Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Sabtu, 11 Januari 2014

Perjuangan Masita, Ibu difabel ingin anaknya bersekolah tinggi.

Fisik Masita (41) memang tak sempurna. Tapi kasih sayangnya sebagai ibu tak kurang sedikitpun. Perempuan ini terlahir sebagai penyandang disabilitas. Dua kaki dan tangan kanannya jauh dari sempurna.

Namun, Masita tetap bisa menjadi seorang ibu. Setelah menikah dengan Djasman, pria yang juga penyandang cacat, mereka dikaruniai seorang putra normal yang diberi nama Fajar Ramadhan.

Saat Fajar berusia 3 tahun, ayahnya meninggal dunia. Sebenarnya, keluarga Djasman ingin merawat balita yatim itu, namun Masita tegas menolak.

Masita bertekad merawat sendiri Fajar dibantu ayahnya, Sopian (73). Mereka tinggal di rumah sederhana milik keluarga di Jalan Sempurna, Deliserdang, Sumatera Utara.

Untuk kebutuhan sehari-hari, Masita dan ayahnya terus berjuang. Perempuan ini terkadang harus membantu tetangga membelikan sayur-mayur. Setiap pagi Masita pergi ke pasar.

Sepulangnya, setelah mengantarkan pesanan tetangga, dia diberi upah. Ada yang membayarnya dengan uang, ada pula yang memberikan beras.

Kehidupan terus berjalan. Fajar kecil harus sekolah. Masita bersikukuh anaknya harus berpendidikan tinggi. Dia tak ingin bocah itu seperti dirinya yang tidak pernah mengecap bangku sekolah.

Masita dan ayahnya kemudian medaftarkan Fajar ke SD Negeri 104204 Sambirejo Timur. "Sekarang SD kan masih gratis, nanti SMP pasti perlu uang. Tapi Fajar harus sekolah," ucap Masita dengan pengucapan yang juga tidak sempurna.

Sejak hari pertama Fajar masuk sekolah, Masita selalu setia mengantar-jemputnya dengan becak mini. Bocah itu diletakkannya di tengah kendaraan beroda tiga itu, sementara sang ibu mengayuh dengan tangan dan kaki kanannya yang kecil.

Rutinitas ini dikerjakan Masita dengan ikhlas setiap hari, sampai Fajar duduk di kelas 4 SD. "Kelas 1 sampai kelas 3 saya antar-jemput terus. Sejak kelas 4 tidak lagi, dia kan sudah mulai besar," jelasnya.

Sekarang Fajar duduk di kelas 5. Tubuhnya bahkan sudah lebih tinggi dari Masita. Tapi, bocah ini mengaku tidak sedikit pun malu pada keberadaan ibunya. Dia justru mengaku sangat sayang pada orang yang mengasihinya itu.

"Sekarang ibu sering kugendong. Kemarin waktu banjir, kugendong," ucapnya sembari mempraktikkannya.

Dia pun berjanji tidak akan meninggalkan ibunya di masa depan. Termasuk jika cita-citanya, yang juga harapan Masita, tercapai nanti. "Aku mau jadi polisi," ucapnya.

 Masita, seorang Ibu difabel digendong anaknya.
dikutip dari merdeka.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar