablo Dimes.

Seiring waktu berjalan dan anaknya semakin dewasa, Miriam Aguirre, sang ibu, membiarkan anaknya untuk menempuh hidup baru dengan keluarga kecilnya. Namun bagaimanapun, Juan ingin sang ibu bisa tinggal lebih dekat dengan dirinya.

Hingga tanggal 30 September yang lalu, Juan menerima sebuah telepon yang mengguncang dirinya. Sang ibu menderita penyakit jantung hebat dan harus dilarikan ke rumah sakit. Juan pun segera menghampiri wanita yang sangat berarti baginya itu.

Di sela-sela perawatan Miriam, ia berusaha mengatakan pada dokter bahwa dirinya ingin mendonorkan kornea matanya pada Juan sang anak. Dengan susah payah di tengah hela nafas terakhirnya, dia mengatakan bahwa dia ingin anaknya bisa melihat lebih baik seperti sedia kala.

Dokter yang tersentuh mendengar permintaan terakhir wanita ini pun mengabulkan keinginannya. Juan pun bergetar mengetahui ibunya memiliki keinginan terakhir yang dilakukan untuknya. Miriam meninggalkan Juan untuk selama-lamanya, namun ia meninggalkan sebuah kornea mata yang membuatnya bisa melihat kembali dengan lebih jelas dan berwarna.

Transplantasi kornea mata yang dilakukan oleh Miriam dan Juan adalah transplantasi kornea antara ibu dan anak yang pertama kali di dunia. Selain membuat sejarah baru dalam dunia medis, ada nilai kasih sayang dalam kisah mereka. Miriam juga mendonorkan liver dan ginjalnya untuk dua pasien lain. benar-benar wanita dengan jiwa besar yang luar biasa.

Kini setiap Juan melihat dirinya di depan kaca, ia bisa melihat mata ibunya yang melihat padanya. "Aku tahu dia akan selalu ada bersamaku," kata Juan.


 Diablo Dimes bersama sang Ibundanya.

dikutip dari vemale.com

Sabtu, 11 Januari 2014

Perjuangan Masita, Ibu difabel ingin anaknya bersekolah tinggi.

Fisik Masita (41) memang tak sempurna. Tapi kasih sayangnya sebagai ibu tak kurang sedikitpun. Perempuan ini terlahir sebagai penyandang disabilitas. Dua kaki dan tangan kanannya jauh dari sempurna.

Namun, Masita tetap bisa menjadi seorang ibu. Setelah menikah dengan Djasman, pria yang juga penyandang cacat, mereka dikaruniai seorang putra normal yang diberi nama Fajar Ramadhan.

Saat Fajar berusia 3 tahun, ayahnya meninggal dunia. Sebenarnya, keluarga Djasman ingin merawat balita yatim itu, namun Masita tegas menolak.

Masita bertekad merawat sendiri Fajar dibantu ayahnya, Sopian (73). Mereka tinggal di rumah sederhana milik keluarga di Jalan Sempurna, Deliserdang, Sumatera Utara.

Untuk kebutuhan sehari-hari, Masita dan ayahnya terus berjuang. Perempuan ini terkadang harus membantu tetangga membelikan sayur-mayur. Setiap pagi Masita pergi ke pasar.

Sepulangnya, setelah mengantarkan pesanan tetangga, dia diberi upah. Ada yang membayarnya dengan uang, ada pula yang memberikan beras.

Kehidupan terus berjalan. Fajar kecil harus sekolah. Masita bersikukuh anaknya harus berpendidikan tinggi. Dia tak ingin bocah itu seperti dirinya yang tidak pernah mengecap bangku sekolah.

Masita dan ayahnya kemudian medaftarkan Fajar ke SD Negeri 104204 Sambirejo Timur. "Sekarang SD kan masih gratis, nanti SMP pasti perlu uang. Tapi Fajar harus sekolah," ucap Masita dengan pengucapan yang juga tidak sempurna.

Sejak hari pertama Fajar masuk sekolah, Masita selalu setia mengantar-jemputnya dengan becak mini. Bocah itu diletakkannya di tengah kendaraan beroda tiga itu, sementara sang ibu mengayuh dengan tangan dan kaki kanannya yang kecil.

Rutinitas ini dikerjakan Masita dengan ikhlas setiap hari, sampai Fajar duduk di kelas 4 SD. "Kelas 1 sampai kelas 3 saya antar-jemput terus. Sejak kelas 4 tidak lagi, dia kan sudah mulai besar," jelasnya.

Sekarang Fajar duduk di kelas 5. Tubuhnya bahkan sudah lebih tinggi dari Masita. Tapi, bocah ini mengaku tidak sedikit pun malu pada keberadaan ibunya. Dia justru mengaku sangat sayang pada orang yang mengasihinya itu.

"Sekarang ibu sering kugendong. Kemarin waktu banjir, kugendong," ucapnya sembari mempraktikkannya.

Dia pun berjanji tidak akan meninggalkan ibunya di masa depan. Termasuk jika cita-citanya, yang juga harapan Masita, tercapai nanti. "Aku mau jadi polisi," ucapnya.

 Masita, seorang Ibu difabel digendong anaknya.
dikutip dari merdeka.com

Sabtu, 04 Januari 2014

pengorbanan seorang Ibu empat anak kembar

Berita kehamilan menjadi kegembiraan tak terkira bagi pasangan suami-istri. Segera memiliki anak, mempunyai keluarga yang sempurna tentu sudah terbayangkan dalam pikiran. Begitu pula dengan Emma dan suaminya, Martin. Dokter memberitahu bahwa Emma hamil, tapi dengan berat hati dokter mengatakan bahwa Emma harus menggugurkan dua janin dalam kandungannya. Emma hamil kembar empat, dan dokter bilang hanya dua yang boleh selamat.

Emma menolaknya. Semua yang ada dalam kandungannya adalah anaknya, dan tidak akan dibunuhnya dengan alasan apapun. Emma bertahan, sampai usia kehamilan bertambah dan dirinya semakin kepayahan. Hamil kembar empat, membuat perutnya membengkak besar dan sekujur tubuhnya mengalami nyeri tak terkira. Sulit bernapas, susah berjalan, sakit kepala berkepanjangan bahkan tiba-tiba jatuh dirasakan Emma setiap harinya. Emma tahu bahwa kehamilannya kali ini tidak akan mudah dan akhirnya Emma melahirkan si kembar empat dengan sehat tanpa masalah berat.

Ruben, Zachary, Joshua dan Sam. Mereka tumbuh besar dengan sehat, dan membuat Emma bahagia. Perjuangannya sembilan bulan mengandung mereka, menderita segala penyakit dan tubuhnya sampai seolah mati rasa, terbayar lunas. Emma mengatakan bahwa nyawanya tidak ada artinya dibandingkan keempat buah hati kembarnya.


dikutip dari dailymail.co.uk dan vemale.com