Foto saya
cinta dan kasih sayang Ibu tak pernah usai, kasih sayang dan cintanya tetap sama meski anaknya telah tumbuh dewasa, bagi Ibu kita tetaplah anaknya yang dulu, anaknya yang selalu Ibu belai dan peluk dipangkuannya, Ibu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, kedudukanmu Ibu begitu mulia dan terhormat.

Rabu, 17 Juni 2015

Ramadhan Bersama Ibu


Ramadhan selalu jadi musim tersendiri di sebuah bangunan rumah orang muslim. Betapa kehadirannya, akan merubah begitu banyak jadwal dan laku hidup yang sering didendangkan. Ramadhan benar-benar tamu istimewa diantara bulan-bulan lain yang dijalani. Menyebut namanya saja, sudah mendesir angin dan aroma yang bersetubuh dengan bulan itu. Ramadhan benar-benar hadir dalam nuansa yang khas dan istimewa. Maka sebelum kaki-kaki ini menginjak ke garis awalnya, sudah terlabih dahulu jiwa ini merumput di sana. Membaui kedatangannya dengan suka cita, seperti penantian panjang bagi kerbat dekat yang terpisahkan. Itulah penggalan awal rasa yang selalu menggelayutkan jiwaku ketika mengingatnya. Namun melongok masa lalu sepertinya lebih indah dituangkan dalam catatan kecil. Nostalgi masa kecil bersama ramadhan adalah madrasah bagi jiwa menyelam lebih jauh lagi ke dasarannya. Sebagai peneguh iman, bahwa inilah saatnya kami yang kecil harus mulai menjalankan ibadah ini.
Ibu hanya berpesan, bila tidak kuat bolehlah melepasnya untuk melanjutkan perjuangan itu hari esok. Hingga rasa kering di tenggorokan serasa siksa yang mendera. Ibu dengan bijak mengajarkan kepada kami untuk membagi waktu puasa menjadi dua. Tepat ketika beduk kumandang adzan dhuhur menjadi peristirahatan pertama. Kami boleh menenggak air putih lalu dilanjutkan dengan makan secukupnya. Tidak boleh berlama-lama atas waktu yang ada. Jika sudah cukup, maka minuman yang kedua menjadi awal bagi separuh yang kedua. Perjuangan itupun lebih terasa ringan karena tinggal menyempurnakannya hingga adzan magrib berkumandang. Dengan mata berbinar-binar, ibu akan mendekap kami, memberi ucapan atas perjuangan kami hingga mampu menempuh perjuangan suci ini.
setelah berhasil melampauinya, ibu kembali berpesan kepada kami. Jika kami masih mampu menahan rasa itu untuk tak menyentuh makanan dan minuman ketika beduk dhuhur, maka itu lebih baik. Tuhan akan memberi pahala yang berlebih atas perjuangan kami. Namun ibu tidak memaksa, hanya memberi kami pilihan dengan membubuhinya dengan sanjungan yang membesarkan. Dan sungguh, kenikmatan dan rasa bahagia itu rasanya berlebih ketika kami berhasil menyentuh garis batas seperti orang-orang dewasa lainnya. Ada kepuasan batin yang tak terkatakan. Bahkan lidah kami merasa lebih nikmat ketika menyentuh air pertama yang menggelontor bersama awal buka. Satu hal yang mungkin tidak akan pernah dinikmati oleh mereka yang tak menjalankannya.
Ibu mengucapkan rasa bangganya kepada kami. Sudut matanya penuh air yang hendak menetes, namun segera diusapnya. Melihat anak-anak, akhirnya bisa menjalankan ibadah ini bersama-sama. Bersyukur ketika di luar sana, justru orang-orang yang sudah berkewajiban atas perintah itu lebih bangga untuk tidak menjalankannya. Tentu perjuangan seorang ibu untuk membimbing kami kepada jalan yang lurus ini, menjadi perjuangan yang butuh kesabaran.
Ketika siang hari, kami sering mengumpulkan banyak makanan dari buah-buahan yang kami dapatkan dari alam sekitar. Buah jambu, papaya, mangga dan masih banyak lagi yang bisa kami kumpulkan bersama teman-teman. Harapannya adalah, semua itu bisa kami lahap ketika waktunya tiba. lapar jiwa ini melebihi lapar yang sesungguhnya. jiwa rakus yang bersemayam justru pada saat kami harus belajar untuk melupakan syahwat perut. Mengumpulkanya di meja makan setelah benar-benar tercuci bersih. Ibu hanya tersenyum melihat tingkah kami. Tak sedikitpun kecewa mengingat ibu sudah berlimpah menyiapkan segalanya untuk kami.
Dan benar saja, seteguk air manis yang ibu buat rasa sudah mengenyangkan rasa dahaga ini. makanan-makanan yang tersaji justru membingungkan selera kami. Baru menikmati beberapa saja, perut kami rasanya sudah penuh. Inilah bukti bahwa sesungguhnya, jiwa rakus itu benar-benar memperdaya. Ukuran perut tak akan sebesar setan yang bercokol di khayalan atas semua menu itu. hanya butuh beberapa kali saja nikmat itu mampir, selanjutnya hilang bersama rasa penat yang tak tertahankan bila harus terus duduk di meja makan. Apalagi tugas selanjutnya membutuhkan kondisi tubuh yang nyaman untuk sholat tarawih. Ibu tak pernah melarang untuk itu, kami sendiri yang segera sadar diri bahwa perlombaan atas mulut dan perut hanya berumur menit. Kenikmatan hakiki adalah ketika jiwa ini benar-benar terbasuh amalan-amalan yang diperintahkan.
Itulah sekelumit kisah ramadhanku yang selalu kurindu. Meski kini, ramadahan bersama ibu sudah tak mungkin lagi karena batas jarak yang memisahkan. Paling tidak ramadhan akan segera di susul dengan Lebaran. Momen perjumapaan yang sama indahnya seperti ramadhan kecilku. Ya, Ramadhan menjadi bulan nostalgi bagi siapaun yang pernah mendekapnya. Bulan yang selalu hadir untuk meniti jalan lurus yang di sana menawarkan keindahan dan kenikmatan hakiki.
dikutip dari kompasiana.com

1 komentar: